Wednesday, March 29, 2006

[in my life]

HAMPIR SAYA YAKIN
MEREKA ADALAH MALAIKAT
Hampir seminggu ini, malam - malam saya isi dengan menonton VCD konser YES yang bertajuk "Keys to Ascension" dan "Live from House Of Blues". YES adalah kumpulan musisi yang sudah berdirgahayu hingga ke 35. Mereka cukup tua. Steve Howe, gitaris mereka sudah botak seperti kakek - kakek, mirip Perkusionis Jepang : Kitaro.Saya tidak akan meresensi musik dan lagu mereka. Disini saya cuma ingin berbagi rasa, bahwa menonton VCD konser mereka di televisi ukuran tanggung di rumah sudah membuat spirit saya bergetar hebat. Saya jadi lebih maklum dengan berita-berita dari penonton konser mereka langsung, yang menyatakan bahwa menonton YES bagai mendapatkan pengalaman spiritual yang maha dahsyat.Sebegitu kah ?Yang jelas, dari dua lagu pertama di konser "Keys To Ascension", "Siberian Khatru" dan "Close To The Edge" membuat perasaan saya benar - benar morat - marit. Mendengar denting gitar yang mendayu, menikmati olah vokal Jon Anderson yang melengking, serta kerancakan para musisi yang sedang berekspresi membuat saya deg-degan. Perasaan ini hampir mirip ketika sayahendak berkunjung ke rumah pacar saya pertama kali.Saya sempat kirim SMS ke beberapa rekan,"....mereka laksana dewa turun dari langit....."."Lightning Strikes" dan "I've Seen All Good People" dari konser "Live From House of Blues" terus terang membuat saya 'mabuk'. Seakan harga yang seratus ribu rupiah per-VCD terlupa begitu saja.......Peak dari segalanya adalah permainan dalam lagu "And You And I". Di dua konser itu, tercantum lagu ini. Saya harus memutarnya berkali-kali untuk memuaskan dahaga saya.Ending dari cerita tontonan saya adalah semalam, jam 01.55 Jumat dini hari. Menyongsong lelap, saya terganggu dengan pikiran saya sendiri: "......Andai saya tidak mengerti Agama saya, mungkin saya yakin bahwa ada makhluk gaib yang bernama Malaikat Jon Anderson yang berpakaian putih-putih membawa harpa, Malaikat Steve Howe yang jarinya lembut menari mengelus senar gitar, Malaikat Chris Squire yang langkahnya berdentam-dentam, Malaikat Rick Wakeman dengan keyboards yang tutsnya seakan berbunyi tanpa ditekan, dan Malaikat Alan White yang tenggelam dalam perangkat tabuhannya......"[] 23 juli 2004



TILANG, SEPATU, HINGGA RHOMA IRAMA

Sehabis subuh tadi, saya sempat ngobrol dengan seseorang yang bernama Sumar. "Saya bersaudara ada yang jadi Polisi, dan ada yang jadi Tentara. Saya sendiri dulu sopir truk muatan....",begitu Pak Sumar memulai kisahnya.

Pak Sumar akhirnya mengundurkan diri dari karir supir truknya karena masalah keluarga. Yakni, Saudaranya yang Polisi --pas tahun 1950-an lalu-- masih prajurit tanpa sebab menghentikan truk muatannya. Nggak habis pikir Pak Sumar, kenapa Saudaranya sendiri akan menilangnya tanpa sebab yang jelas.

Setelah bersitegang, terungkaplah bahwa Sang Polisi tadi punya rencana lain.
..." Polisi-polisi itu ingin minta uang jatah dari juragan saya yang Cina.... Wah... saya sebagai saudaranya, merasa malu..maka saya mengundurkan diri nggak jadi sopir juragan saya lagi....".
"Sekarang, Saudara saya yang Polisi itu sudah makmur, Pak.....", imbuh Pak Sumar.

Cabut dari karir supir truk, Pak Sumar pergi ke Bogor untuk bikin kerajinan sepatu handmade. "Saya dulu pas Sekolah Teknik (sekarang STM) pernah belajar bikin sepatu dari Tuan Koster. Dia ahli sepatu warga Belanda".

Pak Sumar banyak cerita soal sepatu," Sepatu yang terbaik itu bahannya kalep. Kalau sekarang, kalep itu artinya adalah kulit imitasi, padahal bukan. Kalep itu adalah kulit sapi tipis....dari kulit anak sapi....tipis tapi ulet. Jadi sangat ideal untuk jadi sepatu yang nyaman. Sepatu yang dari kalep anak sapi yang populer dulu mereknya Robinson. Saya banyak meniru Robinson......Nah, kalau Suede itu kulit untuk sepatu perempuan karena sedikit ada bulu-bulunya".

"Saya juga pernah terima pesanan sepatu dari Soneta Grup dan Elvi Sukaesih. Pas itu mereka akan mengadakan show ke Semarang. Nah, sepatu Rhoma Irama itu hak-nya sudah sangat tinggi. Tetapi karena orangnya terlalu pendek, sehingga sepatu boots-nya harus ditambah lagi lima senti lagi di sisi dalam.....", begitu tutup Pak Sumar. Dan saya-pun berangkat ke kantor. Pak Sumar juga pulang meninggalkan Pos Satpam yang telah dijaganya dengan baik malam tadi.[]29 juli 2004



JAMAN BEJAT ataukah BOHONG BESAR

Dalam keadaan terdera influenza, suatu sore saya nonton televisi sambil selonjor di sofa. Kebetulan saluran televisi tersebut sedang menyiarkan berita kriminal.
Beritanya kurang lebihnya seperti ini :
" Ada seorang mahasiswi yang menuntut pertanggungjawaban pacarnya untuk segera menikah karena sudah diidentifikasi hamil. Oleh pacarnya, dia dicekik hingga mati, lantas dibuang. Singkat cerita, mayatnya ditemukan dan oleh keluarganya diperkarakan ke polisi. Dan akhirnya pacarnya ditangkap dan diamankan oleh kepolisian".

Nah, di sepuluh menit terakhir tayangan tersebut, digambarkan bahwa mahasiswi yang dibunuh tadi merupakan seorang mahasiswi ideal. Cantik, berbakti kepada orang tua, alim, pinter, suka menolong, pandai bergaul, mau sekolah ke luar negeri, dan sederet sifat terpuji bagi dia.
Kalau nilai - nilai itu dibandingkan dengan performa saya, saya pasti kalah jauh dibawahnya.

Cuma ada yang mengganjal dipikiran saya, "........kalau memang dia adalah seorang yang cukup ideal, kenapa sampai terjadi hamil sebelum menikah ?".

Saya mengulang pertanyaan itu sekitar tujuh kali dalam benak saya. Hingga akhirnya saya mengambil dua kesimpulan :
Kesimpulan pertama adalah zaman sekarang performa mahasiswi ideal adalah seperti almarhumah, termasuk hamil diluar nikah merupakan nilai plus bagi mahasiswi ideal. Setidaknya demikianlah penilaian dari stasiun televisi tersebut. Tetapi bagi saya, zina merupakan salah satu dosa besar karena salah satu pembeda manusia dengan binatang adalah koridor pernikahan.
Bagi saya sekarang adalah zaman bejat, soalnya pelaku zina sudah diagung - agungkan.

Atau saya harus beralih ke kesimpulan kedua sebagai berikut: saluran televisi tersebut hanya mengabarkan bohong besar belaka.[] 9 agustus 2004



IMPAK

Pagi itu cukup dingin ketika saya memasuki ruang kelas . Saya adalah murid SMA salah satu sekolah terfavorit di kota itu.
Kira - kira ada waktu sekitar 10 menit sebelum bel berbunyi untuk sekedar berbincang dengan teman - teman, atau menyalin PR bagi yang semalem nggak sempat. Saya dengar sekilas dari obrolan bahwa hari ini sekolahan ini akan di audit oleh Pejabat dari Regoinal Propinsi, saya kurang jelas, apakah dari DikDasMen ataukah dari DepDikBud atau dari manapun. Yang saya tau ya cuma itu : Akan ada audit dari Tingkat Propinsi.

Pelajaran demi pelajaran berlalu, hingga saya memasuki jam ke-lima. Mata pelajaran yang saya sukai, tetapi saya akan diajar oleh Guru yang saya kurang cocok. Terus terang saya jadi ogah ikut mata pelajaran ini. Bagi saya, disamping tidak bisa menguasai kelas, Beliau tidak bisa membuat para siswanya mengerti dan faham tentang pelajaran tersebut, terutama saya.

Bel berdering dan Guru memasuki ruangan didampingi oleh seorang pejabat sekolah. Pejabat itu menjelaskan bahwa jam pelajaran ini akan di audit oleh Auditor dari Propinsi, "....Tolong dijaga kelancaran proses belajar-mengajar," begitu pesannya.

Saya tidak interes dengan hal tersebut, termasuk ketika 15 menit kemudian para Auditor itu memasuki ruang kelas, mereka bertiga setelah permisi langsung duduk di bangku paling belakang.

Sebagai salah seorang murid yang memang bukan anak emas, saya tidak punya maksud apapun. Termasuk ketika meng-conduct rekan-rekan berbuat keributan karena --yang seperti saya jelaskan tadi-- banyak diantara murid yang ternyata belum mengerti, tetapi Sang Guru itu terus saya melanjutkan pidato-pidatonya.
Tanpa terasa keributan makin membahana. Gila-gilaan. Bangku sudah dipukul-pukul layaknya nonton sepak bola. Buku-buku sudah masuk tas, mereka sudah tidak peduli lagi tentang apa yang tercantum di papan. Mereka hanya bercanda dan saling sikut, atau melemparkan buku pelajaran temannya. Gaduh, apalagi di baris tengah.

Akhirnya jam pulang-pun kurang sepuluh menit lagi, ketika datang seorang pengurus administrasi sekolah memasuki kelas kami untuk mengumumkan nama-nama siswa yang harus menghadap Bapak Kepala Sekolah setelah bel pulang. Ada tiga orang, salah satunya saya.

Bertiga kami ketakutan penuh pertanyaan ketika hendak melewati pintu ruang KepSek, tapi rupanya saya yang paling tidak takut karena saya melaju paling depan.
Disitu tampak KepSek duduk bersama Guru tadi.
Ternyata kami diadili karena membuat keributan ketika pelajaran berlangsung, apalagi jam tersebut sedang di Audit. Saya lihat Guru tadi tidak berujar sedikit-pun, matanya memerah. Mungkin habis menangis, karena memang cemarlah namanya sebagai pengajar di mata Auditor tadi.

Saya tengok, teman saya berdua gemetaran, mulutnya bergetar hampir menangis. Saya memang takut, tetapi saya masih bisa berbicara dan bertanya sekilas-sekilas. Kami bertiga mengisi buku hitam (blacklist) sekolah, dan diancam akan dikeluarkan dari sekolahan. Ini merupakan kartu kuning. Tuduhannya adalah :"Mencemarkan Almamater".

Baru kali itu saya hendak dikeluarkan dari sekolah. Hal ini merupakan salah satu impak yang tak terlupakan bagi diri saya. Dan, baru saya ceritakan kepada Orang Tua ketika saya sudah meraih gelar sarjana, 6 tahun kemudian. [] 18 agustus 2004




IMPAK 2

Pasuruan panas sekali. Terik. Saya baru pulang dari sebuah pabrik yang berlokasi di pesisir pantai Pasuruan, amis bau laut. Saya Praktek Kerja di pabrik tersebut.
Malam harinya, saya dapat informasi dari Malang, bahwa seorang teman menyampaikan kabar penting dari kampus. Segera saya hubungi rekan saya. Ternyata saya dipanggil oleh Dekan Fakultas karena ada problem pada naskah dalam Majalah Mahasiswa yang kebetulan saya pimpin. Majalah tersebut baru saja beredar.
Segera saya hubungi Pemimpin Redaksi, dan ternyata beliau masih Kuliah Kerja Nyata di pelosok, yang mana saya akhirnya harus memakai fasilitas telegram yang mungkin baru nyampai 2-3 hari lagi.
Saya berinisiatif memerintahkan rekan saya yang di Malang agar menunda peredaran majalah tersebut, "....tetapi yang sudah beredar biarlah... stok yang ada jangan didistribusikan dulu sementara ini...".

Besok paginya saya segera minta ijin ke pabrik untuk pulang karena ada urusan urjen di kampus.
Siang hari di kampus saya langsung mengunjungi Dekan, tetapi saya ditemui oleh Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan. Disitu saya diberi penjelasan mengenai tulisan yang membuat pihak Fakultas keberatan. Pihak Fakultas atas nama Universitas dipandang perlu untuk mengadakan Sidang Darurat mengenai masalah ini.
Saya sedikit faham, bahwa sidang darurat atas nama Universitas/Rektor berarti masalah krusial di Kampus Universitas Negeri ini. Ancamannya-pun pasti tidak main-main.
Saya minta waktu untuk berjumpa dengan Pimpinan Redaksi sebelum sidang tersebut dilakukan. Termasuk saya minta waktu untuk menenangkan diri dalam menghadapi sidang ini. Sidang tersebut akhirnya dilaksanakan keesokan harinya. Saya cuma sempat berkomunikasi lewat telepon dengan Pimpinan Redaksi malam sebelumnya.

Awalnya, majalah bermasalah tersebut hendak ditarik peredarannya. Tetapi saya bersikukuh bahwa saya akan tetap mendistribusikan, termasuk kepada rekan-rekan dari Universitas lain se-Indonesia. Kenapa saya bersikukuh ? ya karena berita itu tidak sepenuhnya salah. Tulisan itu bukan bualan. Tulisan tersebut ditulis oleh Pimpinan Umum dan telah diseleksi oleh Pimpinan Redaksi.

Saya disini tidak akan membahas benar-tidaknya isi tulisan tersebut, namun dalam sidang tersebut akhirnya diputuskan bahwa saya harus membuat klarifikasi tentang berita tersebut pada edisi majalah berikutnya. Bila edisi berikutnya masih belum clear, atau malah merugikan pihak Universitas, maka saya dengan berat hati harus di-"swasta"-kan alias dikeluarkan. Padahal saya saat itu sedang menyusun proposal skripsi. Dua semester menjelang gelar Insinyur. Saya memang gentar saat keputusan itu diumumkan. Namun saya sempat berujar,"...Pada dasarnya di edisi depan saya cuma akan melakukan penyeimbangan terhadap berita ini, bukan mengingkari tulisan yang telah ada ini....".

Saya mengerti perihal keberatan Universitas tersebut, karena saya memang kuliah di Universitas Negeri. Namun, saya juga faham, menulis & jurnalistik merupakan unsur wajib dalam struktur idealisme. Jadi, keputusan izin peredaran majalah tersebut harus diperjuangkan. Dan, jelas saya keberatan bila saya dilarang menulis (dalam hati saya berujar,"...mendingan jabatan saya dicopot daripada harus berhenti menulis").

Majalah berikutnya terbit 3 bulan setelah edisi bermasalah tersebut. Saya memerintahkan investigasi lanjutan perihal tersebut. Dan beberapa tulisan saya masih dimuat. Pun-jabatan saya ternyata tidak dicopot.
Rupanya kedua pihak telah mencapai solusi win-win.
Saya bisa melanjutkan studi saya dengan tenang karena semua kembali normal dalam tiga bulan.
Dan dalam kasus ini, saya setidaknya membuktikan, bahwa rasa gentar bisa dikalahkan oleh idealisme.[] 18 agustus 2004



BUKU DAHSYAT

Jumat dini hari, sekitar pukul 02.++ saya terjaga, dan saya memutuskan untuk melakukan ritus vertikal. Namun ternyata setelah itu saya sudah tidak mengantuk lagi. Ya sudah, pikir-pikir lebih baik saya nyalakan player saya. Pilihan jatuh kepada CD Vintage Rock (kompilasi slow rock), The FlowerKings (Adam&Eve), dan VCD Mike+The Mechanics (Hits Video).

Saya memilih untuk memulai dengan Mike+The Mechanics, soalnya saya adalah alumni sekolahan Teknik Mesin...ha.. ha... ha....
"All I Need Is A Miracle", " Over My Shoulder", "Beggar on The Beach of Gold", "Livin' Years" mengalir lancar. Mereka mengonsep musik dan video dengan sederhana namun penuh makna. Judul "Beggar on The Beach of Gold" bagi saya sangat humanis. Juga petikan dari "Livin' Years" sbb :".....every generation, blame the one before.....".

Pagi itu saya juga tetarik dengan sebuah buku yang saya comot dengan hati-hati dari rak supaya tidak gaduh. Bukunya berjudul "Bumi Berantakan -- Buku Pegangan Untuk Revolusi Hitam yang Mengubah Wajah Dunia" keluaran Teplok 2000. Buku tersebut di tulis oleh Frantz Fanon (seorang revolusioner Aljazair) dan diberi pengantar oleh Filsuf Jean-Paul Sartre.

Walaupun saya membaca hanya sampai di Kata Pengantar (apalagi dengan kurang konsentrasi karena disambi nonton), tapi saya bisa menyimpulkan bahwa buku tersebut benar - benar dahsyat. Berikut beberapa petikan tulisan JP Sartre :

"... Bumi di huni 2 milyar penduduk: 500 juta manusia, dan satu milyar lima ratus juta penduduk pribumi yang tidak dimanusiakan. Yang disebut pertama menciptakan kata; yang lain mengikutinya. Antara keduanya terdapat para kinglet sewaan, yang terdiri para pangeran dan borjuis yang selalu menampilkan kebohongan sejak awal hingga akhir....".

"...Untuk bisa menang, revolusi nasional harus sosialis; jika kariernya terputus, jika borjuis pribumi mengambil alih kekuasaan, negara baru --meskipun memiliki kedaulatan formal--, tetap berada di bawah ketiak imperialis"

"...Eropa telah meletakkan tangannya di benua kita, dan kita harus memotong jari-jarinya sampai dia pergi.... Mari kita mulai berperang, dan jika kita tidak punya senjata lain, sebilah pisau yang telah menunggu sudah cukup".

Sungguh, saya benar-benar "tergerakkan" oleh buku yang sudah saya beli di tahun 2000 itu. Cocok dengan jargon yang tertulis di halaman sampulnya "Membaca buku ini membangkitkan nyali". [] 27 agustus 2004



JALAN - JALAN

Dulu, ketika saya berusia belasan tahun, Bapak (alm.) sering mengajak saya jalan - jalan. Jalan kaki beneran, entah ke sawah, entah ke warung, entah mau lihat kereta api, atau menyisir lapak buku bekas. Banyaklah acaranya -- variatif. Biasanya acaranya jatuh hari Minggu antara pukul 07.00 hingga pulang pukul 10-an.
Suatu hari Bapak saya mengajak saya untuk jalan - jalan mengikuti pedagang. Pedagang ini saya nggak ngerti harus sebut apa, soalnya dia itu jualan tali pengikat yang berasal dari potongan karet ban dalam. Dipotong-potong panjang dan tipis, dan pedagang ini setiap hari memang melewati depan rumah, dan kali ini kami ikuti dari jarak yang agak jauh.
"Ikuti saja si penjual itu kemana dia perginya....", gitu kata Bapak saya ketika saya tanya tujuannya.
Ditengah jalan beberapa kali pedagang itu berhenti, tapi hampir dikatakan tidak ada transaksi pembelian, yang beli mungkin cuma tukang becak untuk pengikat plastik kerudung anti-hujannya.

Terus terang, kami capek mengikutinya dan memutuskan pulang. Sambil menyeka peluh dalam perjalanan pulang, Bapak saya berkata," Itulah rejeki. Tuhan yang mengatur. Seharian kita tidak melihat pedagang karet tadi dapat duit, tetapi dia tetap saja bertahun-tahun menjalani profesi tersebut. Artinya, pekerjaan itu dia jalani dan pertahankan. Pasti ada maksudnya....".
Saya yang saat itu masih kelas 1 SMP, --seperti biasa-- belum bisa mencerna dengan baik perkataan Bapak saya tadi.[] 23 september 2004



SEKALI LAGI TENTANG
GURU SPIRITUAL SAYA

Mengapa saya menganggap almarhum Bapak saya sebagai seorang guru spiritual ? Selain merupakan "tempat bertanya tentang segala hal", bagi saya Beliau memiliki pandangan jauh ke depan. Salah satunya akan saya paparkan di bawah ini.

Kalau tidak salah, Bapak membelikan televisi hitam-putih merek Sharp sekitar tahun 1977. Pada saat itu belum semua keluarga memiliki televisi, sehingga beberapa teman bermain saya kadangkala ikutan nonton televisi di rumah kami.
Tapi Bapak memberi syarat : Begitu adzan maghrib usai dikumandangkan, televisi harus dimatikan --dan baru boleh dinyalakan lagi selepas pukul 20.30.
Alasannya ? "..... waktu maghrib bukan saat yang tepat untuk menonton televisi...."

Begitulah kami sekeluarga membiasakan meng-akrab-i televisi baru kami. Dengan rutinitas --(mungkin cenderung otoriter)-- yang boleh dikata "menyalahi jaman". Soalnya, bukankah jam tersebut saat paling mengasyikkan untuk menonton televisi ?.

Dampaknya baru saya rasakan sekarang --seperempat abad setelah itu. Dua-puluh lima tahun setelah saya terus-menerus berusaha meneruskan kebiasaan tersebut (walau kadangkala bolong juga).

Dengan semakin tidak karuannya tayangan televisi di "prime time", saya dan keluarga sama sekali tidak ada masalah untuk tetap membiarkan televisi saya "gelap" alias mati. Sama sekali tidak ada keinginan untuk menyaksikan tayangan-tayangan di "prime time". Disebut "prime time" karena disaat itulah sebagian besar orang menancapkan pandangannya ke televisi. Namun disaat itu pula saya malahan mematikan televisi. Maka selamatlah anak saya dari gempuran "budaya gebleg" yang dikampanyekan televisi.
Bagi saya, ke-otoriter-an Bapak saya seper-empat abad lalu salah satunya adalah bertujuan untuk menyelamatkan anak saya, anak - anak kakak dan adik saya, ...cucu-cucu Beliau.[] 24 september 2004



KEBODOHAN MILIK BERSAMA


Tiga kali mobil saya dibentur orang, padahal ZulfiCar (nama mobil saya) dalam keadaan terparkir diam tata-tentrem-kerta-raharja. Mungkin sudah nasibnya.
Kejadian pertama sekitar tiga tahun lalu di parkiran perkantoran Kuningan-Jakarta. Saat saya di lantai IV, petugas security memanggil saya untuk turun ke parkiran,"...Pak, mobilnya diseruduk mobil yang mau parkir... lagi ribut tuh tukang parkir sama yang punya mobil...".
Saya pun turun mencoba membaca situasi. Saya lihat pria berdasi sedang berdebat keras dengan petugas parkir. Ujung-ujungnya pria itu cuma menyerahkan duit seratus ribu kepada tukang parkirnya, seraya minta maaf ke saya,"..Pak, namanya musibah... saya minta maaf. Saya ganti seratus ribu, nanti yang nambahin tukang parkirnya...dia itu yang gak becus kasih aba-aba parkir..."
Lha saya belum lihat rusaknya, kok udah divonis 100 ribu. Dan setelah saya periksa, rusaknya adalah lampu sein pecah, spakbor penyok, dan pintu susah dibuka. Lha ini kan lebih dari 300 ribu ?
Begitu kita sepakati seperti ini, ternyata mereka berdua adu urat lagi, saling nggak mau ngganti. Saya yang jadi korban cuma mengelus dada melihat ulah manusia-manusia tidak ber-otak seperti itu, terutama kengototan pria berdasi itu. Mungkin dasi yang dikenakan terlalu ketat sehingga otaknya susah digunakan.

Kejadian kedua lebih brengsek. Diparkiran pusat perbelanjaan, pas saya mau pulang baru sadar kalo bemper belakang mobil sudah cacat. rasanya diseruduk mobil sebelah yang keluar duluan. Suasana sepi, Satpam pura-pura tidak tahu. Mau menyalahkan siapa ?

Nah, yang ketiga ini paling brengsek. Saya lagi diam di dalam mobil yang diam juga, menunggu seseorang. Mobil terasa bergoyang karena diseruduk sepeda motor. Saya coba mengecek kondisi, sementara penunggang motor tadi malah pergi menjauh. Saya tengok ternyata tak jadi mengapa.
Yang jadi masalah adalah penunggang motor tadi datang lagi bersama temannya. Keduanya kelihatan memang orang-orang yang terdepresi kondisi ekonomi. Terbukti mereka malah duluan yang marah - marah,"...Mas marah ya ketabrak ?....Kalo bisa malahan mundur dikit, biar saya bisa enak lewatnya....!".
Saya membiarkan saja,"...mobil saya gak pa-pa...". Saya juga nggak mau ribut soal bemper baret, soalnya saya juga lagi ada urusan.
Yang bikin brengsek adalah teriakan berikutnya,"..Hei... Mas bisa mundur enggak ?..saya nanti mau lewat lagi nih...!".
Wah, ini namanya keterlaluan. Saya jelas tidak mau memenuhi suruhan orang gila itu. Namun saya juga tidak melayani, saya masuk mobil dan nyetel lagu Genesis. Diluar dia masih melotot dan ngoceh (tapi saya tidak dengar karena saya menutup jendela). Saya cuma mempersiapkan gembok setir buat nimpuk kepalanya bila dia mulai berulah.
Ah, kebodohan memang milik semua orang. [] 5 oktober 2004



DEMONSTRAN GUREM

Saya pernah mengikuti demonstrasi mahasiswa. Satukali sekitar tahun 1993, tepatnya tanggal 10 Nopember 1993. Benar - salahnya saya lupa, yang jelas tanggal itulah yang tertera dalam album foto saya. Isu demonstrasi yang diangkat adalah "Enyah SDSB".

Satu bulan sebelum demonstrasi berlangsung, saya belum memutuskan untuk ikut "turun jalan", padahal atmosfir pembicaraan di kalangan rekan - rekan mahasiswa sudah gencar sekali.
Termasuk juga saya belum memutuskan apakah saya harus mengijinkan organisasi pers mahasiswa yang saya pimpin ikut terlibat secara formal.

Baru sekitar dua minggu sebelum pelaksanaan saya bisa mengambil sikap. Ini berkat "approach" beberapa rekan, terutama Ketua Senat Mahasiswa Fakultas dan Pimpinan Redaksi saya. Disamping saya melegalkan organisasi saya untuk terlibat, saya-pun akhirnya mengikuti dengan intens rapat koordinasinya. Yang dibicarakan termasuk koordinasi persiapannya, pembagian pool pletonnya, yang jelas koordinasi secara nasional juga dimatangkan karena ini adalah demonstrasi mahasiswa secara simultan. Kalau tidak salah ingat, yang pertama ditargetkan meletup di Jember-Jawa Timur, dan skenarionya akan diakhiri dengan gong besar-besaran di Yogyakarta, kota yang kondisi mahasiswanya sangat kondusif dengan hal beginian.
Mahasiswa Malang kebagian di tengah - tengah jadwal nasional tersebut.

Satu hari menjelang hari H, sekitar jam 23.00 keputusannya adalah bulat : Show Must Go On. Pembicara Utama adalah Mas Andy , ketua Senat Mahasiswa Unibraw. Tanda pengenal peserta adalah pita kuning, dengan tali rafia kuning untuk level di bawahnya.

Yang saya ingat, saya ada tes middle semester bertepatan dengan hari H demonstrasi tersebut. Saya masih di kelas menunggu ujian mulai ketika sayup- sayup terdengar orasi dan yel - yel yang berasal dari pool long-march Unibraw. Saya harus mengikuti ujian dulu, paling tidak setor kertas doang.
Dan benar saja. saya tidak sampai 10 menit di dalam ruang ujian, saya langsung mengumpulkan lembar ujian tanpa jawaban, dan segera menyusul rekan - rekan yang sudah jauh ber-"long march" ke arah balaikota. Saya mending nyusulnya naik mikrolet.

MasyaAllah, ternyata balaikota sudah penuh manusia tumplek-blek. Jalan - jalan penuh sesak. Pagar alun-alun seperti penuh tanaman menjalar, dipanjat manusia. Saya sudah melupakan middle test yang jelas - jelas tidak menggembirakan hasilnya. Saya tercebur dalam massa demonstran. Kedengaran suara Mas Andy yang lantas spontan ditimpali yel - yel massa.

Saya terlarut, hingga akhirnya ikut bersorak - sorak tidak karuan ketika pihak balaikota Malang akhirnya mengumumkan : "....per-hari ini SDSB dinyatakan terlarang di kota Malang."
Alhamdulillah. [] 19 oktober 2004



MENGAPA SEPI

Sedikit banyak saya mengamati, mengapa mesjid - mesjid kebanyakan hanya didatangi oleh orang - orang yang terlanjur tua, atau ditambah beberapa anak - anak kecil yang meng-hingar-bingarkan keadaan dengan segala kelucuannya.
Pada dasarnya, anak kecil suka hadir di mesjid. Hampir semua mesjid tidak pernah luput dari kerumunan anak - anak kecil. Sementara orang tua akan sering ke mesjid karena memang sudah saatnya berkonsentrasi ke urusan akhirat.

Saya ingat pada saat saya SD sering Bapak mengajak saya untuk "nderek" menyertainya pergi ke masjid. Di setiap masjid pasti ada pengurusnya, kebanyakan juga orang yang sudah berumur. Namun, biarpun mereka relatif lebih tua dari Bapak saya, mereka sangat menghormati Bapak saya karena Bapak saya adalah Imam mesjid.
Biasanya, para pengurus mesjid ini juga bertugas menjaga ketenangan mesjid selama dilaksanakan peribadatan. Dan biasanya sasarannya adalah anak - anak kecil yang kadangkala memang keterlaluan bercandanya hingga hiruk pikuk mengalahkan pasar.

Ada satu mesjid yang pengurusnya begitu "sangar" atau galak. Kebetulan mesjid itu memang terletak di dalam asrama tentara. Seperti pada umumnya, anak tentara lebih bengal daripada anak lainnya.
Nah, bila dalam acara peribadatan itu ternyata ada sekumpulan anak yang hingar bingar, maka Pak Pengurus tadi beraksi untuk menenangkannya. Kadangkala aksi polisionilnya memang keterlaluan, yakni dengan menggunakan gebugan dari gulungan tikar pandan (tahun itu memang mesjid kebanyakan masih menggunakan tikar, bukan karpet). Menurut teman yang pernah kena gebug, rasanya cukup puyeng bila pas ubun - ubun kenanya. Wah... dahsyat.
Memang dengan aksi polisionil seperti itu, mesjid akan tenang selama masa peribadatan.

Suatu saat, ditengah aksi polisionil gebug - menggebug, Bapak saya menghampiri Pak Petugas tadi dan memperingatkan agar tidak melakukan hal serupa lagi,"....anak - anak akan kapok dan tidak akan pernah mau lagi datang ke mesjid bila setiap datang pasti dihadiahi gebugan gulungan tikar ...", begitu kurang lebih kata Bapak saya.

Nah, mengapa remaja kurang berminat kepada mesjid ?
Mungkin akan ada banyak jawaban, tetapi salah satunya adalah seperti di atas, anak - anak terlalu sering dimarahi pada saat di mesjid sehingga mereka ogah lagi untuk singgah. [] 27 oktober 2004



PENCEMBURU KEADILAN


Sejak umur 6 tahun, saya pencemburu keadilan. Baik itu perlakuan dari orang-tua, handai-taulan, tetangga, teman bermain, ibu guru, atau siapapun. Hampir semua punya cacat di mata saya perihal satu kata : "tidak-adil".

Bergulirnya waktu, sama sekali belum menyurutkan gejolak saya terhadap pencarian keadilan ini. Mencari makna keadilan ? Ah, yang ada malahan bersua dengan beberapa ketidak-adilan. Saya menuai ketidak-adilan demi ketidak-adilan yang bertaburan disepanjang tanah ini. Pahit memang. Sesekali saya berusaha masa bodoh terhadap apa yang terjadi, tapi sejenak sekali. Tak kuasa saya berlama - lama masa bodoh. Saya lantas berjalan lagi menyusuri ketidak-adilan demi ketidak-adilan.

Hingga sekitar lima tahun lalu, ada kenangan yang muncul, yangmana bisa mengubah diri saya. Entah karena apa, baru saat itulah saya ingat kejadian pada saat saya berusia 11 tahun. Saat itu kami sekeluarga makan bersama di meja makan. Ada enam orang. Seperti biasa lauk dan dessert dibagi rata oleh Ibu dan diawasi oleh Bapak. Kalau ada kue yang cuma satu, maka harus dipotong empat agar kami anak-anak merasakan semua, ukurannya-pun dibagi sama. Kalau cuma ada sebutir jeruk, ya harus dibelah empat juga. Begitulah prinsip keadilan di keluarga kami.
Nah, acaranya jadi memanas ketika kakak saya sekonyong - konyong mengambil makanan tanpa konfirmasi ke Ibu, padahal itu tinggal satu - satunya dan belum dibagi pula. Saya protes keras, apalagi langsung dimasukkan mulut oleh kakak saya. Bapak saya-pun tidak bisa berbuat banyak selain menghardik kakak saya.
Segala penjelasan seakan tidak akan bisa masuk telinga saya. Pokoknya saya protes keras ! Protes karena terjadi ketidak-adilan di meja makan.
Pada ujungnya, setelah emosi saya sedikit mereda, Bapak saya berujar,"...Le*), kamu harus belajar menerima ketidak-adilan. Karena diluar sana ketidak-adilan merajalela....Banyak terjadi ketidak-adilan yang lebih besar dan menyakitkan..."

Ya. Baru sekitar lima tahun yang lalu saya teringat ending kejadian makan bersama itu. Walau kabur namun saya cukup jelas mengingatnya, bagaimana Bapak menuturkan kata tersebut kepada saya yang masih berumur 11 tahun. Seingat saya Beliau berpeci saat itu.

,"...Le, kamu harus belajar menerima ketidak-adilan. Karena diluar sana ketidak-adilan merajalela....Banyak terjadi ketidak-adilan yang lebih besar dan menyakitkan.."
,"...Le, kamu harus belajar menerima ketidak-adilan. Karena diluar sana ketidak adilan merajalela....Banyak terjadi ketidak-adilan yang lebih besar dan menyakitkan.."
,"...Le, kamu harus belajar menerima ketidak-adilan. Karena diluar sana ketidak adilan merajalela....Banyak terjadi ketidak-adilan yang lebih besar dan menyakitkan.."

Kata - kata itu berdengung-dengung hingga kadang memusingkan.
Saya tahu, saya harus menerimanya, karena hal itu adalah benar adanya.
"Ini dunia, Bung... kalau mau keadilan ya di akhirat sana...", begitu kata hati kecil saya. [] 28 oktober 2004

____
*) "Le" adalah kepandekan dari "Tole", panggilan untuk anak laki-laki di keluarga Jawa.

TENTANG FILM YOUNG GUNS

Seingat saya, awal kuliah (tahun 90-an) saya nonton bioskop film "YoungGuns II" bareng kakak saya. Hampir bebarengan itu, saya meminjam kaset Jon BonJovi "Blaze Of Glory" yang merupakan soundtracknya. Kaset tersebut saya kopi, ya semata-mata karena kaset barunya mahal. Lagu "Blood Money" dan "Santa Fe" sangat saya sukai. Beberapa bulan setelah itu saya bisa punya kaset originalnya, walau mendapatkannya di kios kaset loak di dekat rel kereta api. Kasetnya memang sudah agak compang - camping, tapi harganya miring. Kaset itu masih terawat dan layak dengar hingga sekarang.

Saya begitu terkesan dengan film tersebut. Seperti juga kakak saya. Mungkin hampir sama seperti nonton film "The Untouchables" yang diaktori oleh Kevin Costner. Dua film ini penuh makna. Kedua film menggambarkan perjuangan melawan ketertindasan. "YoungGuns" bercerita sekelompok remaja melawan tuan tanah, sementara "The Untouchables" bercerita tentang perjuangan segelintir orang idealis melawan sosok mafia yang sudah mengakar hingga ke polisi:"Al Capone".

Suatu saat salah satu televisi swasta menayangkan YoungGuns I, jaman Patty Garrett masih bergabung dengan Billy The Kid. Saya langsung tertarik. Di kelompok YoungGuns tersebut, saya mengidolakan si Indian (saya lupa namanya). Dia bisa mewujud menjadi kuda jantan sehingga bisa mengelabuhi lawannya (YoungGuns I), pun saat mati dia re-inkarnasi menjadi kuda dewa (Young Guns II). Sedih sekali pas ini, kalau nggak salah saat terjadi pengejaran di Guano City.

Kira-kita dua tahun lalu saya membeli film YoungGuns II. Pengennya beli komplit, tetapi yang seri I tidak ada. Formatnya VCD. Hampir bareng saya juga bisa memiliki film "The Untouchables" versi VCD.

Seminggu lalu saya menyisir deretan koleksi kaset saya untuk mencari kaset soundtrack-nya. Kangen pengen dengerin lagi. Hasilnya adalah tulisan saya tentang "Patty Garrett".
Baru minggu ini saya punya kesempatan memiliki film-film tersebut dengan komplit, saya membeli film "YoungGuns I" dan "Young Guns II". Formatnya DVD. Hari ini-pun saya memutar soundtrack karya Jon BonJovi tersebut. [] 3 nopember 2004



HARI JUM'AT HARI ISTIMEWA

Saya selalu teringat bagaimana istimewanya hari - hari Jum'at itu saya lalui. Sedemikian ritmis dan mengasyikkan. Sebenarnya awalnya dimulai pada hari Kamis waktu maghrib. Saat itu Bapak saya mengumpulkan kami untuk menunggu azan maghrib. Kami menjalani rutinitas potong kuku untuk membersihkan diri. Dimulai dari kuku-kuku tangan kanan. Unik, karena yang awal dipotong adalah jempol, berlanjut ke telunjuk, jari tengah, nah... lompat ke kelingking, barulah jari manis. Begitu ajaran Rasul. Trus dilanjutkan ke tangan kiri, namun dilakukan urut mulai jempol, telunjuk, tengah, manis, dan terakhir kelingking. Pun kaki kanan dan kaki kiri urut.
Kalau perlu, yang berambut sudah gondrong disempatkan selepas Isya untuk beranjak ke Pak Pangkas Rambut.

Jum'at siang selepas sekolah, saya bersiap - siap ikut Bapak ke Mesjid. Kami tidak makan siang sebelum Jum'at-an, melainkan menyantap menu khusus Jum-at. Biasanya Ibu memasak kolak, bubur kacang hijau, atau sekedar menggoreng pisang di setiap hari Jum'at.
Selepas pulang solat Jum'at, barulah kita melakukan makan siang bersama. Biasanya masih pada pakai baju muslim komplit dengan kopyah dan sarungnya.
Itulah rutinitas hari Jum'at, diakhiri dengan makan siang bersama.

Setelah saya SMP, saya tidak bisa ikut Bapak ke Mesjid karena saya harus solat Jum'at di sekolahan, tapi menu khusus tersebut tetap terhidang. Bahkan ketika saya sudah kuliah-pun masakan khusus itu selalu ada.
Nah, yang agak menyimpang adalah pada saat saya sudah kuliah. Bila saya tidak di kampus, maka pada hari Jum'at saya menyempatkan diri dengan rutin menyimak siaran radio swasta. Bukan ! Bukan pengajian ! Saya malah mendengarkan siaran yang berjudul "Rock on Friday", yang selalu memutar lagu kesayangan saya "Friday On My Mind". Bukan ! Bukan yang dibawakan oleh Easybeat (?), tetapi versi modern oleh gitaris melodius Gary Moore. Lagu ini dikemas dalam album "Wild Frontier".

Tetapi walau jam 10.00 hingga jam 11.00 saya mendengarkan siaran tersebut, sedapat mungkin setelah itu saya menyertai Bapak ke Mesjid dimana Bapak menjadi pembicara. Kali ini adalah sebagai pengawal, bukan pengikut lagi, karena bisa jadi saya yang nyetir mobil sekarang.

Hari Jum'at memang hari istimewa.[] 5 nop 2004



BIARLAH MENJADI RAHASIA TUHAN

Kebetulan kedua anak saya; Salma dan Nourma adalah perempuan. Dan kebetulan pula adik saya dikaruniai dua anak laki - laki. Dalam perjumpaan dengan rekan atau handai taulan, kerap kami ditanya," Kapan punya anak laki - laki...?"
Pun adik saya juga ditanya sebaliknya,"...kapan punya anak perempuan...?".

Lha saya juga nggak ngerti gimana caranya kok anak saya bisa perempuan semua. Pun adik saya juga nggak ambil pusing karena memang kedua anaknya lelaki.
Bahkan mertua saya adalah orang tua dari empat anak yang kesemuanya perempuan. Beliau juga nggak ngerti gimana caranya kok anaknya bisa perempuan ber-empat.

Pertanyaan - pertanyaan tersebut memang sangat lazim, bahkan seringkali diimbuhi dengan kiat - kiat supaya bisa punya anak laki - laki,... atau adik saya juga sudah makin bosan diceramahi kiat - kiat supaya bisa punya anak perempuan. Nah, kiat - kiat ini yang kadangkala malah menggelikan. Soalnya sepupu saya ada yang memiliki anak 5 orang lelaki semua. Dia juga bingung kalau --misalnya-- disuruh ceramah "Kiat Membuat Anak Lelaki Saja".

Dulu, sebelum Muhammad (yang juga dikaruniai anak - anak perempuan) aktif sebagai Utusan Tuhan, beredar juga kiat - kiat seperti itu. Masyarakat kala itu --lazim disebut masyarakat jahilliyah-- meyakini beberapa kiat tentang "anak", salah satunya adalah meyakini bahwa dengan mengubur hidup - hidup anak perempuan maka bakal bisa memiliki anak laki - laki.

Memang dari jaman kapan dan hingga kapan-pun kiat - kiat seperti itu memang selalu ada, entah berbungkus mistik atau berbungkus sains. Karena memang ada saja cara manusia ( dan setan) untuk "menggoyang" rahasia Tuhan. Seperti ditulis dalam kitab - kitab suci; hidup-mati, laki-perempuan, dan kiamat merupakan rahasia Tuhan.
Dan diantara kita gemar sekali untuk membongkar , atau setidaknya berusaha mengutak-atik rahasia tersebut.[] 22 Nopember 2004



MOLOR

Kemarin ada acara halal - bihalal di kampung. Karena saya yang ditunjuk sama Pak RT untuk menyusun acaranya, maka saya mengubah namanya menjadi "Silaturahim Warga". Pun saya bikin susunan acara se-simpel mungkin dan seringkas-ringkasnya, bahkan saya cantumkan detail acaranya pada undangan yang disebarkan oleh Pak Satpam.

Acaranya saya jadwalkan di mulai pada pukul 10.45. Umumnya, dikampung kami selalu molor dalam menyelenggarakan sebuah acara. Biasanya berkisar satu hingga satu setengah jam molornya. Kali ini saya akan mencoba sesuatu perbaikan, yakni lewat beberapa toleransi, acara langsung saya mulai setelah molor 10 menit. Memang belum lengkap para undangan yang datang. Tetapi saya punya dua patokan, yakni sang waktu sudah "manjing" (masuk), dan sang Pembicara sudah hadir diantara pengunjung.

Saya berusaha seketat mungkin mengikuti acara menit per menit, acara - per-acara. Dan memang semuanya bisa ditepati, termasuk durasi sang Pembicara yang ternyata pas tuntas sekali. Maklum beliau purnawirawan TNI dan orang yang taat waktu.
Pukul 11.45 acara makan siang sudah bisa dinikmati, dan benarlah adanya, pada jam itu ada beberapa pengunjung berdatangan. Lewat guyonan saya tanya mengapa mereka baru kelihatan, dan mereka menjawab,"...biasanya kan molor satu jam...." [] 6 desember 2004



AMANAH

Akhir bulan Sya'ban lalu saya menerima undangan rapat pembentukan Panitia Kegiatan Ramadhan dari sebuah mesjid di kampung saya. Saya bukan orang yang rajin ke mesjid tersebut. Soalnya saya sholat jum'at di kantor, dan baru sampai rumah lewat isya setiap harinya. Acara rapatnya jatuh hari Sabtu malam Minggu ba'da Isya.
Karena memang tidak ada uzur, saya berangkat untuk memenuhi undangan majelis mulia tersebut. Dalam rapat tersebut, ternyata beberapa orang banyak yang berkeberatan untuk duduk di kepanitiaan. Biasanya berkilah,"...saya nanti membantu sepenuhnya, tetapi saya jangan dimasukkan ke-kepanitiaan...".
Konon, setan sering mempengaruhi manusia agar tidak usah ikut serta dalam kegiatan mesjid.

Sekilas saya juga pingin mengundurkan diri, tetapi saya tidak melihat alasan yang logis untuk tidak memegang amanah yang ditujukan ke saya; yakni "bendahara uang keropak tarawih". Akhirnya saya menerima "jabatan" tersebut dengan catatan saya tidak bisa ikut sholat tarawih kecuali hari libur kantor. Dan dewan rapat-pun setuju.
Sehabis rapat, Pak Wakil Ketua menjumpai saya dan berkata,"...Pak Haris... tugas Bapak adalah menjaga supaya uang ini tidak tersentuh siapa-pun, sehingga tidak terpakai oleh hal - hal yang tidak sangat mendesak. Bapak nggak perlu tiap tarawih memaksakan diri untuk hadir...".

Dalam sebulan, amanah itu saya pegang. Uang keropak kebanyakan disetor oleh Mas Marbot ke rumah saya, hingga akhirnya setelah sholat Ied --yang menandakan acara Ramadhan usai-- uang tersebut saya serahkan semuanya dalam keadaan tanpa tersentuh seorang-pun. Masih seperti sediakala lengkap dengan amplop kumal-nya, bahkan ditukar recehpun tidak. Hanya saya imbuhi dengan perincian day-per-day-nya.
Biasanya --menurut orang - orang-- kebanyakan uang keropak itu ditukar receh-recehnya, namun kadangkala mengakibatkan salah hitung. Atau bahkan dipakai pinjam. Ini menjadi biang keributan.

Begitu mengetahui bahwa uang tersebut aman sentausa, dalam acara halal bi-halal Bapak Wakil Ketua kembali berbicara kepada saya,"....Pak Haris.... bulan depan kita hendak mengadakan kegiatan Iedul Adha.... pastilah banyak uang amanah jamaah yang harus dikelola..........."[] 7 desember 2004
uang keropak : uang hasil kotak amal
marbot : penjaga mesjid



METRO LIFESTYLE

Biasanya hanya Si Marley Boy yang mondar - mandir hingga tiga kali di sepanjang trotoar halte itu. Marley Boy kini sudah besar, hampir setinggi pria dewasa, badannya makin tegap dan kokoh. Tiga tahun yang lalu dia masih serupa bocah. Dulu mirip penjual koran, walau rambutnya sudah gembel. Karena rambut yang mirip Bob Marley itulah saya menyebutnya Marley Boy.
Hampir setiap pagi dia mondar - mandir, mengais - ngais sampah, terutama sampah nasi bungkus sisa makan malam para supir taksi yang nongkrong di situ. Kaisannya langsung diraup ke mulutnya, sesekali disemburkannya bila memang sudah terlalu basi. Kulitnya makin dekil dan menghitam, seiring makin rapuh pakaiannya. Gaya jalannya mirip Janggo hendak memainkan pistolnya.

Pagi tadi entah kenapa saya sempat mengikuti ocehan seorang wanita tua yang juga mungkin kurang waras. Umurnya berkisar 60 - 70 tahun. Kebetulan perempuan itu tidak mengoceh sambil berjalan, melainkan hanya tersandar ke pilar halte. Menurut calo taksi yang berada di situ, sudah sekitar tiga hari si ibu tua tadi berkeliaran di sekitar halte, bahkan sudah dikasih baju bekas oleh seorang satpam pertokoan.

".... anak saya ada di Jawa Tengah...."
".... saya mau mencari kerjaan lagi...."
"Saya kerja sama Nyonya.... Nyonya keluar kota, saya disuruh nunggu disini...."

Berulang - ulang beliau mengocehkan kalimat - kalimat tersebut, tentunya diimbuhi ocehan yang saya kurang bisa menangkap maknanya.
Kesimpulan sementara saya adalah, perempuan tua itu adalah pekerja rumah tangga; tepatnya mantan pembantu. Asalnya dari Jawa Tengah. Namun karena mungkin sudah tidak perform lagi, maka tuannya "membuang"-nya di halte tersebut.

".... anak saya ada di Jawa Tengah...."
".... saya mau mencari kerjaan lagi...."
"Saya kerja sama Nyonya.... Nyonya keluar kota, saya disuruh nunggu disini...."

Ah... saya tetap berharap semoga kesimpulan saya salah.....[] 21 januari 2004



KISAH MESJID

Saya berkesempatan singgah di lima buah mesjid pada saat mudik akhir tahun lalu. Tiga mesjid adalah peristirahatan saya selama perjalanan Bogor - Solo dan Yogya - Bogor pada pulangnya. Dua mesjid lainnya merupakan mesjid yang menyimpan kisah yang belum jelas konfirmasinya. Saya sebut demikian karena memang saya mendengar kisah tentang kedua mesjid tersebut dari hasil obrolan orang - orang sepuh sahaja, dan tentunya saya tidak melakukan klarifikasi kebenaran ceriteranya.

Mesjid yang satu bernama Sulthony, terletak di desa Rejodani -- 10 kilometer arah Kaliurang- Yogyakarta, asal muasal mendiang Bapak saya. Konon, jaman perang Diponegoro pada abad lampau , Pangeran Diponegoro melintasi wilayah Rejodani yang masih merimbun belantara. Lantas sang Pangeran mengutus beberapa orang kepercayaannya untuk menetap, membangun, dan mengembangkan wilayah tersebut. Kebetulan salah seorang utusan tadi adalah leluhur keluarga saya.
Tanpa berlama - lama, orang - orang tadi lantas memulai kegiatannya. Yang pertama salah satunya adalah membangun mesjid Sulthony tadi. Kebetulan leluhur keluarga saya kebagian ikut dalam urusan mesjid ini hingga turun - temurun. Hingga pernah suatu saat --masih jaman kolonial-- Kesultanan Yogya mengutus para punggawanya untuk ikut berpartisipasi dalam mesjid tersebut. Konon Sri Sultan mengirim prajurit cebol-nya.

Mesjid kedua -- saya lupa namanya-- memang agak mistis kisahnya. Letaknya di seberang desa asal Ibu saya, Gentan - di jalan Kaliurang juga. Kakek saya adalah salah satu Imam di mesjid tersebut. Suatu pagi Kakek saya kesiangan, sehingga ketika tiba di mesjid tersebut, jamaah sholat subuh sudah selesai menunaikan sholatnya. Bahkan mesjid sudah sepi. Tentunya Kakek lantas melakukan sholat subuh sendirian. Ketika melakukan tengok kanan dan kiri mengucap salam untuk menutup ritual sholatnya, ternyata Kakek saya tidak sholat sendirian. Katanya, sholat beliau diikuti oleh makhluk besar dan berwarna - warni.
Menurut omongan orang - orang, mesjid tersebut memang sering digunakan sholat juga oleh jin Islam. ...Konon. [] 4 Januari 2005



MENGAJAR

"mengamalkan ilmu yang bermanfaat merupakan salah satu perbuatan yang tak terputuskan pahalanya"

Sekitar tahun 1996 (tepatnya saya lupa) saya sempat mengobrol dengan seorang karib saya di daerah Pulogadung. Ini pembicaraannya adalah ketetapan hatinya untuk memilih bangku sekolah lantas setelah itu dilanjutkan dengan mengajar di salah satu Universitas Negeri di Bali. Sebagaimana pembicaraan sebelumnya, sang rekan juga mengkonfirmasikan bahwa dia telah memutuskan untuk tidak melanjutkan proses registrasi penerimaan karyawan baru di sebuah pabrik otomotif terkemuka.

Yang saya ingat adalah kelakar dia saat menuai wisuda. Setelah bersama - sama membeli jas, sepatu, hingga kaos kaki, dia sempat berkelakar,"....Indeks Prestasi saya untuk S2 lebih tinggi daripada saat saya lulus S1. Saya merasa lebih sukses di S2 ketimbang saat S1. Ini saya yang menjadi lebih pintar... ataukah saingan dan mata kuliah yang saya hadapi sekarang lebih mudah, ya ?.....". Kontan tawa kami meledak seketika.
Setelah wisuda dia sejenak pulang mudik ke Blitar, lantas berkemas hendak menjadi pengajar di Universitas Udayana, Bali.

Ramadhan 1425H baru lalu, saya menerima SMS dari adik bungsu saya yang saat itu sedang berprofesi menjadi rekayasawan muda di sebuah industri pengepakan di sebuah kawasan industri Jawa Timur. Isinya mengungkapkan keinginannya untuk mengikuti tes calon dosen politeknik.
"Saya mengerti betul bahwa pendapatan yang saya terima akan lebih kecil. Ini memang suatu masalah. Tetapi saya sudah mantap", begitu ungkapnya.
Pada bulan Januari 2005 saya menerima SMS lagi,"...Alhamdulillah, saya diterima untuk menjadi dosen Politeknik. Pertengahan tahun saya akan resign dari perusahaan ini".

Hampir bersamaan dengan itu, saya menerima email dari seorang kakak kelas saya yang telah melanglang buana menuntut ilmu, seorang insinyur profesional yang telah merasakan berbagai pengalaman di lapangan. Email tersebut mengungkapkan sebuah penolakan halus terhadap penawaran jabatan direktur sebuah perusahaan. Alasan penolakannya adalah " Saya ingin mengajar". Hanya itu.

Saya jadi teringat cerita dari Ibu saya. Ibu bercerita bahwa Ayah mengobrol dengan salah seorang karibnya beberapa minggu sebelum Ayah wafat.
"Kegiatan Anda sekarang apa, Pak ?", tanya sang karib.
Ayah saya menjawab, "Selama saya masih dikaruniai hidup, saya ingin mengajarkan dan mendakwahkan ilmu yang saya punyai...". [] 1 Februari 2005




DILEMA

Dalam suatu perjalanan mudik lebaran antara Malang - Yogyakarta, kami sering berhenti untuk beristirahat. Pilihan utama biasanya adalah mesjid.
Disuatu saat, kami mudik di hari Jum'at, -- saat itu saya masih SMP. Maka adalah pilihan tepat untuk beristirahat siang di sebuah mesjid, sekalian menunaikan shalat Jum'at. Seperti biasa, saya dan kakak mengapit posisi Bapak dalam deretan shaf terdepan. Mesjid yang disinggahi kali ini terletak di perbatasan Jawa Timur - Jawa Tengah.

Entah mengapa pada saat pembacaan khutbah Sang Penceramah rupanya melakukan sedikit kekeliruan melantunkan ayat Al-Qur'an. Dan secara spontan namun lirih, Bapak saya mencoba meralat dengan menyela bacaan Sang Penceramah. Rupanya sedikit banyak Bapak hafal beberapa ayat dari Al-Qur'an. Sang Penceramah mendengar ralat tersebut, lantas memperbaharui bacaannya.
Babak selanjutnya sang Penceramah mempersilakan Bapak saya untuk memimpin shalat Jum'at berjamaah. Maka jadilah Bapak saya Imam dadakan.

Masalah sebenarnya adalah dilematis, dalam ritual khutbah Jum'at, tidak diperkenankan seorangpun berbicara kecuali Sang Penceramah, -- apalagi menyela-- . Namun, bagi siapapun orang Islam yang mendengar dan mengetahui adanya penyimpangan pembacaan ayat Al-Qur'an, maka orang tersebut wajib untuk meralat dan meluruskannya. [] 4 Februari 2005



GUNTING

"Naik apa Mas kemaren ?", tanya saya kepada kakak saya setiba saya di RS. Panti Rapih Yogya.
Kakak saya sudah sehari sebelumnya tiba untuk menengok Simbah Putri yang sedang opname.
"Kereta Lodaya, berangkat dari Bandung", jawabnya,"...kelas bisnis".
"Kelas Bisnis ?", saya setengah bertanya.
"Ya. Emangnya kenapa ?".
"Gak pa-pa. Cuma sebaiknya bawa gunting".
"Buat apa ?".
"Buat motong kabel kipas angin....haa... haa... haaa...", saya menjelaskan tidak tuntas.

Saya punya pengalaman dengan kereta kelas bisnis, yang gerbongnya tidak ber-AC, namun dilengkapi dengan kipas angin.
Tahun 1997 - 1999 saya sering ke Yogya atau Solo untuk menjumpai pacar saya yang kala itu dia masih kuliah. Untuk urusan ini, saya menggunakan kereta bisnis, biar sedikit ngirit.

Suatu malam, saat saya hendak pulang ke Jakarta, saya kebagian bangku kereta dimana diatasnya tepat ada kipas angin. Kipas angin itu sedikit rusak, jadi dia cuma bisa berputar balingnya tanpa menggelengkan sumbunya. Jadi tiupan anginnya cuma mengarah ke satu titik, yakni bangku saya.
Saya coba tawarkan ke penumpang sekitar barangkali ada yang sukarela kena semburan angin keparat itu, tapi hasilnya nihil. Terpaksa saya keluarkan jurus sarung. Untuk menahan laju angin saya berkerudung sarung dan pake topi.

Sesaat kereta melaju, seiring itu pula lewatlah kondektur beserta pembantunya. Sekalian diperiksa tiket, saya utarakan kepada mereka agar mematikan saja kipas tersebut,"...semua penumpang disekitar sini ga ada yang mau disembur sama kipas", dalih saya. Saat itu tepat pukul 20.00, saya-pun melanjutkan meringkuk di dalam kemulan sarung.

Hingga pukul 21.00 ternyata kipas itu masih menggila. Rupanya tidak ada tindakan apapun dari mister kondektur. Badan saya sudah mulai meriang karena lebih satu jam tersembur angin. Kontan saya lepas selimut sarung, dan saya memanjat sandaran bangku saya. Satu tangan berpegangan pada rel bagasi atas, satu langan saya lainnya mencoba meraih kabel kipas angin. Setelah sekitar tujuh menit bergelantungan, akhirnya saya berhasil dengan paksa memutus kabel kipas angin. Timbul sedikit percikan bunga api. Yang jelas selama itu saya jadi tontonan orang se-gerbong. Namun, seluruh usaha itu tidak sia - sia. Kipas angin akhirnya mampus. Dan saya terbebas dari ancaman meriang dan masuk angin. [] 14 Februari 2005



KARTU KREDIT

Saya termasuk nasabah bank yang tanggung. Sampai dengan tahun 2004, saya menjadi nasabah aktif untuk lima buah bank, untuk tahun ini tinggal empat bank yang saya masih aktif. Untuk mempermudah urusan belanja, saya menjadi anggota kartu kredit, dan sejak tahun 1995 saya termasuk member "teladan" untuk kartu Visa keluaran Bank P.

Urusan Kartu kredit ini gampang - gampang susah. Yang jelas urusan ini telah memaksa saya untuk tidak menjadi orang teledor, terutama akhir - akhir ini. Terus terang saya menggunakan kartu kredit hanya untuk mempermudah pembelanjaan (tidak perlu antri di ATM atau tidak perlu repot menggembol duit tunai), dan juga mengatur pengeluaran bulan depan karena sudah memegang slip tagihan. Saya tidak ada maksud untuk menghutang kemudian harus mengangsurnya berbulan - bulan. Saya ingin setiap malam bisa tidur lelap tanpa terbebani hutang cicilan.

Namun diluar dugaan saya, urusan kartu kredit ini memang telah berkembang pesat. Banyak penawaran atau program belanja yang tidak terjangkau oleh saya. Kebanyakan memang tidak mungkin saya ikuti. Hal inilah yang membuat saya sedikit ceroboh terhadap selebaran - selebaran promosi belanja dari bank. Saya memang tidak selalu harus membaca seluruh huruf dalam segepokan tebal selebaran yang setiap bulan terkirim bebarengan dengan informasi tagihan. "Sangat membuang waktu membaca naskah promosi sebanyak dua puluh halaman tersebut", pikir saya.

Kemajuan terkini adalah kerjasama kartu kredit dengan asuransi, dimana bisa saja setiap member kartu kredit otomatis menjadi nasabah suatu asuransi. Buntut dari kecerobohan saya adalah saya harus membayar polis asuransi yang saya sendiri tidak tau ujung pangkalnya, karena saya tidak teliti membaca selebarannya. Pokoknya saya begitu kaget karena tau - tau keluar tagihannya. Terus terang saya bingung. Ternyata dalam selebaran promosi yang dikirimkan berkala itu memang tercantum di ujung bawahnya, bahwa seluruh pemegang kartu kredit otomatis menjadi nasabah asuransi tersebut kecuali bila memohon pembatalan kepesertaan asuransi. Yang berarti otomatis juga harus membayar polisnya secara rutin. Nah, karena saya tidak butuh asuransi tersebut, maka saya berjuang keras untuk membebaskan diri dari tagihan polisnya. Alhamdulillah berhasil.[] 24 februari 2005



KARTU KREDIT (II)

Kecerobohan saya terhadap urusan kartu kredit berulang di bulan ini. Critanya gini: Tahun lalu saya menerima penawaran promosi (gratis iuran anggota) untuk kartu kredit master keluaran Bank Permata. Setelah tiga bulan (?) kartu tersebut menganggur begitu saja, akhirnya saya aktifkan juga. Saya melakukan konfirmasi keanggotaan, mengaktifkan kartu kredit tersebut, dan lantas menggunakan kartu tersebut. Sejauh yang saya tau, kartu kredit memang harus diaktifkan terlebih dahulu sebelum siap untuk digunakan belanja.
Begitu masa berakhirnya kadaluarsa, saya-pun berhenti sebagai member dengan melunasi tagihannya terlebih dahulu.

Saya tidak melakukan konfirmasi pencabutan anggota, hingga akhirnya pihak Bank mengirimkan kartu untuk tahun kedua. Seperti biasa, saya mengonggokkan begitu saja kartu tersebut. Tidak mengaktifkan, tidak pula mengkonfirmasikan ketidak ikut sertaan saya sebagai member. Saya berpikir bahwa bila saya tidak mengaktifkan kartu tersebut, maka saya tidak lagi ikutan.

Tapi itulah kecerobohan saya. Beberapa bulan kemudian, kartu tersebut menuai bencana. Ternyata saya menerima tagihan dari kartu tersebut. Bukan tagihan belanja, tetapi tagihan iuran tahunan.
Saya bingung, karena saya memiliki persepsi bahwa bila kartu tersebut belum aktif, maka tidak mungkin akan keluar tagihannya. Dengan persepsi tersebut, saya melakukan konfirmasi ke pihak Bank. Lebih gawat lagi, ternyata kartu tersebut telah aktif, tetapi pihak bank tidak bisa memngkonfirmasikan siapa yang telah mengaktifkan kartu kredit tersebut. Keterangan sementara dari mBak Desy sang Customer Service mengatakan bahwa memang kartu kredit tersebut telah diaktifkan secara otomatis walau bukan oleh pemegangnya....Waduh, repotnya jadi orang ceroboh kayak saya ini.[] 24 Februari 2005



BAHAGIA

Setelah saya memarkir kendaraan, maka saya bertanya kepada keluarga saya,"..saya mau ke ATM, kalian pada mau di mobil atau mau kemana ?".
Istri saya menjawab spontan," mau jalan - jalan aja.."
Ya sudah. Kita mengambil acara masing - masing. Anak - anak maunya jalan-jalan sama Ibunya, saya sendirian ngantri di ATM yang berada di luar pertokoan. Setelah saya mengambil duit, saya mencoba mencari mereka. Yang kelihatan hanya istri sambil menggendong anak saya yang kecil. Lha Si Sulung kemana ?
Ternyata Si Sulung Salma sedang mengantri hendak masuk ke taman permainan. Ibunya cukup repot dengan si bayi, dan bahkan sempat kehilangan jejak si Sulung.
Tampak Salma dengan polosnya berdiri di antrian padahal dia belum memegang tiket. Saya ke lokasi tersebut.
" Yah, Ayah... Itu pintunya sudah buka. Sandal Salma juga sudah dititipkan di rak. Salma mau ikut masuk", gitu katanya. Rupanya dia tidak mengerti kalau harus beli tiket dahulu. Tiket itu bisa dibeli di counter yang beberapa meter jaraknya dari situ. Okelah, saya bilang ke penjaga pintu agar menguruskan tiketnya supaya Salma tidak kehilangan giliran. Dan dia bersedia.

Begitu tiket sudah dipegang penjaga pintu, maka Salma-pun boleh masuk.
Saya lihat Salma berlari masuk sambil berteriak kegirangan. Melompat - lompat di atas kaki kecilnya yang tidak berkasut. Untuk selanjutnya menghilang lebur bersama bocah yang lain. Saya terus terang ikut bahagia melihat kelakuan anak saya itu. Sudah lama sekali saya tidak sebahagia kala itu. Saya tidak bisa bayangkan apabila anak saya gagal masuk taman permainan. Yang jelas Salma pasti kecewa. Dan saya-pun akan kehilangan momen yang luar biasa itu. Saya tersadar, rupanya saya telah memasuki fase yang berbeda, yakni saya merasa bahagia bila mampu menyenangkan anak saya.[] 7 maret 2005




KECEWA

Biasa. Semua orang pasti pernah kecewa. Pada bulan Ramadhan tahun 2004, kamera saya mendadak rusak di mekanisme "auto-zoom"-nya. Saya melewatkan lebaran tanpa kamera, hingga saya kehilangan kesempatan mengabadikan beberapa momen penting, salah satunya adalah acara berkumpulnya saudara-saudara saya ke rumah saya, karena Ibunda memang sedang mampir ke Bogor.

Kamera itu langsung saya reparasikan ke sebuah toko reparasi kamera di Pertokoan Yogya-Jalan Baru - Bogor. Mereka minta saya membayar uang muka sebesar 85 ribu dan tidak bisa ditarik lagi walau-pun nanti proses reparasinya gagal. Saya menyetujuinya. Katanya sebulan lagi, yakni awal bulan Desember 2004, kamera itu bakal beres.
Saya memang hendak menggunakannya untuk jalan - jalan mudik di akhir - tahun.

Kenyataannya benar - benar mengecewakan. Ternyata kamera itu tak kunjung beres hingga saya harus ber-akhir tahun tanpa kamera tersebut. Saya terpaksa meminjam kamera rekan kantor saya.
Kekecewaan tidak hanya berhenti disitu. Pada akhir Januari 2005, toko tersebut menghubungi saya untuk mengambil kamera tersebut,"....biayanya ditambah 200 ribu", gitu kata pelayan toko via telpon.
Saya menyempatkan sambang ke toko tersebut, namun saya lihat kameranya belum beres. Auto-zoom-nya makin ngadat.
Dari sini timbul masalah baru karena pelayan toko tetap memaksa saya untuk membayar 200ribu, alasannya karena sudah ada komponen yang di ganti.
Hampir saja saya naik darah, sampai akhirnya saya jelaskan,"..mBak... apapun komponen yang diganti dan berapapun biayanya, saya akan bayar bila memang kamera tersebut sudah beres... ini 'kan masih rusak ?..Ok...?".
Saya meninggalkan toko setelah dia mengerti apa yang saya maksud. Dan hingga sekarang saya sudah tidak peduli lagi dengan kamera tersebut.

Kecewa sudah pasti. Tetapi mengharapkan kamera tersebut balik seperti kondisi awal bagai mengharapkan godot, karena toko tersebut ternyata tidak mumpuni, dan hanya ingin menguras kantong saya saja. Maka saya membiarkan saja supaya tidak makin runyam....Yah... kamera tersebut saya biarkan mendekam di toko tersebut, .. dan saya-pun menikmati musik - musik kesukaan saya...[] 8 Maret 2005



KISAH PETUALANGAN YANG HILANG

"...Si Ripin mulai memanjat. Diikatnya tangkai nangka itu dengan tali timba, yang mereka pinjam dari rumah Bang Umar. Lalu si Ripin menutuhnya dengan sebuah parang panjang.
Nangka itu tergantung ! Saba, Jupri, dan Lodan yang memegangi ujung tali timba itu, lalu mengulurnya perlahan - lahan. Nangka itu tiba di tanah tanpa bantingan...." (Seri Si Saba - CM.Nas)

Minggu lalu saya terima paket. Ceritanya gini, kebetulan saya punya teman yang bekerja di sebuah majalah. Dan lagi, saya dulu jaman SD juga berlangganan majalah tersebut, kira - kira tahun 80-an. Saya pengen bernostalgia membaca cerpen - cerpennya. Keinginan saya itu saya sampaikan kepada teman saya. Dan teman saya akhirnya harus mengobrak - abrik ruang dokumentasinya sambil berbangkis - bangkis, sebelum akhirnya mengirimkan paket yang berisi kopi dari dokumentasi majalah era tahun 80-an yang saya maksud. Tentunya cerita-ceritanya sudah kuno. Sudah duapuluh tahun lalu.

Cuplikan di atas merupakan gambaran petualangan anak - anak tempo lalu. Mereka dolan ke kebon nangka, atau meniti tepian sungai, juga memanjat pohon jambu monyet dan membakar bijinya. Itulah apa yang dilakukan bocah pada dua -puluh tahun yang lalu.
Mungkin bocah sekarang akan berbeda cara mainnya, cara bertualangnya. Mereka memanjat di arena bermain, menembak di time-zone, atau seharian 'menthelengi' play station. Jaman memang berubah, tapi alangkah nikmatnya bila petualangan tempo lalu itu bisa diikuti oleh anak generasi sekarang. Suatu petualangan yang bersahabat dengan alam. Saya yakin hal itu sangat bermanfaat, setidaknya ketimbang seharian mencet - mencet tombol PlayStation.[] 29 maret 2005



SECOND OUT

Saya baru mendapat kiriman DVD konser salah satu grup musik kegemaran saya, yakni konser Genesis bertajuk 'Second-Out'. Konser ini digelar tahun 1976 - 1977. Sebetulnya ini konser yang istimewa, tetapi karena kuno membuatnya beberapa gambarnya memang tidak menarik buat ditonton, walau tetap sangat exiting buat didengarkan. Konser ini istimewa baik secara materi maupun 'rohani'. Konser ini menyimpan muatan 'semangat kebangkitan' yang patut dicontoh.

'Second Out' merupakan perwujudan eksistensi. Ya. Karena inilah konser akbar pertama dari Genesis setelah sang-'jiwa' Peter Gabriel menyatakan mengundurkan diri sebagai anggota. Peter Gabriel adalah sosok pemrakarsa Genesis, leader, konseptor seluruh album yang dirilis dari awal hingga tahun 1976, dan dia juga penulis hampir seluruh lagu yang pernah ada.
Keluarnya Sang Gabriel disinyalir dapat membawa dampak keruntuhan grup musik yang tengah berkibar itu. Genesis diambang petaka.

Namun konser 'Second Out' menjawab semuanya, bahwa kepergian Sang Gabriel tidak membuat Genesis terpuruk. Inilah pembuktian mereka, bahkan mereka mengklaim diri sebagai 'Genesis era II", yang lepas dari bayang - bayang Sang Gabriel. Semangat 'Second Out' yang berapi-api untuk tetap eksis.

Demi eksistensi, mereka lantas mengubah haluan musik mereka menjadi lebih 'easy-listening'. Sejatinya saya lebih sreg dengan pola musik jaman Sang Gabriel, tetapi saya disini sangat mengagumi Phil Collins, Tony Banks, dan Mike Rutherford untuk tetap bersatu dan berjuang menegakkan panji Genesis yang sempat terancam ambruk.
Juga peran Tony Banks yang sadar diri bahwa sifat introvert-nya membuat dia dengan legowo menyerahkan mandat 'front-man' kepada yuniornya, Phil Collins untuk maju ke depan. Sejatinya Banks lebih senior ketimbang Collins. Hingga akhirnya dikalangan penggemar Genesis muncul semboyan "Collins Saved Genesis".

Dalam keseharian, kita kadangkala dililit problem yang seringkali meruntuhkan usaha kita. Tetapi sebenarnya kita mampu bertahan dan berkibar kembali bila kita memiliki semangat 'Second Out'. Tidak ada salahnya kita belajar dari sekelompok musikus yang bernama Genesis, walau untuk tahun - tahun ini Genesis sendiri tidak kuasa untuk menahan keruntuhannya sendiri.[] 5 Mei 2005



MINI COMPO

Minggu lalu saya menyempatkan mengutak - atik sebuah mini compo tua. Pada tahun 1986 saya dibelikan perangkat tersebut oleh orang tua saya dengan sebuah syarat:"....tidak boleh mengganggu prestasi sekolah...". Maklum, saat itu saya memang merengek - rengek kepada ibu supaya dibelikan mini compo.
Harganya seingat saya sekitar seratus lima belas ribu rupiah, merek Nasional.

Mini compo tersebut sempat pensiun beberapa tahun karena saya lebih respek memutar keping CD, yang tentunya tidak bisa diputar menggunakan mini compo uzur tersebut. Jaman itu belum tren CD.
Mujur nian itu mini compo, ternyata tidak ada kerusakan yang berarti, cuma ada sirkuit tenaga yang putus di sekitar amplifier. Dengan beberapa puntir setelan head, bereslah sudah saya mengoprek alat tersebut. Saya cukup puas dengan keluaran suaranya. Cempreng khas compo. Namun set-up mini equalizer bisa sedikit memperindah suara yang dihasilkannya.

Yang dahsyat adalah ketika saya mencoba memutar salah satu kaset koleksi saya, Genesis album MAMA tour. Saya membelinya tahun 1987, bertepatan dengan prosesi penerimaan saya di SMA. Saya ingat betul, dimana saya harus mengganti sampul kaset tersebut gara - gara rusak setelah dipinjam teman sekelas saya. Gondok sih jelas, tapi saya berhasil memendam amarah karena dia adalah teman baru saya, sesama murid baru di sekolah. Saya mengganti sampulnya dengan potongan kertas kalender.

Dahsyat, --karena diluar dugaan,-- suara yang keluar dari speaker mini compo tersebut seakan tercurah berikut dimensi masa dan ruang-nya.
Saya seakan terbawa ke masa dua puluh tahun lalu, dan terseret menuju kamar saya di Malang, 800 kilometer letaknya dari posisi saya sebenarnya.
Segera saya merasa ketagihan, saya lanjutkan dengan memutar album - album lawas yang lainnya. Diantaranya adalah album Emerson, Lake, & Powell yang merupakan kaset ketiga paling awal yang saya beli setelah VeryBest YES dan VeryBest RollingStones.

Orang - orang boleh bilang bahwa koleksi kaset saya sudah lapuk dan renta. Bahkan saya sendiri telah mereformasi sebagian kaset saya ke format CD. Namun perpaduan kaset dan mini compo tersebut ternyata merupakan keajaiban bagi telinga saya. Disadari atau tidak, mereka adalah ornamen dari penggalan sejarah hidup saya. Mereka memiliki posisi unik dalam hidup saya.[] 6 Juni 2005



KEAJAIBAN BOCAH

Salma, anak saya berumur hampir 5 tahun. Dia bermain, sekolah, bercanda, dan rewel seperti kebanyakan anak lain seusianya. Memang ada hal - hal spesifik, tapi tidaklah terlalu banyak. Namun, kali ini saya sungguh - sungguh yakin bahwa anak - anak --tidak hanya anak saya,-- merupakan suatu keajaiban.

Ditengah rasa dongkol karena susunan acara yang (menurut saya) tidak karuan, saya mengikuti acara pementasan sekolahan anak saya. Di siang bolong menjelang waktu Dzuhur, anak - anak tersebut memunculkan keajaibannya. Beberapa tarian yang ditampilkan membuat saya heran. Soalnya saya selama ini menganggap anak - anak adalah sekumpulan makhluk yang gemar bermain sahaja.
Tetapi pentas itu berkata lain, mereka bisa menghafal dengan baik gerakan - gerakan tarian lebih dari yang saya duga semula. Padahal, setahu saya waktu persiapannya tidaklah lama. Belum lagi mereka telah didera kelelahan akibat prosesi seremonial yang memakan waktu sebelumnya. Dandanan wajah mereka telah luntur, beberapa anak bahkan sudah menangis di lepas pagi karena kegerahan. Pukul sebelas, setengah jam sebelum tampil, anak saya sudah merengek pulang tapi ditahan sama Ibu-nya.
Ternyata mereka telah hafal betul tarian dan iringan musik-nya. Bahkan sebagian mereka juga hafal tarian lain jatah temannya hanya gara - gara latihan bersama. Praktis mereka menontonnya dan menghafal tanpa sengaja. Amazing.

Dalam pentas itu, setiap kelompok anak kebagian menari sekitar 5 - 7 menit. Ada satu dua anak yang pentas lebih dari satu kali. Bukan hanya tarian, ada pidato dan menyanyi juga. Anak saya juga kebagian deklamasi dalam bahasa Inggris. Ini juga diluar dugaan saya. Se-ingat saya, untuk urusan bahasa Inggris Salma cuma bisa melafalkan sepenggal lagu Genesis : The Musical Box, "...Why Don't You Touch Me, Now..!..Now..!...Now...!". Itu saja. Tetapi dalam pentas itu dia berdeklamasi cukup panjang dengan dua rekannya. Hafal dan kompak.

Sebelumnya saya sempat heran juga dengan kelakuan gerombolan bocah di kampung saya. Anak saya bersama teman - temannya kadang melakukan hal yang saya kira di luar kemampuannya. Namun setelah ditelusuri dengan baik, mereka ternyata memang mampu melakukannya. Kadang saya memang terlalu memandang bahwa bocah --anak saya-- adalah makhluk yang tidak mampu. Saya terlalu meremehkan mereka. Tapi pandangan ini ternyata salah, anak - anak adalah manusia yang bertanggung-jawab. Ini adalah keajaiban yang harus kita terima. [] 8 Juni 2005




JOR-JORAN SATE KAMBING

"Sumber dari segala penyakit adalah menumpuk makanan dalam perut..." (Al-Qur'an)

Sekitar dua tahun lalu, saya dan rekan - rekan dari kantor pernah 'kemaruk' sate kambing. Lagi demen-demennya sate kambing, maklum di dekat kantor ada yang jualan. Sering kita berombongan ke kedai sate tersebut pas makan siang. Disana terjadilah balapan adu banyak makan sate kambing, jor - joran tanpa ukuran. Ada yang habis 20 tusuk, trus dilewati pesaingnya yang menelan 25 tusuk. Kapan lagi dilewati yang lain. Barangsiapa yang menjadi penyantap paling sedikit, akan jadi bahan ledekan sampai perlombaan babak berikutnya. Kita semua --pasti-- tidak sudi menjadi pecundang seperti ini.

Begitulah, sampai akhirnya saya terkena malapetaka kecil. Saya terindikasi potensial hipertensi karena kolesterol. Ngakunya ke istri dan ke dokter, saya kebanyakan minum sereal-susu. Tapi dalam hati saya yakin benar, sate kambing inilah musabab utamanya.
Biaya pengobatannya cukup mahal. Dan juga lama. Lama karena saya memilih pengobatan alternatif, bukan menenggak obat kimia karena saya was - was terhadap ginjal saya. Saya jarang olah raga, dan konon obat hipertensi itu termasuk obat dosis tinggi.

Dengan kasus tersebut, saya menjadi pecundang dan bahan ejek-ejekan. Ga pa-pa, yang penting sehat. Saya mundur dari ajang per-sate-an ini.
Tak berjarak lama, seorang peserta mengundurkan diri pula. Dia harus opname karena ter-terjang tekanan darah tinggi juga. Sebabnya sih mungkin tidak hanya sate, tapi paling tidak kontribusi sate kambing cukup nyata disini. Satu lagi pecundang lahir, rupanya dia lebih parah dari saya.

Tak lama kemudian, ajang perlombaan sate tersebut berakhir. Sebab musababnya adalah satu peserta lagi – Sang calon Jawara-- terkena penyakit 'tidak bisa tidur'. Tidak bisa tidur hanya gara - gara pada saat makan siang dia menghajar sekitar 30 tusuk sate kambing. Katanya selama semalam hingga menjelang subuh kepalanya puyeng hebat.[] 10 juni 2005



MANTU MARATHON

"menikahlah kamu bila sudah mampu, atau berpuasalah..." (Muhammad SAW)

Pemicunya adalah adik perempuan saya, nggak ada sinyal kuat tau-tau orang tua saya merencanakan untuk menikahkannya. Kabar ini mencuat di pertengahan tahun 1998 bagai petir di siang bolong. Usut cerita, ternyata memang orang tua saya menjodohkan adik saya dengan putra rekan se-profesi-nya. Sifat orang lama : Kenal, Klop, Beres, Jalan.
Nggak perlu memakan prosesi cukup lama, lamaran langsung digelar diakhir tahun 1998 dan langsung diterima tanpa banyak persoalan karena kedua calon besan sudah saling dan sangat mengenal.
Sebagai pihak pengantin perempuan, maka disusun pula oleh orang tua saya rencana pernikahan tersebut, yakni bulan Agustus 1999.

Dengan adanya petir di siang bolong itu, maka bergulirlah masa penjajagan perkawinan diantara kita bersaudara: adik perempuan saya, saya sendiri, dan kakak sulung saya. Kami bertiga 'gembleleng' merasa cukup 'mampu' untuk dinikahkan saat ini juga. 'Kemlinthi'-lah pokoknya,-- apalagi saya,-- karena saya sudah pernah mengajak pacar saya untuk bersilaturahim dengan keluarga saya di Malang. Sementara Adik lelaki saya masih terlalu muda untuk ikut 'musim nikah' ini.
Kami berdua juga beramai - ramai minta dilamarkan calon istri. Kakak saya lamaran (seingat saya) sekitar bulan April 1999, sementara saya kurang - lebih sebulan sesudah itu. Namun pelaksanaan kawinannya saya jatuh bulan September 1999, sementara kakak sulung menikah bulan Nopember 1999, persis sebelum puasa Ramadhan.

Jadi, orang tua saya marathon tiga kali mantu dalam empat bulan. Acaranya-pun keliling Jawa. Adik di Malang, saya di Solo, dan Kakak resepsi di Bandung.
Ada tradisi Jawa yang bilang, bahwa tidak baik mantu dua kali dalam setahun. Tetapi Bapak saya menjawab diplomatis bahwa beliau tidak melakukan hal tersebut, ' Saya mantu tiga kali dalam empat bulan. Bukan dua kali dalam setahun'. Sip-lah. Saya sangat setuju dengan jawaban tersebut.

Capek ?
Jelas orang tua saya berkali - kali mengungkapkan ke-capek-annya. Ungkapan sambil tersenyum lega. Tetapi apa yang terjadi setahun setelah 'mantu marathon' itu ? Yang terjadi adalah panen cucu di abad milenium.[] 11 juni 2005




KECETHIT

Kecethit, itu bahasa Jawa. Punggung kecethit, sakitnya minta ampun. Bahkan saya sampai pingsan gara - gara punggung saya kecethit. Ceritanya begini : Pagi itu saya mencuci mobil. Selama tiga bulan ini memang saya tidak pernah olah raga. Dan keletihan sepulang nyetir mudik Solo - Bogor pp itu masih terasa.
Ketika saya harus mencuci ban, saya tidak jongkok. Saya melakukannya dengan membungkuk. Pada salah satu gerakan, punggung ini terasa salah urat, kontan saya bereaksi bangkit. Eh, malah makin sakit. Akhirnya mata saya kabur dan saya tersungkur. Saya sempat pingsan sebelum dipapah oleh tetangga masuk rumah.

Salah seorang tetangga baik yang profesinya dokter mencoba memeriksa. Dugaan ginjal terabaikan karena saya cukup rajin minum air putih. Ginjal juga bis bikin sakit di punggung ternyata. Dugaan tulang keseleo-pun gugur karena setelah diperiksa, tulang saya tidaklah mengapa. Ya berarti ada otot yang melintir dan tidak balik. Itu sebabnya. Salah urat tingkat elit.
Kata dokter tersebut pengobatan medis ada, yakni suntik dan perlakuan pemanasan. Saya dianjurkan cek ke rumah sakit.

Tetangga yang lain bilang bahwa ada tukang pijat yang mumpuni. Dalam pembaringan karena nggak bisa berdiri, saya memutuskan memanggil juru pijat. Tukang Pijat kampung sebelah, namanya Pak Bohir, cukup baik kerjanya, tapi saya tetap saja belum bisa duduk. Akhirnya usulan untuk memanggil tukang pijat tuna netra dilakukan hari berikutnya.
Dengan sedikit kebentur pintu karena dituntun anak saya, Mang Aseng menunaikan pijatannya. Bilangnya dia sering meluruskan otot para atlet lokal yang keseleo saat bertanding. Mang Aseng memang agak sakti. Terbukti setelah itu saya bisa duduk.
Mang Aseng tiba lagi tiga hari setelah kunjungan pertama. Cukup sakti juga. Setelah dipijat saya bisa berdiri namun belum tegak, agak miring ke kiri. Kontan saya telpon lagi dia untuk meluruskan punggung saya. Dia datang lagi dan menunaikan tugasnya dengan baik. Badan saya sudah tegak lagi.

Suatu malam, Fao -- karib saya-- menelepon saya. Kita-pun ngobrol juga perihal kecethit. Ternyata Fao juga pernah kecethit, dan dia opname di rumah sakit hampir sebulan dengan perlakuan pemanasan. Badannya ditarik dan dipanaskan punggungnya dengan mantel yang berisi air panas. Juga ada obat-obatannya. Namun tak kunjung sembuh jua.
"Sudah habis ratusan ribu, ....akhirnya saya mau pulang saja. Trus saya di bawa ke seorang tukang beras. Katanya dia biasa menyembuhkan keseleo. Saya manut saja. Walah. sakitnya minta ampun dipijat sama dia. Saya sampai teriak melung - melung. Tetapi setelah itu saya benar - benar pulih. Bayarnya-pun cuma sepuluh ribu. Tenaga profesional seharga ratusan ribu di rumah sakit tidak menyembuhkan. Tetapi seorang tukang beras bisa menyembuhkan hanya dengan sepuluh ribu. Ini aneh...", gitu jelas Fao.[] 14 juni 2005

No comments: