Thursday, June 04, 2026

ORANG TUA


Uploaded Image

Tadi pagi saya bertemu ibu oenjual tamu. Cukup sepuh. Usianya 95 tahun. Berjualan jamu semenjak tahun 1945. Rumahnya kontrak dekat stasiun KRL Tebet. Sudah 80 tahun jualan jamu di bilangan Tebet. Gonta-ganti presiden, beliau mengaku jamunya pernah dikonsumsi pak Prabowo dan juga pak Jokowi. Orangnya masih lincah, saat saya ajak selfie, dia sempat bergaya. Ketika saya bilang, "Ibu sehat selalu berkat jamu, ya? ". Beliau tertawa riang. Selain jamu, beliau juga jualan kacang dalam kemasan plastik. 

Petang sebelumnya di masjid saya sempat ngobrol dengan seorang bapak, usia hampir 60. Belum terlalu tua. Dia bilang, " Saya terpapar H2S sehingga gigi saya rontok banyak". Kisahnya, dia naik ke mulut kawah gunung. Gunung apa saya lupa. Saya sendiri sedang bekerja di sebuah proyek pipa yang bakalan mengalirkan gas H2S. Nasihat beliau, ' Hati-hati dengan gas H2S". Saya tidak cerita kerjaan saya. Entah dia cuma menebak, atau kebetulan belaka. Wallahualam.

salam,
hf

Wednesday, May 03, 2023

Demokrasi Bodoh

Di negara berpenduduk bodoh, 
Maka orang BODOH memenangkan pemilihan... 
Karena orang bodoh cenderung memilih sesama orang bodoh... 

Di negara miskin, 
Maka orang KAYA memenangkan pemilihan... 
Karena orang kaya memiliki modal untuk membeli suara... 

Di negara miskin yang berpenduduk bodoh, 
Maka orang KAYA memenangkan pemilihan, namun diam saja, agar orang BODOH merasa memenangkan pemilihan tersebut ... 


Tuesday, January 24, 2023

Fanatisme Anti dalam Sepakbola

Dalam sepakbola, berlaku (pula) kaidah "Fanatisme Anti" dikalangan supporter. Fanatisme Anti adalah ketidak-sukaan kepada klub tertentu, sehingga senantiasa mendukung lawan dari klub tersebut. Jadi, bukan fanatik "suka" terhadap klub tertentu, namun kebalikannya, yakni "fanatik-tidak-suka".
Tidak hanya di Indonesia, di Liga Inggris-pun berlaku demikian. Apalagi di kalangan supporter klub liga Inggris yang berasal dari Indonesia. Ketika manajer Manchester United, Sir Alex Ferguson pensiun, nampak jelas fanatisme anti itu muncul di kalangan penggemar sepak bola Indonesia. Ferguson pensiun di 2013, tahun itu juga Manchester United kehilangan mahkota juara liga Inggris, diambil alih klub tetangganya, Manchester City.
Banyak kalangan bersuka cita kala Manchester City juara. Namun, apakah mereka adalah supporter Manchester City? Ternyata banyak juga yang bukan. Mereka hanya bersuka cita merayakan runtuhnya dominasi Manchester United.
Di Indonesia, fenomena tersebut nampak jelas, hingga muncul istilah ABM, Asal Bukan Manchester ( United).
Nasib seperti ini juga di alami oleh Arema Malang, sedari dulu. Klub profesional dan kenyang prestasi ini ternyata banyak yang tidak suka, anti. Mungkin karena dominasinya, minimal pernah mendominasi lapangan sepak bola nasional. Mungkin juga karena ke-khas-an supporternya. Ada yang bilang, kalo kalah supporternya ngamuk dan menyerbu turun lapangan. Namun, sejatinya bukan hanya Arema yang pernah demikian. Banyak juga klub yang supporternya pernah begitu. Tampak nyata saat PSSI kalah oleh Thailand di Piala AFF saat tanding di Jakarta, medio akhir Desember 2022. Saat itu juga kesebelasan Thailand diserbu supporter Indonesia rusuh. Jadi, kekecewaan supporter itu merata se-Indonesia, tidak hanya Arema. Namun, karena ada fanatisme anti Arema, maka Arema yang selalu diposisikan rusuh.
Kembali ke topik "Fanatisme Anti". Fanatisme Anti ini umumnya terjadi di ranah politik. Yakni saat peningkatan eskalasi kegiatan politik semacam Pemilu atau masa kampanye. Ketika salah satu partai / kontestan kalah, maka pendukungnya menjadi floating mass dan berpotensi menjadi kubu fanatisme anti.
Dalam kelompok fanatisme anti, dalam sepak bola, terdapat dominasi kalangan rendah pendidikan. Mereka begitu benci klub yang pernah mengalahkan klub idola. Saking bencinya, mereka membenci segala hal berkaitan dengan klub tersebut. Misalkan, kota dimana klub tersebut berasal. Sampai-sampai dia tidak mau menetap tinggal atau sekolah di kota tersebut. Saking bencinya. Kata kuncinya adalah "POKOK-nya", sama dengan kisah ABM di atas, " Pokok-nya Bukan Manchester".
Sebetulnya symptom-symptom seperti ini nyaris selalu ada, namun terbatas, tidak perlu dominan. Karena bila segala sesuatu diambil falsafah "POKOK-nya", ya jadinya fanatisme korslet. Wallahualam.