Wednesday, May 04, 2011

kenisah : lelah

LELAH

 

Seminggu ini terasa lelah. Bukan hendak menyalahkan rutinitas sehari – hari. Tiga hari lalu memang sempat sakit, tapi itu bukan sebab utama. Itu adalah akibat bahwa kelelahan sudah mendera hingga titik batas elastis dan plastis. Memang saya terbiasa sudah sepuluh tahun bepergian menempuh jalanan tol Jagorawi. Namun selama seminggu ini tidak. Dikarenakan kemacetan menggila di rute tersebut, maka sudah seminggu ini saya pergi ke kantor melalui Jalan Raya Bogor. Perubahan rutinitas ini memang menjadi tertuduh utama mengapa saya kelelahan.

 

Berkendara melalui tol memang lebih dimanja. Belokan tidak radikal. Tidak ada tikungan sama sekali. Semua berjalan lurus, dan rata. Aspal bolong ? Nil boleh dikata. Pada saat macet-pun, gangguan utama adalah terletak pada sengatan sinar matahari. Penyerobot kelas kambing hanya satu dua. Mungkin fore-rider yang berlaku seperti itu. Dalam keadaan macet di jalan tol, masalah utama adalah keresahan akan keterlambatan. Jadi sering melirik ke display jam digital di dasbor.

 

Alangkah terkejutnya ketika dua – tiga kali saya memulai untuk menempuh jalanan non-tol. Beberapa tahun lalu saya juga pernah mengalami hal serupa, dalam ladang yang berbeda. Kala itu jalan tol Jakarta – Cikampek sedang dalam perbaikan. Mangkanya, daripada terjebak macet di jalan tol yang nggak karuan juntrungannya, mending bertarung di Jalan Raya Bekasi. Amboi. Jalan Raya Bekasi ganas memang. Kontainer, truk, bis, angkot, sepeda motor, menjadi petarung kelas bebas dijalanan ini. Beradu pacu dengan gaya tidak peduli.

 

Apa yang saya rasakan ketika melalui Jalan Raya Bogor, tidaklah se-dahsyat Jalan Raya Bekasi. Menurut saya jalan Raya Bogor lebih 'kalem' ketimbang Bekasi. Pepohonan yang merindangi sisi kanan – kiri sepanjang Cibinong hingga Simpang Depok tentunya tidak kita jumpai di Jalan Raya Bekasi. Seingat saya jalur Setu-lah yang memiliki keteduhan semacam ini.

 

Memacu kendaraan pada kisaran 40 kilometer per-jam tentunya bukan kebiasaan. Namun seminggu ini tidaklah menjadi masalah pada akhirnya. Itu semua perbedaan yang bisa diatasi, walau ada kesulitan di sana – sini. Perjumpaan dengan persimpangan, padatnya pengendara bermotor yang menyelinap dan kadangkala tanpa aturan, antri di lampu setopan, tentunya beberapa fenomena yang tidak dijumpai ketika melaju di jalan tol. Itu semua pada akhirnya bisa dimaklumi.

 

Lantas apa yang membuat lelah ? Ada faktor jasmani, ada juga faktor rohani. Ini serius. Apa yang saya utarakan tadi kebanyakan adalah faktor jasmani. Beberapa faktor rohani, terbukti cukup menyita energi ketika kita tidak berkendara di jalan tol. Salah satunya adalah adanya kecelakaan. Di jalan tol kita bisa menjumpai kecelakaan, demikian juga di jalan biasa. Menyaksikan hal seperti ini, membuat nyali ciut dan menguras energi. Membuat kita lelah. Semakin parah kejadian kecelakaan yang kita saksikan, semakin membuat lelah. Walau memang jarang terjadi kecelakaan, namun menyaksikan 'hal – hal yang nyaris menjadi kecelakaan' tentunya juga melelahkan rohani. Dan hal ini lebih sering nampak oleh pengemudi yang tengah melaju di jalan raya antar kota. Bagaimana angkutan kota beradu sudut dengan pengendara motor, bagaimana kendaraan mendadak memutar. Bagaimana penyeberang jalan dengan setengah berputus asa nyelonong tanpa beban. Bagaimana seorang nenek tersandera di tengah jalan tanpa bisa berbuat apa - apa. Kejadian – kejadian ini kerap muncul di jalanan non-tol.

 

Ribuan sepeda motor yang berkerumun laksana lebah membuat pikiran kalut. Kamu tidak akan bisa dalam waktu yang sama melihat spion kanan – spion kiri – spion tengah dan tiga jendela. Namun dari semua sisi itulah sang lebah berdatangan dan terbang. Sementara mata berkeliaran membagi perhatian dengan rambu dan marka, dengan jendela dan spion, telinga juga tidak mungkin beristirahat. Klakson berteriak – teriak disana - sini. Saya terbawa serta secara naluri untuk ikutan sering menekan klakson. Apa lagi ? Mungkin masih ada bumbu sedikit untuk menambah keriuhan jalanan, seperti adanya angkutan kota yang mendadak berhenti tanpa peduli bahwa apa yang dilakukannya itu menghalangi orang lain, bahkan membahayakan, karena praktis kendaraan di belakangnya cenderung akan membuang kemudi ke kanan dan menjadi ancaman bagi kendaraan yang melaju di lajur kanan. Dan beberapa bumbu lagi yang ditulis bisa jadi memperpanjang paragraf.

 

Jalanan reguler menjanjikan hal lain dibanding jalan tol. Sekitar pasar tidak bisa kita jumpai sepanjang toll-road. Ketika melintas pasar, betapa gelandangan tergolek di pinggir trotoar bermandi asap knalpot, menyantap sampah. Ketika membuka jendela untuk bisa menyaksikan lebih jelas, dia seakan berkata, "Apa yang hendak kamu katakan ?". Juga ketika menyaksikan sepeda motor yang melaju menguntit bis kota, dengan bayi dipangkuan boncengan, sementara asap solar menggila menyelimutinya. Bayi itu tercekik racun. Contoh lain adalah ketika tertahan lampu merah di persimpangan Pasar Rebo misalkan, selain bertebaran pengamen, gelandangan, dan penjaja asongan, seringkali nampak kaki – kecil berusaha dengan susah payah naik turun bis kota. Kaki kecil ini kaki pengamen balita. Mereka kesulitan untuk menjejakkan kakinya di tangga bis. Ketika menyaksikan mereka tertatih turun dari tangga bis, membuat jantung ini seakan berhenti berdegup. Pemandangan ini membuat nanar. Kita bisa kelelahan menyaksikan hal – hal seperti ini. Apakah jasmani kita yang lelah ? Mungkin lebih tepatnya, jiwa kita yang lelah. [] haris fauzi – 4 Mei 2011




 
salam,
haris fauzi
kolomkenisah

Friday, April 29, 2011

kenisah : belajar dari para orang tua

BELAJAR DARI PARA ORANG TUA

Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari para sesepuh. Orang - orang  tua memiliki banyak pengalaman, sehingga memiliki koleksi data empiris yang cukup banyak. Dan bila para sesepuh ada yang berkemampuan lebih dalam hal penarikan kesimpulan, maka pelajaran yang bisa diambil sungguh bermanfaat. Karena merupakan untaian hikmah yang bisa diterapkan kapan-pun tak lekang waktu.

Salah satunya adalah pelajaran pengelolaan keuangan pribadi. Pengelolaan keuangan pribadi berbeda dengan pengelolaan keuangan bisnis, walau tentu unsur neraca positifnya sama. Apa yang didapat dari para sesepuh memang beberapa berbeda dengan teori keuangan modern, namun secara taktis sebenarnya teori para orang tua ini cukup bersaing dalam segala jaman. Salah satu yang berbeda adalah bahwa menurut para sesepuh, pemasukan itu bukan masalah utama. Pendapatan boleh besar atau kecil, yang penting pengelolaannya. Ini menunjukkan filosifi ke-bersahajaan. Berbeda dengan kondisi kini dimana para eksekutif modern senantiasa memprioritaskan dan berlomba – lomba dalam meraup pemasukan keuangan sebanyak – banyaknya.

Para orang tua sering bilang bahwa ekspenses untuk dana pribadi itu terdiri dari empat pos pengeluaran utama. Pos pertama adalah pengeluaran untuk kebutuhan pokok. Ini mencakup belanja kebutuhan harian, pembayaran sekolah, ongkos berangkat kerja, dan sebangsanya. Pos ini merupakan keharusan. Belanja beras, bayar sekolah, beli bensin, misalnya. Menurut para orang tua, pos ini sulit untuk dimampatkan kecuali memang ada penurunan kualitas. Misalkan semula makan nasi tiga kali sehari trus beralih menjadi makan singkong sehari sekali. Semula sekolah di sekolahan favorit beralih ke sekolahan Inpres. Atau semula ke kantor naik mobil trus menjadi jalan kaki. Misalnya gitu. Pos pertama ini tidak memiliki ruang yang cukup untuk negoisasi.

Yang patut digaris-bawahi adalah pengeluaran dana untuk keperluan ber-amal dimasukkan dalam pos pertama. Beramal merupakan pos wajib. Sungguh cukup berbeda dengan manajemen keuangan modern dimana pengeluaran beramal bisa jadi malah berada para prioritas bawah. Bisa jadi malah tidak dianggarkan dengan alasan kehabisan dana.

Pos pengeluaran kedua adalah pos untuk pembayaran hutang. Orang jaman sekarang boleh-lah menyepelekan hutang sehingga banyak kasus debt-collector. Juga banyak perusahaan yang 'ngemplang' hutang dari bank. Namun, nasihat dari para orang tua berbeda. Hutang masuk pada pos kedua yang juga non-negoitable. Hutang dibawa mati. Harus dibayar. Mangkanya teori ini berbeda dengan kebanyakan orang sekarang yang dengan mudahnya berhutang, dan meletakkan prioritas yang rendah untuk membayar. Kalo mungkin malah melupakan.

Untuk mendukung teori ini, maka para sesepuh selalu mengemukakan dalil yang 'saklek'. Yakni menganggap hutang sebagai 'makruh'. Sebaiknya dihindari. Dengan menghindari berhutang, seseorang tidak disulitkan untuk membayar. Dan bila tidak berhutang, maka tidak ada kewajiban membayar. Artinya, pos untuk pembayaran hutang menjadi hilang. Dengan hilangnya pos pembayaran hutang, semakin longgar keuangan pribadi kita.

Pos pengeluaran ketiga adalah pos pengeluaran untuk tabungan. Menabung itu wajib. Namun kebanyakan kita sekarang boro – boro menabung, untuk menutup keseharian saja udah babak belur dan berhutang sana –sini. Ini sudah menunjukkan mis-management semenjak awal. Salah urus semenjak awal. Para sesepuh selalu menganggarkan setidaknya seperempat penghasilan untuk ditabung.

Ada hal unik tentang tabungan. Orang tua menyukai tabungan yang bisa menabung dengan sendirinya. Misalnya logam emas atau deposito. Maksudnya tentu adalah sebentuk tabungan yang mampu mempertahankan nominal tabungan itu sendiri. Jadi teori lengkapnya begini, apabila tidak bisa menambah tabungan, setidaknya tabungan itu tidaklah berkurang nilainya. Seperti kita faham, mata uang kertas selalu melemah dari tahun ke tahun. Patokan para orang tua adalah nilai logam mulia. Artinya, sesepuh mengajarkan untuk menabung dalam bentuk emas. Bila mungkin, tabungan itu terus ditambah dari masa ke masa, namun bila tidak kesampaian, setidaknya nilai emas itu tidaklah berkurang.

Pos pengeluaran terakhir adalah pengeluaran untuk bersenang – senang. Untuk pos ini, nasihat beliau ada dua. Yakni, bersenang –senanglah dengan hobi yang produktif atau menghasilkan. Nasihat kedua adalah bersenang – senanglah dengan cara yang hemat. Tengoklah contoh hobi orang kuno. Banyak orang tua yang memiliki hobi puasa. Selain menyehatkan, hobi ini juga menghemat pengeluaran pembeli beras. Tidak sedikit pula orang tua yang bersenang – senang dengan menanam pohon buah – buahan, misalnya. Dan ketika panen, hobi ini malah menghasilkan. Apa hobi yang lain ? Dari tauladan nabi Muhammad, beliau punya hobi untuk menambal sendiri baju yang bolong. Juga selalu riang gembira ketika menyempatkan waktu untuk memperbaiki sendiri rumahnya—sepanjang mampu diperbaiki sendiri. Dengan menjadikannya hobi, setidaknya bisa menekan pengeluaran untuk membeli baju dan renovasi rumah. Gimana ? [] haris fauzi – 28 April 2011

Monday, April 18, 2011

kenisah : gerakan hewan

GERAKAN HEWAN

Ini tentunya bukan urusan adanya seekor hewan yang ikut serta dalam ritual sholat. Sebagai intermezzo, pernah ada kisah tentang seekor kucing dalam sholat berjamaah. Saking seringnya ikut sholat, lama - kelamaan keberadaan kucing tersebut menjadi blunder yang berakibat adanya bid'ah.
Ini juga bukan membicarakan serangga yang kadangkala mengganggu konsentrasi, semisal dengan berdenging di lubang telinga. Atau, bila di surau yang terbuka, pada musim laron sering kita jumpai laron yang jatuh dari lampu dan mendarat di kepala. Tapi sekali lagi bukan seperti itu yang saya maksud.

Ini kisah nyata yang cukup lama. Jadi ketika masih mengaji di masjid kampung --agak dulu banget, masa kecil-- saya ingat bagaimana guru ngaji -yang kala itu juga mengajarkan sholat-  mengatakan bahwa ketika sholat gerakannya tidak boleh seperti ayam. "Jangan seperti ayam mematuk jagung", begitulah katanya. Saya ingat betul. Maksudnya, memang dalam ruku' dan sujud gerakannya tidak boleh terburu - buru seperti ayam yang sedang mematuk jagung. Ya namanya masih biang ribut kala itu, ketika para bocah sholat sendiri - sendiri, biasanya memang ngebut dan melakukan gerakan sujud dan ruku' dengan cepat seperti seekor ayam yang sibuk mematuk jagung.

Sementara hewan bernama anjing, dalam sebuah pengajian saya pernah dengar bahwa ketika sedang bersujud, posisi lengan tidak boleh menempel total semuanya ke tanah. Siku harus diangkat, agar tidak seperti anjing penjaga yang sedang bersantai. Bagaimana posisi lengan anjing penjaga yang sedang bersantai ? Mungkin, contoh paling gampang adalah pose patung sphinx yang mana kedua kaki depannya yang menapak tanah di sepanjang lengan bawahnya. Ketika sedang bersujud, yang menapak tanah adalah telapak tangan, bukan hingga siku.

Apakah unta dalam gerakan sholat ? Saya pernah mendengar cerita bagaimana unta membanting dengkul-nya ketika hendak beristirahat. Berdebum. Gerakan ini menghasilkan debu yang menggumpal memenuhi udara seperti pasukan kuda melewati padang pasir. Dalam sholat, gerakan ini tidak diperbolehkan. Ya tentu saja tidak ada debu sebanyak itu di mushola atau masjid. Bukan masalah debunya, tapi gerakan spontannya yang tidak diperkenankan. Jadi, setelah i'tidal tidak boleh membanting dengkul untuk gerakan sujud. Musti dikerjakan dengan se-khusyu' mungkin. Gerakan khusyu' artinya adalah tidak membanting dengkul. Begono.

Sementara keledai termasuk memiliki gerakan yang tidak boleh ditiru dalam sholat. Yang dimaksud disini adalah ekornya. Seorang penceramah mengatakan bahwa gerakan ekor keledai yang harus dihindari adalah ketika selesai berucap salam dalam akhir sholat, seseorang membalik - balikkan telapan tangan kanan dan kirinya seperti ekor keledai. Ini kata penceramah dalam sebuah pengajian.

Bagi saya pribadi, gerakan ekor keledai lebih mirip dengan lambai-ayunan tangan. Beberapa orang kadang seusai i'tidal melepaskan turun tangannya lantas bergantung bebas dan mengayun kesana - kemari. Sekali lagi ini saya kaitkan dengan pembelajaran sholat yang saya terima. Pernah pula diajarkan oleh guru sholat, bahwa setelah i'tidal tangan harus langsung bersiaga lurus dan diam, tidak boleh mengayun - ayunkan tangan. Secara estetika, gerakan mengayunkan tangan ini memang kurang keren dipandang.

Tentunya banyak gerakan - gerakan lain yang tidak perlu juga. Semisal gerakan ayam berkokok, anjing berlari, unta minum, dan keledai nyengir juga harus dihindari. Maksudnya, dalam sholat juga gak boleh bercakap - cakap, nggak boleh sambil gerak apalagi berlarian kesana - kemari, nggak boleh sambil minum, dan nggak boleh bercanda. Selain itu --sekali lagi-- tentunya masih banyak lagi.[] haris fauzi - 18 april 2011