Sunday, June 10, 2012

kepada tuhan yang menendang

 
malam ini ada ritual ibadah...
tuhannya ada dua puluh dua biji....
semua ummatnya menghamba dan menyembah dgn takzim....

ke dua puluh dua tuhan itu berebut menendang bola,
dan ummatnya berjamaah melantunkan puji-pujian...
berkeliling mirip tawaf...

yang tidak sempat hadir tawaf,
ummatnya mengirimkan doa dgn khusyu sepenuh hati...
kepada tuhan -  tuhan yang menendang bola...

di kafe - kafe diciptakan tabligh akbar dengan layar lebar...
ummatnya berduyun - duyun datang memenuhi panggilan ibadah...
semua khusyu ritual - ritual demi tuhan - tuhan yang menendang bola...


[] haris fauzi - 10 juni 2012
ilustrasi : onebigphoto.com

Saturday, June 02, 2012

Perilaku yang Tak Terfahami



Mungkin ini salah satu sebabnya mengapa Bapak mengundurkan diri dari pentas politik lokal, di tahun 90-an. Pemahaman. Dia tidak faham logika pikir politik, dan akhirnya memilih pensiun. Pemahaman itu berkaitan dengan konsistensi pola pikir. Dalam sesi tatap muka, saya sering menekankan perihal konstrain dan konsistensi kepada para mahasiswa. Dalam dunia teknik hal ini penting. Misalnya, ketika kita membicarakan gaya dan energi, maka kita harus konsisten menggunakan hukum Newton, misalnya. Namun ketika partikel tersebut bergerak melebihi kecepatan cahaya, maka kita harus murtad dari hukum Newton, namun in-konsistensi ini dijaga oleh konstrain hukum Relativitas Einstein. Itu contoh permisalan di depan kelas.

Dunia ini beragam. Tidak demikian dengan perilaku politik negeri ini. Alasan pertama mungkin adalah hukum Newton adalah eksakta, sementara politik adalah ranah sosial. Ini beda kelas. Tapi bukan berarti hal ini tidak konsisten. Bagi saya ilmu pasti itu membuat lebih mudah dalam bersosialisasi. Ilmu sosial itu membuat insting untuk lebih pasti. Alasan kedua adalah, perilaku ini tidak terfahami oleh saya. Baiklah, bagaimana kita bisa nikmati seperti apa proses Bank Century yang demikian berlarut - larut dan berdarah - darah. Terkatung - katung hingga kini tanpa tau siapa yang bertanggung jawab. Partai yang disorot menunggangi kasus ini tidak tergeser, sementara Bank Century telah beralih nama dan sekarang memiliki reputasi membaik dan bisa dijual dengan harga pantas. Sementara nasabah yang dirugikan hanya meratapi nasibnya. Ini kasus perbankan di ranah politik.

Demikian juga dengan urusan kubangan di Jawa Timur yang makin menggila. Pers yang seharusnya memiliki independensi, ternyata malah saling serang demi keuntungan rekan mereka. Jaman kuliah, sering rekan pers dan mahasiswa melakukan demonstrasi ihwal kemerdekaan pers, menentang penjajahan tirani. Namun itu dulu. Pers kini tidak terjajah lagi, namun tergadaikan. Tidak terjajah namun tetaplah belum merdeka. Berita simpang siur ihwal lumpur Lapindo menggoyahkan iman. Dalam urusan politik, pers lebih bermain dengan asik menikmati titipan pengusaha politik. Ini dampak dari kapitalistik jurnalisme. Namun tidak semua.

Ada lagi yang saya tidak faham. Deretan masalah kasus Hambalang semenjak urusan korupsi wisma atlet, dan lantas tertangkapnya si pengicau, hingga amblesnya proyek tersebut. Antara korupsi dan tidak korupsi sama sekali tidak ada kejelasan. Padahal duit itu adalah hitungan matematis sederhana. Seorang bocah juga faham setelah gajian maka rekening bapaknya akan bertambah saldonya. Masalahnya adalah tidak adanya kejujuran pengakuan asal - muasal pertambahan rekening tersebut. Apakah dari gajian, apakah dari iblis. Ini yang tidak difahami oleh bocah tadi. Dan oleh saya juga.

Korupsi memang lebih menekankan kata kunci 'tidak tahu' dan 'lupa'. Masihkah ingat tentang proyek ruang rapat di gedung DPR yang demikian mewah ? Bahkan pejabat yang berwenang-pun mengaku tidak tahu anggaran proyek tersebut. Alangkah eloknya, seorang pejabat tidak tau gelontoran dana sebesar itu.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdkyUMZU28Bhx9zxE8oHFcQ_6-pYxeUBjEu6027jv3Wf-yFDJddH5Y0vHALIG646TqvhJpOaHoWTTXYJaPEU5gX2dQs8jm1eQ338HqXA8mICmia8mKKxMDGsGX2dKEmmXBCDWjkA/s264/url.jpgBombastis berita konser Lady Gaga juga merupakan hal tidak penting yang entah kenapa dipublikasi demikian heboh, hingga akhirnya narapidana narkoba asal Australia mendapatkan grasi dari presiden. Presiden lantas dielu-elukan oleh Australia, dan puas. Beberapa media menyampaikan pendapat tokoh bahwa grasi tersebut bukanlah barter hukum. Namun, koran lain menyebutkan paska pemberian grasi kepada Corby, maka sejumlah tawanan di Australia dibebaskan. Dan, di siaran televisi juga ada tokoh politik yang menyebut bahwa grasi itu memiliki imbalan pembebasan. Antara barter dan pertukaran imbalan, apakah ini berbeda ?  Sayangnya saya tidak faham.

Masih banyak lagi. Kebijakan harga BBM subsidi, urusan dana pendidikan yang berhasil menjadikan sekolah pada roboh, urusan sepak bola yang makin ruwet, semua merupakan deretan yang sulit dipahami. Mungkin ini masalah politik. Tidak terfahami. Saya lebih faham bahwa Bapak akhirnya memilih pensiun daripada dipusingkan dengan masalah seperti ini. Ini mungkin masalah yang bisa diolah sesuai kekuasaan, ataukah memang tidak memiliki konsistensi ? - haris fauzi - 2 juni 2012

ilustrai : 4bp.blogspot.com

Friday, May 18, 2012

Cerita Tentang Sebuah Aplikasi

Entah ini sebuah kesalahan atawa bukan.  Jadi begini. Saya mendapat peluang dalam bidang perangkat lunak. Untuk ini harus  dicoba mempelajari dari dua sisi, yakni sisi manufaktur dan sisi market. Menurut analisa beberapa rekan yang diminta-pertimbangan, calon aplikasi tersebut bukanlah barang sulit. Itu bukan aplikasi yang terlalu sulit.  Apalagi saya sudah menemukan metodologi fungsinya yang  sedemikian rupa sehingga lebih mudah pembuatannya. Itu dari sisi manufaktur aplikasi. Yang kedua dari sisi pasar. Setelah kasak – kusuk mencari informasi, ternyata pasarnya cukup luas. Peluang meraup keuntungan terbuka cukup lebar.

Walhasil dimulailah pekerjaan ini. Start dari sini jelas butuh programmer, dan tentunya harus disiapkan biaya yang cukup untuk membayar seorang programmer agar mau menyusun program sesuai dengan aplikasi yang dimaksudkan. Dan singkat ceritera, dalam hitungan minggu usai sudah pembuatan program tersebut. Tidak ada kesepakatan apapun antara saya dan programmer selain masalah harga. Saya membayar honor, dan dia membuat pesanan. Suatu bayaran atau harga yang cukup tinggi sesuai permintaan si programmer.  Disebut sebagai ‘harga yang tinggi’ karena dua hal, pertama tidak sedikit-pun saya menawar harga tersebut. Saya langsung meng-iya-kan. Hal kedua adalah harga tersebut hanya untuk menyusun program berbasis MySQL. Sebuah harga yang seharusnya dibayarkan untuk menyusun program yang lebih kompleks, mungkin menggunakan Java. Tapi itu tidak mengapa. Toh bila aplikasi tersebut giat dipasarkan, tentunya keuntungan akan muncul berlipat pula. Singkat ceritera, selesailah sudah penyusunan program aplikasi tersebut dan di-tanam di server yang telah dikehendaki.

Masalah baru timbul ketika si programmer mengetahui bahwa aplikasi tersebut ternyata memiliki pasar yang sangat potensial. Dengan melihat adanya peluang, maka dengan gerak cepat dia segera memasuki basis server dimana aplikasi tersebut ditanam dan merubah beberapa kunci program agar aplikasi tersebut tidak bisa diduplikasi. Saya tidak menyadari gerakan ini, dan baru mengetahui belakangan ketika tidak bisa dilakukan instalasi kepada calon pembeli. Dan problem makin nyata ketika si programmer nyata – nyata meminta tambahan duit apabila aplikasi tersebut akan dijual kepada setiap calon pembeli.

Kesalahan yang nampak adalah saya tidak menekankan dalam kontrak honor di awal bahwa programmer  tidak ber-hak atas kunci atau bagaimanapun aplikasi itu diperlakukan. Memang programmer bisa memiliki paradigma lain bahwa dia-lah membuat program sehingga berhak memegang kunci aplikasi tersebut. Dalam versi internal, hal ini bisa menjadi sebuah perdebatan yang mungkin bisa dijelaskan melalui perumpamaan sederhana. Yakni  seperti membuat rumah. Saya memiliki desain rumah, saya memiliki biaya untuk membangun rumah tersebut, saya juga memiliki calon pembeli yang berminat kepada rumah tersebut. Untuk itu karena saya tidak terbiasa menempel batu bata terhadap semen dan saya juga tidak pernah menyerut kayu, maka  lantas membayar tukang batu untuk menyusun dinding, lantai, kayu dan atap.

Namun masalahnya adalah ketika rumah tersebut telah selesai dibangun dan hendak saya jual dengan harga tinggi, serta – merta mengetahui harga tersebut mendadak tukang tersebut lantas mengunci semua pintu – jendela dan membawa kabur kuncinya. Alasan utamanya adalah, bila rumah itu dijual dengan harga tinggi, maka dia berhak meminta tambahan bayaran. [] haris fauzi – 17 mei 2012