Thursday, December 12, 2013

terka - menerka

Hari masih pagi menurut Jakarta. Tapi juga telah cukup hiruk pikuk walau belum memekakkan telinga. Pukul 05.45 di kawasan selepas Cawang, antara Kebonnanas - Cempaka, mungkin dekat Pedati. Nampak antrian mobil mulai stagnan. Antrian ini tidak sewajarnya, karena seperti saya jelaskan tadi, hari masih pagi menurut Jakarta. Ternyata ada mobil Avanza (atau Xenia ?) silver menyalakan lampu hazard. Di belakangnya ada motor tersandar. Mungkin terjadi senggolan antara mobil motor tersebut. Bapak tua pengendara mobil terlihat takzim berdiri di depan mobilnya, sementara pemuda berjaket tentara itu rupanya sedang marah menunjuk - nunjuk apa saja. Entah bagaimana kejadiannya saya tidak faham. Nampak juga wanita berkaos garis membawa helm turut berdiri disitu, rupanya dia pembonceng lelaki berjaket doreng tadi. mungkin memberi dukungan kepada pemuda berjaket doreng.

Saya berhasil melampaui mereka bertiga dan terbebas dari kemacetan yang mereka timbulkan. Duduk jalanannya seperti ini, jalur paling kiri jalur lambat tidak terganggu masalah ini. Ini insiden terjadi di jalur cepat sisi kiri. Saya melampaui dengan sedikit memakan jalur kanan. Ini sejatinya tidak boleh, karena jalur cepat sisi kanan adalah jalur Transjakarta, atau yang biasa dikenal dengan jalur Busway.

Dalam hal seperti ini, warga Indonesia adalah warga yang peduli, walau tidak ikut memberi solusi. Saya juga seperti itu. Yang ada di pikiran saya adalah dua hal. Pertama adalah urutan kejadian insiden itu. Dan yang kedua tentunya teka - teki siapakah gerangan yang bersalah, apakah pemuda berjaket doreng, ataukah lelaki tua sopir mobil ? Biasanya, sepeda motor bila melakukan kesalahan akan segera kabur kecuali pihaknya dirugikan. Andai pengemudi motor tidak dirugikan, maka biasanya dia kabur begitu saja. Ini pengalaman saya. Beberapa kali bodi mobil terbaret, beberapa kali spion tersenggol, beberapa kali bemper diseruduk, toh mereka sama saja, pengemudi motor itu kabur semua.

Pikiran saya tidak bisa menerka bagaimana kejadiannya. Tetapi untuk kejadian ini, pemuda itu tidak kabur, bahkan malah marah - marah. Mungkin bapak tua itu lalai dalam berkendara. Tetapi jangan lupa, ini adalah jalur cepat, dimana motor seharusnya tidak lewat. Dari klausul ini saja, apapun yang terjadi harusnya pengendara motor itu sudah salah duduk perkara. Mangkanya, saya sulit mereka kejadiannya.

Selagi berpikir seperti itu, serta merta disaliplah saya dari sisi kanan dengan setengah ugal - ugalan oleh sesosok motor. Dan ternyata motor tersebut. Pengendaranya berjaket loreng, pemboncengnya wanita berjaket kaos garis. Dia menyalip melalui jalur Busway. Seketika itu juga vonis saya turun. Sepertinya, yang bermasalah adalah pengendara motor tersebut. Wallahu'alam. [] haris fauzi - 12 desember 2013

Wednesday, December 11, 2013

dipan

Ini kisah tentang dipan. Dipan adalah benda yang digunakan untuk menyangga kasur. Tentunya buat tidur. Ada dipan yang bila tidak dipasangi kasur akan berfungsi sebagai bale - bale. Bale - bale itu amben. Bila amben atau dipan ini dipasangi kasur di atasnya, maka dia menjadi ranjang. Kurang - lebih seperti itu.

Awal tahun Ibu berencana untuk pindah rumah. Rumah dinas yang selama nyaris 37 tahun ditempati akan dikembalikan kepada detasemen. Ibu sendiri akan membeli rumah yang jauh lebih kecil. Dengan rumah yang kecil, tentunya banyak perabotan yang tidak muat. Maklum saja, rumah dinas tersebut telah dipakai sekian lama, tentunya perabotannya juga berkembang cukup banyak, bertambah. Akhirnya Ibu memutuskan untuk mendistribusikan perabotan - perabotan yang dirasa tidak akan digunakan lagi. Kebanyakan perabotan tersebut berukuran big-size.

Beberapa perabot itu diantaranya adalah bifet besar. Bifet adalah lemari buku atau perabotan. Kami lebih suka menggunakan istilah bifet karena konotasi dari lemari adalah untuk menyimpan baju atau makanan. Bifet besar ini akhirnya melayang ke kota Sidoarjo, mengisi rumah baru adik perempuan. Benda big-size lainnya adalah bale - bale. Kami menyebutnya dalam bahasa jawa dengan 'amben'. Terbuat dari kayu jati berukuran dua kali satu setengah meter. Kira - kira seperti itu. Amben ini akhirnya melayang ke rumah adik bungsu dan dalam beberapa minggu sudah berubah wujud menjadi sofa jati unik. Rupanya kayunya di-'prethel'-i dan dibangun ulang menjadi sofa. Peti jati, berukuran sebesar meja tamu, akhirnya terkirim ke rumah kakak sulung di Bekasi.

Tentang almari baju Ayah, meja makan keluarga yang pertama, dan beberapa benda lagi saya tidak ingat dimana gerangan mereka sekarang.  Beberapa perabotan dapur yang sudah tidak terpakai, terlalu besar, rusak sana - sini... dan kami tidak berminat, oleh Ibu diberikan kepada beberapa rekannya. Saya sendiri kebagian dua dipan berikut kasurnya. Kasurnya sih kasur baru, tapi dua dipan ini adalah dipan bersejarah.

Dipan pertama adalah dipan besi berwarna hijau pastel muda. Dibuat tahun 1973 atau 1975, saya lupa, pokoknya kisaran itu. Ini merupakan dipan besi yang di-desain sendiri oleh almarhum Ayah kemudian dipesan kepada tukang las. Beberapa tahun kemudian ayah dan Ibu berganti dipan baru terbuat dari kayu jati berpelitur cerah, sementara dipan besi ini digunakan oleh kakak dan saya bebarengan selagi kecil. Setelah anak-anaknya beranjak besar, Ayah berganti dipan lagi. Dipan baru tersebut terbuat dari kayu dan berwarna gelap. Sementara  dipan besi itu digunakan oleh kakak sulung saya dan bertengger entah berapa tahun di kamar kesayangannya. Dipan kedua, yang terbuat dari kayu berwarna coklat muda,-- saya gunakan hingga saya lulus kuliah dan beranjak merantau ke Jakarta.

Ketika Ibu pindah rumah baru pertengahan tahun, dipan gelap itu dibawa serta masuk rumah baru yang kecil. Kontan kamar yang ketempatan dipan lebar itu langsung berkesan ciut dan hampir tidak menyisakan tempat. Sementara dipan besi dan dipak kayu coklat muda akhirnya mendarat di rumah saya di Bogor. [] haris fauzi - 11 12 13

Wednesday, December 04, 2013

entahlah

Tiga hari lalu saya bermimpi. Dalam mimpi itu, terdapat sebuah menara masjid nan tinggi, ujungnya berkubah seperti buah waluh. Menaranya berwarna abu - abu seperti warna logam. Masjid itu berada di sisi kanan jalanan yang saya hendak lewati, mengantri merayap karena macetnya jalan tersebut. Tak lama kemudian menara masjid itu rubuh disertai bunyi dan debu. Hiruk - pikuk manusia berlalu lalang membuat terbangun. Mimpi itu raib. Apakah itu pertanda sesuatu ? Entahlah.

------

Pagi ini seharusnya jalanan tidak terlalu macet. Hingga melewati jalanan yang -menurut saya- terlalu pas untuk berpapasan sesama mobil, bahkan hanya pas untuk mobil seukuran sedan. Harus memelankan laju, dan tidaklah mungkin berpapasan sembari menyalip sepeda motor.
Ternyat di depan macet. Rupanya ada pasar di tepi kanan jalan. Tapi bukan itu. Ada mobil fortuner hitam berhenti di sisi kiri jalan, kendaraan mahal dengan nomer cantik di plat-nya. Badan mobil yang besar itu parkir tanpa bisa menepi, tentunya memakan jalan. Fortuner itu menyalakan lampu hazard. Jendela tengah kanan terbuka, nampak seorang Ibu dengan dandanan menor ala istri pejabat. Ibu itu melalui jendela memberikan instruksi setengah berteriak kepada seseorang di seberang. Rupanya dia sedang menyuruh sopirnya untuk belanja di lapak - lapak sayuran seberang.

Mengapa ibu itu menyuruh sopirnya belanja sayuran ? Bukannya lebih baik belanja sendiri ? Ada baiknya ibu itu di-drop saja, sementara sopirnya bisa leluasa mencari lahan parkir yang tidak membuat kemacetan seperti ini. Kenapa dia musti teriak - teriak menyurur sopirnya belanja sayur ? Entahlah. [] haris fauzi - 4 desember 2013.