Monday, July 31, 2006

KENISAH Juli 2006

CARI SEKOLAH (I)

Baru kali ini, berhubung anak sulung, maka ya baru kali ini saya sibuk mencarikan sekolahan buat anak sulung saya, Si Salma. Jauh - jauh hari saya sudah survey ke beberapa sekolah, sampai akhirnya menetapkan dua sekolahan pilihan, yakni SD A dan SD B yang menjadi pilihan pertama dan pilihan kedua.

Karena keduanya merupakan SD Negeri, maka pengumuman untuk dimulainya penerimaan siswa baru akan dirilis oleh pemerintah. Jadi walau dua bulan sebelumnya kita sering sambang dan tanya sana - sini pada dewan guru tentu nggak ada yang tau persisnya kapan. Sampai pada akhirnya, pada Sabtu tanggal 24 Juni saya berkunjung ke dua sekolah tersebut dan mendapatkan informasi tertulis, bahwa pendaftaran akan dibuka pada tanggal 3 Juli 2006. Bareng.

Pada Sabtu tanggal 1 Juli, saya sempatkan sekali lagi untuk berkunjung kedua SD itu guna melihat pengumuman tersebut, dan memang ada informasi tambahan. Untuk SD A pendaftaran akan dimulai pukul 7 pagi, dengan diadakan tes langsung kepada calon murid. Jadi Si Salma harus ikutan karena akan langsung ikutan tes seleksi. Untuk SD B saya dapat tambahan informasi tidak tertulis, bahwa sebelum mendapatkan formulir yang akan di bagi pukul 7 pagi, harus mengambil nomer urut dahulu, soalnya formulir bakal diedarkan terbatas, sekitar 100 buah saja. Dan nomer urut itu bisa diambil beberapa jam sebelumnya. " Subuh biasanya sudah buka, Pak..!", gitu kata panitia.

Minggu 2 Juli, pagi hari saya atur strategi sebagai berikut : Istri saya dan Salma akan datang antri ke SD A, sementara saya akan mengantri ke SD B. Untuk memperlancar pekerjaan ini, maka pada Minggu malam harinya --bakda isya-- saya akan ungsikan Istri, Salma, Nourma, dan seorang pembantu ke rumah saudara yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan SD A. Sehingga istri saya dan Salma bisa berjalan kaki ke SD A, dan ada seorang pembantu untuk momong Si Nourma, adiknya Salma.
Sementara saya sendiri pulang ke rumah. Menjelang tidur malam yang tidak nyenyak, saya hanya ditemani CD Transatlantic yang benar - benar progressive rock itu. Juga saya harus mengambil cuti agar leluasa pagi hari subuh untuk antri ke SD B.

Senin, D-Day --3 Juli 2006. Pukul 03.30 saya bangun. Dan setelah mandi dan sarapan, pukul 04.00 langsung cabut dengan target utama SD B. Tetapi karena saya belum sholat Subuh, maka saya mampir dulu ke mesjid dekat SD B. Dan baru hampir pukul 5 --kurang dikit...--- saya bisa tiba di SD B. Saya langsung antri untuk mendapatkan nomer formulir. 'Bingo..!', saya mendapatkan nomer tersebut. Nomer urutnya adalah nomer 26. Konon SD B hanya membagikan 100 formulir, dimana nomer pertama telah diambil oleh calon murid pada pukul 03.30 pagi dan semua nomer itu habis tandas sebelum pukul 5.30. Bagi yang sudah pegang nomer urut, maka formulir aslinya bisa diambil pada sekitar pukul 8.00.

Karena terbebas dari tugas, saya langsung cabut ke SD A. Pukul 05.20 saya tiba di sana, dan sudah banyak orang berkerumun di SD favorit tersebut. Istri saya belum kelihatan, rupanya sedang bersiap - siap. Oke. Saya ambil barisan dahulu. Beberapa orang tua murid berinisiatif membuat list urutan. Saya masuk urutan 14.
Pada pukul 6.30 Istri dan Salma tiba. Dan ada pengumuman dari sekolah bahwa panitia menyediakan 12 loket dengan tiap loket ada 30 formulir. Maka para orang tua murid membuat agenda lain, list tadi disortir ulang menjadi 30 orang tiap lembar. Nomer 31 hingga 60 ada dilembar kedua dan ditempelkan ditiap loket formulir. Demikian seterusnya. Di tiap loket sudah berkumpul 30 orang menjaga loketnya walau belum buka.

Entah ini hanyalah kekhawatiran saya atau bukan, kalau saya taksir, bisa jadi peminatnya melebihi 30x12 orang. Karena yang datangnya belakangan, namanya tidak ada di list loket manapun. Dan terjadi sedikit kericuhan karena hendak intervensi ke tiap loket, dimana semuanya sudah dijaga oleh orang tua yang namanya ada di list. Wah. Ribut jadinya, padahal baru pukul 6.45-an. Paling tidak ini ada di loket dekat saya menganti, loket A hingga E. Saya nggak tau persis bagaimana kondisi loket lain, bisa jadi sudah penuh juga. Full booked.
Semakin mendekati pukul 7,. semakin banyak yang berdatangan, dan praktis semakin banyak yang namanya tidak tercantum di list loket. Wong sudah full booked. Bagi namanya yang tidak tercantum, mereka bergerombol membentuk partai tersendiri. Banyak juga. Mungkin seimbang kekuatan antara mereka. Yang tidak terdaftar di list saya taksir sekitar 200-an orang. Jadi total jendral ada sekitar 500-an calon siswa, tambah orang tuanya jadi sekitar 1000-an orang disitu. "Wah, potensial rusuh, nih', ujar saya dalam hati. Istri dan Salma saya sisihkan ke pinggir. Dan saya bersiap. 'Kalau tangan saya di atas', tolong kamu ketempat saya', pesan saya kepada Istri, dan dia mengiyakan saja. Mungkin tau keadaan cukup kacau.

Akhirnya begitu pukul 7, muncullah ke 12 panitia loket dari ruang guru, lengkap dengan dasi dan masing - masing mengempit 30 kupon formulir. Sebetulnya hal ini sudah bisa terprediksi, karena loket sudah full-booked, dan disitu ada sekitar 1000-an orang, maka yang tidak terdaftar langsung merangsek ke panitia. Melihat kondisi tersebut, ke-30-orang di tiap loket-pun ikutan merangsek, karena takut gak kebagian, dan memang sangat mungkin tidak kebagian. Suasana jadi sedikit chaos. Seorang panitia pasti dikerumuni lebih dari 30 orang. Mungkin sekitar 50 orang, untuk merebut kupon formulir yang ada dalam kempitannya tersebut.[] haris fauzi - 5 Juli 2006


CARI SEKOLAH (II)

Kurang dari empat menit, saya yang semula masuk list loket A, akhirnya malah dapat kupon formulir di loket C. Suasananya acak adul, kupon formulir yang saya terima dalam keadaan lecek - lecek karena berebutan.
Begitu telah pegang kupon formulir, saya tidak memperhatikan lingkungan lagi. Apakah semua dapat kupon ? ataukah ada yang tidak kebagian ?...Ah. Nggak tau saya persisnya. Saya bersi-cepat menukarkan kupon formulir untuk mendapatkan formulir yang sebenarnya.
Begitu acak adulnya sampai - sampai yang sudah mendapat kupon formulir-pun, ikutan kacau balau pada saat pengambilan formulir. Pada berebutan juga, terbawa-bawa euphoria sebelumnya. Padahal ini tidak perlu, bagi yang sudah pegang lembar kupon formulir, pasti mendapatkan formulir, dan otomatis bisa mengurus untuk ikutan tes. Namun semuanya udah terlanjur berebutan. Bahkan pada saat pengisian formulir-pun agak berantakan.

Setelah melakukan register dan semua isian formulir diisi, maka pukul 8 kurang sedikit, Salma masuk ruang tes. Dia akan di jaga ibunya dari luar ruang yang juga langsung mengurus dokumen penunjang. Kebetulan semua dokumen telah kami gandakan, sehingga dengan mudah kami menyelesaikan administrasi ini. Dan pula, suasananya sudah damai sejahtera, tidak berantakan lagi.
Jadi, acara tes di SD A ini simultan, mulai dari pembagian kupon, pembagian formulir, pengisian formulir, hingga tes. Dan pengumuman pada pagi esoknya langsung.

Pada tahap menjelang tes sudah tidak ada kekacauan lagi. Semua sudah tertib jali. Dan karena sudah waktunya, maka saya harus pergi lagi ke SD B untuk menukarkan nomer guna mendapatkan formulir yang sebenarnya. Jadi, untuk sementara urusan SD A bisalah ditanggulangi Istri saya, dan saya melaju lagi ke SD B. Formulir tersebut harus diisi dan dikembalikan paling lama satu hari setelah pengambilan. Sambil jalan, saya juga mengungsikan balik ke rumah pembantu dan Nourma yang merengek - rengek minta pulang. Mungkin Nourma tidak kerasan di rumah orang, maklum masih 2 tahun usianya. Sampai disini, formulir SD B belum saya isi, masih teronggok di jok mobil dengan anteng. Yang penting sudah 'on-hand'.

Dalam perjalanan mondar - mandir ini, mobil saya kena masalah. Setelah minggu sebelumnya komponen kopling saya bocor dan usai diperbaiki, namun karena saya malas membeli bensin, rupanya kali ini karburatornya tersumbat kotoran. Jadi bensin yang sudah sedikit akan terhisap ke mesin berikut kotoran dalam dasar tanki. Waduh. Mobil jadi sering tersendat - sendat bahkan mati. Apalagi kalo dipasang AC, mendadak jadi abot banget ini mobil. Saya masa bodo. AC saya matikan dan saya berkendaraan dengan berkeringat. Katanya sih berkeringat itu sehat.

Habis memulangkan anak kecil, saya balik lagi ke SD A untuk memantau perkembangan tes anak saya. Sekitar pukul 9 saya tiba di SD A, dan anak saya sudah selesai tes. Jadi, acara di SD A hari itu sudah selesai, tinggal ambil pengumuman besoknya.
Segera konsentrasi saya baik lagi ke isian formulir dari SD B, dan sekitar sepuluh menit kemudian saya telah isi formulir dari SD B dan langsung saya boyong Istri dan Salma untuk menyerahkan formulir ke SD B. Sekitar pukul 10 kita sudah selesai urusan pengembalian formulir ini. Menjelang pukul 11 siang, segalanya beres. Acara terakhir adalah angkut - angkut barang hasil menginap semalem buat dipulangkan ke rumah.

Pengumuman penerimaannya berurutan. SD A akan diumumkan pada tanggal 4 Juli, sementara SD B diumumkan pada tanggal 5 Juli.
Dan sudah jelas, pada tanggal 4 Juli saya hadir lagi di SD A untuk mengambil amplop hasil pengumaman. Bareng Istri dan Salma, kami mengikuti kegiatan pengumuman yang mendebarkan ini. Setelah acara pengumuman, segalanya telah melewati masa kritis. Saya dengan santai bisa membawa mobil ke bengkel untuk mencuci karburator yang 'sliliten' itu. Saya juga bisa tidur lelap malamnya --walau sebelum tidur saya juga nyetel CD album Transatlantic yang masih setia nancep di player, dan pada tanggal 5 saya bisa ngantor lagi. Sementara pengumunan di SD B dilakoni sendirian oleh Istri saya.

Kalau boleh jujur, pengalaman ini merupakan pengalaman paling exciting dalam hidup saya selama tahun 2006 ini, baik pengalaman di organisasi maupun pengalaman di kantor. Pokoknya, segala pengalaman hidup di tahun 2006 sampai detik ini, ya acara inilah yang paling seru dan menakjubkan bagi pribadi saya. Bukan yang lain. [] haris fauzi - 6 Juli 2006


SEPATU ADIK BERISIK

Siang itu,--pada saat melintasi deretan keranjang sandal di pertokoan, iseng - iseng saya cobakan satu pasang sepatu sandal ke kaki anak kedua saya. Ternyata pas. Dan, Si Nourma ternyata tidak mau melepasnya barang sejenak. Bujuk-bujuk sedikit, akhirnya Nourma mau juga melepaskan sebentar guna keperluan pembayaran di kasir. Sepatu itu harganya sepuluh ribu rupiah. Tetapi ternyata berisiknya minta ampun. Sepatu itu memiliki peluit, jadi setiap diinjak ketika melangkah, pasti berbunyi 'ciet...!'.

Sesampai rumah, sepatu itu tidak mau dilepas sama sekali. Bahkan ketika di dalam rumah-pun dia terus mengenakannya. Nourma terus saja berjalan hilir mudik kesana kemari, tidak perduli lelah atau mengantuk. Obsesi dia hanyalah membunyikan sepatunya sesering mungkin. Bahkan digendong-pun dia tidak bersedia. Ketika mendekati waktu ashar, rupanya kelelahan menimpa Nourma sehingga tersandung dan jatuh. Sempat menangis sejenak, tetapi dia tidak mau jua melepas sepatunya. Cukup beberapa detik dia menangis, maka dia-pun sudah hilir mudik lagi membunyikan sepatunya. Walhasil dia tidak tidur siang karena terlalu sibuk membunyikan sepatunya. Siang itu sepatunya berisik banget berbunyi sepanjang waktu.

Sore hari menjelang maghrib, kelakuannya makin menjadi - jadi. Dia tidak lagi melangkah dengan normal, tetapi meloncat - loncat kecil sehingga bunyinya dobel kanan - kiri. Wah. Berisik banget. Setelah berjalan - jalan sore mengelilingi taman sampai waktu maghrib tiba, kami sekeluarga masuk rumah. Adik juga. Namun karena sepatunya kotor, dia kukuh tidak hendak melepaskannya, malah minta dicuci dulu. Terpaksalah ibunya mencuci sepatu tersebut dahulu, soalnya jarak jangkau jelajahnya hingga ke ruang sholat segala.

Pas hendak mau tidur, Nourma dan sepatunya masih sempat membuat orkestra dengan lunjak - lunjak di ranjang sebelum akhirnya dia terlelap dalam keadaan bersepatu. Dan pada saat itulah sepatu barunya yang super berisik itu bisa kami lepaskan. Pagi hari ketika saya beranjak ke kantor, Nourma belum bangun dari pulasnya. Jadi saya belum sempat faham, apakah dia langsung pengen mengenakan sepatu ributnya itu, atau ... sudah melupakannya.[] haris fauzi - 5 Juli 2006



SALAM ALA KHOMEINI


Kebetulan kemarin sempat membeli buku tulisan Khomeini, judulnya 'Shalat ahli Makrifat'. Katanya sih asli tulisan Imam besar Khomeini, dan dihadiahkan buat anaknya, Ahmad. Isinya tentang seluk beluk tata-cara sholat, --walau baru saya baca sekitar lima puluh halaman.
Selain tulisan Khomeini, buku tersebut juga memuat pengantar dan bab pendahuluan. Dalam kata pengantar yang ditulis oleh al-Amuli, dirangkum sedikit perihal isi buku tersebut. Dan salah satu yang menarik perhatian saya adalah pada bagian 'salam'. Ya seperti kita ketahui, sholatnya orang islam memiliki bagian akhir, yakni 'salam'. Yaitu setelah usai membaca tahiyyat-akhir lantas mengucap salam dua kali sambil menengok kanan - kiri.

Mengapa menarik perhatian saya ? Nah, inilah salah satu kegemaran saya. Seperti halnya buku 'Haji' tulisan tokoh revolusi Iran lainnya, Ali Syariati, yang banyak memberikan pencerahan (sampai - sampai pak Amien Rais pernah berujar;"...setelah membaca buku 'Haji' tulisan Ali Syariati, saya merasa belum melakukan ibadah haji sama sekali..."), demikian juga dengan buku ini, paling tidak sampai pengalaman saya membaca hingga halaman lima puluhan. Sampai sini-pun, saya seakan belum melakukan sholat sekalipun dalam hidup ini. Bagi saya sholat adalah bentuk pengabdian manusia kepada Tuhan dan sebagai pembentuk karakter manusia untuk berinteraksi kepada lingkungan. Jadi sholat menurut saya adalah manifestasi ibadah kepada Tuhan, dan ibadah kepada manusia. Namun menurut buku ini ternyata tidak sekedar itu.

Dalam buku ini disebutkan bahwa sholat itu adalah juga merupakan perjalanan (shafar) dari alam nyata menuju ke hadapan Tuhan, tentunya ini adalah alam entah dimensi keberapa. Yang jelas bukan alam lahiriah. Bukan alam nyata. Seluruh kemampuan manusia yang sedang sholat hendaknya di-daya upaya -kan untuk melaksanakan perjalanan 'dinas' ini. Perjalanan menyembah Sang Pencipta. Perjalanan ini sendiri terbagi beberapa etape, yang mana saya belum jelas benar karena baru sampai sedikit membacanya. Bagaimana susahnya, saya sendiri sudah yakin terlalu sulit menjalani hal ini bagi orang awam seperti saya. Sumprit, wangel-e Rek ! Wong sholat itu sendiri kan cuma lima menit, kok seperti melakukan perjalanan jauh...ke alam lain lagi ! Bekalnya apa ? Rute-nya kemana ? Apa yang terjadi selama perjalanan ? Tujuannya kemana ? Berapa jauh ? Apa yang dilakukan setelah sampai tujuan ? bagaimana bila hendak pulang ? Beberapa pertanyaan bergantungan di benak ini. Pokonya seru, dah...!
Mungkin disinilah beda manusia seperti saya dengan manusia makrifat yang penuh nuansa batiniah.

Nah, pada bagian akhir sholat, yakni salam,-- maka disitulah menandakan bahwa sang manusia yang sholat tadi tengah kembali pulang ke tempat atau alam asalnya dan berkesempatan menjumpai lagi manusia - manusia lain. Dia tiba kembali ke dunia lahiriah, sehingga dia perlu mengucapkan salam seperti hal-nya kalau seseorang berjumpa dengan kerabatnya, atau seperti kita memasuki ruang kelas.
Dalam paragraf pembahasan tentang salam disebutkan dengan jelas bahwa setelah melakukan perjalanan spiritual tersebut, dan seseorang itu kembali ke alam asalnya, maka dia perlu untuk mengucapkan salam kepada lingkungannya semula. Sebagai pertanda bahwa dia telah datang.

Sungguh ini hal baru dalam referensi saya. Memang dalam buku ini tidak lepas dari kata - kata makrifat atau bahasa arab yang saya buta sama sekali, dan juga buku ini memuat banyak sekali mengupas sisi batiniah dari peribadatan sholat yang jarang dijumpai. Salah satu bagian penting yang ditekankan ya itu tadi, bahwa sholat merupakan perjalanan spiritual. Dimana setelah menjalankannya, setelah pulang balik, maka kita kembali ke alam nyata. Waduh. Terus terang lumayan puyeng membaca buku ini, tapi, rupanya saya harus nekad untuk melahap bacaan yang satu ini. Soalnya, biarpun banyak yang tidak faham, buku ini menyimpan banyak sekali hal - hal yang 'mengejutkan' dan memberi pencerahan. Setidaknya bagi saya. Saya persilahkan Anda untuk mencicipinya. [] haris fauzi - 10 Juli 2006


BAN MOBIL

Empat kali saya harus berkeluh - kesah karena ban mobil saya bermasalah. Ya bisa bocor, bisa pula pecah. Namun alhamdulillah saya sehat wal afiat tidak celaka gara - gara ban tersebut. Setidaknya selama lima tahun saya mengemudi, berarti hampir setiap tahun saya menuai masalah ban.

Yang pertama adalah ban depan kanan. Ketika memasuki gerbang perumahan, jalanan berupa turunan. Sebetulnya faktor apes berpengaruh besar disini. Ada batu lancip yang tidak nampak oleh saya, lantas tergilas roda depan kanan. Walau berjalan lambat, batu itu berhasil merobek side wall roda bagian luar. Robek, bener - bener robek. Saya merasakan mobil kok melorot miring ke kanan. Namun, karena mobil berjalan lambat, ya tidak jadi perkara. Saya segera meminggirkan mobil, dan walau tinggal setengah kilometer dari rumah, saya tetap saya mengganti dengan ban cadangan. Dan ban robek itu tidak bisa lagi diapa-apain

Di jalan tol Cikampek arah Jakarta, sepulang kerja --di daerah Bekasi Timur-- ban belakang kanan meletus dengan dahsyatnya. Sebetulnya semenjak Cikarang laju mobil ini mulai tidak normal. Kita berlima di dalam mobil masih menebak - nebak ada apa gerangan. Tetapi tebakan kami terlambat. Di tengah melaju di lajur paling kanan, terjadilah ledakan itu. Teman saya yang mengemudikan mobil segera menyalakan lampu darurat lantas menepi ke kanan. Bukan ke kiri. Dengan menepi ke kanan, sebetulnya posisi mobil amat berbahaya. Tapi memang tidak sempat lagi bagi kami untuk menepi ke kiri, karena mobil keburu oleng. Keuntungan dengan menepi ke kanan adalah, kami leluasa untuk mengganti ban, tidak khawatir di sambar mobil lain yang lalu lalang dengan ganasnya. Ban tersebut hancur lebur, hingga merusak mud-guard mobil. Tapi tidak ada yang celaka diantara kami. Hanya kami harus ekstra cepat mengganti ban laksana pit-stop balapan Formula-1.

Hampir semua orang tau lokasi bernama Gedung Dalam di Bogor. Disitulah pusat jajanan dan oleh - oleh khas Bogor yang selalu padat di hari libur. Suatu hari saya mengantar seorang saudara hendak ke situ. Ternyata lalu lintas padat sekali. Begitu padatnya hingga polisi harus mengatur bermepet - mepet ria. Mobil di jalanan dipepet - pepetkan sampai spion ini hampir bersentuhan dengan spion mobil lain. Kebetulan saya berada paling kiri. Karena posisi kanan terlalu mepet dengan mobil lain, maka polisi menyuruh saya lebih ke kiri lagi, dan ke kiri lagi, dan ke kiri lagi. Hingga akhirnya saya melanggar pembatas jalan. Pembatas jalan biasanya adalah kerucut warna oranye, tapi kali ini lain. Polisi menggunakan kotak kayu sebagai pembatas jalan dengan trotoar. Dan saya melanggar kotak kayu tersebut. Apesnya, kotak kayu itu langsung terburai ketika terlanggar ban belakang kiri mobil. Bukan ban depan. Karena saya dipaksa kekiri lagi, maka hanya ban belakang kiri-lah yang menginjaknya hingga setengah reot. Dengan terburainya kotak tersebut, saya segera minggir karena melihat dari kaca spion kiri ada yang tidak beres. Ada potongan kayu yang terbawa ban belakang kiri. Ternyata kayu itu tertancap berikut pakunya ke ban.

Ya sudah. Saya terpaksa ganti ban di situ. Sempat polisi menghardik saya supaya kalo mau reparasi disuruhnya masuk saja ke parkiran. Saya segera membantah dan balas memaki dia karena gara - gara ulah polisi bodoh yang menggunakan kotak kayu dan menyuruh terus minggir itulah yang membuat ban mobil saya bocor. Saya tantang dia adu argumen dengan mengajak tukang buah sebagai saksi, namun polisi itu malahan pergi.

Kejadian berikutnya adalah ketika saya mengendarai sendirian mobil di tol Jagorawi arah Bogor. Mobil ini tiba - tiba saja bergoyang - goyang, makin lama - makin kencang. Saya memperlambat mobil, dan mengira bila setelan mesinnya ngadat. Ternyata salah. Soalnya pada keadaan gigi netral, mobil meluncur dengan bergoyang. Saya menduga sistem kemudi yang perlu di spooring. Namun, mobil melaju lurus walau kemudi dilepas, dan tetap saja bergoyang. Saya langsung membawa mobil ke bengkel ban. Dan benar, ban belakang kanan sudah setengah terkelupas seperti buah mangga yang dikelupas tarik tanpa pakai pisau. Semrawut, namun belum bocor. Ya sudah. Ganti lagi itu ban.....[] haris fauzi - 12 Juli 2006


BUKAN JAGO RAMAL

Sebelum di gelarnya ajang final sepakbola dunia di Jerman baru lalu, dengan menilik prestasi tiap kesebelasan unggulan, saya menjagokan Argentina sebagai finalis bal - balan kali ini. Finalis, bukan juara lho ya. Argentina lumayan perkasa di babak penyisihan zona Amerika Latin. Walau saya sempat agak melirik ketika squad Brazil disusun, yang diisi pemain - pemain dahsyat tersebut-- saya masih melihat bahwa Argentina masihlah lebih yahud ketimbang Brazil.
Apalagi ketika babak penyisihan grup di mulai. Brazil yang diisi pemain dahsyat tersebut ternyata tidak sedahsyat yang diprovokasi oleh media massa. Sementara Argentina masihlah se-yahud yang saya duga. Makin teguhlah pendirian saya terhadap tim Argentina bakal melaju ke babak final.

Dalam perjalanan babak penyisihan grup, saya masih belum mendapat calon jago untuk melawan Argentina di babak final. Kesebelasan selebritis Inggris memang hebat, tetapi mereka kurang militan, sudah menjadi jago flamboyan. Mereka lebih mirip bintang film ketimbang pejuang. Sementara Spanyol dan Portugal rasanya tidak kuat stamina bakal main hebat sampai habisnya turnamen. Mereka memang kadang bikin kejutan, tetapi tidak terlalu sering. Mereka sering ngos - ngosan di akhir cerita.
Dan diakhir - akhir babak penyisihan, saya benar - benar yakin bahwa tuan rumah Jerman bakal lolos. Karena seperti skenario yang sering terjadi, yakni tuan rumah mendapat kesempatan yang longgar untuk berlaga di semi final. Ya dengan mitos bahwa bila ajang pertandingan dijalankan di Eropa, maka kebanyakan juaranya adalah kesebelasan Eropa. Apalagi Jerman memang makin lama makin yahud. Yakinlah saya, final ideal adalah Argentina versus Jerman.

Sampai akhirnya Argentina musti berhadapan dengan tuan rumah di babak perempat final. Ini yang mengacak - acak hitungan saya. Melihat kondisi masing - masing kesebelasan, saya tidak yakin atas peluang masing - masing. Jadi bagi saya 50-50. Petandingan memang berjalan alot dan berimbang hingga babak dua usai. Dalam hatisaya berkata,' Untuk menang di babak perpanjangan, Argentina butuh Maradona. Tapi mereka cuma punya Sorin...'. Dan dalam babak perpanjangan ini-pun Argentina gagal menuai kemenangan, Jerman juga. Masih bedu dan harus dilanjutkan dengan adu pinalti.

Dalam adu pinalti, Argentina cuma punya dua peluang: menang atau kalah, tidak ada seri. Menurut saya, untuk menang adu pinalti, Argentina butuh kiper sehebat Goychechea. Saya mungkin salah menuliskan namanya. Setahu saya, dia adalah kiper jago pinalti. Apalagi kiper Jerman, --Lehmann,-- rasanya lebih jago dalam adu pinalti ini. Juga penendang pinalti Jerman cenderung lebih fasis. Otoriter dan galak ketimbang penyerang Argentina. Dalam adu jotos ini, saya memilih Jerman bakal menaklukkan Argentina.
Cerita akhir pertandingan ini memantabkan saya untuk menjagokan Jerman sebagai kampiun, soalnya permainan Brazil sama sekali tidak menarik untuk dipilih menjadi jagoan. Masih terlalu melankolis.

Dalam episode lain, seperti bisa, Inggris kalah juga oleh adu pinalti. Begitu pertandingan Inggris- Portugal harus memasuki tahap tos - tosan, maka bagi saya perjalanan kesebelasan selebritis Inggris selesai sudah. Di Inggris, yang jago tos - tosan bukan kesebelasan nasionalnya, melainkan klub yang sering berlaga ke liga Champions. Layaknya Mancherster United punya Peter Scmeichel (wah... saya mungkin salah tulis nama lagi nih... rasanya pemain sepakbola punya nama yang aneh - aneh nih..).

Saya tidak kaget ketika Prancis kembali mengalahkan Brazil. Juga ketika Portugal kehabisan napas dan gugur. Yang saya kaget adalah ketika Jerman harus takluk oleh Italia. Wah. Saya lebih bingung lagi, enaknya mau jagoin siapa nih ? Italia pernah kalah dramatis di babak perpanjangan oleh Prancis. Namun, menurut saya Prancis kali ini tidak setangguh dulu. Italia juga kelihatan begitu sangar saat membuat Jerman harus menangis.

Walau saya lebih menyukai Zidane dan Ribery, walau saya kurang suka dengan gaya Buffon yang agak sok jagoan, namun saya menjagokan tim Italia. Sebagai tim, Italia lebih mantab. Dan, terakhir, walau saya tidak nonton pertandingan final tersebut, toh juaranya harus muncul juga.[] haris fauzi - 13 Juli 2006



PLAY LIST

Adakah playlist di komputer Anda ? Playlist adalah daftar lagu - lagu. Ya lagu apa saja, biasanya dalam format MP3. Di komputer kantor saya punya beberapa playlist, ada yang lagu - lagu kuno seperti Procol Harum, Uriah Heep, hingga Bloodrock. Ada juga playlist lagu - lagu progressive seperti PinkFloyd hingga ELP. Atau playlist lagu - lagu ringan yang biasa saya putar di hari Jumat macam David Forster, Peter Cetera, dan The Eagles.

Hari ini hari Jumat, namun saya memutar playlist balada dari kelompok musik progressive-rock yang paling tangguh yang ada sekarang ini : Dream Theater. Memang sudah beberapa hari ini saya sering memutarnya. Isinya enam lagu saja. Kumpulan lagu ini saya buat sekitar dua tahun lalu, yang praktis bila saya putar sekarang akan mengingatkan kejadian - kejadian pada masa tersebut. Sebetulnya bukan kejadian yang dahsyat. Hanya pada saat itu saya ditugaskan secara khusus untuk menyelesaikan suatu pekerjaan oleh atasan saya. Yakni mengimplementasikan suatu sistem manufaktur. Dan karena posisi meja kerja semula saya berada di gedung yang berbeda dengan atasan saya, maka meja kerja saya dipindah-gedungkan, dan saya duduk di ruang sebelah ruang boss saya itu. Selain pindah gedung, meja saya tidak berada di ruang utama. Ruang utama ini semacam pusat perkantoran lazimnya, diisi oleh banyak karyawan berikut mejanya. Saya didudukkan di suatu ruang tersendiri.

Dalam pindahan kala itu, yang saya lakukan pertama kali, selain hal lazim yakni merancang program kerja, saya juga berusaha mengenali lingkungan saya, yang tentunya memiliki perbedaan dengan yang lama, apalagi saya cukup terisolir. Selain itu saya juga menyusun playlist Dream Theater ini. Posisi meja kerja yang terisolir di ruang khusus --tidak berada di ruang utama-- ini sedikit banyak menguntungkan saya. Walau terisolir, saya malah bisa leluasa mendengarkan musik tanpa mengusik karyawan lain. Pun kadang saya membesarkan volumenya.

Apa yang terjadi selama dua tahun ini memang telah berkembang jauh sekali. Proyek yang saya kerjakan tersebut telah usai, tinggal kerjaan rutin sistemik yang harus dikerjakan hari per - hari. Dimana lazimnya pekerjaan rutin yang sistemik, maka dalam perjalanannya selalu banyak menemui kendala lunturnya sikap konsisten, mengingat sistem yang dijalankan ini meliputi banyak orang dan beberapa elemen manajemen --dan hanya dimonitor oleh beberapa gelintir orang. Kendala in-konsistensi ini sering membuat siapapun yang bertugas memonitornya menjadi patah arang memang. Saya sering menangkap keluhan dari rekan saya yang bertugas melakukan monitoring ini. Keluhan yang menjurus ke patah arang. Sebanyak arang terpatahkan, sebanyak itu pula bara tercipta.

Saya juga sudah lama tidak berada di dalam ruang tersebut, alias sudah pindah lokasi lagi. Ruang yang dulu saya pakai sekarang menjadi ruang rapat. Meja kerja saya berpindah ke ruang utama. Bahkan kondisi ruang utama sekarang ini berbeda sekali dengan dua tahun lalu, yang semula diisi oleh bagian keuangan --mayoritas perempuan. Sejak kira - kira setahun lalu sudah bedol kantor diisi oleh bagian manufaktur --kebanyakan pria. Boss saya tersebut sudah tidak ada lagi di ruangannya, karena sudah tidak lagi bekerja di sini. Tentunya juga telah terjadi perbedaan tata-letak di sana - sini. Kebanyakan sudah berubah seiring perubahan masa. Memang sang masa selalu bisa mengubah apa saja. Bahkan playlist Dream Theater ini-pun suatu saat bisa saja berubah karena saya revisi, dan karena termakan usia juga. Ya. Sang masa memang bisa mengubah apa saja. Kita harus siap menghadapinya, karena perubahan itu tidak akan selalu merugikan bila kita bersiap menungganginya, bukan bentrok menahannya. Karena perubahan itu adalah suratan kehendak Tuhan.[] haris fauzi - 14 Juli 2006



BOEING, CONCORDE, ROLLROYCE

Saat saya masih duduk di bangku SD, dan saat adik bungsu saya masih bayi,-- saat itu seingat saya Bapak saya ditugaskan untuk sekolah militer ke Bandung. Kala itu Bandung sedemikian jauh dari rumah kami di Malang. Di rumah juga tidak ada telepon, wartel belum ada, apalagi telepon selular.
Sesekali kami serumah mengirim kartu pos ke sekolahan Bapak di Bandung. Dan tempo - tempo gantian kami se-rumah rame - rame mendengarkan Ibu membacakan kartu pos balasan dari Bandung. Biasanya kartu pos itu tiba menjelang kami tidur siang. Jadi begitu kartu pos itu menggeser sisi bawah pintu depan, praktis kami yang sudah berbaring di ranjang jadi berlompatan turun sambil berteriak 'Suraaattt...!!!!'. Pokoknya ngantuknya langsung kabur entah kemana. Kami kembali ke ranjang, lantas duduk, dan mendengarkan Ibu membacakan surat tersebut.

Suatu hari tibalah sepucuk kartu pos dari Bapak yang berisi rencana kepulangan beliau, rupanya usai sudah pendidikan militernya. Jelas - jelas disitu Bapak menanyakan oleh - oleh apakah yang bakal diminta oleh kami anak-anaknya bertiga --anak ke empat Si Bungsu masih bayi, jadi nggak minta apa - apa. Seingat saya kakak saya minta dibelikan mainan pesawat, saya minta mainan mobil, dan adik perempuan saya ikutan kakak sulung: minta dibelikan mainan pesawat. Semua mainan itu berpenggerak batere, istilahnya mainan batere. Semua keinginan kami itu ditulis di selembar katu pos balasan.

Lupa - lupa ingat akan kejadiannya, rasanya Bapak tiba di rumah pada subuh pagi hari. Saya terlambat bangun. Saat keluar kamar, saya lihat lampu ruang tengah dipadamkan. Gelap gulita, namun ada lampu merah kuning kelap - kelip berputar - putar di lantai. Oh. Rupanya itu mainan pesanan kakak saya, sebuah pesawat udara -- walau nggak bisa terbang. Tertulis Boeing-PanAm. Lampunya itu berkerdip - kerdip menakjubkan. Apalagi lampu ruang di matikan, dan hari masih subuh. Pesawat itu dilengkapi roda depan yang bisa dipuntir sehingga lajunya bisa berputar sesuai diameter sirkular yang kita harapkan.

Saya jadi teringat bahwa hari inilah Bapak pulang. Setelah saya salaman dengan bapak yang masih kelelahan duduk di bangku, saya langsung teringat mainan batere yang kami impi-impikan itu. Dimanakah mainan mobil saya? Oh... saya lihat diujung ruang tengah, adik perempuan saya asik dengan mainan mobil itu. Rupanya mobil klasik berlabel RollRoyce. Warna badannya merah, atapnya biru. Mobil itu juga berpenggerak batere. Bisa berjalan merambat dinding karena rodanya dari karet yang rekat, lantas berguling untuk kembali ke posisi berdiri dan berjalan lagi. Jadi setiap hendak menubruk dinding, kami bersorak seakan menyuruhnya untuk menabrak dinding lantas berguling.

Lha ini gimana ceritanya. Kok mainan pesanan saya sudah dimainkan adik saya ? Pada saat itu saya lihat ada sebungkus mainan lagi yang masih terbungkus. Rupanya adik berubah pikiran hendak bertukar oleh - oleh dengan saya. Saya sih tidak mempermasalahkan karena mainan yang masih dibungkus itu eksotis sekali. Besar sekali. Dan setelah saya buka ternyata mainan batere, yakni pesawat terbang model Concorde. Badan dan sayapnya harus dirangkai dahulu agar menjadi satu pesawat utuh. Sayapnya itu yang membuat mainan sedemikian lebar dimensinya. Badannya yang berwarna putih itu juga panjang sekali, lancip pula paruhnya. Butuh dua batere tanggung, langsung saja saya start. Ternyata bunyinya keras sekali. Denging mesinnya memekakkan. Dan begitu diletakkan di lantai, dia melaju kencang sekali --mengalahkan pesawat kakak saya. Saya langsung lupa dengan mobil pesanan saya. Saya ekstasi dengan Concorde ini, benar - benar mengasyikkan. Concorde mungil inilah mainan batere saya yang pertama.[] haris fauzi - 18 juli 2006



RECEH UNTUK 'GARY MOORE'

Kebetulan kemaren malam saya pulang kerja naik bis umum. Dalam bis tersebut, seperti biasa, ada seorang pengamen. Membawa gitar akustik, pake topi, kaos lengan panjang. Cukup rapi. Memasuki tol Jagorawi, beliau mulai melantunkan lagu - lagunya. Menurut saya yang awam ini, cara dia menyanyi, suara dia, dan suara denting gitarnya sih biasa - biasa saja. Dia memainkan beberapa lagu yang dia suka, dan suatu kali dia harus meminta maaf kepada penumpang bis karena petikan gitarnya sedikit keseleo.

Seperti biasa pula, saya tidak terlalu memperhatikan apa yang dia kerjakan, sampai setelah mendekati daerah Cimanggis dia memulai suatu lagu yang rasanya sedikit saya hafal awalannya. Sebelum saya bisa menebak dengan benar, beliau ini telah memulai syairnya:

Used to be so easy
to give my heart away

But I found out the hard way
There's a price you have to pay

Ya. Itu aslinya lagu Gary Moore, judulnya 'Still Got The Blues'. Saya pangling karena pengamennya membuat sendiri versi akustiknya, improvisasi sendiri. Selagi pengamen menuntaskan lagunya, pikiran saya malah berkelana ke masa silam.

Tentang Gary Moore, saya mulai intens menyukai karya - karyanya karena dua hal, yakni ketika Gary Moore muncul menjadi gitaris terbaik versi majalah Kerrang,-- kalo nggak salah. Entah juga tahun berapa. Yang jelas kutipan majalah tersebut dimuat di koran lokal.
Yang kedua karena teman saya, Fuady, membeli album 'Wild Frontier' yang rilis 1987. Kedua kejadian itu terjadi di masa saya duduk di bangku SMP. Sejak saat itu saya mulai kesengsem dan berusaha mengoleksi album - albumnya.

Termasuk juga pada saat munculnya jaman royalti dan harga kaset melonjak naik, saya membeli dengan susah payah album 'After The War' di tahun 1989. Saya terpaksa membeli di toko, karena diloakan tidak ada. Saya terkesima dengan melodi gitarnya yang menyayat hati itu. Seingat saya, pada masa itu gitaris Yngwie J. Malmsteen sedang naik daun.

Tahun 1990, saya menjalani OPSPEK dan Penataran Mahasiswa Baru di Malang. Dan di masa itu, Gary Moore meluncurkan album baru berjudul 'Still Got The Blues', bergambar foto Gary Moore kecil dengan latar poster Jimi Hendrix. Bagus banget. Dan di album ini Gary Moore membelokkan aliran musiknya dari hard rock menjadi blues-rock --yang dia mainkan hingga sekarang. Yang menjadi kenangan adalah bagaimana saya menyempatkan berjalan - jalan ke toko kaset untuk membeli album tersebut, padahal saat itu adalah saat - saat orientasi yang melelahkan -- bila ada waktu luang, maka sebisa mungkin sebaiknya digunakan untuk beristirahat. Dan, ketika harus mengerjakan pekerjaan rumah hingga larut malam, saya memutar album tersebut supaya tidak mengantuk.

Walhasil begitu ada kesempatan jalan - jalan lagi, saya sempatkan memesan bordir jaket bertuliskan 'Still Got The Blues' dengan gambar asesoris gitar. Padahal saya tidak bisa bermain gitar sama sekali. Jaket ini begitu sering saya kenakan saat kuliah, bahkan ketika saya lulus kuliah, jaket ini diminta oleh adik kelas saya --dan dipakainya juga untuk kuliah.

Kembali ke masalah pengamen dalam bis umum. Rupanya pengamen itu telah membawa saya larut dalam ingatan masa silam. Mulai SMP hingga lulus kuliah. Dan bisa jadi saya terlalu murah membayar jasanya. Ya. Saya cuma memberi receh untuk pengamen dan 'Gary Moore'-nya.[] haris fauzi - 19 Juli 2006


TAKABUR

...dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. (QS 40:45)

Mungkin sudah tabiatnya bahwa manusia itu takabur. Terus terang saya mengerti bahwa takabur itu salah besar, tetapi, ternyata sulit sekali menghindari sifat yang satu ini. Saya selalu saja takabur, dan takabur, dan takabur.

Kebetulan saya beragama Islam. Di dalam kitab suci pemeluk Islam, Al-Qur'an, dijelaskan berkali - kali, dan saya juga telah membacanya beberapa kali, bahwa manusia itu amat tidak elok bila memiliki sifat takabur. Banyak di contohkan perihal takabur ini disitu, salah satunya yang paling populer adalah kisah ketakaburan orang paling takabur kala itu : Si Firaun. Betapa takaburnya dia, sehingga dia menganggap bahwa dia-lah Tuhan itu. Bahkan dia menyuruh salah satu insinyurnya --namanya Pak Insinyur Haman-- untuk membangun sebuah menara tinggi guna menilik Tuhan-nya nabi Musa, yang konon bertahta di atas segala langit.

Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa ... (QS 40:36-37)
Dan dengan jelas pula Tuhan sangat murka dengan sikap takabur Firaun. Mungkin inilah kisah terbesar tentang ketakaburan manusia, apalagi terhadap Penciptanya.

Mungkin kita tidak perlu membuat kisah besar, tetapi mungkin kita termasuk tukang takabur kelas wahid. Coba saja tengok, mungkin hanya berapa kali saja kita menyadari bahwa Tuhan senantiasa menyelamatkan hidup kita dalam detik per-detik. Kita seakan cuek saja dengan anugerah-Nya yang masih memelihara hidup kita ini. Seakan kita ini hidup sehat karena kita rajin menjaga kesehatan, rajin mengonsumsi makanan sehat, rajin mandi dan rajin berolah raga. Walau semua itu benar, apalah artinya bila Tuhan memelintir sedikit sahaja dari otot jantung kita dan lantas menghentikannya ?

Juga betapa takaburnya kita ketika kita sakit flu, misalnya. Lantas kita pergi ke dokter dan menebus obat. Mungkin dalam tiga hari kita menenggak obat bisa membuat kita kembali sehat. Tapi, kadangkala ketakaburan kita menutupi fakta sebenarnya, bahwa yang membuat kita sehat kembali itu sebenarnya adalah Tuhan. Selalu kita menganggap bahwa kita kembali sehat karena obat yang kita tebus. Dan kita seakan telah menyelesaikan hutang budi dokter dengan membayarnya, dan kita telah memberi profit kepada apotik lewat jual beli obatnya. Lantas dimana peran Tuhan ? Apalah artinya kehebatan obat bila memang kita ditakdirkan oleh-Nya untuk sakit ?

Kita juga sering merasakan bahwa hidup kita ini kecukupan karena kita telah duduk di jalur bisnis yang benar, cukup mapan sebagai profesional yang memiliki gaji tetap. Tetapi kita sering lupa, apalah artinya gaji yang besar bila ternyata Tuhan menimpakan deraan yang lebih mahal ? Yang mungkin tidak terbayar oleh gaji kita yang sekarang ?
Boro - boro itu. Kita sering beranggapan bahwa duit yang terlipat di dompet itu adalah hak kita karena kita telah bekerja dengan baik. Itu saja. Sebuah pikiran yang mencampakkan keberadaan Tuhan, yang sebenarnya Dia-lah yang membagikan rejeki kepada saya dan Anda. Yang seperti ini bukti yang sangat jelas akan ketakaburan kepada Tuhan.

Di awal tulisan saya cuplikkan ayat Tuhan yang mengancam dengan deraan yang dahsyat kepada Firaun yang takabur. Dan dibalik cerita sebenarnya Firaun-pun sadar bahwa dirinya memang takabur, cuma dia tidak mau menginsyafinya. Firaun bertahan dalam ketakaburannya. Firaun memang tukang takabur kelas wahid, dan keras kepala.
Kasusnya mungkin berbeda dengan kita. Bisa jadi kita ini takabur, namun tidak menyadarinya. Memang kesadaran akan takabur ini merupakan salah satu hal yang susah dibangkitkan. Berkali - kali ustadz di kampung saya mengingatkan hal ini kepada saya, toh kesadaran saya tentang ini masih bebal. Berkali - kali juga --semenjak SD-- kita tau bahwa takabur itu tidak elok. Tapi tetap saja kita ini takabur. Nah, kalo yang seperti ini apakah bukan takabur kelas wahid juga? Tolong koreksi tulisan saya bila saya salah....[] haris fauzi - 20 Juli 2006


KETIKA HARUS MEMILIH

Baru sekitar sebulan lalu saya kirim pesan singkat ke adik saya untuk mencarikan buku, judulnya 'Biografi Ali Syariati' tulisan Ali Rahnema. Harganya di toko buku regular lumayan manteb, 125ribu rupiah. Mangkanya saya minta tolong ke adik saya untuk cari kortingannya, soalnya buku terbitan Erlangga sering muncul di daftar diskon toko buku mahasiswa.
Konfirmasi dari adik saya, terakhir,-- bilang bahwa buku itu tidak tersedia di toko buku kortingan. Ya saya harus mencoba beli tanpa kortingan ternyata. Ya sudahlah, saya pendam dulu keinginan membeli buku tersebut, nunggu suasana keuangan sejuk dahulu.

Tapi toh saya jalan - jalan ke toko buku itu suatu keharusan. Selain memastikan bahwa buku yang saya minati masih dipajang, akhirnya saya malah membukukan beberapa catatan tentang buku - buku lainnya yang masuk daftar 'wajib punya'. Masih berupa catatan, diantaranya adalah 'Reason in Revolt' bikinan Alan Woods, dan juga tetralogi tulisan Tariq Ali terbitan Serambi. Tetralogi berisi empat buku. Buku pertamanya tentang tokoh idola saya, Salahuddin Sang Penakluk. Kalo empat buku, satu bukunya seharga enam puluh ribu, akhirnya saya tidak punya pilihan selain memasukkan ke dalam catatan sahaja, belinya entar -entar. kalau duit sudah ada, dan kalau Istri tidak terlalu curiga tentang banyaknya tas kantong ber-cap Gramedia. Maklum, gara - gara mengunjungi blog teman saya yang memuat resensi film tentang Nabi Muhammad buatan Moustapha Akkad judulnya 'The Message', saya jadi kepincut untuk membelinya, dan kebetulan VCD-nya terpajang sebiji doang di Gramedia. Dalam resensi di blog-nya, teman saya itu -- namanya Bung Suryo-- menuliskan demikian :"Thank you Moustapha Akkad, for the gift you made for us. For the world.You delivered a movie so the world would understand Islam better".

Selain buku tersebut di atas, ada dua buku lagi yang menarik hati saya, yakni 'Pangeran Pencuri' tulisan Cornelia Funke. Harganya 50 ribu, keluaran Gramedia. Rupanya buku untuk anak - anak, seperti bukunya Hugh Lofting yang berjudul 'pelayaran Dokter Dolitle' yang saya punya, dan kakak saya juga punya. Kakak saya beli pas ulang tahun dia --entah yang keberapa-- mungkin belasan. Sementara saya sekitar sepuluh tahun yang lalu membeli di toko buku loak di Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Nah, berikutnya. Buku terakhir ini tidak bisa tidak. Tidak bisa menunggu hanya untuk masuk daftar. Musti langsung beli, soalnya saya sudah mencarinya sekitar lima tahunan. Saya sempat ke Bandung mendatangi toko buku di sana, namun setelah saya datangi ternyata cuma tersedia jilid kedua saja. Wah, batal.
Setelah lima tahun, kali ini saya terpaku perhatian di buku itu, setengah nggak percaya. Seingat saya buku itu dahulu warnanya hijau, ada dua jilid. Sekarang putih ungu hard cover. Judulnya sih mirip, ingat - ingat lupa jadinya. Ketika dalam hati ini masih penuh syak akan kebenaran judul buku yang saya idamkan tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk membayar empat puluh ribu kembali seratus perak. Biarlah andai salah judul. Buku tersebut isinya tentang sholat --tulisan Imam Khomeini. Saya yakin buku ini sulit ditelaah. Sesulit mencari bukunya, dulu. Apalagi --seperti biasa-- saya membacanya sambil lalu, seperti dahulu mencarinya juga sambil lalu. [] haris fauzi - 25 Juli 2006


MENGIKUTI KISAH AVATAR,
'THE LEGEND OF AANG'

Walaupun sudah berjuang setengah hati (bukan setengah mati lho ya..?), saya agak sedikit bisa mengikuti serial kartun yang ditayangkan di Global TV. Maklum siaran seri sekarang jam tayangnya berubah - ubah, membingungkan orang macam saya yang jarang nonton televisi. Serial kartun yang saya ikuti yaitu 'Avatar - The Legend Of Aang'.
Di tengah gempuran kartun yang menurut saya agak nyalahin kodrat seperti 'Perusha', atau yang absurd seperti 'Sponge Bob', 'Angry Beaver', atau 'Cat-Dog'; saya cukup senang mengikuti kisah Avatar ini. Beberapa kartun yang juga saya nilai --subyektif nih...-- lumayan bagus adalah kartun tentang si jago kimia itu, saya lupa namanya, kalo nggak salah nama belakangnya ada -netron-netron-nya. Dan tentu juga kartun petualangan Johan Si Saintis Muda, entah salah-entah benar saya menuliskan judulnya.

Dulu pernah sering nonton kartun Colombus dan Petualangan Huck Finn & Tom Sawyer di saluran Space Toon. Wah, kalau yang ini sih heboh banget. Namun saya sudah jarang nonton lagi, karena gambar siarannya yang kurang bagus kualitasnya. Juga ada kartun petualangan Diego dan Dora yang sempat menjadi primadona, bahkan mungkin hingga sekarang.

Kembali ke kartun Avatar. Cerita dalam kartun ini mengingatkan akan beberapa prinsip alam, yakni angin - api - air - tanah. Kebetulan suatu hari ketika berjalan - jalan ke warung majalah, kami hendak membeli majalah 'Winnie the Pooh' buat anak saya. Namun anak saya ternyata memilih membeli majalah lain, karena majalah yang pilihannya itu ternyata bersampul depan Avatar. Dan di dalam majalah anak itu dikupas cukup ringkas perihal kartun Avatar ini.
Kartun Avatar dibuat berdasar buku cerita modern, dan buku ini belum beredar di Indonesia. Buku ini ditulis terinspirasi dari legenda Asia. Jadi, rasanya cerit Avatar ini bukan kisah atau legenda yang semenjak dahulu kala sudah ada. Ini kisah legenda baru, tetapi dengan latar belakang Asia kuno. Kalau boleh saya cuplik sekilas disini, cerita itu berisi tentang empat kerajaan yang masing - masing menguasai ilmu sesuai daerahnya. Negara Api orang - orangnya menguasai api, demikian juga dengan tanah, angin, dan air. Hanya seorang Avatar-lah yang menguasai keempat unsur tersebut.

Dalam suatu masa, sang Avatar tua raib entah kemana, dan saat itu kerajaan Api berubah menjadi penjajah bagi kerajaan yang lain. Kerajaan atau negara Api menjadi demikian kuat karena pengaruh komet yang jatuh. Sebelum negara Api menjadi semakin kuat dan semakin lalim, maka mutlak dibutuhkan seorang Avatar pengganti. Repotnya, calon Avatar ini masih bocah, dia bernama Aang dari negeri Angin. Aang harus belajar dengan keras untuk menguasai semua unsur sebelum prajurit - prajurit negara Api menjadi sangat kuat. Negara Api juga tidak tinggal diam, dia juga tau bahwa penghalang ekspansinya adalah kemunculan Avatar. Mangkanya prajurit - prajurit negara Api memburu calon Avatar ini dengan gigih pula, sebelum sang bocah menjadi demikian tinggi ilmunya.

Ya akhirnya Aang dibantu oleh beberapa sobatnya keluyuran kesana - kemari untuk belajar menguasai ilmu - ilmu unsur tersebut. Itu yang saya tau, memang hanya sekilas, karena saya tidak rutin menontonnya. Suatu cerita yang sangat menarik untuk diikuti.

Juga penyampaiannya tidak absurd kacau - balau. Seperti saya sebutkan di atas, sekarang ini banyak kartun yang absurd. Seringkali anak tidak tau isi ceritanya, apalagi kandungan nilainya. Bila saya minta anak saya untuk menceritakan ulang isinya, biasanya dia tidak mampu menceritakan dengan baik. Anak saya hanya paling - paling bisa bercerita tentang adegan lucunya, seperti si lakon kejepit pintu, atau makanannya tumpah, atau hal - hal potongan adegan seperti itu, dan sekali lagi --kebanyakan hanya lucunya saja. Memang kartun seperti ini cenderung kocak - lucu, namun ceritanya membingungkan, bahkan kadang diselingi hal - hal yang mengandung unsur kekerasan. Gerak gambarnya juga cepat dan menyentak - nyentak bikin kaget. Konon penyajian film seperti ini sering membuat anak bermimpi buruk kala tidur malam.

Bila selesai melihat kartun Avatar atau Huck Finn, anak saya biasanya bisa bercerita dengan baik dari depan hingga belakang. Bahkan pada saat hendak menonton seri berikutnya, anak saya masih mengingat cerita sebelumnya dan dia merangkaikan dengan seri yang sedang ditontonnya.
Ya begitulah, salah satu cara saya untuk menguji tayangan buat Salma dan Nourma adalah dengan meminta sang bocah menceritakan apa yang telah ditontonnya. Bila dia bingung, atau --apalagi-- saya atau anda ikut bingung saat nonton, sebaiknya tidak usah dilanjutkan. Karena itu akan membuat 'file error' yang tersimpan di otak bocah. Dia telah menonton, dia telah mengisi otaknya dengan memori tayangan, namun tidak bisa digunakan, bahkan tidak bisa diceritakan kembali. Dia tidak mengerti harus dipakai untuk apa. Bagi saya yang sering menjadi 'Badan Sensor Film' di rumah, maka kartun Avatar ini akhirnya malahan saya rekomendasikan untuk di tonton oleh anak - anak saya. Karena kartun Avatar ini menyampaikan pesan yang jelas bagi anak - anak, yakni kebenaran versus kejahatan. Hitam - putih, suatu nilai yang sangat mudah ditangkap dengan baik oleh anak - anak. Dan alhamdulillah anak saya satu selera dengan saya, rupanya dia juga menyukai kartun Avatar ini. [] haris fauzi - 26 Juli 2006



NYALI


Tulisan yang saya buat ini terus terang sangat subyektif --bahkan mungkin emosional, dan hanya merupakan pendapat pribadi saya -- yang spontan keluar dari pikiran saya. Bukannya kenapa, bisa jadi data yang saya kumpulkan belumlah akurat, tetapi saya telah memutuskan untuk menuangkan pikiran saya ini sekarang ketika otak ini sudah sedikit mereda akibat emosi. Bagaimana tidak terbakar emosi ketika mendengar betapa hancur leburnya Libanon oleh hantaman serbuan Israel. Hampir setiap pagi --dalam perjalanan berangkat ngantor-- saya mendengar berita tentang bombardir pasukan Israel ke Libanon. Benar - benar habis - habisan. Dari siaran radio BBC, --yang condong ke Amerika-pun-- sudah menilai nyinyir pengeboman ini. BBC mulai lebih kritis ketika salah satu bom Israel itu jatuh ke kumpulan tim dari PBB, bahkan ada yang tewas, katanya anggota dari China. Kita tau bahwa China merupakan salah satu dedengkot PBB.

Sekitar tahun 1982, pernahlah sudah Israel menyerang Libanon yang diakhiri dengan kemufakatan sepihak Israel. Juga pada tahun 2000-an Israel pernah berkonflik-ria di Libanon Selatan, dan terpukul mundur dari Libanon Selatan oleh gerilyawan Hizbullah. Dan Yitzhak Shamir --salah satu tokoh politik Israel-- sangat geram dengan kekalahan ini. Rupanya kini terjadi rencana balas dendam. Setelah mengebom perkotaan hingga pedesaan di Libanon, setelah membunuh tim dari PBB, --dalam siaran BBC itu-- Israel dalam jumpa pers-nya malahan menyatakan bahwa kini dunia Internasional mendukung secara moral ke pihak Israel, karena roket - roket katyusa gerilyawan Hizbullah telah memakan korban sipil di Israel.

Repotnya, walau timnya sudah babak belur kena bom, toh sampai sejauh ini belum terlihat greget dari PBB. Amerika-pun --lewat tokoh travelling Condoleezza Rice-- tidak punya nyali untuk membungkam Israel ini. Diva ini cuma terdiam, terdiam, dan berkelit. Dan hanya marah ketika pejabat Korea Utara menyebutnya dengan 'orang sinting' ketika Rice terlalu campur tangan masalah percobaan nuklir Korea Utara. Ya, intinya badan segedhe PBB-pun tidak punya nyali menghadapi kelakuan bengal Israel ini. Amerika yang katanya polisi itu-pun cuma pura - pura tidak faham, bengong. Rupanya Amerika cuma pantas menjadi jagoan di komik - komik saja. Terus - terang, bagi saya pribadi nyali PBB cebol banget. Setelah hanya bisa terkantuk - kantuk ketika Amerika meng-invasi Irak, kini PBB hanya garuk - garuk hidung sahaja melihat kelakuan Israel.

Sebenernya sih, saya masih berharap banyak kepada nyali milik yang mulia Mahmoud Ahmadinejad, pemimpin Iran. Sayangnya pemimpin hebat ini masih terkonsentrasi dengan masalah percobaan nuklirnya. Ya namanya juga berharap, saya berharap semoga beliau diberi kelapangan kesempatan untuk membekuk si congkak Israel ini. Pertanyaan yang muncul adalah apakah kapabilitas Ahmadinejad terhadap kasus ini ?
Ya memang susah. Negara Ahmadinejad masih terpilah oleh negara lain dari lokasi konflik. Juga doktor yang insinyur lalu lintas ini cenderung konservatif. Maklum, mungkin hal ini karena dia adalah mantan tentara Korps Pengawal Revolusi Iran. Ahmadinejad yang dituduh pernah terlibat penyanderaan dalam krisis sandera Iran ini memang belum menunjukkan tanda - tanda atau reaksi yang signifikan. Mantan Walikota Teheran itu memang masih seperti terdiam, walau tidak sepenuhnya begitu. Setidaknya setelah menyampaikan bahwa kasus holocoust itu hanyalah rekaan, beliau juga sudah melontarkan pernyataan bahwa serbuan ke Libanon ini merupakan "kejahatan terhadap kemanusiaan, dan pelakunya harus dihapuskan dari peta bumi". Terus terang saya setuju, dan saya rasa hanya orang yang punya nyali tinggi sajalah yang bisa berkata seperti itu.
Bila bukan Ahmadinejad, .....kira - kira ..... kepada siapa lagi yang dirasa mampu dan punya nyali ? [] haris fauzi - 27 Juli 2006


GADGET

Setahu saya itu istilah untuk barang atau perkakas praktis yang sering dibawa kemana - mana seperti pulpen, dompet, kacamata, buku saku, atau arloji. Kalau jaman sekarang mungkin dilengkapi dengan telepon genggam, kamera digital, mp.3 player, dan sebangsanya, bahkan mungkin notebook berikut flashdisc-nya. Saya sering membaca istilah ini di brosur penawaran belanja kartu kredit yang tak jarang menawarkan pernak - pernik seperti itu.

Sekitar tahun 2000, saya punya suatu benda yang sering saya bawa kemana - mana. Namanya tasbih. Tasbih adalah salah satu alat untuk beribadah, biasanya digunakan untuk hitungan dalam bertasbih. Bertasbih adalah mengucapkan kalimat tasbih, suatu kalimat yang berarti mengingat Tuhan. Sembari mengucap berulang - ulang, biasanya tangan ini mengurut butir bola tasbih satu - persatu. Jumlah ucapan ini sesuai dengan jumlah bola yang terjamah. Jadi benda tasbih ini lebih berfungsi sebagai 'penghitung'. Mungkin sudah banyak yang tau fungsi tasbih ini, saya yakin.

Tasbih saya ini terbuat dari logam, dan isinya tiga puluh tiga butir bola - bola yang terangkai dengan rantai kecil, bukan dengan benang atau tali. Di induk untaian, dia memiliki tiga gantung bola lagi yang terkait dengan rantai dan gelang - gelang. Tasbih ini hadiah dari Ibunda saya. Katanya, hadiah itu juga hadiah pula. Dari rekannya, Istri Atasan Bapak saya. Kalau nggak salah oleh - oleh dari pulang haji.

Selain tasbih, saya juga pernah diberi selendang warna biru oleh Ibunda saya. Pada saat itu saya sakit cacar air, dan setelah sembuh saya tentunya harus pergi ke kampus lagi, kuliah. Ternyata di leher saya masih terdapat bopeng - bopeng yang belum sembuh betul. Sebelum berangkat Ibu memasang selendang biru itu ke leher saya. "Biar hangat, dan nggak nampak lukanya," gitu katanya. Setelah sembuh, selendang itu jadi milik saya dan saya simpan di lemari pakaian saya, dan saya bawa ketika saya boyongan ke Jakarta. Selendang biru ini saya terus tersimpan di lemari baju saya --walau sudah tidak pernah saya kenakan lagi--, dan akhirnya terbawa hingga saya punya rumah di Bogor. Akhirnya selendang ini hilang karena anak saya terlupa saat latihan menari di sekolahnya.
Selendang ini memang terbawa tetapi bukan merupakan gadget, karena tidak pernah saya bawa kemana - mana, tidak pernah ditenteng - tenteng. Tentunya berbeda dengan tasbih tadi, yang sering tercantol di pergelangan tangan saya.

Unik sekali tasbih ini. Disamping bentuknya mungil sehingga bisa saya gelangkan ke pergelangan tangan, tasbih ini juga mengkilat bila sering digunakan. Setidaknya bila sering dipegang - pegang. Kebalikannya, bila ditaruh tanpa disentuh begitu lama, warna kilaunya akan pudar. Pernah suatu saat tasbih ini saya gantungkan di spion mobil dalam jangka cukup lama. Warnanya menjadi kusam. Sekusam ketika masih tergantung di cermin rias Ibu, karena tidak pernah disentuh pula.

Selama beberapa waktu, tasbih itu selalu saya bawa kemana - mana. Otomatis biar serampangan, tasbih itu seakan senantiasa mengingatkan saya untuk bertasbih. Walau seperti apa tulis saya tadi :--serampangan--. Di saat nganggur, karena berada di tangan, otomatis saya mencoba untuk menggunakannya. Itung - itung coba - coba nambah pahala.
Bagaimana tasbih itu sekarang ?
Tasbih ini sekarang berada dalam suatu kotak. Tersimpan. Sebelum dia masuk kotak, tasbih ini putus rantainya, terburai bola - bolanya. Untungnya terburai di dalam mobil, jadi cuma terselip di jok - jok dan berkeliaran di dek mobil. Sebegitu terjadi bencana prothol ini, saya berusaha mengumpulkan di bantu Salma. Saya masukkan ke kotak tanpa menghitungnya. Entah komplit atau tidak. Rupanya saya kali ini harus berusaha melengkapinya dan menguntainya lagi, ...atau membeli yang baru.

Yang saya baru sadar, bahwa sebenarnya, selain telah akrab membawa kesana - kemari satu atau dua buah handphone, seorang muslim sebaiknya membawa kemana - mana seuntai tasbih. Tasbih ini berfungsi untuk mengingatkan kita untuk bertasbih, mengingat akan Tuhan. Tasbihnya saya anjurkan yang terbuat dari logam, sehingga bila sering dipakai, makai semakin berkilaulah bola - bolanya. Memang bisa jadi harganya agak mahal, tetapi tentunya hal ini tidaklah ada ruginya sama sekali.[] haris fauzi - 28 Juli 2006

Friday, July 07, 2006

KENISAH Juni 2006



KENISAH Juni 2006

( MENURUT SAYA ) ADA MASALAH
DENGAN IDENTITAS

Identitas adalah keterangan terhadap suatu benda. Kalau di pabrik, ada itentitas 'OK', berarti produk tersebut hasil ujinya OK dan siap jual. Kalau di dompet kita, untuk manusia umur belasan pasti sudah memiliki Kartu Tanda Penduduk sebagai identitas.
Sebagai karyawan pabrik, ada juga memiliki kartu identitas untuk di pakai di lokasi pabrik.

'Identitas' ini adalah pertanda. Tanda ini digunakan untuk memberi tanda kepada orang lain yang tidak mengerti identitas anda. KTP dibutuhkan saat pegawai bank tidak mengerti jati diri anda. Demikian juga bila ada razia kependudukan di jalanan atau kendaraan umum, maka KTP ini menjadi sang penyelamat. KTP tentunya tidak perlu digunakan di rumah, soalnya pasti keluarga kita tidak syak lagi tentang identitas kita.

Yang agak unik adalah identitas di kantoran, karena justru mutlak digunakan di lingkungan 'dalam'. Sebetulnya ini sih benar adanya, supaya tidak terjadi kesimpang-siuran kompetensi karena tentunya bisa jadi tidak semua karyawan saling kenal. Juga untuk tindakan pengamanan dari penyusup. Nah, penyusup ini tentunya tidak ada di lingkungan rumah kita.

Yang malah unik mungkin adalah identitas orang Islam. Perlu saya jabarkan dahulu bahwa sudah banyak identitas Islam yang telah digunakan sebagaimana mestinya, tetapi ada beberapa yang perlu untuk lebih dioptimalkan.
Kita sering mendengar ustadz - ustadz berceramah tentang perlunya menampakkan identitas Islam ini. Saya bisa ambil contoh adalah setelan busana baju koko, yang sudah menjadi trade mark-nya orang Islam berikut sarung dan kopyahnya. Kalau saya amati, busana ini paling sering dijumpai saat sholat jumat. Bagi saya, baju koko bukanlah syariat untuk sholat jumat, jadi entah pakai baju apapun --asal aurat tertutup-- maka sholat jumat itu-pun oke - oke saja.
Bagi saya, baju koko sangat efektif sebagai identitas muslim pada saat sang pemakainya berjalan dari rumah menuju mesjid. Setelah sampai mesjid, fungsi identitas itu sudah lenyap karena memang yang sholat jumat itu ya orang Islam semua. Semua dalam satu mesjid itu satu keluarga yang sudah mengerti kalau semuanya orang islam. Tidak perlu identitas islam di sini.

Lha memang kalau baju koko itu adalah salah satu identitas, mengapa hanya efektif selama 10 menit --saat perjalanan dari rumah ke mesjid ?
Merujuk dari perlunya menampakkan identitas tanpa pamrih, sebetulnya ada baiknya juga kalau busana keseharian orang Islam adalah ya busana Islam. Dalam kegiatan di kantor misalnya, sekarang ini kok jadi malah aneh bila ada orang ke kantor pakai baju koko. Nah yang mungkin memang aneh itu ya kalau ke kantor mengenakan sarung.
Atau jarang kita jumpai ada yang datang kondangan di hotel menggunakan baju koko tersebut (kalau peci sih sudah lazim). Padahal saat itulah kita butuh identitas. Contohnya, dalam resepsi kadangkala ada moslem meal (makanan halal Islam) dan bukan. Bagi saya malah di situasi seperti inilah mutlak identitas itu ditampakkan, bukan di mesjid - mesjid. Ke mesjid sih boleh saja mengenakannya.

Ini sih gamang antar perlu dan tidak perlu, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Dan bisa jadi sikap kita berbeda - beda. Soalnya, saya saja sampai sekarang cuma punya tiga potong baju koko....dan jarang sekali saya pakai, paling - paling saya pakai kalau sedang tamasya, acara RT, atau mengantar istri belanja. Kalau ke mesjid sih saya lebih suka menggunakan baju kemeja peninggalan almarhum Bapak saya.[] haris fauzi - 6 Juni 2006



ULANG TAHUN


'Hari ini hari ulang tahun adik Norma yang ke ......', saya membuka perayaan ulang tahun anak saya yang cuma dihadiri kami berempat.
'...Duaaa...!!!!', Si Sulung menyahut keras.
Setelah mengucap syukur dan memanjat doa, maka kami bebarengan membaca surat Al-Fatihah. Dan sebagai kado utama, Si Sulung membacakan surat Al-Ikhlas khusus untuk ulang tahun adiknya.
Habis itu berurutan dari Ibunya, Saya, lantas Si Sulung bergantian bersalaman dengan Si Monster Kecil Norma yang sedang berulang tahun.

Kado yang terkumpul ada empat bungkus, yang datang dari jauh yaitu dari Eyang Malang. Rupanya Eyang menghadiahi setelan baju. Sementara kado sisanya sesuai kesepakatan kami, berturut - turut buku gambar, buku mewarna, dan pastel warna. Sekarang ini memang Si Monster Kecil lagi demen-demennya mewarnai.

Ditengah acara membuka kado satu persatu dibantu Si Sulung, Istri saya membacakan kartu dan ucapan dari SMS yang masuk. Setelah semua selesai, maka Norma pengen ganti baju baru dari Eyangnya. Ya sudah, maka dipake sekalianlah itu baju.
Acara berikutnya adalah mewarna dan mencoret buku gambar semau - mau Monster Kecil. Sementara Istri saya menyiapkan makanan alakadarnya, yakni kreps coklat keju. Saya sebetulnya pantangan kolesterol, tetapi karena lapar, saya malah habis tiga lembar kue kreps tersebut. Sementara Norma habis selembar berikut coklat yang belepotan di baju barunya.

Sampai disitu saja rupanya rekaman klip ulang tahun anak saya. Durasinya sekitar duapuluh menit. Klip itu saya ambil hari Kamis minggu kemarin ketika anak kedua saya -- Si Monster Kecil Norma-- ulang tahun. Saya sampai nggak sadar kalo hari ulang tahunnya bersamaan dengan ulang tahun Pak Harto, mantan Presiden RI yang perayaan di sambut aksi demo segala. Saya baru ketahui hal itu sehari setelahnya di radio.
Dan pada hari Minggu ini memang sengaja saya membuat klip dalam keping disk untuk saya kirim ke Malang, soalnya via telepon Ibu saya bilang kalo pengen liat dokumentasi acara ulang tahun anak saya itu.

Walau sependek itu durasinya, saya yakin Ibunda akan dengan senang hati menerima dan menyaksikan klip tersebut, karena mirip seperti itulah perayaan ulangtahun kami yang sering dirayakan dan dipimpin oleh mendiang Bapak saya dulu. Juga hanya dihadiri oleh orang rumah saja. Pada ulang tahun - ulang tahun saya dan saudara dahulu 'kala', selalu Bapak memulai dengan sepotong kalimat,'...hari ini hari ulang tahun........'[]haris fauzi - 12 Juni 2006



BBC



Mungkin tidak banyak orang di Indonesia ini yang menyimak siaran – siaran dari radio BBC. British Broadcasting Corporation, kalau nggak salah itu singkatannya. Mengapa tidak ? Entahlah. Yang jelas saya pernah beberapa kali menyimaknya, --tentunya yang versi bahasa Indonesia—dan menurut saya cukup menarik karena mempunyai gaya penyajian yang unik. Walau terus terang ada beberapa sudut pandang yang kurang sesuai dengan maintream pikiran saya pribadi. Ini sih nggak masalah. Toh perbedaan di beberapa pola pikir itu pasti ada dan sah – sah saja hukumnya.


Beberapa hari di saat pagi hendak berangkat ke kantor bagi saya merupakan saat yang tepat untuk mencoba menyimaknya. Saya beberapa kali berkesempatan mendengarkan BBC siaran Indonesia yang disiarkan –direlay-- oleh radio lokal. Kick off pertama, impresinya pasti menarik, apalagi kalau bukan karena jingle musik mereka yang khas sekali. Dan setelah itu, saripati berita – berita yang dipenggal yang pasti membuat kita penasaran. Dan berikutnya adalah pembahasan mengenai beritanya yang sungguh nikmat untuk disimak.


Itulah yang saya dengarkan. Atau kadang juga saya menyimak berita fitur yang dilansir BBC. Atau berita olah raga, sepakbola tentunya idola saya.

Dalam penyiarannya, salah satu ke-khasan dari BBC adalah adanya pengulangan, beberapa kali –bisa jadi berturut – turut-- melansir sebuah topik berita. Entah karena memang berita itu dianggap penting menurut redaktur, atau memang ada kebijakan pengulangan pembacaan berita, yang jelas terjadi pengulangan pembahasan. Beberapa kali saya mendengarkan seperti itu. Ada yang memang menurut saya penting, namun ada juga yang –rasanya-- perlu nggak perlu.

Yang kali itu saya simak dalam beberapa kali penyiaran adalah tentang terjadinya aksi demonstrasi sehari di Teheran Iran. Saya nggak tau seberapa pentingnya aksi demonstrasi ini bagi dunia Internasional, sehingga kok BBC ini beberapakali memberitakan. Jadi, dikisahkan ada demonstrasi sehari yang dilakukan oleh dua ratusan wanita. Mereka mengusulkan agar poligami di larang. Sudah. Itu saja.


Nah, disinilah salah satu letak perbedaan sudut pandang itu. BBC melansir berita dengan pola sudut pandang dunia Eropa, sementara saya selaku pendengar adalah mutlak orang jawa tulen. Pasti berbeda. Bagi BBC mungkin penting melansir demonstrasi seperti itu, namun bagi saya cukup mendengarkan sekali saja. Karena saya memang tidak terlalu tertarik dengan urusan poligami. Dan kita harus bisa memandang bijak dari sudut ketiga, yakni dari lokasi obyek berita itu sendiri. Dalam kasus poligami ini adalah di Iran. Jelas – jelas Republik Islam Iran ini menerapkan hukum Islam yang memperbolehkan poligami dengan beberapa persyaratan.

Dari tiga sudut pandang ini; saya sebagai orang jawa, BBC selaku penyiar yang berbasis budaya barat, dan satu lagi obyek berita itu adalah masyarakat Iran, kita bisa belajar banyak. Selain kita dipadati dengan informasi dan berita, setidaknya dengan menyimak BBC akan melatih kepekaan kita untuk memahami bahwa perbedaan pendapat itu terjadi dimana – mana. Kita bisa belajar dari sisi ini, setidaknya itu. []haris fauzi - 14 Juni 2006



WHEN LOVE AND HATE COLLIDE

Aslinya memang judul lagu dari grup rock Def Leppard, rilisnya di album kompilasi 'Vault' --tahun 1995 (kalo gak salah). Salah satu favorit saya untuk lagu - lagu dari Def Leppard. Lha kok kebetulan ternyata Kakak saya juga demen banget. Buktinya adalah dia duluan beli album 'Vault'.
Dan di suatu hari, kakak saya mengajak saya masuk ke mobilnya, lantas dalam perjalanan dia putar klip video lagu - lagu Def Leppard. Setelah tingkap mini monitornya menyala, dia langsung melompat ke track lagu 'When Love and Hate Collide' tersebut. "Di klip ini, Def Leppard sudah jadi rocker tua seperti Van Halen di album Balance. Ini yang membuat saya demen....', gitu katanya.komentar kakak saya.

Sesampai rumah, disc tersebut saya nikmati satu persatu dari depan. Rupanya agak urut, jadi lagu tertua ada di track - track awal. Ini sadisnya. Di masa muda, ternyata Def Leppard berusaha menjadi rocker yang sangar. Penuh simbolik brutalisme dengan rantai, pedang, kerangkeng, serta dandanan seram. Salah satu cirinya adalah akting model penyaliban gitu. Konon nama Def Leppard adalah plesetan dari Deaf Leopard.

Hingga beberapa lagu, kesan sangar ini terus dipelihara, sampai akhirnya pada lagu yang di rilis tahun 90-an. Mulai era ini penampilan mereka mulai lebih berkesan sebagai orang modern, berteknologi, namun kadang sebagai rocker dia juga masih memakai celana jins dan sepatu boot.
Kesan sangar mulai mereka kurangi, namun rambut gondrong masih melambai - lambai. Sebagian mereka berambut keriting, termasuk vokalisnya, Joe Elliot.
Busana yang menjadi seragam mereka adalah kaos buntung atau rompi, celana jins belel lengkap dengan jaket kulit atau jaket jins, sepatu boot, dan perlengkapan glamming seperti ikat pinggang keling, kalung, gelang yang mencolok. Tapi sudah nggak ada pedang dan acara salib - menyalib.

Asesoris glamming ini mulai dikurangi seiring dengan keuzuran mereka. Mereka pada akhir era ini malahan beberapa kali berbusana pakaian santai, sepatu sport jogging dan hem kembangan seperti dipakai detektif Rick Hunter, yang diperankan Fred Dryer itu. Kesan saya adalah mereka pengen menjadi rocker 'biasa'. Kesan ini nampak pada lagu 'Miss You In A Heratbeat' rilis album 'Retroactive' yang menonjolkan kekuatan akustik.
Catatan tambahan untuk lagu 'Miss You In A Heartbeat' adalah shooting klip-nya dilakukan disebuah vila mewah yang sungguh menggiurkan. Indah sekali.

Selain perubahan dandanan dari rocker sangar menjadi rocker biasa, yang menarik pas awal era ini adalah takdir sang drummer Rick Allen yang karena kecelakaan, maka tangannya buntung sebelah. Istri saya sempat nggak percaya kalo ada drummer yang bertangan satu tetapi gebugannya mantab seperti itu. Saya sungguh terkagum - kagum sewaktu tahun 1996 (?) saya menonton langsung konser mereka di Ancol. Khusus terkagum - kagum dengan drummer tangan buntung ini.
Mungkin --bisa jadi-- kecelakaan ini menjadi inspirasi bagi mereka semua untuk lebih manusiawi, tidak sangar - sangaran kayak drakula. Premis ini sih baru tebakan saya saja.

Mereka jadi lebih manusiawi seiring keuzuran mereka. Nah, dalam klip lagu 'When Love and Hate Collide' ini, mereka tampil benar - benar apa adanya. Elliot sebagai front-man memakai sweater gombor hitam dan celana hitam. Itu saja. Tidak ada dandanan istimewa. Tidak sangar. Tidak glamming atau butut. Rambut Elliot diluruskan potong pendek walau tidak sependek gitarisnya, Phil Collen yang sudah mulai gundul. Seakan nggak percaya bila dalam permulaan karirnya mereka berdandan mirip drakula.

Saya sepakat dengan pendapat Kakak saya, bahwa penampilan mereka disini mirip penampilan grup hard-rock Van Halen dirilis album Balance, yang kalau nggak salah keluar tahun 1996-an. Def Leppard dan Van Halen boleh dikata seumur. Jumlah albumnya barangkali juga hampir sama banyak. Jadi ya maklumlah kalo sekarang mereka juga mirip proses evolusinya. Saya sungguh salut dengan prosesi pencarian diri mereka. Inilah yang membuat saya makin menyukai lagu - lagu mereka. Saya merasa sungguh beruntung pernah menonton langsung konser Def Leppard di Ancol sewaktu rilis album 'Slang'. Dan efeknya bagi saya sekarang ini adalah dalam dua minggu ini saya sangat sering mendengarkan lagu - lagu Def Leppard, khususnya 'When Love and Hate Collide' yang mempunyai coda yang indah sekali....
"...without you...
I can't stop the hurt inside,
when love and hate...
collide..."
[] haris fauzi - 14 Juni 2006



MENUNJUKKAN HAK
DAN HAK UNTUK MENUNJUKKAN

Hak. Bukan Haq. Kalau Haq artinya 'benar', seteru 'batil', 'salah'. Bisa jadi pula mereka se-asal-usul bahasa, soalnya maknanya nyerempet - nyerempet gitu. . Tapi yang saya maksud disini adalah HAK, hak adalah sesuatu yang menjadi milik kita --seharusnya menjadi milik kita.
Pada suatu kisah nyata di jaman keemasan tempo lalu, diriwayatkan bahwa ada seorang pimpinan negara yang memiliki dewan menteri yang kebanyakan mengatakan bahwa masyarakat negeri tersebut dalam kondisi tenteram dan sentausa. Khawatir dengan keterlenaan para menteri, maka pemimpin tersebut menyaru sebagai penduduk biasa, dan lantas menyusuri jalanan untuk mengecek langsung kondisi rakyatnya. Dan ternyata, di suatu malam beliau menemukan bahwa salah satu penduduknya dalam kondisi melarat dan kelaparan. Kontan sang pemimpin merasa berdosa dan beliau membayarnya dengan mengangkut sendiri karung beras untuk keluarga miskin tersebut. Alangkah mulianya sang pemimpin tesebut. Dan juga, alangkah tabahnya penduduk melarat tadi.

Kasus ini bisa jadi karena pejabat tidak teliti dalam memindai kesejahteraan rakyatnya. Atau malah sang rakyatnya --terutama yang papa-- malah tidak menunjukkan haknya.

Kaum melarat itu seyogyanya berhak mendapat jatah bantuan, dana sosial, atau zakat. Suatu saat dia menunjukkan diri bahwa dia berhak untuk mendapatkan hak-nya tersebut. Kaum papa menunjukkan haknya akan zakat atau apapun istilahnya tadi. Disinilah contoh, bahwa untuk mendapatkan hak, kita harus menunjukkan bahwa itulah hak kita. Kita harus menunjukan hak kita. Karena kadangkala memang tidaklah semua orang tahu dan mengerti bahwa itu adalah hak kita.

Itu kisah nyata jaman dulu, berbeda dengan jaman sekarang. Jaman sekarang ini jaman keterlaluan,--setidaknya menurut saya. Kita sering lihat kaum miskin --pengemis-- disepanjang jalan. Mereka sedemikian ekstrem menunjukkan ke-papa-an mereka. Seakan - akan untuk mendapatkan hak, mereka harus bersaing untuk menjadi 'yang paling 'papa', paling patut dikasihani. Repotnya lagi ditambah dengan orang yang berpura - pura jadi pengemis. Makin carut marut.

Jelas disini, bahwa 'donasi' dari kaum mampu (kaya) masih terlalu sedikit dibanding mulut kaum papa yang harus disuapi. Dan lagi ditambah dengan segerombol orang malas yang pura - pura jadi pengemis. Kaum pengemis ini berlomba - lomba menunjukkan diri sebagai yang paling berhak mendapatkan donasi. Mereka semua kaum yang miskin. Satu golongan adalah golongan yang benar - benar miskin dan tidak mampu. Sementara golongan lain adalah golongan yang miskin harga diri, hingga walau masih mampu bekerja, mereka memilih untuk menjadi pengemis.

Ya. Jaman keterlaluan. Itu yang saya sebut tadi. Hal ini masih ditambah pula, dengan adanya 'hak untuk menunjukkan miliknya'. Orang miskin nggak punya apa - apa yang ditunjukkan selain ke-papa-annya, tetapi orang kaya berhak dan boleh pamer. Kalau boleh saya potret disuatu pinggir 'traffic-light', maka hasilnya adalah : pengemis yang menunjukkan haknya, mereka ada yang kaum papa beneran, dan ada kaum yang miskin harga diri. Disebelahnya ada kaum mampu yang berhak menunjukkan miliknya. Ini potret dari kamera saya, mungkin kamera anda berbeda. [] haris fauzi - 19 Maret 2006



MEMANDIKAN TUGU


" Hampir sebulan lalu, ada dua mobil pick-up berisi gunungan sayur dan gunungan buah - buahan. Katanya kedua mobil itu keliling kota terutama ke pasar - pasar sambil menyebarkan edaran. Ibu nggak ngerti edaran apaan. Ternyata setelah keliling kota, dua mobil itu membawa gunungan tersebut ke alun - alun bunder kota Malang.
Malam harinya ada ritual di alun - alun bunder kota Malang yang ditonton cukup banyak oleh orang sekitar. Beberapa orang melakukan sholat disitu, trus memandikan tugu kota. Menurut orang pasar sih itu sholat ghaib mau memandikan tugu. Lha tapi sholat ghaib itu setahu Ibu 'kan untuk menyolati orang meninggal, lha ini kok buat memandikan tugu kota. Padahal tugunya 'kan dhuwur (tinggi), bagaimana memandikannya Ibu juga tidak tau. Wis pokok-e Ibu gak ngerti syariat yang membenarkan kegiatan ini, walau kabar - kabarnya sih yang mengadakan acara ini Pak Walikota. Kalau kata ustadz mesjid sih dia pribadi tidak setuju dengan ritual ini, dan menghimbau agar para jamaahnya tidak mengikuti acara tersebut....", kata Ibu dari telepon di seberang sana, kemarin.

Kota kelahiran saya dimana Ibu tinggal; Malang di Jawa Timur memiliki sebuat tugu yang dibangun jaman Belanda, atau mungkin lebih tua dari itu, pastinya saya tidak hafal. Sekolah Menengah Atas dimana saya nyekolah di sekitar situ juga. SMA Negeri 3 lebih populer dengan SMA Bhawikarsu atau Smanti terletak di komplek sekolahan yang mengelilingi tugu tersebut, sehingga saya juga sering dipanggil dengan anak tugu.

Pada saat saya SMA (?), pagar luar alun - alun yang terbuat dari besi diganti dengan pagar batu. Pagar batu yang diperlengkapi dengan gapura candi - candian inilah yang menjadi tempat strategis para demonstran pada saat ada aksi demonstrasi menentang SDSB di alun - alun kota Malang. Mereka manjat dan mengibarkan spanduk. Keren tenan....

Di sekeliling alun - alun ini tumbuh pohon tua dengan rindangnya, tentu dengan jutaan daun yang telah berguguran setelah puluhan tahun hidup.
Dan pada saat saya SMA, Pak Walikota kala itu sangat perhatian dengan tim sepakbola kebanggan kami, Arema Singo Edan. Kakak saya pernah punya kaos supporternya, sekarang entah kemana. Kalau saya punya kemeja supporter Arema.

Nah, kalau Walikota jaman saya SMP juga demen olah raga, salah satunya adalah tinju. Salah satu sasana tinju yang cukup berhasil adalah sasana Kawanua. Jaman saya SD atau SMP, halaman depan kantor Walikota yang menghadap ke tugu itu ada jam raksasa. Tidak seperti tugu kota Yogyakarta yang berada diperempatan jalanan, tugu kota Malang cukup istimewa karena dia berdiri ditengah kolam yang penuh teratai, sementara kolam itu terletak di tengah alun - alun yang banyak bunganya. Cocok dengan julukan Malang kota bunga, disingkat Makobu.

Pada saat calon istri saya --kala itu-- berkunjung ke Malang, saya sempatkan juga untuk mengajaknya sekedar menyusur dan mengambil beberapa foto di alun - alun tugu tersebut. Seingat saya, tugu itu seharusnya tidak perlu dimandikan, soalnya tidak terlalu kotor. Dia terbuat dari batu hitam, kalau toh perlu dibersihkan mungkin harus dicermati lumut dan rumput yang merayap, bukan debunya. Karena dengan curah hujan-pun seharusnya cukup untuk menggelontor debu tersebut. Tapi semua itu adalah jaman saya SMP, SMA, dan sebelum saya nikah, sekitar tujuh tahun yang lalu. Rupanya setelah sekian tahun, tugu tersebut juga perlu dimandikan. Khususon wabil khusus oleh Pak Walikota sekarang ini, yang karena kurang terlalu hobi olehraga, mungkin punya hobi memandikan tugu. Ah, ada - ada saja pak Walikota ini.[] haris fauzi - 19 Juni 2006



ALIF MIM RA

Konon, pada saat Muhammad merintis penyebaran agama Islam, beliau mendapat banyak hambatan. Pendukung beliau terlalu sedikit, sementara masyarakat yang menentang penyebaran Islam terlalu banyak. Belum lagi diperkuat status quo sistem pemerintahan, tokoh masyarakat dan kepemimpinan yang kebanyakan kontra dengan Muhammad.
Di antara tokoh yang seringkali menghambat dakwah Muhammad ada dua orang, yakni orang - orang yang bernama Umar dan Amru. Begitu hebatnya pengaruh penentangan kedua orang ini terhadap upaya Muhammad, hingga seringkali menyudutkan posisinya.

Amru adalah analis ekonomi, pakar perdagangan, dan lagi dia menguasai ilmu hukum. Walaupun bukan pemimpin suatu suku ataupun kelompok masyarakat, Amru malah sering dimintai nasehat dan pendapat oleh para elite dan petinggi pemerintahan. Ucapannya sering dijadikan pedoman dan dijadikan landasan pengambilan keputusan pemerintahan kala itu.

Umar kabarnya adalah tokoh kuat di suatu suku. Memiliki mental baja, pemimpin dan organisator ulung, serta menguasai jaringan mafia hingga ke dunia hitam. Cerdik, cerdas, berani. Disamping memiliki banyak anak buah yang sangat loyal, Umar juga menjalin hubungan yang baik dengan pemerintahan untuk melawan mafioso dari suku lain. Bagaimanapun juga sektor ilegal harus mampu dirangkul oleh pemerintah, dan Umar adalah orangnya.

Di suatu malam, Muhammad berdoa kepada Tuhannya,"...Ya Allah, berilah hidayah Islam kepada salah seorang dari kedua Alif Mim Ra. Sehingga dia bisa memeluk Islam dan membantuku menyebarkan Agama-Mu...".

Dalam bahasa arab, huruf 'Alif' berarti vokal. Bisa 'A', 'I', atau 'U'. Huruf 'Mim' sepadan dengan konsonan 'M'. Sementara'Ra' sepadan dengan 'R'. Baik Umar maupun Amru memiliki huruf arab yang sama, yakni Alif Mim Ra. Dan dengan permohonan Muhammad ini, maka turunlah Hidayah Tuhan kepada Umar. Setelah memeluk Islam, Umar bin Khattab termasuk sahabat pilihan Muhammad, hingga sempat menjadi khalifah kedua setelah Abubakar. Sementara Amru bin Hisjam sampai meninggalnya tidak sempat mengecap hidayah Islam dan selama hidupnya terus merongrong jalannya dakwah Islam. Dia populer dengan julukan Abu Jahal, yang artinya 'Bapak Kebodohan'.[] haris fauzi - 22 Juni 2006



SPIRITUALISME & MATERIALISME

Ini sebuah wacana atau diskursus yang cukup kompleks. Rasanya tidaklah memadai kapasitas saya untuk menjabarkannya dengan gamblang, tetapi andai harus menunggu semuanya terkuasai, kapankah saya akan mencoba untuk menulis tentang hal ini?

Saya akan mencoba dengan hal - hal yang sederhana. Seperti kita ketahui, manusia itu terdiri dari jasad (materi) dan jiwa (ruh / spirit). Sementara sekumpulan manusia yang membentuk komunitas lazim disebut dengan masyarakat. Seorang filsuf modern asal Iran, Murtadha Muthahhari dalam buku 'Masyarakat dan Sejarah' (Mizan - Oktober 1993) berpendapat bahwa masyarakat terbagi menjadi dua hal juga, yakni masyarakat bendawi (materialis) dan masyarakat ruhaniah (spiritualis). Masyarakat materialis terdiri dari dua kutub, yakni kutub kemewahan dan berseberangan dengan kutub kekurangan. Demikian juga dengan masyarakat ruhaniah terbagi menjadi dua kutub, yakni kutub sesat dan kutub saleh. Jadi total jendral ada empat kutub; kemewahan, kekurangan, sesat, dan saleh.

Muthahhari juga menambahkan bahwa dalam keempat kutub tersebut terdapat kesaling-hubungan. Yakni biasanya masyarakat yang berkemewahan cenderung sesat karena merampas hak orang lain, sementara masyarakat yang terampas hingga kekurangan akan cenderung saleh. Muthahhari berpendapat demikian karena secara historis masyarakat Islam Iran terkomposisi sebagai bangsa yang tertekan dan terampas haknya oleh penguasa Shah Iran yang disokong Amerika, kala itu.

Sejarah benua Eropa sekitar abad 14-15 lebih gamblang meyakinkan masalah dikotomi masyarakat spiritual dan material, apalagi kalau bukan dari kasus renaissance. Semula, setelah melalui jaman kerajaan yang penuh legenda dewa - dewi, masyarakat Eropa beralih menjadi masyarakat petualang yang spiritualis. Agama mereka dijadikan 'way of life' dan disebarkan ke segala penjuru dunia lewat berbagai penaklukan. Perlambang spiritualis, --agama nasrani dan dewan gereja,-- memegang kendali pemerintahan dan hukum hingga ke daerah jajahan. Memang penaklukan ini seperti misi mencari harta atau materi, tapi tidak semata - mata itu. Ssusupan misi relijius sangat kentara.

Namun entah kenapa, agama nasrani di Eropa kala itu sempat berbenturan hebat dengan faksi logika yang baru muncul kemudian. Faksi logika terus berkembang pesat walau sebagai orok yang minoritas. Namun, perkembangan faksi logika ini tetap saja tidak bisa merujukkan kedua ujung filsafat mereka, dan dengan segala hal, kaum spiritualis yang diwakili oleh dewan gereja sering melakukan keputusan sepihak yang menurut kaum logika yang diwakili oleh para ilmuwan sangat merugikan. Ilmuwan banyak yang dikejar - kejar dan dipenjarakan. Kaum terpelajar menganggap masa ini sebagai masa kekelaman atau 'dark ages'.

Friksi dan benturan ini demikian hebatnya. Kaum logika yang cenderung berargumen dengan segala daya pikirnya, tidak menyerah begitu saja terhadap dogma - dogma agama. Ya memang kala itu terjadi pertentangan yang populer antara premis logis versus dogma agama. Sejatinya elite politiklah yang membuat semakin tidak kondusifnya suasana di kota - kota di Italia. Kekecewaan kepada sistem tirani menuntut reformasi politik yang memihak ke publik. Faktor - faktor kompleks inilah yang hingga pada puncaknya benua Eropa malahan beralih wajah. Dogma - dogma itu luntur juga akhirnya oleh gigihnya debat kusir logika. Kekerasan tirani hancur oleh serbuan suara rakyat.
Peristiwa ini populer dengan sebutan renaissance, artinya kelahiran kembali dalam kecerahan. Mereka meninggalkan masa kelam dan menjadi masyarakat yang menganut filsafat modern. Dewan gereja ditinggalkan, dan sebagai gantinya, kaum ilmuwan dan filsafat dipuja - puja laksana pahlawan agung.

Berangkat dari pola pikir logika, masyarakat Eropa paska renaissance lebih cenderung mementingkan sisi perekonomian, yakni materi ketimbang ruhani untuk mendorong kemajuan peradaban mereka. Filsafat modern yang berbasis ekonomi ini menjadikan manusia banyak menemukan alat - alat produksi, transportasi, dan komunikasi. Perkembangan ilmu pengetahuan ini mendorong terjadinya industrialisasi yang membutuhkan dan menghasilkan banyak sekali benda - benda baru.
Dengan perjalanan sejarah seperti ini, selain menjadi masyarakat yang materialis, pelaksanaan sekularisasi terhadap spiritualisme semakin menonjol. Masyarakat Eropa seakan - akan alergi dengan hal - hal ruhaniah dan secara kontan melakukan sekularisasi terhadap spiritualisme. Hasilnya bisa kita lihat hari ini bahwa eksistensi spiritualisme di Eropa adalah kaum pinggiran semata. Kebutuhan ruhani mereka banyak dipenuhi dengan kontemplasi seni dan sastra modern.

Dengan sekularisasi ini, mereka lebih leluasa mengembangkan pola pikirnya. Seperti kita ketahui, masyarakat materialisme Eropa-pun terus berkembang dan menjelma menjadi dua kelompok besar yakni masyarakat kapitalis dan masyarakat sosialis. Perbedaan mereka adalah pada status kepemilikan materi mereka. Kapitalis lebih cenderung mementingkan penguasaan pribadi, sementara sosialis menjadikan materi sebagai kepemilikan kolektif. Mekanisme prinsip materialisme inilah yang menjadi salah satu pemicu, terjadinya perang Eropa yang heboh itu. [] haris fauzi - 27 Juni 2006


KARENA KELUYURAN

Keluyuran banyak memberi manfaat. Keluyuran juga bisa menggeret petaka. Walaupun saya bukan jagoan keluyuran, tetapi pas jaman lajang saya beberapa kali keluyuran. Jelas trip Jakarta - Solo atau Yogya untuk mengunjungi calon istri saya. Tetapi saya kadangkala dengan beberapa teman --2 atau 3 orang-- keluyuran ke sembarang tempat, ke kawasan Kota-Jakarta misalnya. Berjalan dari museum Fatahillah, pelabuhan sunda kelapa, sekaligus memanjat menara pengawas jaman Belanda dulu. Atau memutari pagar kebun raya Bogor. Atau sekedar mencari angin malam berjalan kaki dari terminal Pulogagung ke kos - kosan di dekat kali Sunter. Seringnya berjalan kaki. Dan acaranya beragam, yang paling sering berpindah dari satu toko buku ke toko buku yang lain.

Seringkali keluyuran itu mulai pagi hari, hingga lepas isya sampai rumah kembali. Dan karena melintasi beberapa waktu sholat, kadang kita melewati mesjid saat dzuhur siang hari, dan tidak tahu benar kapan kita melewati mesjid yang lain untuk waktu ashar nanti. Akhirnya biasanya kami sepakat untuk melakukan sholat ashar jamak takdim (di rangkap di awal) di saat zuhur. Perkara nanti saat ashar kita melewati mesjid, ya akan sholat lagi. Ini namanya kesempatan untuk menyempurnakan sholat.
Demikian juga untuk waktu sholat maghrib dan isya, walau jarang. Pokoknya dirangkap saja di awal, perkara nanti bisa sholat, ya sholat lagi.

Beberapakali dalam rangka tugas kerja saya juga melakukan hal serupa : sholat di rangkap di depan, atau yang populer dengan jamak takdim. Rupanya beberapa kali keluyuran yang saya lakukan menginspirasikan saya untuk melakukan hal ini. Walhasil, sekarang ini, bila ada kegiatan atau perjalanan khusus yang unpredictable waktunya, maka saya melakukan shalat jamak takdim. Dan bila sempat, akan disempurnakan nanti di saat dan tempat yang lebih baik. Memang beberapa orang akan menilai saya sedang praktek ilmu aji mumpung. Mumpung ada kesibukan atau perjalanan maka mengambil hak sholat jamak, itu sih sah saja orang menilai demikian. Tetapi selain aji mumpung, saya sebenarnya cuma siap - siap saja, takut kalau perjalanan atau kesibukan kerja akan melenakan sehingga kelupaan sholat. Lha daripada kelupaan karena sibuk, mending siap - siap di depan....Ya namanya juga usaha.[] haris fauzi - 23 Juni 2006

Thursday, June 08, 2006

KENISAH Mei 2006

COBAAN 'TAK MASUK AKAL'

Ya yang namanya cobaan kepada manusia, ya terserah yang bikin, terserah Tuhan mau mencobakan dalam bentuk apa kepada manusianya. Kadangkala malah tidak masuk
akal.
Kenapa begitu ?
Memang salah satu organ terpenting milik manusia adalah otak. Kalau otot, gajah malah punya otot yang lebih baik. Barangkali hanya otak-lah yang bisa menjadi andalan manusia untuk menjadi manusia sesungguhnya. Hanya orang yang memakai otaknya-lah yang menjadi manusia sesungguhnya. Bayangan saya sih begitu. Namun otak-pun masihlah di uji kelihaiannya. Salah satunya adalah kejadian - kejadian yang kadangkala tidak masuk akal.

Tidak masuk akal ?
Atau belum masuk akal ?
Hampir semua kejadian yang pada jaman Majapahit tidak masuk akal, ternyata sekarang menjadi kenyataan. Artinya kejadian tersebut hanyalah 'belum masuk akal'. Memang akal ini disadari punya keterbatasan dalam berkembang. Andai sudah ditemukan api, maka tak khayal
lagi untuk bisa memasak pisang goreng atau membakar sate, suatu hal yang dianggap 'khayal' pada jaman pra-sejarah. Jaman itu mereka hanya tau api itu dari halilintar yang menyambar pohon kering, misalnya.
Fenomena api ini adalah wujud dari perubahan 'belum masuk akal' menjadi 'masuk akal'.

Apakah semua kejadian berarti berada dalam premis 'belum masuk akal' ?

Nah, ini yang susah. Hemat saya, pasti ada kejadian - kejadian yang murni 'tidak masuk akal'. Jadi sampai kapan-pun akan tetap menjadi fenomena 'tidak masuk akal'. Nggak berubah jadi 'masuk akal'.

Menurut saya pribadi, selain dibekali dengan akal, manusia itu juga dibekali dengan kalbu. Otak tempatnya pengetahuan, kalbu tempat bersemayamnya keyakinan. Otak untuk akal, kalbu untuk iman. Bukannya ikutan latah dengan banyaknya media yang menampilkan magis dan cerita seputar kuburan, --saya termasuk yang agak risih dengan kisah horor gaib yang terlalu dieksploitisir oleh media kita, bahkan kadangkala lebih condong ke tahayul habis-habisan.
Tetapi bagaimanapun juga sebenarnya disinilah fungsi 'keyakinan'. Bila ada hal yang 'tidak masuk akal', maka pada saat itu ada baiknya untuk menggunakan tool atau alat yang lain, yakni kalbu untuk menganalisa secara 'keyakinan'.

Adanya kejadian yang aneh - aneh bin gaib, sebaiknya tidak ditanggapi terlalu berlebihan, karena bisa menjebak kita menjadi manusia berjiwa tahayul. Namun mencampakkan mentah - mentah kejadian itu –dimana menurut otak adalah kejadian yang tidak rasional sama sekali-- hanyalah menjadikan kita sebagai manusia yang congkak. Malahan menurut saya sebaiknya kita harus mampu menyikapinya dengan wajar dan proporsional. Tak usahlah kita ambil pusing dengan ulah lakon dalam tayangan itu yang berlagak berkelahi dengan monster gaib yang kadang - kadang malah menggelikan itu, mirip pelawak Basuki kalo lagi 'tukaran' sama Tessi di
Srimulat.

Bolehlah rasanya kita bergumam bahwa mungkin ada salah satu hal yang patut kita tarik dari kejadian ajaib seperti itu, yakni kita harus yakin bahwa Tuhan itu Maha Kuasa. Kuasa atas segala sesuatu baik masuk akal, belum masuk akal, atau bahkan tidak masuk akal –tidak rasional sama sekali bagi kita. Disinilah fungsi kalbu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Karena bagaimanapun juga, otak itu ada batasnya. []haris fauzi - 5 Mei 2006


SEKOLAHAN

Minggu lalu sempat saya bareng Istri mengunjungi salah satu Sekolah Dasar Negeri di kampung kami tinggal. Tahun ini anak sulung kami hendak masuk sekolah dasar. Tujuan saya adalah sekolah dasar negeri yang mumpuni, disamping soal biaya terjangkau, juga agar anak saya cukup bergaul dengan realitas masyarakat biasa. Ini modal dasar agar anak kelak jadi mau mengerti kondisi masyarakat. Juga tentunya tidak terlalu memberatkan modal Bapaknya.

Memang sekolah yang kami jajagi ini bukanlah sekolahan yang moncer atau berkilauan. Tetapi saya punya catatan penting terhadap sekolahan ini, yakni murid - muridnya tidak bermasalah di kelakuannya. Anak-anaknya terkenal tertib, gitu. Saya jadi tertarik ya gara - gara poin ini, karena bagi saya --dalam keadaan jaman seperti ini-- maka pendidikan mental dan budi pekerti jauh lebih berharga ketimbang akademis. Walau jelas saya akui bahwa dengan kepintaran bisa lebih menjamin prospek menjadi orang kaya, terpandang, dan jabatan tinggi.
Tetapi permasalahannya adalah makin banyak saja orang pintar dengan berderet gelar akademis tetapi bermental iblis. Dan kemerosotan budi pekerti ini mungkin tahun mendatang makin dahsyat. Bagi saya, kalau mau selamat dunia - akhirat ya tidak lain harus meningkatkan budi pekerti. Perkara akademis masuk level di bawahnya.

Kembali masalah sekolahan, ini kali memang sekolah unik. Ekstra kurikulernya hanya ada dua --dan tidak populer untuk anak sekarang-- yakni pramuka dan pencak silat. Istri saya sempat tersenyum ketika mendengar penjelasan ini, dan menyebut dengan ' SD silat...'. Dalam bayangan dia mungkin ya mustinya tidak jauh dengan sekolahan favorit lain yang pernah pula kami kunjungi, yakni esktra kurikuler komputer, basket, musik, atau marching band sekalian.
Memang beberapa minggu lalu kami juga sempat mengunjungi Sekolah Dasar lain yang bener - bener favorit, bahkan pernah menjadi Sekolah Dasar Negeri Teladan. Juga kami pernah sekilas mengunjungi beberapa Sekolah dasar swasta yang menjadi impian banyak orang tua di perumahan kami. Sekolah - sekolah itu memiliki beragam kegiatan ektra seperti di atas. Komplit. Biayanya-pun komplit.

Kondisi anak - anaknya 'SD silat' ini sangat lugu, kalo di sekolahan yang teladan memang lebih berkesan glamor, walau sekolah negeri. Apalagi kalo dibandingkan dengan Sekolah Swasta, pastilah beda jauh. Ruang kelasnya juga biasa saja, tetapi tetap sejuk walau tidak menggunakan AC karena banyak pohon tinggi di sana. Sayangnya saya lupa menengok toiletnya. Toilet ini menjadi tolok ukur kebersihan suatu tempat. Saya terinspirasi oleh tindakan pimpinan kerja saya yang selalu menyempatkan nengok ke toilet saat inspeksi ke kantor. Kalau ketahuan jorok, pastilah kita disemprot habis.

Pada pertanyaan lanjutan, ternyata jawaban guru yang menemui kami sungguh diluar dugaan -- dan saya berdoa semoga dia tidak berbohong--. Rasio lulusan 'SD silat' ini untuk masuk SMP Negeri favorit ternyata lebih tinggi dibanding SD yang teladan tadi. Wah, ternyata bocah lugu produk SD silat ini tangguh juga di akademis. Saya jadi makin kepincut.
Lantas, bagaimana keputusan saya ?
Saya masih gamang. Istri saya lebih bingung. Mungkin saya harus menyertakan orang tua saya untuk memberi penilaian akhir. [] haris fauzi - 6 Mei 2006


MENGUBAH HIDUP


"...misalnya ke Jerman atau Amerika Serikat, maka akan terlihat bahwa penduduk kedua negara ini lebih tegang dibandingkan dengan di Inggeris. Dan jika pergi ke negara - negara seperti Birma, yang menduduki tempat yang hampir paling bawah dari segi kemajuan industri, maka terlihat bahwa penduduknya punya waktu yang berlimpah-limpah untuk bersenang - senang..." (EF.Schumacher - Teknologi yang Berwajah Kemanusiaan)


Bila anda amati, hal apakah yang mengubah pola hidup kita ?
Tentunya banyak faktor, baik mengubah pola hidup individu atau secara kelompok. Bisa jadi pergantian ketua RT akan mengakibatkan perubahan pola hidup. Contoh lain adalah pernikahan, pemindahan tempat kerja, kenaikan jenjang sekolah, perubahan status hidup, dan lainnya.

Perubahan dalam hidup itu terangkai berupa sebab akibat, walau tidak terangkai semuanya dengan untaian yang rapi. Contohnya adalah karena peningkatan jenjang kerja, maka taraf ekonomi jadi meningkat. Ini mengakibatkan banyak fasilitas yang akhirnya bisa dinikmati mulai dari kendaraan, alat elektronik termasuk home-theater misalnya. Kebiasaan juga berubah, kalau dulu pagi hari diisi dengan minum kopi, tapi sekarang ada acara mencuci mobil atau menikmati film di rumah, tidak di bioskop.

Banyak sekali faktor dalam perubahan hidup ini. Bahkan kelahiran anak pertama saya ternyata sangat mempengaruhi perubahan hidup saya. Sebelum Salma lahir, maka hampir seluruh siaran liga sepakbola dan kejuaraan Eropa akan saya tonton. Juga siaran balapan formula-one dan motor GP500. Jadwal piala dunia, liga Eropa, seri balapan, semua saya monitor dalam agenda harian dan kalau perlu saya tempel di dinding. Resiko mengantuk di kantor-pun nggak terlalu soal asal bisa nonton pertandingan - pertandingan tersebut.
Juga menonton film. Seri x-file-nya David Duchovny dan Millenium gak pernah ketinggalan berikut Ketoprak Humor Samiadji dan Srimulat-nya. Belum lagi beragam berita yang selalu saya nikmati.

Namun semenjak tahun 2000 itu semua jadi nggak greget. Kegiatan nonton bola di larut tengah malam yang biasanya tidak pernah saya lewatkan, kali ini sudah sesempatnya saya ikuti. Juga adanya rencana tayangan ulang film Millenium ternyata tidak terlalu menggugah semangat saya untuk mengikutinya. Yang namanya anak ternyata membuat saya harus mengatur hidup. Mengubah pola.

Biasanya perubahan hidup yang dipengaruhi faktor ekonomi secara positif --meningkat-- akan dengan mudah disesuaikan oleh seseorang. Catatan untuk perubahan kondisi kas ekonomi yang membaik, layaknya membuat orang hati - hati, supaya tidak menjadi gembleleng, kaya mendadak, supaya jangan lantas boros. Tuntutan sikap hati - hati ini tetap saja ada walau hal ini masih saja lebih gampang. Tetapi perubahan ekonomi yang menurun rasanya akan sulit kita hadapi. Saya pun begitu. Saya butuh waktu yang panjang untuk menyikapi perubahan kondisi ekonomi yang menurun ini. Saya perlu jauh - jauh hari untuk mengantisipasinya, sampai istri saya pernah berkomentar,"Apa iya sih ekonomi bakal seburuk krisis ekonomi jaman Pak Harto lengser ?". Gitu tanyanya pas dua tahun lalu saya menyusun rencana kebijakan ‘tighten the belt’ uang ketat keluarga menyusul kenaikan harga BBM. Toh dua tahun lalu saya sudah mencoba mengantisipasinya, namun tetap saja sekarang ini saya cukup kedodoran. Saya jadi sering berhitung dengan kekuatan dompet saya bernafas. Kalau sudah tipis artinya nafasnya sudah pendek. Nah, acaranya berikutnya adalah nagih utang untuk memperpanjang nafas.

Petakompli-nya adalah ke anak - anak. Mereka tidak akan saya lepas begitu saja untuk 'berfoya-foya' dan bermanja - manja. Disamping karena saya tidak begitu cocok dengan budaya tersebut, saya juga mempersiapkan anak - anak agar memiliki 'sense of prihatin'. Mungkin bagi sebagian orang tindakan saya itu terlalu dini, atau hanya phobia, atau hanya ketakutan yang berlebihan.
Namun bagaimanapun juga bagi saya prioritas sekarang adalah 'sense of prihatin' ini. Karena dalam sejarahnya, belum ada ceritera bahwa hidup manusia ini makin lama makin mudah. Memang dengan bantuan kemajuan teknologi lantas ditemukannya beberapa alat akan mempermudah hidup manusia, tetapi pada prinsipnya sekarang ini manusia bertarung lebih keras untuk mendapat makan. Dan persaingan akan makin keras di masa - masa mendatang.

Beberapa kemajuan teknologi lebih berperan menciptakan sarana persaingan mendapatkan makan. Bukan mempermudah mendapatkan ransum makan. Banyak kaum filsafat berpendapat bahwa manusia di desa dahulu lebih bisa menikmati hidupnya ketimbang manusia modern yang keras persaingannya, walau manusia modern memiliki teknologi yang lebih maju. Manusia modern terbukti kehilangan waktunya untuk menikmati hidup karena harus terus meningkatkan daya saingnya dari waktu ke waktu. Ya ini sih penilaian sepihak saja. Mungkin hanya filosof genre Thomas Aquinas saja yang berpendapat seperti itu. Saya tidak sepenuhnya yakin, tetapi bagi saya penilaian itupun tidaklah salah. Bagaimanapun juga pesan musikus Genesis seperti dalam 'Land of Confusion', 'Too many people make too many problems' dari album 'Invisible Touch' ada benarnya juga karena sebenarnya pesatnya permasalahan hidup berpacu lebih cepat ketimbang kesiapan manusia menghadapinya. Dan permasalahan yang makin tak tertangani akan berujung di satu letupan dahsyat yang bernama kiamat. Kiamat ini telah semakin dekat saja. Demikian kata orang - orang tua. Manusia diawali dengan tiupan roh lantas diakhiri dengan melayangnya nyawa, alam semesta ini dimulai dari serpihan, dan akan kembali menjadi puing debu.[] haris fauzi - 8 Mei 2006


LIST

Akhir minggu ini bila ada waktu luang saya rencananya hendak membuat data dari koleksi CD, VCD, dan DVD yang saya punya. Bukannya sok-sok-an atau 'turah wektu'. Tapi daftar inventarisasi ini sebetulnya adalah prosedur normal. Walau cuma punya sedikit koleksi, tetapi adanya daftar ini sangat menunjang hobi koleksi mengoleksi sesuatu.

Dulu, jaman saya SMP pernah melakukan serupa, untuk buku koleksi saya kala itu. Sekitar tiga puluh buku.
Beberapa rekan saya, punya daftar koleksi CD yang demikian rapi dan up-date. Sempat bikin ngiri. Iri karena koleksinya yang aduhai, juga ngiri akan ketelatenannya melakukan dokumentasi inventaris koleksinya. Dan juga sempat malu juga ketika ada yang nanya,"...Bung Haris, boleh lihat list koleksinya dong...". Saya tidak punya, tepatnya belum punya.

Sebetulnya bukan hanya CD, tetapi koleksi buku juga rasanya mutlak untuk di-inventarisir. Namun melihat keragaman komposisinya, buku membuat keder untuk di list.
'Sort by' apa ? Judul ? Pengarang ?
'Racking by' apa ? Tematis ? Dimensi Buku ?
Trus, apakah majalah, tabloid, fotokopian, juga di-inventarisir ?
Batasan masalahnya apa ?
Yah, yang seperti inilah yang bikin sulit. Kalau CD, VCD, DVD paling - paling beranjak dari dimensi dan model datanya. DVD kebanyakan berbungkus lebih tinggi ketimbang CD atau VCD. DVD atau VCD juga tinggal dikelompokkan tema musik dan sinema. Lantas kerjaan sisanya yang semuadiurut berdasar abjad saja.
Sementara untuk edisi khusus, CD dan VCD juga memiliki dimensi yang keluar pakem. Ini bisa dianomalikan, tapi tidak terlalu banyak (kalau buku minta ampun deh!). Hal ini juga berlaku untuk CD kompilasi yang artis-nya beragam (various artist). Bisalah kalo disimpan tersendiri.
Gampang 'kan ?

Gampang apanya ...???
Sebetulnya ada lagi yang lebih gampang, yakni inventarisir kaset. Saya mungkin punya sekitar 350 biji kaset. Dimensi kaset itu relatif seragam ketimbang buku atau CD. Pekerjaan inventarisirnya sih sebetulnya tinggal 'sort by artist' sahaja. Atau ada koleksi 'emas' seperti album art-rock keluaran YESS Bandung yang layak dianimalikan. Nah untuk ini kan tinggal dikelompokkan dalam satu rak. Lemari kaset-pun sudah saya buat sendiri --my handmade-- sekitar tiga tahun lalu. Tinggal bikin inventarisir thok. Thok thil !
Namun kenyataannya sampai detik ini tidak jua muncul list kaset tersebut, kaset itu hanya nangkring di rak tanpa aturan. yang penting berjajar. Kalau itu barisan tentara, maka siapa serdadu dan siapa perwira tidaklah kentara disitu. Bergumul macam pasar saja antara pembeli, penjual, dan pepaya tidak beraturan. Alangkah kasihannya....

Yah. Mungkin masih belum jadi budaya bagi diri saya untuk melakukan inventarisir dengan benar. Padahal inventarisir ini adalah hal yang penting. Ada Pakar Manajemen yang bilang bahwa kunci dari keberhasilan roda manajemen ditentukan pula oleh tingkat kemampuan dokumentasi dan inventarisir. Karena dari dokumentasi dan inventarisir bisa diperoleh jejak telusur dan kapital yang ada. Nah lo.... Kapan Anda akan melakukan membuat 'list' atau daftar inventarisir koleksi Anda ?[] haris fauzi - 11 Mei 2006


8.04 105

Beberapa jam sebelumnya saya terima email dari rekan saya, seorang pengamat musik-- bahwa dia akan on-air--siaran pada pukul sembilan malam di sebuah radio bergelombang 105 FM. Rencananya teman saya akan membicarakan perihal grup progresif rock The Flower Kings. Kebetulan hal itu saya ingat saat tengah duduk di belakang kemudi Zulficar --nama mobil tua saya. Saya menyalakan radio dan mencari gelombang tersebut. Waktu masih menunjukkan pukul delapan malam. Jelas belumlah ada siaran oleh teman saya itu wong masih jam delapan.

Ternyata acara siaran saat itu adalah ngobrol soal kesehatan. Tentang apa saya duga adalah perihal kesehatan ibu hamil. Sebetulnya saya tidak terlalu tertarik mendengarkan hal itu karena istri saya tidak sedang hamil, saya hanya ingin pada pukul sembilan malam saya tidak kelewatan saat sang penyiar menyebutkan "......Malam ini saya bersama Bung Suryo, seorang pengamat musik....Memperbincangkan karya-karya dari sebuah grup progresif rock bernama The Flower Kings.....". Itu yang saya nantikan.

Tapi..tunggu,.....tunggu dulu !
Saya terpaksa menyimak lebih peka lagi. Saat itu display dashboard menunjukkan 8.04 105. Pukul delapan lebih empat menit malam hari, gelombang radio seratus lima.
Ternyata salah satu pembicara dalam acara kesehatan itu menyampaikan hal yang indah sekali.
"Kadangkala dalam berdoa kita mendikte kepada Tuhan. Ya Tuhan berilah saya anak laki - laki...Ya Tuhan berilah saya anak yang cakap...", gitu katanya.
Saya tertegun sejenak. Seringkali saya berbuat seperti itu. Seringkali saya mendiktekan maksud kita kepada Tuhan melalui doa - doa. Pada saat istri saya hamil anak pertama, saya berdoa --mendikte-- kepada Tuhan agar anak saya lahir laki - laki. Juga saya berdoa --mendikte-- agar anak saya lahir bebarengan dengan ulang tahun Bapak saya. Saya tidak tau benar apa 'itukah doa ? itukah mendikte ? itukah harapan ?'. Yang jelas anak sulung saya lahir perempuan --tidak sesuai dengan dikte saya, namun memang harapan saya terkabul dia lahir pas hari ulang tahun Bapak saya.

"Padahal yang tau kebutuhan kita adalah Tuhan. Kita butuh anak lelaki atau perempuan, itu pastilah Tuhan lebih tau...", gitu imbuh pembicara tersebut.

Berdoa memang sebuah keharusan. Berdoa agar anak kita lahir sehat, atau tidak ditimpa kesulitan, atau berdoa apapun ---berjuta doa yang telah dianjurkan oleh agama kita masing - masing. Itu wajib dilakukan sebelah - menyebelah dengan ikhtiar. Tetapi kadangkala dalam berdoa kita terjerumus menjadi pendikte arah hidup kepada Tuhan. Seringkali kita menjadi komentator terhadap jalannya hidup yang telah diatur Tuhan. Komentator yang sering mengkritik jalannya pertandingan. Bahkan tak lepas pula sering kita menyudutkan perkara hingga akhirnya kita mengeluhkan takdir, menyalahkan Tuhan sebagai sebab musabab suatu kesusahan. Alangkah salah-kaprahnya ! [] haris fauzi - 16 Mei 2006



KM 22

Di sebuah ruas jalan tol, saya saksikan disebelah kiri -- jalur darurat paling kiri-- ada tiga kendaraan berhenti , atau tepatnya tengah parkir,- dengan jarak pendek. Satu bus penumpang --entah penuh penumpang atau tidak-- selang sekitar sepuluh meter ada dua truk militer menyusun seri di depannya.
Satu orang tentara --mungkin salah satu penumpang truk tadi-- dengan tongkat rotan seukuran panjang satu meteran berdiri di sisi depan bus, berteriak - teriak dan seakan - akan berusaha memecah kaca depan bagian kemudi setelah menghajar spion kanan bus tersebut. Serpih kaca berantakan di sekelilingnya.

Hanya itu yang saya lihat. Saya tidak menyaksikan dengan seksama karena saya tengah melaju berada di jalur tengah. Saya hanya menduga apa gerangan yang tengah terjadi. Mungkin memang supir bus itu kurang ajar mengemudikan kendaraannya sehingga memotong atau menghalangi atau bahkan bersinggungan dengan barisan truk militer tadi. Suatu hal yang memang menjengkelkan, dan sebenarnya hampir semua orang tidak menghendakinya. Jelas pasti seseorang nggak akan senang lajunya dipotong sembarangan, dan bisa jadi yang memotongpun secara nurani juga nggak pengen hal itu terjadi. Apalagi bakal berurusan dengan 'man with the gun'. Sopir bis itu-pun mungkin tidak menghendaki hal tersebut, tetapi kalau kecerobohan terjadi sudah apalah daya. Nasib digebugin atau kaca spion pecah sudahlah menjadi resiko yang harus ditanggung. Paling ujung si Sopir cuma bisa 'ngerasani', "ah... tentara kayak gitu mah bisanya perang sama rakyat kecil kayak saya ini...padahal saya kan cuma gini... gitu...". Masing - masing punya pembelaan buat kasusnya. Itu sih wajar.

Ya. memang jalan tol itu penuh problem. Mulai dari kucing, ayam, kambing hingga anak sekolah-pun bisa menyeberang sembarangan. Yang tentunya ini membuat pengemudi kaget. Belum lagi ulah sopir - sopir yang nyerobot pintu tol, salip kiri - kanan. Atau bahkan kejadian ada deretan konvoi di jalur cepat. Mobil umum ugal - ugalan, mobil pribadi kebut - kebutan, mobil militer jalan merayap di jalur cepat. Semua pingin menunjukkan kecongkakannya, pamer kekuasaan dan kekuatannya di jalan tol. Itu kesan umum yang ada. Semua itu saling membuat mengumpat.
Kejadian bis bikin ulah diatas memang beresiko jika dia lakukan terhadap kendaraan tentara. Namun, apabila yang melakukan ternyata kendaraan tentara terhadap sopir bus, apakah sopir bus tersebut berani untuk memecahkan spion truk tentara ?
Boro - boro itu, menyetop saja tidak bakalan berani. Demikian juga andai bila bis tadi berlaku main pepet seenaknya terhadap mobil pribadi, bisa jadi sopir bis tadi akan tersenyum saja memandang dengan ekor matanya kepada mobil pribadi yang dia pepet.

Jalan tol juga sering macet. Kalau sudah begini ini urusannya jadi beda 'mumet'-nya. Untuk kendaraan dengan kopling otomatis maka kaki kiri tidak perlu pegel - pegel. Namun urusan bukan sekedar menginjak pedal kopling dengan kaki kiri. Tengoklah bagaimana mobil pribadi main adu lompat berpindah jalur begitu ada kekosongan di jalur lain. Sementara mobil aparat sering juga menambah hiruk - pikuk suasana dengan sirine-nya minta prioritas. Pernah suatu hari saya dengar keluhan seorang pengemudi mobil yang disiarkan on-air di radio bahwa dia barusan di tengah kemacetan didesak minggir oleh mobil aparat ber-sirine yang buru - buru hendak lewat, namun ternyata mobil bersirine itu sama tujuan dengan mobil yang mengeluh tadi : "warung soto betawi". Keduanya lapar rupanya, cuma kalau menggunakan mobil bersirine bakal bisa lebih cepat perut ini terisi oleh soto hangat ketimbang yang lainnya, walau ulah ini bikin pusing ratusan orang yang lagi ber-macet-macet ria.
Bis umum ? mereka sering main pepet dan seakan - akan mencoba beradu badan terutama menjelang penyempitan jalan. Adu berani dengan mendekatkan kendaraan gede mereka ke bodi mobil lain. Siapa nggak keder ?

Ya itu tadi, itu hampir semuanya ( tidak semuanya) pamer kekuasaan dan kekuatan di jalan tol. Ini sudah adab, atau budaya pemakai jalan tol di sini. Jalan tol menjadi salah satu simbol betapa masyarakat kita masih sangat terbelakang dalam pendidikan. Mungkin kalau di luar negeri akan beda lagi perangainya. Simbol di jalan tol membuktikan bahwa di antara kita masih saja membiasakan diri menggunakan 'kekuasaan dan kekuatan' sebagai identitas. Kekuasaan dan kekuatan fisik. Kekuasaan dan kekuatan ditunjukkan untuk diketahui orang lain agar dihormati atau mendapat prioritas, atau agar urusannya lancar. Ini poin-nya. Padahal semua orang juga tau bahwa kekuatan fisik hanyalah perlambang kebiadaban, hukum rimba, tidak berpendidikan. Kata kebanyakan orang 'ciri menggunakan kekuatan itu menunjukkan kelemahan intelektual'. Ya itu sih sudah jamak, semua orang di Indonesia ini juga tahu. Toh semua orang juga tau bahwa korupsi itu berdosa, tetapi kenapa masih dilakukan juga ?[] haris fauzi - 16 Mei 2006



WARTAX

Bung Wartax; nama aslinya saya kenal dengan Anwar Holid, pertama jumpa di sebuah milis tentang buku. Lucunya dia sering angkat komentar ketika saya sesekali menyangkut pautkan antara dunia perbukuan dengan dunia musik rock. Dari pengamatan saya, dia selain hobi membaca novel, juga dengan enjoy melakukan editing dan menjalani profesi tulis - menulis.
Dan ketika saya mulai menulis kenisah, alamat email Bung Wartax merupakan 'target' pertama saya. "..dari tulisan Anda, kita punya beberapa persamaan...", demikian kurang lebih tulisan Bung Wartax suatu kali mengenai tulisan - tulisan saya. Bung Wartax jugalah yang sering memberi koreksi terhadap tulisan - tulisan saya. "..sayangnya tulisan kenisah sering terlalu pendek...", salah satunya gitu. Kalau urusan yang ini memang saya berusaha agar tulisan saya tidak usah terlalu panjang, karena memang agar cepat selesai dibaca. Lebih ringkas dan sangat mungkin dibaca di kantor.

Beliau ini sering mengisi kolom di koran ibukota, bahkan tanpa diduga dalam tulisan kolomnya pernah melakonkan diri saya sebagai salah satu lakon utama, lengkap jatidiri saya berikut profesi saya yang sekarang. Rasanya baru kali ini diri saya diulas oleh jurnalis sekaliber dia walau cuma satu paragraf. Adik saya yang membaca tulisan tersebut sempat pula memberikan komentar tertulisnya.

Ketika saya mencoba mendokumentasikan seri tulisan - tulisan saya dalam sebuah blog, ternyata dia-pun telah melakukannya, dan dengan format yang sama pula. Entah persamaan apalagi ini. Lucunya, ketika saya sampaikan pertanyaan seputar editing blog dimana saya kebingungan, beliau juga tidak bisa menjawab alias sama juga bingungnya.

Dalam benak saya, Bung Wartax ini pastilah jurnalis tulen, dia pastilah lebih dari saya yang cuma pernah menjadi jurnalis mahasiswa. Dan lantaran saya lulusan sekolah teknik maka saya bekerja di pabrik. Jadi upaya saya menulis sekarang adalah sisi samping dunia saya. Tentang kegiatan jurnalistik mahasiswa saya punya catatan bahwa beberapa teman kampus saya yang juga menekuni dunia jurnalistik mahasiswa kebanyakan sekarang berprofesi sebagai orang pers --walau dia bukan lulusan disiplin ilmu komunikasi. Pada saat saya mendengarkan radio , pernah disebutkan nama rekan kuliah saya sebagai reporter. Entah kebetulan namanya sama, atau reporter tersebut memanglah teman kuliah saya yang kala mahasiswa memang rajin sebagai aktivis jurnalistik. Jadi rupanya kegiatan ekstra kurikuler dia malah menjadi bidang profesi dia sekarang, bukan dari disiplin ilmunya. Mereka semua sangat menikmati dunia jurnalistiknya. Itu penilaian sepihak yang ada dalam perasaan saya, sehingga dengan segala daya upaya dan kesempatan, sekarang saya ini-pun tengah berusaha mencicipi dunia tersebut.

'Halaman Ganjil' merupakan lini produk tulisan Bung Wartax. Rutin saya menerimanya. Awalnya saya menerima dari posting milis, tetapi kemudian alamat email saya mendapat kehormatannya untuk mendapatkan posting langsung. Kami-pun saling bertukar tulisan.
Suatu saat saya menerima posting dari Bung wartax bahwa posting tulisan saya ternyata secara otomatis masuk kategori bulk di foldernya, dan langsung hapus."...sudah lama sekali saya tidak menerima posting kenisah lagi, ternyata posting Anda masuk ke bulk...", tulis Bung Wartax.
Memang sejauh ini saya melakukan posting tulisan - tulisan saya melalui email kantor, dan setelah kejadian itu saya merubah posting saya melalui email gratisan yang umumnya orang kebanyakan pakai. Dari perubahan asal posting ini, saya berharap tulisan saya tidak masuk kantong bulk.

Samudera tulis-menulis ini memang luas sekali. Walau cuma kebagian sepucuk buih ombaknya, ternyata saya menikmati dengan puas. Asli salah satu kesenangan saya ada di sini. Samudera ini terkait erat dengan filosofi kehidupan, petualangan spiritual dan relijiusitas, sekaligus bertautan pula dengan dunia musik. Karena penulis sekaliber Gola Gong juga mengagumi musisi Peter Gabriel, idola saya. Saya tau hal ini karena Bung Gola Gong pernah kirim posting ke saya perihal anaknya yang bernama Gabriel.

Ya begitulah. Ihwal tulis-menulis memang mengasyikkan lantas menambah banyak wawasan dan teman. Cuma menurut penilaian saya, banyak orang yang belum sempat mengerti, bahwa sepucuk buihnya itu sahaja telah demikian nikmat. Kalau tidak percaya, silakan coba ! [] haris fauzi - 16 Mei 2006


HANTU

Makhluk satu ini memang fenomenal. Ada banyak julukan bagi dia, walau intinya satu : makhluk halus. Sehalus apa saya nggak perlu tau. Di desa Kakek saya di kaki gunung Merapi memang hantu sesekali menunjukkan eksistensinya --walau secara tidak langsung. Teman kuliah saya yang sempat saya ajak maen ke desa kakek saya juga berkomentar hal itu, '..rasanya disini ada beberapa makhluk halus nih...', gitu ungkapnya walau sebenarnya saya tidak ngomong apa - apa. Dia ngomong gitu pada saat tengah malam mau rebah tidur. Saya yang sudah tau jadi semakin kecil hati.
Bukan hanya itu, beberapa kejadian aneh memang kadangkala kita alami di rumah itu, namun seperti nasehat Kakek saya sendiri, kita selalu berusaha membiarkan saja. Makhluk halus itu diyakini ada, tetapi tidak untuk diperhatikan, apalagi di manja - manja diberi sesajen.

Teman anak saya seringkali berbicara soal hantu. Bahkan kadangkala menakut - nakuti temannya, ini yang malah bikin anak saya jadi makin takut hantu. Awalnya saya nggak ngerti entah kenapa kok Salma jadi takut tidur sendirian. Takutnya keterlaluan lagi. Setelah saya pelajari ternyata dikalangan konco - konconya sedang demen ngobrol hantu, jadinya kebawa takut sekalian. Gawat juga pergaulan ini. Kayaknya karena tayangan tivi berhantu - hantu itulah yang membuat anak - anak juga sering jadinya ngomong soal hantu.

Andai Salma ketakutan saat hendak sendirian ke dapur atau ke kamar mandi, maka saya tidak berusaha menemaninya. Biarin aja. Kalau kepepet baru saya suruh adiknya yang belum genap 2 tahun untuk menemani kakaknya. Adiknya, Norma, tidak takut hantu, soalnya temen - temennya masih belum begitu terdramatisir oleh obrolan hantu.
Suatu saat listrik mati dan lampu padam, maka kontan kedua anak itu teriak - teriak. Si Salma ketakutan, tetapi si Norma kegirangan seperti dapat kejutan, dan baru nangis karena terantuk meja. Soalnya Norma biasa berlarian bila hatinya sedang surprise. Lha istri saya belum sempat menyalakan lampu minyak, dia nggak peduli, lari aja semaunya sampai terantuk.

Akhir-akhir ini Salma menunjukkan keberaniannya. Paling - paling cuma merengek dikit andai disuruh bergelap - gelap sendirian. 'Ayah, disitu ada apa tuh ya..kok bunyi klothak - klothak...', gitu dengungnya agak khawatir. Saya paling hanya menjawab meremehkan,'....Ah.. paling - paling juga hantu...Entar kalo kita kesana pastilah hantunya pergi karena takut sama kita'.

Terus terang saya sebenernya juga nggak yakin berani kalau di depan muka saya tau - tau ada sesosok tengkorak yang terbang, atau ada tuyul yang berlarian menyelinap kaki. Saya-pun berasa merinding bila berjalan melewati daerah angker. Beberapa kali saya mengalami hal ini, termasuk ketika suatu kali saya harus memasuki aula yang katanya angker. Walau masuknya saya berombongan, saya sungguh takut, tetapi karena ada adik kelas saya, dan beberapa dari yunior ini adalah mahasiswi, maka saya kuat - kuatkan hati ini. Senior pantang malu nih. Tapi ternyata malahan beberapa adik kelas jadinya kesurupan. Berabe juga nih hantu kalo ditantangin gini. Namun ketakutan dan merinding itu wajar bagi saya, lhawong ketemu orang yang belum kenal saja kita perlu waspada, apalagi ini ketemu hantu.

Ya sudahlah. Gak perlu panjang - panjang ngomongin hantu. Yang jelas dia itu ada. Makhluk halus itu ada. Tapi biarin saja, mereka hidup di dunia mereka. Dan sebaiknya jangan sekali - kali berkomunikasi dengan mereka, apalagi memanggil lantas berkolaborasi, atau malahan mengiba - iba dengan sesajen. Malah bikin repot. Lha wong urusan sesama orang saja sudah banyak masalah kok malah mau berbisnis dengan hantu, bakalan ketipu lagi..... Ada - ada saja ! [] haris fauzi - 21 Mei 2006



_____

tulisan ini khusus dibuat memenuhi permintaan redaktur Majalah Mahasiswa SOLID.
Let's get Rocked !

----------

PEMIMPI

Ada hal yang menarik dalam sekumpulan individu, suatu masyarakat. Kalau kita bayangkan, sekumpulan orang itu-pun pada dasarnya juga seperti individu. Dia memiliki kehendak, memiliki tindak - tanduk, memiliki kebiasaan. Hanya bedanya individu itu memimpin diri - sendiri, dan mungkin dipengaruhi oleh orang lain. Tetapi masyarakat lebih cenderung bertindak karena ada yang menggerakkan, entah itu masyarakat lain atau ada pemimpin di antara mereka.

Kemudian, suatu masyarakat memiliki rasa frustasi, euophoria, dan melankolis juga. Ah, detilnya saya tidak terlalu faham. Tetapi yang saya sempat amati, bahwa masyarakat itu seringkali terjebak dalam kebekuan. Istilah kerennya 'dark ages', masa - masa suram. Bagi saya yang beragama Islam, hal ini biasa disebut dengan jaman jahiliyah.
Susah sekali mencairkan kebekuan masyarakat itu. Susah sekali keluar dari masa - masa suram. Seorang bocah yang frustasi saja mungkin sudah terlalu merepotkan keluarganya, boro - boro memulihkan. Lha ini suatu komunitas individu, atau sebuah bangsa sedang mengalami depresi, mengalami masa suram. Betapa sulitnya.

Tetapi kita haruslah ingat, Eropa di jaman pertengahan bisa keluar dari kungkungan masa kegelapan berkat gerakan renaissance, walaupun gerakan itu berdampak semakin menjulangnya nilai - nilai materialisme sehingga nilai spiritual semakin tersingkir.
Sayapun juga tidak bisa mengabaikan bahwa dunia ini juga pernah mengalami masa kebodohan --jahiliyah-- yang demikian akut, dan akhirnya bisa terbebas karena aplikasi nilai - nilai Islam. Renaissance dan pewahyuan Islam. Mungkin banyak contoh yang lain.

Seorang tokoh revolusi Iran, --Ali Syariati-- pernah berpendapat bahwa kesulitan dalam membebaskan masyarakat dari kebekuan adalah terletak pada mitos dan legenda yang berlaku di masyarakat tersebut. Biasanya suatu masyarakat sering beranggapan bahwa akan muncul Imam Mahdi, Ratu Adil, atau tokoh kharismatis yang bakal membebaskan mereka. Ya ini wajar. Dengan kemunculan seorang tokoh, biasanya bisa membawa banyak perubahan. Itu yang terjadi di tanah Arab pada saat runtuhnya era jahiliyah karena datangnya tokoh hebat bernama Muhammad. Ini contoh bahwa seorang tokoh pencerahan mampu menggerakkan masyarakatnya untuk bangkit.
Tokoh inilah yang memulai dengan gerakan penyadaran. Sadar bahwa berada di tengah - tengah kegelapan. Lantas dia memotivasi seluruh lapisan untuk ikut tersadarkan.

Seorang--beberapa orang-- tokoh tersebut bisa muncul dari dalam komunitas atau datang dari dunia lain. Namun ada baiknya janganlah terlalu berrharap tokoh itu akan datang dari sisi dunia lain. Sebaiknya masyarakat itu mampu melahirkan tokoh yang mencerahkan ini. Jangan terlalu mengandalkan 'legiun asing'.

Ya sebenarnya tidak hanya tokoh yang berpengaruh. Kesulitan yang lain dari 'pembebasan' ini adalah legenda yang berlaku di masyarakat itu. Seringkali masyarakat terbelakang cukup terhibur dengan dongeng - dongeng masa keemasan tempo dulu. Terbuai dengan kisah heroik jaman dulu, terbuai dengan gemah ripah loh jinawi jaman dulu.... sehingga melupakan kekelaman yang tengah terjadi. Ini hanya mimpi yang membelenggu, bermimpi di tengah kebodohan. Kalau dirangkaikan akan jadi masalah yang besar. Contohnya ya bangsa yang tengah tersungkur ini. Terbuai dengan kekayaan alam yang pernah dimiliki, dimana sekarang sedang dikeruk habis oleh orang lain. Masih terus terbuai oleh dongeng sebagai bangsa yang besar nan agung di masa kejayaan Sriwijaya dan Majapahit, padahal sekarang bangsa ini menjadi salah satu bangsa paling korup di jagad raya. Dan yang terakhir, mengharapkan bangsa lain untuk menjadi pahlawan dengan pemberian donasinya.

Alangkah sulitnya untuk menyadarkan, membangunkan --tepatnya: membangkitkan-- bangsa pemimpi yang tengah bermimpi panjang ini. Atau malah pingsan barangkali. Namun sesulit apapun, harapan itu masih ada. Tuhan selalu memberikan solusinya. Ya, harapan kita terutama bisa jadi ada pada Tuhan. Bisa jadi Tuhan akan menjadikan salah satu putra bangsa untuk menjadi pahlawan. Mungkin pula Tuhan akan membuat babak baru kisah perjalanan atau babad bangsa ini.
Bila kita menyandarkan harapan kebangkitan pada kehendak Tuhan, maka salah satu cara untuk mendapatkannya adalah dengan menjadi kekasih Tuhan. Asumsi sederhana saya adalah Tuhan akan mengabulkan permintaan kekasih-Nya. Namun, sebagai calon kekasih-Nya tentu tidaklah gampang, kita harus berusaha untuk memenuhi perintah dan kriteria-Nya. Bangsa ini harus memperbaiki diri untuk tidak mengulang kebobrokan mental yang selama ini telah terjadi. Itu dulu yang harus dikerjakan. Namun bagi bangsa sebesar ini, hal itupun tidaklah mudah karena pelanggaran yang terjadi telah sedemikian banyak. Untuk ini-pun mungkin kita butuh tokoh yang menyadarkannya.
Waduh,..kok jadi kayak lingkaran setan begini...?

Disinilah fungsi tokoh penyadaran itu. Bahwa tokoh penyadaran harus memiliki kemampuan menyadarkan. Lha kalau kita tidak kuat untuk menyadarkan sebuah bangsa, mungkin kita memiliki kuasa guna menyadarkan dan membangkitkan diri sendiri dan keluarga untuk menjadi kekasih-Nya. Yang mampu segera dikerjakan dalam batasan kita mungkin adalah memperbaiki diri sendiri, lantas keluarga kita masing - masing, lantas kerabat kita, lantas..., lantas.... [] haris fauzi - 18 Mei 2006



WANITA - WANITA DI SEKELILING SAYA (I)

Tanpa saya sadari, ternyata ada beberapa wanita yang begitu dekat dengan kehidupan saya. Yang pertama adalah Ibu saya. Tinggalnya di Malang --hampir 1000 kilometer dari rumah saya. Dialah yang selalu saya telepon di akhir pekan, setelah saya capek jogging meniti deretan palem di boulevard kampung saya. Kalau mendiang Bapak saya sebagai guru spiritual, maka Ibu saya adalah penasehat keuangan pribadi saya. Dan beliau adalah penasehat yang ekselen performanya, walau dulu kuliahnya di fakultas Hukum UGM..

Pada tahun 1995, di awal saya bekerja dan memperoleh gaji pertama, beliau sudah mewanti - wanti agar saya menyisihkan pendapatan untuk di tabung. "Gak perlu kamu repot - repot menyisihkan untuk dikirim ke Ibu, tapi mending kamu tabung dengan sebaik - baiknya...", gitu pesannya lewat percakapan telepon.

Sebagai pekerja anyaran, gaji yang saya terima kala itu cukupan, tidak berlebihan. Bahkan sempat menjadi lelucon di kantor juga gara - gara saya memenuhi nasehat Ibu dalam hal menabung. Secara spesifik Ibu saya menganjurkan untuk menabung dalam mata uang dollar amerika."Walau sedikit, cobalah pindah tabunganmu ke dollar saja...", anjur Ibu. Dalam tiga bulan sekali saya ke Bank untuk memindahkan tabungan yang tidak seberapa itu dari rekening rupiah ke rekening dollar. Ya teman - teman kantor tentunya setengah geli ketika mengantar saya ke bank untuk keperluan itu. "Cuman satu juta rupiah kok dipindah ke rekening dollar", gitu mungkin pikir temen - temen kegelian. Kala itu kursnya sekitar dua ribu sampai tiga ribu rupiah se-dollar-nya.

Entah kenapa empat tahun berjalan tanpa terasa. Walau sedikit, lama - lama dollar itu kelihatan jua banyaknya. Walhasil ketika tahun 1999 saya hendak menikah, maka saya bongkar semuanya. Cukup berlebihan untuk kebutuhan saya kala itu : membeli rumah dan menyiapkan pernikahan. Ya maklum, saat itu harga dollar memang sudah melonjak empat kali lipat berkaitan dengan terjadinya krisis moneter. Otomatis rekening saya juga membengkak, dan untuk segala urusan itu-pun masih ada sisa.
Apa nasehat Ibu saya ?
"Le, kalau jaman lagi susah, nenek dan buyutmu dulu sering menabung emas... sisa duitmu itu belikan batang emas saja...", nasehat beliau mengingatkan adanya krisis moneter di akhir abad. Lantas saya serahkan seluruh duit itu ke Ibu untuk dikelola seperti maunya Ibu. Disamping Beliau yang tau, juga biar saya nggak malu lagi ngurus begituan.
"Lha wong tukar dollar aja di-ketawa-in sama temen kantor, gimana jadinya kalo saya ketahuan transaksi emas di toko perhiasan ?...Ah... ada - ada saja Ibu ini...", pikir saya. Tapi yang jelas, Penasehat Keuangan saya ini benar - benar brillian. Itulah Ibu saya.

Wanita kedua adalah Istri saya. Aslinya Solo, dan kuliahnya dulu di Yogyakarta. Saya mengenalnya tahun 1993 di sebuah acara jurnalistik mahasiswa tingkat nasional. Dia-lah yang sering saya telepon di Minggu pagi kala itu, dia-lah yang membuat saya sering travelling ke Yogya atau Solo pada tahun 1998-an, dan dia-lah yang sekarang menata rumah saya dengan baik.
Sangat kontradiktif dengan saya yang biarpun leluhur saya dari Yogyakarta, namun saya berperangai Jawa Timur-an. Sementara Istri saya masih bergaya Solo-an. Kalau ngomong kalem banget. Kalau berjalan juga nggak serabutan. Nenek saya sangat memuji perangainya, walau kadang terlalu lambat menurut saya, kurang cekatan. Cuma lucunya di keluarganya: Solo 'kota', percakapan menggunakan bahasa jawa krama madya (bahasa menengah), sementara di keluarga saya yang berbasis Yogya 'desa' menggunakan bahasa krama inggil (bahasa tinggi). Jadinya kacau di saya, karena ya itu tadi, logat Jawa Timur dan tindak tanduk saya kelewatan lasak. Untung ada dia sebagai penengah.

Istri saya terlahir dari orang tua karir. Dalam arti Bapak - Ibu-nya bekerja kantoran. Semula Istri saya juga berhasrat kerja, namun kehamilan anak pertama membuatnya mengubah keinginan. Saya cukup bersyukur dia mau menerima anjuran saya untuk lebih memprioritaskan tinggal di rumah mendidik anak - anak."...berapa-pun gaji kamu, pendidikan anak lebih berharga bila dibimbing oleh ibu-nya...", ungkap saya kepadanya, dan dia menyetujuinya.[] haris fauzi - 19 Mei 2006



WANITA - WANITA DI SEKELILING SAYA (II)

Wanita berikutnya adalah anak sulung saya, Si Salma. Hari kelahirannya saja sudah membuat saya demikian bahagia. Cobalah tengok: dia lahir tepat ketika Bapak saya berulang tahun ! Dan Salma merupakan cucu perempuan pertama bagi koloni Bapak saya, serta cucu pertama bagi keluarga mertua saya. Nama tengahnya adalah pemberian Ibu saya.
Salma-lah yang sering mengangkat telepon ketika saya menelepon--dan juga yang sering menelepon ke ponsel saya ketika saya masih di kantor. Dia pula yang memberi lambaian dari balik pagar ketika saya berangkat ke kantor, sementara Istri saya tertinggal di balik jendela.

Salma anaknya agak sering punya mau sendiri, maklum baru menjelang enam tahun. Namun dia bersedia untuk terus meningkatkan kepintarannya. Salma tidak terlalu banyak syarat ketika saya memberlakukan pola hidup sederhana semi prihatin plus ngirit. Dan juga tidak terlalu mempermasalahkan mainannya, jalan - jalannya, hingga baju - bajunya yang rata - rata berada beberapa kelas di bawah milik kawan - kawannya. Bahkan Salma cukup cepat untuk menjadi seorang yang legowo, yang mau mengalah kepada adiknya,.... syarat mutlak seorang kakak. Kalau mainan atau ballpoint-nya di rebut adiknya, paling - paling Salma cuma mengeluhkan kelakuan adiknya yang memang masih terlalu kecil itu. Salma menjadi guru yang baik buat adiknya. Di pilar teras rumah Salma menulis dengan pinsil-nya:"Salma sayang Adek".

Si Norma merupakan wanita berikutnya, dia anak kedua saya. Saya sering memanggilnya dengan 'Si Monster Kecil' karena memang memiliki tenaga yang kuat walau tubuhnya kurus. Aktivitasnya masih sering destruktif, maklum umurnya masih dua tahun kurang. Namun belum genap setahun dia sudah berusaha untuk berlari, memanjat, dan bergelayutan. Pernah ketahuan dia hendak 'melarikan diri' dari pagar tempat tidurnya. Kakinya sebelah sudah keluar pagar. Norma rambutnya sedikit. Dia mewarisi hampir seluruh baju - baju lungsuran kakaknya, termasuk sepatu.

Kebanyakan kegiatannya mengekor aktivitas kakaknya. Andai kakaknya main bola, dia akan main bola juga. Kalau kakaknya menyanyi, maka dia berusaha mengikuti lagu kakaknya. Kalau kakaknya kursus mengaji, dia-pun ikutan walau kadang mengacaukan keadaan sehingga harus di evakuasi.

Pada saat saya pulang dari kantor, yang saya jumpai pertama kali adalah Norma yang sambil berteriak dan berlari menubruk saya. Suaranya keras sekali, dan bila berteriak saya jadi sering sungkan dengan tetangga. Untungnya Norma bukanlah anak yang cengeng, jadinya rumah ini tidak terlalu hiruk - pikuk. Tidur malam-pun dia tenang sekali, mungkin hanya perlu bangun sekali di tengah malam, lantas merem lagi. Beda dengan kakaknya dulu yang setiap malam bangun empat kali hingga berumur tiga tahunan.
Masalah utama Norma adalah dia ogah makan kalau tidak di rumah, maunya maeeeeeen melulu, walau itu di restoran. Pokoknya kegemaran utamanya adalah berlari dan berlari.[] haris fauzi - 19 Mei 2006


KACAMATA YANG BERBEDA

Tukang semir kali ini menjadi lakon tulisan saya. Di sebuah kota di Cina, ChongQing, kebanyakan tukang semir adalah wanita --ibu - ibu. Mereka menyediakan kursi santai dan selembar koran edisi terbaru, lantas mangkal di trotoar pinggir jalan. Kalau kita mau nyemirkan sepatu, maka kita duduk di bangku santai tadi, menjulurkan kaki, sambil membaca koran.
Kadang posisi kursi - kursi ini berderet - deret. Satu bangku satu tukang semir. Para pelanggan bisa disambi mengobrol sementara sepatunya dibersihkan.
Ada juga pelanggan yang tidak mau sambil duduk, maka dia angkat sebelah kaki memanjat ke dudukan sepatu, dan sambil berdiri sepatunya dibersihkan. Begitu bergantian kaki kiri lantas kanan atau kebalikannya.

Pertama melihat kejadian ini saya merasa ada perasaan agak aneh, karena si pelanggan laksana raja di-raja yang dilayani dengan servis yang bagus. Membaca koran, nyantai, ngerokok,....--sepatu di gosok sampai kempling lagi! Sementara yang menyemir bersimpuh di trotoar. Setelah selesai si pelanggan berdiri dan mengulurkan recehnya.

Di tanah air berbeda lagi. Tukang semir disini membawa kotak berisi peralatan semir, dan berkeliaran menjajakan jasanya. Mendatangi para pelanggan. Lantas sepatu di copot, dan mulailah proses penyemiran.
Kadangkala si penyemir meminjamkan sandal untuk pelanggan.

Kedua kejadian yang sebenarnya sama ini menunjukkan adanya perbedaan cara pandang. Pada awal persepsi saya, pelanggan semir di ChongQing itu arogan sekali --sok raja di-raja, karena memang bagi saya kelihatannya seperti itu.
Saya memang belum sempat meminta komentar tentang tukang semir kita dari orang ChongQing, tetapi ada satu hal yang berbeda. Yakni kalau tukang semir kita akan menjajakan dagangannya --bahkan kadangkala sambil memelas - melas, sementara penyemir sepatu di ChongQing mereka setengah cuek. Kalau anda butuh sepatunya disemir, maka anda harus datang ke lokasi penyemiran, tidak bisa dipanggil. Anda-lah yang harus 'sowan' ke tukang semir.

Banyak orang berpendapat bahwa suatu kejadian itu adalah sebuah permata. Satu hal, permata itu adalah barang yang berharga. Seburuk - buruknya kejadian yang telah ditakdirkan untuk terjadi, mungkin mengandung permata juga, mungkin adalah sesuatu yang berharga untuk diambil hikmahnya. Poin ini sih sebenarnya tidak ada hubungannya dengan tema tulisan saya. Saya cuma sekedar mengingatkan sahaja.

Yang kedua adalah, permata itu memiliki banyak sisi. Salah satu sisi mungkin akan menghasilkan spektrum cahaya yang berbeda dengan sisi yang lain. Cara pandang yang berbeda akan menghasilkan 'sesuatu' yang berbeda pula. Dalam memandang fenomena 'tukang semir' ini, berlaku pula hukum kedua permata ini. Ini nampak jelas bagi saya, bahwa kacamata orang ChongQing berbeda dengan kacamata saya, karena dia melihat dari sisi yang berbeda.[] haris fauzi - 23 Mei 2006



VOTING

Ya begini ini nasib saya, seorang yang dangkal ilmunya, malahan juga telah kehilangan guru spiritual.
Suatu hari saya pulang kantor naik bis--bareng teman saya yang telah naik haji dua atau tiga tahun lalu. Beliau namanya Pak Djoker. Dalam perjalanan pulang itu, ya namanya pulang kerja --jarak jauh, seringkali kita mendengar adzan maghrib berkumandang sementara kita masih dalam perjalanan.
Dalam kejadian itu saya saksikan Pak Haji Djoker sesaat setelah azan maghrib, beliau bertayamum --bersuci (berwudlu) menggunakan debu-- lantas menunaikan sholat maghrib sambil duduk di bangku bis. Ini namanya sholat darurat.

Saya nanya ke dia,"..Pak Haji, sholat maghrib darurat ya ? kenapa nggak di jamak ta'hir (di tunda-rangkap) aja sholatnya nanti malam setiba di rumah ?".

"Selagi masih bisa, walau darurat, saya jalankan sesegera mungkin", gitu jawab pak Haji Djoker mantab dan yakin.

"Wah.. bener juga nih...", pikir saya. Saya jadi bimbang soalnya pak Haji ngomong gitu. Soalnya pula, saya selalu melakukan sholat maghrib tunda rangkap setelah tiba di rumah, bukan sholat darurat di bis.

Di tengah kebimbangan itu saya berkirim SMS ke tiga orang. Isi SMS itu sebagai berikut,"...dalam perjalanan, sholat maghrib sebaiknya dilakukan darurat dengan bertayamum, atau lebih baik di jamak ta'hir (tunda rangkap) di rumah ?".

Adik saya yang sudah menunaikan haji setahun lalu menjawab,"Sepertinya lebih baik jamak ta'hir (tunda rangkap) di rumah. Soalnya berwudlunya pakai air. Walahu'alam".

Ibu saya membalas,"Saya tanyakan dulu ke guru ngaji Nasikhin, Ibu kira sementara di jamak saja". Ibu saya memang rajin mengaji ke guru Nasikhin.

Adik saya yang ragil (bungsu) menjawab,"Seingat saya, Bapak ngajari jamak ta'hir di rumah".
Wah. Jawaban ini sungguh menentramkan saya. Karena terus terang saja saya sudah nggak presisi lagi mengingat - ingat hal itu. Ya. Seingat saya memang bapak saya almarhum --guru spiritual saya-- pernah ngajari saya seperti itu. Jadi manteb lagi sekarang dengan sholat tunda rangkap. Saya manteb menjalankan hal ini, sementara Pak Haji Djoker juga mantab menjalankan ibadahnya. Saya rasa tidak ada yang salah disini. [] haris fauzi - 25 Mei 2006



NJAJAN

Konotasi bagi lelaki dewasa yang hidungnya nggak polos tentunya agak miring tentang hal ini. Tetapi saya tidak sedang menulis tentang njajannya lelaki hidung belang. Asal katanya dari 'jajan'. Makanan. Njajan adalah membeli makanan untuk di makan, mungkin pada saat bepergian, sekolah, ngantor, plesir, dan lain sebagainya. Jadi spesifik untuk proses 'pembelian makanan'; food purchasing.

Lha kalau kebalikannya 'njajan' bukan menjual makanan, tetapi kebalikan dari 'njajan' adalah 'mbontot', atau 'bekal', 'sangu'. Jadi lebih spesifik untuk makanan yang dibawa dan dibungkus dari rumah lantas di makan di lokasi kerja, tamasya, dan lainnya. Pokoknya membawa makanan sendiri ; 'bento'.

Sejak taman kanak-kanak di Malang hingga menyelesaikan kuliah di Malang (juga), keseharian saya didominasi oleh 'sangu' tadi. Sangu makanan tentunya, bukan sangu duit untuk pembeli makanan. Memang sejak SMP saya sudah diberi uang saku untuk njajan, tetapi kok kalau dipikir - pikir ternyata duit tersebut malahan banyak melayang ke toko kaset atau toko buku. Untuk urusan perut saya masih mengandalkan bekal.
Bahkan pas kuliah saya mbontot-nya malah nasi bungkus telor ceplok. Saya sering makan di gedung senat mahasiswa, selagi teman - teman yang lain yang kelaparan melaksanakan ritual membeli gorengan dari penjaja keliling.

Lha ternyata ini memang terbawa - bawa sampai saat saya kerja, hingga sekarang. Alangkah malasnya saya kalau harus pergi ke koperasi untuk sekedar mengisi perut. Sudah begitu musti bayar lagi.
Juga kalau sedang jalan - jalan bersama keluarga, menu pisang goreng, roti bakar, kreps, atau pankik pastilah tidak ketinggalan berikut enam gelas plastik dan dua botol minuman mineral yang bisa digunakan oleh abang sopir metromini. Bahkan dulu kadangkala istri saya juga membawa susu bubuk untuk di seduh dipinggir jalan. Wis jan manteb tenan pokok-e. Apalagi kalau sedang perjalanan jauh.

Pernah dalam perjalanan mudik, saya membekali diri dengan set komplit menu sahur. Dampaknya apa ? Saya tidak perlu berebutan resto sepanjang perjalanan menjelang imsak. Kalau Anda pernah dalam perjalanan mudik di saat mendekati waktu sahur, dimana Anda harus berebut tempat makan, lantas terburu - buru dikejar waktu subuh, habis gitu mungkin harga di-'kemplang' oleh penjual. Ah, mana enaknya sih. Mending berhenti sejenak di pinggir jalan yang lapang. Trus buka tikar. Atau saya pernah juga makan sambil 'berjalan', maksudnya mobilnya yang jalan. Kita nyopirnya gantian yang makan. Trus minum susu kotak atau kapucino, air putih, membelah jeruk, dan terakhir adalah berhenti untuk menurunkan semua sampahnya setelah sendok garpu di simpan.

Pertama - tama memang rikuh. Masih kebayang perasaan malu pas SMP ketika membawa bekal roti tawar oles mentega tabur coklat. Tetapi seringkali Ibu bilang kalo roti yang dibekalkan itu sudah pasti lebih nikmat ketimbang njajan di warung sekolah yang paling juga berkisar tempe menjes.
Bapak saya juga sering berpetuah, bahwa 'sangu' itu bukan proses yang berdosa. 'Kenapa musti malu ? ora ono sing ngisin - ngisin (nggak ada yang ngeledekin)....', gitu urainya. Dia tidak sepenuhnya benar. Toh pas SD dan SMP saya selalu diledek gara-gara saya makan bekal, bukan njajan seperti umumnya anak sekolah yang sedang 'gembleleng' pegang duit. Dianggap anak manja. Tetapi kampret-nya, ternyata teman yang ngeledek itu malah sering ngompas roti bekal saya. Saya ganti membalas,'..dasar anak preman...!'.

Ya memang untuk urusan sangu ini memang butuh mental setengah kebal. Kebal terhadap ledekan. Namun setelah itu bisa dilewati, maka semuanya beres. Contohnya istri saya. Dia selama sekolah adalah kelompok partai 'njajan'. Tetapi sekarang nggak jarang dia dengan santainya membuka bekal roti atau koko-krans di parkiran mobil, lantas menyuapi anak - anak di pelataran pertokoan. Saya sendiri kadang - kadang (eh.. seringkali ding...) makan juga sambil bersandar di kap mobil, tangan kiri memegang kapocino kotak - tangan kanan menggenggam setangkup roti tawar, kalao perlu sambil nyetel musik.

Dampaknya memang sangat terasa di dompet. Juga kita nggak perlu ngantri bila harus membeli makanan. Seperti kita tau, pada saat libur maka resto akan sangat padat di saat jam makan. Bahkan bisa 'waiting list' segala nunggu tersedianya meja. Lha kok kesulitan banget rasanya untuk mengisi perut ini. Dan tentunya perlu merogoh kocek cukup dalam, yang mungkin bagi saya cukup memberatkan. Kondisi seperti ini kurang menguntungkan bagi saya, duit kesedot, waktu juga tersita. Lha kalo gini kan mendingan mengeluarkan delapan lembar roti bakar. Dua buat saya, dua buat istri saya, anak - anak saya masing masing dua juga, tetapi bila tidak habis maka tugas saya menjadi tim sapu jagat. Lha perkara tempat makannya mau dimana, saya sih tidak terlalu kesulitan, soalnya bumi ini luas sekali kok....[] haris fauzi - 26 Mei 2006


PELUANG

Beberapa kali saya diajari mata pelajaran 'peluang', salah satunya adalah saat kelas 2 SMA. Guru matematika yang mengajar namanya Pak Har. Pada saat ngajar topik 'peluang', saya ingat benar bahwa wajah beliau mulai bercambang,. Kata teman saya mirip sampul album 'Faith' dari George Michael. "Tinggal tambah antingnya...", katanya.
Cambang Pak Har itu adalah cambang nadzar, --kaul, janji-- selagi istrinya mengandung. "Kalo nanti anak saya lahir, baru saya cukur jenggot", kata Pak Har.

Orang kita merupakan orang yang pintar mencari peluang. Banyak contohnya, jualan barang bekas saja bisa kaya raya. Pedagang yang menjajakan barang aneh - aneh di seputar Cawang-Halim juga telah membuktikan itu. Belum lagi kalo ada tanah sedikit lapang, pasti peluang itu tidak akan disia - siakan oleh seseorang. Kalo perlu langsung serobot.
Juga bila ada peraturan baru, atau pemberlakukan sistem baru, maka kebanyakan orang akan mencari peluang demi kepentingannya.

Saya-pun begitu pula, karena saya punya pimpinan kerja yang rumahnya dekat dengan rumah saya, maka saya memilih menumpang mobil beliau untuk pergi ke kantor. Supaya irit.

Suatu hari saya pernah melihat ada seseorang yang dengan santainya memarkir mobil di sebidang tanah pinggir jalan. Bidang tanah ini jelas - jelas bukan lahan parkir. Ini juga memanfaatkan peluang. Tetapi ternyata bukan dia doang. Tidak selang lima menit kemudian, terlihat seorang lelaki yang datang menyuruh supir mobil tadi agar sedikit merapikan letak mobilnya, habis gitu lelaki tadi langsung meniup peluit,"...prriiittt...!!". Rupanya dia itu tukang parkir 'dadakan'. Dia ternyata sedang nongkrong di belakang pasar dimana dia biasa menjadi tukang parkir partikelir. Namun dia tau, kalau mobil barusan itu jslas - jelas parkir dan berpeluang untuk dikutip tarip parkir.

Juga saat saya melakukan cek-up terhadap mobil tua saya ke bengkel kepercayaan saya. Bukan ! Bukan montirnya yang berusaha mencari peluang untuk menipu saya. Bukan itu. Sang Montir malahan mencari peluang, gimana caranya supaya mobil ini bisa dipertahankan selama mungkin, setangguh mungkin. Montir ini memang spesialisasi re-build mobil tua, sudah banyak hasilnya. Salah satunya ya mobil saya. Biar sudah hampir 20 tahun umurnya, tetapi masih cukup layak untuk di bawa mudik sejauh seribu kilometer.

Ya memang begitu. Tentunya masih banyak contoh 'peluang - peluang' yang lainnya. Di saat kondisi ekonomi semakin menjerat, kepintaran mencari peluang untuk 'bertahan hidup' sangat dibutuhkan. Asal 'kepintaran' ini jangan disimpangkan untuk hal - hal negatip seperti premanisme, kutipan liar, korupsi, atau mendirikan posko peduli bencana gadungan.[] haris fauzi - 31 Mei 2006