Sunday, November 29, 2009

kenisah : ratiban haji negeri jenaka

RATIBAN HAJI NEGERI JENAKA

"…Ismail ! Aku bermimpi. Di dalam mimpi itu engkau ku korbankan !", kata – kata ini diucapkannya dengan cepat agar tidak terdengar oleh telinganya sendiri. Setelah itu ia membisu. ('Haji' – Ali Syariati)

Saya belum menunaikan ibadah haji. Namun, rasanya hingga kini belum ada peraturan yang melarang seseorang yang belum ber-haji untuk menulis tentang ibadah yang sakral ini. Sedemikian halnya dengan beberapa halaman koran yang seringkali memuat panjang lebar tulisan ihwal sepakbola. Yang mana ternyata para penulisnya bahkan --bisa jadi-- belum pernah bermain sepak bola. Dalam kelakar, kalau diadu dengan para pengamat sepakbola itu, saya  mungkin memiliki 'jam terbang' sepakbola yang lebih tinggi karena se-masa di bangku Sekolah Dasar hampir setiap minggu saya bermain sepak bola.
Telusur punya telusur, ternyata sebagian para penulis dalam koran itu menulis ihwal sepakbola bukan berdasar pengalamannya menendang bola, namun berdasarkan pengamatan dan referensi. Oleh-mangkanya itulah kali ini saya mencoba menulis secuil tentang ibadah haji. Tentunya berdasarkan beberapa referensi yang pernah saya baca.

Tidak. Bukan ibadah hajinya yang sebenarnya hendak saya tulis disini. Saya cuma hendak menulis tentang kegiatan ratiban. Ratiban ini kegiatan yang sering diadakan untuk melepas calon haji. Sebangsa syukuran gitu-lah. Ratiban ini tidak menjadi bagian ritual ibadah haji, hanya merupakan cuilan kegiatannya, seperti halnya kegiatan pelajaran manasik, pemondokan lokal, tes kesehatan, atau pembayaran ongkos naik haji. Hanya seperti itu. Tidak ada instruksi kewajiban yang mengikat tentang ratiban. Tidak menyelenggarakan ratiban tidak menggugurkan ibadah haji itu sendiri.

Yup. Yang jelas ada semacam kelaziman di negeri ini, bila seseorang hendak berangkat menunaikan ibadah haji biasanya menyelenggarakan ratiban. Walau tidak semua calon haji melakukan hal ini. Ratiban ini adalah pelepasan calon haji oleh keluarga dan masyarakat. Dari perspektif seperti ini bisa muncul pandangan negatif dan atau positif. Sudut negatif-nya adalah dengan menyelenggarakan ratiban, maka memang tidak bisa dipungkiri akan muncul kesan pamer, karena seperti pameran hendak naik haji.
Tapi tidak harus seperti itu. Dalam perspektif positif, ratiban adalah bermakna pelepasan, atau bahkan perpisahan. Karena memang, bila hendak ber-haji, maka anggota keluarga yang lain harus meng-ikhlas-kan mereka yang berangkat, saling menyampaikan permohonan maaf, dan saling mendoakan. Karena bisa jadi, Tuhan tidak mempertemukan mereka kembali. Tak tertutup kemungkinan mereka akan berpisah selamanya. Sang calon haji akan bersua dengan Tuhannya dan akan berpisah dengan para kerabatnya, berpisah dengan para harta bendanya, berpisah dengan para posisi dan jabatannya.

Dalam ratiban, pesan utama adalah kesiapan mental para calon haji dan para keluarga terdekatnya untuk saling meng-ikhlas-kan, memaafkan, dan mengerti kondisi masing - masing. Dalam ratiban, calon haji dituntut untuk mulai berkonsentrasi kepada ibadah haji. Seperti dalam sepak bola, ratiban ini adalah 'pemanasan' atau 'warming-up'. Latihan untuk berkonsentrasi. Dan yang harus segera dilakukan oleh para calon haji adalah mencoba sekuatnya untuk secara mutlak segera melupakan posisi, jabatan, rumah, mobil, bahkan handai tolan dan anak - anak kandungnya. Mereka menyayangi anak - anaknya, karena itu memang hak-nya sebagai orang tua. Di sisi lain,  perjalanan spiritual menuju Tuhan yang bernama 'ibadah haji' ini menuntut para calonnya untuk mengikhlaskan itu semua, sebagaimana Ibrahim meng-ikhlas-kan anak tercintanya Ismail demi Tuhan-nya.

Ringkas cerita, seperti dalam khutbah - khutbah ratiban yang sering kita dengar, maka pelajaran pertama dalam ratiban bagi para calon haji sebelum berangkat yakni 'meninggalkan yang merupakan hak dunia-nya' sebagaimana yang di contohkan nabi Ibrahim. Demi perjalanan spiritual menuju Tuhan, maka segala-nya harus ditinggalkan. Bila direnungkan, maka sungguh dahsyat pelajaran ini. Ibadah haji memang tidak bisa dilepaskan dari tauladan nabi Ibrahim. Bagaimana Ibrahim menyembelih Ismail adalah kejadian luar biasa. Ibrahim meninggalkan semuanya --termasuk anak tercintanya-- demi perintah Tuhan.

Sebagaimana ibadah puasa, dimana kita tidak diperbolehkan makan makanan yang halal tidak pula diperbolehkan tidur dengan muhrim sah, semua itu demi terjalaninya ibadah puasa. Demikian pula dengan haji. Anak, rumah, mobil, jabatan, keluarga, dan segalanya itu adalah hak dunia yang sah dari setiap orang, --bila memang mendapatkannya caranya halal. Namun itu semua harus ditinggalkan ketika sebuah perjalanan 'hijrah' bernama 'haji' akan di mulai.

Pelajaran ini di mulai ketika ratiban, dan konon makin menguat ketika pesawat yang membawa para jamaah haji mulai mendarat di gurun, dan begitu makin menguat ketika satu persatu ritual haji dilakoni. Mulai Miqat, Thawaf, Sya'i, Taqsir, Wukuf, melempar Jumrah, Qurban, hingga menjelang perpisahan --dimana filosof Iran modern Ali Syariati menyebutnya dengan konferensi ummat Islam terbesar dan ter-ajeg se-dunia--, dimana semua jamaah di seluruh dunia bisa berkumpul, bertukar - pikiran, dan mempertajam visi kesatuan ummat di acara tersebut.

Logikanya, bila seseorang telah melewati kegiatan ratiban ini, maka setidaknya dia mampu meng-ikhlas-kan hak dunia mereka. Namun di sebuah negeri jenaka logika tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya. Di sana sudah jutaan manusia berulang kali menunaikan ibadah haji, namun boro - boro meng-ikhlas-kan hak yang dimilikinya. Beberapa dari mereka malah berlomba - lomba untuk mengeruk apa yang bukan hak-nya. Tanpa sungkan merebut hak orang miskin, menggaruk harta negara, dan merampok kekayaan bangsa.

Sebuah negeri jenaka yang menyumbangkan banyak sekali jamaah haji setiap tahunnya, bahkan mungkin termasuk yang terbanyak di bandingkan negara - negara yang ada di kulit bumi ini. Jutaan calon haji dari negeri jenaka sudah hilir mudik berangkat dan kembali, yang-mana mereka 'mengasah ilmu'  akan ihwal pesan ratiban tersebut. Namun, usai kepulangan para 'alumni padang arafah' ini, --tahun demi tahun,-- hal pelajaran dalam ratiban itu seakan menjadi bahan tertawaan sahaja. Ketika banyaknya jumlah 'alumni padang arafah' yang tiba kembali ke negeri jenaka seakan tidak kuasa membendung penyimpangan - penyimpangan yang terjadi di negerinya. Jutaan jamaah haji pergi dan pulang kembali, namun trilyunan perkara korupsi merajalela. Jutaan mulut rakus memangsa yang bukan seharusnya. Itu fakta yang terjadi.

Bisa jadi saya yang salah dalam menulis hal ini. Itu sangat mungkin. Untuk itu mohon saya dimaafkan. Namun setidaknya dengan menuliskan hal ini saya jadi teringat sepenggal syair karya Nasher Khosrow,
.....
Wahai sahabat,
sesungguhnya engkau belum menunaikan ibadah haji,
sesungguhnya engkau belum taat kepada Allah.
Memang engkau telah pergi ke Makkah
untuk mengunjungi Ka'bah.
Memang engkau telah menghamburkan uang
untuk membeli kekerasan padang pasir....


[] haris fauzi - 28 nopember 2009



 


Thursday, November 19, 2009

kenisah : handsball dan aparat pengadil

Sudahlah, ini cuma sekedar tulisan iseng. Gara - gara mengikuti berita ihwal per-cicak-an, dan pagi tadi nonton sepakbola, saya jadi teringat gol 'Tangan Tuhan'. Cerita tentang Tangan Tuhan merebak ketika di Meksiko seorang pesepak-bola bernama Diego Maradona membobol gawang Inggris di Piala Dunia 1986. Kejadian yang sungguh fantastis. Maradona yang pendek badannya beradu rebutan bola yang tengah melayang di atas dengan Peter Shilton, kiper Inggris yang jangkung.

Maradona --yang seharusnya hanya diperkenankan mengandalkan kepalanya-- ternyata memenangkan duel udara melawan kiper yang jelas - jelas lihai menggunakan kedua tangannya. Hasil yang ajaib. Lha wong berdiri saja Maradona kalah tinggi, kok ini si Peter Shilton menggunakan tangannya diangkat. Tapi kenyataannya Maradona unggul dan mampu mencetak gol. Dan gol itu di-sah-kan oleh wasit.

Jaman dulu memang belum ada teknologi video yang super canggih sehingga bisa melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Apakah bola itu menyentuh tangan, ataukah menyentuh udel-nya. Maka, sah - sah saja kalo gol kontroversial itu disetujui wasit. Walau beberapa tahun kemudian setelah teknologi semakin maju, maka beberapa pengamat sepak bola yang super penasaran --setelah menyaksikan rekamannya-- terbersit rasa yakin bahwa Maradona menggunakan tangannya di kejadian Meksiko yang kemudian kondang dengan "Tangan Tuhan' itu. Yo wis, wong wis kadhung.

Pagi tadi, ada kejadian serupa. Ketika tim sepak bola piala dunia Perancis ketinggalan satu gol melawan Irlandia. Konon ini pertandingan hidup - mati menuju Piala Dunia kelak, surga-nya para pesepak-bola. Kalo kalah ya monggo lengser sahaja.

Cerita singkatnya, Irlandia unggul satu gol hingga pertandingan memasuki babak perpanjangan. Tentunya ini membuat skuad 'mantan juara dunia' Perancis kelabakan. Hingga memasuki menit ke seratus tiga - Perancis mendapat hadiah tendangan bebas dari lapangan tengah. Kaki di ayun dengan kuat. Tak ayal bola terbang melambung memasuki kotak pinalti Irlandia. Tidak sempat menyentuh tanah --seingat saya--, bola segera disundul menuju pinggir mengancam gawang Irlandia. Thierry Henry --striker gaek Perancis-- mencoba mengejar bola, namun rasanya bola terlalu laju hingga bisa jadi bakal terbuang ke samping kanan gawang. Naluri Henry bertindak, cepat dipalangkannya tangannya supaya bola itu tidak nyelonong keluar, dan setelah itu Henry bersicepat mengumpankan bola itu ke tengah muka gawang yang lantas di sambut kawannya, Si Gallas. Gallas memang trengginas.Terjadilah gol.

Berkat gol di babak perpanjangan yang mencekam ini, Irlandia terjungkal dari babak 'play-off' gila-gilaan ini.

Saya menyaksikan pertandingan tersebut di layar televisi sambil menyiapkan sereal bakal sarapan anak. Sekilas menonton, kontan saya menduga terjadi handsball. Hanya menduga. Pun pula sempat terdengar Sang Komentator terpekik,"..handsball...". Dan begitu tayangan ulang --lewat gerakan lambat-- kembali Sang Komentator terpekik,"..clear handsball...".

Tentu saja --tayangan berikutnya adalah tanpa bisa dibendung beberapa pemain Irlandia memrotes keras terjadinya gol yang sulapan ini. Siapa pula yang mau kebobolan dengan cara yang nggak ada enak - enaknya sama sekali seperti itu. Huh. Apalagi --dari televisi nampak jelas, bahwa tangan Henry menyentuh bola, mirip pemain voli.

Protes para pemain Irlandia terbentur karang. Aparat keadilan -- sang juri dan sang hakim-- tetap bersikukuh bahwa gol itu benar sah adanya. Untungnya tidak terjadi tawuran.

Versi saya, versi pemain Irlandia, dan versi komentator rupanya berbeda drastis dengan versi pengadil. Wasit dan hakim garis yang bertugas sebagai aparat penegak keadilan ini berpendapat dengan kukuh gagah perkasa bahwa gol tersebut sah. Tidak terjadi handsball. Mungkin sedang berkedip sehingga hal itu tidak nampak. Okelah, apapun alasan bisa saja dibuat, toh tidak perlu kulak. Hingga pagi hari di berita - berita dalam jaringan internet hampir semua memberitakan ihwal 'handsball' yang menjadi Tangan Tuhan versi Thierry Henry ini.

Tentang sepakbola, ada aktor yang berlaga saling serang seperti dua pesaing. Dan tentunya dengan Wasit dan hakim garis yang berfungsi sebagai penengah, aparat keadilan. Hal ini seperti terdapat dalam berbagai pertandingan, bisa pertandingan tinju, bisa pertandingan karambol, bisa juga pertandingan bocah, bisa juga politik, atau apapun. Bisa juga pertandingan adu jangkrik, atau adu binatang ternak, ataupun perseteruan binatang melata. Bila itu semua adalah konfrontasi, maka bisa jadi itu adalah pertandingan. Dan pertandingan sejatinya menuntut adanya sportivitas. Baik sportivitas yang bertanding, juga sportivitas aparat pengadil. Bahkan juga sportivitas penonton dan para penjual asongan yang sering kita jumpai di dekat stadion sepak bola. Mengapa pihak aparat pengadil harus ikutan sportif ? Ya. mereka juga mutlak menjunjung sportivitas karena bila di satu fihak yang bertanding berbuat curang, tentunya aparat keadilan inilah yang 'membereskan'. Begitulah teorinya.

Ya. Itu semua adalah teori tentang sportivitas. Alangkah gampangnya ngomong ihwal sportivitas. Dalam prakteknya, ternyata sulit. Seringkali dalam sebuah pertandingan kita jumpai ada pihak yang berbuat curang. Dan kejadiannya makin jadi tidak menentu ketika aparat pengadil ternyata malah berpihak dan secara sengaja melindungi yang salah. Dan yang paling menjengkelkan adalah ketika seluruh penonton, pemerhati, dan berita - berita yang beredar semua ber-opini tentang pihak yang salah, namun, aparat keadilan ini tetap saja bersikukuh membela yang salah. Bahkan aparat pengadil ini bisa saja membela dengan sumpah segala. Sumpah di tengah sumpah-serapah orang lain yang geregetan. Bila memang hal seperti itu terjadi, maka, siapakah yang salah ? [] haris fauzi - 19 november 2009

Wednesday, November 18, 2009

kenisah : hati yang bersih

HATI YANG BERSIH

"... orang - orang datang kepada Tuhan dengan hati yang selamat (bersih) ". (QS 26:89)

Kitab suci mencatat bahwa orang - orang yang datang kepada Tuhan adalah orang yang memiliki hati yang bersih. Maksud dari 'orang yang datang kepada Tuhan' bisa didefinisikan sebagai orang - orang yang 'selamat' dari problematika dunia semasa hidupnya, yang mampu mengurai dan memilah segala persoalan hidup sehingga mampu menemukan jalan yang benar dan lurus menuju Tuhan.

Dalam menjalani roda hidup, dalam memandang persoalan - persoalan yang ada tak jarang kita dihadapkan pada ihwal yang sulit, tak nampak, atau bahkan kelam. Persoalan - persoalan yang kusut masai, yang menumpuk laksana kabut pekat nan membutakan. Yang demikian sulit ditembus oleh indera mata sehingga kita tidak tau apa lagi yang harus dikerjakan, tak tau lagi hendak berjalan kemana.

Hal ini mungkin saja terjadi karena kita tidak mampu memandang dengan jernih persoalan dan fenomena - fenomena yang terjadi. Ada semacam tabir yang tidak tembus pandang, yang menghalangi pengelihatan sehingga kita kesulitan menemukan ujung-pangkalnya.

Percaya atau tidak, sebagian orang 'sepuh' menggunakan 'mata-hati' untuk 'melihat'. Konon, mata-hati ini akan jelas melihat bila hati-nya bersih. Saya jadi ingat obrolan dengan mendiang Ayahanda. Pada suatu hari Ayahanda pernah berkata:" Hati yang bersih membuat seseorang bisa melihat dengan jelas". Begitu kurang lebih pendapatnya.

Muhammad Sang Rasul adalah contoh manusia yang demikian bersih hatinya. Konon hati-nya pernah dicuci oleh malaikat dengan air surga sehingga bersih dari segala kotoran termasuk debu dengki. Dengan hati yang bersih, Muhammad mampu dengan optimal menggunakan mata-hatinya, mampu melihat hal - hal yang tidak terlihat oleh orang biasa. Mata hati yang benar - benar luar biasa.

Seorang teman pernah bertanya tentang bagaimana membedakan antara pengemis tulen dengan pengemis gadungan, yang bila diperempatan jalan nampaknya sama saja belel penampilannya. Saya tidak punya pendapat selain menyarankan untuk menggunakan 'mata-hati'-nya. Bila memang masih kesulitan, maka 'jendela-hati'-nya harus dibersihkan dahulu.

Lantas, menurut cendekia muslim Jalaluddin Rakhmat, kotoran hati yang umum terjadi adalah rasa dengki. Dengki akan segala hal, sehingga memudarkan rasa persaudaraan dan memupuk dendam permusuhan. Kedengkian ini tak bisa disepelekan karena begitu kotornya sehingga apabila seseorang mampu berdiri di setiap tengah malam untuk sholat, belumlah tentu dia mampu menghapuskan rasa dengki dihatinya.

Konon, di jaman Rasulullah Muhammad ada sepenggal cerita tentang seseorang yang demikian 'ordinary people'. Begitu biasa. Kehidupan orang itu biasa. Hartanya juga biasa saja. Dan ibadahnya juga biasa - biasa saja. Namun, yang membuat orang ini luar biasa adalah gelarnya. Orang ini digelari 'Si Penghuni Surga', dan gelar itu disematkan oleh Rasulullah sendiri. Keruan saja para sahabat menjadi penasaran, apakah istimewanya orang ini sehingga mendapat gelar terhormat tersebut. Tentulah gelar ini menunjukkan kedudukan yang tinggi. Siapakah yang tidak ingin mendampingi Muhammad di surga kelak ?. Tak seorang sahabatpun yang menolak posisi ini.

Telusur punya telusur ternyata memang Si Penghuni Surga itu tidak memiliki keistimewaan apapun kecuali satu hal. Dia memiliki hati yang bersih yang tidak ternoda rasa dengki barang setitik. [] haris fauzi - 18 Nopember 2009

terinspirasi dari artikel di buku 'Renungan Sufistik' karya Jalaluddin Rakhmat