Tuesday, April 09, 2013

degradasi relatif, mungkin

Di dunia kartun, ada yang benar dan ada yang salah dan itu nampak jelas. Di dunia nyata, penjahat bisa membantu kaum miskin, sementara seorang protagonis lagi asik merokok (note : merokok merupakan sifat negatif). Dalam sinema, hal itu lebih didramatisir lagi. Bila kita menyaksikan film HEAT yang dibintangi Robert de Niro dan Al Pacino, maka kita bisa melihat bagaimana seorang Robert de Niro adalah penjahat yang ganteng, flamboyan, romantis. Sementara Al Pacino adalah polisi --pembasmi kejahatan-- yang ribut melulu dengan istrinya dan membuang televisi tabungnya di prapatan jalan.

Dunia ini bukannya tidak adil, melainkan tidak benar - benar adil. Lihatlah bagaimana Aa Gym yang menikah malah dikucilkan sementara Luna Maya malah tambah populer gara - gara kumpul kebo. Ini pola pikir.

Salah satunya kenapa demikian adalah adanya degradasi nilai. Baik nilai norma moral ataupun nilai hukum. Jaman dulu, maling itu jelek. Jaman sekarang maling yang mengaku itu baik, maling yang kabur itu jelek. Jaman sekarang, pembunuh yang mengaku itu kesatria. Hal ini karena memang dia memiliki sikap satria ketika mengakui tindakannya membunuh.

Yang paling kentara yakni kisah korupsi. Kisah koruptor kelas teri tertangkap (karena disini belum populer ihwal tertangkapnya koruptor kelas kakap). Dan dia mengaku. Dia dijebloskan dalam penjara. Dia tidak dianggap sebagai ksatria ---walau sebenarnya dia memiliki sikap yang sama dengan pembunuh tadi, mengakui perbuatannya. Bahkan koruptor kelas teri tersebut mau mengungkap korupsi kelas kakap. Namun tidak jua dipanggil sebagai pahlawan. Dia tetap dijeboskan dalam penjara. Dan hanya dia, kakap-nya tidak.

Bagaimana masyarakat memandang suatu kisah sebagai fenomena adalah berdasar nilai yang dianut. Dan bila terjadi degradasi --baik secara relatif maupun absolut,-- maka itu pasti mengubah sudut pandangnya. Tahun 2013 ini, bulan April, bisa jadi bila anda membunuh seseorang (baik itu preman atau apapun --) dan lantas mengaku, maka anda bisa dipuja sebagai ksatria. Walau menurut saya ini kurang masuk akal, tapi ini masuk di akal banyak orang, bahkan para pejabat-pun memiliki paradigma seperti itu. Terserahlah. Dalam kasus itu, disebut degradasi nilai. Dan mengapa relatif ? Karena sebagian masyarakat tidak merasa terdegradasi, masih menganggap nilai - nilai yang mereka anut stabil. Padahal sebagian orang sudah mencibir hingga 'mleyot' bibirnya. [] haris fauzi - 9 April 2013 ilistrasi : bangka.tribunnews.com

Wednesday, March 27, 2013

klenik dan sains



 
Ini gara-gara di grup ada diskusi tentang santet dan dukun. Berhubung saya kesulitan mengemukakan argumen di grup tersebut, maka terjadilah pengalihan media. Pembahasannya adalah klenik verso sains.

Hal yang mirip dalam kasus sains dan klenik ada banyak, namun biarkan saja. Saya hendak membahas perbedaannya. Dalam sudut pandang pribadi, klenik adalah dunia spiritual. Sementara sains adalah dunia faktual. Peran faktual dalam sains begitu besar, diantaranya adalah menjadi pondasi dari sains. Suatu postulat dalam sains tidak bisa terwujud tanpa adanya fakta atau data empiris. Faktanya ada dan banyak serta seragam, kemudian bisa dibuktikan dengan panca indera, maka tegaklah sains. Sederhananya adalah sains memiliki arah dedutif dan induktif yang bermuara kepada "seeing is believing".

Sementara klenik adalah salah satu bentuk dunia spiritual. Seperti jin atau malaikat. Mereka berada dalam dunia ghaib atau spiritual. Khas dari spiritual adalah adanya mengimanan. Artinya, eksistensinya diimani walau kita tidak melihatnya. Contohnya adalah kita belum pernah melihat malaikat, namun karena perannya signifikan, maka kita mempercayainya dan mengimaninya. Peran dukun dan klenik-pun demikian.

Namun, ada hal - hal perdukunan yang berdasar data empiris, contohnya adalah weton dan feng-shui. Bagi saya, walau putusan feng-shui keluar dari mulut dukun, feng-shui bukanlah klenik, karena feng-shui muncul dari data empiris maka saya menyebutnya sebagai sains. Atau ilmu, atau "ngelmu". Demikian juga dengan teori weton kelahiran yang sudah terkumpul data - data empiris semenjak ratusan tahun silam. Misalkan tentang weton sabtu paing memiliki watak tertentu. Ini sains, atau "ngelmu".

Feng-shui yang diterapkan berdasarkan data empiris faktual, disebut sains. Namun apabila postulatnya didasarkan pada argumentasi ghaib, misalkan "bentuk kerucut menara lancip akan mengurangi rejeki karena jin pembawa rejeki kantungnya robek terkena menara lancip", maka itu adalah urusan spiritual, urusan klenik.

Salah satu yang nyata - nyata klenik adalah dukun ramal nomer kode buntut. Dari sisi matematika manapun, angka itu tidak bisa diramalkan kemunculannya. Seorang dukun ramal nomer kode buntut bila tidak mengandalkan adanya informasi bocoran orang dalam, maka kemungkinan dia hanya mengandalkan dua hal untuk meramalkan angka yang bakal keluar : kemungkinan pertama adalah ngawur. Kemungkinan kedua adalah wangsit dari jin. Semakin sakti jin yang membantu, maka semakin mahal taripnya.

Berbeda dengan sepakbola. Ketika kesebelasan  Barcelona melawan kesebelasan Persela, maka dukun, pengamat, supporter, saintis serta futurolog sepakat bahwa data - data menunjukkan Barcelona bakal menang. Untuk menyatakan kemungkinan Barcelona menang, seorang dukun tidak perlu meminta bantuan jin, dia cukup rajin membaca koran. Pada saat itu, dia tidak berperan dalam dunia klenik. Karena keputusan tersebut bisa dibangun dalam kerangka data dan fakta.

Dengan kondisi demikian, maka kita harus jernih membedakan mana yang dunia spiritual, mana yang sains, dan mana pula yang mengandung keduanya serta bagaimana kita memandangnya. Dengan cara mengetahui proses "hakiki eksistensi"-nya, maka akan lebih mudah menjelaskannya. Bila berdasar data, maka itulah sains. Bila berdasarkan wangsit maka itulah klenik. [] haris fauzi - 27 maret 2013.

rumah kesatrian

Keluarga kami menempati rumah tersebut sekitar tahun 1976. Dari kami berempat saudara,si bungsu lahir ketika kami sudah menempati rumah tersebut. Sebelumnya kami menempati rumah di kavaleri. Sama, kavaleri dan kesatrian merupakan ruas jalan di lingkungan militer angkatan darat, mangkanya namanya khas sekali. Rumah ini merupakan rumah dinas, jadi bukan milik kami, namun alhamdulillah rumah ini lebih 30 tahun kami tempati. Saya sendiri menempati nyaris selama 20 tahun, yakni semenjak 1976 hingga tahun 1995 ketika saya memutuskan berangkat merantau ke ibukota. Selama dua-puluh tahun tersebut, banyak sekali mozaik yang muncul. Yang jelas, dari tujuh penghuni rumah tersebut, mungkin saya seorang yang pernah mendiami 3 kamar dari 4 kamar yang tersedia. Maklum, saya sempat "pindah kamar" beberapa kali. Tercatat ketika kecil saya menempati kamar depan rame - rame. Akhir masa SD saya "mutasi" ke kamar paling belakang. Dan pas SMA saya pindah maju ke kamar tengah hingga saya pindah benar - benar karena merantau.

Rumah tersebut kami sebut dengan rumah kesatrian karena terletak di jalan kesatrian terusan. Kesatrian dari kata "satria" atau serdadu. Dan memang benar, sepanjang jalanan tersebut dikelilingi beberapa tangsi tentara saja yang tampak. Sebuah nuansa  yang begitu membekas dalam diri, sehingga di tahun 1999 saya membeli rumah di kawasan tangsi pula.

Hampir empat puluh tahun menempati, akhirnya Ibu memutuskan untuk pindah dari rumah kesatrian. Alasannya adalah bahwa rumah tersebut adalah rumah dinas tentara sementara ayah --yang notabene serdadu-- sudah wafat, dan rumah tersebut terlalu luas bagi Ibu yang tinggal sendirian. Ibu memilih untuk membeli rumah mungil di dekat rumah adik di kawasan Joyogrand Dinoyo. Rencana kepindahan ini sudah terungkap pada lebaran dua tahun lalu, dan dengan rencana ini kami sempat mendokumentasikan pojok - pojok memorabilia rumah tersebut, karena memang rumah tersebut mengajarkan hal - hal yang begitu mendasar dalam diri kami. [] haris fauzi - 26 maret 2013.