Sunday, April 28, 2019

Masyarakat Berkejujuran

Rasulullah Muhammad SAW, menjadi tokoh peradaban nomer wahid sepanjang sejarah alam semesta. Dalam karirnya, beliau mampu membentuk peradaban masyarakat terbaik yang biasa disebut dengan 'masyarakat madani'. Masyarakat madani adalah standar peradaban sosial masyarakat tertinggi yang pernah ada dan tidak tertandingi hingga kini. Toto tentrem kerto raharjo adil makmur bahagia sejahtera selamat dunia akhirat. Itulah masyarakat madani yang dirintis oleh Rasulullah Muhammad SAW. Tata masyarakat mencerminkan orang - orangnya. Bagaimana Nabi Muhammad SAW mampu membentuk masyarakat madani yang sedemikian sempurna ? Padahal semua orang sudah faham, Muhammad SAW tidak pernah sekolah formal, bahkan buta huruf. Kersaning Gusti Allah, begitu kata orang Jawa. Memang demikian.

Modal awal Nabi Muhammad SAW dalam membangun masyarakat, adalah kemampuannya membangun diri pribadinya. Tidak harus bertele - tele. Muhammad semasa mudanya digelari Al-Amin, artinya "yang dapat dipercaya". Jujur. Dan ketika Muhammad bekerja menggembala kambing juragan atau memperniagakan dagangan orang, beliau "amanah". Artinya bertanggung jawab dalam mengemban tugas. Nabi Muhammad semenjak kecil sudah membangun dirinya menjadi orang yang jujur dan amanah. Ini modal utama Beliau untuk suatu ketika mendirikan masyarakat madani tersebut.

Belajar dari sini, bila hendak membangun masyarakat kunci utama adalah pada dasarnya membangun "kejujuran". Tokoh masyarakat hendaknya meneladani hal ini. Karena, pribadi tokoh yang jujur dan mengedepankan kejujuran, maka dia akan membangun sistem berdasar kejujuran, yang mana pada akhirnya pada tataran masyarakat kolektif akan terbentuk tata nilai kejujuran pula. Cara yang sebetulnya terlihat simpel. Dimulai dari membangun kejujuran dalam diri pribadi, kemudian membangun kelompok yang mengedepankan kejujuran. Dari sini, masyarakat akan jatuh hati, dan memberikan amanahnya untuk memperluas "sistem kejujuran" yang tengah dibangun tersebut. Sulur - sulur kejujuran diteruskan ke segala lini agar terbentuk simpul yang kuat, mengikat semakin banyak orang dan daerah. Semua terikat dengan simpul kejujuran.

Salah satu yang memperkuat kehebatan masyarakat madani adalah aspek spiritualitas. Tak dapat disangkal lagi, 'kejujuran' tidak lepas dari kepercayaan seseorang terhadap Tuhan. Seseorang akan cenderung berlaku jujur karena takut akan azab dari Tuhan, karena takut ketidak-jujurannya disaksikan dan diawasi oleh Tuhan. Istilah orang jawa "Gusti Allah mboten sare", Tuhan tidak tidur. Ini satu level diatas kejujuran yang diawasi manusia. Gampangnya begini, pelanggar lalu lintas, tidak akan melanggar rambu bisa jadi karena tiga hal. Karena ada polisi, karena ga mau melanggar, dan ketiga karena gak mau dosa. Itu. Jadi jelas, dalam hal masyarakat madani yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW, spiritualitas masyarakat akan memperbaiki kondisi masyarakat tersebut.

Masyarakat yang hebat, harus dikreasikan dari aspek kejujuran. Dipelopori oleh orang - orang jujur yang terus - menerus membangun sistem yang berke-jujuran, senantiasa terus - menerus mengedepankan kejujuran hingga mencapai semua ujung dan simpul di segala lini urusan bermasyarakat. Dalam hal pembentukan masyarakat madani, aspek kejujuran ini juga harus bersandar kepada aspek spiritualitas yang implementatif, diterapkan disegala lini, sehingga "kejujuran" tidak menjadi jargon belaka. Mengapa aspek spiritualitas ? Sebaik - baik polisi adalah iman dalam hati, yang mana merasa segala aktivitasnya tercatat oleh malaikat dan selalu dalam pengawasan Tuhan. Bila seseorang atau masyarakat mengabaikan unsur spiritualitas, mengabaikan Ketuhanan, yakinlah penyelewengan akan marak, karena tidak ada polisi yang senantiasa mengiringi setiap penduduk di setiap waktu. Sementara malaikat dan Tuhan mencatat dan menyaksikan ini semua. Inilah pentingnya aspek spiritualitas dalam beriring dengan aspek kejujuran dalam membangun suatu masyarakat.

Itulah masyarakat madani, tata kelola masyarakat terbaik yang pernah ada. Yang dibangun berdasar kejujuran, yang senantiasa mengedepankan kejujuran. Salah satu hal yang paling terasa dengan pengedepanan kejujuran, adalah aspek keadilan yang tegak. Semakin jujur sistem yang dibentuk, semakin adil masyarakat yang tercipta. Bagaimana dengan kebalikannya ? Ya sama saja. Semakin tidak jujur sistem yang dilaksanakan, maka keadilan menjadi barang langka. [] haris fauzi, Pendopo - Sumsel, 28 april 2019

Wednesday, March 27, 2019

Tulisan dan Amarah

Biasakan menulis tanpa amarah. Karena bila seseorang terbiasa menulis dengan amarah, maka dia akan terbawa amarah juga membaca tulisan orang lain. Walau tulisan yang dia baca itu sebetulnya tidak mengandung unsur emosi sama sekali.

Tanda seru, umpatan, dan capslock sebaiknya tidak digunakan. Ga usah diumbar. Karena dari situlah --sadar atau tidak-- emosi dan amarah seseorang tertuang. Sehingga tulisan - tulisan menjadi preseden negatif.

Seringnya seseorang menulis dengan menggunakan tanda seru, umpatan, dan capslock akan membuat tulisannya bernuansa negatif, maka tanpa sadar dia akan memiliki sudut membaca yang negatif pula. Akibatnya, membaca tulisan yang positif-pun, dia akan bereaksi negatif. Makin menumpuk-numpuk deposit efek negatifnya.

Tentu, latar belakang seseorang sangat menentukan cara dia menulis dan cara dia merespon sesuatu. Orang depresi cenderung radikal dalam menulis. Saya tak hendak membahas itu, sekarang kita mengabaikan sementara ihwal latar belakang dan kondisi psikis seseorang ini. Terlalu complicated.

Intinya adalah, cara seseorang merespon sebuah tulisan, ditentukan mindset dia ketika dia membaca tulisan tersebut. Mindset ini ditentukan oleh kebiasaan seseorang dalam menulis. Dia biasa menulis dalam mindset negatif, maka dia memiliki mindset negatif dalam merespon tulisan orang lain. Dan ini berlaku bolak-balik. Wallahualam. [] hf

Monday, February 18, 2019

ROCKY GERUNG



Kurun waktu belakangan ini, sepak terjang RG (Rocky Gerung) terlihat terlalu digdaya bagi lawan-lawannya. Bila anda penggemar cerita persilatan, hal ini mengingatkan tokoh Bu Kek Sian Su, pendekar yang nyaris sempurna ilmu beladirinya.

Memang, panggung ILC dan Karni Ilyas yang berkontribusi menyediakan arena yang leluasa bagi RG untuk menumbangkan lawan-lawannya. Namun sejatinya bukan hanya itu, semua gladiator juga kebagian menjajal panggung ILC. Dan andai RG tidak digdaya, tidak mungkin RG selalu muncul sebagai jawara tak terkalahkan. Dan hebarnya lagi RG cenderung menyukai bertarung sendirian alias tidak keroyokan, walau lawan-lawannya sering melakukan keroyokan rame-rame. Makin terlihat nyata kedigdayaan RG. Lawan-lawannya bergelimpangan keok akibat sabetan pedangnya.

Apa yang dilakukan RG, sebetulnya biasa saja. Kelebihan dia adalah banyak membaca, dan tidak hanya menyelami tataran teknis semata. RG menguasai bidang filsafat, dan dengan leluasa menerapkan di tiap bahasan. Hal inilah kelihaiannya... walau sebetulnya biasa saja, tetapi menjadi istimewa, karena lawan dan kawannya, terutama para peserta ILC, tidak menguasai filsafat. Seakan dengan modal filsafat, RF tak perlu terlalu lihai dan berpengalaman ihwal politik praktis. Itulah yang membuat RG setidaknya memiliki dua poin utama.

Poin pertama, RG cenderung ingin bergerak sendiri. Karena kawan sekubunya pun kurang menguasai filsafat. Itu tadi, RG ingin menciptakan medan perangnya sendiri dan ingin menyelesaikan sesuai caranya sendiri.

Poin kedua, nyata jelas, dengan pola filsafat RG dengan mudah menekuk lawan bicaranya. Lawan bicaranya, walaupun kebanyakan politisi yang pintar omong, bisa langsung terdiam. Karena itu tadi, lawannya hanya pakar di bahasan teknis. Dan kebanyakan modal ngotot. Lawan ngototan seperti ini mudah sekali ditumbangkan oleh RG. Se-kawak apapun, hal-hal teknis akan kesulitan menjangkau ranah filsafat. Apalagi kalo sekedar ngotot. Langsung nyungsep ke kuburan.

RG berjalan sendiri, bertarung sendiri, lantas mengalahkan lawan dalam sunyi. Setelah itu, tidak ada lagi. Hanya kadang ada sedikit senyum sinis diiringi suara arogan pelan,"... dungu...".[]