Friday, March 30, 2007

kenisah : modernisasi

MODERNISASI
 
Berikut ini adalah interpretasi pribadi saya yang tercipta dan ter-' tangkap' sekilas setelah setengah mati saya membaca tulisan sosiolog Iran,-- siapa lagi bila bukan .....Mr. Ali Syari'ati. Menurut Syari'ati, semenjak renaisans dan revolusi industri, jelas sudah arah nahkoda peradaban Eropa adalah ke modernisasi dan konsumsi. Dalam penekanan buah pikirnya di naskah 'Peradaban dan Modernisasi', Syari'ati menjelaskan bahwa pangkal muasalnya adalah didewakannya mesin produksi, dimana semenjak revolusi industri terus - menerus dipacu produktivitasnya. Mesin produksi --pabrik-- dituntut untuk selalu berproduksi hari ini lebih banyak daripada kemarin. Sebetulnya ini adalah hal lumrah. Dalam hitungan teknik, hal ini biasa disebut dengan peningkatan unjuk-kerja. Dan hal ini adalah sah - sah saja. Efektifitas mesin produksi haruslah diukur dari skala produktivitas.
 
Yang jadi perkara adalah ketika pasar di Eropa sudah jenuh. Inilah yang di-'perkara'-kan oleh Syari'ati. Ya bagaimana lagi ? Mesin-mesin  ini terus saja mencetak produk - produknya makin banyak sahaja. Sementara untuk menyerap produk itu maka daya beli masyarakat didongkrak, daya konsumtif masyarakat ditingkatkan, ...tetapi tetap saja produksi lebih banyak dan lebih banyak. Dan ketika pasar Eropa sudah mbludak oleh barang - barang, maka direncanakanlah proyek lintas benua ekspansi penjualan. Mungkin hal ini mirip ekspansi di era penakluk-an. Cuma bedanya di era penakluk-an para saudagar dan tentara Eropa yang dipelopori Portugis, Spanyol, dan Inggris melakukan pendekatan Gold & Glory, ...dan kali ini mereka melakukan pendekatan dengan semboyan 'modernisasi'.
 
Yang dimaksud Syari'ati dengan modernisasi di sini adalah suatu aktivitas untuk mengubah masyarakat non-Eropa agar berlaku seperti orang Eropa, agar mereka menjadi konsumtif seperti masyarakat Eropa, dan lantas mereka membeli barang - barang produksi Eropa. Hal ini menyentuh hingga tingkat kultur / budaya. Yang jadi santapan empuk adalah para mahasiswa dari Asia dan Afrika yang sekolah di Eropa, mereka terendam dengan kampanye 'westernisasi' ini, mereka diusahakan meninggalkan tatakrama, pakaian, dan bahasa asal mereka...Mereka diubah agar berlaku, berpakaian, dan berbahasa seperti orang Eropa. Seakan gayung bersambut dengan pikiran Syari'ati --tokoh kulit hitam Franz Fanon  juga menganggap bahwa setelah para mahasiswa itu kembali ke tanah airnya, mereka menjadi agen Eropa untuk mengubah masyarakatnya.
 
Nggak cuma lewat 'mahasiswa', para pegiat'modernisasi' ini-pun ekspansi dan penetrasi beneran ke tanah jajahan. Tengoklah ketika jaman Belanda dulu orang Jawa tidak ada yang memakai rok. Semua wanita Jawa memakai kain batik (sewek). Tetapi karena ada unsur penetrasi, maka beberapa mulai mengenakan rok, dengan mengesankan bahwa mengenakan rok adalah bangsawan kelas atas.
Di Afrika dahulu kala kaum lelaki menunggang kuda dan demikian bangga dengan kudanya, namun kini mereka bangga dengan mengendarai mobil. Mungkin sampai sini pikiran Ali Syariati bisa dinilai terlalu ekstrim dan menggelikan. Lha iya mosok jaman sekarang mau naik kuda ?
 
Tapi ambil makna dari uraian Syariati berikut ini. Syariati muda adalah seorang mahasiswa sosiologi di kampus Eropa-- yang mana pernah hendak direkrut oleh sebuah pabrik mobil. Dalam interview, diuraikan bahwa marketing produk tersebut hendak menjual mobil ke Asia dan Afrika --karena pasar Eropa sudah jenuh. Salah satu caranya adalah mengubah sosio-kultur masyarakat 'terbelakang' tersebut. Dalam konteks modernisasi, maka Asia dan Afrika adalah terbelakang. Diceritakan juga salah satu cara sales kendaraan itu untuk bisa menjual mobilnya ke suku pedalaman di daerah Chad-Afrika adalah dengan memberikan dua mobil untuk diparkir di pintu gerbang rumah kepala suku sebagai ganti kuda elit yang biasa diikat disitu. Lantas dibangun jalan darurat sepanjang delapan kilometer melintas tengah desa di pelosok hutan itu, soalnya memang nggak ada jalan sama sekali. Dan bensin harus dikirim dengan sampan. Seorang sopir didatangkan khusus untuk nyopiri kepala suku hilir mudik beberapa kali dalam sehari. Lama - lama warga kepincut juga. Dengan cara seperti ini, mobil bisa terjual di daerah itu. Sebetulnya itu cuma hal mobil, tetapi yang dahsyat adalah bahwa masyarakat itu sudah berubah. Mereka semula mendewakan kuda, tetapi kini mereka mendewakan mobil --mirip cowboy Amerika yang dulunya gagah dengan kuda dan laso, namun kini mentereng dengan Ford dobel-kabin-nya.
 
Demikian juga dengan kosmetik, pakaian, alat elektronik dan simbol konsumtif --sekaligus simbol modernisasi. Semua itu hendak di-'jual' ke Asia dan Afrika dengan cara mengubah keinginan masyarakatnya. Bila dulu pengen pergi naik kuda, bagaimana caranya supaya mereka jadi pengen naik mobil ? Bila mereka dulu menghiasi wajahnya dengan getah karet, bagaimana caranya agar mereka mau memakai Christian Dior dibubuhkan ke pipinya ? Apabila dulu orang mengenakan sarung, bagaimana caranya supaya mau menjajal celana jeans ?
Fenomena masuknya jeans berarti menggusur sarung. Sarung yang berpola khas daerah akan hilang beserta alat tenunnya, musnah. Seperti mozaik Astec, seperti kaligrafi Arab, seperti relief candi Borobudur, pola sarung adalah hasil budaya. Artinya, sebagian peradaban dan budaya masyarakat tersebut ikut musnah bersamaan dengan dicampakkannya sang sarung tadi. Ini adalah pertanda keretakan budaya.
 
Menurut Syari'ati, semakin modern masyarakat, belum tentu menjadi semakin beradab. Karena ada bukti peradaban yang  luhung / tinggi --jaman dulu-- tetapi tidak membutuhkan Renault,  tidak butuh Christian Dior, dan alat elektronik juga nggak ada. Contohnya adalah jaman nabi Muhammad, jaman keemasan China, dan sebagainya. Dan menurut Syari'ati lagi, bahkan banyak masyarakat yang makin tidak beradab gara - gara ikut - ikutan mengkonsumsi produk modern dari Eropa tersebut.
Ya, modernisasi memang tidak sama dengan peradaban (madani), karena peradaban lebih menekankan masalah budaya, hukum, ideologi masyarakat, dan tatanan sosial. Sementara modernisasi adalah menekankan penggunaan peralatan dan barang'baru'.
 
Singkatnya, menurut Syari'ati apa yang dilakukan bangsa Eropa adalah mengembangkan pasar, mempromosikan gaya hidup konsumtif untuk menghabiskan produk mereka yang makin bejibun itu. Ke seluruh penjuru alam semesta kalo perlu. Salah satu kampanyenya adalah kampanye 'nilai universalitas' ala Eropa dan Amerika. Maksudnya adalah membuat bangsa non- Eropa menjadi seragam dengan bangsa Eropa --dalam rupa apa-pun seperti bentuk atap rumah, corak pakaian, gaya hidup-- sehingga mereka mengkonsumsi barang yang serupa juga. Dan yang terakhir, Eropa dan Amerika juga kampanye mengenai 'globalisasi dunia', dengan maksud agar seluruh dunia seragam dari sisi apapun termasuk ideologi dan -isme-nya, hukum, tatanan masyarakat, dan kondisi kulturnya  sehingga makin mudah dikendalikan dan menjadi pasar yang mampu menyerap produk mereka. karena  penghalang terbesar ekspansi pasar itu  adalah perbedaan -isme. Contohnya adalah dagangan rok mini musim panas yang demikian laku di Eropa, pasti penjualannya akan terganjal ideologi dan ajaran Islam di Asia.
 
Ah. Terus terang hal tersebut belum pernah saya pikirkan secara detail seperti itu. Sebagai seorang lulusan teknik, saya cukup ciut nyali juga ketika membaca analisa Syari'ati tentang dampak revolusi industri yang demikian getir ini. Namun bagaimana-pun Ali Syari'ati memang selalu memberi saya banyak hal - hal baru.[] haris fauzi - 30 maret 2007
 
 


Finding fabulous fares is fun.
Let Yahoo! FareChase search your favorite travel sites to find flight and hotel bargains.

Monday, March 26, 2007

kenisah : istirahat

 
ISTIRAHAT
 
10.03.07 07:46am
Faukzanbunul wrote :
sabat adalah hari ketujuh,
ketika Tuhan beristirahat
setelah menciptakan bumi
dalam enam hari.
hari ini aku mengabaikan istirahat Tuhan.
 
Itulah pesan pendek yang masuk ke telepon genggam saya pada suatu hari Sabtu. Saat saya sedang beristirahat di rumah, bercengkrama dengan anak ragil saya selepas sarapan pagi. Sebuah kiriman dari seorang sobat yang bernama Fauk --tinggal di Bunul,  sebuah desa yang berimpit dengan kampung saya di Malang.
 
Sabat, berarti Sabtu. Kalau ada kelompok musik bernama Black Sabbath, itu mungkin artinya Sabtu kelabu. Sabtu merupakan hari ketujuh bila kita hitung dari Ahad. Ahad --yang kini populer dengan Minggu--  berarti 'satu'.
Tentang pesan pendek itu, saya nggak tau Fauk mencuplik kalimat itu dari mana. Terus terang saya sadar betul bahwa Fauk sedang bercanda, karena saya juga sadar betul beliau ini hafal salah satu ayat Kitab Suci Al-Qur'an yang menyebutkan bahwa ".....Tuhan tidak pernah lupa dan tidak pernah tidur.....".
 
".....He.. .he... ini hanya gurauan filsafat..., atau...filsafat guyonan ...?", pikir saya. Dan saya membalas pesan pendek itu dengan sebait kalimat,
"kita memang terlalu sering mengabaikan saat istirahat siapapun".
(-- saya balas demikian karena kebetulan  Fauk juga telah memaksa saya untuk berpikir ketika saya sedang beristirahat... haa.. haa.. haaa....)
Saya acapkali menyukai hal - hal seperti ini, guna mencerna dan memberi masukan kepada diri saya sendiri lebih banyak dan lebih baik. Menambah referensi. Padahal ya isi pesan pendeknya nggak bener kayak gitu.
 
'Tepak', kalau istilah orang Jawa Timur untuk menggambarkan beberapa kejadian yang terkait secara kebetulan. Itu kejadian di awal bulan Maret, setelah saya sebulan penuh di bulan Februari-- harus istirahat --tidak bisa bekerja karena sakit. Saat awal Maret itulah, --kalau boleh berbangga--, saya telah menemukan secercah kesadaran bahwa saya adalah manusia yang bisa sakit dan ambruk, dan suatu saat bakal mati.
 
Kebanyakan kita semua mengetahui bahwa kita adalah manusia yang memang bisa sakit dan bakal mati. Tetapi, rasanya tidak banyak yang menyadarinya dengan sefaham - fahamnya. Saat itu sayalah setidaknya yang berlaku gegabah seperti itu. Saat itu saya hanya mengetahui bahwa saya adalah manusia, tetapi saya tidaklah memakluminya sesadar - sadarnya.
Ketika seorang dokter, seorang istri, dan seorang Ibunda menganjurkan agar saya istirahat dari bekerja bakal sejenak, --sehari dua untuk cuti sekedarnya--  saya tetap ngotot berangkat ke kantor dalam keadaan badan meriang menerjang banjir dan hujan, sejauh seratus kilometer. Apa yang saya lakukan kala itu bisa jadi benar - benar menyimpang dari hukum alam. Walhasil tak lama kemudian saya di-'kandang-kan di ranjang putih, alias opname di rumah sakit. Bahkan pake acara nginep di ICU segala.
 
Kalau dirunut, ternyata saya dihujani penyakit bertubi - tubi, mulai dari diare, flu berat, juga dugaan parathypus. Dan lantas satu penyakit yang nyata - nyata menggiring saya opname adalah demam berdarah yang ternyata cukup parah hingga paru - paru saya kebanjiran cairan tranfusi. Terakhir kali saya dapat bonus dugaan hepatitis. Alhamdulillah semua sudah beres sekarang.
 
Nah, setelah dihajar sedemikian rupa inilah saya menjadi sadar betul bahwa saya bisa sakit. Jadi mutlak saya adalah manusia yang butuh beristirahat.
 
Ya itulah. Kalau saya ulangi cerita saya, ternyata saya dihajar bertubi - tubi penyakit, ...dan akhirnya saya baru benar - benar menyadari hal tersebut. Menyadari bahwa saya adalah manusia yang butuh istirahat ! ...Dan saya tidak ngantor sebulan penuh, dua minggu di rumah sakit, dua minggu 'thenger - thenger' di rumah. Nggak cuma itu, saya juga sempat mendapat acungan ketupat bangkahulu dari staf keuangan kantor karena terlambat setor pertanggungjawaban keuangan.
 
Kalimat berikut ini sengaja saya ulang - ulang dalam tulisan ini. Sejak kecil saya tau betul bahwa saya manusia dan manusia itu bisa sakit, namun kayaknya saya belum benar - benar menyadarinya. Bagi saya 'menyadari' itu berbeda dengan 'mengetahui'. Kelakuan --atau amalan-- membuktikan hal itu. Hampir semua orang tahu bahwa dia bakal mati, tapi sedikit yang mengamalkan kesadaran tentang ajal kematian yang akan menjelang. Bahkan saya pun tau bahwa saya bisa sakit, tetapi saya tetap tidak mau beristirahat. Kala itu.
 
'Kan nggak cuma saya yang ternyata terkena pukulan bertubi - tubi. Bila kita berbicara tentang komunal, maka bangsa Indonesia ini juga telah bertubi - tubi dihajar bencana. Saya lupa menghitungnya, mulai gelombang pasang, pesawat berantakan, kapal karam, air bah,  lumpur yang mendadak menggila dan tak kunjung waras,  angin mengamuk di ubun - ubun, gempa yang menggetarkan, ..... atau apa lagi. Mungkin saya terlalu sedikit menyebutkan, karena saya tidak langganan koran dan jarang pula menonton televisi. Televisi di rumah lebih sering memutar video konser musik ketimbang nyetel siaran televisi swasta.
 
Manusia sebebal saya butuh demikian urut penyakit yang bergantian membekap saya untuk menemukan sedikit instropeksi dan kesadaran. Entahlah bangsa ini. Andai saya boleh menduga, bisa jadi inilah skenario dari Tuhan.
Bagi saya, terlalu banyak hal yang disediakan Tuhan  tetapi kita masih terlalu sedikit mengerti fungsi dan maknanya. Contoh paling gampang adalah penciptaan lalat, atau nyamuk, atau apalah... Yang bagi sebagian besar orang makhluk seperti itu tidaklah ada makna dan maksudnya. Ya itu tadi, banyak yang belum kita mengerti dan kita sadari perihal segala ciptaan Tuhan ini. 
Taruhlah kita berandai - andai bahwa ada kemungkinan bencana tersebut dihadirkan oleh Tuhan agar bangsa ini  menemukan kesadaran, agar bangsa ini meng-istirahat-kan sebagian kebiasaannya yang menyimpang dari hukum alam. Atau apalah... mungkin sedikit instropeksi ? [] haris fauzi - 23 maret 2007
 


salam,
haris fauzi


Sucker-punch spam with award-winning protection.
Try the free Yahoo! Mail Beta.

Monday, February 05, 2007

kenisah : ulama, mesjid, fitnah, dan kiamat

ULAMA, MESJID, FITNAH, DAN KIAMAT
 
Fitnah merajalela.
Ulama tidak dihormati.
Banyak masjid namun kosong.
 
Penganut agama Islam meyakini bahwa kelak akan terjadi kejadian musnahnya alam semesta ini, dimana dikenal dengan sebutan kiamat. Para penganutnya juga mempercayai beberapa fenomena pertanda munculnya hari kiamat akhir jaman tersebut, diantaranya adalah ketiga fenomena di atas : fitnah, ulama, dan masjid.
 
Apabila fitnah telah merajalela.... Dan sekarang --kayaknya-- sudah waktunya. Jaman ini fitnah adalah hal yang biasa terlontar. Mulai dari masyarakat awam hingga politik internasional sudah sering menggunakan strategi fitnah. Bukan hanya keributan antar  rumah tangga, persaingan antar tukang ojek, usaha mengejar kepangkatan, atau persaingan bisnis. Berita dan opini, podium pidato, hingga urusan antar negara-pun sudah terlalu sering melempar fitnah guna kepentingan pribadinya. Mungkin kasus penggunaan fitnah ini tidak jauh berbeda dengan kasus korupsi di Indonesia. Siapa bilang 'hanya' pejabat Indonesia korupsi ? Bukan hanya pejabat. Hampir semua lapisan masyarakat membudayakan korupsi. Demikian juga halnya dengan fitnah.
 
Jaman makin tua, jaman makin susah. Makin banyak orang dan makin banyak problem, namun repotnya makin banyak keinginan bendawi yang menggiurkan dan melenakan. Semua tanah pijakan laksana makin sempit, sehingga manusia berebut segala sesuatu dengan rakusnya berpacu melawan waktu seakan ketakutan bahwa bumi ini akan meledak dan menyemburkan semua isi yang dikandungnya. Terburu, harus cepat dan kuat. Kalau perlu licik. Dan akhirnya segala cara dan daya diupayakan untuk meraih apa yang diinginkan. Segala daya upaya, termasuk fitnah. Walau konon fitnah itu hal yang keji, lebih keji dibanding pembunuhan.
 
Rasanya fitnah sudah bukan hanya menjalar di dunia ini, tetapi sudah menyelimuti dan merasuk hingga ke sum - sum. Sudah menjadi dagangan dan cerita sehari - hari. 'Sego-jangan saben dino', kata orang jawa timur; lumrah; nasi sayur setiap hari. Bahkan saya-pun tidak yakin terhadap diri saya, bisa jadi tulisan saya ini tidak bebas fitnah. Karena konon fitnah akan muncul dari hati yang kotor, seperti hati kebanyakan orang sekarang ini, termasuk saya.
 
Ketika ulama tidak dihormati .... Dan sekarang --kayaknya-- sudah waktunya. Kata 'Ulama' berarti 'orang yang berilmu / mengerti', ilmu yang 'lurus' tentunya, bukan ilmu mencopet. Kedekatan katanya adalah dari 'ilmu', 'aalim', 'alima', dan 'allama'.
Konon ulama sejatinya merupakan profesi pewaris Nabi, penerus dakwah. Nabi wafat tidaklah meninggalkan permata, istana, kapal pesiar, atau perkebunan yang luas, Nabi wafat meninggalkan tugas dakwah dan keharusan menjaga agama Tuhan. Sebuah profesi yang sulit dan menuntut manusia pilihan, karena Nabi adalah manusia pilihan Tuhan. Sejatinya seperti itulah tugas Ulama, setidaknya menurut saya.
 
Namun kali ini kita sudah sering mendengar berita bahwa profesi ini mengundang nada cibir. Setidaknya menurut hemat saya kita harus meneropong dari dua sisi sehingga kita bisa mengerti mengapa profesi ini dicibiri banyak orang. Sisi pertama adalah dari sisi para ulama-nya sendiri. Beberapa ulama --walau tidak semuanya-- tergoyang nafsunya untuk menggandaikan ayat - ayat Suci guna kepentingan politik dan gepokan duit. Dan lewat cara ini mereka sukses mendapatkannya; kekayaan, kedudukan, relasi, dan popularitas. Kalau yang seperti ini sebetulnya sudah bukan lagi bisa disebut sebagai pewaris dakwah Nabi. Mereka hanya seperti pedagang gelap yang berusaha cari untung sendiri saja. Tidak terlalu beda dengan tikus yang menggerogoti dinding kayu. Mereka hanya bibit - bibit penyakit yang memporak-porandakan ummat saja.
 
Sisi kedua adalah kondisi masyarakat yang cenderung sekular. Tuntutan status ekonomi di masa kapitalisme ini mau tidak mau membuat orang - orang terkonsentrasi untuk menekuni dunia material dan semakin meninggalkan ajaran spiritual, entah sampai kapan--mungkin sampai kelak di Timur Tengah sono terjadi perang Armageddon yang diikuti juga oleh Nabi Isa dan Dajjal. Sebuah kejadian yang mungkin tidak akan lama lagi.
 
Semakin hari semakin sedikit orang yang berprofesi sebagai pewaris Nabi, kebanyakan orang lebih termotivasi untuk menjadi pewaris materi, profesi jalur bendawi, termasuk saya juga. Dengan kondisi seperti ini, jelas sudah bahwa  Ulama sebagai profesi spiritual akan semakin terpinggirkan dan tidak lagi dihormati, walau profesi ulama sejatinya tidaklah perlu gila hormat.
 
Kedua sisi cara pandang terhadap ulama ini saling bertautan sehingga tidak mudah bagi kita untuk menguraikannya dengan jernih.
 
Banyak masjid namun kosong .... Dan sekarang --kayaknya-- sudah waktunya. Hal ini tidak lepas dari efek kapitalisme yang makin jelas dan vulgar berusaha hendak memisahkan masyarakat dari dunia spiritual. Dan dampaknya adalah sepinya tempat peribadatan, sepinya masjid - masjid. Dan karena masyarakat sudah terlalu demikian ketat mengejar materi --termasuk saya juga-- maka kita lebih sering di pusat bisnis ketimbang di masjid. Ya beginilah nasib kita sebagai korban faham materialisme yang memang menjadi panutan dunia sekarang ini.
 
Kalau pada jaman Nabi dulu, konon salah satu sudut luar halaman masjid dijadikan pasar 'kaget' untuk berjual-beli sekedarnya. Namun kali ini jaman sudah berbalik. Masjid disembunyikan di sudut sempit parkiran mall, dekat dengan pembuangan toilet dan tersembur asap buangan mesin AC.
 
Di tengah kelesuan pengunjung masjid ini, anehnya masjid - masjid mewah ramai didirikan seakan beradu megah, bahkan bila perlu berhias mahkota emas segala. Didirikan untuk pengakuan akan kekayaan, pengakuan status sosial, demi ketenaran, atau sebagai alat politik dan kekuasaan. Masjid yang didirikan untuk alasan ini, tidaklah mungkin memberi cahaya hidayah Tuhan, karena hanya merupakan sosok berhala bersorban. Mungkin lebih mirip seperti itu. Karena masjid seperti ini hanya bisa membisu dalam menjawab tantangan jaman. Apalagi untuk meluruskan kebejatan moral. Padahal sejatinya mesjid adalah sentra peradaban Islam, dimana ihwal pemerintahan, pendidikan, dan segenap permasalahan sosial dibahas di masjid. Sehingga masjid memiliki fungsi sebagai sarana untuk 'menegakkan keadilan' dan 'menyejahterakan masyarakat'. Itulah mengapa masjid seharusnya berhasil menyinarkan hidayah Tuhan, memajukan masyarakatnya.
 
Belum lagi masjid yang didirikan 'hanya' karena perpecahan ummat yang berbeda dalam masalah sepele. Sejatinya masjid adalah tempat berkumpul -- tempat bersatu --tempat ber-ukhuwwah. Bila terdapat permasalahan ummat, maka di masjid-lah tempat untuk menyelesaikannya. Namun entah kenapa bisa ada beberapa golongan masyarakat Islam yang cek-cok dalam hal sepele, mereka lantas membangun masjid tersendiri. Memisah. Ini lebih mirip kubu atau benteng pertempuran, bukan masjid lagi. Benteng terhadap masjid atau golongan lain. Seakan - akan malah terbalik, mesjid satu berarti berbeda pemeluk dengan masjid yang lain. Dan ukhuwwah (persatuan) - pun tercampakkan. Pada suatu hari yang lalu, saya juga pernah mendengar nasehat dari guru ngaji saya, bahwa nanti di akhir jaman, ummat Islam akan tercerai - berai laksana kayu yang rapuh..... Dan sekarang --kayaknya-- sudah waktunya. Mohon koreksinya.....[] haris fauzi - 4 februari 2007


salam,
haris fauzi


8:00? 8:25? 8:40? Find a flick in no time
with theYahoo! Search movie showtime shortcut.