Sunday, February 05, 2017

Ini Hanya Soal Waktu, tentang NU


Saya termasuk orang yang percaya bahwa Nahdlatul Ulama (NU) memiliki mekanisme tersendiri, berbeda dengan organisasi Islam lainnya. Tentunya berbeda itu boleh, dan tidak salah. Misalnya dalam penentuan jatuhnya Hari Raya, NU cenderung lebih sabar, menunggu hilal. Berbeda dengan Muhammadiyah yang jauh-jauh hari sudah mengumumkan kapan jatuhnya Hari Raya, lewat metode hisab.

Berbeda boleh saja, ujung-ujungnya sama. Hal ini terulang kembali di banyak hal, termasuk dalam kasus penistaan al-Qur'an yang mencuat di semester akhir tahun 2016. Adanya pidato ahok yang menistakan al-Qur'an, direspon cepat oleh Majelis Ulama Indonesia. MUI merilis fatwa ihwal penistaan al-Qur'an. Tercatat organisasi FPI merespon paling cepat, bahkan mungkin lebih cepat dari MUI sendiri.

Setelah fatwa MUI keluar, Muhammadiyah dengan cepat meresponnya juga, mendukung fatwa tersebut. Muhammadiyah selalu cepat merespon ihwal fatwa MUI, tidak selalu ketika MUI diketuai kader Muhammadiyah. Buktinya ya kasus ini, fatwa tersebut dikeluarkan ketika MUI dipimpin KH Ma'ruf Amin, ulama senior NU. Dan Muhammadiyah dengan cepat mendukung MUI. Gerakan cepat juga ditunjukkan dengan terbentuknya organisasi GNPF-MUI.

Lepas dari itu, adalah politikus senior asal PKB, Mas Lukman Edy yang memberi pemahaman kepada saya. Beliau kakak kelas saya, senior aktivis kampus saya, dan beliau adalah mantan menteri, kader NU tentunya. Ketika akhir tahun 2016, banyak yang berpikiran bahwa NU tidak mendukung MUI dalam kasus fatwa penistaan agama, saya malah berpikiran bahwa NU pasti mendukung fatwa MUI tersebut. Hal ini karena saya lumayan intens mengikuti chat Mas Lukman Edy, dan saya faham chat beliau mengarah ke dukungan fatwa MUI.

Hal kedua yang meyakinkan saya bahwa NU pasti mendukung MUI tentunya karena ketua MUI, KH Ma'ruf Amin, adalah ulama senior NU. Mana ada NU tidak mendukung ulama kharismatik-nya ? Ini hanya soal waktu.

Saya bukanlah anggota NU, juga bukan mendadak NU. Tentang NU, saya hanya umat yang seringkali sholat di masjid NU. Tetapi dari​ awal saya yakin NU pasti mendukung MUI. Sepanjang waktu. Begitu. []Haris Fauzi, 5 Februari 2017

Saturday, December 03, 2016

212

Mobil yang kami tumpangi beranjak dari Jatiasih sekitar pukul enam pagi. Kurang sedikit. Menuju silang Monas. Sepanjang mengukur jalan, kami bermain tebak perkiraan. Karena menurut perkiraan kami, mereka yang berada di jalanan kala itu, separuhnya hendak menuju lokasi yang sama, Monas. Tak bisa dipungkiri bahwa mereka ternyata demikian banyak, sebagian terinspirasi dengan longmarch para ulama dan santri Ciamis yang fenomenal itu.

Menjelang menuju akses tol dalam kota, jalan tol lingkarluar kondisi lalu-lintas sudah merayap. Rupanya tol dalam kota arah Semanggi sudah mengantri panjang sekali. Kebanyakan peserta aksi 212 memang merencanakan hendak melalui tol Grogol menuju kawasan Sudirman, lantas menuju Monas. Melihat gelagat ini, kami memutuskan untuk menempuh jalan lain, yakni tol dalam kota arah Priuk. Rencananya akan menuju silang Monas melalui pintu tol Cempaka Putih, Jalan Soeprapto, Senen, Kwitang.

Turun tol Cempaka Putih, kami beriringan dengan banyak peserta aksi 212. Akhirnya kami semua tertambat di bilangan Galur. Memarkir kendaraan. Turun. Dan lantas melanjutkan perjalanan menuju Monas dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan berjalan kaki dari Galur menuju Kwitang, partisipasi warga sekitar begitu tinggi kepada para peserta aksi. Semua warga mendukung aksi 212, yang ingin menyuarakan "Hukum Penista Al-Qur"an". Wajah - wajah penuh harap dari warga sekitar dipancarkan dengan tulus sambil menyodorkan minuman dan makanan, berharap diambil oleh para peserta aksi yang tengah berjalan berombongan. Para mujahid menerima dengan suka cita, bahkan ada beberapa mujahid yang tetap menerima uluran tangan para warga yang terus menyodorkan air minum, walau sudah keberatan membawanya. Mereka enggan menolak uluran ikhlas para warga yang mendukung aksi ini.

Pergerakan mujahid ini mulai terhambat memasuki area simpang Kramat karena bertemu dengan peserta yang datang dari arah Salemba menuju Kwitang. Dan jalanan makin sesak di silang Tugu Tani. Massa semakin rapat. Rombongan kami tertahan di depan screen Gambir. Tidak bisa maju lagi. Dan akhirnya menggelar sajadah membentuk shaf sholat jum'at di situ. Waktu menunjukkan sekitar pukul 10.30. Saat itu ustadz Abdullah Gymnastiar memberikan tausyiah.

Tak lama setelah do'a bersama dipimpin oleh ustadz Arifin Ilham yang demikian fenomenal, maka dikumandangkan adzan. Ketika ini terkabar informasi bahwa jamaah mujahid dibelakang kami sudah mengular hingga Kwitang dan Cempaka Putih. Subhanallah. Semula kami tak percaya hal ini. Namun ketika kami pulang sekitar pukul dua siang, barulah kami percaya. Bis - bis yang membawa peserta aksi 212, berparkir ria terhampar sepanjang jalan Soeprapto dari Galur hingga Sumur Batu ! Ratusan bis terjajar rapi disitu.

Bila dibelakang saya terhampar shaf hingga Kwitang, sementara ujung Semanggi hingga mencapai Thamrin, bisa dibayangkan berapa banyak manusia mujahid mujahidah melauti Jakarta. Konon mencapai 5-6 jutaan. Mereka berdo'a dengan damai. Berdo'a agar Si Penista dihukum dengan setimpal.

Pada opini koran Republika 3/12, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menulis kolom berjudul "Pesan Aksi Damai 212". Dalam tulisan tersebut Nashir berpesan, bahwa Si Penista Agama seyogyanya dihukum dengan setimpal. Jadi, walau sekarang atmosfirnya adalah berdo'a dan berzikir, tetap saja pesannya adalah tuntutan hukuman kepada Si Penista. Tetap. Sesuai dengan fatwa MUI yang harus dikawal.

Seperti saya tuliskan di atas, kami mulai membubarkan diri usai berjamaah sholat jama' ashar, sekitar pukul setengah dua siang. Dan pergerakan mujahid mujahidah ini baru terurai sekitar pukul empat sore. Dan itu semua terjadi dengan damai, tenang, tertib, indah. Media - media islamphobia yang semula sinis, kini berbalik meng-"klaim" keberhasilan Umat Islam ini. Banyak media yang sebetulnya tersadar akan damainya Islam, tapi masih malu - malu mengakui. Mungkin masih butuh waktu. Jadi Aksi Bela Islam III-
212 ini mengirimkan pesan dua hal, pertama adalah pembuktian Islam Damai, dan kedua adalah tuntutan hukum setimpal kepada penista Al-Qur'an.

Bila membahas mengenai penerapan hukum kepada pelaku penistaan Al-Qur'an, kali ini negara sepertinya tidak siap. Dan, akhirnya Umat Islam harus membantu menyadarkan para pejabat negara bahwa pelakunya harus dihukum setimpal. Lihat saja bagaimana Majelis Ulama Indonesia harus mengeluarkan fatwa agar para pejabat sedikit melek kepada kasus ini. Bagaimana para Ulama harus bertentangan dengan para backing - backing berkekuatan dana besar yang tidak menyukai rilisnya fatwa MUI. Mereka kemungkinan adalah para cukong yang memiliki kepentingan tertentu. Ini masalah serius. Dan rangkaian Aksi Bela Islam, jilid I-III ini berusaha menyadarkan kepada para pejabat bahwa Islam itu damai, dan juga bahwa kasus penistaan itu serius. Total jenderal dari tiga aksi yang telah di gelar, insya Allah sekitar 8 juta suara rakyat Indonesia. Kedelapan juta suara itu masuk ke telinga pejabat negara. Insyaa Allah terdengar. Suara 8 juta orang yang turun jalan dan berteriak, apakah mungkin tak terdengar ?

Bayangkan. ketika Al-Qur'an dinista, dan ketika si pelaku seakan kebal - bebal dan bebas berkeliaran. Maka jutaan umat Islam melakukan protes turun jalan. Protes turun jalan yang pertama, kemudian kedua --diikuti sekitar 2,3 juta mujahid.  Dan paska Aksi Bela Islam II ternyata si Penista masih saja gentayangan, maka Aksi Bela Islam III pada 212 pesertanya membengkak menjadi lebih dari lima juta orang, membengkak 100%. Ada yang bilang lebih dari 7 juta. Jumlah peserta itu terus saja membesar dan terus membesar, menuntut si Penista dihukum. Apakah pejabat negara menunggu membesar hingga meledak ? Wallahu'alam. Saya jelas tidak faham bagaimana sensitivitas gendang telinga pemerintah. Yang saya yakin adalah bahwa para mujahid dan mujahidah itu siap jiwa raga membela Al-Qur'an. Saya sangat yakin, apapun resikonya. [] haris fauzi, 3 desember 2016.

Tuesday, November 15, 2016

Awas Provokator Beraksi

Seminggu ini ada dua kejadian provokasi. Sungguh menyedihkan. Satu provokator beraksi ketika diadakannya Aksi Bela islam 411 di Monas Jakarta. Seorang pria provokator berteriak - teriak "Bakar gereja !" berulang - ulang. Untungnya peserta aksi berhasil mengamankan pria ini. Setelah dibekuk, pria provokator ini ternyata membawa KTP dengan identitas non-muslim. Aksi provokasi berlangsung juga pada malam harinya sehingga membawa korban meninggal dan luka - luka. Apakah ini bukan aksi provokator ? Pasti ini provokator, namun dia tidak sukses mengemban misinya. Bayangkan apabila ulah dia berhasil, maka akan ada bentrok besar - besaran di Monas kala itu. Sungguh kegilaan tak bernalar. Apapun, adanya korban meninggal dalam kasus provokasi ini mencatatkan kelakuan bengisnya.

Kejadian kedua adalah peristiwa pelemparan bom molotov di Samarinda pada Minggu 13 Nopember 2016. Dilakukan oleh gerombolan bengis Bom Buku, aksi ini mengakibatkan korban meninggal, diantaranya bocah. Tujuannya jelas, menciptakan provokasi dan  mencemarkan nama Islam. Menciptakan provokasi, karena hendak memecah persatuan. Mencemarkan Islam karena para pelaku teroris bayaran ini mengenakan baju berlabel Islam. Apa maksudnya coba ?

Bila kita bertanya maksudnya, maka dua kejadian provokasi diatas jelas terangkai. Dalam Aksi Bela Islam yang diikuti jutaan ummat Islam, provokator (yang katanya ber-KTP non Islam) malah menghasut untuk melakukan pembakaran gereja. Tujuannya jelas, menciptakan kerusuhan besar, menciptakan image buruk bagi Islam. Demikian juga maksud pengebom Samarinda yang sengaja mengenakan kaos bertulis "jihad".

Dua kelakukan bengis provokator itu, mencatatkan korban meninggal. Memang provokator yang hendak mencitrakan Islam buruk itu selalu seperti itu. Jangan lupa dunia masih digegerkan dengan ISIS yang juga melakukan hal serupa bukan ? Dan ingat, ISIS itu binaan CIA dan Mossad, notabene bukan organisasi Islam. Dari skema nasional dan internasional ini, jelas ditarik garis merah, bahwa aksi teror, aksi provokasi, aksi ISIS adalah gerakan masif yang bertujuan dua hal, menciptakan teror dan kerusuhan, serta  untuk menyudutkan Islam. Targetnya menyudutkan Islam. Mereka tidak peduli mau berapa korban lagi. [] haris fauzi, 14 nopember 2016