Saturday, July 14, 2018

Freeport itu Pilihan

Salah satu hiruk pikuk yang tak kunjung usai di nusantara ini adalah persimpangan masalah Freeport. Setelah sukses beberapa kali menjadi top hits, kali ini Freeport kembali mencuri perhatian masyarakat Indonesia dengan aksi yang dilakukan oleh Menteri Jonan, Rini, dan Presiden Jokowi yang melakukan pembelian saham Freeport melalui salah satu perusahaan milik negara bernama PT. Inalum. Dalam dekade terakhir, Freeport mencuri perhatian karena selalu terjadi tarik ulur ihwal kontrak karyanya. Berbeda tahun ini. Kali ini Freeport di-beli oleh pemerintah RI melalui pintu divestasi saham. Dibeli coy !

Ihwal kontrak Freeport, sejatinya tahun 2021 katanya bakal stop, dan bila putus kontrak itu terjadi maka Freeport bakal jadi milik RI. Sebagaimana pemain sepak bola dengan istilah bebas transfer. Itu plot tahun 2021 kelak. Tetapi pemerintah kini --tiga tahun sebelum kontrak habis-- memilih bersegera merogoh kocek 55 trilyun rupiah -- tentunya dengan disokong belasan bank nasional-- untuk melakukan divestasi saham. Membeli saham Freeport dari partisipasi RioTinto dan Indocopper Investama. Rio Tinto dan Indocopper ini semula dikuasai Freeport-Mc.Moran. Posisi saham Freeport-McMoran mungkin tetap, namun effort ini membuahkan hasil menaikkan kepemilikan BUMN bernama PT. Inalum atas saham Freport hingga 51%. Jadi dominan. Tidak hanya itu. Pemerintah juga bersepakat jidat memperpanjang kontrak Freeport dua puluh tahun lagi. Konon hingga tahun 2041. Itu harga yang dibayarkan oleh pemerintah. Tampaknya Freeport-Mc.Moran cukup puas dengan perpanjangan 20 tahun dan tukar - menukar saham senilai 55 trilyun tersebut. Skema pembayaran masih dalam proses negoisasi.

Membeli sesuatu, berarti ada yang diharapkan dari yang dibeli. Harapannya adalah pada deposit --sisa cadangan emas yang ada. Untuk ini memang masih perlu kepastian, karena tentunya tidak mudah menerawang sesuatu yang berada di dalam perut bumi. Karena bila cadangan masih melimpah, harusnya Freeport tidak rela dan tidak dengan mudah melepaskan saham - sahamnya. Dan pula, bila bicara ihwal saham, maka bila deposit mencukupi seharusnya saham Freeport tidaklah perlu melorot. Namun aktualnya saham Freeport sudah turun memudar pada medio 2016, entah ini dipengaruhi deposit atau tidak, wallahu'alam. Tentunya banyak faktor yang mempengaruhi hal ini. 

Sebaiknya begini. Jangan percaya begitu saja ihwal deposit ini, ada yang bilang masih banyak, ada pula yang bilang tinggal sedikit. Disisi lain ada yang bilang kilaunya telah memudar, namun di sisi lain beberapa laporan menyampaikan bahwa cadangannya masih lebih separuh. Ini masih perdebatan. 

Faktor berikutnya adalah seni berbisnis. Inilah contoh kongkrit seni dalam berbisnis. Bisnis itu ya pilihan seperti ini, mengambil keputusan dengan data yang diyakini. Dengan mantab. Bukankah begitu ? [] haris fauzi - 14 juli 2018


Friday, June 29, 2018

kota idaman

Apa sih yang disebut dengan negara, kota, atau daerah yang maju ? Ini pertanyaan yang gampang, menjawabnya juga gampang. Gampang, karena tiap orang punya persepsi tersendiri tentang apa yang disebut dengan negara maju, demikian juga dengan saya. Hal ini dipermudah dengan memberi contoh. Misal "Jerman", yang disebut maju karena teknologinya, karena gedung pencakar langitnya, karena infrastrukturnya, karena layanan masyarakatnnya, karena sepakbolanya. Perancis dan Italia karena pergaulannya, karena gaya hidupnya. Ihwal kota, Jakarta juga sempat dijuluki kota yang maju, karena reklamasinya, karena dengan adanya reklamasi, maka garis pantainya jadi lebih maju.

Baru - baru ini seiring penyelenggaraan pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah, sering pula dikait - kaitkan dengan kemajuan suatu negara, kota, atau daerah. "Kalau mau daerah kita maju, ya sebaiknya pilih calon si A...", gitu misalnya. Ini sesuatu yang terlalu subyektif. Suatu kota, negara, atau daerah maju, kembali lagi, mengacu kepada "utopia" atau tanah harapan yang dirindukan. Future city. Nah, tanah harapan setiap orang tentu berbeda - beda. Kebanyakan, kemajuan diidentikkan dengan kemewahan, pencakar langit, kecanggihan, kemegahan. Mayoritas menganggap Paris, Bonn, New York, London, dan sebangsanya adalah kota - kota yang maju, yang dicita - citakan banyak orang di Indonesia. Mereka begitu kepingin pergi, menetap, dan mati disana. Mereka akan senang tinggal di sana. Begitukah ? Tidak juga. Dari sisi lain seorang urban yang bekerja di Jakarta, tak jarang merindukan balik kampung ke desanya. Menurutnya, di desa lebih nyaman daripada di metropolitan. Apakah desa lebih maju dari ibukota ? Ataukah ibukota lebih maju dari desa ? Wallahualam.

Suatu ketika, dalam urusan dinas kantor, tentunya ada acara pergi ke luar negeri. Bila bepergian dinas itu berkaitan dengan kota - kota favorit seperti Paris, London, New York, sepertinya kebanyakan karyawan berlomba ingin ke sana menunaikan tugas dinas. Penggemarnya lebih banyak daripada bila dikirim dinas ke Zimbabwe atau papua Nugini misalnya. Mengapa, karena itu tadi. Kota - kota favorit itu merupakan kota yang dianggap "maju" sehingga menjadi dambaan banyak orang. Banyak kesenangan di sana. Namun tak jarang ada juga yang memilih tidak ke luar negeri, mungkin karena mereka mendambakan pulang kampung paska pensiun. Saya termasuk orang yang tidak terlalu ngebet ke kota - kota dambaan itu. Bukannya tidak mau. Saya suka saja pergi kemana saja, namun bila disuruh memilih, saya kangen pergi ke Makkah atau Madinah. Itu saja sih. [] haris fauzi - 29 juni 2018.

Ilustrasi : https://www.oxfordmartin.ox.ac.uk/event/2355