Tuesday, April 10, 2007

kenisah : buperta

BUPERTA
 
Hari Sabtu kemarin istri saya mengajak ke sekolah anak. Mau ngurus ihwal perpustakaan sekaligus njemput pulang si Sulung. Ya karena urusannya adalah urusan istri, maka saya mending nunggu di teras mesjid dekat SD Si Sulung, sambil nyuapin si Moncil. Si Moncil pagi itu kesiangan bangun, jadi belum sarapan. Pada saat itulah saya --nggak tau dia datang dari mana, dia bersandar ke salah satu pilar mesjid-- sempat berkenalan dengan seorang kakek tua, yang mengaku berumur 81 tahun dan tinggal di kampung balik. Aslinya mengaku dari Padang.
 
Rupanya sang Kakek memperhatikan 'unyeng-unyeng' kembar anak saya. Kakek itu menyapa saya dengan nasehat,'...anak itu puser rambutnya ada dua di ubun - ubun pula... Orang tuanya musti hati - hati....Karena diterkam macan...', ujar dia sambil nunjuk kepala Si Moncil. Si Moncil, anak kedua saya-- memang memiliki dua puser rambut kepala, demikian juga dengan si Sulung. Saya-pun punya dua. Posisi 'unyeng-unyeng' kami bertiga mirip, ada di ubun - ubun semuanya.
Sang Kakek dengan suara yang kurang jelas --karena giginya sudah pada tanggal-- bercerita bahwa dia-pun punya dua 'unyeng - unyeng', namun tidak di ubun - ubun. Dan tradisi dia setiap tahun mengunjungi macan --di taman safari-- untuk berkenalan dengan macan agar tidak di-'terkam'. Dia menganjurkan kepada saya untuk berbuat serupa, apalagi kami bertiga semua ber-'unyeng'unyeng' ganda. Entah ini ritual apaan lagi.
Mungkin hampir setengah jam saya ngobrol dengan dia, hingga dia pamit dan berjalan tertatih lantas hilang dibelakang warung.
 
Lepas dari urusan sekolahan plus 'unyeng - unyeng', kami berkendara ke Cibubur, mau jalan - jalan alakadarnya. Kami memang suka mencari lokasi wisata yang murah meriah, seperti minggu lalu kami sekeluarga mengunjungi perumahan Rancamaya di Sukabumi karena hendak menonton festival layang - layang raksasa nasional di sini. Gratis lho.... Selain nonton dan bermain layang - layang sampe teler, anak saya juga main petak umpet berkejaran di situ. Maklum, ternyata banyak temannya yang juga hendak nonton layangan terbesar se-Indonesia itu. Asli gede banget layangannya, sampai harus di pasak ke mobil kijang biar nggak lepas terbang. Kami di Rancamaya sekitar empat jam.
 
Di kawasan tol Cibubur ada beberapa tempat melancong. Salah satunya adalah Buperta. Ada juga lokasi wisata Taman Wiladatika, habis renovasi lagi. ....pasti sip. Katanya di Wiladatika ada permainan menangkap ikan di lumpur, buat anak - anak sih. Tetapi karena hari panas sekali, dan kelihatan sekali bahwa Buperta lebih teduh, maka kami memutuskan untuk singgah ke Buperta dan menunda ke Wiladatika.
Oh ya, dulu, pernah juga kami naik motor boat di danau belakang McDonalds Cibubur yang kondang itu. Jadi, di dekat pintu tol Cibubur  itu total ada empat lokasi 'plesir' termasuk Cibubur Junction Mall. Kalau anda mau terus ke arah Kota Wisata, maka disono ada taman bermain anak - anak --kalau nggak salah namanya Dreamland-- yang pintunya tembus ke Kampoeng China yang cukup kondang itu, tapi cukup jauh. Nggak masuk hitungan bilangan situ.
 
Karena memang pingin tau, maka sekitar pukul sebelas siang kami sekeluarga memutuskan meluncur memasuki gerbang Buperta.  Tiket masuk mobil delapan ribu perak. Orang nggak bayar alias nggak dihitung karena tidak sedang mengikuti event.
Buperta kalo nggak salah adalah singkatan dari Bumi Perkemahan dan Graha Wisata. Ini dulu adalah lokasi yang terkenal buat perkemahan pramuka, jambore istilah kerennya. Sekarang kondisinya cukup 'kurang terawat'. Ada patung Ibu Tien Soeharto di depan lapangan utama.
 
Seperti tradisi, saya langsung nyelonong ke kantornya minta denah dan daftar tarip tiap wahana. Hal ini mempermudah saya untuk mencari lokasi yang menarik. Nggak kebayang bila kita ke Taman Mini Indonesia Indah --misalnya-- tetapi kita tidak punya petanya.
Sebaiknya bila kesini membawa serta sepeda kayuh. Kita bisa puas bersepeda puter - puter disini, jalannya beraspal rata dan tidak simpang siur. Ada penginapan, ada danau yang katanya angker, yang jelas area berkemahnya luas sekali, plus jogging track dan jalur penjelajahan pramuka. Tumbuh rimbun banget tanamannya, apalagi dilokasi halang rintang. Pohonnya tinggi - tinggi sekali lengkap dengan kawanan monyet. Ada wahana renang, dan ada pula wahana yang sedang 'under construction', sejenis taman bermain outplant yang dilengkapi pake go-kart. Yang ini asik kayaknya bila jadi kelak. Bisa juga mahal tiketnya. 
 
Danau angker ? Nggak terlalu kelihatan seperti itu. Yang banyak kelihatan malahan monyet - monyet. Tapi memang danaunya cukup luas dan dalam, praktis jadi takut kecebur. Sebenernya sih bisa sewa perahu motor dan sepeda air disono. Kami bermain - main di tanah lapang tepi danau, tumbuhan cukup banyak, rumputnya-pun rata sehingga bila terjungkal tidaklah terluka lututnya.
Capek berlarian di tepi danau, anak saya minta makan ketoprak dan pisang goreng. Ya oke-lah murah meriah, empat ribu rupiah se-porsi. Agar - agar (jeli) bekal Si Sulung juga tandas dimakan. T'rus kita ke mesjid, --agak jauh-- dan musti melewati area yang sering dipake shooting sinetron. Pas itu memang ada shooting pula, judul narasinya kalo nggak salah adalah sinetron 'Fitnah Berdarah'. Mobil terpaksa pindah parkir dan buru - buru cabut, takut kejebak shooting. Pernah suatu ketika di Bogor saya  mengalami seperti itu, nggak bisa ngambil mobil karena pelataran parkir sedang dipake shooting. Pas itu di pertokoan, saya pulang kerja lagi. Sekitar se-jam mobil saya ada dilokasi 'terlarang' itu. Kapok. Jadi kalo pas ada shooting, mending nyingkir.
 
Setelah puter - puter lagi dan beli es jeruk plus pepes ikan, lepas ashar kami memutuskan pulang. Wah ! Jalanan macet ternyata. Maka kami mampir ke warung madu apiari. Ada taman bermain disitu, ada pula tontonan terapi 'sengatan lebah'. Sebenernya ini bukan tontonan, tapi kami nggak dilarang nonton orang yang disengat itu. Cukup aneh bagi kami yang beranggapan bahwa sengatan lebah itu pastilah sakit, lha disini dipake untuk obat manjur.
Acara kami disitu ditambah beli sebotol madu --harganya sekitar lima puluh ribu rupiah sebotol,--  lantas kami memutuskan pulang menembus kemacetan yang belum reda. Menjelang maghrib kami tiba di rumah. Buruan sholat ashar, lantas menyantap pepes tadi. Si Sulung yang minta agar 'prosesi' makan malam disegerakan plus lauk pepesan yang dibeli tadi, ... dan dia membuktikan dengan nambah dua porsi. Rupanya si Sulung terlalu aktif dalam bermain - main barusan, sehingga dia kelaparan terus-terusan. Atau pepes-nya yang memang enak ? [] haris fauzi - 10 april 2007


Need Mail bonding?
Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users.

Friday, March 30, 2007

kenisah : modernisasi

MODERNISASI
 
Berikut ini adalah interpretasi pribadi saya yang tercipta dan ter-' tangkap' sekilas setelah setengah mati saya membaca tulisan sosiolog Iran,-- siapa lagi bila bukan .....Mr. Ali Syari'ati. Menurut Syari'ati, semenjak renaisans dan revolusi industri, jelas sudah arah nahkoda peradaban Eropa adalah ke modernisasi dan konsumsi. Dalam penekanan buah pikirnya di naskah 'Peradaban dan Modernisasi', Syari'ati menjelaskan bahwa pangkal muasalnya adalah didewakannya mesin produksi, dimana semenjak revolusi industri terus - menerus dipacu produktivitasnya. Mesin produksi --pabrik-- dituntut untuk selalu berproduksi hari ini lebih banyak daripada kemarin. Sebetulnya ini adalah hal lumrah. Dalam hitungan teknik, hal ini biasa disebut dengan peningkatan unjuk-kerja. Dan hal ini adalah sah - sah saja. Efektifitas mesin produksi haruslah diukur dari skala produktivitas.
 
Yang jadi perkara adalah ketika pasar di Eropa sudah jenuh. Inilah yang di-'perkara'-kan oleh Syari'ati. Ya bagaimana lagi ? Mesin-mesin  ini terus saja mencetak produk - produknya makin banyak sahaja. Sementara untuk menyerap produk itu maka daya beli masyarakat didongkrak, daya konsumtif masyarakat ditingkatkan, ...tetapi tetap saja produksi lebih banyak dan lebih banyak. Dan ketika pasar Eropa sudah mbludak oleh barang - barang, maka direncanakanlah proyek lintas benua ekspansi penjualan. Mungkin hal ini mirip ekspansi di era penakluk-an. Cuma bedanya di era penakluk-an para saudagar dan tentara Eropa yang dipelopori Portugis, Spanyol, dan Inggris melakukan pendekatan Gold & Glory, ...dan kali ini mereka melakukan pendekatan dengan semboyan 'modernisasi'.
 
Yang dimaksud Syari'ati dengan modernisasi di sini adalah suatu aktivitas untuk mengubah masyarakat non-Eropa agar berlaku seperti orang Eropa, agar mereka menjadi konsumtif seperti masyarakat Eropa, dan lantas mereka membeli barang - barang produksi Eropa. Hal ini menyentuh hingga tingkat kultur / budaya. Yang jadi santapan empuk adalah para mahasiswa dari Asia dan Afrika yang sekolah di Eropa, mereka terendam dengan kampanye 'westernisasi' ini, mereka diusahakan meninggalkan tatakrama, pakaian, dan bahasa asal mereka...Mereka diubah agar berlaku, berpakaian, dan berbahasa seperti orang Eropa. Seakan gayung bersambut dengan pikiran Syari'ati --tokoh kulit hitam Franz Fanon  juga menganggap bahwa setelah para mahasiswa itu kembali ke tanah airnya, mereka menjadi agen Eropa untuk mengubah masyarakatnya.
 
Nggak cuma lewat 'mahasiswa', para pegiat'modernisasi' ini-pun ekspansi dan penetrasi beneran ke tanah jajahan. Tengoklah ketika jaman Belanda dulu orang Jawa tidak ada yang memakai rok. Semua wanita Jawa memakai kain batik (sewek). Tetapi karena ada unsur penetrasi, maka beberapa mulai mengenakan rok, dengan mengesankan bahwa mengenakan rok adalah bangsawan kelas atas.
Di Afrika dahulu kala kaum lelaki menunggang kuda dan demikian bangga dengan kudanya, namun kini mereka bangga dengan mengendarai mobil. Mungkin sampai sini pikiran Ali Syariati bisa dinilai terlalu ekstrim dan menggelikan. Lha iya mosok jaman sekarang mau naik kuda ?
 
Tapi ambil makna dari uraian Syariati berikut ini. Syariati muda adalah seorang mahasiswa sosiologi di kampus Eropa-- yang mana pernah hendak direkrut oleh sebuah pabrik mobil. Dalam interview, diuraikan bahwa marketing produk tersebut hendak menjual mobil ke Asia dan Afrika --karena pasar Eropa sudah jenuh. Salah satu caranya adalah mengubah sosio-kultur masyarakat 'terbelakang' tersebut. Dalam konteks modernisasi, maka Asia dan Afrika adalah terbelakang. Diceritakan juga salah satu cara sales kendaraan itu untuk bisa menjual mobilnya ke suku pedalaman di daerah Chad-Afrika adalah dengan memberikan dua mobil untuk diparkir di pintu gerbang rumah kepala suku sebagai ganti kuda elit yang biasa diikat disitu. Lantas dibangun jalan darurat sepanjang delapan kilometer melintas tengah desa di pelosok hutan itu, soalnya memang nggak ada jalan sama sekali. Dan bensin harus dikirim dengan sampan. Seorang sopir didatangkan khusus untuk nyopiri kepala suku hilir mudik beberapa kali dalam sehari. Lama - lama warga kepincut juga. Dengan cara seperti ini, mobil bisa terjual di daerah itu. Sebetulnya itu cuma hal mobil, tetapi yang dahsyat adalah bahwa masyarakat itu sudah berubah. Mereka semula mendewakan kuda, tetapi kini mereka mendewakan mobil --mirip cowboy Amerika yang dulunya gagah dengan kuda dan laso, namun kini mentereng dengan Ford dobel-kabin-nya.
 
Demikian juga dengan kosmetik, pakaian, alat elektronik dan simbol konsumtif --sekaligus simbol modernisasi. Semua itu hendak di-'jual' ke Asia dan Afrika dengan cara mengubah keinginan masyarakatnya. Bila dulu pengen pergi naik kuda, bagaimana caranya supaya mereka jadi pengen naik mobil ? Bila mereka dulu menghiasi wajahnya dengan getah karet, bagaimana caranya agar mereka mau memakai Christian Dior dibubuhkan ke pipinya ? Apabila dulu orang mengenakan sarung, bagaimana caranya supaya mau menjajal celana jeans ?
Fenomena masuknya jeans berarti menggusur sarung. Sarung yang berpola khas daerah akan hilang beserta alat tenunnya, musnah. Seperti mozaik Astec, seperti kaligrafi Arab, seperti relief candi Borobudur, pola sarung adalah hasil budaya. Artinya, sebagian peradaban dan budaya masyarakat tersebut ikut musnah bersamaan dengan dicampakkannya sang sarung tadi. Ini adalah pertanda keretakan budaya.
 
Menurut Syari'ati, semakin modern masyarakat, belum tentu menjadi semakin beradab. Karena ada bukti peradaban yang  luhung / tinggi --jaman dulu-- tetapi tidak membutuhkan Renault,  tidak butuh Christian Dior, dan alat elektronik juga nggak ada. Contohnya adalah jaman nabi Muhammad, jaman keemasan China, dan sebagainya. Dan menurut Syari'ati lagi, bahkan banyak masyarakat yang makin tidak beradab gara - gara ikut - ikutan mengkonsumsi produk modern dari Eropa tersebut.
Ya, modernisasi memang tidak sama dengan peradaban (madani), karena peradaban lebih menekankan masalah budaya, hukum, ideologi masyarakat, dan tatanan sosial. Sementara modernisasi adalah menekankan penggunaan peralatan dan barang'baru'.
 
Singkatnya, menurut Syari'ati apa yang dilakukan bangsa Eropa adalah mengembangkan pasar, mempromosikan gaya hidup konsumtif untuk menghabiskan produk mereka yang makin bejibun itu. Ke seluruh penjuru alam semesta kalo perlu. Salah satu kampanyenya adalah kampanye 'nilai universalitas' ala Eropa dan Amerika. Maksudnya adalah membuat bangsa non- Eropa menjadi seragam dengan bangsa Eropa --dalam rupa apa-pun seperti bentuk atap rumah, corak pakaian, gaya hidup-- sehingga mereka mengkonsumsi barang yang serupa juga. Dan yang terakhir, Eropa dan Amerika juga kampanye mengenai 'globalisasi dunia', dengan maksud agar seluruh dunia seragam dari sisi apapun termasuk ideologi dan -isme-nya, hukum, tatanan masyarakat, dan kondisi kulturnya  sehingga makin mudah dikendalikan dan menjadi pasar yang mampu menyerap produk mereka. karena  penghalang terbesar ekspansi pasar itu  adalah perbedaan -isme. Contohnya adalah dagangan rok mini musim panas yang demikian laku di Eropa, pasti penjualannya akan terganjal ideologi dan ajaran Islam di Asia.
 
Ah. Terus terang hal tersebut belum pernah saya pikirkan secara detail seperti itu. Sebagai seorang lulusan teknik, saya cukup ciut nyali juga ketika membaca analisa Syari'ati tentang dampak revolusi industri yang demikian getir ini. Namun bagaimana-pun Ali Syari'ati memang selalu memberi saya banyak hal - hal baru.[] haris fauzi - 30 maret 2007
 
 


Finding fabulous fares is fun.
Let Yahoo! FareChase search your favorite travel sites to find flight and hotel bargains.

Monday, March 26, 2007

kenisah : istirahat

 
ISTIRAHAT
 
10.03.07 07:46am
Faukzanbunul wrote :
sabat adalah hari ketujuh,
ketika Tuhan beristirahat
setelah menciptakan bumi
dalam enam hari.
hari ini aku mengabaikan istirahat Tuhan.
 
Itulah pesan pendek yang masuk ke telepon genggam saya pada suatu hari Sabtu. Saat saya sedang beristirahat di rumah, bercengkrama dengan anak ragil saya selepas sarapan pagi. Sebuah kiriman dari seorang sobat yang bernama Fauk --tinggal di Bunul,  sebuah desa yang berimpit dengan kampung saya di Malang.
 
Sabat, berarti Sabtu. Kalau ada kelompok musik bernama Black Sabbath, itu mungkin artinya Sabtu kelabu. Sabtu merupakan hari ketujuh bila kita hitung dari Ahad. Ahad --yang kini populer dengan Minggu--  berarti 'satu'.
Tentang pesan pendek itu, saya nggak tau Fauk mencuplik kalimat itu dari mana. Terus terang saya sadar betul bahwa Fauk sedang bercanda, karena saya juga sadar betul beliau ini hafal salah satu ayat Kitab Suci Al-Qur'an yang menyebutkan bahwa ".....Tuhan tidak pernah lupa dan tidak pernah tidur.....".
 
".....He.. .he... ini hanya gurauan filsafat..., atau...filsafat guyonan ...?", pikir saya. Dan saya membalas pesan pendek itu dengan sebait kalimat,
"kita memang terlalu sering mengabaikan saat istirahat siapapun".
(-- saya balas demikian karena kebetulan  Fauk juga telah memaksa saya untuk berpikir ketika saya sedang beristirahat... haa.. haa.. haaa....)
Saya acapkali menyukai hal - hal seperti ini, guna mencerna dan memberi masukan kepada diri saya sendiri lebih banyak dan lebih baik. Menambah referensi. Padahal ya isi pesan pendeknya nggak bener kayak gitu.
 
'Tepak', kalau istilah orang Jawa Timur untuk menggambarkan beberapa kejadian yang terkait secara kebetulan. Itu kejadian di awal bulan Maret, setelah saya sebulan penuh di bulan Februari-- harus istirahat --tidak bisa bekerja karena sakit. Saat awal Maret itulah, --kalau boleh berbangga--, saya telah menemukan secercah kesadaran bahwa saya adalah manusia yang bisa sakit dan ambruk, dan suatu saat bakal mati.
 
Kebanyakan kita semua mengetahui bahwa kita adalah manusia yang memang bisa sakit dan bakal mati. Tetapi, rasanya tidak banyak yang menyadarinya dengan sefaham - fahamnya. Saat itu sayalah setidaknya yang berlaku gegabah seperti itu. Saat itu saya hanya mengetahui bahwa saya adalah manusia, tetapi saya tidaklah memakluminya sesadar - sadarnya.
Ketika seorang dokter, seorang istri, dan seorang Ibunda menganjurkan agar saya istirahat dari bekerja bakal sejenak, --sehari dua untuk cuti sekedarnya--  saya tetap ngotot berangkat ke kantor dalam keadaan badan meriang menerjang banjir dan hujan, sejauh seratus kilometer. Apa yang saya lakukan kala itu bisa jadi benar - benar menyimpang dari hukum alam. Walhasil tak lama kemudian saya di-'kandang-kan di ranjang putih, alias opname di rumah sakit. Bahkan pake acara nginep di ICU segala.
 
Kalau dirunut, ternyata saya dihujani penyakit bertubi - tubi, mulai dari diare, flu berat, juga dugaan parathypus. Dan lantas satu penyakit yang nyata - nyata menggiring saya opname adalah demam berdarah yang ternyata cukup parah hingga paru - paru saya kebanjiran cairan tranfusi. Terakhir kali saya dapat bonus dugaan hepatitis. Alhamdulillah semua sudah beres sekarang.
 
Nah, setelah dihajar sedemikian rupa inilah saya menjadi sadar betul bahwa saya bisa sakit. Jadi mutlak saya adalah manusia yang butuh beristirahat.
 
Ya itulah. Kalau saya ulangi cerita saya, ternyata saya dihajar bertubi - tubi penyakit, ...dan akhirnya saya baru benar - benar menyadari hal tersebut. Menyadari bahwa saya adalah manusia yang butuh istirahat ! ...Dan saya tidak ngantor sebulan penuh, dua minggu di rumah sakit, dua minggu 'thenger - thenger' di rumah. Nggak cuma itu, saya juga sempat mendapat acungan ketupat bangkahulu dari staf keuangan kantor karena terlambat setor pertanggungjawaban keuangan.
 
Kalimat berikut ini sengaja saya ulang - ulang dalam tulisan ini. Sejak kecil saya tau betul bahwa saya manusia dan manusia itu bisa sakit, namun kayaknya saya belum benar - benar menyadarinya. Bagi saya 'menyadari' itu berbeda dengan 'mengetahui'. Kelakuan --atau amalan-- membuktikan hal itu. Hampir semua orang tahu bahwa dia bakal mati, tapi sedikit yang mengamalkan kesadaran tentang ajal kematian yang akan menjelang. Bahkan saya pun tau bahwa saya bisa sakit, tetapi saya tetap tidak mau beristirahat. Kala itu.
 
'Kan nggak cuma saya yang ternyata terkena pukulan bertubi - tubi. Bila kita berbicara tentang komunal, maka bangsa Indonesia ini juga telah bertubi - tubi dihajar bencana. Saya lupa menghitungnya, mulai gelombang pasang, pesawat berantakan, kapal karam, air bah,  lumpur yang mendadak menggila dan tak kunjung waras,  angin mengamuk di ubun - ubun, gempa yang menggetarkan, ..... atau apa lagi. Mungkin saya terlalu sedikit menyebutkan, karena saya tidak langganan koran dan jarang pula menonton televisi. Televisi di rumah lebih sering memutar video konser musik ketimbang nyetel siaran televisi swasta.
 
Manusia sebebal saya butuh demikian urut penyakit yang bergantian membekap saya untuk menemukan sedikit instropeksi dan kesadaran. Entahlah bangsa ini. Andai saya boleh menduga, bisa jadi inilah skenario dari Tuhan.
Bagi saya, terlalu banyak hal yang disediakan Tuhan  tetapi kita masih terlalu sedikit mengerti fungsi dan maknanya. Contoh paling gampang adalah penciptaan lalat, atau nyamuk, atau apalah... Yang bagi sebagian besar orang makhluk seperti itu tidaklah ada makna dan maksudnya. Ya itu tadi, banyak yang belum kita mengerti dan kita sadari perihal segala ciptaan Tuhan ini. 
Taruhlah kita berandai - andai bahwa ada kemungkinan bencana tersebut dihadirkan oleh Tuhan agar bangsa ini  menemukan kesadaran, agar bangsa ini meng-istirahat-kan sebagian kebiasaannya yang menyimpang dari hukum alam. Atau apalah... mungkin sedikit instropeksi ? [] haris fauzi - 23 maret 2007
 


salam,
haris fauzi


Sucker-punch spam with award-winning protection.
Try the free Yahoo! Mail Beta.