Friday, June 06, 2008

kenisah : walk out

WALK OUT
 
Though my eyes could see I still was a blind man
Though my mind could think I still was a madman
.....
And if I claim to be a wise man
It surely means that I don't know
("Carry On Wayward Son" - Kansas)
 
"Mas, tarip jemputan sekolahnya Salma naik", gitu suatu petang istri saya bilang.
"Berapa ?", saya nanya ogah - ogahan.
"Dari dua ratus ribu jadi dua setengah". Maksudnya pasti menjadi dua ratus lima puluh ribu.
"Ya.Oke..masih mending. 'Kan dua puluh lima persen, sementara bensin naiknya tiga puluh persen. Gapapa". Tukas saya.
 
Begitulah. Salma berangkat sekolah menggunakan fasilitas antar jemput, bareng temen - temennya. Kali ini tarip jemputannya naik. Setelah pembicaraan kami sore itu, tak lama kemudian telpon di rumah tak kunjung berhenti berdering. Sesama orang tua saling telpon untuk memperbincangkan kenaikan tarip jemputan anak tersebut. Ada yang berhitung dan menentukan harga versi masing - masing, namun pada intinya  kebanyakan 'berkeberatan' dengan kenaikan tarip tersebut.
 
Selidik punya selidik, ternyata ada keputusan untuk melakukan aksi "walk out".  Maksudnya, para pelanggan jemputan tersebut walk out alias nggak melanjutkan langganan. Pasalnya gara - gara naik lima puluh ribu sebulan.
 
"Kayaknya tinggal Salma yang gak keberatan dengan kenaikan itu. Ibu - Ibu yang lain pada keberatan dan gak pada ngelanjutin langganan jemputan", gitu papar Istri saya.
Saya spontan tertawa. Menertawakan kecerobohan saya yang gak terlalu peduli dengan kenaikan lima puluh ribu rupiah itu. Yang jelas saya menertawakan Salma. Dalam jemputan itu, Salma terbilang paling sedikit uang jajannya. Salma dalam seminggu bawa uang sangu cuma seribu perak, yang lain ada yang lima ribu sehari.
 
Saya mencoba berpikir realistis, dan berkaca bilamana saya menjadi pengusaha jemputan itu. Kenaikan harga yang relatif rasional menurut saya. Saya masih mampu juga membayarnya. Dan dalam pandangan saya, menilik dari uang jajan anak - anaknya, menilik dari gonta - gantinya mobil orang tuanya --bahkan ada yang menyindir mobil saya agar segera di ganti karena sudah ketuaan--, menilik dari rumah - rumah mereka yang bahkan ada yang berharga sepuluh kali lipat rumah saya. Saya jadi bingung, mengapa mereka keberatan dengan kenaikan lima puluh ribu rupiah sebulan ? Membuat reaksi walk-out ? Tidak meneruskan langganan dan hubungan yang terjalin baik selama ini ? Ah, entahlah.
 
Bicara tentang walk-out, minggu lalu ada siaran dialog di televisi, bicara soal aksi mahasiswa kontra kenaikan BBM. Dihadiri banyak mahasiswa, dan beberapa tokoh pemerintah dan kepolisian. Entah kenapa, para mahasiswa yang mengikuti dialog tersebut akhirnya banyak yang walk out keluar studio televisi. Saya lihat presenternya cukup kecewa dengan walk out-nya puluhan mahasiswa itu.
 
Saya jadi membayangkan, betapa perasaan tetangga saya yang mengusahakan jemputan itu pastilah kecewa. Dari ukuran operasional, dia menaikkan tarif di bawah biaya konsumable yang harus ditanggung. Masih ditambah walk out para pelanggannya. Ah.
 
Tulisan ini agak beralih. Maaf. Dalam sehari, tukang sayur bergantian lewat bisa lima kali. Mereka kepanasan dan biasanya pake payung atau kerudung handuk. Saya beberapa kali menegur Istri saya supaya jangan terlalu menawar rendah dagangan mereka, "..mereka sudah kepanasan....", dalih saya. Memang kala tulisan ini dibuat para pedagang sayur juga telah menaikkan harga dagangan mereka, sekitar sepuluh persen.
Menurut pengakuan mereka, keuntungan mereka memang turun gara - gara harga kulak naik, dimana kenaikan harga kulak tersebut belum sempat diimbangi dengan kenaikan harga jual mereka. Mereka takut para pelanggan bakal walk-out, karena hal ini membuat dagangan mereka malah gak laku sama sekali. Dan ujung - ujungnya membuat mereka kehilangan mata pencaharian. Keputusan yang bijak, sabar, dan legowo. Para pedagang sayur itu ternyata memiliki jiwa berkorban lebih unggul.
Para pedagang sayur mungkin adalah komunitas yang paling buta terhadap berita dan statistika gejolak ekonomi dan harga yang tidak menentu ini. Namun, mungkin karena ketidak-tahuannya inilah, karena kekurang - tahuannya inilah, saya merasa bahwa merekalah yang paling bijak dalam menyikapi kasus ini.[] haris fauzi - 5 Juni 2008


salam,

haris fauzi

Monday, June 02, 2008

kenisah : ketemu

KETEMU
 
Pas tahun 1997-an-lah kira - kira. Awal - awal saya numpang tinggal di rumah kakak saya di Jatimulya, Bekasi Timur. Pas itu teman kuliah saya yang jadi teman se -kantor, Hari Badrun namanya, juga beli rumah di Tambun, Bekasi Timur juga. Biasanya dia berangkat ngantor naik motor, saya milih naik bis. Milih begitu karena memang Badrun punyanya motor, dan saya juga gak punya motor gak punya mobil. Naik bis.
 
Akhirnya suatu hari sepakat berangkat bareng. Sekitar jam enam pagi, motor itu muncul lantas minggir ke halte. Setelah memastikan bahwa Hari Badrun yang mengendarai,  saya nyengklak naik. Kita berangkat ngantor, lewat jalan raya Bekasi. Eh, baru menjelang Pondok Ungu, pagi itu hujan tercurah. Daripada basah kuyup, mendingan telat. Kita memutuskan minggir dan berteduh di emper toko jualan kayu bangunan. Banyak bener yang berteduh, motor berderet - deret, orangnya kedinginan sambil celana tergulung lengan terlipat rokok berkepul - kepul.
 
Entah iseng kenapa, Badrun berniat melepaskan tas cangklongnya dan meletakkan di tumpukan kayu - kayu dagangan itu. Dan walhasil, ketika hujan mereda, kita berdua terburu-buru langsung cabut dan melupakan tas milik Badrun yang teronggok di tumpukan kayu. Dasar pelupa, kita sadar hampir lima belas menit setelah itu. Terpaksa putar balik sambil ngebut. Dan bisa diduga, tas itu sudah nggak ada. Orang - orang juga sudah sepi, sudah nggak ada lagi yang berteduh. Yah, sekarang acaranya mengumpat - umpat sejenak. Tas buluk hasil minta paksa dari seorang teman kos itu raib. Di cari di kolong - kolong juga nggak ada.
Entah kerasukan setan apaan, kita berdua memutuskan untuk mencari di jalanan. Gak peduli mau telat berapa jam ngantornya, pokoknya musti berusaha cari tas itu dulu. Keputusan yang gak masuk akal blas, mengingat kita juga gak tau siapa yang nyamber itu tas, tadi kan banyak banget orang. Arahnya juga gak tau pada kemana, kan di jalanan banyak bener belokan. Mau di cari satu persatu ?
 
Atraksi di mulai. Saya dibonceng sambil berdiri sesekali, seperti mualim kapal. Kasih intruksi setengah ngawur. "Kayaknya belok kiri", atau, " coba kita inget-inget apa orang itu yang berteduh juga ?", sambil nunjuk motor orang yang berhenti di lampu merah. Badrun juga kadang - kadang secara feeling membelokkan motornya sambil bergumam pasrah,"...orangnya kali belok sini". Ah, analisa ngawur.
 
Sekitar jam sembilan pagi,  menjelang daerah Pulogadung, kita hendak nyalip sepeda pancal yang ada keranjangnya. Kaya orang jualan singkong gitu. Tanpa di duga, ternyata di dalam keranjang di sepeda itu ada tas-nya Badrun, warna biru buluk. Binggo..!!! Langsung kita paksa berhenti itu sepeda. Sebelum dia sempat komentar protes, Badrun bersicepat mengambil tas buluknya, membuka kantung, mengambil dompet, dan setor selembar lima ribuan ke pengemudi sepeda tadi. Kita trus ke kantor meninggalkan tukang sepeda yang terbengong - bengong.
 
Kemaren, hari Minggu saya mengantar anak ke toko buku. Toko buku ada di lantai dua, parkiran mobil ada di basement, di antaranya ada lantai satu di isi supermarket. Setelah parkir, anak - anak berhamburan sama istri saya masuk pertokoan, saya nge-tem sejenak ke lapak DVD, beli 'Forbidden Kingdom", "No Country for Old Men", dan "Asterix-Olympiade" yang dibintangi Alain Delon itu, lantas nyusul anak - anak ke lantai dua.
 
Di lantai dua, entah setelah berapa lama saya baru sadar bahwa karcis parkir mobil tidak lagi menempel di kunci kontak seperti biasanya. Dirogoh ke seluruh kantor juga nihil. Walah. Ini gimana nih. Akhirnya saya memutuskan untuk menyusuri lantai - lantai di pertokoan itu. Mata jelalatan mirip penyapu ranjau.
 
Pertokoan itu memiliki atap tinggi, dan untuk lantai dua hanya berada di pinggir bangunan, jadi tengah bangunan bolong ke atas. Dari lantai dua bisa liat aktivitas lantai satu lewat bolongan itu. Jelas berpagar biar orang gak kecemplung ke lantai satu.
Singkat cerita, dari pagar lantai dua itu saya bisa melihat ada kertas kecil terlipat. Tergeletak sendirian di lantai satu, mepet deretan kulkas dagangan, dekat eskalator ke basement. Saya mempercepat langkah segera turun. Dan memungutnya. Saya segera buka kertas terlipat itu. "Sim Salabim... !". Sebuah karcis parkir , disitu tertera F1300BG, plat nomer mobil saya. Alhamdulillah....[] haris fauzi - 1 Juni 2008


salam,

haris fauzi

Friday, May 23, 2008

kenisah : di tepi cakrawala

DI TEPI CAKRAWALA
"kamu dimana ?", tanya seseorang di pesawat seberang
"..di toko buku, ...lantai atas....", jawab saya
"saya di supermarket, ...bentar "
"oke. ...saya turun ke depan kasir supermarket ", .... seraya menuju kasir.
Kami berdua masing - masing menarik bangku. Agak lama kemudian memesan dua cangkir kopi ringan. Sebenarnya saya tidak ngopi, tapi kali itu tak apalah. Dia yang membayar.
Bercakap tentang hal - hal yang makin mengerucut, dia dengan lancar mendiskripsikan opininya. Opini yang bermuatan kekecewaan. Luka. Sedikit banyak memperkaya keyakinan saya. Membuat saya bersikap cenderung khawatir, menambah deretan syak-wasangka.
Neon pertokoan mulai padam satu - persatu. Tak lama kemudian kami akhirnya beranjak, berjabat tangan, meninggalkan pertemuan dua pasang mata. Percakapan yang relatif jujur dalam sebuah pertemuan singkat yang menambah kegelisahan. Pertemuan di tepi cakrawala.
***
" Aku sedang bayar tol ", Dia berujar di pesawat seberang
"...berarti sebentar lagi nyampe, sudah dekat kok..", tukas saya
"setelah gerbang, belok kiri trus kemana ? "
"gerbang belok kiri, trus langsung belok kanan. Ada mobil saya di tepi jalan ... "
Saya harus segera menyelesaikan makan malam. Dia hampir tiba. Rupanya dia sempat kesasar. Musti berputar gang dan mundur untuk menemukan mobil saya. Setelah dia turun dari bangku kemudi dan berjalan melingkari mobilnya, barulah saya yakin dia masih subur badannya. Walau jaket hitam eksekutif menutupinya. Dan saya juga yakin dia juga memikirkan badan saya yang tak kunjung gemuk, berikut rambut saya yang masih relatif gondrong.
Tawa khas-nya memecah cahaya rembulan. Kami berjabat tangan. Percakapan dibuka dengan basa - basi indahnya tempat pertemuan kali ini. Juga cerita bagaimana dia selalu menyimpan tulisan - tulisan saya, hingga bagaimana dia mengutip tulisan tersebut untuk disampaikan di sebuah seminar di Singapura. Saya tersenyum bahagia. Dia menghargai tulisan saya.
Walau teh panas yang tersaji masih menyisakan hangat dan cairannya, dia pamit. Saya sempat berujar,"....kamu masih penuh semangat tetapi malam ini terlihat letih ". Dia meng-iya-kan. Saya tersenyum ketika dia mengatakan bahwa senang dengan pertemuan ini. Rasanya saya pun begitu. Banyak tertawa dan tersenyum malam ini. Maklum, sudah sejak lama saya menantikan pertemuan ini. Ya. Pertemuan yang memang saya rindukan. Pertemuan di tepi cakrawala.
***
" yahh... ga bisa nih di coba beberapa kali...he..he...he...", ujarnya
"..ya sudah, gapapa... saya tadi malah gak nyoba ", tukas saya.
Dia menjauhi mesin itu lantas duduk. Setelah memainkan ponselnya, dia memulai percakapan. Dengan tutur bahasa yang sabar, bercerita ihwal pekerjaannya. Saya mendengar sambil sedikit melamun. Berusaha membelokkan pembicaraan, saya berujar tentang musik. "...ini ada lagu bagus, mirip sinden, karena menggunakan nada pentatonis tradisional". Dia cuma senyum. Percakapan terhenti karena manouver saya tadi. Suatu ketika bertatap mata, dia mengalihkan wajah menghadap sisi lain. Saya agak protes. Dan pertemuan itu terputus tak lama kemudian.
Sesingkat apapun pertemuan itu, saya cukup faham maknanya. Saya yakin dia-pun memaknai hal yang sama terhadap pertemuan singkat ini. Pertemuan di tepi cakrawala. [] haris fauzi - 22 mei 2008