Sunday, March 15, 2009

kenisah : perasaan itu

PERASAAN ITU

Entah apa istilah untuk 'rasa' itu. Semacam perasaan yang berkaitan dengan berbagai kompetisi. Entah kompetisi yang saya lakoni sendiri atau yang melibatkan keberpihakan saya kepada sesuatu. Kalo yang saya lakoni sendiri, jelaslah itu namanya perasaan semacam spirit untuk berkompetisi, semangat untuk menang. Seperti ranking kelas, keinginan juara dalam sebuah perlombaan, hingga rasa cemas penantian akan pemuatan sebuah artikel misalnya.

Perasaan semacam ini juga muncul dalam keberpihakan. Misalnya dalam rangka jago-jagoan nonton pertandingan sepakbola, misalnya. Mungkin tidak ada pertaruhan duit, tetapi semacam pertaruhan gengsi. Misalnya ketika jagoan kita menang, maka kita akan senang, namun bila jagoan kita kalah, maka kita akan merasa kecut. Saya mengalami cukup ragam hal tentang perasaan semacam ini. Ketika saya masih duduk di bangku SMP dan masih biasa mendengarkan lagu - lagu dalam siaran radio gelombang MW saya ingat betul bagaimana dalam setiap akhir pekan saya berdebar - debar menunggu hasil tangga - tangga lagu mingguan yang disiarkan oleh radio tersebut. Radio itu setiap hari sabtu selalu memperbaharui lagu unggulan sesuai permintaan atau pooling pendengar terhadap pemutaran lagu yang sedang naik daun. Yang paling kecut saya rasakan adalah ketika lagu idola saya, 'We Are The World' turun peringkatnya dari minggu ke minggu sehingga hilang dari daftar lagu unggulan. Sejatinya, setiap lagu yang sudah turun peringkat, maka muskil akan bisa naik lagi walau cuma satu tangga, biasanya makin turun dan turun. Namun saya berharap selalu akan sebuah keajaiban ketika lagu tersebut setidaknya mampu bertahan selama mungkin. Dan harapan itu akhirnya musnah seiring perjalanan waktu.

Juga ketika menonton pertandingan di televisi, bulutangkis misalnya. Bagaimana hati ini berdebar - debar seperti menanti pacar ketika menyaksikan tim piala Thomas Indonesia terutama ketika berhadapan dengan Tim China atau Korea Selatan. Juga bagaimana ketika Elias Pical bertukar bogem melawan Khaosai Galaxy dari Thailand atau melawan Caesar Polanco dari Amerika Latin. Masih ingat begaimana kemunculan promotornya Boy Bolang dengan gaya rambutnya yang khas. Juga ketika tim sepak bola Pra Piala Dunia PSSI era Heri Kiswanto hendak bertanding dan disiarkan langsung di televisi. Komentator Sambas dengan suaranya yang patriotik menambah deg-degan hati ini, kebat - kebit seperti dikejar setan.

Dalam kancah sepak bola yang lain, saya selalu menjagokan Argentina untuk juara dalam Piala Dunia, dan bagaimana saya berdebar - debar sangat keras ketika Claudio Caniggia tidak boleh turun dalam babak final sehingga Maradona harus berjuang sendirian dan akhirnya takluk oleh pasukan Jerman Barat yang kala itu kalo ga salah Juergen Klinsmann jadi lakonnya. Pun betapa deg - degan dan girang tak karuan ketika Manchester United menjungkir - balikkan FC Muenchen di final piala Champion dalam dua menit terakhir pertandingan. Maklum, saya menggemari kesebelasan Manchester United semenjak tahun 80-an.

Tak hanya sepak bola, seorang teman pernah berkomentar tentang agenda kerja saya yang ternyata tidak diisi oleh catatan kerjaan, melainkan dipenuhi oleh jadwal balapan formula-1, GP, dan jadwal sepak bola piala Champion. Semua itu seakan disatukan oleh perasaan 'aneh' yang satu itu. Perasaan euphoria dalam penantian sebuah jadwal pertandingan, perasaan yang memaksa saya deg - degan ketika bergadang untuk menyaksikan dan memelototi televisi detik per-detik, perasaan yang membuat saya girang atau kecut ketika pertandingan itu berakhir menang atau kalah. Dan kemudian membawanya menjadi bahan obrolan dan  olok - olokan yang tidak perlu dengan teman - teman yang lain, tentunya sambil memberitakan sesegera mungkin ketika tim yang saya jagokan menang.

Adalah anak saya, Salma, yang mengendurkan diri saya terhadap hal itu. Ketika Salma lahir, dia menjelma menjadi bayi yang sering bangun kala malam hari. Mungkin bisa satu jam sekali. Praktis dengan kebiasaannya ini akan memaksa diri saya memanfaatkan waktu istirahat sebaik - baiknya. Dan praktis pula, saya meninggalkan hal - hal yang menurut saya kurang bermanfaat, misalnya bergadang menonton sepak bola atau balapan motor. Seiring dengan semakin jarangnya menyaksikan pertandingan, seiring itu pula semangat jor - joran dan deg - degan ihwal hasil pertandingannya juga semakin meluruh. Perhatian dan perasaan tentang itu mulai terpinggirkan. Mungkin karena cuek.

Dalam catatan saya, perasaan deg - degan seperti itu terakhir kali saya alami ketika penghitungan suara dalam pemilihan umum. Ya, saya kala itu menjagokan Pak Amien Rais untuk menjadi presiden, dan saya terus mengikuti penghitungan suaranya, hingga saya sadar bahwa Pak Amien Rais kalah dalam pemilihan umum itu.

Setelah itu ? Sekarang saya tidak terlalu tertarik dengan tangga - tangga lagu karena saya jarang memonitor siaran radio. Pun, saya biasa saja terhadap berita pertandingan bulu tangkis-nya Taufik Hidayat. Entah menang entah kalah. Juga saya tidak terlalu tersaput gelombang atmosfir berita laga PSSI dengan Ponaryo Astaman-nya yang cukup fenomenal. Walau Manchester United menjadi kesebelasan terakhir yang pernah berlabuh di hati, saya tidaklah segegap - gempita dahulu. Mungkin hampir lima tahun ini saya tidak menyaksikan pertandingan Manchester United di televisi. Saya kini biasanya hanya tau beritanya dari koran bekas teman atau teks bergerak di televisi - televisi. Tentang balapan, kalo dulu saya hafal bentuk sirkuitnya, kali ini saya hampir semuanya sudah tidak mengikutinya lagi. Saya baru - baru ini saja tau bahwa Hamilton ternyata orang negro. Terakhir saya mengikuti berita balapan adalah tentang seri nasional yang diikuti tim pabrikan di mana saya bekerja. Selebihnya tidak. Tentang tinju, terakhir saya menonton di televisi ketika Chris John bertanding. Saya menyaksikan sekitar dua ronde. Dan saya sekarang-pun tidak tau siapa juara dunia kelas berat, padahal saya dulu begitu memuja Muhamad Ali hingga merengek - rengek kepada Bapak untuk dibelikan bukunya. Bila toh ada siaran sepak bola, tinju, formula 1, atau grandprix di televisi, mungkin paling lama saya menyaksikan sekitar seperempat jam. Tentang pemilihan umum ? Waduh. Saya akan mengusahakan sesempatnya. Hingga sekarang, atmosfir jor - joran calon peserta pemilu tidaklah terlalu mengusik perhatian saya. Walau jelas - jelas banyaknya baliho dan spanduk itu mengusik mata saya karena saking joroknya.

Mungkin ini berarti tidak peduli. Bisa jadi. Namun, dalam pengamatan saya, perasaan itu menyusut seiring pertambahan usia saya yang meng-uzur ini. Indikasinya adalah saya sekarang juga sudah tidak terlalu suka mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Disamping mobilnya yang saya kendarai sudah terbatuk - batuk, saya juga merasa tidak ada perlunya menginjak pedal gas dalam - dalam. Saya sekarang kebiasaan mengendari mobil dalam kecepatan sedang, di jalur tengah sambil mendengarkan lagu. Ihwal sepakbola dan kebiasaan menyetir ini mungkin hanya merupakan keterkaitan yang dihubung - hubungkan saja oleh saya. Tapi hal itu ternyata terjadi seiring. Ketika saya semakin 'santai' dengan segala kompetisi yang ada, ketika itu pula saya semakin santai dalam mengemudikan kendaraan. Adakah saya sudah tua ? Bisa jadi. [] haris fauzi - 15 Maret 2009

salam,

haris fauzi

R E M U K

Matahari masih garang tanpa ampun menghajar tanah bumi yang makin renta ini. Tanpa ampun. Buyung menyaruk - nyarukkan kakinya dalam melangkah. Entah kenapa, matahari tidak seteduh cerita - cerita orang tua. Cerita dari orang - orang yang sudah belasan tahun berada dalam cengkrama kawasan itu. Konon, menurut mereka, para pencerita malam, para pembual yang senantiasa taklid mencekik botol minuman keras murahan, para pengigau jalanan yang meramal akhirat, hingga para tukang parkir yang bermahkota uban, mereka selalu bercerita tentang kemakmuran jaman dulu. Dimana matahari tidak sedekat sekarang. Ketika itu matahari masih meneduhkan mata dengan ramah, tidak melotot seperti sekarang. Dimana pasar itu menjadi pertiwi mereka, yang memberi penghidupan yang cukup, tanpa harus beradu otot dan was-was setiap malam. Dimana semuanya kala itu rasanya serba mudah. Dan mereka tidaklah faham mengapa semuanya berubah. Mengapa semua mendadak menjadi sulit. Dan mengapa setiap hari mereka menjumpai kegerahan. Semakin menghimpit paru – paru, menyesakkan dada. Dan pada akhirnya, mereka menyalahkan sang matahari yang melotot itu. Yang membuat semuanya menjadi panas, membawa aura keributan, membawa bibit perselisihan yang tidak kuasa ditahan.

Sampah pasar yang bertebaran hingga aspal, berjumpalitan di terpa angin yang dihembuskan roda – roda mobil yang seenaknya menderu dengan pekik klakson yang menyakitkan. Sampah yang sesekali melekatkan noda di jemari kaki Buyung yang terus melangkah. Rasanya lengkap sudah. Sampah pasar yang menumpuk menebarkan bau kesumatnya, seakan memenuhi atmosfir hingga rongga paru. Semalam hujan melanda, dan bak sampah itu sudah tidak mampu menampung lagi. Sampah yang basah kuyup melelehkan limbah yang bukan main dahsyat baunya. Buyung telah terbiasa dengan itu semua.

Sesekali angkutan kota berwarna hijau itu menyalipnya, beberapa. Mengejek Buyung dengan asap yang mencekik. Seorang bocah dengan gitar bututnya bernyanyi seperti erangan rasa sakit yang pedih tak terkira. Jongkok dengan kaki dekilnya di ambang pintu angkutan kota itu, memakan debu yang beterbangan seperti iblis. Memang deretan kendaraan berwarna hijau itu seakan menjadi tuan tanah disini. Namanya juga terminal bayangan, yang berjajar sedikit tak jauh dari pasar yang bau itu. Arogan sekali, berhenti dengan semaunya, lantas membunyikan klakson dengan membabi-buta di antara teriakan calo yang memekakkan dan menaikkan amarah, seperti memukul – mukul gendang telinga. Buyung seakan terbiasa dengan hal ini. Ya, sudah hampir tiga tahun ini Buyung bercengkrama dengan kondisi seperti ini. Cekat asap knalpot yang memabukkan itu, deru mesin yang meresahkan, bunyi klakson yang meretakkan tengkorak, teriakan calo, ditingkahi pertikaian perebutan penumpang, seakan hal biasa yang setiap saat terjadi. Lazim seperti jarum yang berdetik pada sebuah arloji tua. Sebuah keniscayaan.

Ada beberapa orang yang tengah berbicara gumam di bawah rindang pohon yang meringis. Seorang sudah tertidur dengan posisi jorok. Bertelanjang dada, sehingga perut buncitnya terburai dan sesekali ditaburi lalat yang tidak sungkan mendarat. Di antara akar pohon yang mencuat beberapa botol yang sudah kosong bersembunyi tanpa dosa layaknya pramuria yang menawarkan dagangannya. Sementara di hamparan tanah nampak kartu domino yang sudah tercerai – berai tidak tentu jumlahnya. Menggigit tanah.

Dua orang sisanya, yang satu mengipas-kipaskan topi, yang satu lagi mengukir kayu pohon sekarat dengan pisau lipatnya. Konon, lelaki itu tidak bisa hidup tanpa pisau itu. Mereka berdua bergumam di antara dengkur temannya, entah membicarakan apa. Mungkin semalam, rindang pohon itu menjadi saksi di bawah rembulan dan kelamnya malam. Ada arena peraduan dan pertaruhan disitu. Pertaruhan akan duit yang diperoleh dengan memeras keringat seharian yang bisa hilang dalam sekejap pada malam kelam seperti itu. Pertaruhan akan harga diri ketika semua harta telah lenyap dan tinggal suara erangan marah diantara cemoohan para pemabuk. Pertaruhan akan masa depan yang semakin suram seiring berhamburnya kartu domino. Dan rembulan memejamkan mata ketika botol itu mulai terlontar dan terbanting di jalan, menjadi kepingan yang berkilatan laksana kristal.

Sebuah mobil hijau itu menepi mendadak lantas menghentikan rodanya menyisakan debu yang mengepul. Seringkali memang mereka berbuat seperti itu. Mungkin sudah menjadi tradisi. Membuat Buyung harus menepi ke arah sungai, yang demikian malasnya mengalirkan air yang busuk dan hitam itu, yang mengalirkan segala hal, mencerminkan buruknya perilaku. Namun Buyung tidak goyah. Masih berdiri tegak. Sekali lagi, Buyung terbiasa dengan hal ini. Matanya sedikit memicing menepis sengatan matahari dan lelehan peluh yang bergerombol di dahinya, seakan hendak menderai deras ke arah matanya yang tajam dan memerah itu. Nampak pengemudi mobil hijau itu menjulurkan lehernya yang berbalut handuk murahan, keluar melalui jendela, lantas berteriak lantang dengan tangannya yang menunjuk angkasa. Seakan memberi petuah kepada para setan dan jin yang berjongkok di panasnya aspal yang mulai membaurkan uap minyaknya membentuk fatamorgana.

Buyung menengok dan memandang dengan senyum kecut ke arah bangunan yang berdiri besar di sana, sebuah pusat pertokoan. Tinggi, besar, angkuh, dengan beberapa dindingnya yang retak. Di kaki bangunan, beberapa angkutan kota membentuk deretan hijau seakan menjadi penopang dasar bangunan tersebut. Tidak terlalu jauh jaraknya dari Buyung berjalan tersaruk sekarang, namun Buyung tak hendak kesana. Tidak mungkin dengan kantong rongsokan yang selalu berada di pundaknya itu.

Sekali pernah Buyung ke sana, numpang sholat di mushola-nya yang berada di parkiran. Parkiran yang senantiasa hangat karena ratusan mesin mobil yang tetirah disini, mobil yang berlagak kecapekan setelah mengantar tuan-nyonya-nya. Parkiran itu senantiasa penuh oleh mobil yang seakan tertidur mendengkur, dengan mata menutup sebelah, dan pandangan sinis.

Ya. Mushola pertokoan selalu ter-marjinal-kan, tersingkir oleh gemebyar budaya kapitalis yang menjijikkan dengan lipstik dan parfum yang menor. Mushola terpuruk diantara semburan freon pertokoan yang menghunjam jantung, diantara aroma toilet yang kurang bersahabat, dengan karpet alakadarnya yang apek dan lengket basah seperti keset. Dimana orang menghadap Pencipta, disitulah kau harus berdiri dan bersujud. Namun, ketika kau memiliki lembar uang yang bisa kau jadikan permainan, maka nyala terang neon dalam ruang yang sejuk akan menyapa dan menghantarkanmu meraih kenikmatan dunia itu. Tak peduli ada gelandangan gila yang sekarat bertarik - ulur nyawa di pinggir trotoar di depan sana.

Sesekali kantong plastik yang menggelayut di pundak Buyung melorot. Dan Buyung dengan sigapnya menyesuaikan posisinya. Sebelah lengannya kotor sekali, beradu gesek dengan kantong yang berisi rongsokan. Kebanyakan adalah plastik sampah, yang hendak dia jual kembali. Buyung melakukan itu untuk membeli nasi bungkus. Selepas subuh, Buyung harus beranjak dari kolong dimana dia meringkuk. Mencangklong kantong kusam yang mungkin cukup untuk memuat dirinya, serta tongkat berkait yang dia hafal benar lekuknya seperti hafalnya seorang ninja terhadap samurai pendek miliknya. Lantas beranjak menyapa jalanan. Biasanya seperti itu. Dia memiliki banyak teman yang mengerjakan hal serupa. Di antara pengemis, pengamen sumbang, dan pencopet kecil, Buyung memilih menjadi pemulung. Atau lebih tepatnya kali ini dia menjadi pemulung. Entah suatu saat, bila pemimpin gerombolan mereka melarangnya menjadi pemulung, mungkin saja Buyung akan beralih profesi, entah menjadi pengamen, atau pencopet sekalian. Pemimpin itu tidak pernah bisa ditebak. Dia memberi perintah berdasarkan seseorang yang biasa datang bercelana jeans dengan rambutnya tersisir rapi, serta suka membagikan rokok kepada teman yang dia sayangi. Kadang datang saat pagi, kadang sore, atau tidak datang berhari - hari. Tidak menentu. Namun, ketika dia datang, para pemabuk yang sok kuasa itu biasanya segera meninggalkan botol bir kesayangannya, dan lantas mencium tangannya. Para sopir yang sedang membanting kartu segera menyisakan tempat yang nyaman buat duduk sekedarnya. Buyung tidak terlalu faham dengan pembicaraan mereka. Buyung biasanya menyingkir.

Diantara komunitas yang mencekam itu, Buyung merupakan salah seorang bocah yang bergerombol dengan rekan seumurnya, sekelompok anak – anak periang, walau kadang mereka berkelahi layaknya macan. Buyung adalah anak manusia yang hidup dalam dunia yang disisihkan oleh peradaban, yang selalu tercekik menjadi korban, yang tak pernah diperhatikan oleh orang bermulut besar yang selalu berebut kekuasaan, ngobrol membual dalam televisi – televisi. Buyung adalah satu dari jutaan boneka cilik yang bisa diinjak kapan saja.

Di antara pramuria yang mulai bersolek, diantara sopir yang terlena di warung, di antara pencopet yang membongkar dompet perolehan mereka, seringkali anak – anak itu bertemu, bermain, dan mengobrol. Dan ketika senja menjelang, beberapa anak yang badung mulai mabuk dengan cara menghirup uap lem, beberapa mulai berkhayal sambil terlentang beralas koran, sebagian lagi mulai bertukar puntung rokok yang masih bisa mereka hisap. Anak – anak yang masih bersuara cempreng itu berpesta, pesta ala mereka. Mereka terbiasa menghabiskan apa yang mereka dapatkan hari itu, dan memulai hari besok dengan tanpa apa – apa. Hari esok biarlah kita mulai esok, demikian semboyan mereka.

Hampir setiap sore anak – anak jalanan itu berkumpul di tepi aspal, dalam selubung asap terminal, dalam atmosfir bau pasar, dalam tatapan angkuh dinding pertokoan. Tiada hari senin selasa rabu, tidak ada kalender di otak mereka. Hari itu berjalan dengan semaunya sendiri. Hari yang terus berjalan dan memaksa untuk berpacu. Mengantar untuk sebuah pilihan diantara hidup dengan berjuta ancaman atau terbujur kaku tanpa nyawa. Setiap hari adalah begitu. Dan itulah lakon anak – anak tadi. Menjalani siang yang menyengat dan malam yang mencekam. Anak – anak itu tidak sekolah seperti semestinya, tidak bermain seriang layaknya. Tetapi setidaknya mereka bersyukur, bahwa detik ini mereka masih hidup dan tidak gila. Dalam kewarasan itu mereka sadar, masa depan mereka telah remuk. Di pinggir trotoar, pengamen gondrong itu masih asik memutar – mutar pangkal senar gitarnya, tanpa pernah sempat menyelesaikan lagunya. []
dimuat di edisi perdana jurnal budaya 'RuangMelati', februari 2009

Friday, March 06, 2009

kenisah : "AMIIIIIIIIIIIIIN........!!!"

"AMIIIIIIIIIIIIN.......!!!"

Sholat di ajaran agama islam diutamakan dilakukan secara bersama - sama, artinya secara berjama'ah. Berjama'ah adalah melakukan sholat dipimpin oleh seorang imam dan sisanya mengikuti gerakan dan komando imam. Salah satu ritual yang dilakukan berjamaah adalah sholat jum'at.

Saya ingat di sekitar tahun 1990-an, ketika saya duduk di bangku kuliah, saya pernah memberbincangkan hal ini dengan ayah saya. Bahwa makmum harus dengan tekun mengikuti gerakan imam, hal itu adalah benar. "Tetapi belum lengkap", begitu papar singkat ayah saya sambil berjalan menuju mobil. Kebetulan saat itu memang saya lagi nostalgia. Jaman saya duduk di bangku SD, saya sering ikut bapak jum'at-an, yang mana bapak saya sering dijemput oleh takmir masjid karena saat itu memang bapak bertugas menjadi imam sholat jum'at. Ritual 'nderek' ini praktis bubar ketika saya duduk di bangku SMP, karena saya udah bisa jum'at-an sendiri, walhasil saya kala SMP lebih memilih jum'at-an bareng teman - teman, entah di sekolah entah di kampung, soalnya bisa sambil maen dan keluyuran sekalian. Sementara kalo ikut bapak pasti gak bisa ngapa-ngapain. Duduk manis di baris terdepan, jejer dengan para kolega bapak yang sudah pada uzur.

Dan rasa kangen akan hal itu kadang muncul ketika saya sudah duduk di bangku kuliah, saya kadangkala berusaha menyempatkan untuk ikut jum'at-an bapak lagi. Karena ternyata menyenangkan juga ikut beliau, --di tengah kesibukan kita masing - masing,-- dimana saya lebih sering jum'at-an di kampus.

Dan ketika itu entah kenapa saya menanyakan bahwa mengapa dalam ritual jum'at-an seakan - akan terjadi dominasi imam kepada makmum. --Saat kuliah, saat itu saya lagi terjangkit penyakit 'kemaruk' soal demokrasi--. Seperti kita ketahui bersama, ketika khatib (peng-kutbah) berceramah, maka para jamaah 'hanya' menjadi pendengar setia. Jangankan bertanya atau mendebat isi ceramah, berbisik - bisik-pun dilarang. Trus, ketika tiba waktunya melaksanakan sholat jum'at, maka semua makmum harus mengikuti gerakan imam. Atau ibadahnya terancam batal...Uh...

Sepulang sholat jum'at itu, sambil nyetir mobil, saya mendapat beberapa penjelasan dari beliau. "Itulah kenapa selepas sholat jum'at bapak nggak langsung pulang...melainkan mengobrol dulu dengan jamaah. Karena bisa jadi ada yang perlu mereka tanyakan berkaitan dengan banyak hal termasuk khutbah dari bapak. Kalau ada yang bertanya maka sebisa mungkin kita diskusikan dahulu....", begitu urai bapak.
Ooooh...ini tho yang membuat bapak suka berlama - lama di mesjid. Pantesan, ketika saya sudah tiba di mobil, bapak tak kunjung nongol keluar mesjid. Rupanya beliau keasyikan ber-diskusi dengan para jamaah-nya.

Saya memang sering mendapati bapak sibuk berbincang selepas sholat jum'at, semula saya menduga hal itu adalah basa - basi belaka mengingat memang ada sekitar dua puluhan mesjid yang sering bapak kunjungi. Tentunya banyak sekali rekan beliau disitu. Tetapi rupanya tidak hanya perbincangan alakadarnya, kadangkala --entah keasyikan atau gimana-- memakan cukup banyak waktu juga, membuat saya geregetan menunggu di mobil yang panas itu. Dan, walhasil, kami memang biasa terlambat tiba di rumah.

"Dan dalam sholat berjama'ah, seorang imam harus berusaha memperhatikan makmumnya. Jangan semau - maunya sendiri aja. Contohnya dalam pelaksanaan sholat tarawih yang banyak sekali jumlah rokaatnya itu. Setiap akan memulai awal sholat, sedapat mungkin imam menghadap ke makmum dulu melihat kesiapan makmum. Bila ada yang sudah kecapekan --kadangkala ada yang sudah menyandarkan badan ke dinding,--hahahaha...., ada baiknya sholatnya diperingkas waktunya, mungkin dengan memendekkan pembacaan surat. Kalau makmumnya masih ada yang belum siap maka sholat yang dilaksanakan juga tidak sempurna, masih compang - camping, makmum ada yang tertinggal dan jadinya ada yang masbukh (sholatnya menyusul karena tertinggal)...", urai bapak diselingi tawanya.

Asli, saat itu saya barulah nyadar bahwa sang imam tidak boleh semau - maunya seperti yang saya bayangkan semula.  Imam harus memperhatikan kondisi makmumnya. Terus terang saya menuliskan hal ini seingat-ingatnya, karena kejadiannya sudah terlalu lama, hampir dua-puluh tahun silam. Kemudian bapak sempat menambahkan,"....Imam-pun dalam beberapa hal harus mengikuti makmum. Contohnya adalah ketika pembacaan surat al-Fatihah berakhir, maka makmum akan mengucapkan kata "AMIN". Kadangkala pembacaannya ada yang panjang sekali, --ini terutama anak - anak yang 'njarag-i' dipanjang - panjangkan...AMIIIIIIIIN...!!!--gitu. Nah, sebelum kata "AMIN" dari makmum bocah itu selesai, seorang Imam tidak boleh melanjutkan bacaannya...." [] haris fauzi - 6 maret 2009


salam,

haris fauzi