| AH...! Entahlah. Memang saya sering ketinggalan berita. Sudah sejak lama saya malas mengikuti rekaman kejadian, ihwal politik, ihwal olahraga, dan sebangsanya. Saya juga cukup terlambat untuk mengetahui ramalan atau prakiraan cuaca. Katanya sih, orang - orang sudah memiliki pembaharuan berita cuaca yang dikirim melalui pesan pendek yang berdering di telepon genggam. Yang jelas, yang saya tau adalah cuaca akhir - akhir ini sering marah kepada manusia. Mungkin karena tabiat manusia yang lebih senang menantang alam ketimbang bersahabat dengannya. Usai hujan cukup deras, bagaimanapun juga cuaca sore itu cukup mengasyikkan. Awal bulan April, yang katanya juga menyenangkan. Mungkin karena gajian. Hahahahahaha. Sore itu hakkul-yakin cukup baik cuacanya. Langit bersih setelah dicuci oleh hujan membuat hati tenteram kala memandangnya. Apa yang sedang saya kerjakan ? Saya sedang nyetir pulang kerja. Meluncur ke arah barat menantang surya di tol Cikampek ke arah Jakarta, dan setelah itu melewati pintu gerbang tol Jakarta Outer Ring Road di Cikunir untuk menyambung jalan menuju tol Jagorawi. Adalah sore itu pukul 5.48, begitu angka yang muncul di layar digital di dashboard mobil. Saat itu saya berada di kawasan Outer Ring Road terkesima menyaksikan sang surya yang sedang berhias di depan mata, tepat di depan mata, memendarkan warna baur jingga merah kuning, sedap sekali memandangnya. Tidak membuat silau pula, cuma membuat teledor dalam berkendara kalau terlalu lama memandangnya. Jadi begini, sore itu, mentari seakan hanya berada satu jangkauan dari tanah. Besar, bulat, dan berwarna indah sekali. Saya ingin mengejarnya untuk meraihnya sejenak. Seakan seperti itu. Sementara langit yang kebiruan bersih dan rombongan awan putih tipis yang bercahaya cukup terang seakan menjadi para penari latar yang elok berjingkat - jingkat dibelakangnya. Hanya satu yang mengusik pikiran saya, yakni kenyataan bahwa sang surya yang elok itu ternyata hendak tidur. Di tengah pesonanya yang demikian memikat ternyata dia hendak pergi meninggalkan manusia dan digantikan oleh gemintang malam. Terkesima terhadap sang surya yang hendak luruh itu tidak berlangsung lama. Dia terus meluruh turun, sementara dipersimpangan saya harus membelokkan kendaraan menuju selatan, melepaskan kait pandangan dari mata angin barat dimana dia berada. Dengan menurunkan kecepatan saya membelokkan mobil, dan menganggukkan salam perpisahan kepada mentari yang masih indah jua. Adakah saya meninggalkannya ? Ataukan sejatinya sang surya yang berhasrat tenggelam ? Ah....! Itu hal yang mungkin berada di luar kuasa saya. Dalam hidup ini tidak selamanya enak dan menyenangkan. Memang begitu racikannya. Ada hal yang tetap, dan ada hal yang berubah. Diantara hal - hal yang berubah itu, ada yang mengenakkan, dan ada pula yang tidak. Ya. Ada beberapa hal yang tidak mengenakkan terjadi di tapak waktu yang kita jalani. Mereka ada yang telah terjadi dan berada dibelakang kita, namun ada juga yang berada di depan kita. Di depan kita menunggu apa yang hendak kita lakukan. Ah....! Banyak sekali perubahan --seperti halnya gambaran cuaca yang tidak bisa dipastikan dengan nyata-- yang tersedia di depan mata. Beberapa hal mungkin menguntungkan kita, namun tidak sedikit pula yang kadang tidak mengenakkan dan membuat dada ini sesak. Semua bisa terjadi begitu saja. Dan sangat nyata seperti tenggelamnya sang surya. Dan untuk hal - hal yang tidak mengenakkan, beberapa mungkin bisa kita merubahnya, tetapi beberapa tidak. Namun mereka semua memiliki sifat yang sama, mereka menunggu respon dari kita, walau cuma kerdipan. Dan sesungguhnya ternyata bisa jadi lebih banyak hal yang kita tidak kuasa untuk mengubahnya, dimana kita tidak kuasa untuk memperbaikinya sesuai dengan harapan kita. Cukup banyak yang berada di luar keinginan kita, --yang tidak kita inginkan, yang tidak mengenakkan,-- dan ternyata mereka berada di dekat kita namun berada jauh berada di luar kuasa kita sehingga kita dibuat seakan - akan menjadi sangat bodoh. Namun bagaimanapun fenomena itu berada di depan kita. Sekali lagi, mereka menunggu kita. Sejenak sebelum membelokkan mobil, saya jadi teringat novel "Brokeback Mountain" tulisan Annie Proulx. Tulisan terakhir di novel tersebut adalah "..dan kalau kau tak bisa memperbaikinya,kau harus bisa menghadapinya " [] haris fauzi - 2 April 2009 salam, haris fauzi |
Thursday, April 02, 2009
kenisah : Ah...!
Sunday, March 29, 2009
kenisah : sebelum pergi dari ingatan
SEBELUM PERGI DARI INGATAN Saya sedang berjalan menuju deretan orang yang berjajar di mushola itu, saya baru selesai berwudlu. Rupanya sholat jamaah sudah mulai, segera saya menyusulnya. Selesai sholat saya menuju pojok mushola dimana tas ransel oranye milik saya yang terongok di belakang. Di dekat tas saya ada seseorang yang tertidur di mushola, namun anehnya dia tertidur di lantai. Dalam arti tidak tidur di atas tikar, padahal ada selembar tikar terhampar di dekatnya. Dia memakai kemeja warna biru dengan dua kantung di dada, berkain sarung. Saya mengecek tas ransel sekali lagi, lantas mengatupkan semua rislitingnya. Ransel ini biasanya saya bawa ke kantor. Dengan cepat tas itu berpindah tempat ke sebelah kanan pundak saya. Tidak lupa telepon genggam saya cek sekali lagi, adakah panggilan tak terjawab yang muncul. Ternyata tidak. Saya berjalan pelan, keluar pekarangan mushola menuju jalanan berbatu. Terus berjalan. Di tengah jalan telepon itu berdering. Kakak saya bicara di seberang,"...kamu sudah jalan ke Ngujil ?". "Belum, saya sudah siap sih...tapi saya pulang dulu...besok saya baru berangkat", jawab saya. "Oh..ya sudah...saya tunggu di rumah", dan telepon itu mati. Rupanya kakak saya mengira saya sudah pergi ke Ngujil. Padahal rencananya baru besok saya hendak berangkat. Sore ini saya masih pulang dulu. Saya memang hendak merencanakan pergi dari rumah. Entah ke mana, yang penting ke Ngujil dulu. Di Ngujil dimakamkan almarhum Bapak saya. Sekonyong - konyong jalanan menuju rumah menanjak. Padahal jarak sudah dekat. Dan semakin menanjak membuat saya terengah - engah memanjatnya. Makin lama jalanan itu makin menanjak, dan membuat saya makin berat menyeret badan ini. Bahkan ada kekhawatiran saya tak akan bisa melampauinya. "Perjalanan menggelandang baru besok...bahkan besok mau mampir dulu ke Ngujil sebelum pergi, ..lha kok sekarang aja saya sudah ngos - ngosan gini ?", pikir saya dalam hati. Jalanan makin curam, saya harus merangkak hingga jemari ini harus saya benamkan kuat - kuat di antara batu yang menggeragal keras. Namun tetap saja jalanan itu terlalu curam bagi saya. Memang, saya sedang lemah. Setelah sakit, dan lama tidak berolah raga. Namun seharusnya saya tidak selemah ini. Tidak seharusnya jalanan ini membuat saya menyerah. Saya was - was sekali. Andai saya teledor rasanya bakal merosot ke bawah dan akan jatuh berhumbalangan seperti batu menggelinding. Entah kenapa jalanan ini makin gila curamnya, tidak seperti biasanya. Batu yang saya pegang sesekali terlepas berikut debunya membuat saya tergetar rapuh, nyaris terjatuh. Saya makin sulit bernafas, jantung ini berpacu diantara ketakutan akan fatamorgana. Ketika saya menengok ke belakang, ternyata saya sudah menanjak cukup tinggi, hingga bila saya jatuh, tentu akan menggelinding bebas ke bawah sana. Gila. Ini sudah sangat mencekam. Nafas ini semakin berat. Dan akhirnya saya tersadar. Saya terbangun dari mimpi itu. Saya bukan seorang penidur yang baik. Seringkali bermimpi, dan beberapa kali wujud mimpinya tidak karu - karuan, bukan mimnpi pesta yang menyenangkan, apalagi dalam kondisi sedang tidak enak badan. Terus - terang, seminggu kemaren saya menderita radang tenggorokan hebat. Berikut gangguan pencernaan. Selain badan saya menjadi sangat lemah sehingga saya sering kelelahan sepulang dari kantor, rasa sakit itu membuat beberapa malam saya tidak mampu tidur malam dengan baik. Terbangun entah tiga-empat- atau lima kali. Sungguh tidak nyaman. Dan, diantara deretan malam yang saya lewati dengan tidur terbata - bata dan mimpi yang bergentayangan, mimpi itulah yang saya alami malam itu. Mimpi di hari minggu, dini hari. Membuat saya terbangun tepatnya pada pukul 04.50. Alhamdulillah tidak terjadi apa - apa. Hanya mimpi. Tentang mimpi yang saya alami, biasanya, saya jarang bisa mendiskripsikan dengan baik mimpi yang saya alami. Sering lupa akan kejadian dalam mimpi. Namun ada beberapa tema mimpi yang berulang muncul. Mimpi yang paling sering berulang adalah mimpi bertemu almarhum Bapak saya, atau berkaitan dengan Bapak. Di dalam mimpi itu beliau muncul entah sekedar bercakap atau memberi wejangan. Yang paling sering adalah mengingatkan tentang sholat, maklum, semakin kesini sholat saya memang semakin jelek. Paling tidak, dibandingkan masa kuliah, atau dimana Bapak masih hidup dimana saya bisa sholat di awal dan masih sering menjalankan sholat sunnat hampir sepanjang saat dhuha dan sholat malam. Berbeda dengan sekarang dimana saya malah seringkali terlambat menunaikan sholat wajib, entah karena teledor, ngurusin kerjaan, atau sebab yang lainnya. Ya. Itulah bagian mimpi yang bisa saya ingat dengan kuat, sisa kejadiannya pergi begitu saja dari ingatan. Ya, kemunculan almarhum Bapak dalam mimpi saya memang termasuk sering. Ini juga berarti saya semakin teledor menunaikan sholat. Setelah beliau meninggal, memang saya seakan kehilangan guru, kehilangan pemandu, dan tempat mengambil keputusan yang baik. Terus terang rutinitas kehidupan saya banyak dipengaruhi oleh keputusan - keputusannya, mulai dari kapan puasa, sholat sunnat apa yang sebaiknya dijalankan, hingga saya harus melakukan apa di kantor. Ketika beliau masih sehat, seringkali saya berkeluh kesah tentang segala sesuatu kepadanya. Berkeluh tentang masalah yang menganjal saya. Dan kadangkala Bapak lantas berkirim surat yang isinya tentang do'a yang sebaiknya saya panjatkan. Ketika Bapak hadir dalam mimpi, itulah posisi dimana saya bisa mengingat ihwal mimpi saya dengan baik. Sisa kejadiannya seringkali lupa, terlupa, atau saya sengaja tak-sengaja membiarkan momen dalam mimpi itu terbang ditiup angin, sehingga pergi begitu saja dari ingatan. Tentang apa yang disampaikan oleh Bapak, itupun banyak yang berhambur lupa beberapa saat setelah saya bangun. Yang menancap di ingatan adalah kehadiran sosok Bapak. Perkara isi ceritanya, saya kebanyakan lupa beberapa saat begitu bangun kecuali ihwal sholat. Yang jelas saat itu saya merasakan kehadiran Bapak. Dan membuat saya cenderung berkesempatan memikirkannya. Kata seorang teman, hal itu mungkin terjadi karena saya jarang menjenguk makamnya. Ya gimana. Saya tinggal di Bogor, sementara makam Bapak terletak di Ngujil, hampir seribu kilometer dari rumah saya. Apapun mitos yang beredar, ternyata ingatan ini menyimpan hal - hal yang mungkin bermain dengan sendiri dalam alam mimpinya. Kejadian - kejadian yang menurut beberapa teori filsafat mimpi adalah "terkait namun tidak terkait" dengan kehidupan nyata. Seperti dunia lain yang tidak berhubungan dengan dunia nyata, namun berpengaruh dalam kehidupan nyata kita. Dan itu terbukti. Alam mimpi saya tidak berhubungan langsung dengan aktivitas harian saya, namun apa yang terjadi di dunia mimpi memiliki pengaruh, apalagi bila itu menyangkut sosok Bapak saya. Contoh paling gampang ya itu tadi, ketika saya semakin teledor menunaikan ibadah sholat, maka tak lama kemudian bapak saya akan hadir dalam mimpi untuk mengingatkan hal itu. Anda boleh percaya boleh pula tidak. Dalam film "Land Before Time" disebutkan bahwa para dinosaurus bergerak dalam aktivitas harian berdasarkan wangsit yang disebut "cerita tidur". Contohnya adalah ketika sesepuh dinosaurus itu bermimpi melihat meteor jatuh di sebuah lembah, atau menyaksikan lingkaran terang yang menjadi gelap, artinya gerhana matahari di siang bolong. Lantas sesepuh itu berkisah esok paginya kepada para pengikutnya, dan mereka kemudian berbondong - bondong migrasi untuk menghindari kejatuhan meteor itu. Artinya apa ? artinya ada bagian dari mimpi itu yang bisa diingat dan lantas diceritakan. Hal lainnya adalah, ternyata ada bagian dari mimpi yang berkaitan dengan kehidupan sebenarnya. Ya, itulah dunia mimpi. Kadang teringat kuat sehingga bisa dikisahkan kepada orang lain, kadang terlupakan. Juga kadang merupakan kejadian biasa yang berada di angan - angan, atau kadangkala berkaitan dengan kehidupan kita di dunia nyata. Hal inilah yang membuat saya ingin sekali mencatatkan hal - hal yang terjadi dalam mimpi saya. Saya ingin menuliskannya beberapa. Untuk hal ini saya pernah beberapa malam meletakkan bolpen dan buku kecil di bawah bantal saya. Namun, ternyata ketika saya terbangun dari sebuah mimpi, kebanyakan saya belum sadar sepenuhnya sehingga tidak mampu menggerakkan jari untuk menulis. Walhasil, cercah mimpi -- cerita tidur itu-- tersaput kabur dan pergi dari ingatan sebelum tercatat dengan baik. Dan mungkin, baru tulisan inilah yang bisa mendokumentasikan mimpi saya dengan baik. Mungkin lain waktu saya coba lagi, apabila mimpi yang datang tidak terburu pergi dari ingatan. [] haris fauzi - 29 maret 2009 salam, haris fauzi |
Wednesday, March 18, 2009
kenisah : angin yang terus mengayun
| ANGIN YANG TERUS MENGAYUN Bersiaplah. Cuaca di negeri tropis ini menjadi galak dan kurang bersahabat. Setelah minggu lalu diguyur hujan penghabisan yang seperti balon bocor di angkasa, sekarang sudah hampir seminggu ini kota Bogor sering dihampiri angin yang cukup besar. Mungkin bukan angin ribut, karena datangnya nggak bikin keributan. Tetapi angin itu membuat masalah. Yang pertama jelas, kita menjadi rentan terhadap penyakit. Konon, pada hari - hari yang berangin di bulan jawa sapar, maka banyak penyakit bergentayangan. Dan pastinya dalam pergantian musim-lah maka angin itu cukup sering berhembus dahsyat. Kalo kata orang, musim pancaroba. Pancaroba musim. Seperti pagi kemarin. Selasa. Angin berhembus dahsyat sekali sehingga kami memutup seluruh jendela dan pintu rumah. Lukisan kain di dinding terombang - ambing tak berdaya ketika kita membuka pintu dan kala itu tanpa sungkan - sungkan angin masuk dengan derasnya. Anak saya berangkat sekolah dengan mengenakan jaket, padahal hawa terik. Sekitas pukul sembilan siang timbul masalah. Mungkin karena angin juga. Setelah sepagi itu kita menikmati dengung kabel listrik yang mendayu - dayu karena dipermainkan angin, maka sekitar pukul sepuluh siang listrik padam. Saya tidak terlalu faham apakah memang listrik ini padam karena angin, atau ada pekerjaan perawatan perbaikan, atau memang saatnya mendapat giliran padam (oblangan). Yang jelas, listrik itu baru menyala pada pukul sembilan malam. Dan setelah itu, pukul setengah empat pagi padam kembali, dan menyala kembali pukul empat pagi. Bila saya sedang mengendari mobil tua saya, maka tiupan angin itu terasa hingga ke laju pergerakan mobil. Seperti terdorong oleh kekuatan supranatural. Awalnya saya mengira mobil saya sudah tidak seimbang konstruksi rodanya, namun timbul pertanyaan kenapa kejadian itu hanya sesekali. Cek punya cek, ternyata tiupan angin-lah yang menggoyang mobil tua saya. Mobil saya yang pendek aja merasakan seperti itu, mungkin bagi yang mengendarai mobil badan tinggi, hal itu lebih terasa. Ada yang bilang bahwa angin bisa menjadi pertanda. Yang jelas adalah sebagai pertanda pergantian musim. Hahahaha. Namun ada juga yang sedikit mengaitkan dengan hal - hal lain. Rejeki, misalnya. Apalagi angin yang kencang, dengan dampak yang cukup bisa dirasakan. Dulu, sekitar lima tahun yang lalu, Bogor pernah di landa angin hebat. Banyak pohon tumbang di sana sini. Mungkin kejadian ini hampir setiap tahun dengan intensitas yang berbeda - beda. Di salah satu pancaroba itu, saya ingat benar ada seorang tetangga yang rumahnya atapnya copot karena tertiup angin. Dia berlarian mengejar atapnya yang terbang itu. Kalo urusan jemuran yang beterbangan ke rumah tetangga, jangan di tanya lagi. rata - rata memang warga sudah menutup tanah miliknya dengan bangunan, dan menyediakan jemuran pakaian di dua alternatif tempat, kalo nggak di loteng ya di muka halaman. Dan kebanyakan memilih loteng. Namun, tiupan angin tidak memandang bulu, jemuran di loteng juga ditiupnya kuat - kuat sehingga beterbangan. Saya juga ingat beberapa tahun lalu di kantor saya juga dilanda angin besar, sehingga ada sebagian atap yang terkelupas dan terbang. Kalo kita bicara bulutangkis di parkiran, maka shuttlecock itu mungkin bisa berbalik seratus depalan puluh derajat arahnya kembali kepada pemukulnya. memang di kantor, sekitar akhir tahun 2007-an saya pernah bermain bulutangkis di kantor, karena memang ada gedung yang belum jadi. Sudah beratap, namun dindingnya belum lengkap. Kadang saya dan teman - teman bermain bulutangkis adakadarnya disitu. Namun, angin menjadi masalah. Ketika musim pancaroba, angin itu menjadi pengganggu yang signifikan sehingga permainan bulutangkis harus dihentikan. Di jaman saya menjadi pengurus RT (saya pernah menjadi sekretaris RT), pernah kelabakan juga ketika sudah menyiapkan tenda untuk resepsi warga, dan ternyata bakda ashar tenda itu berhumbalangan terbang tersapu angin. Walhasil saya dan pak satpam berusaha memancang tenda itu lebih baik lagi. Saat itu, rasanya seperti naik kapal layar ditengah badai. Untuk membereskan tenda yang tercabik - cabik itu saya harus memanjat tiang konstruksi tenda, dan berusaha mengikatkan sekuat mungkin ke pokok - pokok yang ada, di tengah hembusan angin besar. Apapun itu, angin yang lebih besar daripada biasanya memang sedang menghampiri. Di tengah persiapan pemilu yang tidak bisa diprediksi (tidak seperti jaman Orde Baru dimana hasil pemilu sudah bisa ditakar jauh hari sebelum penghitungan suara), di saat kita terhuyung - huyung menghadapi resesi ekonomi global, di saat penyakit bergiat gentayangan mengincar mangsa. Angin itu memang kini mengayun lebih kuat, menghembuskan pertanda.[] haris fauzi - 18 maret 2009 salam, haris fauzi |
Subscribe to:
Posts (Atom)