BERPAKAIAN DENGAN SOMBONG Salah satu bentuk larangan yang cukup di-'kuat'- Seberapa menjulur-kah celana atau kain tersebut ? Larangannya –menurut hadits yang populer— adalah kain atau celana yang menjulur melewati mata kaki. Lebih populer dengan sebutan ' isbal'. Okelah. Celana atau kain yang meng-'gelosor' tanah memang selain merepotkan pemakainya, juga tentunya menjadi riskan 'tidak suci' karena pasti menjadi dekil. Praktis celana yang meng-'gelosor' tanah akan kotor. Celana kotor seperti ini menyulitkan untuk digunakan sholat. Dan kalo sudah kainnya kotor, maka sering-kali kita dengar alasan untuk tidak menyegera-kan sholat. "Aku sholat nanti saja, celanaku kotor", gitu seringkali alasan yang kita dengar ketika mengajak sholat seseorang. Dalam keadaan sekarat, konon Umar bin Khaththab pernah –dengan susah payah tentunya-- mengingatkan seorang penjenguknya yang kainnya kepanjangan,"Hai pemuda, angkatlah kainmu. Yang demikian itu lebih bersih bagi pakaianmu dan lebih taqwa di sisi Rabb-mu". Bayangkan. dalam keadaan sekarat ternyata Umar masih memberi wejangan ihwal isbal. Berarti isbal ini bukan hal sepele. Hal contoh tentang 'isbal' diatas adalah urusan pakaian yang berkenaan dengan kesucian pakaian. Belum 'menukik' kepada larangan 'berpakaian dengan sombong'. Sekali lagi, larangan untuk 'berpakaian dengan sombong' ini termasuk larangan yang kuat. Sedemikian kuat pedoman larangannya, bahkan beberapa alim – ulama menyetarakannya dengan kuatnya larangan untuk 'menghambur – hamburkan air'. Kita tau, di tanah arab nan gersang itu jelas air merupakan sesuatu yang sangat berharga untuk di hambur – hamburkan. Jaman dahulu di arab Tak jarang kini orang berpakaian mahal karena ingin sombong memamerkan kekayaannya. Tak jarang kini orang berpakaian dengan atribut pangkat karena ingin sombong memamerkan jabatannya. Tak jarang kini orang berpakaian muslim karena sombong ingin memamerkan ketekunan beribadahnya. Sungguh, manusia memang tempatnya kesalahan, tempatnya kecongkakan dan kesombongan. Bisa sombong dengan kekayaan, dengan pangkat, dengan ibadahnya, atau yang lainnya. Dan kesombongan – kesombongan itu tak jarang dipamerkan melalui pakaiannya. Untuk itu wajar kiranya bila Rasulullah Muhammad SAW melarang ihwal tersebut dengan pedoman yang cukup keras. [] haris fauzi – 1 ramadhan 1431H |
Wednesday, August 11, 2010
kenisah : berpakaian dengan sombong
Tuesday, August 03, 2010
kenisah : tentang Muhammad
| TENTANG MUHAMMAD Tentunya sudah banyak buku yang mengupas tentang sosok nabi terakhir yang bernama Muhammad SAW. Dan, tentunya ada beberapa yang saya berkesempatan membacanya. Berikut enam buku yang sempat mampir dalam kesempatan baca saya. Patut diingat, bahwa saya dalam membaca tidaklah senantiasa tertib, kadang meloncat, kadang terhenti dan berganti bacaan. Walau tidak selalu seperti itu. Mangkanya, beberapa uraian yang saya bikin tentang sebuah buku bisa jadi berbeda dengan apa yang ada dalam kepala anda –walau buku yang dibaca sama--. Perbedaan persepsi ini tak lain disebabkan karena adanya perbedaan cara membaca. Buku berjudul "Hayatu Muhammad" ini jelas merupakan salah satu rekomendasi terbaik yang pernah dilakukan oleh banyak orang. Sayapun menganjurkan buku ini untuk menjadi referensi utama. Ditulis oleh seorang penulis spiritual ternama asal Mesir, Muhammad Husain Heikal, dan diterjemahkan oleh sastrawan relijius Indonesia, Ali Audah. Ditambah pula kata sambutan dari Prof. Hamka. Komplit kan ? Selain itu, yang membuat saya tertarik pertama kali terhadap buku ini adalah slogan di halaman depan yang berbunyi," Untuk mereka yang mencari Kebenaran demi kebenaran semata". Rekan saya memuji setingi langit buku ini lantaran kesederhanaannya. Buku yang menceriterakan riwayat hidup Muhammad ini memang dituturkan dengan kebersahajaan, tanpa banyak embel – embel puitis hiperbolis. Biasa, datar, namun sarat makna. Sesuai judulnya, buku ini bertutur tentang perjalanan hidup, peri hidup, dan segala yang terkait dengan kehidupan tokohnya. Bila ditilik dari metode penulisannya maka buku ini condong menjadi buku literatur ilmiah. Namun tidak hanya itu. Dengan padatnya muatannya, buku ini juga merupakan buku reliji, pedoman moral, sekaligus buku filsafat dunia - akhirat. Cocok kiranya dengan ketebalan sekitar tujuh ratus halaman, yang mana dengan kejeniusannya, Haekal berusaha memuat semaksimal mungkin nilai dan makna yang layak untuk dipelajari dari perjalanan hidup seorang Muhammad. Kalo boleh dikata, buku ini merupakan warisan peradaban yang tinggi nilainya. Filosof Iran Dr. Ali Syariati juga tidak ketinggalan menuliskan riwayat hidup Muhammad. Buku yang saya punya adalah era Madinah, yang berkisah perjalanan dan perjuangan Muhammad semenjak hijrah hingga wafat. Buku tersebut berjudul "Rasulullah SAW : sejak hijrah hingga wafat" diterjemahkan oleh Afif Muhammad. Sebagaimana biasa, Ali Syariati sanggup menulis dengan dua sisi yang berbeda. Satu sisi sangat logis dan berapi – api menggerakkan semangat juang, dan suatu kali dia bisa menuliskan bait – bait yang membuat pembacanya meneteskan air mata saking terharunya. Utamanya pada lembar detik – detik menjelang wafatnya Muhammad. Syariati adalah seorang sosiolog dan penggemar sejarah. Mangkanya tulisannya seakan memiliki pijakan yang pasti dan runutan yang teliti.Walau tentunya tidak semua mile stone sejarah dicantumkan. Buku ini hanya memuat seperlunya saja kaleidoskopnya, namun jelas runutannya. Buku ini tidak tebal, hanya sekitar seratus tiga puluhan halaman. Dari sekian halaman itu, tidak didominasi oleh angka – angka tahun sejarah. Syariati mengutamakan benang merah ketimbang urutan kalender. Oleh karena itulah buku ini tidak menjadi tabel semata, melainkan menjadi bermuatan penuh makna. Ali Syariati, pengagum Ali bin Abi Thalib ini membuka bukunya dengan selembar kata pengantar yang menyebutkan, "… saudara – saudara kita dari kalangan Sunni". Selain buku biografi tulen yang berceritera ihwal riwayat hidup, setidaknya ada dua buku yang mengupas secara dominan sisi profesi Muhammad. Satu buku berjudul "Muhammad sang Negarawan" tulisan W.Montgomery Watt. Entah kenapa saya tertarik membaca tulisan – tulisan Watt ketimbang penulis eropa lainnya,Karen Armstrong, misalnya. Padahal biografi karya Armstrong rasanya lebih populer ketimbang tulisan Watt. Secara subyektif bagi saya Watt bisa memposisikan dengan baik tanpa terjebak bermacam tendensi yang melatar belakangi kultur Eropa. Lebih seperti Edward W Said yang banyak menuliskan dunia Islam dari sisi kecendekiawanannya, Watt dalam bukunya menceriterakan kehebatan sosok negarawan agung yang layak dijadikan tokoh dan panutan bangsa manapun dan kapanpun. Buku 'profesi' kedua adalah karya Afzalur Rahman yang berjudul "Muhammad sang Panglima Perang". Jelas, dalam buku ini didominasi urusan perang. Bila dalam buku karya Watt ditekankan betul bahwa Muhammad adalah negarawan yang arif, lembut, mengandalkan diplomasi yang solutif, maka dalam buku kedua ini kilatan pedang dan perang fisik menjadi menu utama. Berawal dari betapa penekanan dari pihak luar begitu keras terhadap Muhammad, maka, pada tingkat kesabaran tertentu, Muhammad harus mengangkat pedang. Memang semua petempuran yang dikisahkan dalam buku ini selalu berawal dari titik ajaran Muhammad sendiri, bahwa membela diri itu adalah keharusan. Maka tak heran bahwa ekspansi wilayah hingga dataran Eropa-pun sebenarnya bermula dari niatan untuk membela diri. Buku karya Azfalur Rahman yang banyak bertutur tentang aspek militer ini menguatkan posisi Muhammad sebagai manusia biasa, bukan manusia super atau berkekuatan ghaib. Bahwa prestasinya yang hebat dalam peperangan adalah lantaran memang Muhammad adalah manusia yang hebat dan cakap dalam strategi peperangan. Walau tidak semata-mata itu. Karena seperti kita ketahui, bala tentara malaikat tak pernah jauh dari Muhammad dalam setiap peperangan. Membaca buku ini mengingatkan kepada sebuah buku teknis praktis seni berperang Sun Tzu. Walau tak se-filosofi Sun Tzu. Buku berikutnya hasil karyaTasaro GK yang menuliskan biografi Muhammad SAW dari sisi yang berbeda. Buku berjudul lengkap "Muhammad – Lelaki Penggenggam Hujan" ini menceriterakan kemuliaan Muhammad dari sisi manusia lain, jadi ada seseorang tokoh yang sepanjang hidupnya mencari sosok ideal. Menurut dia, tokoh ideal itu bernama Muhammad. Gitulah ceritanya. Memang buku ini adalah novel, novel sastra tepatnya. Dengan gaya bahasa sastra modern, Tasaro bertutur ulang dengan sudut yang lain daripada yang lain. Terus terang kemasan novel inilah yang membuat buku ini memiliki nilai lebih, karena akan memperkaya nuansa dan 'taste' dalam membacanya. Dan, bila 'taste' itu ternyata memikat dan menjadikan ketagihan, maka buku setebal lima ratus halaman lebih itu akan dengan mudah dilahap. "Akhlaq Rasulullah" tulisan Muhammad Abdul Aziz Al Khuli rupanya lebih mirip sebagai buku pelajaran. Sangat bertolak belakang dengan gaya penulisan Tasaro GK yang populis dan nyastra. Buku "Akhlaq Rasulullah" memang disusun seperti buku akademis yang berisi poin – poin, dalil, dan uraian seperlunya. Namun dengan keserhanaan penyajian, buku ini jadi lebih mudah sebagai buku referensi tentang akhlakul karimah. Cukup mencari dalam daftar isi, maka kita akan dengan mudah menemukan topiknya, dalilnya, dan memetik pelajaran darinya. Buku ini cukup lengkap, setidaknya memuat lebih dari seratus perkara akhlak yang patut diteladani, berikut uraian dalil – dalil yang menguatkannya. [] haris fauzi – 2 agustus 2010 salam, haris fauzi |
Sunday, July 11, 2010
kenisah : menghitung nikmat
MENGHITUNG NIKMAT Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. (QS 108:3) Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: "Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku"; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga, kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar. (QS 11: 9-11) Kalaulah kita pintar berhitung, tentunya tidak akan bisa menghitung seberapa besar nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita. Ini memang ungkapan klise. Dan semua orang mungkin juga sudah mengetahuinya. Mulai nikmat hidup, sehat, udara, dan lain sebagainya. Demikian banyak hingga tidak terukur lagi. Tak terhitung lagi. Bila hendak mencoba, bolehlah kita sebagai makhluk logis mencoba menghitung. Menghitung, dalam sistem ilmu teknik, berarti berkaitan dengan sesuatu yang terukur. Karena musykil menghitung sesuatu yang tidak ada nilai terukurnya. Dan bila kita lakukan penghitungan terhadap nikmat - nikmat yang sifatnya terukur, maka, semakin sadarlah kita bahwa sebenarnya Tuhan memang memberi lebih banyak dari yang kita mampu. Tuhan memberikan lebih berlimpah. Untuk hal ini saya tak hendak merekayasa. Dalam cerita hidup pribadi ada beberapa hal yang bisa jadi 'cocok' berkenaan dengan hal hitung - menghitung nikmat ini. Salah satunya adalah tentang nikmat rumah. Sejatinya, pada belasan tahun lalu,-- setelah sekitar lima tahun bekerja sebagai karyawan-- maka saya menimbang - nimbang peluang untuk memiliki sebuah rumah. Rasanya sungguh wajar, ketika berprofesi sebagai rekayasawan --karyawan biasa-- maka ada rasa sangat ingin memiliki rumah sederhana. Kala itu --hitung bolak - balik-- tandon tabungan rasanya cukup untuk mendapatkan sebuah rumah mungil di sebuah kompleks perumahan seperti biasa umumnya. Bayangan saya adalah tipe 21 di pemukiman perumahan rakyat. Kira - kira seperti itu gambaran yang sesuai dengan kemampuan keuangan kala itu. Harapan saya akan rumah tipe 21 di perumahan rakyat tidak terkabul. Karena Tuhan memberi lebih. Ternyata saat itu juga saya bisa mendapatkan rumah yang jauh lebih bagus, dengan tipe yang lebih luas, yakni tipe 60. Dan berada pada kompleks bukan sembarang perumahan, melainkan kompleks cluster yang cukup nyaman. Tidak mewah memang, tetapi jauh lebih bagus dari apa yang saya bayangkan semula. Demikian juga kendaraan. Ketika anak sulung lahir dan lantas saya berhitung akan membeli sebuah kendaraan tua, maka dengan menilik keadaan keuangan rasanya hanya cukup untuk membeli sebuah minibus bekas seperti angkutan kota atau mikrolet yang dirakit tahun 80-an. Ya memang hanya segitu kemampuan keuangan ketika itu. Namun, sekali lagi harapan saya tidak terkabul. Tuhan memberi lebih baik. Ternyata saat itu --atas bantuan seorang rekan kantor-- maka mobil sedan-lah yang bisa parkir di depan rumah kami. Walau umurnya sama - sama tuanya, tetapi sedan tentunya lebih nyaman ketimbang mini bus yang seumuran. Dan mobil itu terbukti handal dan masih layak gunakan hingga kini. Jelas, secara ukuran Tuhan memberi lebih baik kepada saya. Cita - cita ? Pada saat duduk di bangku SMA, sekitar tahun 1988, saya mengekor kakak sulung, bercita - cita menjadi seorang insinyur. Dan singkat cerita pada tahun 1995 usai sudah penantian saya ketika terwujud keinginan untuk berprofesi menjadi rekayasawan pabrik. Dan bagaimana sekarang ? Tuhan telah membuktikan memberikan lebih dari yang saya cita - citakan, ketika jabatan sekarang sudah jauh lebih baik dari yang saya cita - citakan semula. Contoh yang paling dahsyat adalah ketika saya mengalami kesulitan untuk mendapatkan anak yang kedua. Rupanya ada ketidak-normalan hormon. Saat itulah saya berandai - andai bahwa alangkah indahnya rumah ini bisa kami memiliki dua anak. Dan harapan ini tinggal harapan, karena Tuhan malah memperkenankan kami memiliki tiga anak. Sungguh luar biasa. Tuhan selalu memberi lebih dari yang saya minta. Itulah nikmat yang tidak terkira. Nikmat yang banyak dari Tuhan. Begitu melimpah dari Sang Maha Pemurah. Lantas, apa yang dituntut Tuhan atas itu semua ? Tidak ada selain sifat sabar. Ketika nikmat - nikmat yang berlimpah itu diberikan, lantas dicabut kembali, seringkali kita menggerutu. Ketika rumah atapnya bocor, mungkin saya menggerutu. Padahal, rumah tipe 60 walau bocor sekalipun tentunya masih mendingan ketimbang rumah tipe 21 seperti yang saya inginkan semula. Baru sedikit nikmat yang di cabut, kita mempermasalahkan hal itu. Demikian juga ketika mobil kita baret atau cacat permukaan cat-nya. Dan hal - hal kecil seperti itu seringkali memusingkan dan menggelorakan emosi. Rasanya itu semua tidaklah terlalu perlu dirisaukan. Menghadapi itu semua, sejatinya kuncinya hanyalah sabar. Begitulah apa yang disuratkan dalam kitab suci. Sabar memang menjadi cobaan yang tidak mudah. Saya berusaha mencoba memenuhi ini, ketika beberapa kali -- setidaknya tiga kali-- mobil kesayangan saya diseruduk kendaraan lain. Ketika di parkiran di eruduk mobil yang sedang mundur hendak parkir, ketika di setopan diserempet kontainer yang nekad menerobos lampu merah, dan ketika di perempatan diseruduk oleh bus yang rem-nya blong. Tiga peristiwa di atas membuat mobil saya compang - camping. Membuat lampu depan retak, membuat body belakang penyok dihajar ekor kontainer, dan badan mobil sisi kanan remuk dihajar bemper bis. Babak belur rupanya mobil kesayangan ini --satu - satunya pula. Semula hendak menuruti emosi, namun, sebuah mobil tua milik ini rupanya mengajarkan untuk mengukur nikmat. Intinya, ketika dalam keadaan compang - camping, toh mobil sedan tersebut masihlah lebih baik ketimbang mobil yang saya cita - citakan semula. Tak disangka - sangka, belajar menjadi sabar dari sebuah mobil tua ternyata membuat segalanya menjadi lebih mudah. Pun ketika sebuah promosi kenaikan pangkat ternyata belum juga kunjung terwujud, maka dengan ringan hati saya menerimanya. Toh apa yang saya dapat sekarang -walau nggak jadi naik pangkat- sejatinya masih jauh lebih baik daripada apa yang saya cita - citakan semula. Ringkas ceritera, rumah, mobil, pangkat, anak, dan sebagainya adalah nikmat pemberian Tuhan. Dan setelah terbukti Tuhan memberi nikmat lebih, maka sikap yang harus dikembangkan adalah sifat sabar. Karena, nikmat dari Tuhan itu milik Tuhan, dan Tuhan berhak mencabut nikmat tersebut. Entah dicabut sebagian, atau keseluruhan. Berdasar pengalaman saya, kebanyakan memang nikmat itu cuma dicabut sebagian. Itupun apa yang tersisa masihkah lebih baik daripada apa yang dicita - citakan semula. Sederhananya adalah seperti bila seorang bocah meminta duit kepada ibunya sebesar dua ribu rupiah, lantas ternyata ibunya memberinya berlebih dengan sepuluh ribu rupiah. Selang tak lama kemudian, sang ibu menarik duitnya dua ribu rupiah, menyisakan delapan ribu rupiah di kantong anaknya. Bila si anak bersabar, maka segalanya menjadi mudah. Namun, kebanyakan, sang bocah mempermasalahkan di-'tarik'-nya dua ribu rupiah, --padahal di kantongnya masihlah tersisa delapan ribu rupiah--, tanpa bisa mengerti bahwa harapannya semula hanyalah dua ribu rupiah. Dan seperti itulah dua gambaran sikap terhadap nikmat dari Tuhan. Satu sisi menyikapi dengan sabar terhadap dicabutnya nikmat. Satu sisi lain mempermasalahkan seakan - akan nikmat tersebut adalah semata - mata miliknya pribadi tanpa memperdulikan seberapa besar dia telah diberi. Dari dua sisi gambaran tersebut, tinggallah kita menentukan untuk memilih gambar disisi yang mana. [] haris fauzi - Mauk, Tangerang, Juli 2010 ----------- awal bulan kemarin, kami sekeluarga menyempatkan mengunjungi suatu daerah pesisir bernama Mauk, di kabupatenTangerang. Mauk -bagi kami- merupakan sebuah tempat yang bisa mengajarkan pentingnya untuk bersabar. http://harissolid.multiply.com/photos/album/131/sehari_di_mauk |
Subscribe to:
Posts (Atom)