MERANGKAI NAMA Setelah saya pikir- pikir, merangkai kata untuk menjadi sebait nama, bagi saya lebih mudah bila untuk nama wanita. Nggak tau atas alasan apa. Ketika menyusun nama untuk anak sulung saya dengan mudah bisa merangkai kalimat menjadi beberapa nama 'puteri' alternatif. Sementara untuk nama 'putera', saya hanya punya satu nama generik, 'Alija Muhammad'. Saya sebut generik, karena memang sudah seperti menjadi kebiasaan keluarga kami, maka setiap anak lelaki harus diberi nama dengan 'Muhammad', atau 'Ahmad'. Ya memang hampir menjadi tradisi. Sebagai contoh, saya adalah empat bersaudara dengan tiga anak laki. Kakak saya bernama 'Muhammad', demikian juga dengan adik laki saya. Saya sendiri ber-awal dengan Ahmad. Mungkin bila saya punya adik laki-laki lagi, maka namanya pasti 'Ahmad' juga. Semua anak laki-laki dari saudara saya,selalu mengandung nama 'Muhammad'. Ada Amru Hanif Muhammad, ada Asyrif Muhammad, Tsaqovi Muhammad, dan yang paling radikal adalah anak adik saya yang bernama "Husain Ali Muhammad". 'Husain' adalah cucu nabi Muhammad dari Ali bin Abi Thalib. 'Ali' adalah menantu nabi Muhammad. Keluarga Kakek dari Rejodani, (Bapaknya Ayah) adalah keluarga besar, belasan ber-saudara, namun hanya ada tiga anak laki - laki. Dari tiga putera itu, yang paling tua ber-semat nama 'Ahmad'. Mangkanya Bapak saya memanggilnya dengan 'Kang Amat'. 'Kang' itu berarti kakak lelaki, Amat itu panggilan dari 'Ahmad'. Dari keluarga Gentan ( Orang tua Ibu), keluarga kecil untuk ukuran saat itu, Ibu adalah 4 barsaudara. Perkara nama anak laki-laki, ternyata setali tiga uang. Saudara kandung Ibu yang laki-laki (paklik - paklik saya) juga mengandung nama Ahmad dan Muhamad. Memang, walaupun nama Ayah sendiri tidak mengandung muatan kata 'Muhammad', mendiang Ayah pernah 'mem-fatwa'-kan kepada kami untuk memberi nama anak-anak kami dengan 'Muhammad' karena itulah tokoh tauladan kami, atau 'Ahmad' karena itu sebutan dari nama Muhammad itu sendiri. Katanya sih, memang di-sunnah-kan untuk menyematkan nama seperti itu kepada anak lelaki. Konon untuk 3 anak laki dalam satu keluarga, sebaiknya minimal salah satu bernama dengan 'Muhammad' atau 'Ahmad'. Mungkin karena itulah, maka saya tidak kreatif merangkai nama buat anak lelaki, dan ter-patron hanya kepada nama 'Muhammad' itu. Pokoknya gitu. Saya juga begitu ter-opini dengan nama 'Muhammad' itu bila dikaruniai putera. Berapapun jumlahnya, bila laki - laki pastilah bernama itu. Walhasil, saya merasa lebih leluasa untuk berkreasi membentuk nama wanita. Ketika anak kedua kami hendak lahir, saya sudah menyiapkan satu nama puteri, panjang dan lengkap. sementara bila 'putera', saya hanya siap dengan 'Muhammad' saja. Oh ya. Saya terbilang cukup cuek dengan jenis kelamin calon anak saya. Saya tidak pernah bertanya - tanya detil, dan bila ada informasi tentang hal itu dari dokter, saya hanya meng-iya-kan. Katanya sih gender bayi itu rahasia Tuhan, dan kita tak kuasa hendak merekayasa bagaimana-pun. Seperti halnya kiamat, seperti halnya umur, maka misteri gender bayi itu mutlak rahasia Tuhan. Sesuatu ketetapan yang tidak bisa diatur - atur di awal, dan sesuatu ketetapan yang tak hendak disesali di akhir. Ya. kalau toh ada teori yang mereka - reka bagaimana membuat bayi laki, atau bayi perempuan, hal itu mungkin hanya isapan jempol belaka. Seperti halnya teori dugaan kapan dunia ini akan terjadi kiamat. Gara - gara sikap cuek itu, maka saya baru tau jenis kelamin anak pertama saya delapan jam setelah anak itu lahir. Otomatis, penyematan nama baru terjadi setelah itu walau 'calon' nama sudah ada di kantong. Dan ketika anak kedua lahir, saya mengetahui pada detik kelahirannya, karena saya berada di ruang tindakan. Kembali ke urusan nama. Ibu saya juga begitu menyukai nama yang saya rangkai untuk 'puteri'. Ibu sering berkomentar bahwa nama pilihan saya sangat indah. Contohnya ketika saya sodori nama alternatif puteri sulung saya,"Salma Farrahani". Ibu begitu antusias sampai beberapa kali menelepon dan berhasrat ikut urun rembug, akhirnya Ibu menambahkan nama tengah menjadi "Salma Fatiha Farrahani". Dan ketika saya menyodorkan nama calon 'putera', beliau berkomentar pendek saja,"..bagus,..Bapak setuju....". Demikian juga dengan kali ini. Menjelang bulan ramadhan (kemarin) berakhir, saya mencoba merangkai nama untuk calon puteri atau putera kami berikutnya. Dan saya dengan lancarnya merangkai untuk calon puteri. Cahaya Fahadaina. Itu nama pilihan saya, dan langsung disetujui oleh Istri, dan langsung dipuji habis - habisan oleh Ibu saya. Sempat saya konsultasikan kepada adik perempuan saya, yang mana dia ini faham penerjemahan bahasa arab. "...nama 'Fahadaina' artinya 'berilah kami petunjuk", gitu kata adik. Nama ini saya ambil mentah - mentah dari nama Ayah. Dan ketika Istri menanyakan untuk nama putera, saya menjawab sedikit gamang lewat pesan pendek: 'Muhammad... Muthahhari ...atau bisa juga Muhammad Fahadaina".[] haris fauzi - 30 oktober 2008 salam, haris fauzi |
Thursday, October 30, 2008
kenisah : merangkai nama
Monday, October 27, 2008
kenisah : absurd
ABSURD(...dan jangan ditiru) Taruhlah seorang kerabat mengajak saya menuju gedung bioskop. Kerabat itu sebut saja bernama Tole. Saya berangkat dengan tanpa harapan, karena toh, ternyata saya dan Tole tidaklah tau apa saja judul film yang bakal diputar di gedung bioskop tersebut. "Mungkin kita bisa memilih disana", gitu hibur Si Tole. Saya dan Si Tole memang sedikit banyak menggemari film bertema mafia. Itu selera wajib bagi orang gemblung seperti saya dan Tole ini. Akhirnya sampailah kami berdua ke hall gedung bioskop, yang terdiri dari empat ruang pertunjukan. Ruang pertama hari ini memutar film berjudul "Pocong Kecekik", ruang kedua memutar judul "Pocong Kesambit", ruang ketiga memutar film "Pocong Terbang", dan ruang terakhir memutar "Pocong Gantung".
Kalau toh harus menonton, kira - kira, bagi saya, maka saya tentu tak hendak menonton, kecuali ada film yang seleranya nyerempet selera saya, taruhlah yang berjudul "Pocongan Ber-Lupara di Sisilia".Tapi kala itu tak ada yang nyenggol. Bolehlah kerabat saya itu memaksa hendak menraktir nonton, tapi, apalah artinya bila saya tak berselera dengan judul yang hendak di tonton. Berujung begitu, maka saya pasti memilih hengkang dari sinepleks dan ngelantur entah ke mana, mungkin ke toko buku atau ke toko musik. Apabila kejadian itu memang benar - benar terjadi, maka pilihan saya adalah pergi meninggalkan sinepleks.Itu bagi saya lebih baik. Namun, sekali lagi, cerita di atas hanyalah tinggal cerita. Permisalan belaka. Hari ini, pagi tadi, tanggal 25 oktober 2008, kota kami tercinta, Bogor, mengadakan Pemilihan Umum untuk Walikota. Ada lima pasang calon Walikota. Dan entah kenapa, semenjak masa kampanye, kelima calon itu tak ada yang memenuhi selera saya untuk mengikuti pesta demokrasi ini. Seperti halnya pemilihan presiden tahun 2004 lalu, ketika jagoan saya, pak Amien Rais tidak lolos putaran kedua, maka saya sudah tidak berselera lagi mengikuti putaran final, yang akhirnya dimenangkan oleh pasangan yang kini kita semua sudah ketahui bersama. Mungkin ada yang salah dengan selera saya. Mohon jangan anggap saya menyama-ratakan calon walikota dengan film misteri. Tapi pandanglah dari sisi 'pemenuhan selera'. Ketika disodori empat film, ketika disodori lima calon walikota, dan ketika semuanya itu tidak ada yang memikat hati dan pikiran saya. Namun, bila hanya menyalahkan selera saya, maka jangan disalahkan apabila akhirnya saya memilih untuk mengisi waktu dengan kegiatan yang lain.Tanggal 25 oktober 2008, saya merasa letih. Semenjak pagi subuh mata masih saja mengantuk. Memang sudah tiga hari saya bergadang dan pulang larut. Saya ingin istirahat, sambil memutar album "Starker In Tokyo". Sebuah album panggung akustik yang membuktikan bahwa David Coverdale masih-lah menjadi vokalis rock terbaik yang pernah ada di jagat ini.[] haris fauzi-25 oktober 2008 salam, haris fauzi |
Thursday, October 23, 2008
kenisah : sebuah paradigma tentang paradigma
| SEBUAH PARADIGMA TENTANG PARADIGMA Tentang paradigma anak saya tadi. Kira - kira, saya membutuhkan waktu satu tahun untuk bisa mengubah pandangan dia ihwal tempat lilin tersebut. Coba tengok, untuk mengubah paradigma tentang hal sepele seperti itu, saya membutuhkan waktu satu tahun.
Adalah prestasi bila bangsa ini sudah melewati koridor perubahan. Tak hendak pesimis. Karena bila kita berkecil nyali, maka kita malah merugi banyak sekali. Ongkos perubahan yang sudah dibayarkan terlalu banyak. Dan bila kita berputus asa, maka bayaran itu akan sia – sia menguap begitu saja. Dan, kelak, ketika bangsa ini hendak mencoba berubah lagi, maka akan membayar upeti yang mungkin lebih mahal lagi. Ya. Pengorbanan yang berulang pasti akan lebih mencekik dan membuat derita. Untuk itu tak ada pilihan lagi, untuk membawa bangsa ini memandang cakrawala yang lebih baik, perubahan yang sudah dirintis di era reformasi harus terus digulirkan. Saya yakin sebagian besar komponen bangsa ini menghendaki perbaikan dalam bernegara dan berbangsa. Perubahan dan perbaikan ini harus dimulai dengan kemauan untuk mengubah paradigma yang telah usang dan lapuk, namun mengakar kuat dan susah dicerabut ini. Mari kita membuka pikiran dan hati, agar bisa mengerti, bahwa betapa perubahan itu diperlukan untuk berjalannya perbaikan itu sendiri. Mari kita mencoba berubah, merancang paradigma baru dan memulai dari diri kita sendiri.[] haris fauzi - 23 oktober 2008 salam, haris fauzi |