DAN ALI PUN GAGAL Konon dulu ada kisah tentang sayembara yang diadakan oleh Nabi Besar Muhammad SAW. Sayembaranya adalah festival sholat, barangsiapa yang sholatnya khusyuk, maka akan mendapat hadiah surban. Pesertanya adalah para sahabat. Dalam perjalanan perlombaan, singkat cerita maka tinggal Ali bin Abi Thalib-lah yang berhak maju ke babak akhir. Semua peserta sudah terkena eliminasi karena tidak bisa menjalankan sholat dengan khusyuk. Khusyuk versi Nabi Muhammad, tentunya khusyuk yang super khusyuk. Sangat khusyuk, gitu-lah. Jadi, para peserta yang gugur-pun sejatinya telah menjalankan sholat dengan khusyuk, cuma belum sempurna seratus persen seperti apa yang dipinta sama sang juri, Muhammad. Dalam kontes terakhir, konon nih,-- hingga tahiyyat akhir, Ali masih survive dengan kekhusyukan sholatnya. Lha, sebelum bingung, ada baiknya saya kisahkan dulu model penjuriannya. Cara penilaiannya tidak menggunakan SMS pooling, karena saat itu belum ada telepon genggam. Jadi, yang menilai kekhusyukan sholat itu ya nabi Muhammad sendiri sebagai juri. Beliau ini punya kemampuan bisa menilai kekhusyukan sholat seseorang. Kembali ke babak tahiyyat Ali bin Abi Thalib. Menjelang salam, ternyata Ali gagal mempertahankan kekhusyukannya. Dalam wawancara usai perlombaan --dalam kekecewaan yang mendalam-- Ali mengaku memang pada saat menjelang babak akhir dia kehilangan konsentrasinya,"....saya terbayang hadiah surban Rasul...". Dan gagal-lah Ali bin Abi Thalib. Khusyuk menurut kamus bahasa Indonesia WJS Poerwadarminta artinya adalah "secara kerendahan hati, sungguh - sungguh, dan kebulatan hati". Dan hal ini tentunya dikaitkan dengan konsentrasi dalam peribadatan dan doa. Dalam pewayangan, sering dikisahkan bahwa seorang kesatria yang hendak mendapatkan ilmu atau meningkatkan ilmunya seringkali harus bersemedi dengan khusyuk. Bertahan dari godaan yang terjadi di sekitar. Tentunya ada perbedaan signifikan antara semedi dan sholat. Saya tak hendak membahas hal itu. Ini hanya perumpamaan sahaja. Secara gampang, khusyuk adalah pemusatan hati. Mirip dengan konsentrasi yang merupakan pemusatan pikiran. Bila hati sudah fokus, pikiran pastilah tidak hendak lati kemana jua. Dan hal seperti ini dituntut dalam upaya peningkatan diri. Artinya adalah, semakin bisa dan tinggi kualitas semedi seseorang, semakin tinggi kekhusyukan seseorang, semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin tinggi pula martabat seseorang itu. Siapa yang bisa ? Setiap orang pastilah bisa --dengan taraf yang berbeda - beda--. Tergantung kemauan, mood, dan usahanya. Ya. Ke-khusyuk-an itu merupakan keahlian yang bisa dilatih. Sholat, adalah suatu kegiatan yang seyogyanya dilaksanakan se-khusyuk mungkin. Sholat adalah salah satu ibadah utama dalam Islam dan termasuk hal pertama yang akan dievaluasi di alam kubur kelak. Dan, telah dinyatakan pula bahwa sholat merupakan tiang dari agama. Mendirikan sholat (dengan benar) artinya mendirikan Islam. Artinya, sholat itu bukan hal yang sepele. Krusial, sehingga harus diperhatikan benar - benar pelaksanaannya. Pelaksanaan sholat, paramater utamanya salah satunya adalah tingkatan ke-khusyuk-an. Semakin khusyuk, semakin top. Gitu istilahnya. Ali bin Abi Thalib adalah menantu Muhammad, murid utama yang begitu dekat dengan Muhammad sehingga Muhammad pernah berujar,"...andai aku adalah hamparan ilmu, maka Ali adalah pintu gerbangnya...". Seorang Ali bin Abi Thalib yang sudah demikian tinggi derajat ketaqwaannya ternyata gagal dalam kontes ke-khusyuk-an. Ali termasuk pemeluk awal Islam, yang sudah belajar mengenai islam dengan segenap jiwa raganya, beribadah hingga mempertaruhkan jiwa dan darahnya, ternyata belum sempurna sholatnya di mata Rasulullah. Sementara saya --anda, dan kita disini sekarang-- adalah seseorang yang begitu 'jauh' jarak dan rentang waktu dengan Rasulullah Muhammad. Yang hidup dalam persengketaan hiruk-pikik dunia. Pun pula, kita semenjak umur 7 tahun, --puluhan tahun yang lalu-- dalam pelajaran agama sering sudah mendengar bahwa sholat itu harus khusyuk, pelajaran yang mungkin kita tidak pahami dengan benar. Atau, bisa jadi hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Tentunya, adalah sungguh jauh sekali --dibanding Ali bin Abi Thalib-- takaran kepandaian saya dalam memahami pelaksanaan sholat berikut kadar kekhusyukannya. Kapasitas tiap insan adalah berbeda - beda. Mungkin saya dan kita semua cukup kesulitan untuk menandingi ketaqwaan dan kekhusyukan Ali. Dalam kontes di atas, mungkin kita akan ter-eliminasi dalam babak penyisihan awal. Namun bukan berarti harus meniadakan. Bagaimanapun sholat adalah tiang yang harus didirikan dengan sesempurna mungkin, dengan usaha yang maksimal. Bukannya begitu ? Bila 'iya', maka coba kita nilai sendiri sekarang, seberapa khusyuk-kah sholat kita kini.[]haris fauzi - 29 juli 2009 salam, haris fauzi |
Thursday, July 30, 2009
kenisah : dan ali pun gagal
Monday, July 13, 2009
kenisah : dari imsak hingga dhuha
DARI IMSAK HINGGA DHUHA Adalah pekat malam mulai mereda ketika waktu Imsak tiba. Waktu Imsak,--hari ini adalah pukul 4.40 waktu Bogor-- adalah dimana tiba saatnya untuk melakukan sholat sunnah Fajar. Waktu Imsak identik dengan berakhirnya waktu untuk sholat malam, seperti sholat wajib Isya, sholat sunnah Tahajjud, Tarawih, Witir, dan atau sholat Qiyamulail yang lain. Waktu Imsak identik dengan berakhirnya masa untuk ber-sahur ketika hendak berpuasa ramadhan. Sebenarnya tidak se-eksak itu. Masa berakhirnya makan sahur adalah ketika subuh tiba. Konon, Rasulullah Muhammad saw pernah mempersilahkan muadzin untuk menyelesaikan makan sahurnya terlebih dadulu dan setelah itu barulah menyuruhnya berdiri untuk mengumandangkan adzan Subuh. Sekitar sepuluh menit setelah waktu Imsak tiba, maka tibalah waktu adzan Subuh, berarti sekitar pukul 4.50 waktu Bogor. Di waktu ini jelas adalah saatnya untuk melaksanakan sholat wajib Subuh berikut sholat sunnah yang mendahuluinya. Ada juga yang beranggapan bahwa sholat sunnah Fajar hanya bisa ditunaikan di saat Imsak, dan tidak berlaku ketika adzan Subuh sudah berkumandang. Namun ada juga yang beranggapan masih boleh menunaikan sholat Fajar ketika adzan Subuh sudah berkumandang. Saya sendiri memilih menunaikan sholat Fajar ketika waktu Imsak, sementara di saat setelah adzan Subuh --sebelum sholat Subuh-- berarti menegakkan sholat sunnah Rawatib. Waktu subuh ini cukup lama, sekitar satu jam tujuh belas menit, sehingga tiba waktu terbit. Dalam tabel "djadwal waktu sholat sepandjang masa" terbitan PT.Pertjetakan Persatuan disebutkan namanya adalah "waktu terbit", maksudnya konon adalah saat dimana matahari mulai terbit, yakni pukul 6.07 waktu Bogor hari ini. Konon pula, disinilah salah satu waktu dimana dilarang untuk melakukan sholat. Beberapa referensi mengatakan bahwa konon jaman dulu ada sekelompok suku yang senantiasa melakukan penyembahan matahari disaat matahari itu mulai muncul, yakni di saat matahari itu terbit. Pertanyaan yang timbul sekitar 'waktu terbit' ini adalah,"Bagaimana bila bangun pagi hari di 'waktu terbit' ini tetapi belum melaksanakan sholat Subuh ?". Ada beberapa pendapat yang benar - benar mengharamkan untuk melaksanakan sholat, termasuk sholat Subuh yang terlambat. Namun ada beberapa pula yang beranggapan apabila tertinggal sholat Subuh karena tidak terbangun --atau apapun-- maka harus bersegera menunaikan sholat wajib tersebut, walaupun terjaga di saat "waktu terbit" yang notabene dilarang menegakkan sholat. Saya sendiri lebih prefer yang kedua, yakni bersegera menunaikannya. As Soon As Possible. Waktu terbit matahari berlangsung sekitar 25 menit sehingga datanglah masanya sholat Dhuha. Pukul 6.32 waktu Bogor hari ini. Beberapa orang beranggapan bahwa waktu sholat Dhuha berkisar antara pukul setengah sembilan pagi, menjelang siang. Itu betul, namun, sebenarnya waktu Dhuha tidak di mulai pukul setengah sembilan. Beberapa pedoman menyatakan bahwa waktu Dhuha itu adalah saat dimana solat Ied sudah bisa dilakukan, karena sholat Ied adalah sholat Dhuha yang dilaksanakan berjamaah untuk sebuah hari raya. Hari ini, di Bogor, menurut jadwal tersebut sholat Dhuha bisa di mulai pukul 6.32 hingga berakhir ketika dimana matahari tepat berada di ubun - ubun. Beberapa menit menjelang sholat Dzuhur. Begitulah. Mohon koreksinya. [] haris fauzi - 13 Juli 2009 salam, haris fauzi |
Thursday, July 09, 2009
kenisah : usai
USAI Tentunya banyak diantara kita yang pernah merasakan, betapa kita dengan segala energi yang kita miliki tercurah dan terlarut untuk sesuatu yang mungkin berada 'jauh' dari kita sendiri. Jauh lokasinya, jauh impak-nya, jauh dimensi 'keterlaitan'-nya. Istilahnya adalah jauh 'hubungan'-nya. Contohnya adalah liga sepak bola. Kadang kita bergadang malam ini untuk menonton sebuah pertandingan penyisihan sepak bola,-- liga Champions Eropa misalnya. Lantas minggu depan kita seminggu dua kali bergadang untuk menonton babak perdelapan, lantas perempat finalnya. Dilanjutkan lagi dengan beberapa kali bergadang nonton pertandingan semifinal. Demikian terus sehingga memasuki babak final, dan betapa kita terus mengikuti seandainya kesebelasan yang kita idolakan melaju menuju babak yang lebih jauh. Demikian juga dengan Piala Dunia, GlandSlam tenis, seri sirkuit balapan Formula-1, motoGP, atau yang lainnya. Acara maraton seperti itu menyita perhatian dan energi kita, walau, terus terang tidak sedikit dari kita yang sebenarnya tidak terlalu dekat memiliki pengaruh akan diadakannya atau tidak acara tersebut. Saya punya teman yang 'rela' bergadang setiap pertandingan kesebelasan Contoh lainnya adalah saya –dulu--. Saya adalah rekayasawan pabrik. Sama sekali tidak ada yang menghubungkan saya dengan kesebelasan Saya sekedar penikmat tayangan mereka yang rela bergadang untuk itu. Hanya itu. Lain urusannya bila saya adalah seorang komentator atau kritikus olah raga yang memang, semakin saya menguasai data terkini, maka penghasilan saya semakin mapan karena sering berkomentar. Kadang kita terheran – heran, entah mengapa ada orang yang demikian fanatik sehingga rela mengoleksi dengan modal jutaan rupiah. Atau juga, rela bergadang beberapa malam untuk menonton pertandingan, atau yang lainnya. Hal – hal serupa itulah. Setelah semua kejadian itu usai, apa yang di dapat ? Mungkin subyektivitas. Sebagai satu – satunya orang
Setelah usai, barulah kita bisa mengerti, sebenarnya seberapa jauh 'hubungan' kita dengan mereka. Antara seorang teman dengan Led Zeppelin, atau seorang pakar teknologi informasi dengan kesebelasan Juga setelah usai pertandingan dan kesebelasan idola itu mendapatkan pialanya, kita bisa menyaksikan para pemain yang berlaga bersorak – sorak mengangkat piala. Mereka mendapatkan banyak hadiah, banyak pujian. Sementara kita ? Kita bisa bercerita dengan bangga kepada rekan sebangku bahwa telah bergadang mendukung sang idola. Saya ingat bagaimana kesebelasan idola saya Manchester United mendapatkan treble winner, juara mendapatkan tiga piala. Setelah menjalani proses berminggu – minggu mereka bertanding, --dan saya selalu menonton dari televisi setiap dini hari sehingga hampir setiap pagi saya mengantuk di kantor,-- akhirnya mereka merayakan puncak kemenangan. Mereka jaya, sponsor berdatangan meningkatkan penghasilan mereka berlipat-ganda, karir mereka melesat. Sementara dari diri saya yang tersisa adalah kantuk dan rasa capek yang baru bisa hilang selama tiga hari. Energi saya tersita namun penghasilan saya tetap seperti bulan sebelumnya. Seusai itu, barulah terpikir bahwa 'hubungan' antara saya dengan sang treble winner itu sungguh jauh. Contoh di atas adalah betapa ada manusia yang rela berbuat banyak untuk sebuah kejadian yang 'hubungan'nya jauh. Karena hobi, karena kepuasan, mereka rela melakukan hal itu, menyalurkan sebagian energinya. Namun, ada juga yang bukan karena itu. Tetapi karena terbawa atmosfir lingkungan. Contohnya adalah cuaca politik. Ya, urusan politik negara. Bila ada beberapa pimpinan politik sebuah negara yang sedang memiliki urusan, seringkali rakyatnya-lah yang terbawa atmosfirnya untuk ikutan. Entah ikutan bergadang, entah ikutan memperhatikan, menyimak, dan berkontribusi baik langsung ataupun tidak. Permainan politik olah para jawaranya memang membawa konstituen. Semakin pakar dia, semakin banyak yang terbawa. Pentas para jawara politik yang paling bergengsi adalah pemilihan kepala negara. Pentas seperti ini jelas – jelas menyeret banyak perhatian. Apalagi peran partai politik yang menggurita dan seringkali bermanouver tak terduga, saling dukung di atas namun kadang saling bentrok di jalanan, saling sikut di pergolakan politik namun kadang berjabat tangan di muka kamera televisi. Hampir secara tidak sengaja menyedot effort, opini, dan sejumlah besar energi rakyat.
Bagi para profesi yang terkait langsung –memiliki 'hubungan' kuat dengan jalannya pentas politik ini-- seperti para komentator politik, tayangan televisi, aktivis partai, tentunya hal yang wajar. Karena pentas ini bisa jadi akan mengubah hidup mereka. Mereka bisa naik pangkat, menjadi senator, menjadi menteri, atau menjadi kepala negara. Namun urusan ini juga menyedot energi kalangan lain yang –menurut hemat saya-- tidak terkait langsung, seperti tukang batu yang bisa memasang bata dengan rapi, tukang antar nasi rantang yang setiap jam tujuh mengetuk rumah untuk mengantar menu. Mereka ini se-usai pentas politik, tidak lantas berubah hidupnya, mereka tidak kontan menjadi menteri keesokan harinya. Mangkanya pesta kontes para politikus ini seringkali disebut pesta rakyat. Bukan karena rakyatnya berpesta - pora makan - minum sepuasnya, namun tak lebih karena perhatian dan sejumlah besar energi para rakyat ini begitu tersita oleh jadwal maraton pentas jawara politik tersebut. Mulai pencanangan partai, acara kampanye senator, pemilihan senator, penetapan kontestan pemilihan kepala negara, kampanye dan tayangan di televisi, proses pemilihan umum-nya, hingga bagaimana detik – detik penghitungan suaranya. Duh. Rasanya rame banget deh. Seperti dalam urusan bergadang menonton tayangan sepakbola atau sebangsanya, kita juga bisa menyaksikan bagaimana banyak orang yang dengan sukarela mengkampanyekan idolanya, membentuk paguyuban – paguyuban seperti fans club, hingga memelototi televisi untuk mengikuti lembar – lembar penghitungan hasil akhirnya. Itu yang sukarela. Bagaimana dengan orang yang ikutan terseret atmosfirnya ? Seperti halnya maraton begadang nonton bola yang menyisakan kantuk, bagi yang 'hubungan'-nya rendah, maka se-usai pentas politik ini yang tersisa adalah kehabisan energi. Karena saya bukan orang politik, yang mana "cadangan energi" ini masih banyak diperlukan untuk yang lain. Untuk urusan yang langsung berhubungan dengan jemari saya, urusan yang memiliki 'hubungan' lebih dekat menyangkut hidup saya. Siapapun yang memenangkan kontes politik itu, saya sebagai orang awam yang tidak terlalu dekat dengan urusan politik tidaklah memiliki energi yang cukup banyak untuk terus – menerus secara maraton terbawa atmosfir proses kontes politik. Dan, bila urusan ini usai, sejatinya saya bisa bernafas lebih lega. Hal seperti ini mungkin tidak hanya menyangkut diri saya. Rasanya cukup banyak orang yang terbawa dan tersedot energinya untuk urusan pentas para jawara politik ini, dengan 'hubungan' yang tidak terlalu dekat. Seperti saya, mereka mungkin juga tidak memiliki banyak energi tersisa. Dan bila urusan berkepanjangan ini telah usai, maka saya dan mereka akan melanjutkan menjalani rutinitas hidupnya dengan sisa energinya. Sambil berharap semoga 'sisa energi'-nya masih cukup. [] haris fauzi – 8 juli 2009 |