BUNGA, SALAMAN, DAN DO'A Yang saya maksud disini adalah bunga panenan. Bukan bunga deposito. Apabila anda kebetulan melewati jalan sekitar Pandanaran - Semarang, maka tampaklah di tepian jalan itu banyak berderet para penjual bunga. Mereka adalah penjual bunga musiman. Maksudnya musiman adalah bunga itu memang dijual --dan dibeli-- di musim - musim tertentu. Paling dominan pada musim ziarah ke makam tentunya. Sebetulnya --dalam Islam-- tidak ada musim khusus kapan harus berziarah ke makam. Tidak ada waktu yang ditetapkan khusus. Apabila memang sedang berpetualang, berjalan - jalan, atau melaksanakan ibadah haji, maka kebetulan saja sekaligus dilakukan ziarah ke makam - makam tertentu. Sementara menziarahi makam itu seperti halnya melaksanakan takziah kepada kerabat yang mangkat. Merupakan ibadah yang bersifat ummat, bersifat wajib ain. Penekanannya individunya lebih kepada agar setiap yang bertakziah, setiap yang berziarah ingat bahwa dia juga bakalan mati dan di tanam di tanah. Selain juga mendo'akan almarhum tentunya. Harapannya bertakziah dan berziarah adalah agar mereka sadar akan dosa - dosa dan keburukan tindak tanduk, takut dihunjamkan ke neraka paska kematian, dan lantas berkesempatan memperbaiki diri sebelum keburu mati. Bersalaman adalah bagian dari kebaikan, karena saling memaafkan merupakan bagian dari menghapuskan keburukan. Bermaafan adalah terkait dengan kesalahan. Maka, seyogyanya setiap kali melakukan kesalahan, sebaiknya sesegera mungkin bermaafan. Walau bermaafan belum tentu secara aktual adalah bersalaman. Bermaafan memang dianjurkan untuk dilakukan sesegera mungkin. Tidaklah terlalu banyak untungnya untuk menunda - nunda meminta maaf selain karena gengsi semata. Ya. Setiap agama pastilah menganjurkan agar ummat-nya menjadi orang yang pemaaf, sadar kesalahan, dan mampu menjadi orang yang berlapang dada. Bersalaman, bermaafan adalah simbol sifat gentleman. Dan ini tidaklah perlu menunggu menjelang lebaran untuk bermaafan. As Soon As Possible, gitu petuah Pak Camat. Sementara do'a adalah bentuk kepasrahan manusia kepada sang Esa, menyerahkan segala usahanya kepada takdir-Nya. Do'a adalah bentuk pengharapan, walaupun tidak selalu seperti itu. Tengoklah do'a sebelum tidur dari umat Islam yang berbunyi kurang lebih,"...dengan atas nama-Mu, Ya Allah, hamba hidup, dan atas nama-Mu hamba mati". Sama sekali tidak ada harapan bahwa seseorang yang memanjatkan itu ingin tidur nyenyak dan mimpi indah. Hanya menyerahkan kepada Tuhan ihwal hidup dan mati.Agak berbeda dengan do'a belajar misalnya, karena disitu tertera dengan jelas harapan agar diberi kemudahan untuk menambah ilmu. Do'a banyak ragamnya. Dalam masyarakat Indonesia yang kebanyakan memeluk agama Islam dengan berbagai latar belakang yang berbeda - beda, urusan berdo'a bahkan sudah membaur dengan adat menjadi kebiasaan masyarakat dengan segala ritualnya, yang mana kebanyakan ritualnya malah bersifat ke-adat-an. Berdo'a juga merupakan simbol masyarakat relijius spiritual. Masyarakat yang memiliki keyakinan dunia ghaib. Mangkanya seringkita jumpai adanya do'a minta hujan, do'a tolak bala, do'a hajatan, dan sebagainya yang seringkali telah berbaur dengan urusan religi dan adat. Sejatinya, berdo'a adalah hal yang dilakukan berkaitan dengan kasus - kasus tertentu. Ketika mau tidur, ya membaca do'a hendak tidur. Mau makan ya berdo'a hendak makan. Gampangnya ya diniatkan seperti itu. Sekarang dalam kalender Islam adalah bulan Sya'ban, sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan. Dimana bulan Ramadhan ini merupakan saatnya umat Islam menyongsong ritual ibadah puasa. Namanya juga menjelang, mangkanya sering kita jumpai adanya beberapa aktivitas yang mungkin dimaksudkan untuk mempersiapkan diri menjelang pelaksanaan ibadah puasa. Tak jarang kita saling bermaafan menjelang puasa, atau kita menjumpai beberapa orang yang berziarah kubur sebelum Ramadhan, dan juga tak luput kita tau beberapa masyarakat yang melakukan ritual berdo'a tolak bala menyongsong puasa. Hampir semuanya dilaksanakan di bulan Sya'ban. Bulan menjelang Ramadhan. Perlukah itu semua ? Bagi saya pribadi tentunya hal - hal tersebut tidaklah terlalu perlu dilaksanakan berkaitan dengan ibadah puasa. Urusan saling memaafkan, berziarah, dan berdo'a bersama adalah ihwal yang terlepas dari niatan memasuki bulan Ramadhan. Saling memaafkan, berziarah, dan berdo'a bukan hal yang berdosa, malah dianjurkan, namun hal itu tidak terkait dengan niatan pelaksanaan ibadah puasa. Memaafkan harus dilaksanakan secepatnya tanpa harus menunggu datangnya puasa. Berziarah adalah untuk mengingat kematian kita, bukan untuk menyambut Ramadhan. Sementara memanjatkan do'a adalah bentuk kepasrahan, bukan merupakan rangkaian ibadah puasa Ramadhan. Lantas, apa yang harus dipersiapkan menyongsong Ramadhan ? Bulan Sya'ban memang merupakan bulan dimana umat Islam diharapkan untuk bersiap - siap menyongsong puasa. Sebetulnya tidak hanya bulan Sya'ban, pada bulan Rajab-pun harusnya sudah dimulai. Ada beberapa persiapan yang harus dikerjakan menjelang bulan Ramadhan. Secara garis besar ada empat aspek yang perlu dipersiapkan. Yang pertama yakni aspek ruhani, berupa kesiapan niat atau dikalangan anak muda lebih dikenal dengan 'kebulatan tekad'. Yang kedua adalah kesiapan fisik menahan lapar. Dua aspek ini biasanya dilatih di bulan Sya'ban. Maka tak heran bila ada sahabat yang pernah berkisah bahwa rasul Muhammad banyak sekali berpuasa di bulan Sya'ban melebihi bulan - bulan yang lain hingga mendekati banyaknya puasa di bulan Ramadhan. Ini dimaksudkan sebagai latihan. Dua aspek yang lain yakni aspek pengetahuan mengenai ritual puasa dan aspek finansial. Persiapan ihwal kedua aspek ini biasanya dimulai di bulan Rajab. Karena orang harus belajar banyak, dan mungkin waktu sebulan tidaklah cukup. Demikian juga dengan aspek finansial. Siapa bilang puasa tidak butuh duit ? Bukan berarti lantas kita berboros-ria menjelang lebaran. Namun, sebaiknya di bulan Ramadhan, umat Islam disarankan untuk mengurangi porsi usaha mengejar duit. Maksudnya biar lebih terkonsentrasi ke tafakur dan tadarus. Nah, untuk itu, kebutuhan sehari - hari harusnya dipenuhi dari tabungan yang di dapatkan pada usaha di bulan - bulan sebelumnya. Nah, ihwal menjelang puasa begitulah kira - kira menurut saya. Bagaimana menurut anda ? [] haris fauzi - 19 Agustus 2009 salam, haris fauzi |
Wednesday, August 19, 2009
kenisah : bunga, salaman, dan do'a
Tuesday, August 04, 2009
kenisah : ketika harus prihatin, melawan, dan menolak
KETIKA HARUS PRIHATIN, MELAWAN, DAN MENOLAK Mungkin ketiga hal tersebut adalah suatu yang berbeda dan tidak saling terkait. Prihatin adalah cerminan sikap atas suatu kondisi yang terlanda prahara sehingga menuntut empati tulus seseorang untuk pro-aktif. Dalam kondisi yang kurang menyenangkan, maka secara logika dan alamiah, fitrah seseorang dituntut untuk memberikan perhatian yang lebih kongkrit terhadap permasalahan yang terjadi. Memberikan bakti karya, sumbang saran urun tindakan, dan hal - hal produktif lainnya yang bertujuan untuk memulihkan keadaan, menjadikan semua normal dan baik kembali seperti sediak ala. Itu adalah fitrah. Karena sejatinya manusia itu adalah makhluk sosial yang waras yang memiliki kompetensi untuk menolong sesamanya. Membaca kiriman seorang rekan ihwal kegilaan dan kewarasan, membuat saya berpikir sejenak perihal fitrah. Ada kegilaan yang memang tidak dikehendaki oleh seseorang, namun tak jarang beberapa orang waras sengaja bertindak gila. Menurut saya, yang kedua inilah yang menyimpang dari fitrah. Penjelasan lebih mudah bisa kita setarakan dengan ihwal bunuh diri. Ada orang yang memang ditakdirkan ajalnya tiba dan meninggal. Namun ada juga yang berusaha membunuh dirinya secara melanggar takdir. Jadi ada yang mati dengan sesuai takdirnya, ada pula yang sengaja mencekik lehernya. Ada pula yang memang gila karena sakit, dan hampir sama dengan itu ada pula manusia yang dengan sengaja bertindak gila. yang gantung cekik dan bertindak gila inilah yang menyalahi fitrah. Ada yang sengaja menghilangkan nyawa dengan bunuh diri, ada yang sengaja mematikan nurani dengan bertindak gila. Keduanya menyimpang dari fitrah. Saya bukan hendak berpanjang lebar mengenai fitrah. Bukan pula hendak membahas antara waras dan edan. Namun, sejatinya, empati keprihatinan ini adalah barometer yang fitrahnya sudah tertanam di sanubari setiap orang. Adalah hikmah alam yang senantiasa menggosok barometer tersebut untuk lebih peka dan lebih peka lagi, menjadi lebih sensitif. Namun, kekejian demi kekejian yang kerap dilakukan akan membuat barometer ini semakin tidak berfungsi dan akhirnya berhenti bekerja. Dalam konteks ini, seseorang yang kehilangan fungsi barometer empati menjadi hilang sensitifitas keprihatinannya. Secara pribadi, saya adalah sesosok daging yang berkerangka tulang, dimana saya seringkali melumuri barometer diri saya tersebut dengan kedangkalan tindakan --berikut keburukan - keburukan yang menyertainya-- yang malah membuat menjauhi fitrah. Mengusamkan fitrah. Mudah - mudahan saya terhindar dari perbuatan laknat itu. Tetapi, mudah - mudahan pula saya masih memiliki barometer yang berfungsi, walau entah akurasinya berapa persen. Kehilangan nurani, mungkin kehilangan seluruh identitas kemanusiaannya. Barometer itu diasah oleh hikmah. Hikmah itu seringkali muncul ketika terjadi hal - hal yang tidak menyenangkan, ketika bencana tiba. Itu saat yang paling gampang untuk mengetahui fungsi barometer keprihatinan. Apapun bentuk bencana itu. Mungkin bencana alam, tidak naik kelas, terjungkal dari sepeda, dipecat dari pekerjaan, atau wira-usaha yang berantakan. Suatu ketika saya memperhatikan bahwa ada beberapa hal yang menyebabkan sebuah prahara terjadi. Sebuah prahara terjadi bisa disebabkan oleh banyak hal, banyak orang, dan banyak faktor. Yang jelas prahara ini kedapatan menyengsarakan orang banyak. Menuntut perhatian kita, menuntut fitrah empati kita. Apa yang terjadi ? Ketika prahara itu terjadi, ketika orang lain menjadi korban, ketika sebagian orang lain berempati dan prihatin,....maka, sungguh memuakkan bila memandang seseorang --atau sekelompok orang-- yang menyebabkan itu semua malah dengan sengaja mengabaikan hal tersebut. Yang lebih kebangetan lagi yakni ketika mereka malah menghisap laksana vampir. Ini semua dilakukan dengan sengaja, dan bila kita merujuk kepada standarisasi kewarasan, maka hal itu adalah tindakan gila. Bertindak gila dengan sengaja mencampakkan fitrah yang telah dititipkan oleh Sang Kuasa. Cobalah bertanya kepada hati yang terdalam, patutkah kelakuan - kelakuan laksana vampir itu semua dilakukan. Dan, bila masih belum jua menemukan jawabannya dan masih saja bertindak gila, maka, apalagi yang bisa diharapkan dari manusia model seperti ini ? Mereka adalah manusia yang sudah tidak memiliki rasa prihatin sama sekali. Menolak. Ini adalah kata yang gampang diucapkan, tetapi sulit dilakukan. Menolak kebejatan, semua orang bilang dengan gampang. Tetapi, ketika kebejatan itu terjadi, maka hampir semuanya bungkam, membiarkan semua kebejatan itu berjalan lenggang kangkung seenak udelnya sendiri. Kita semua --dan saya juga-- mungkin terlalu penakut untuk melawan kebejatan. Karena dibalik perlawanan tentulah ada resiko. Resiko inilah yang ditakutkan. Padahal, jargon revolusioner untuk seluruh kebejatan itu hanya ada satu kata : "lawan". "Menolak" itu mungkin ada dua hal. Menolak kebejatan yang 'mengerikan' seperti saya tulis sebagai kasus pertama di atas yang sebetulnya lebih relevan untuk disebut dengan istilah 'melawan', dan...kasus kedua adalah menolak 'kenikmatan' yang disodorkan yangmana tidak pada tempatnya. Mungkin, menerima pembagian korupsi, uang suap, dan pelicin adalah contoh yang gampang untuk kasus kedua. Dalam keadaan normal tanpa prahara, perkara suap, korupsi, dan pelicin adalah hal - hal yang layak dan patut diperkarakan. Apalagi ketika keadaan genting di tengah badai prahara. Seakan mengail di air keruh. Adalah orang gila semata ketika saudaranya sengsara, maka ia memakan bangkainya. Kitab suci mengutuk keras perbuatan orang yang kehilangan kewarasan ini. Saya pernah mengalami hal kecil yang menurut saya itu cukup besar impaknya. Saat itu saya menjadi auditor, dan pihak auditee hendak menyampaikan 'amplop' kepada tim saya. Dalam keadaan itu semua anggota tim diam seribu bahasa, sampai akhirnya saya memberanikan diri menolak amplop itu. Paska audit, saya bertanya kenapa rekan saya tidak ada yang bersahut ketika amplop itu disodorkan. Mereka hanya berujar,'....gak bisa ngomong, bungkam gak tau kenapa...". Sedemikian berat memang, membuat bibir ini kelu. Taruhlah, menolak pelicin, suap dan kongkalikong korupsi mungkin adalah suatu yang berat karena uang itu memang nikmat adanya. Tetapi tentunya kita semua sepakat bahwa itu semua adalah tindakan yang salah dan melanggar hukum, dan sudah sepatutnyalah buat ditolak. Repotnya ada beberapa kenikmatan --yang pada kondisi normal adalah hak kita,-- namun dalam kasus khusus ternyata nurani kita bisa jadi tidak membenarkannya. Untuk kasus ini, mungkin gampang - gampang susah untuk mencari permisalannya. Ummhmm....--setelah selintas berpikir-- saya mencoba usul, gimana kalo contohnya adalah masalah kenaikan upah atau gaji ?...terbayangkah betapa beratnya menolak kenaikan gaji ? Mungkin saya akan sedikit berkisah tentang seorang tokoh masyarakat yang bernama Amien Rais. Ketika itu dia menjabat sebagai seorang pimpinan lembaga. Dalam keadaan keuangan negara yang tersaruk - saruk, konon saat itu juga ada usulan dari pihak lain. Mengusulkan agar gaji Pak Amien dinaikkan. Apa yang terjadi ? Bukannya negara yang menolak kenaikan gaji Pak Amien, melainkan pak Amien sendiri yang menolak gajinya dinaikkan. "Ditengah kondisi negara seperti ini, alangkah tidak punya nurani bila saya menerima kenaikan gaji saya...", ringkasnya begitu penolakannya. Dalam keadaan normal, kenaikan gaji adalah hal yang wajar, namun, ketika keadaan penuh bencana, maka nurani seorang Amien Rais akan menolak kenikmatan berlebihan itu selagi saudara - saudara yang lain sengsara. Mungkin bisa disejajarkan, bahwa hal ini sama saja menjadi vampir ganas bagi saudara - saudaranya yang tertimpa bencana. Dalam keadaan penuh prahara dan bencana, maka nurani yang akan bicara. Fitrah nurani yang penuh rasa kemanusiaan akan membagi empatinya. Bahkan, menuntun kita untuk berbuat lebih baik dari sekedar turun tangan. Suara nurani juga mampu untuk menyuarakan perlawanan. Nurani yang prihatin menjadi pemandu agar kita mampu untuk menolak kenikmatan - kenikmatan yang tidak pada tempatnya. Beberapa orang pilihan memiliki kuasa untuk prihatin, melawan, dan melakukan penolakan. Namun, kebanyakan dari kita tidak. [] haris fauzi - 4 agustus 2009 salam, haris fauzi |
Thursday, July 30, 2009
kenisah : dan ali pun gagal
DAN ALI PUN GAGAL Konon dulu ada kisah tentang sayembara yang diadakan oleh Nabi Besar Muhammad SAW. Sayembaranya adalah festival sholat, barangsiapa yang sholatnya khusyuk, maka akan mendapat hadiah surban. Pesertanya adalah para sahabat. Dalam perjalanan perlombaan, singkat cerita maka tinggal Ali bin Abi Thalib-lah yang berhak maju ke babak akhir. Semua peserta sudah terkena eliminasi karena tidak bisa menjalankan sholat dengan khusyuk. Khusyuk versi Nabi Muhammad, tentunya khusyuk yang super khusyuk. Sangat khusyuk, gitu-lah. Jadi, para peserta yang gugur-pun sejatinya telah menjalankan sholat dengan khusyuk, cuma belum sempurna seratus persen seperti apa yang dipinta sama sang juri, Muhammad. Dalam kontes terakhir, konon nih,-- hingga tahiyyat akhir, Ali masih survive dengan kekhusyukan sholatnya. Lha, sebelum bingung, ada baiknya saya kisahkan dulu model penjuriannya. Cara penilaiannya tidak menggunakan SMS pooling, karena saat itu belum ada telepon genggam. Jadi, yang menilai kekhusyukan sholat itu ya nabi Muhammad sendiri sebagai juri. Beliau ini punya kemampuan bisa menilai kekhusyukan sholat seseorang. Kembali ke babak tahiyyat Ali bin Abi Thalib. Menjelang salam, ternyata Ali gagal mempertahankan kekhusyukannya. Dalam wawancara usai perlombaan --dalam kekecewaan yang mendalam-- Ali mengaku memang pada saat menjelang babak akhir dia kehilangan konsentrasinya,"....saya terbayang hadiah surban Rasul...". Dan gagal-lah Ali bin Abi Thalib. Khusyuk menurut kamus bahasa Indonesia WJS Poerwadarminta artinya adalah "secara kerendahan hati, sungguh - sungguh, dan kebulatan hati". Dan hal ini tentunya dikaitkan dengan konsentrasi dalam peribadatan dan doa. Dalam pewayangan, sering dikisahkan bahwa seorang kesatria yang hendak mendapatkan ilmu atau meningkatkan ilmunya seringkali harus bersemedi dengan khusyuk. Bertahan dari godaan yang terjadi di sekitar. Tentunya ada perbedaan signifikan antara semedi dan sholat. Saya tak hendak membahas hal itu. Ini hanya perumpamaan sahaja. Secara gampang, khusyuk adalah pemusatan hati. Mirip dengan konsentrasi yang merupakan pemusatan pikiran. Bila hati sudah fokus, pikiran pastilah tidak hendak lati kemana jua. Dan hal seperti ini dituntut dalam upaya peningkatan diri. Artinya adalah, semakin bisa dan tinggi kualitas semedi seseorang, semakin tinggi kekhusyukan seseorang, semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin tinggi pula martabat seseorang itu. Siapa yang bisa ? Setiap orang pastilah bisa --dengan taraf yang berbeda - beda--. Tergantung kemauan, mood, dan usahanya. Ya. Ke-khusyuk-an itu merupakan keahlian yang bisa dilatih. Sholat, adalah suatu kegiatan yang seyogyanya dilaksanakan se-khusyuk mungkin. Sholat adalah salah satu ibadah utama dalam Islam dan termasuk hal pertama yang akan dievaluasi di alam kubur kelak. Dan, telah dinyatakan pula bahwa sholat merupakan tiang dari agama. Mendirikan sholat (dengan benar) artinya mendirikan Islam. Artinya, sholat itu bukan hal yang sepele. Krusial, sehingga harus diperhatikan benar - benar pelaksanaannya. Pelaksanaan sholat, paramater utamanya salah satunya adalah tingkatan ke-khusyuk-an. Semakin khusyuk, semakin top. Gitu istilahnya. Ali bin Abi Thalib adalah menantu Muhammad, murid utama yang begitu dekat dengan Muhammad sehingga Muhammad pernah berujar,"...andai aku adalah hamparan ilmu, maka Ali adalah pintu gerbangnya...". Seorang Ali bin Abi Thalib yang sudah demikian tinggi derajat ketaqwaannya ternyata gagal dalam kontes ke-khusyuk-an. Ali termasuk pemeluk awal Islam, yang sudah belajar mengenai islam dengan segenap jiwa raganya, beribadah hingga mempertaruhkan jiwa dan darahnya, ternyata belum sempurna sholatnya di mata Rasulullah. Sementara saya --anda, dan kita disini sekarang-- adalah seseorang yang begitu 'jauh' jarak dan rentang waktu dengan Rasulullah Muhammad. Yang hidup dalam persengketaan hiruk-pikik dunia. Pun pula, kita semenjak umur 7 tahun, --puluhan tahun yang lalu-- dalam pelajaran agama sering sudah mendengar bahwa sholat itu harus khusyuk, pelajaran yang mungkin kita tidak pahami dengan benar. Atau, bisa jadi hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Tentunya, adalah sungguh jauh sekali --dibanding Ali bin Abi Thalib-- takaran kepandaian saya dalam memahami pelaksanaan sholat berikut kadar kekhusyukannya. Kapasitas tiap insan adalah berbeda - beda. Mungkin saya dan kita semua cukup kesulitan untuk menandingi ketaqwaan dan kekhusyukan Ali. Dalam kontes di atas, mungkin kita akan ter-eliminasi dalam babak penyisihan awal. Namun bukan berarti harus meniadakan. Bagaimanapun sholat adalah tiang yang harus didirikan dengan sesempurna mungkin, dengan usaha yang maksimal. Bukannya begitu ? Bila 'iya', maka coba kita nilai sendiri sekarang, seberapa khusyuk-kah sholat kita kini.[]haris fauzi - 29 juli 2009 salam, haris fauzi |
Subscribe to:
Posts (Atom)