Saturday, December 19, 2009

kenisah : beckham

BECKHAM

"It has been an honour and privilege to captain my country but, having been captain for 58 of my 95 games, I feel the time is right to pass on the armband as we enter a new era ... ", ( Beckham as England Captain, Wikipedia ).

Tidak banyak yang tidak mengenal sosok yang satu ini. Namanya David Beckham. Profesinya penendang bola. Prestasi terbaiknya adalah bersama kesebelasan alot dari divisi utama Inggris, Manchester United, menjadi juara tiga gelar di akhir tahun sembilan puluhan -tepatnya tahun 1999. Prestasi gemilangnya dimulai dari awal, ketika bersama sahabatnya di sekolah sepak bola Manchester United --Gary Neville-- ikut dipromosikan untuk bermain di liga profesional di tahun sembilan puluhan, saat itu usianya masih belasan tahun.

Dengan cepat sosok Gary Neville menjadi seorang wing-back pertahanan yang semakin lama semakin tangguh. Dan bahkan Neville adalah pemain bertahan yang kerap mampu mencetak gol. Demikian juga dengan Beckham yang daya jelajahnya sebagai gelandang semakin hari semakin jauh. Gemintang Beckham makin bersinar ketika ternyata Beckham memiliki keistimewaan yang jarang dimiliki pemain bola biasanya, yakni Beckham sangat fasih menendang jarak jauh. Baik menendang sebagai pengumpan yang akurat, atau berfungsi sebagai penendang eksekusi jarak jauh. Tak jarang umpan lambungnya begitu mudah di-'patuk' dan dieksekusi oleh rekannya sehingga berbuah gol. Kerap pula kita melihat bagaimana tendangan jarak jauhnya yang demikian keras mampu membobol barisan pertahanan lawan dan berbuah gol spektakuler.

Berbeda dengan Neville --pemain yang lihai menggiring bola-- yang lebih memilih berkonsentrasi penuh dengan dunia sepakbolanya, David Beckham yang tidak istimewa dalam menggiring bola ini ternyata mempunyai wawasan lain. Sebagai seorang bintang, Beckham memutuskan juga berkiprah di dunia entertainment, menjadi model iklan, dan setelah model rambutnya menjadi perhatian dunia, akhirnya Beckham memantabkan diri sebagai selebritis dengan menikahi seorang penyanyi ternama, Victoria Adams Spice Girl.

Kejutan demi kejutan, prestasi demi prestasi, penghargaan demi penghargaan, gol demi gol dituai oleh Beckham, hingga Beckham menjadi pemain utama langganan Tim nasional Inggris. Ketika Beckham memasuki lapangan, tak jarang gemuruh tepuk tangan penonton menyertai langkahnya. Sebagai pemain nasional, Beckham ikut meningkahi Tim Piala Dunia Inggris di Piala Dunia tahun 1998, dimana seluruh dunia tak bakal melupakan kericuhannya dengan pemain Argentina, Diego Simeone. Kasus yang mematangkan jiwa sportivitas Beckham.

Setelah itu bukannya usai. Karir David Beckham makin melejit, baik sebagai pesepakbola tendangannya dikagumi maupun sebagai selebritis yang rambutnya banyak diikuti oleh kepala manusia di jagad ini. Hingga pada tahun 2003 kesebelasan kaya raya Real Madrid meminangnya. Di Real Madrid, profesi pesepakbola dan sebagai selebritis melengkapi kehidupannya. Di Madrid kaki Beckham yang dahsyat dan rambut yang stylish dipuja banyak orang.

Karirnya yang penuh kejutan dan prestasi, baik di kompetisi Inggris Raya maupun Eropa, membawa Beckham pada tahun 2000-an mencapai jabatan tertinggi di persepakbolaan Inggris. Di antara persaingan gemilang pemain nasional Inggris seperti Michael Owen, John Tery, Gary Neville, dan bejibun pemain hebat lainnya, ternyata manager tim memilih David -si nomer tujuh- Beckham untuk diangkat sebagai kapten kesebelasan nasional Inggris.

Sebagai kapten tim kesebelasan yang demikian disegani, Beckham membawa pasukan tim nasional Inggris dalam dua kali kejuaraan piala dunia, yakni tahun 2002 dan 2006.
Dengan sepasukan anak muda yang penuh tenaga, ternyata -mungkin- optimisme publik terlalu berlebihan dengan meletakkan target untuk menjadi juara dunia. Tugas meraih gelar juara dunia itu ada di pundak Beckham.

Seperti lazimnya, terjadi kejutan - kejutan dalam dua kejuaraan paling heboh di muka dunia itu. Tidak banyak yang menyangka bahwa Beckham dan tim Inggris ternyata tidak berbuah kilau. Dalam dua piala dunia tersebut Beckham gagal memenuhi ambisinya, ambisi tim-nya, ambisi negaranya. Kesebelasan Inggris gagal di dua kejuaraan piala dunia tersebut.

Atas kegagalan tersebut, --utamanya tahun 2006-- Beckham merasa bersalah. Apa yang dirasakan galau dalam hati Beckham tidaklah semua orang bakal mengetahuinya. Yang jelas, kepulangan tim Inggris tanpa piala dalam piala dunia 2006 sungguh memukul perasaan Beckham. Di tengah elu pendukung yang memujanya --walau gagal meraih piala publik Inggris tetap memuja tim kebanggaannya-- ternyata Beckham memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai kapten kesebelasan Inggris.

Sejatinya tidak ada undang - undang yang memaksanya untuk meletakkan jabatan. Tidak ada dewan khusus yang menghimbaunya meletakkan jabatan. Tidak ada pula desakan dari publik dan media massa yang memaksanya untuk meletakkan jabatan sebagai kapten kesebelasan. Tidak juga atas kegagalan, naik turunnya kapten kesebelasan lazimnya hanya dilandasi oleh pilihan manager tim.

Namun Beckham bertindak laksana seorang gentleman yang sesungguhnya. Sepulang dari kejuaraan yang sangat menggetarkan jiwanya itu, Beckham membacakan pidato pengunduran dirinya sebagai kapten tim. Jabatan jumawa yang dikejar banyak orang itu dia letakkan dengan satu alasan. Alasan moral.
Beckham adalah Beckham. Ayah tiga anak yang memang berusaha untuk menjadi seorang gentleman dengan meletakkan jabatannya ketika dirinya memang merasa hal itu adalah kewajibannya. Karena Beckham merasa hal itu adalah sebaiknya seperti itu. [] haris fauzi - 20 desember 2009



salam,

haris fauzi

Tuesday, December 15, 2009

kenisah : ihwal memukul anak

IHWAL MEMUKUL ANAK

Konon, pada suatu hari penantian di alam kubur, terjadilah percakapan antara malaikat dengan seorang  jasad manusia,
Malaikat; " Apakah engkau menjalankan sholat ?".
Manusia; " Kadang...".
Malaikat; " Mengapa engkau lalai ?".
Manusia; " Karena aku tidak terbiasa....".
Malaikat; " Apakah orang-tuamu tidak mengajarkan sholat semestinya seperti apa ?".
Manusia; " Orang-tuaku mengajarkan sholat semenjak aku kecil hingga akil-baliq".
Malaikat; " Apakah kau dipukul oleh orang-tuamu ketika orangtuamu mengetahui bahwa kau tidak mendirikan sholat padahal telah sampai usia akil-baliq ?"
Manusia; " Tidak. Sesekali tidak pernah orang-tuaku memukulku karena lalaiku. Karena mereka adalah orang-tua yang menyayangiku..."
Malaikat; " Ketahuilah. Sesungguhnya orang-tuamu tidak menyayangimu. Mereka lalai karena dia tidak memukulmu atas kelalaianmu tidak mendirikan sholat, maka kini tugas-ku lah menyiksamu karena kelalaian orang-tuamu. Dan orang-tuamu juga akan menyesali kelalaiannya ini..."
---------
Itu hanya sebutir kisah. Saya mendengar kisah tersebut dari guru ngaji, ketika saya masih kecil. Kira - kira sekitar tiga puluh tahun yang lampau. Dengan tingkat akurasi ingatan yang tidak baik, kisah itu saya tuliskan kembali disini. Walhasil maka tentunya tak bisa dihindari beberapa detil-nya kelupaan.
Ringkas cerita, inti kisah tersebut adalah penekanan ihwal pentingnya kewajiban mendirikan sholat. Dimana kewajiban tersebut merupakan suatu hal yang tidak bisa ditawar lagi ketika seseorang mencapai usia akil baliq. Sekitar usia belasan tahun. Usia remaja. Dimana ketika seorang anak berusia remaja tidak kunjung mengerjakan kewajiban tersebut, maka sang orang tua dianjurkan --diperbolehkan-- untuk memukulnya.

Cerita itu bisa jadi hanya merupakan kisah tentang edukasi anak ihwal sholat yang demikian subyektif dari seorang guru ngaji, mengingat guru ngaji saya dulu itu cukup keras juga wataknya. Dan juga kisah itu bukan merupakan 'teori edukasi' karena tidak ada landasan teori yang disertakan atau dikutip, apalagi bukti empiris juga tidak disertakan. Maka, boleh jadi biarlah kisah itu menjadi kisah sahaja, bukan teori. Bagi saya pribadi, makna dan hikmah bisa diambil dari mana saja, termasuk dari dalam sebutir kisah.

Yang menjadi perkara pro-kontra mungkin adalah bahwa kisah tersebut menjadi legitimasi untuk pemukulan terhadap anak. Istilah kerennya adalah 'kekerasan terhadap anak'. Dalam era kekinian, tentunya legitimasi semacam ini akan menimbulkan kontroversi dan ketidak-setujuan dari beberapa pihak. Mungkin masih lumrah kalo jaman dahulu seorang Ayah memukul anaknya, seorang ibu menghardik anaknya, atau segala bentuk 'kekerasan' seperti itu. Bisa jadi seorang anak yang nyelonong tanpa pamit keluar rumah, sore harinya akan di-setrap oleh Ibunya. Seorang anak yang mencuri buah mangga tetangga tak bisa lolos dari hukuman Bapaknya. Apalagi seorang anak yang nekad mencopet, tentunya hal ini bisa saja membuat orang tua-nya membara. Itu semua cerita jaman dulu. Dan seiring berjalannya waktu, setelah tiga puluh tahun kemudian hal ini bisa jadi kini sudah berbeda.

Kenapa berbeda ? Sekarang jaman telah modern, ilmu juga sudah berkembang sedemikian pesat --terutama kiriman dari Eropa--, karena kini telah banyak sekali metode pengajaran anak, pendidikan usia dini, hingga teori psikologi bocah, bahkan demikian majunya sains urusan anak ini hingga sudah ada undang - undang perlindungan hak anak segala. Tentunya segala kemajuan tersebut bisa memper-'cantik' urusan pendidikan anak oleh orang-tuanya. Apalagi sekolah sudah demikian maju fasilitas dan dengan harga yang relatif mahal, tentunya sangat mumpuni untuk mengajarkan dan mendidik anak. Wacana pendidikan anak sudah sangat berkembang kini.

Bila urusan pendidikan anak mengerucut seperti tema kisah di atas, maka akan muncul pertanyaan, bagaimana dengan pendidikan sholat anak dalam jaman modern ini ? Dari beragamnya teori yang berkembang, entah kenapa saya masih mempercayai hikmah di balik cerita guru ngaji saya itu. Bahwa bila seorang anak yang telah akil-baliq tidak kunjung menjalankan sholat, maka orang-tua boleh memukulnya. Dianjurkan malah. Lepas dari segala teori tentang pendidikan anak yang kini berkembang, bagi saya teori 'memukul supaya segera mendirikan sholat' itu masih relevan. Itu bagi saya. [] haris fauzi - 14 Desember 2009


salam,

haris fauzi

Sunday, November 29, 2009

kenisah : ratiban haji negeri jenaka

RATIBAN HAJI NEGERI JENAKA

"…Ismail ! Aku bermimpi. Di dalam mimpi itu engkau ku korbankan !", kata – kata ini diucapkannya dengan cepat agar tidak terdengar oleh telinganya sendiri. Setelah itu ia membisu. ('Haji' – Ali Syariati)

Saya belum menunaikan ibadah haji. Namun, rasanya hingga kini belum ada peraturan yang melarang seseorang yang belum ber-haji untuk menulis tentang ibadah yang sakral ini. Sedemikian halnya dengan beberapa halaman koran yang seringkali memuat panjang lebar tulisan ihwal sepakbola. Yang mana ternyata para penulisnya bahkan --bisa jadi-- belum pernah bermain sepak bola. Dalam kelakar, kalau diadu dengan para pengamat sepakbola itu, saya  mungkin memiliki 'jam terbang' sepakbola yang lebih tinggi karena se-masa di bangku Sekolah Dasar hampir setiap minggu saya bermain sepak bola.
Telusur punya telusur, ternyata sebagian para penulis dalam koran itu menulis ihwal sepakbola bukan berdasar pengalamannya menendang bola, namun berdasarkan pengamatan dan referensi. Oleh-mangkanya itulah kali ini saya mencoba menulis secuil tentang ibadah haji. Tentunya berdasarkan beberapa referensi yang pernah saya baca.

Tidak. Bukan ibadah hajinya yang sebenarnya hendak saya tulis disini. Saya cuma hendak menulis tentang kegiatan ratiban. Ratiban ini kegiatan yang sering diadakan untuk melepas calon haji. Sebangsa syukuran gitu-lah. Ratiban ini tidak menjadi bagian ritual ibadah haji, hanya merupakan cuilan kegiatannya, seperti halnya kegiatan pelajaran manasik, pemondokan lokal, tes kesehatan, atau pembayaran ongkos naik haji. Hanya seperti itu. Tidak ada instruksi kewajiban yang mengikat tentang ratiban. Tidak menyelenggarakan ratiban tidak menggugurkan ibadah haji itu sendiri.

Yup. Yang jelas ada semacam kelaziman di negeri ini, bila seseorang hendak berangkat menunaikan ibadah haji biasanya menyelenggarakan ratiban. Walau tidak semua calon haji melakukan hal ini. Ratiban ini adalah pelepasan calon haji oleh keluarga dan masyarakat. Dari perspektif seperti ini bisa muncul pandangan negatif dan atau positif. Sudut negatif-nya adalah dengan menyelenggarakan ratiban, maka memang tidak bisa dipungkiri akan muncul kesan pamer, karena seperti pameran hendak naik haji.
Tapi tidak harus seperti itu. Dalam perspektif positif, ratiban adalah bermakna pelepasan, atau bahkan perpisahan. Karena memang, bila hendak ber-haji, maka anggota keluarga yang lain harus meng-ikhlas-kan mereka yang berangkat, saling menyampaikan permohonan maaf, dan saling mendoakan. Karena bisa jadi, Tuhan tidak mempertemukan mereka kembali. Tak tertutup kemungkinan mereka akan berpisah selamanya. Sang calon haji akan bersua dengan Tuhannya dan akan berpisah dengan para kerabatnya, berpisah dengan para harta bendanya, berpisah dengan para posisi dan jabatannya.

Dalam ratiban, pesan utama adalah kesiapan mental para calon haji dan para keluarga terdekatnya untuk saling meng-ikhlas-kan, memaafkan, dan mengerti kondisi masing - masing. Dalam ratiban, calon haji dituntut untuk mulai berkonsentrasi kepada ibadah haji. Seperti dalam sepak bola, ratiban ini adalah 'pemanasan' atau 'warming-up'. Latihan untuk berkonsentrasi. Dan yang harus segera dilakukan oleh para calon haji adalah mencoba sekuatnya untuk secara mutlak segera melupakan posisi, jabatan, rumah, mobil, bahkan handai tolan dan anak - anak kandungnya. Mereka menyayangi anak - anaknya, karena itu memang hak-nya sebagai orang tua. Di sisi lain,  perjalanan spiritual menuju Tuhan yang bernama 'ibadah haji' ini menuntut para calonnya untuk mengikhlaskan itu semua, sebagaimana Ibrahim meng-ikhlas-kan anak tercintanya Ismail demi Tuhan-nya.

Ringkas cerita, seperti dalam khutbah - khutbah ratiban yang sering kita dengar, maka pelajaran pertama dalam ratiban bagi para calon haji sebelum berangkat yakni 'meninggalkan yang merupakan hak dunia-nya' sebagaimana yang di contohkan nabi Ibrahim. Demi perjalanan spiritual menuju Tuhan, maka segala-nya harus ditinggalkan. Bila direnungkan, maka sungguh dahsyat pelajaran ini. Ibadah haji memang tidak bisa dilepaskan dari tauladan nabi Ibrahim. Bagaimana Ibrahim menyembelih Ismail adalah kejadian luar biasa. Ibrahim meninggalkan semuanya --termasuk anak tercintanya-- demi perintah Tuhan.

Sebagaimana ibadah puasa, dimana kita tidak diperbolehkan makan makanan yang halal tidak pula diperbolehkan tidur dengan muhrim sah, semua itu demi terjalaninya ibadah puasa. Demikian pula dengan haji. Anak, rumah, mobil, jabatan, keluarga, dan segalanya itu adalah hak dunia yang sah dari setiap orang, --bila memang mendapatkannya caranya halal. Namun itu semua harus ditinggalkan ketika sebuah perjalanan 'hijrah' bernama 'haji' akan di mulai.

Pelajaran ini di mulai ketika ratiban, dan konon makin menguat ketika pesawat yang membawa para jamaah haji mulai mendarat di gurun, dan begitu makin menguat ketika satu persatu ritual haji dilakoni. Mulai Miqat, Thawaf, Sya'i, Taqsir, Wukuf, melempar Jumrah, Qurban, hingga menjelang perpisahan --dimana filosof Iran modern Ali Syariati menyebutnya dengan konferensi ummat Islam terbesar dan ter-ajeg se-dunia--, dimana semua jamaah di seluruh dunia bisa berkumpul, bertukar - pikiran, dan mempertajam visi kesatuan ummat di acara tersebut.

Logikanya, bila seseorang telah melewati kegiatan ratiban ini, maka setidaknya dia mampu meng-ikhlas-kan hak dunia mereka. Namun di sebuah negeri jenaka logika tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya. Di sana sudah jutaan manusia berulang kali menunaikan ibadah haji, namun boro - boro meng-ikhlas-kan hak yang dimilikinya. Beberapa dari mereka malah berlomba - lomba untuk mengeruk apa yang bukan hak-nya. Tanpa sungkan merebut hak orang miskin, menggaruk harta negara, dan merampok kekayaan bangsa.

Sebuah negeri jenaka yang menyumbangkan banyak sekali jamaah haji setiap tahunnya, bahkan mungkin termasuk yang terbanyak di bandingkan negara - negara yang ada di kulit bumi ini. Jutaan calon haji dari negeri jenaka sudah hilir mudik berangkat dan kembali, yang-mana mereka 'mengasah ilmu'  akan ihwal pesan ratiban tersebut. Namun, usai kepulangan para 'alumni padang arafah' ini, --tahun demi tahun,-- hal pelajaran dalam ratiban itu seakan menjadi bahan tertawaan sahaja. Ketika banyaknya jumlah 'alumni padang arafah' yang tiba kembali ke negeri jenaka seakan tidak kuasa membendung penyimpangan - penyimpangan yang terjadi di negerinya. Jutaan jamaah haji pergi dan pulang kembali, namun trilyunan perkara korupsi merajalela. Jutaan mulut rakus memangsa yang bukan seharusnya. Itu fakta yang terjadi.

Bisa jadi saya yang salah dalam menulis hal ini. Itu sangat mungkin. Untuk itu mohon saya dimaafkan. Namun setidaknya dengan menuliskan hal ini saya jadi teringat sepenggal syair karya Nasher Khosrow,
.....
Wahai sahabat,
sesungguhnya engkau belum menunaikan ibadah haji,
sesungguhnya engkau belum taat kepada Allah.
Memang engkau telah pergi ke Makkah
untuk mengunjungi Ka'bah.
Memang engkau telah menghamburkan uang
untuk membeli kekerasan padang pasir....


[] haris fauzi - 28 nopember 2009