| SESUDAH MASA INI Dalam ajaran agama Islam yang saya peluk, dipaparkan bahwa setelah masa hidup di dunia ini, tibalah masanya kehidupan akhirat. Perbatasan antara dunia dan akhirat adalah melalui gerbang kematian. Kematian merupakan hal yang sangat pasti bagi semua makhluk hidup, namun karena sedemikian pastinya, maka banyak yang mengkhawatirkan. Dan tidak sedikit pula yang mencoba terlena melupakannya. Berbicara ihwal kematian, tentunya tidak gampang. Banyak referensi yang sudah tersedia di toko buku, perpustakaan, ataupun di dunia maya. Tetapi itu semua ditulis oleh orang yang belum mengalaminya. Jadi bukan merupakan kisah nyata. Dan tentunya tidak hanya kisah tentang kematian yang ditulis dengan model demikian, namun juga tulisan ihwal era - era setelah setelah kematian itu sendiri. Tentunya tidaklah mudah untuk menemukan tulisan yang oetentik ihwal era kematian bila kita hanya mengacu kepada cerita pengalaman. Namun jangan salah, kitab suci, petunjuk dan riwayat nabi banyak juga yang menceritakan atau mengabarkan ihwal era tersebut. Tentunya, walaupun informasi yang ada tersebut bukan kisah pengalaman nyata, namun kitab suci tentunya bisa dipercaya karena kitab suci dibuat oleh Yang Mencipta-kan kehidupan ini sendiri. Sementara petunjuk dan riwayat nabi, rasanya juga tidak perlu diragukan karena kesahihannya. Dalam Islam, ada beberapa hal yang berkaitan dengan 'kehidupan' paska kematian. Diantaranya adalah tentang pertanggung-jawaban masa sebelumnya. Jadi, setelah mati, manusia akan dimintai pertanggung-jawabannya selama hidup. Ngapain aja, dan bagaimana pola hidupnya. Sidang pertanggung-jawaban ini sudah dilakukan semenjak jasad seseorang dikubur. Ada semacam sidang interogasi, begitulah gambaran gampangnya. Bila ada interogasi, tentunya ada pertanyaan. Seperti juga bila calon sarjana mempertanggung-jawabkan skripsinya yang ditanya banyak hal oleh dewan dosen penguji. Apa pertanyaannya ? Konon dalam Islam, pertanyaan utama adalah seputar tauhid, sholat, dan pengakuan terhadap utusan Muhammad sebagai pembawa risalah. Tentunya banyak pertanyaan yang lain, namun yang sering disebut - sebut dalam buku referensi, dalam pengajian, atau khutbah - khutbah adalah tiga hal tersebut. Tentang tauhid, sejatinya adalah pengakuan tentang ke-Tuhanan. Mengakui bahwa Tuhan adalah Maha Penguasa atas segala hal, yang menciptakan, yang memelihara, dan yang memusnahkan alam semesta ini dengan kehendak-Nya. Dalam interogasi ihwal tauhid, ada beberapa problem yang bisa mengakibatkan 'ketidak-lulusan' seseorang. Ilmu tauhid seseorang akan cacat dan dianggap 'tidak lulus' bila orang tersebut melakukan beberapa hal yang melenceng dari ajaran ke-tauhid-an, diantaranya yakni bila memercayai ramalan dukun dan bila memiliki jimat pusaka. Ramalan dari dukun bisa bermasalah di dunia tauhid karena dukun menyampaikan kabar dari iblis. Sementara jimat pusaka seringkali dianggap bertuah karena pertolongan makhluk halus, padahal ilmu tauhid mengajarkan bahwa hanya Tuhan saja-lah yang berkuasa terhadap jalannya pemeliharaan alam semesta dan hanya Tuhan-lah Penolong akan makhluk-Nya. Sholat menjadi krusial karena bila seseorang menjalankan sholat dengan baik, maka akan baik pula kelakuannya. Bila seluruh dunia ini sholatnya jelek, maka berantakanlah seisi dunia ini. Begitu dalilnya. Bila ada seseorang yang sholat-nya rajin tetapi kelakuannya korup, maka bisa jadi sholatnya bermasalah. Menurut Al Ghazali, sholat seseorang disebut baik apabila khusyu'. Tentunya tidak gampang melakukan sholat yang khusyu' seperti yang dicontohkan Muhammad. Bahkan Ali bin Abi Thalib --yang notabene menyerap ilmu paling banyak diantara sahabat Muhammad-- konon ternyata sholatnya tidaklah se-khusyu' Muhammad. Apalagi kita. Sholat yang khusyu' mengandung banyak kriteria. Diantaranya adalah kesatuan hati, pikiran, dan badan. Bila sedang melaksanakan sholat di masjid tetapi hati berkecamuk amarah kepada rekan kantor, sementara pikiran ngelantur ke hidangan restoran, maka buyar-lah kesatuan hati-pikiran-dan badan tersebut. Selain itu sholat butuh pemahaman. Bukan sekedar melafalkan, tetapi setidaknya, seseorang mengerti ihwal apa yang dibaca dan dipanjatkan. Konon, seorang penyanyi butuh penghayatan untuk bisa menyanyi dengan baik. Untuk bisa menghayati, tentunya harus mengerti tema lagu yang bakal dia nyanyikan. Demikian juga dengan ke-khusyu'-an sholat. Memahami makna do'a sholat sangat diperlukan untuk meng-'khusyu'-kan sholat. Sholat juga membutuhkan atmosfir yang mendukung kekhusyu'-an. Sholat adalah salah satu cara untuk berhadapan dengan Tuhan. Tuhan adalah penguasa alam semesta. Bila kita menghadap dekan, menteri, presiden, atau orang ber-'kuasa' lainnya tentunya ada atmosfir khusus yang memaksa kita untuk sedikit banyak meneguhkan kesungguhan kita. Tentunya atmosfirnya akan berbeda antara ketika kita bertemu dengan ketua RT dibanding dengan ketika bertemu dengan penguasa negara. Semakin tinggi pangkat dan kuasa seseorang yang kita hadapi, maka semakin besar atmosfir yang mencekat perasaan kita. Tercipta semacam atmosfir yang meregut perasaan dan jiwa raga bila kita berhadapan dengan orang yang berpangkat tinggi. Demikian juga --seharusnya-- bila bertemu dengan Penguasa Alam Semesta. Dalam sholat, seharusnya atmosfir itu tercipta dengan sangat dahsyat. Banyak sekali cerita yang beredar bahwa ketika hendak sholat para sahabat sudah demikian gemetaran. Bahkan ketika hendak berwudlu saja Ali bin Abi Thalib sudah pucat pasi seperti orang yang sakit keras. Dan ketika menjalankan sholat, tidak jarang perasaannya berkecamuk hingga meneteskan air mata. Tentang hal ketiga, mengakui Muhammad sebagai utusan Tuhan adalah hal yang gampang diucap. Kita cukup menghafalkan syahadat, misalnya. Tetapi dalam interogasi alam kubur tidaklah semudah itu. Bila pola hidup kita ternyata berbeda dengan apa yang diajarkan Muhammad, maka hafalan itu akan buyar tidak karuan. Jalan termudah untuk selamat dari interogasi ini adalah berusaha sedini mungkin mencoba mempelajari dan lantas meneladani pola hidup Muhammad. Mumpung masih ada waktu hidup di dunia. Dengan 'learning by doing' semacam ini, praktis semuanya bisa lebih mudah dipertanggung-jawabkan kelak. Walau tentunya tidak mudah dijalaninya di dunia yang seperti sekarang ini. Bukannya begitu ? [] haris fauzi - 27 Mei 2010 salam, haris fauzi |
Sunday, May 30, 2010
kenisah : sesudah masa ini
Sunday, April 25, 2010
kenisah : ithink, mas eet, dan pak tuek
ITHINK, MAS EET, DAN PAK TUEK Beberapa kali saya mengunjungi lapak - lapak itu. Selain untuk membeli atau sekedar 'browsing', saya juga kangen dengan 'bara' rock n roll yang kedapatan selalu menyala disana. Bila ketika mendekati lapak Mas Ithink maka ada semacam semangat rock n roll yang menggelora, maka tak jauh berbeda dengan lapak Mas Eet dan pak Tuek. Viva Mas Ithink, Viva Mas Eet, Viva Pak Tuek. Long Live Rock n Roll...[] haris fauzi - 23 april 2010 ------------------ btw,... bendel 80 artikel pilihan KENISAH detik ini sedang dalam proses lay-out format buku, trims buat teman - teman untuk saran - sarannya --- |
Wednesday, April 14, 2010
kenisah : awas curang
AWAS CURANG "Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka Syuaib. Ia berkata: "Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu berlaku curang (mengurangi sukatan, takaran dan timbangan), sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan." QS. Hud (11) : 84" Mohon maaf bila dalam tulisan saya kali ini lagi - lagi akan mengutip dari kitab suci Al Qur'an. Tak lebih ya karena saya tergelitik ketika dalam kitab tersebut mengungkapkan banyak sekali hal - hal yang ternyata tidak saya ketahui. Banyak sekali dan bisa membuat saya terkejut takjub. Salah satunya adalah tentang sifat 'curang'. Kadang, kita manusia 'dewasa' sering menyepelekan sifat 'curang' ini. Dan bahkan secara umum sifat curang lebih diidentikkan dengan sifat anak kecil yang nakal, suka tidak jujur dalam permainan, sehingga ingin menang dalam bentuk dan cara apapun. Entah main kelereng, sepak bola, atau apapun. Termasuk bagaimana seorang murid berbuat curang ngerepek untuk mendapatkan nilai baik di saat ujian, yang ini sering disebut dengan 'kecurangan akademis'. Manusia biasa tidak luput dari kesalahan. Contohnya adalah sifat jujur. Konon, sebelum nabi Muhammad menjadi Rasul, beliau sudah berpredikat sebagai orang jujur. Nabi tentunya manusia hebat, mangkanya dia bisa berlaku jujur dengan sempurna. Sebagai manusia biasa dalam era kekinian, rasanya hampir sulit menemukan orang yang benar - benar jujur. Saya beberapa kali mengumbar bohong, dari hal - hal kebohongan menghindari sales door-to-door misalnya, dari sales kartu kedit misalnya. dan masih banyak lagi. Sulit untuk tidak berbohong. Sulit untuk total jujur, karena sifat bohong seperti sudah menjadi 'sego jangan asem' bagi manusia era modern ini. Sejatinya salah satu tugas manusia adalah menekan habis - habisan sifat 'pembohong' ini, walau tentunya nggak gampang. Contoh lain adalah sifat curang. Dus, sifat curang --yang maknanya bersinggungan dengan sifat 'tidak jujur'-- ternyata juga mengendap tidak hanya di kelakuan anak kecil. Banyak bener contohnya di kalangan dewasa. Lihatlah bagaimana Maradona memegang bola untuk meraih kemenangan. Bagaimana seorang pegawai berlaku curang untuk naik jabatan. Bagaimana kontestan ingin menang pemilihan dengan segala cara. Bagaimana koruptor mengatur - atur urusan bisa lolos dari jerat hukum. Bagaimana - bagaimana yang lain tentunya dengan mudah kita jabarkan dan tentunya hanya akan memenuhi limitasi karakter di tulisan ini. Cuma, masalahnya bila ada manusia dewasa yang melakukan hal kecurangan, maka seakan itu adalah perkara kecil yang layak disepelekan. Dianggap sepele dan lantas seakan - akan ketika melakukan tidaklah menjadi beban. Sehingga kadang kesalahan kecurangan menjadi kebiasaan, bisa dianggap cekikak - cekikik guyonan, sebagai bahan cerita kelakaran, dan lantas disepelekan bila ada yang memperingatkan. 'Curang' dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tertulis artinya sebagai 'tidak jujur', atau dan juga 'tidak lurus hati; tidak adil'. Sementara orang yang berlaku curang artinya sama dengan menipu atau mengakali. Dan -masih menurut kamus tersebut- perbuatan curang identik dengan keculasan. Nah, inilah yang mengejutkan saya. Ternyata sifat curang itu termasuk sifat yang dilaknat Tuhan dan bakal diganjar dengan azab yang besar. Setidaknya dalam Al Qur'an surat Hijr dan surat Hud dikisahkan bagaimana penduduk daerah Aikah kota Madyan diporak-porandakan oleh bencana yang demikian besar sehingga memusnahkan mereka semua. Kalau toh penduduk Sodom di-punah-kan oleh Tuhan karena kelakuan penyimpangan seksualnya, mungkin kita maklum. Namun ini, gara - gara berbuat curang, maka seluruh kampung Madyan luluh lantak dihajar bencana. Dalam kasus kampung Madyan, ada dua hal utama yang membuat turunnya azab yang membinasakan mereka. Yang pertama adalah kelakuan mereka yang sering berlaku curang dalam perniagaan yakni mengurangi sukatan (takaran) sehingga merugikan orang lain. Kesalahan kedua mereka adalah menyepelekan peringatan Syuaib tentang zalimnya berkelakuan 'curang' ini. Setelah diingatkan oleh nabi Syuaib, mereka malah mencemooh Syuaib. Dua hal ini --kecurangan dan mencemooh peringatan-- sudah cukup bagi Tuhan untuk kemudian membinasakan penduduk Madyan. Bila kita sedang berkendara lantas menyalip dari sisi kiri --atau malah bahu jalan-- apakah itu curang ? Bila demi karir kita 'mengerjai' rekan kerja kita apakah itu curang ? Bila kita menelisipkan dokumen palsu apakah itu curang ? Bagaimana dengan 'bila-bila' yang lain ? Apakah itu kecurangan ? Bisa jadi, hati kita-lah yang bisa menetapkan apakah itu sebuah kecurangan atau tindak yang bukan merupakan kecurangan. Namun yang jelas, bentuk kecurangan berbuntut azab yang maha berat. Apalagi bila ketika diperingatkan malah menyepelekan. Itu saja. Maka, sekali lagi, jangan sepelekan sifat 'curang'. Abot nyonggone.[] haris fauzi - 14 april 2010 salam, haris fauzi |