Sunday, July 11, 2010

kenisah : menghitung nikmat


MENGHITUNG NIKMAT

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. (QS 108:3)
Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: "Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku"; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga, kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.  (QS 11: 9-11)

Kalaulah kita pintar berhitung, tentunya tidak akan bisa menghitung seberapa besar nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita. Ini memang ungkapan klise. Dan semua orang mungkin juga sudah mengetahuinya. Mulai nikmat hidup, sehat, udara, dan lain sebagainya. Demikian banyak hingga tidak terukur lagi. Tak terhitung lagi.

Bila hendak mencoba, bolehlah kita sebagai makhluk logis mencoba menghitung. Menghitung, dalam sistem ilmu teknik, berarti berkaitan dengan sesuatu yang terukur. Karena musykil menghitung sesuatu yang tidak ada nilai terukurnya. Dan bila kita lakukan penghitungan terhadap nikmat - nikmat yang sifatnya terukur, maka, semakin sadarlah kita bahwa sebenarnya Tuhan memang memberi lebih banyak dari yang kita mampu. Tuhan memberikan lebih berlimpah.

Untuk hal ini saya tak hendak merekayasa. Dalam cerita hidup pribadi ada beberapa hal yang bisa jadi 'cocok' berkenaan dengan hal hitung - menghitung nikmat ini.
Salah satunya adalah tentang nikmat rumah. Sejatinya, pada belasan tahun lalu,-- setelah sekitar lima tahun bekerja sebagai karyawan-- maka saya menimbang - nimbang peluang untuk memiliki sebuah rumah. Rasanya sungguh wajar, ketika berprofesi sebagai rekayasawan --karyawan biasa-- maka ada rasa sangat ingin memiliki rumah sederhana. Kala itu --hitung bolak - balik-- tandon tabungan rasanya cukup untuk mendapatkan sebuah rumah mungil di sebuah kompleks perumahan seperti biasa umumnya. Bayangan saya adalah tipe 21 di pemukiman perumahan rakyat. Kira - kira seperti itu gambaran yang sesuai dengan kemampuan keuangan kala itu.

Harapan saya akan rumah tipe 21 di perumahan rakyat tidak terkabul. Karena Tuhan memberi lebih. Ternyata saat itu juga saya bisa mendapatkan rumah yang jauh lebih bagus, dengan tipe yang lebih luas, yakni tipe 60. Dan berada pada kompleks bukan sembarang perumahan, melainkan kompleks cluster yang cukup nyaman. Tidak mewah memang, tetapi jauh lebih bagus dari apa yang saya bayangkan semula.

Demikian juga kendaraan. Ketika anak sulung lahir dan lantas saya berhitung akan membeli sebuah kendaraan tua, maka dengan menilik keadaan keuangan rasanya hanya cukup untuk membeli sebuah minibus bekas seperti angkutan kota atau mikrolet yang dirakit tahun 80-an. Ya memang hanya segitu kemampuan keuangan ketika itu.

Namun, sekali lagi harapan saya tidak terkabul. Tuhan memberi lebih baik. Ternyata saat itu --atas bantuan seorang rekan kantor-- maka mobil sedan-lah yang bisa parkir di depan rumah kami. Walau umurnya sama - sama tuanya, tetapi sedan tentunya lebih nyaman ketimbang mini bus yang seumuran. Dan mobil itu terbukti handal dan masih layak gunakan hingga kini. Jelas, secara ukuran Tuhan memberi lebih baik kepada saya.

Cita - cita ? Pada saat duduk di bangku SMA, sekitar tahun 1988, saya mengekor kakak sulung, bercita - cita menjadi seorang insinyur. Dan singkat cerita pada tahun 1995 usai sudah penantian saya ketika terwujud keinginan untuk berprofesi menjadi rekayasawan pabrik.
Dan bagaimana sekarang ? Tuhan telah membuktikan memberikan lebih dari yang saya cita - citakan, ketika jabatan sekarang sudah jauh lebih baik dari yang saya cita - citakan semula.


Contoh yang paling dahsyat adalah ketika saya mengalami kesulitan untuk mendapatkan anak yang kedua. Rupanya ada ketidak-normalan hormon. Saat itulah saya berandai - andai bahwa alangkah indahnya rumah ini bisa kami memiliki dua anak. Dan harapan ini tinggal harapan, karena Tuhan malah memperkenankan kami memiliki tiga anak. Sungguh luar biasa. Tuhan selalu memberi lebih dari yang saya minta.

Itulah nikmat yang tidak terkira. Nikmat yang banyak dari Tuhan. Begitu melimpah dari Sang Maha Pemurah. Lantas, apa yang dituntut Tuhan atas itu semua ? Tidak ada selain sifat sabar. Ketika nikmat - nikmat yang berlimpah itu diberikan, lantas dicabut kembali, seringkali kita menggerutu. Ketika rumah atapnya bocor, mungkin saya menggerutu. Padahal, rumah tipe 60 walau bocor sekalipun tentunya masih mendingan ketimbang rumah tipe 21 seperti yang saya inginkan semula.
Baru sedikit nikmat yang di cabut, kita mempermasalahkan hal itu. Demikian juga ketika mobil kita baret atau cacat permukaan cat-nya. Dan hal - hal kecil seperti itu seringkali memusingkan dan menggelorakan emosi. Rasanya itu semua tidaklah terlalu perlu dirisaukan. Menghadapi itu semua, sejatinya kuncinya hanyalah sabar. Begitulah apa yang disuratkan dalam kitab suci.


Sabar memang menjadi cobaan yang tidak mudah. Saya berusaha mencoba memenuhi ini, ketika beberapa kali -- setidaknya tiga kali-- mobil kesayangan saya diseruduk kendaraan lain. Ketika di parkiran di eruduk mobil yang sedang mundur hendak parkir, ketika di setopan diserempet kontainer yang nekad menerobos lampu merah, dan ketika di perempatan diseruduk oleh bus yang rem-nya blong.

Tiga peristiwa di atas membuat mobil saya compang - camping. Membuat lampu depan retak, membuat body belakang penyok dihajar ekor kontainer, dan badan mobil sisi kanan remuk dihajar bemper bis. Babak belur rupanya mobil kesayangan ini --satu - satunya pula. Semula hendak menuruti emosi, namun, sebuah mobil tua milik ini rupanya mengajarkan untuk mengukur nikmat. Intinya, ketika dalam keadaan compang - camping, toh mobil sedan tersebut masihlah lebih baik ketimbang mobil yang saya cita - citakan semula.

Tak disangka - sangka, belajar menjadi sabar dari sebuah mobil tua ternyata membuat segalanya menjadi lebih mudah. Pun ketika sebuah promosi kenaikan pangkat ternyata belum juga kunjung terwujud, maka dengan ringan hati saya menerimanya. Toh apa yang saya dapat sekarang -walau nggak jadi naik pangkat- sejatinya masih jauh lebih baik daripada apa yang saya cita - citakan semula.

Ringkas ceritera, rumah, mobil, pangkat, anak, dan sebagainya adalah nikmat pemberian Tuhan. Dan setelah terbukti Tuhan memberi nikmat lebih, maka sikap yang harus dikembangkan adalah sifat sabar. Karena, nikmat dari Tuhan itu milik Tuhan, dan Tuhan berhak mencabut nikmat tersebut. Entah dicabut sebagian, atau keseluruhan. Berdasar pengalaman saya, kebanyakan memang nikmat itu cuma dicabut sebagian. Itupun apa yang tersisa masihkah lebih baik daripada apa yang dicita - citakan semula.

Sederhananya adalah seperti bila seorang bocah meminta duit kepada ibunya sebesar dua ribu rupiah, lantas ternyata ibunya memberinya berlebih dengan sepuluh ribu rupiah. Selang tak lama kemudian, sang ibu menarik duitnya dua ribu rupiah, menyisakan delapan ribu rupiah di kantong anaknya.
Bila si anak bersabar, maka segalanya menjadi mudah. Namun, kebanyakan, sang bocah mempermasalahkan di-'tarik'-nya dua ribu rupiah, --padahal di kantongnya masihlah tersisa delapan ribu rupiah--, tanpa bisa mengerti bahwa harapannya semula hanyalah dua ribu rupiah.

Dan seperti itulah dua gambaran sikap terhadap nikmat dari Tuhan. Satu sisi menyikapi dengan sabar terhadap dicabutnya nikmat. Satu sisi lain mempermasalahkan seakan - akan nikmat tersebut adalah semata - mata miliknya pribadi tanpa memperdulikan seberapa besar dia telah diberi. Dari dua sisi gambaran tersebut, tinggallah kita menentukan untuk memilih gambar disisi yang mana. [] haris fauzi - Mauk, Tangerang, Juli 2010
-----------
awal bulan kemarin, kami sekeluarga menyempatkan mengunjungi suatu daerah pesisir bernama Mauk, di kabupatenTangerang. Mauk -bagi kami- merupakan sebuah tempat yang bisa mengajarkan pentingnya untuk bersabar.
http://harissolid.multiply.com/photos/album/131/sehari_di_mauk



Wednesday, June 23, 2010

kenisah : harapan yang (nyaris) kandas

HARAPAN YANG (NYARIS) KANDAS
-- kepada beberapa --

Adakah di antara kita yang tidak memiliki harapan ? Bila ada, mungkin mereka adalah orang yang lelah, atau juga, mereka - mereka yang ingin menikmati sebagaimana apa adanya hidup ini. Atau, merekalah yang menyembunyikan harapan - harapannya.
Di sisi lain beberapa orang bertimbun harapan di dadanya. Beberapa orang lagi lebih banyak lagi bersimbah harapan, utopia, dan segenap cita - cita yang sangat indah. Bahkan tak jarang sebuah harapan terlalu melambung sedemikian berbunga melebihi keadaan semestinya. Di balik itu beberapa di antara kita memilih menyisipkan harapan - harapan sederhana guna melakoni hidup ini dengan ringan.

Ada harapan - harapan yang kompleks, ada pula yang sederhana. Memiliki harapan yang sederhana, sebenarnya juga tidak mudah. Karena, biasanya sesuatu yang sederhana itu adalah sesuatu yang mendasar, dan sangat universal nilainya. Di dunia kehidupan sekarang yang begitu simpang siur, memiliki sesuatu yang sederhana rasanya aneh, menjadi kurang lazim, dan seringkali tersingkirkan karena tertimpa kepentingan - kepentingan absurd yang merajalela.

Secara sederhana, harapan adalah sesuatu yang diinginkan pada jangka pendek, setidaknya relatif lebih pendek daripada cita - cita. Harapan - harapan disusun untuk menuju cita - cita. Begitulah. Cita - cita itu semacam visi, yang lebih mudah direncanakan dan kelihatannya lebih gampang ditempuh ketimbang 'mimpi'. Inilah 'sedikit beda' antara mimpi dan cita - cita. Itu semua bisa bersifat individu maupun komunal. Karena masyarakat atau organisasi-pun bisa --dan memang-- kebanyakan memiliki cita - cita atau visi bersama.

Lantas, apakah ukuran dari harapan ? Ini wacana yang senantiasa bergerak sesuai dengan pergeseran jaman. Menurut standar organisasi, syarat dari visi dan misi --hampir identik dengan cita - cita dan harapan-- adalah 'terukur' dan 'terjangkau'. Dan ini ternyata tidaklah gampang.
Jaman saya kecil dulu, cita -cita atas dasar keluguan pola pikir seorang bocah adalah menjadi guru, dokter, dan sebagaimana contoh simpel lainnya. Bila ada seorang bocah yang bercita - cita agak 'nyeleneh', seperti 'menjadi konglomerat', rasanya sudah membuat rekannya takjub. Hal ini bisa jadi diakibatkan oleh perbendaharaan referensi pengetahuan bocah kala itu yang belum faham dan belum pernah mendengar tentang istilah 'konglomerat'.
Selain itu, hanya sebagian kecil anak yang bercita - cita dan berharap menjadi orang terkenal. Anak - anak masa itu masih sangat terdikotomi bahwa cita - cita itu berkisar antara profesi - profesi umum saja. Sementara harapan mereka diantaranya adalah naik kelas, dibelikan baju baru, memiliki 'game-watch', memakai sepatu boot, uang jajan naik, dan hal - hal sederhana seperti itu.

Menjadi terkenal ? Jaman kini teroris juga terkenal. Bintang film porno juga terkenal. Koruptor kelas wahid pasti kaya dan terkenal. Namun, apakah itu harapan orang ? Malahan, orang - orang seperti inilah yang meruntuhkan kredibilitas komunitas 'populis'. Orang populer sekarang banyak dicibiri, tetapi tak bisa dipungkiri ternyata dalam tataran pragmatisme banyak yang pengen juga. Dan merepotkan banyak orang karena seringkali menggunakan kiat apapun caranya.
Demikian juga orang kaya. Ketika miskin, sebagian orang mencibiri si kaya. Namun ketika si miskin mendapatkan jalan dan lantas menjadi kaya dengan cara 'tidak terhormat', mereka menjadi bagian dari kontradiksi hati nuraninya sendiri. Dan kebanyakan membiarkannya. Seniman Suka Hardjana menyebutkan dengan 'peristiwa tingkah laku kehidupan manusia yang tak jarang melawan akal sehatnya sendiri'. Walau tidak semua seperti itu. Banyak orang kaya dan populer yang sangat baik hati, contohnya adalah Utsman bin Affan, khalifah ke-3 paska pemerintahan Muhammad. Dan tentunya masih banyak lagi. Lionel Messi mungkin bolehlah menjadi contoh sederhana dengan kehebatannya bermain sepak bola dan riwayat kehidupannya yang 'anteng'.

Itulah kira - kira contoh cita - cita dan harapan bocah. Bagi saya, seorang bocah adalah gambaran simplifikasi kehidupan ini. Saya beberapa kali tercenung ketika mendengar pembicaraan anak - anak. Mereka polos, dan secara universal berkata benar. Jadi apapun yang mereka cita - citakan, apa yang mereka harapkan, sejatinya adalah nilai - nilai universal. Yang bisa dijadikan patokan, walau tidak selalu.

Jaman selalu berubah. Dan sekarang berubah menjadi semakin kompleks dan simpang siur. Saya kerap menyebut istilah simpang siur karena dua alasan. Yang pertama karena memang sudah semestinya di jaman sekarang ini banyak sekali urusan dan efek - efeknya yang seringkali merancukan pedoman. Membuat puyeng dan tidak mengerti. Banyak contohnya, sebagaimana sulitnya meng-adil-i koruptor, misalnya. Dan yang membuat bingung adalah malahan --secara hukum-- lawan koruptor itu yang bolak - balik penjadi pesakitan dan bakal masuk bui duluan. Ini efek yang membingungkan dan membuat pedoman simpang siur. Tidak sesederhana jaman dulu. Alasan kedua saya menaburkan istilah simpang siur dalam tulisan ini adalah atas dasar keterbatasan, maka sudah selayaknya saya bingung, dan untuk menuntaskan hal ini, maka berbagi kebingungan ini kepada anda. Tentunya dalam bentuk kesimpang siuran.

Bagi seorang bocah, mencanangkan sebuah harapan tidaklah mudah. Namun ketika dewasa, hal itu semakin sulit. Kondisi dan situasi, ditambah beberapa kepentingan yang bermacam - macam membuat segalanya menjadi semakin rumit.

Pada umumnya orang dewasa sering berharap dengan dilandasi banyak pertimbangan. Dan, bila di depan --menurut dia-- terhampar jalan yang jelas, maka berani-lah mereka mencoba peruntungan meraih harapan itu. Namun sebaliknya, bila problema tak kunjung berhenti dan jalanan ternyata semakin absurd terhampar di depan mata, maka tak jarang situasi ini menyurutkan semangat seseorang. Dan lantas mengubur niatannya, mengkandaskan harapan - harapannya. Dalam keadaan seperti ini, orang dewasa berpikir lebih logis ketimbang seorang anak kecil. Seorang bocah hanya memandang sebuah tujuan, dan bila dirasa bagus, maka itulah yang dia harapkan. Sementara orang dewasa sering mengidentifikasi kendala - kendala seiring perjalanan waktu. Semakin rumit akan membuat semakin puyeng, walau sebenarnya apa yang dia harapkan adalah hal yang sederhana.

Bagaimana jalan mencapai suatu harapan bisa jadi menjadi hal yang lebih penting ketimbang harapan itu sendiri. Di tengah ketidak-pastian, maka kepiawaian untuk menciptakan sesuatu yang absurd menjadi nyata merupakan modal yang berharga. Ya. Harapan adalah utopia, sesederhana apapun itu. Harapan bisa merupakan sesuatu yang terukur dan 'reachable' untuk diwujudkan. Dan ini tidak gampang. Bagi sebagian orang, menatap sesuatu yang absurd untuk diwujudkan bisa jadi merupakan sesuatu yang menakutkan. Seakan berjalan tanpa pijakan. Bagi sebagian orang lainnya, 'mewujudkan hal - yang absurd menjadi nyata' merupakan tantangan. Walau tentunya tantangan - tantangan yang terhampar belum tentu bisa diselesaikan semua. Tantangan itu beriring dengan kemampuan. Suatu saat, batas kemampuan itu pasti tiba, dan kelelahan itu pasti timbul. Bila tantangan itu berada di bawah parameter kemampuan, maka merupakan kenikmatan untuk menaklukkannya. Namun bila tantangan yang ada ternyata lebih berat daripada kemampuan, maka tidak jarang perjalanan untuk meraih harapan itu akan berhenti.

Antara harapan dan jalan yang ditempuh tidak selalu kongruen. Harapan boleh sederhana, namun bila terjerat kerumitan di jalan tempuhnya, maka harapan itu terbawa menjadi semakin rumit juga. Begitulah sebuah contoh tantangan untuk mewujudkan harapan. Sesederhana apapun harapan itu. Sebagaimana contoh mengapa hidup lumrah di jaman sekarang ini menjadi tidak mudah. Sebuah harapan yang sederhana, berupa hidup lumrah saja, sudah demikian sulit karena berbagai kendala yang terhampar di depan mata. Padahal negeri ini adalah negeri yang kaya raya gemah ripah loh jinawi, gitu kata sesepuh jaman kuno.

Dengan problematika yang semakin kompleks, maka tak heran bila terlalu banyak harapan yang harus siap dan terpaksa untuk dihempaskan. Karena prosentasi pencapaiannya memang semakin kecil, maka tentunya semakin banyak yang bersiap untuk dikorbankan.

Jadi, setiap orang yang mencanangkan sebuah harapan seyogyanya mengetahui bahwa harapan itu selalu dihadapkan kepada situasi yang ada. Dan tentunya, tersedia pula tantangan yang terhampar di depan mata. Perlu disadari bahwa tidak banyak harapan yang memiliki jalan lapang nan lega. Di jaman sekarang hampir semua harapan memiliki ganjalan dan tantangan berikut kerumitan kepentingan - kepentingan. Maka, taklukkanlah tantangan untuk melapangkan jalan meraih harapan. Begitu wejangan para motivator. Ini yang disebut optimisme.

Berdiri di antara harapan, jalan tempuh, dan tantangan, sejatinya adalah mengukur kemampuan diri. Ada optimisme, namun halal juga berpikir pesimis. Bila ternyata harapan terancam nyaris kandas di tengah badai persoalan, maka boleh pula untuk memperlambat laju kehidupan ini, boleh pula membelokkan tujuan harapan. Apapun. Posisi ini sering disebut dengan 'putus asa'. Beberapa orang membela diri dengan sebutan 'rasional'. Karena siapapun bisa berputus asa ketika dengan merayap-pun sudah terhempas, dan siapapun harus berpikir rasional ketika dirasa terlalu sulit untuk melangkah.

Apapun sebutannya dan bagaimanapun keadaannya, di saat tersadar bahwa sebuah harapan ternyata nyaris kandas, maka yang penting adalah bagaimana memunculkan sifat bijaksana yang utuh. Menyadari realita dan bersiap-diri untuk menghadapinya. Hal ini adalah lumrah karena manusia memang memiliki keterbatasan. Bahwa tidak seluruh tantangan bisa dilewati, bahwa tidak seluruh harapan akan terwujud. Tentunya ada hikmah yang cukup berharga di balik itu semua. Ketika hendak mengail cercah hikmah disaat harapan telah kandas, disitulah sifat bijaksana dibutuhkan. Karena bagaimanapun juga hikmah lebih penting daripada harapan itu sendiri.[] haris fauzi - 22 juni 2010


salam,

haris fauzi

Thursday, June 17, 2010

kenisah : mungkin tidak hanya jenggot

MUNGKIN TIDAK HANYA JENGGOT

Baiklah. Mudah - mudahan tidak ada salahnya saya mencoba menulis tentang sesuatu yang menurut sebagian orang sangat penting, namun menurut sebagian yang lain merupakan urusan sepele. Namun, apapun, saya menulis sesuatu yang memang ada dalam benak. Itulah.Salah satunya tentang jenggot. Banyak sudah dalil --dalam ajaran agama Islam-- yang menganjurkan untuk memelihara jenggot. Bahkan beberapa komunitas pengajian menganjurkan dengan sangat kuat, karena mengikuti sunnah Rasul Muhammad. Maka tak ayal, pengikut pengajian tersebut --yang laki - laki-- semua memelihara jenggot. Tidak hanya memelihara, namun memanjangkan tanpa pernah sekalipun memotongnya. Mereka merawat dengan mengusap air, dan kadang memberi pewarna. Begitulah Sunnah Rasul Muhammad ihwal jenggot.

Seingat saya, sunnah yang dalam bentuk 'tampilan' atau sosok yang kerap dibicarakan dalam pengajian - pengajian ada beberapa hal, diantaranya adalah sunnah untuk memelihara jenggot --ada yang menganjurkan untuk memanjangkan sepanjang - panjangnya jenggot--, mencukur kumis, dan ihwal penampilan lain seperti mengenakan pakaian gamis dengan celana tidak melebihi mata kaki.
Juga beberapa ada yang membicarakan ihwal memelihara gigi dengan siwak, namun pembahasan ini dalam pengamatan saya tidak sesering urusan jenggot dan celana.

Dari sisi penampilan yang di-sunnah-kan, ihwal jenggot dan celana itu tidak ada salahnya diikuti. Baik malahan, karena sunnah-nya demikian. Walau memang dalam beberapa tempo bisa terjadi kendala, seperti norma kepantasan di dunia profesi ataupun bentuk - bentuk kelaziman dalam masyarakat umumnya. Pertanyaan - pertanyaan seperti,"..apakah pantas mengenakan jas dan dasi tetapi celananya di atas mata kaki ?". Atau seperti,"...waduh...jenggotan panjang sekali di militer apa iya pantes ?". Seperti itu-lah. Hal ini karena beberapa hal yang...,-- saya tidak hendak membahasnya disini.Tulisan ini tak hendak membahas hal tersebut. Masing - masing insan tentunya mampu mewacanakan kondisi masing - masing. Bila memang di pergaulannya merasa tidak tidak bermasalah, maka ya silakan saja bagi yang menerapkannya. It's oke - oke saja.

Kasus norma kepantasan dan kelaziman juga berdampak pada tampilan rambut. Muhammad --dalam sebuah riwayat-- dikisahkan bahwa beliau memotong rambutnya dengan menggunakan pisau. Artinya, tidak berambut cepak. Karena rambut cepak notabene hanya bisa dipotong dengan menggunakan gunting atau pisau cukur mekanis. Dengan menggunakan pisau atau belati, rasanya mustahil memotong rambut dengan cepak merata. Dengan begitu bisa jadi rambut beliau agak gondrong. Dan bila Muhammad demikian, kenapa tidak ? Tentunya inipun --seperti halnya jenggot-- sesuai wacana masing - masing.

Salah satu hal yang penting adalah Muhammad menampilkan tubuh atau badan yang ideal. Hal ini menjadi penting karena bentuk fisik sangat dipengaruhi oleh pola hidup. Dan seperti kita ketahui, Muhammad sangat tekun untuk mengajarkan ihwal pola hidup ini kepada pengikutnya.

Sejatinya 'sunnah' artinya adalah 'jalan', atau 'way'. Jalan yang dituntunkan oleh Muhammad, yang dicontohkan dan hendaknya diikuti oleh pengikutnya. Tentunya tidak hanya jenggot, celana, atau rambut yang merupakan sunnah dan atau dicontohkan oleh Rasul Muhammad. Banyak sekali. Melingkupi semua aspek dalam peri-kehidupan, mulai urusan pribadi, tata masyarakat, profesi, peribadatan vertikal dan horizontal dan sebagainya. Memberi tauladan mulai dari peribadatan hingga hal - hal pernik keseharian. Urusan mandi, makan, olah-raga, kebiasaan membaca, belajar, istirahat, dan sebagainya.

Sunnah Muhammad, atau 'Muhammad Way' untuk sosok penampilan manusia,-- laki - laki,-- juga mencontohkan untuk memiliki badan yang ideal. Menurut penuturan banyak orang, Muhammad memang berjenggot,-- namun, lebih banyak lagi yang bertutur bahwa Muhammad memiliki badan yang ideal. Hal ini dikuatkan dalam Al-Qur'an sendiri yang mencantumkan bahwa Muhammad adalah insan yang sempurna, baik jasmani maupun rohani. Top abis pokoknya. Bahkan ada kisah yang mengisahkan bahwa semasa mudanya Muhammad pernah ditantang berkelahi oleh preman pasar, dan dalam perkelahian itu Muhammad berhasil mengalahkan preman tersebut. Tentunya tidak mungkin mengalahkan preman pasar bila perawakan Muhammad ceking atau obesitas. Dengan badannya yang atletis, Muhammad mampu melawan sang preman.

Tentang kisah preman pasar ini, mengingatkan kepada kisah Abraham Lincoln, salah satu presiden Amerika Serikat,  yang semasa mudanya pernah berkelahi melawan begundal kampung. Perkelahian yang ditonton banyak orang. Dan Abe memenangkannya.

Semasa kecil, saya pernah mengikuti dongeng - dongeng rohani di mesjid kampung sana. Salah satu ceritanya adalah soal kegantengan laki - laki. Konon, bila Tuhan menciptakan seratus kegantengan untuk diturunkan ke alam semesta, maka yang lima puluh itu dianugerahkan-Nya kepada Muhammad. Yang dua puluh lima dianugerahkan kepada Nabi Yusuf. Dua puluh lima sisanya dibagi kepada seluruh laki - laki yang pernah ada di dunia ini. Dibagikan kepada milyaran orang. Konon seperti itu. Dalam cerita kanak - kanak itu, artinya jelas sekali bahwa nabi Muhammad itu ganteng, dan tentunya berbadan ideal. Walau terus terang kita tidak boleh menggambarkannya, karena sosok yang sempurna itu tidak mungkin digambarkan melalui rekayasa imaji yang terbatas. Oke-lah, masalah visualisasi Muhammad ini juga tidak perlu dibicarakan.

Bagi saya 'Muhammad Way' menganjurkan banyak hal. Termasuk bagaimana ummat pengikutnya harus menjalani kehidupannya. Kalo istilah orang sekarang adalah 'pola hidup'.Tentunya sangat penting untuk mengikuti pola hidup ala Muhammad ini. Karena inilah sunnah Muhammad --dan tentunya 'menyehatkan'. Dan juga jangan lupa,  pola hidup ikut menentukan bentuk fisik orang yang menerapkannya.

Saya pernah membaca perilaku hidup Ayatullah Khomeini. Dalam buku itu dituturkan bahwa Khomeini menu sarapan paginya adalah sepotong roti tawar. Dan --seingat saya-- kadang dilengkapi dengan segelas air dan bila ada maka bolehlah sebutir jeruk ikut menjadi menu sarapan. Konon, Khomeini mencontoh sarapan ala Muhammad.Pola hidup Muhammad --terutama dalam urusan makan-- membentuk tubuhnya yang ideal. Dengan tubuh yang ideal, bisa jadi urusan yang bisa dituntaskan akan semakin banyak. Salah satunya ya urusan melawan preman tadi. Walau tentunya tidak hanya itu. Pola hidup yang baik bisa menenangkan jiwa dan pikiran.

Singkat cerita, setidaknya, bila kita kembali dalam wacana hal penampilan yang di-sunnah-kan oleh Muhammad, mungkin tidak hanya jenggot panjang, baju gamis, dan atau rambut panjang. Menurut hemat saya, bentuk tubuh ideal-pun bisa jadi merupakan sunnah Rasul. Karena bentuk tubuh bisa jadi menggambarkan 'hasil' dari penerapan pola hidup. Bila seseorang menerapkan pola hidup sesuai sunnah Muhammad, maka Insya Allah akan memiliki tubuh yang setidaknya mendekati proporsional nan ideal. Mungkin seperti itu ? [] haris fauzi - 16 juni 2010