Wednesday, October 23, 2019

Nasihat tentang Games dan Musik

Untuk Anak - Anakku,
Salma, Nourma, dan Cahaya ...

Nak,
Aku, Ayahmu, semenjak kecil diajarkan untuk menjauhi games. Dulu Ayah pernah gemar main games di komputer. Atau kadangkala meminjam gamewatch milik teman. Gamewatch itu semacam PS di jaman sekarang. Jaman dahulu games di komputer masih menggunakan OS DOS. Namun, ternyata bermain games membuat ketagihan, me-lena-kan, dan terutama membuat kita malas untuk belajar dan berat dalam menegakkan sholat.

Kakekmu, EyangKung, sering marah bila melihat ayah keasyikan bermain games. EyangKung selalu melarang bermain games, EyangTi juga tidak suka bila ayah malas belajar gara - gara bermain gamewatch pinjaman. Karena itulah ayah tidak pernah dibelikan gamewatch. Apalagi bila kita keasyikan bermain games hingga larut malam, maka kita jadi mengantuk, sholat isya akan ogah - ogahan. Ketika tiba saatnya sholat subuh masih mengantuk karena tidur terlalu malam. Dan sholat tahajjud pasti terlewatkan.

Untuk itu, maka jauhilah segala macam games, insya Allah kalian akan ringan menunaikan kewajiban sholat dan kita akan rajin dalam belajar. Dengan rajin melaksanakan sholat, maka insyaa Allah segala persoalan akan lebih mudah dikerjakan, termasuk dalam hal pelajaran. Apalagi bila kalian rajin mengerjakan sholat tahajjud. Dalam pekerjaan ayah sehari - hari, banyak sekali persoalan yang dirasa sulit, hingga akhirnya penyelesaian itu muncul setelah sholat tahajjud. Dengan sholat tahajjud, maka Allah-lah yang menyelesaikan persoalan kita. Allah yang maha Perkasa.

Nak,
Ayahmu dulu, semenjak kecil sangat suka mendengarkan lagu. Bahkan sedemikian suka menikmati musik, baik di radio, di kaset, maupun nonton musik di televisi. Sedemikian suka, hingga kakekmu, EyangKung, melarang ayah untuk belajar alat musik. Karena EyangKung faham, bila ayah terlanjur bermain musik, maka ayah akan malas sekolah dan tidak akan lulus menjadi insinyur. Karena bila telinga dan otak ayah hanya akan terisi dengan musik, maka otak ayah tidak bisa terisi ilmu dengan baik. Apalagi hal itu juga membuat ayah malas mengaji. Padahal saat itu EyangKung mewajibkan anak-anaknya untuk mengaji setiap hari. Alangkah beratnya mengaji ketika dalam pikiran kita dipenuhi musik. Padahal al-Qur'an itu berisi ilmu dari segala ilmu.

Jaman Ayah kecil dulu belum populer nonton konser. Namun setelah ayah kerja di Jakarta, maka Ayah sesekali nonton konser musik. Hal ini berlangsung cukup lama hingga akhirnya ayah faham, bahwa terlalu banyak mendengarkan musik, keseringan menonton konser musik, bisa mengakibatkan kita malas mengaji al-Qur'an. Ayah menyadari hal ini baru beberapa tahun lalu ketika hendak menunaikan ibadah haji bersama Mama. Ketika usia ayah menjelang setengah abad. Saat itu ayah baru faham bahwa mendengarkan musik bisa membuat kita tidak akrab dengan al-Qur'an.

Untuk itu, ayah berharap kalian berusaha semampu-nya menjauhi musik, agar kalian "dekat" dengan al-Qur'an. Agar telinga dan otak kalian lebih banyak diisi oleh ayat Allah, agar hati kalian tidak penuh dengan irama musik. Dengan menjauhi musik, kita jadi lebih mudah membaca al-Qur'an, memahami al-Qur'an, menghafal al-Qur'an. Dan lantas, kalian insyaa Allah mampu mengamalkan nilai-nilai al-Qur'an dengan baik.

Pada saat belajar, cobalah mengganti mendengarkan musik dengan menyetel murrotal. Maksud ayah, cobalah aktivitas belajar sambil mendengarkan murrotal, mudah - mudahan ilmu akan lebih mudah dicerna.

Salma, Nourma, Cahaya,
Sebagaimana pengalaman di atas, ayah menekankan sebuah nilai nasihat, alangkah lebih baik berusaha untuk menjauhi games dan musik. Memang terasa sulit meninggalkan keasyikan-keasyikan tersebut, namun kita semua harus berusaha dan senantiasa mencoba sekuatnya. Hingga detik ini, insyaa Allah ayah-pun masih terus berusaha melakukannya, agar ayah senantiasa dekat dengan kitab suci, agar ringan dalam menegakkan sholat. Karena dengan itu, Insyaa Allah kita dimudahkan dalam segala hal.[] harisfauzi, Pendopo, 23 okt 2019




ilustrasi : http://www.icmi-na.org