Wednesday, December 12, 2012

mursi

Muhammad Mursi, presiden kelima Mesir yang terpilih sekitar Juni 2012, memiliki nuansa yang unik di mata saya. Mursi merupakan tokoh dari organisasi pergerakan Ikhwanul Muslimin. Lewat Partai Kebebasan dan Keadilan, Mursi melaju menjadi calon presiden setelah calon utama dari Ikhwanul Muslimin (Muslim Brotherhood) terganjal regulasi perundangan, terkena diskualifikasi, atau semacam itulah. Organisasi Ikhwanul Muslimin merupakan organisasi yang kerap disorot tajam oleh pemerintah, pun-pula selama kepemimpinan presiden ke-4, Husni Mubarak. Maklum, Ikhwanul Muslimin tergolong vokal. Beberapa pemimpinnya, bahkan founder-nya, Hassan Al-Banna, diwartakan wafat tahun 1949 secara misterius.

Setelah pergolakan rakyat Mesir menjungkir - balikkan pemerintahan Husni Mubarak, semula Ikhwanul Muslimin seakan enggan mencalonkan presiden. Hal ini bisa jadi karena pergolakan rakyat kerap ditunggangi kepentingan lain, kapitalisme amerika misalnya. Demikian juga dengan di Mesir. Kejatuhan Husni Mubarak sering di-klaim sebagai kemenangan demokrasi, sebuah jargon yang berselubung kepentingan amerika serikat. Kejadian serupa menimpa beberapa negara lain. Ikhwanul Muslimin, dalam pengamatan saya, mengambil sudut pandang bahwa kejatuhan Husni Mubarak bukan karena dorongan demokratisasi amerika serikat, melainkan karena ke-otoriteran-nya yang juga dilihat sebagai sudut pandang negatif oleh Ikhwanul Muslimin.

Singkat ceritera, Ikhwanul Muslimin akhirnya mendorong penggantian calon presiden, dan menyodorkan Mursi hingga secara tidak terduga dia memenangkan pemilihan umum --yang disebut sebagai pesta demokrasi, dan ini membuat amerika tersenyum. Maklum, ketimbang calon utama dari Ikhwanul Muslimin semula, El-Shater, yang dinilai sangat pro-kanan. Demikian juga lawan pencalonan Mursi, Ahmed Shafiq yang juga demikian. Mursi, walau disodorkan oleh organisasi 'militan', Mursi memiliki track-record kuliah dan lama menetap di amerika. Seperti hal-nya Nurcholish Madjid di Indonesia. Amerika menganggap Mursi merupakan solusi demokratisasi Mesir 2012.

Buktinya memang amerika sempat menyambut gembira hasil pemilu Mesir 2012 ini. Pun pula ketika Obama memenangkan pemilu amerika serikat, Mursi balas memberi sambutan. Namun entah kenapa, Mursi yang semula dianggap seperti Nurcholish Madjid yang cenderung lunak kepada kroni yahudi-amerika, pada nopember 2012 berubah lebih keras kepada zionis-amerika. Dalam skala domestik Indonesia, Mursi beralih menjadi seperti Amien Rais, yang juga pernah sekolah di amerika, namun sangat membenci zionis-amerika. Bahkan pro-Iran.

 
Tak lain adalah kala itu memang terjadi penyerbuan pasukan tempur zionis ke Gaza-Palestina, sehingga negara Iran bersuara lantang menentang hal itu. Ahmadinejad sempat memerintahkan angkatan bersenjata Iran untuk mengirim persenjataan ke Palestina guna membalas ke-dzaliman zionis. Demikian juga keberpihakan Mesir ke Palestina lewat presiden Mursi. Bahkan --diluar dugaan amerika-- Mursi memprakarsai perundingan gencatan senjata, yang pada akhirnya sangat merugikan pemerintahan zionis (tentunya merugikan kepentingan amerika juga). Amerika tentu meradang dengan sikap Mursi ini. Ummat islam juga sempat dibuat bingung dengan manuver mendadak dari Mursi ini.

Apa yang telah dilakukan Mursi, dalam pandangan saya sudah cukup elegan. Ketika Mubarak digoyang, dan amerika ikut campur, ketika itu Mursi faham bahwa periode euphoria demokrasi ala amerika tidak bisa dihentikan. Dan kejatuhan Mubarak membuktikan hal itu. Ikhwanul Muslimin mendapat berkah dari pencalonan Mursi yang diterima banyak pihak. Dan Mursi memenangkan pemilu yang disukai amerika. Namun apa lacur, setelah berkuasa sebagai presiden Mursi malah balik menendang zionis.

Belum genap seminggu setelah Palestina mendapat status negara di PBB, maka pemerintahan Mursi digoyang demonstrasi hebat. Banyak sebab di balik demonstrasi tersebut. Salah satunya karena Mursi merilis dekrit presiden. Namun, dalam paradigma saya, sebab lain Mursi diguncang adalah amarah zionis karena merasa ditikam oleh Mursi.  [] haris fauzi - 12 desember 2012

Thursday, November 22, 2012

Gaza


Sejenak setelah Presiden Obama memenangkan persaingan Pemilihan Umum Presiden AS, tak lama setelah itu Israel menggempur Gaza. Alasannya adalah roket Hamas. Hamas Palestina memang suka usil dengan melontarkan roket - roketnya, namun serbuan Zionis itu tidaklah sepadan dengan roket Hamas. Mengapa tidak sepadan ? Jelas dari sisi dampak pengerusakannya, kandang sapi saja tidaklah mengapa bila tertimpa roket Hamas. Namun kalo serbuan angkatan udara Zionis jelas - jelas memporak-porandakan perkampungan, mencabut nyawa bayi, wanita, dan orang yang naas.


Apa yang terjadi dengan Obama ? Dalam koran Republika disebutkan bahwa Obama menyatakan bila serangan udara Zionis merupakan bentuk beladiri. Namun setelah Zionis makin lama semakin menggila, Obama mulai merancang strategi yang lain.

Apa urusannya pemilu presiden dengan zionis ? Bukan khayal bila dalam kemenangan pemilihan presiden tersebut, dana kampanye Obama berasal dari lobi yahudi yang demikian kuat ideologi zionis-nya. Namun bukan berarti pesaing Obama, Romney adalah bukan lobi yahudi. Sudah umum bahwa untuk mencapai kepentingannya, lobi yahudi selalu membiayai semua calon presiden, dengan deal - deal tertentu. Lobi yahudi tentunya juga menitipkan pesan agar presiden USA bisa menyetir PBB untuk kepentingan Zionis. Ini terbukti dalam beberapa generasi, bahwa setiap ada usulan di forum PBB yang merugikan zionis, --kritik-kritik dari Ahmadinejad misalnya, maka Sekjen PBB cenderung menahannya, dan bila terjepit maka veto presiden AS akan digunakan. Ringkas ceritera, dalam hal ini setidaknya lobi yahudi berusaha dengan dua kartu, presiden AS dan PBB sebagai pemain utama. Pemain figurannya bisa jadi jutaan orang.

Pernyataan Obama bahwa serangan udara Israel merupakan bentuk 'beladiri' tersebut jelas - jelas merupakan bukti jual beli pengembalian bantuan lobi yahudi tersebut. Namun Obama tentunya tidak demikian saja dengan mudah meng-iya-kan, apalagi serangan Zionis memakan banyak sekali korban sipil. Akhirnya Obama menyusun strategi diplomatik. Dan ini langkah benar, karena bila Obama senantiasa mengatakan sebagai "beladiri" dan tidak segera mengirim Hillary di jalur diplomatik, maka apa yang diprediksi oleh Noam Chomsky akan terwujud, yakni Zionis akan mengadakan "serangan pamungkas" untuk membersihkan etnis Palestina. Program pembersihan etnis Palestina ini sudah dirancang cukup lama oleh Benjamin Netanyahu. Dan, serangan ini harus segera dilaksanakan, karena bila terlambat maka Palestina dengan peningkatan status-nya di PBB, di depan Pengadilan Internasional akan bisa menuntut Zionis sebagai "penjahat perang". Ini yang tidak dikehendaki oleh Zionis. Kalau ini sampai terjadi maka nasib Israel bisa seperti Serbia yang mirip maling ayam dikejar - kejar hansip.

Namun lobi yahudi yang hanya mengandalkan sosok presiden Amerika rupanya kurang tepat. Karena Ban Ki Mon -Sekjen PBB-, ternyata tidak terlalu bisa dipengaruhi oleh sosok presiden USA. Walau-pun terkesan sulit mengambil keputusan, Ki Mon ternyata mendengarkan suara dari dunia Arab, terutama dari Mesir. Walhasil, program diplomatik yang berjalan  --hingga diberlakukannya gencatan senjata pada hari ini-- malah lebih menguntungkan Gaza. Selain mencantumkan gencatan senjata yang diawasi oleh Internasional, maka dalam hasil misi diplomatik tersebut malah mencantumkan adanya pembukaan blokade Gaza yang selama ini menjerat warga Gaza. Tentunya Netanyahu tidak terlalu suka dengan hasil buruk ini. Seorang pengamat politik Tel Aviv menyatakan bahwa Zionis pasti gusar dengan hasil yang berada diluar prediksi mereka. [] haris fauzi - 22 Nopember 2012

ilustrasi : latuff2

Thursday, November 08, 2012

Terlihat Tua

Umumnya, orang paruh baya lebih suka terlihat lebih muda daripada umur sebenarnya. Untuk usia 40-an, banyak yang merubah penampilan agar nampak lebih muda dan lebih segar. Sebetulnya, kalo boleh menyombong dikit-- saya termasuk orang yang nampak lebih muda dari usia saya sebenarnya, jadi saya tidak perlu melakukan usaha apapun agar terlihat muda. Bahkan saya kadangkala menginginkan berpenampilan nampak lebih tua dari kelihatan sekarang, setidaknya saya ingin nampak seperti umur saya sekarang.

Ini pengalaman saya yang menghendaki hal itu. Tahun 2001, usia saya 29 tahun. Saya mengikuti proses rekruitmen suatu perusahaan. Yang datang hari itu banyak orang dengan asist berbagai level. Kebetulan saya di asist untuk level manajemen. Di ruang tunggu saya berkenalan dengan beberapa orang, dan kebanyakan mereka mengira saya di-rekrut untuk posisi worker, yang kebanyakan diisi remaja usia 19 tahunan. Saya tidak perlu membuka 'kedok' saya, karena saya berprinsip cukup pihak yang akan melakukan interview kepada saya yang faham posisi saya. Walhasil, saya ditempatkan menunggu bareng para calon worker, sementara calon manajer berada di ruang lain, yang pastinya lebih nyaman. Setelah beberapa menit, akhirnya saya dipersilahkan memasuki ruang tunggu calon manajer.

Yang kedua, saya mendampingi direktur ke Taiwan. Kunjungan bisnis. Saat itu usia saya sekitar 33 tahun. Sebagai urusan bisnis, mungkin kurang tepat ketika itu saya tidak memotong rambut. Rambut belakang saya nyaris mencapai separuh punggung, depan panjang lurus seperti pemain sepak bola Argentina, Claudio Caniggia. Dan kala itu remaja Taiwan sedang demam Meteor Garden, sinetron remaja yang bintangnya berambut gondrong. Dan akibatnya adalah otomatis saya diposisikan sebagai remaja, bukan sebagai manajer yang mendampingi direktur. Kondisi ini membuat urusan bisnis jadi lumayan kikuk, walau saya mengenakan jas lengkap sekalipun.

Sudahlah, suatu ketika kita ingin terlihat tua, suatu saat ingin terlihat lebih muda, suatu saat lebih wise nampak sebagaimana usia sebenarnya. [] haris fauzi - 8 nopember 2012

Saturday, October 27, 2012

seperti halnya tasbih

Tahun ini, Hari Raya Idul Adha jatuh hari Jum'at, tepatnya tanggal 26 Oktober 2012. Suatu momen yang sangat istimewa karena hari Jum'at merupakan hari yang diberkahi dengan adanya ritual sholat Jum'at, ditambah keberkahan Hari Raya. Dengan begitu, ada setidaknya dua keutamaan yang memuliakan hari Jum'at tersebut. Yang pertama adalah keutamaan Idul Qurban, yakni menyegerakan pelaksanaan pemotongan hewan kurban dan lantas menunaikan pembagiannya. Sebagian umat Islam bersegera menggelar ajang penyembelihan hewan kurban, dan bahkan pelaksanaannya berlangsung hingga siang hari melewati saat sholat Jum'at.

Ini adalah Hari Raya. Dimana pada saat dhuha telah dilaksanakan sholat ied berjamaah lengkap dengan khutbahnya. Bila demikian maka pelaksanaan sholat Jum'at tidak menjadi wajib lagi. Dan bagi yang mengejar keutamaan pelaksanaan kurban, maka biasanya mereka diperbolehkan tidak menggelar sholat Jum'at.

Di pihak lain, ada umat Islam yang menunda pelaksanaan penyembelihan hewan kurban dan memilih menegakkan sholat Jum'at. Dengan alasan penyembelihan hewan kurban tidak akan usai ketika sholat Jum'at tiba, maka baru keesokan harinya --sabtu-- dilaksanakan penyembelihan. Mereka memilih keutamaan sholat jum'at.

Tidak ada yang salah dalam konteks ini. Keduanya adalah pilihan yang baik. Islam selalu menawarkan pilihan - pilihan yang terbaik bagi umat terbaik. Bagi yang melaksanakan penyembelihan kurban di hari Jum'at, artinya dia menyegerakan prosesi kurban dan memperoleh keutamaan dalam ibadah kurban. Bagi yang melaksanakan sholat Jum'at dan menunda prosesi kurban, mereka-pun memperoleh keutamaan menegakkan sholat Jum'at. Adanya dua alternatif terbaik ini mengingatkan kepada suatu cerita tentang seseorang yang bertanya mengenai tasbih. Tasbih itu sebenarnya adalah bacaan pujian, namun dalam makna sekarang, juga diartikan sebagai untaian manik - manik yang dipergunakan untuk menghitung banyaknya dzikir dan tasbih.

Alkisah ada seorang nenek yang bertanya kepada seorang Aulia,"Wahai Aulia, berdzikir sembilan puluh sembilan kali sebaiknya dihitung dengan jari ataukah menggunakan tasbih ?".
Aulia berbalik bertanya,"Wahai Nenek, apakah yang kau pergunakan sekarang ?".
"Aku mempergunakan jemariku...", jawab Nenek.
"Apa alasanmu ?".
"Supaya jemariku bertasbih dan mendapatkan tempat di surga kelak".
"Itu hal yang baik...", jawab Aulia.
Dan Sang Nenek bertanya kembali,"Bagaimana dengan menggunakan bulir manik tasbih ?".
Aulia berujar," Itu-pun baik. Manik tasbih dibuat oleh manusia, benang pengikatnya dibuat oleh manusia yang lain, diantar dan diperdagangkan oleh manusia - manusia yang lain. Si penjual manik menafkahi keluarganya dari berjualan manik. Apabila ada seorang pembeli yang menggunakan manik tasbih tersebut untuk berdzikir, maka insya Allah pahala dzikir-nya akan tercurah kepada mereka semua yang pernah menyentuh manik tersebut...". [] haris fauzi - 10 dzulhijjah 1433 H 

----
gambar : yogue.wordpress.com

Saturday, October 13, 2012

Gold Save Our Dreams

Setiap cita - cita, memiliki konsekuensi pengorbanan. Ada cita-cita yang memerlukan usaha keras, ada yang memerlukan pengorbanan biaya, adapula yang rela berpisah dengan kerabat gara - gara mewujudkan cita - cita atau impian. Tidak bisa dipungkiri bahwa hampir semua impian harus dibangun dengan kontribusi materi. Untuk mewujudkan impian tidak jarang seseorang harus menjadi materialistis, selalu mengejar - ngejar uang. Namun, tidak selamanya harus begitu. Aktifitas manusia dalam mengejar impian tidak selalu harus berwujud menjadi bersifat materialistis. Ada beberapa strategi yang mempermudah seseorang untuk mewujudkan cita - citanya.

Untuk mewujudkan impian, bila itu berkaitan dengan biaya, maka ada tiga pilihan. Pilihan pertama adalah menjual harta yang ada untuk mendapatkan dana segar. Hambatan pilihan ini adalah seringkali harta yang dibeli mahal harus rela dijual dengan harga murah karena sudah merupakan barang bekas. Barang bekas yang bisa mendapatkan nilai jual sepadan tidak banyak, diantaranya adalah rumah atau tanah yang kerap memiliki nilai bertambah. Orang jaman kuno sering menabung dengan wujud tanah dan lantas menjualnya ketika membutuhkan. Namun di jaman sekarang menabung tanah bukan hal populer karena perputaran uang menuntut kecepatan transaksi. Menjual tanah tidak bisa dilakukan dengan cepat. Perlu kesabaran, dan bila dijual cepat, bisa jadi malah menurunkan nilai tawar sehingga malah menurunkan harganya sendiri.

Pilihan kedua adalah menabung. Umumnya menabung secara konvensional adalah menyimpan uang. Secara modern adalah berarti memasukkan uang ke rekening bank dengan konsekuensi pertumbuhan bunga atau bagi hasil yang kecil. Orang yang menabung di bank disebut dengan nasabah. Seorang nasabah kerap kecewa ketika nilai tabungannya tidak kunjung mencapai nilai barang yang diharapkan. Ketika dalam setahun berhasil menabung sekitar 4 juta rupiah, harga rumah yang diidamkan telah melambung seharga 8 juta, misalnya. Banyak penyebabnya. Salah satu analisa adalah adanya penurunan nilai mata uang. Penurunan nilai mata uang, baik itu rupiah atau dolar amerika, menuntut seseorang untuk bekerja lebih keras dalam mencari nafkah. Penurunan nilai mata uang memicu kenaikan harga. Otomatis, perlu usaha lebih untuk mendapatkan uang lebih banyak. Jadi, menabung uang hanyalah sarana menyimpan untuk tujuan tertentu tanpa diganggu gugat untuk kebutuhan lain. sementara nilai tabungan menurun seiring dengan penurunan nilai mata uang.

Dalam mewujudkan impian, langkah pilihan ketiga adalah berhutang. Dengan berhutang seseorang mendapatkan dana segar untuk mewujudkan impian. Namun tidak jarang pada hari - hari berikutnya orang tersebut akan kelabakan untuk menutup hutang tersebut. Cicilan hutang kadangkala menerapkan bunga yang tinggi, sehingga menyedot penghasilan. Belum lagi, ketika kesialan menerpa,---terkena Pemutusan Hubungan Kerja atau kegagalan bisnis, misalnya,--- seseorang menjadi cacat bayar dan tidak bisa melakukan pembayaran cicilan dalam kurun tertentu yang berdampak kepada penyitaan. Dan akibatnya, 'impian" yang telah diraih dengan berhutang tersebut akhirnya lenyap kembali.

Nasehat orang tua itu tak lekang waktu. Mereka kerap menganjurkan untuk menabung bila hendak mewujudkan impian. Filsafat menabung adalah menumpuk sedikit demi sedikit harta untuk menjadi bukit di hari kemudian. Menabung apa ? Menabung uang caranya sangat mudah, bahkan cukup dengan menyediakan celengan. Namun menabung uang --baik di celengan atau di bank--, berakibat nilainya tergerus inflasi. Prinsip "menabung" nyaris tidak berlaku bila kita menabung mata uang biasa, karena ternyata nilai mata uang itu selalu merosot. Kita harus ekstra keras untuk menambahkan dalam jumlah besar setiap kali menabung. Selain untuk menambah, tentunya hal ini juga untuk mengimbangi penurunan nilai mata uang. Menabung uang dalam bentuk deposito terkendala pola pencairan dana yang tidak fleksibel.

Menabung tanah atau property ? Maka terkendala proses transaksi dan tidak likuid. Menabung bentuk lain, seperti saham atau bentuk kontribusi bisnis, juga merupakan pilihan yang bisa dilakukan namun memiliki kelemahan yang cukup kompleks, yakni resiko yang tinggi dan akses yang sulit. Tidak semua orang bisa berdagang dan menabung saham.

Trus ? Bagaimana cara menabung yang mudah, resiko kecil, tetapi memiliki pertambahan pesat ? Jawaban untuk hal ini adalah menabung dalam bentuk emas. Bukan emas perhiasan, namun emas batangan. Proses jual - beli emas relatif mudah, bisa dilakukan di toko emas manapun. Dan kini juga bisa dilakukan di banyak bank. Tidak seperti kurs mata uang, kurs harga emas relatif stabil dengan nilai jual - beli yang tidak terlalu besar bedanya. Dan yang terutama adalah nilai emas memiliki kencenderungan pertambahan tetap. Setiap tahun, nilai mata uang dunia selalu berapresiasi dengan kecenderungan menurun terhadap harga emas dunia. Bukan emas-nya yang menjadi mahal, tetapi kurs mata uang yang merosot. Emas lebih eksis dengan nilainya sehingga terkesan selalu bertambah.

Sejatinya menabung dalam bentuk emas akan memberikan efek pertambahan ganda. Bila kita rajin menambahkannya, maka jelas tabungan itu akan bertambah nilainya. Namun bila kita membiarkan tabungan emas yang ada, itupun tidak masalah, karena nilai emas selalu naik terhadap kurs mata uang. Dalam banyak grafik analisa, nilai emas jarang sekali terjadi penurunan terhadap mata uang mana-pun di dunia ini. Bila kita amati, dalam tiga puluh tahun terakhir, penurunan nilai emas hanya terjadi pada awal 80-an dan awal 2010. Itu-pun karena telah mengalami kenaikan yang pesat sehingga penurunan tersebut hanya berupa proses equilibrium atau penyetimbangan. Harga emas hari ini adalah sekitar sepuluh kali lipat harga emas pada lima belas tahun lampau. Bila kita mempunyai emas seharga satu juta rupiah pada tahun 1997, maka bila emas itu kita jual hari ini akan laku dengan harga sekitar sepuluh juta rupiah. Inilah kenapa para orang tua menyebutnya dengan "tabungan yang bisa menabung dengan sendirinya".

Dalam mewujudkan impian, ada tiga hal penting yakni usaha, doa, dan menabung. Bila kita sudah berusaha, sudah berdoa, maka kita juga harus memutuskan tabungan yang cocok untuk mewujudkan impian kita. Salah satu tabungan yang memudahkan adalah menanamkan jerih payah usaha kita dalam invenstasi tabungan emas. Ketika kita alpa menambahkan ke dalam tabungan, tabungan emas itu dengan sendirinya telah berkembang sesuai pertambahan nilainya terhadap nilai tukar mata uang. Dengan demikian tabungan emas memudahkan kita meraih apa yang kita idamkan, "Gold Save Our Dreams". [] haris fauzi - 19 sept 2012

Thursday, October 11, 2012

Telunjuk Yang Bergetar

 
Nabi Muhammad SAW selalu bergetar sekujur tubuhnya ketika sholat. Pun Ali bin Abi Thalib gemetar laksana demam sesaat sebelum berwudlu. Al kisah dalam antrian berwudlu salah seorang sahabat bertanya kepada Ali,"Wahai Ali, apakah engkau demam ?". Dan Ali menjawab," Hati dan tubuhku bergetar hebat karena hendak berjumpa Allah dalam sholat. Aku gemetar...".

Dampaknya adalah ketika sedang menunaikan sholat, dan juga pada ketika melakukan duduk tawarruk -tahiyyat akhir, maka bergetarlah sekujur tubuhnya termasuk jari telunjuknya. Gerakan menegakkan jari telunjuk merupakan gerakan terakhir sholat sebelum salam. Dan Nabi selalu bergetar jari telunjuknya ketika ber-sholat.

Ada dua versi pemahaman terhadap bergetarnya telunjuk ini. Sebagian kaum Islam kemudian mencontoh gerakan telunjuk dengan menggerak-gerakan jari telunjuknya, walaupun bukan dalam keadaan gemetar. Sebagian lain menerjemahkan dengan mendiamkan telunjuknya. Tidak menggerakkan telunjuknya kecuali bila memang gemetaran seperti halnya Nabi Muhammad atau Sahabat Ali. Alasannya adalah tidak diperbolehkan untuk dengan sengaja menambah gerakan yang tidak perlu dalam sholat.

Dalam gerakan dari i'tidal menuju ke sujud, setidaknya ada dua versi pula, mungkin lebih. Versi pertama adalah dengkul turun duluan ke tanah, baru telapak tangan. Versi kedua adalah telapak tangan dahulu, barulah dengkul menyusul. Dasar utama dari dalil gerakan ini adalah tidak diperbolehkan membanting dengkul ketika hendak bersujud. Jangan seperti seekor unta yang membanting dengkulnya ke tanah. Ini jelas sekali dalam rangka tuma'ninah, yakni menjaga kekhusyu'-an sholat dengan tidak terburu - buru dalam setiap gerakan sholat.

Untuk versi pertama sudah sangat jelas, seiring dalam aturan tuma'ninah. Dengan tangan turun duluan maka telapak tangannya akan menyangga ke tanah, praktis dengkul bisa diturunkan dengan pelan - pelan. Sementara untuk versi kedua, bukan berarti kemudian dengkulnya terbanting keras. Tidak dipungkiri bahwa banyak juga orang yang mampu menurunkan dengkulnya pelan - pelan walau tanpa di sangga oleh tangannya. Ini hanya masalah sistem motorik dalam keseimbangan tubuh. [] haris fauzi - 11 oktober 2012

Tuesday, October 02, 2012

dengan multi dimensi

Ini adalah semacam pemahaman terhadap agama Islam. Bagi sebagian orang, agama Islam mengajarkan satu Tuhan, satu hal, satu cara. Tentang satu Tuhan, kesepakatan itu adalah masalah Tauhid. Cukup. Namun bila mengenai "satu cara", ada beberapa persoalan. Bagi orang yang lain bisa jadi tidak harus satu cara seperti itu. Baiklah andai memang satu hal, perlu ditelusuri mengapa Tuhan membuat banyak macam manusia. Dalam kitab suci al-Qur'an disebutkan bahwa andai saja Tuhan berkehendak, tentunya umat manusia dijadikan satu macam sahaja, semua orang taat, sehingga Rasul tidak kesulitan mengaturnya. Atau satu macam saja semua menjadi umat ingkar sehingga Rasul dengan mudah berdoa agar Tuhan membumi hanguskan alam semesta ini. Atau satu suku saja sehingga dengan mudah mempelajari bahasanya. Namun kenyataannya tidaklah seperti itu. Tuhan menjadikan beragam manusia. Beragam juga keingkarannya, dan tentunya beragam pula ketaqwaannya.

Muhammad adalah pembawa risalah Islam. Empat orang terdekat -selain istrinya- dalam masa kerasulan Muhammad adalah Abubakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Artinya, keempat orang inilah penerus risalah Islam, dan lantas dilanjutkan dengan para sahabat, dan sahabatnya sahabat. Ada empat generasi keemasan dalam dakwah Islam, yakni masa Muhammad, masa Khulafaur Rasyidin, masa sahabat, dan masa sahabatnya sahabat.

Empat khalifah setelah Rasulullah, memiliki karakter yang berbeda - beda. Abubakar terkenal sabar, Umar terkenal tegas, Utsman terkenal teliti, dan Ali terkenal pintar. Risalah Islam masa itu seakan menggambarkan bahwa islam adalah suatu tata peri hidup yang multi dimensi, begitu teman saya menyebutnya. Artinya, tidak bisa dipandang hanya sebagai satu tatalaksana.

Muhammad adalah insan pilihan, dia sempurna, sebegitu sempurnanya hingga jika seluruh dunia ini dikumpulkan orangnya, masihlah belum mumpuni untuk menyaingi kesempurnaannya. hal ini juga mewujud kepada empat khulafaur rasyidin dalam meneladani Muhammad. Ada hal - hal yang dilakukan Abubakar, namun tidak terdapat pada diri yang lainnya, demikian juga sebaliknya. Muhammad beristri lebih dari satu, demikian juga dengan beberapa sahabat, namun, konon Ali bin Abi Thalib memiliki satu istri, walau beberapa kali menikah, tetapi konon dalam satu masa hanya satu istri. Ada beberapa sirah yang mengatakan demikian.

Bila Muhammad mengajarkan satu dimensi Islam, taruhlah tatacara sholat, tentunya, empat murid pertamanya akan melakukan hal yang sama persis. Tetapi ternyata tidak. Sholatnya Umar pembacaan al-Fatihah sangat kencang tidak seperti Abubakar yang membacanya dengan halus. Sholat tarawihnya Ali bin Abi Thalib dilaksanakan di rumah seperti halnya Muhammad, namun Umar melakukannya di masjid dengan berjamaah. Itu sebagai contoh.

Ketika demikian, maka Islam lebih tepat bila dipandang sebagai agama dengan satu tujuan namun memiliki banyak jalan dan banyak pintu. Maklum, selain al-Qur'an, perilaku umat Islam adalah mengacu kepada sunnah nabi Muhammad. Sunnah itu adalah 'jalan' atau 'way'. Sunnah ditempuh oleh para sahabat. Dengan karakter yang berbeda - beda, bahkan khulafaur rasyidin-pun menempuh jalan sunnah yang berbeda-beda dalam menegakkan dan melanjutkan risalah Muhammad.

Jadi, ketika ada banyak profesi, ada banyak karakter, dan ada banyak tatacara, kemungkinan itu adalah jalan yang beragam. Bila jalannya benar, maka dia akan mencapai tujuannya, bila sesat maka dia akan terjerumus. namun, jalan yang benar tidaklah harus satu macam saja. Bisa dibayangkan bila hanya memiliki satu jalan saja akan terjadi kemacetan. Contohnya dalam hal pilihan profesi. Ketika semua orang mencontoh Alibin Abi Thalib untuk menjadi seorang pengajar, maka tidak ada yang mau menjadi prajurit yang gagah seperti Umar, dan tidak ada yang mau mencontoh Utsman menjadi administrator ulung.

Dan ketika Tuhan menciptakan keaneka-ragaman komunitas manusia, dimana dunia ini tidaklah seragam, maka hal keteladanan tersebut tidaklah menjadi wahana sempit yang mengekang. Tercipta beragam tatalaksana yang tidak menyimpang. Alasannya adalah karena agama Islam itu adalah rahmat bagi alam semesta. Tidak hanya bagi segolongan manusia ber-ras Arab, misalnya. Banyaknya jalan yang ditawarkan tentunya solusi untuk seluruh umat yang beragam --bahkan alam semesta ini. Itulah kenapa dalam pemahaman seperti ini diperlukan keterbukaan paradigma mengenai alternatif - alternatif yang tidak selalu harus satu, alternatif - alternatif yang multi-dimensi. [] haris fauzi - 02 okt 2012

Thursday, August 30, 2012

usulan dan tindakan

Sangat jelas dalam ingatan bagaimana ketika era 90-an, bersama teman - teman mahasiswa seringkali bercakap diskusi tentang segala sesuatu tentang negeri ini. Setidaknya, banyak hal yang kami pandang sebagai suatu keburukan, yang terus - menerus diperbincangkan. Dari jutaan kejelekan mulai dari politik, pemerintahan, pendidikan, jurnalisme, dan sebagainya. Dari sekian jumlah itu, setidaknya ada sekian puluh persen --saya tidak tau tepatnya berapa-- yang kami bisa mengerti sebaiknya seperti apa. Contohnya, ketika mengkritisi perilaku korup pejabat, maka kami saat itu juga faham idealnya pejabat itu tidak korup.

Dalam obrolan rakyat, sah - sah saja ada kritik tanpa pandangan idealnya, apalagi solusinya. Namun dalam diskusi mahasiswa, setidaknya nilai ideal harus ada, walau tidak harus lengkap. Dalam mengritisi sesuatu, maka perlu juga dijabarkan bentuk idealnya sehingga jelas perbandingannya. Ini baru tataran bentuk ideal, belumlah solusi atau 'jalan keluar' untuk menyelesaikan problem yang dikritisi, atau tindakan yang harus diambil hendaknya seperti apa.

Kemajuan dalam sebuah perbincangan, setelah adanya bentuk ideal walau sebagai utopia, salah satunya adalah menemukan  wacana langkah tepat untuk mencapai bentuk ideal. Bentuk ideal biasanya dikiaskan dengan kalimat "seharusnya seperti ini". Sementara langkah tepat solusi dikiaskan dengan kalimat "seharusnya dilakukan hal ini".

Nah. Itu tataran diskusi. Itu saja tidak cukup. Untuk mengkritisi nasib suatu bangsa, tidak cukup hanya dengan jutaan kritik, ribuan bentuk ideal, dan ratusan usulan solusi. Bila kita mampu, seharusnya kita juga pada saat yang tepat untuk bertindak. Memang tidak dapat disalahkan bila jutaan kritik itu muncul dari kritikus. Sementara ratusan solusi itu muncul dari pengamat. Ini diskursus yang bagus, artinya 'open-mind' untuk gerbang perbaikan sudah terbuka. Tinggal bagaimana kita menggerakkan badan untuk segera bertindak.

Bertindak itu tidak gampang. Mungkin tataran profesi yang berbeda, mungkin kendala sumber daya yang tidak mencukupi. Sebagai contoh, pada saat carut - marut politik banyak diumbar di media, seorang dokter tentunya hanya bisa sebagai kritikus atau pengamat saja. Bagaimana seorang dokter dengan penghasilan sepuluh juta sebulan mampu merombak sistem politik yang dia kritisi tersebut ?

Dalam islam, ada anjuran untuk istiqomah. Ada juga anjuran untuk bertindak melakukan perbaikan. Jadi, sah - sah saja seorang insinyur pengkritisi kinerja pemerintahan. Namun disisi lain sang insinyur harusnya mampu bergerak dan bertindak. Sesuai porsi dan kemampuannya. Ketika seseorang mengritisi kinerja pemerintahan negara, tidak harus dia bertindak memperbaikinya. Tindakan itu bisa dia wujudkan dalam skup yang lebih kecil. Mungkin dalam region kelurahan. Ketika seorang supervisor berbicara bahwa pemerintahan yang korup itu bejat, trus dia memiliki nilai ideal bahwa seharusnya pejabat itu tidak mata duitan, dan lantas dia mengusulkan kampanye "pemerintahan yang bersih", setidaknya dia bisa mengambil aksi dengan menjaga kebersihan di kelurahan dimana dia tinggal. Salah satunya seperti itu. Jadi, setidaknya bangsa ini tidak terjebak dalam sekedar wacana diskusi. Diskusi itu baik. Kritikus dan pengamat itu berjasa. Namun, tindakan itu wujud realisasi. [] haris fauzi - 30 Agustus 2012.

foto : suara merdeka

Friday, July 20, 2012

perbedaan

Dalam menetapkan tanggal bulan baru tahun hijriyah, seperti 1 Ramadhan, 1 Syawal, atau 1 Muharram, bisa saja terjadi perbedaan. Dan ini kerap terjadi. Dan perbedaan ini bisa dipandang dari sudut yang rumit, bisa pula ditengok dari sudut yang sederhana. Berhubung saya tidak terlalu faham soal penanggalan, maka saya lebih gemar memahami dengan sederhana saja.

Di Indonesia, ada 2 cara populer menentukan suatu penanggalan bulan baru. Yang pertama adalah metode hisab, yang kedua adalah metode rukyat. Rukyat artinya mengamati. Apa yang diamati ? yang diamati adalah hilal, hilal itu adalah bulan sabit muda awal bulan. Ada dua bulan sabit, yakni awal bulan dan akhir bulan. Yang diamati untuk penetapan awal bulan baru adalah bulan sabit muda, atau lumrah disebut hilal. Seringkali kita benar - benar memisahkan antara dua metode ini. Seringkali Muhammadiyah diklaim sebagai penganut metode hisab semata. Demikian juga organisasi Nahdatul Ulama dicap sebagai penganut rukyat hilal semata. Padahal sejatinya tidak. Muhammadiyah juga menerapkan metode rukyat, sementara Nahdatul Ulama juga mengicip metode hisab.

Bulan baru, contohlah tanggal 1 Ramadhan, organisasi Muhammadiyah menetapkan berdasarkan hitungan, yakni hisab. Yakni almanak dihitung banyaknya hari dan dengan perhitungan lainnya, maka disepakati adanya bulan baru. Namun, untuk memastikan adanya bulan baru, pihak Muhammadiyah juga mengamati hilal, menerapkan rukyat. Masalahnya adalah mengapa hilal yang diamati Muhammadiyah bisa berbeda dengan rukyat dari Nahdatul Ulama ? Dari sisi peninjauan sederhana, penampakan hilal itu bisa nampak sangat jelas, jelas, atau meragukan tapi masih nampak. Bagi Muhammadiyah yang semula sudah menetapkan berdasar hitungan bahwa awal puasa Ramadhan dimulai hari Jum'at, misalnya, Muhammadiyah hanya membutuhkan pengamatan sebagai bukti pendukung. Tidak harus jelas sekali. Yang penting nampak hilal, maka hilal tersebut sudah bisa dijadikan bukti untuk menguatkan dari dasar perhitungan / hisab yang telah dilakukan.

Hal ini tentunya berbeda dengan Nahdatul Ulama yang berangkat dari rukyat hilal. Dia harus yakin seyakin - yakinnya bahwa pengamatan atas hilal adalah sangat jelas, barulah Nahdatul Ulama berani menetapkan adanya penanggalan baru sebagai tanggal 1 Ramadhan. Kasus tahun ini, pihak Nahdatul Ulama tidak bisa melihat dengan jelas adanya hilal pada hari kamis pada semua titik lokasi pengamatan. Salah satu sebabnya adalah adanya mendung yang pekat. Ya, benar. Bulan baru bisa saja sejatinya sudah muncul tetapi tidak terlihat. Posisi ini meragukan. Apakah memang benar - benar sudah muncul hilal ? Ataukah belum ? Untuk itu, keputusannya adalah dianggap belum muncul, dan akan ditentukan pada pengamatan hari berikutnya, yakni jum'at. Nah, andai pada hari jum'at juga masih banyak mendung, bagaimanakah keputusannya ? Apakah akan diundur demikian seterusnya ? Tentu tidak. Ketika pada hari jum'at masih juga belum nampak, maka keputusannya adalah menggenapkan hitungan bulan sebelumnya menjadi 30 hari. Jadi pada akhirnya Nahdatul Ulama juga melakukan hisab terhadap bulan Sya'ban untuk memulai 1 Ramadhan. Jadi, masalah mendung yang menutupi hilal, itu hanya berlaku pada hari pertama pengamatan, yakni tanggal 29 Sya'ban. Ketika sudah memasuki tanggal 30 Sya'ban, yakni hari kedua pengamatan, maka nampak atau tidak, hilal dipastikan sudah muncul karena bulan Sya'ban sudah digenapkan 30 hari, tidak akan menjadi 31 atau 32 hari. Maka keputusannya adalah esoknya adalah 1 Ramadhan.

Jadi sangat jelas bahwa metode hisab juga melakukan bukti tambahan rukyat hilal. Sementara metode rukyat, juga harus melakukan penghitungan untuk menetapkan akhir bulan, dan apalagi bila hingga mencapai penggenapan akhir bulan 30 hari. Apabila ternyata dua metode tersebut tidak menghasilkan keputusan yang sama, maka itu juga tidak menjadi masalah, karena dasar dari dua metode itu juga sudah benar dan kuat.

Pertanyaannya, pada jaman Rasulullah dahulu, metode apakah yang dipakai ? Jelas jaman Rasulullah juga menerapkan dua metode ini. Jaman Rasulullah sudah ada penanggalan, jadi sudah ada dasar hisab. Sementara untuk penyaksian kemunculan hilal, ini menjadi mudah karena di padang pasir cuaca lebih terang dibandingkan di Indonesia kini. Dan jangan lupa, Muhammad sebagai khalifah merupakan pemimpin yang tidak memiliki keraguan. Jadi ketika Muhammad menetapkan tanggal bulan baru, maka semua ummat meyakini kebenaran penetapannya. Tidak seperti dunia sekarang yang memiliki banyak pemimpin, yang melahirkan banyak ketetapan juga.[] haris fauzi - 1 ramadhan 1433H

Sunday, June 10, 2012

kepada tuhan yang menendang

 
malam ini ada ritual ibadah...
tuhannya ada dua puluh dua biji....
semua ummatnya menghamba dan menyembah dgn takzim....

ke dua puluh dua tuhan itu berebut menendang bola,
dan ummatnya berjamaah melantunkan puji-pujian...
berkeliling mirip tawaf...

yang tidak sempat hadir tawaf,
ummatnya mengirimkan doa dgn khusyu sepenuh hati...
kepada tuhan -  tuhan yang menendang bola...

di kafe - kafe diciptakan tabligh akbar dengan layar lebar...
ummatnya berduyun - duyun datang memenuhi panggilan ibadah...
semua khusyu ritual - ritual demi tuhan - tuhan yang menendang bola...


[] haris fauzi - 10 juni 2012
ilustrasi : onebigphoto.com

Saturday, June 02, 2012

Perilaku yang Tak Terfahami



Mungkin ini salah satu sebabnya mengapa Bapak mengundurkan diri dari pentas politik lokal, di tahun 90-an. Pemahaman. Dia tidak faham logika pikir politik, dan akhirnya memilih pensiun. Pemahaman itu berkaitan dengan konsistensi pola pikir. Dalam sesi tatap muka, saya sering menekankan perihal konstrain dan konsistensi kepada para mahasiswa. Dalam dunia teknik hal ini penting. Misalnya, ketika kita membicarakan gaya dan energi, maka kita harus konsisten menggunakan hukum Newton, misalnya. Namun ketika partikel tersebut bergerak melebihi kecepatan cahaya, maka kita harus murtad dari hukum Newton, namun in-konsistensi ini dijaga oleh konstrain hukum Relativitas Einstein. Itu contoh permisalan di depan kelas.

Dunia ini beragam. Tidak demikian dengan perilaku politik negeri ini. Alasan pertama mungkin adalah hukum Newton adalah eksakta, sementara politik adalah ranah sosial. Ini beda kelas. Tapi bukan berarti hal ini tidak konsisten. Bagi saya ilmu pasti itu membuat lebih mudah dalam bersosialisasi. Ilmu sosial itu membuat insting untuk lebih pasti. Alasan kedua adalah, perilaku ini tidak terfahami oleh saya. Baiklah, bagaimana kita bisa nikmati seperti apa proses Bank Century yang demikian berlarut - larut dan berdarah - darah. Terkatung - katung hingga kini tanpa tau siapa yang bertanggung jawab. Partai yang disorot menunggangi kasus ini tidak tergeser, sementara Bank Century telah beralih nama dan sekarang memiliki reputasi membaik dan bisa dijual dengan harga pantas. Sementara nasabah yang dirugikan hanya meratapi nasibnya. Ini kasus perbankan di ranah politik.

Demikian juga dengan urusan kubangan di Jawa Timur yang makin menggila. Pers yang seharusnya memiliki independensi, ternyata malah saling serang demi keuntungan rekan mereka. Jaman kuliah, sering rekan pers dan mahasiswa melakukan demonstrasi ihwal kemerdekaan pers, menentang penjajahan tirani. Namun itu dulu. Pers kini tidak terjajah lagi, namun tergadaikan. Tidak terjajah namun tetaplah belum merdeka. Berita simpang siur ihwal lumpur Lapindo menggoyahkan iman. Dalam urusan politik, pers lebih bermain dengan asik menikmati titipan pengusaha politik. Ini dampak dari kapitalistik jurnalisme. Namun tidak semua.

Ada lagi yang saya tidak faham. Deretan masalah kasus Hambalang semenjak urusan korupsi wisma atlet, dan lantas tertangkapnya si pengicau, hingga amblesnya proyek tersebut. Antara korupsi dan tidak korupsi sama sekali tidak ada kejelasan. Padahal duit itu adalah hitungan matematis sederhana. Seorang bocah juga faham setelah gajian maka rekening bapaknya akan bertambah saldonya. Masalahnya adalah tidak adanya kejujuran pengakuan asal - muasal pertambahan rekening tersebut. Apakah dari gajian, apakah dari iblis. Ini yang tidak difahami oleh bocah tadi. Dan oleh saya juga.

Korupsi memang lebih menekankan kata kunci 'tidak tahu' dan 'lupa'. Masihkah ingat tentang proyek ruang rapat di gedung DPR yang demikian mewah ? Bahkan pejabat yang berwenang-pun mengaku tidak tahu anggaran proyek tersebut. Alangkah eloknya, seorang pejabat tidak tau gelontoran dana sebesar itu.

http://4.bp.blogspot.com/_aJgO8PbhGzk/Skh364biaTI/AAAAAAAAAAM/UbqlB9nQmAg/S264/url.jpgBombastis berita konser Lady Gaga juga merupakan hal tidak penting yang entah kenapa dipublikasi demikian heboh, hingga akhirnya narapidana narkoba asal Australia mendapatkan grasi dari presiden. Presiden lantas dielu-elukan oleh Australia, dan puas. Beberapa media menyampaikan pendapat tokoh bahwa grasi tersebut bukanlah barter hukum. Namun, koran lain menyebutkan paska pemberian grasi kepada Corby, maka sejumlah tawanan di Australia dibebaskan. Dan, di siaran televisi juga ada tokoh politik yang menyebut bahwa grasi itu memiliki imbalan pembebasan. Antara barter dan pertukaran imbalan, apakah ini berbeda ?  Sayangnya saya tidak faham.

Masih banyak lagi. Kebijakan harga BBM subsidi, urusan dana pendidikan yang berhasil menjadikan sekolah pada roboh, urusan sepak bola yang makin ruwet, semua merupakan deretan yang sulit dipahami. Mungkin ini masalah politik. Tidak terfahami. Saya lebih faham bahwa Bapak akhirnya memilih pensiun daripada dipusingkan dengan masalah seperti ini. Ini mungkin masalah yang bisa diolah sesuai kekuasaan, ataukah memang tidak memiliki konsistensi ? - haris fauzi - 2 juni 2012

ilustrai : 4bp.blogspot.com

Friday, May 18, 2012

Cerita Tentang Sebuah Aplikasi

Entah ini sebuah kesalahan atawa bukan.  Jadi begini. Saya mendapat peluang dalam bidang perangkat lunak. Untuk ini harus  dicoba mempelajari dari dua sisi, yakni sisi manufaktur dan sisi market. Menurut analisa beberapa rekan yang diminta-pertimbangan, calon aplikasi tersebut bukanlah barang sulit. Itu bukan aplikasi yang terlalu sulit.  Apalagi saya sudah menemukan metodologi fungsinya yang  sedemikian rupa sehingga lebih mudah pembuatannya. Itu dari sisi manufaktur aplikasi. Yang kedua dari sisi pasar. Setelah kasak – kusuk mencari informasi, ternyata pasarnya cukup luas. Peluang meraup keuntungan terbuka cukup lebar.

Walhasil dimulailah pekerjaan ini. Start dari sini jelas butuh programmer, dan tentunya harus disiapkan biaya yang cukup untuk membayar seorang programmer agar mau menyusun program sesuai dengan aplikasi yang dimaksudkan. Dan singkat ceritera, dalam hitungan minggu usai sudah pembuatan program tersebut. Tidak ada kesepakatan apapun antara saya dan programmer selain masalah harga. Saya membayar honor, dan dia membuat pesanan. Suatu bayaran atau harga yang cukup tinggi sesuai permintaan si programmer.  Disebut sebagai ‘harga yang tinggi’ karena dua hal, pertama tidak sedikit-pun saya menawar harga tersebut. Saya langsung meng-iya-kan. Hal kedua adalah harga tersebut hanya untuk menyusun program berbasis MySQL. Sebuah harga yang seharusnya dibayarkan untuk menyusun program yang lebih kompleks, mungkin menggunakan Java. Tapi itu tidak mengapa. Toh bila aplikasi tersebut giat dipasarkan, tentunya keuntungan akan muncul berlipat pula. Singkat ceritera, selesailah sudah penyusunan program aplikasi tersebut dan di-tanam di server yang telah dikehendaki.

Masalah baru timbul ketika si programmer mengetahui bahwa aplikasi tersebut ternyata memiliki pasar yang sangat potensial. Dengan melihat adanya peluang, maka dengan gerak cepat dia segera memasuki basis server dimana aplikasi tersebut ditanam dan merubah beberapa kunci program agar aplikasi tersebut tidak bisa diduplikasi. Saya tidak menyadari gerakan ini, dan baru mengetahui belakangan ketika tidak bisa dilakukan instalasi kepada calon pembeli. Dan problem makin nyata ketika si programmer nyata – nyata meminta tambahan duit apabila aplikasi tersebut akan dijual kepada setiap calon pembeli.

Kesalahan yang nampak adalah saya tidak menekankan dalam kontrak honor di awal bahwa programmer  tidak ber-hak atas kunci atau bagaimanapun aplikasi itu diperlakukan. Memang programmer bisa memiliki paradigma lain bahwa dia-lah membuat program sehingga berhak memegang kunci aplikasi tersebut. Dalam versi internal, hal ini bisa menjadi sebuah perdebatan yang mungkin bisa dijelaskan melalui perumpamaan sederhana. Yakni  seperti membuat rumah. Saya memiliki desain rumah, saya memiliki biaya untuk membangun rumah tersebut, saya juga memiliki calon pembeli yang berminat kepada rumah tersebut. Untuk itu karena saya tidak terbiasa menempel batu bata terhadap semen dan saya juga tidak pernah menyerut kayu, maka  lantas membayar tukang batu untuk menyusun dinding, lantai, kayu dan atap.

Namun masalahnya adalah ketika rumah tersebut telah selesai dibangun dan hendak saya jual dengan harga tinggi, serta – merta mengetahui harga tersebut mendadak tukang tersebut lantas mengunci semua pintu – jendela dan membawa kabur kuncinya. Alasan utamanya adalah, bila rumah itu dijual dengan harga tinggi, maka dia berhak meminta tambahan bayaran. [] haris fauzi – 17 mei 2012

Thursday, April 12, 2012

kenisah : mengukur wewenang

MENGUKUR WEWENANG

Suatu ketika saya berkenalan dengan seseorang. Dia mengaku sebagai Asisten Manajer sebuah perusahaan yang hendak menyewa tenaga rakayasawan. Saya memanggil Asisten Manajer itu dengan Pak Asmen. Pak Asmen tersebut menyatakan bahwa ada pekerjaan yang ditawarkan kepada saya dan dia sanggup memutuskan segala hal mengenai hubungan kerja antara perusahaan tersebut dengan calon rekayasawan yang hendak dia sewa. Saya rekayasawan. Dan saya mengajukan diri. Dan terjadilah pertemuan itu.

Seperti apa yang Pak Asmen nyatakan, beliau memutuskan segala sesuatu dengan cepat. Pertemuan itu berjalan sangat singkat. Semua keputusan bisa diselesaikan saat itu, deskripsi pekerjaan, kesepakatan honor, seragam kerja, hingga urusan jatah makan siang bagi tenaga kontrak seperti saya. Kesepakatan itu bisa berjalan cepat juga karena saya termasuk orang yang tidak ribet, sehingga segala yang menyangkut diri saya menjadi mudah.

Singkat cerita, pada bulan kedua permasalahan mulai muncul. Ini mutlak kesalahan saya yang menganggap enteng masalah administrasi. Saya sudah memulai pekerjaan walau kesepakatan belum tertulis.Hingga bulan kedua, kesepakatan kerja belum ada wujud kertasnya, dan celakanya lagi ternyata honornya tidak sesuai hitungan dalam kesepakatan dengan Pak Asmen.

Pada bulan ketiga, masalah itu masih berulang. Saya berinisiatif melayangkan surat komplain. Akhirnya surat kesepakatan kerja itu terbit, namun problem honor belum ada perbaikan. Kejelasan sudah ada, pihak administrasi melalui seorang staf mengakui adanya kesalahan pembayaran, dan berjanji akan menambahkan kompensasi penuh di bulan ke empat.

Pekerjaan itu usai di akhir bulan keempat. Inilah pembayaran honor terakhir, berikut kompensasi kesalahan pembayaran tiga bulan sebelumnya. Idealnya begitu. Namun kenyataannya tidak sesuai harapan, pembayaran honor bulan keempat masih minus,... dan kompensasi juga tidak disertakan. Saya berinisiatif menelepon, berkirim sms, berkirim email, namun belum ada jawaban. Sayangnya telepon Pak Asmen tidak menjawab setiap saya kontak. Mungkin sibuk.

Suatu kebetulan, dua bulan setelah itu saya berjumpa dengan staf administrasi. Yakin sekali dia salah tingkah.Namun dia berinisiatif membicarakan problema tersebut. Dia meminta saya ngobrol sebentar di halte dimana kami kebetulan berjumpa. Pada dasarnya staf tersebut menyampaikan tiga hal. Pertama dia mengakui perusahaannya melakukan kesalahan yakni kekurangan pembayaran. Kedua dia mengakui tidak kuasa merealisasi kompensasi mengingat dia hanya staf biasa. Ketiga dia mengakui kesalahan dari pak Asmen yang merupakan pimpinan kerjanya dimana pak Asmen tidak bisa memenuhi sesuai kesepakatan.

Saya cuma manggut - manggut. Dari ceritera beberapa kawan ternyata memang banyak kejadian pekerjaan yang tidak terbayar. Dan kasus ini cuma kekurangan pembayaran dan saya berusaha membiarkannya. Dalam pembicaraan tersebut, kemudian saya sedikit jahil menambahkan guyonan kepada staf tadi," Setidaknya Pak Asmen merealisasi jatah makan siang saya walau dalam empat bulan cuma saya ambil satu kali...". Dan dia tersenyum kecut. Apalagi saya. Saya bayangkan apabila suatu ketika saya berjumpa dengan Pak Asmen entah dimana, pasti dia akan ngibrit menghindar.

Jaman sekarang pangkat bisa menjadi barang jor - joran dan menjadi barang pameran. Namun disayangkan seringkali esensinya minus. Tidak jarang kita jumpai kartu nama seseorang berjajar pangkat menggambarkan betapa tinggi jabatan yang menyertai namanya. namun belum tentu berbanding lurus dengan wewenangnya, apalagi profesionalismenya. [] haris fauzi - 12 april 2012

Thursday, February 23, 2012

kenisah : pilar

PILAR

Awal muasalnya adalah ketika John Locke (1632-1704) seorang filsuf politik Inggris mencoba menjabarkan pemisahan kekuasaan dalam pemerintahan negara.  Menurut John Locke dalam bukunya berjudul Two Treatises on Civil Government kekuasaan negara dibagi dalam tiga pilar kekuasaan terpisah yaitu kekuasaan legislatif (Pembuat Undang – Undang), kekuasaan eksekutif (Pelaksana Undang – Undang dan Pengadilan), dan kekuasaan federatif (Hubungan antar negara).

Kisaran tahun 1740-an filsuf Perancis Montesquieu (1689-1755) mengembangkan lebih lanjut pemikiran Locke ini dalam bukunya L'Esprit des Lois (The Spirit of the Laws). Sebagamana buku karya Locke yang juga mencoba mengkritisi pemerintahan, buku tulisan Montesquieu juga demikian. Buku ini lebih menekankan kepada keberpihakan terhadap rakyat dari ganasnya kepemimpinan mutlak kerajaan. Dalam buku tersebut Montesquieu membagi kekuasaan pemerintahan ideal dalam tiga kekuasaan politik, yaitu kekuasaan legislatif, kekuasaan eksekutif dan kekuasaan yudikatif dimana ketiganya terpisah dan saling melakukan kontrol.  Dari sinilah populer istilah Trias Politika, yang artinya tiga kutub kekuasaan politik. Mengkritisi karya John Locke, menurut Montesquieu yudikatif harus terpisah daripada eksekutif karena sebagai kontrol antisipasi apabila pihak eksekutif menyimpang dari ketentuan legislatif.

Tata politik bernegara seperti ini  dianggap sebagai acuan bentuk demokrasi. Setelah itu muncullah istilah pilar – pilar demokrasi dalam politik bernegara yang populEr di Amerika yang mana akhirnya diadopsi oleh banyak negara termasuk Indonesia, pilar eksekutif, pilar legislatif, pilar yudikatif. Sejatinya di Indonesia tidak hanya pemikiran Montesquieu, sebetulnya negara Indonesia pun juga mengadopsi pemikiran John Locke dengan pengembangan model federasi melalui otonomi daerah walau sedikit babak – belur disana –sini, contohnya Aceh dan Jogjakarta. Sementara hubungan luar negeri relatif terjaga berkat afiliasi dengan kiblat barat yang sangat mendewakan trias politika.

Entah tahun berapa, muncullah pilar keempat sIstem tata negara, yakni pers. Pers menjadi pilar keempat (fourth estate) sebagai faktor pengendalian terhadap kekuasaan dari tiga pilar lainnya. Seperti hal-nya pemikiran Locke dan Montesquieu, pilar keempat dimunculkan ketika ada permasalahan, dalam hal ini adanya tendensi korup di tiga pilar yang telah ada. Berbeda dengan tiga pilar terdahulunya, tipikal dari pilar keempat ini adalah tendensi bahwa mereka makin solid ketika ditekan.

Menyongsong era milenium banyak muncul fenomena kekuasan korup yang berkolaborasi antar tiga pilar. Jadi percuma saja ada fungsi kontrol antar tiga pilar politik karena mereka semua menerapkan kebiasaan korup kekuasaan. Setelah nyaris tiga ratus tahun tidak tergoyahkan bahkan oleh aktivitas ekspansif dan penaklukan,  trias politika membuka celah masalahnya sendiri. Maka tak ayal, banyak negara yang melakukan pressure dan pembunuhan embrio pers demi tegaknya korupsi di  pilar – pilar trias politika. Namun itu tadi, pers alih – alih tergencet, mereka malah makin militan. Pada ujungnya, tata pemerintahan membutuhkan eksistensi pers, disini artinya adalah kebebasan pers. Bahkan  Albert Camus, kritikus apatis dari Perancis pernah mengatakan bahwa pers bebas dapat berakibat baik dan dapat pula berakibat buruk, namun tanpa pers bebas yang ada hanya celaka.

Fungsi pers adalah sebagai jalur informasi, maka pers bisa berfungsi sebagai media kampanye (pembentuk opini), dan juga sebagai penyampai fakta. Dalam membentuk opini, pers berjasa menyampaikan nilai – nilai kebenaran untuk menjadi koreksi bagi tiga pilar yang lain. Sementara fungsi penyampai fakta menuntut transparansi tiga pilar lainnya. Inilah fungsi strategis pers dalam berkontribusi melakukan kontrol dalam sistem trias politika, yang kemudian menjadi empat pilar.

Sistem empat pilar ini belum sempurna, namun dalam kondisi ideal, mereka bisa mengakomodir kebutuhan berbangsa dan bernegara. Kondisi ideal adalah mensyaratkan kesempurnaan dari para pemegang kekuasaan di ke-empat pilar tersebut. Dalam bahasa religi, para pemegang kekuasaan haruslah amanah, memiliki nurani. Namun apa jadinya bila keempat pilar tersebut sama sekali tidak memiliki nurani ? Ketika itulah legislatif menjadi pengkhianat menelikung perundangan, ketika itu eksekutif berbuat semena – mena demi kepentingan pribadi, dan yudikatif bernafsu korup. Sementara pilar pers tidak independen dan memiliki muatan yang tendensius berikut pesan sponsor untuk merekayasa opini masyarakat demi kepentingan kapital. Korupsi merajalela, pemerintahan tidak dipercaya, hukum hanya banyolan rekayasa, dan terjadi kebingungan antara berita yang benar dan berita yang salah. Implementasi kebobrokan itu bisa kita nikmati di negara kita ini. [] haris fauzi – 23 Februari 2012
 
 

Thursday, January 12, 2012

kenisah : rinai tujuh hari

...
Karena pagi ini adalah fajar yang murung. Mendung menyertakan hujan, bila berkepanjangan menyiratkan kusam. Entah karena bebatuan diam dalam dingin. Kehidupan seakan jeda.
 
Senyampang kemudian langit tersenyum. Namun, ketika cuaca bersahabat, manusia tak lagi takzim. Hingga akhirnya kelam menyelimuti. Hujan turun tegak lurus tanpa melodi, malam ini angin enggan menyertai. Hujan sendirian menusuk sumsum.
 
Hari berlalu, kelabu itu berarak lalu. "Selamat datang mendung, warta apa yang hendak kau kabarkan ?". Aku harap bukan kelabumu semata, karena hujan adalah rahmat-Nya. Seperti kemarin.
 
Kini angin yang berubah dan hujan yang bertabur tak menentu pertanda usai. Pagi ini gerimis melambat, tidak seiring. Rinai sepihak pertanda alam hendak menepati janjinya. Hujan mulai berpamitan merenung sejenak. Dan akan kembali.
 
[rinai tujuh hari – januari 2012]