Wednesday, February 26, 2020

Toleransi

Konon suatu ketika, para pembesar suku Quraisy berunding dengan sangat serius. Mereka hendak mengajukan usulan kepada Rasulullah Muhammad SAW. Kala itu pengikut Rasulullah SAW, pemeluk agama Islam, tengah berkembang pesat sehingga cukup membuat para pembesar Quraisy resah. Kaum Quraisy masih bertahan dengan adat - istiadat dan 'agama jahiliyyah' mereka. Dan hendak menahan laju dakwah Islam. Salah satu cara yang dilakukan untuk hal ini adalah dengan melakukan mediasi.

Dari satu sisi, para pembesar Quraisy menganggap adalah sangat mendesak untuk mengusulkan jalan tengah, mengantisipasi perkembangan dakwah Islam yang semakin meluas. Formulasi usulan yang dibawa oleh para pembesar Quraisy pada intinya adalah : Para pembesar Quraisy akan menginstruksikan kepada segenap warga yang belum memeluk Islam untuk melaksanakan ajaran Islam disamping tetap menjalankan ritual peribadatan suku. Sementara ummat Islam dipersilakan melaksanakan ajaran Islam, namun juga harus menjalankan peribadatan suku Quraisy. Inilah konsep toleransi yang diusung oleh para pembesar suku Quraisy, yang hendak ditawarkan kepada ummat Islam.

Para pembesar Quraisy dengan percaya diri berangkat menghadap Rasulullah. Menawarkan konsep toleransi 'versi mereka'. Dan singkat cerita, ternyata usulan tersebut ditolak oleh Rasulullah SAW, dengan dalil 'lakum dinukum waliyadin'. Untukmu agamamu, untukku agamaku. Tidak dipercampurkan. Bahkan ketika pembesar Quraisy menyatakan usul,".... setidaknya, ketika kami pengadakan perayaan, maka harapan kami ummat Islam ikut merayakan .... dan ketika ummat Islam merayakan hari raya, kami-pun bersedia ikut merayakan ... ", Rasulullah SAW - pun menolak klausul tersebut.

Ada perbedaan paradigma  ihwal tolerasi. Satu sisi, para kaum jahiliyyah Quraisy, menyatakan bahwa toleransi versi mereka adalah saling ikut merayakan perayaan agama yang ada. Sementara bagi ummat Islam, toleransi versi Rasulullah Muhammad SAW adalah surat Al Kafirun ayat 6. Cukup. [] haris fauzi, 26 februari 2020.

Thursday, February 06, 2020

Selisik, Republika, Kenisah, dan lainnya

19 July 2005
Menulis dengan Ikhlas


NOTE: Awalnya tulisan ini dimaksudkan sebagai ucapan selamat pada Haris Fauzi yang telah menulis 'Kenisah' sebanyak 100 buah. Paragraf terakhir merupakan modifikasi dari email seorang kawan lama. Dengan berbagai revisi, jadilah versi untuk Selisik, dimuat Republika pada 17/07/05.

>> Anwar Holid


SAYA rutin menerima posting bertajuk 'Kenisah.' Penulisnya Haris Fauzi, seorang pekerja pabrik motor. Pada posting '100 Tulisan' dia memperingati bahwa Kenisah sudah mencapai 100 buah. Posting semacam itu membuktikan bahwa menulis bisa merupakan aktivitas yang ikhlas, tanpa harapan imbalan apa pun selain demi kepuasan diri sendiri, mencatat hal penting, layak dimaknai dalam hidup seseorang. Menulis lebih merupakan cara menghadapi hidup, dilakukan karena orang butuh melepaskan emosi, menuliskan ide maupun idealitas dalam dirinya.

Bila hendak menulis (saja), medianya bisa apa pun, mulai dari email, milis, blog, sampai yang ekstrem, seperti tubuh, bantal, kain, dinding. Tulisan semacam itu, yang bermunculan di web, pamflet, newsletter, atau zine, secara otomatis mendewasakan penulis, pembaca, dan tulisan. Keduanya bisa berinteraksi langsung, tanpa sungkan, dengan begitu medan maknanya
pun bisa terjadi dengan baik.

Richard North Patterson di Writer's Digest pernah memberi saran, 'Menulislah terus-menerus, dalam skedul disiplin yang sesuai dengan hidup Anda. Jika bisa mengusahakan menulis bagus lima halaman per minggu, di akhir tahun Anda akan punya 250 halaman. Itu cukup bagus buat seorang penulis.' Halaman setebal itu tentu bisa menampung cukup banyak kisah, penjelajahan, atau argumen---meski harus diakui tidak berarti menulis selinear itu.

Dahulu saya pernah dengar seorang redaksi majalah, bilang begini, 'Tidak usahlah terlalu bangga karena bisa nulis. Menulis itu biasa saja, tidak beda dengan mencangkul, misalnya. Kalau tulisanmu dimuat, jangan berharap semua orang bakal baca tulisan itu. Jangan cemberut kalau kawan dekat tidak baca. Percayalah, koran, majalah, laku bukan sekadar karena artikel atau berita, tapi lebih karena iklan dan lowongan kerja. Dibaca redaktur, layak muat, itu sudah cukup. Dibaca orang banyak, itu poin lebih. Direspons, dikritik, artinya tulisan itu punya pengaruh.' Dia bukan hendak merendahkan tulisan, profesi, atau diri sendiri, tapi
hendak menyatakan tulisan itu setara dengan aspek kehidupan lain.


TAPI TENTU semua ada gunanya, karena tak ada yang tercipta sia-sia; termasuk soal menulis. Ada yang menulis karena ingin mendamaikan diri, melakukan terapi; bersenang-senang, membahagiakan orang, mencari nafkah, mempertaruhkan hidup dalam dunia kata. Ada yang amatir, profesional, atau sekadar coba-coba, kalau bukan hendak bertualang. Ada yang dari kecil berkarya, tapi ternyata mati muda. Ada yang memulai di usia remaja, setelah dewasa ternyata bosan atau sakit, setelah itu kembali lagi. Ada yang baru mulai ketika tua, tapi karyanya matang alamiah.

Seperti hidup, dunia tulis-menulis juga misterius. Ada penulis yang kerap tak menerima honor atau royalti; sebagian bernasib baik, dibayar tertib penerbit/media massa---tentu saja karena berkah dan hubungan baik. Ada yang menganggap tulisan bagai berhala, tak rela kalau direndah-rendahkan; lainnya beranggapan tulisan harus dilupakan, tidak peduli kalau dibajak, disalin, disebar-sebarkan. Ada yang menulis begitu rumit, sampai pembaca paling serius pun tidak paham; tapi dia tidak lelah menulis, sebab mendapat kebahagiaan dari sana. Ada yang berusaha sederhana, meski kadang-kadang masih melakukan kesalahan. Ada yang menggunakan tulisan untuk menyerang, mengelabui, membangga-banggakan diri. Kadang-kadang tulisan dibuat untuk membela diri, membela rezim, membelokkan kebenaran, menyembunyikan kesalahan. Bisa juga sengaja diciptakan untuk menjatuhkan atau menyenang-nyenangkan selera tertentu. Tulisan bisa dipertaruhkan untuk menenangkan kegelisahan, memantapkan iman, menciptakan kenyamanan, menemukan kebenaran. Sebagian membuat orang tertawa, senang, bahagia; lainnya membuat pembaca getir, sedih, mengganggu psikis.

Tulisan bergantung pada cara pandang penulis terhadap dunia; tulisan adalah wujud pandangan terhadap kompleksitas hidup. Maksudnya bergantung benar pada niat, untuk apa ia menulis. Pembaca boleh berharap apa pun pada tulisan, sebab metodenya pun tak terbatas sekaligus bisa dijelaskan, dikritisi, memiliki model, motif, bisa ditelusuri. Bisa jadi ia memuaskan dahaga rasa ingin tahu. Mewakili sebagian hasrat pada sesuatu, memberi opini dan informasi, penekanan, alternatif, sudut padang.

Jargon 'tulisan yang ikhlas' barangkali bombastik. Tapi mari berprasangka baik; ciri-cirinya antara lain saat dibaca, kita tahu tulisan tersebut tanpa pretensi, begitu dekat, tak berjarak. Kalau beruntung, kadang-kadang kita diingatkan oleh tulisan itu, tapi lain kali lupa karena tak sempat dibaca, terabaikan oleh banyak alasan. Seperti kita bisa secara mengejutkan dapat tulisan yang sangat menggugah. Meski tak bisa mengira-ngira kapan akan dapat pelajaran, mendapat hal berharga dari tulisan; tapi begitu terjadi, asupan itu sulit sekali lepas dalam diri kita, tertetak, barangkali untuk selamanya. Frank Gannon, penulis All About Man, memberi nasihat bagus tentang menulis tulus itu. Katanya, 'Pikirkanlah selalu seorang teman baik---cukup baik sampai Anda pasti tak akan jemu---membaca yang Anda tulis.'

Menulis dengan ikhlas itu barangkali mirip kisah kerendahan hati seorang penulis yang ditanya kenapa tidak juga menerbitkan buku agar orang banyak mendapat pelajaran, dia dengan lesu menjawab, 'Sebenarnya, setelah mengalami penerangan budi, aku melihat tulisanku mirip tumpukan rumput....'[] 1:40 AM 7/18/05

| kontak: wartax@yahoo.com