Monday, May 28, 2007

kenisah : empat kumpulan puisi

EMPAT KUMPULAN PUISI
 
Dalam liburan cukup panjang (long week end) kemarin rupanya agak kurang beruntung nasib saya. Berangkat kesiangan dari Bogor hendak ke Jakarta, dan masuk waktu dzuhur  tiba di kawasan Monas-Gambir. Kami mampir dahulu ke mesjid Istiqlal. Habis kultum, kami meluncur hendak ke Taman Ismail Marzuki ... namun mampir dulu cari makan, maklum anak - anak sudah lapar rupanya.
 
Lewat pukul dua siang barulah kami menginjakkan bumi parkiran Taman Ismail Marzuki. Apesnya, ternyata Planetarium --tujuan awal kami-- sudah tutup sejak jam satu siang. Dan gedung pertunjukannya bahkan sudah tutup cukup lama karena perangkat tontonannya rusak. Ya sudah, kami menyusur jalanan di TIM, maju terus pantang mundur. Toh masih ada beberapa wahana lagi.
Apes lagi, karena pas hendak menonton pertunjukan teater 'Pinokio' di Teater Kecil yang gedungnya baru itu ... ternyata tiketnya sudah habis. Untungnya anak - anak nggak ngresulo.
 
Harapan satu - satunya adalah kios buku di sayap kanan. Ini wahana menarik buat saya. Sudah bagus sekarang, --setidaknya dibandingkan sepuluh tahun lalu saat saya terakhir ke situ. Berjualan buku - buku langka, termasuk jualan VCD petunjukan - pertunjukan yang sempat direkam di TIM. Bagus, namun hari itu saya kurang tertarik dengan VCD karena beberapa hari sebelumnya saya sudah membeli dua judul VCD seri BBC : dokumentasi Hiroshima dan sejarah teknologi angkasa luar.
 
Dan lagian, kala itu saya memang sedang kepincut dengan buku. Di sana ada kumpulan sastra 'Bunga rampai Pelangi', buah tangan Sutan Takdir Alisjahbana. Dua jilid cetakan baru, ilustrasi baru. Saya sudah punya sejak lama, tentunya edisi lama dan ilustrasi lama. Dan akhirnya saya membeli empat buku, kumpulan puisi semuanya.
 
Ibu itu datang, membawa sebuah bungkusan, datang jauh dari Zagreb.
Ibu itu datang, membawa bungkusan, berisi sepotong kepala,
dan berkata kepada petugas imigrasi yang memeriksanya:
"Ini anakku"
..........
('Zagreb' - Goenawan Mohamad; Misalkan Kita di Sarajevo, penerbit Kalam 1998)
 
'Kalam' setahu saya adalah majalah budaya, dan sesekali merilis bonus atau menerbitkan buku. Dan salah satu buku yang diluncurkan di tahun 1998 adalah kumpulan puisi dari Goenawan Mohamad yang hebat ini. Judul bukunya 'Misalkan Kita di Sarajevo', melengkapi 'Asmaradana' yang sudah saya miliki. Sejak lembar - lembar pertama kita langsung disuguhi untaian kata yang demikian kuat, tajam, luas, tak bertepi. Karakter khas Goenawan Mohamad, dalam pandangan saya mirip bikinan Albert Camus.
 
Dunia sekarang ini sedang sakit, ribut, porak poranda
Aku yang hidup terbelenggu fajar dan senja hari
Tak pernah faham seluk-beluk undang-undang planet yang kabur
.....
('Di Depan Singgasana Nabi'- Dr.M.Iqbal; Iqbal - Pemikir Sosial Islam dan Sajak - Sajak-nya; penerbit Pantja Simpati 1986)
 
Buku kedua adalah terbitan Pantja Simpati. Ini dulu banyak menerbitkan buku bermutu, tapi terakhir lebih sering mencetak kalender, bukunya kurang laku. Buku karya Sir Walter Scott (Ivanhoe) dan Anton Chekov (kumpulan cerpen) milik saya adalah terbitan Pantja Simpati.
 
Iqbal, orang Pakistan, penyair ahli religi, filsafat, dan metafisika. Dalam pandangan saya dia adalah seorang anti-kapitalis. Karena hampir sebagian besar  tulisannya disini berisi ungkapan ihwal ketidaksetujuan terhadap ekspansi kapitalisme Eropa. Buku ini merupakan saripati pemikiran Iqbal dalam ihwal masalah sosial islam berikut kutipan - kutipan sajak-nya, diedit oleh Djohan Effendi dan Abdul Hadi WM. Karya hebat Iqbal sebenarnya adalah 'JavidNama' dan 'Asrar I Khudi'.
 
....
Usahakan selalu menandjak kedudukanmu.
Usahakan kenal satu mentri dan usahakan djadi selirnya.
Sambil djadi selir mentri tetaplah djadi selir lelaki yang lama.
......
('Pesan Pentjopet Kepada Patjarnya - WS.Rendra1967; Djakarta Dalam Puisi Indonesia - Ajip Rosidi - Dewan Kesenian Djakarta - 1972)
 
Jakarta di tahun 1972, pernah menerbitkan kumpulan puisi tentang dirinya. Ini yang saya tangkap dari buku ketiga. Berisi kumpulan puisi tentang metropolis Jakarta pada saat ber-ulang tahun ke 445. Dikumpulkan oleh Ajip Rosidi, nama yang sudah tak asing lagi. Bejibun puisi dirangkai dalam buku tersebut, dan yang paling asyik bagi saya  adalah puisinya Goenawan Mohamad, tetapi Rendra banyak berkisah tentang sisi 'munafik'  Jakarta. Polos dan telanjang, khas gaya Rendra. Bahasa dan kalimatnya agak bikin risih, menyengat. Ilustrasi sketsa-nya dibuat oleh Oesman Effendi. Coret - coret tentang Jakarta.
 
Yang terakhir adalah 'Tebaran Mega', kumpulan karya-karya ST Alisjahbana dikala beliau ditinggal wafat Istrinya. Membaca buku tipis ini rasanya seperti duduk di kursi tua yang dingin kayunya, sendirian dikala menjelang kelam, dengan angin yang agak leluasa menembus jendela lantas menerpa muka kita. Teduh, duka, bersahaja.
 
Sampai pagar aku diantarkannya,
Sepi sunyi ia pulang kembali,
Mengintailah aku dari celah daun
Meninjau senja menghamparkan kabur.
('Di Tepi Pagar'- ST.Alisjahbana ; Tebaran Mega, Dian Rakyat1935).
 
Rupanya saya harus mencabut kembali ucapan saya, ternyata saya sedang beruntung hari itu. Tidak apes. Empat kumpulan puisi ini buktinya.[] haris fauzi - 28 Mei 2007


salam,
haris fauzi
 


No need to miss a message. Get email on-the-go
with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.

Friday, May 25, 2007

kenisah : tiga teori

TIGA TEORI
 
Ini bukan membahas masalah mitos, soalnya kalau mitos tentu banyak sekali versi dan urutannya. Dalam tulisan ini saya mencoba mengajak ngobrol tentang beberapa teori ihwal awal muasal manusia, atau manusia awal. Soalnya, tercatat oleh saya, bahwa kini setidaknya ada tiga macam teori tentang asal muasal manusia, maksudnya manusia awal ini. Mungkin seharusnya lebih, tapi biarlah saya ngocol tentang tiga saja dulu.
 
Teori pertama dan diyakini oleh kebanyakan orang adalah bahwa manusia adalah keturunan Nabi Adam As. Adam dan Hawa berdua semula adalah warga langit, yang mana akhirnya diturunkan ke bumi dan akhirnya beranak - pinak di bumi. Jadi mereka berdua adalah nenek moyang manusia yang sekarang memenuhi permukaan bumi ini.
 
Turunnya Adam As ini juga menguak beberapa kontroversi, ada yang menyebutkan bahwa mereka berdua dihukum, dan turun ke bumi sebagai ter-hukum. Ada yang menyampaikan bahwa Adam turun ke bumi dengan gagah perkasa karena mendapat anugerah dan titah sebagai raja alias khalifah wakil Tuhan. Agak sedikit beda antara manusia terhukum dan manusia calon raja.  Mungkin kedua alasan ini benar. Yang jelas, mereka berdua memang telah ditakdirkan untuk turun ke bumi.
 
Dalam kitab suci juga dilengkapi kisah selanjutnya. Salah satunya adalah dua anaknya yang berprofesi sebagai petani dan peternak. Jadi agak salah bila ada yang beranggapan bahwa pelacur adalah profesi tertua, yang ternyata menurut kitab suci ternyata petani dan peternak-lah profesi yang sudah tua itu.
 
Teori ini didukung oleh kisah - kisah dalam kitab suci dan beberapa mitos (astaga...! rupanya masalah ini memang tidak akan bisa lepas dari mitos...). Teori ini lebih banyak di-imani ketimbang diyakini lewat fakta empiris. Setuju. Muatan kitab suci memang masih terlalu jauh untuk dilahap semuanya, terlalu luas, sehingga masih banyak item - item dalam kitab suci yang membutuhkan waktu untuk dibuktikan secara ilmiah. Dan, sebaiknya di-imani saja sebagai pengakuan keterbatasan manusia. Agar tidak gegabah.
 
Teori kedua, yang paling tidak sudah dengan sangat mantab diyakini oleh seorang brewok, yakni teori evolusi Charles Darwin. Darwin bilang bahwa manusia berasal dari kera, alias kera-lah moyang manusia. Teori Darwin ini didukung oleh banyak temuan purbakala, mungkin temuan yang mendukung teori ini jauh lebih ilmiah ketimbang teori pertama tadi. Tetapi sekian banyak itu belumlah cukup untuk meyakinkan orang sedunia bahwa mereka adalah keturunan kera. Masih ada cukup banyak 'rantai yang hilang', itu istilah untuk melemahkan teori ini. Dan kedua teori ini malu - malu kucing untuk dikonfrontasikan. Soalnya memang tidak apple to apple. Perbedaan utama dari kedua teori itu memang terletak pada sandaran utamanya; kitab suci yang harus di-imani, dan satunya fakta ilmiah yang harus dipercaya. Keduanya sama rentannya. Namun bisa jadi keduanya sama - sama fanatik.
 
Teori paling baru saya dengar sekitar dua tahun lalu. Mungkin saya terlambat, tapi biarlah. Secara global teori ketiga menyampaikan bahwa manusia purba setengah kera sudah sejak lama menghuni bumi, dan mereka masihlah dianggap sebagai hewan karena kelakuan dan pekertinya yang masih belum ter-'manusia'-kan. Masih belum beradab,  purba dan hidup ala hukum rimba, mungkin malahan masih telanjang dengan bangga.
 
Baru setelah Adam dan Hawa turun dari langit dan mengajarkan mereka ihwal peri-kemanusiaan, maka berangsur - angsur mereka berubah menjadi manusia dan dimanusiakan. Dalam kasus ini peran Adam sebagai Nabi yang meningkatkan kemuliaan manusia tidak terbantahkan lagi.
Dalam teori ini, sangat dimungkinkan terjadi perkawinan antara manusia langit (keturunan Adam + Hawa) dengan keturunan bumi (manusia purba), dan melahirkan manusia - manusia yang telah dimanusiakan.
Lagi, teori ini lemah dari sandaran keimanan, karena setahu saya belum ada kitab suci yang menuliskan demikian. Belum ada fatwa ulama yang menjelaskan seperti itu, kalau dari budayawan mungkin malah sudah banyak merilis cerpen - cerpen yang memuat hal ini. Juga bukti ilmiahnya setahu saya hanya mendompleng dari bukti teori Darwin yang masih rentan itu.
 
Dalam kerangka pikir saya, teori pertama adalah teori yangsudah menancap kuat dalam pikiran saya. Padahal teori tersebut hanyalah --sekali lagi-- bersandar kepada wacana kitab suci. Saya meng-iman-i hal tersebut, sembari mencari - cari referensi ihwal pembenaran dari sudut ilmiahnya.
 
Sementara teori kedua, tertancap kuat dalam benak saya sebagai bentuk yang terlawan, karena saya bukanlah keturunan kera. Ini membuat saya lebih antipati kepada Si Brewok Darwin. Namun, celakanya, sepengetahuan saya, baru teori inilah yang lebih kuat dalam sandaran fakta ilmiahnya. Dan saya tidak bisa memungkiri hal ini dengan naif.
 
Tentang teori ketiga, saya menganggap bisa jadi teori 'baru' ini adalah bukti lahirnya sifat akomodatif untuk fusi antara teori pertama dan teori kedua. Semacam 'handshake code'. Dan memuat rekayasa skenario yang paling 'masuk akal'. Terakhir, bagi saya, ketiganya adalah pergumulan antara iman, ilmu, dan sejarah yang harus disikapi dengan arif.[] haris fauzi - 25 Mei 2007


salam,
haris fauzi
 


Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.

Monday, May 14, 2007

kenisah : pelajaran dari Turki

PELAJARAN DARI TURKI
 
'...Turki berupaya keras menjual dirinya pada turis sebagai sebuah negara modern. Pantai - pantai nudis, toko-toko dengan barang-barang global yang membosankan, kartu-kartu pos, tempat-tempat disko-- semua ini merupakan barang - barang bekas dan secara budaya merusak. Padahal warisan mereka sendiri, arsitektur dan seni memasak, masa lalu mereka, merupakan peninggalan dengan mutu kelas pertama...' ( 'Living Islam' - Akbar S.Ahmed).
 
 
Saya belum pernah ke Turki. Tetapi katanya keturunan ras Turki adalah para pelopor dan penjelajah, yang berkelana dan melakukan pelaklukan hingga tanah Rusia. Hingga ada wilayah taklukan yang kini disebut Turkistan.
Ras Turki juga disebut - sebut sebagai ras yang gemar 'mengancam' tanah Eropa, dan pernah dijuluki dengan 'si pengancam dari timur'. Hal ini setidaknya terbukti ketika masa dinasti Usmaniyyah yang asli Turki berhasil melebarkan sayapnya hingga Eropa, bahkan Sultan Muhammad II 'Sang Penakluk'  --yang lebih populer dengan nama Turki-nya : Mehmet II--- berhasil menundukkan kota Konstantinopel pada tahun 1453 dan merubah namanya menjadi Istanbul. Juga tahun 1526 pasukan Sultan Sulaiman juga sudah berdiri di pintu gerbang kota Wina, namun gagal menundukkannya. Dan tidak ketinggalan, pada ajang pesta sepak bola piala dunia, kesebelasan Turki juga mampu menundukkan banyak kesebelasan Eropa.
 
Suatu ketika nabi Muhammad SAW pernah bersabda;"....Kelak di masa mendatang, ummat Islam akan memiliki pasukan yang demikian hebat, hingga pasukan itu dapat menaklukkan Konstantinopel...".
Telah banyak pasukan yang hendak mewujudkan sabda tersebut, namun Sabda Rasul itu baru diwujudkan oleh pasukan Mehmet II dari dinasti Usmaniyyah. Pasukan Turki.
 
Dinasti Usmaniyyah memerintah dari pusat Turki hingga timur menjelang Persia, dan ke barat mendekati Austria, sejak tahun 1300-an selama  lebih 600 tahun. Mereka mengalami masa kejayaan di segala bidang; arsitektur, astronomi, kepemerintahan, kecendekiaan, sastra, dan militer. Mesjid Sulaiman merupakan bukti kejayaan arsitektur, karena lebih megah daripada St.Sophia. Sang Sultan memiliki jadwal khusus untuk di sidang oleh rakyat dan para ulama secara rutin dan demokratis, hingga seorang sultan agung seperti Mehmet II pernah harus menjalani sidang yang panjang karena surat petisi rakyatnya. Ada sekolah 'karir' bagi rakyat agar mampu duduk di jenjang profesi yang tinggi, jadi tidak mutlak harus bergelar ningrat untuk jadi pamong praja atau panglima. Para penyair gak terhitung jumlahnya. Ratusan buku diterbitkan dan perpustakaan ada dimana - mana. Apa lagi ?
 
Kekalahan Usmaniyyah Turki pada perang dunia I berakibat fatal. Dinasti Usmaniyyah runtuh pada periode perang dunia pertama. Namun bukan hanya karena kalah perang, ternyata masa - masa akhir dinasti banyak mencoreng arang. Sultan mulai banyak memelihara selir, bahkan dikabarkan Sultan Ibrahim pernah membunuh lebih dari dua ratus selirnya seketika, mungkin karena bosan. Istana sultan yang  penuh hiasan kaligrafi keemasan, kali itu lebih banyak ditinggalkan Sultan karena Sultan lebih suka memandang ratusan selir yang telanjang berseliweran ketimbang menatap kaligrafi tersebut. Sultan terlalu asyik di keputren ditemani bergalon-galon anggur. Urusan kenegaraan diserahkan kepada birokrat yang berjalan tanpa pengawasan sehingga korupsi merajalela. Masjid di istana yang demikian megah hanya dikunjungi oleh tukang kebun dan pelayan. Belum lagi para politikus yang sering silang - sengketa dan terpecah - belah karena kepentingan individu. Gak karu - karu-an pokok-e.
 
Pantaslah seorang sekuler bernama Mustafa Kemal merasa muak dengan dinasti tersebut. Dengan revolusi sekulernya, Kemal menyulap Turki menjadi negara western, kiblat yang berbalik 180 derajat dengan cepat. Ibukota digeser dari Istanbul ke Ankara. Mesjid St. Sophia disulap menjadi museum. Ya. Pesulap itu bernama Kemal Attaturk, menyingkirkan dinasti Usmaniyyah dengan jargon 'dinasti harem, dinasti anggur, dinasti korup'. Proses sulapan yang dimulai tahun 1920-an itu cukup berlangsung sepuluh tahun. Dalam rentang itu Turki sudah ter-reformasi menjadi negara sekuler, dan di tahun 1938 Kemal 'Bapak Turki' --sang pesulap-- sudah boleh mati dan dikubur. Suatu masa yang cepat, bandingkan dengan masa reformasi bangsa kita yang berjalan tertatih - tatih dan luntang - lantung seakan tanpa tujuan.
 
Tidak berhenti disitu perjalanan bangsa Turki. Paska milenium 2000, haluan sekuler mulai terancam. Partai kanan mulai naik daun. Mungkin sudah banyak rakyat Turki yang mulai rindu dengan kemuliaan dan kejayaan dinasti Usmaniyyah. Ideologi sekuler Kemal yang semula berdiri tegak dengan jargon meruntuhkan Usmaniyyah, kini berbalik : Kemal di-cap dengan pelopor gaya kebarat - baratan yang  alkoholik dan homoseksual. Entah apa lagi nantinya. Berita - berita dunia internasional tidak dapat berbohong masalah ini. Bangsa Turki sedang memulai untuk menghela keretanya untuk berpindah kiblat lagi.
 
Rupanya, perubahan yang dilakukan Kemal lebih condong kepada gaya dan tren sahaja. Ideologi sekuler Kemal mungkin berdiri tegak --setegak patung - patung Kemal di banyak perempatan jalan protokol. Namun ideologi western tersebut tidak memiliki pondasi yang kuat. Jadi berkesan semacam peniruan budaya. Tidak mengakar kuat. Bagaimana-pun bangsa Turki berakar budaya timur, bukan barat. Identitas pribadi inilah yang tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa bisa jadi masa seratus tahun  --sejak 1920-an-- mungkin sudah cukup bagi ideologi sekuler untuk lahir - tumbuh - hingga mati dan di kubur di Turki. Walhasil muncullah pertanyaan; 'Akankah bangsa Turki mampu membaca identitas pribadinya ?'.
Belum tentu dan tidak segampang itu. Identitas Usmaniyyah itu sudah tercampak, tercoreng, dan lecek tergilas proses westernisasi. Susah sekali melacaknya.
 
Walau bagsa Indonesia tidaklah identik dengan bangsa Turki, mulai ada kisah Mataram Hindu yang tentunya berbeda dengan dinasti Usmaniyyah. Juga perjalanan panjang penjajahan di pertiwi yang berbeda dengan kekalahan Turki di perang dunia pertama, perjuangan kemerdekaan Indonesia yang juga berbeda hingga proses reformasinya, ...Namun menurut hemat saya, bangsa kita harus banyak belajar dari perjalanan bangsaTurki ini. Belajar bahwa perubahan tanpa pondasi identitas yang kuat mungkin kelak akan membingungkan kita sendiri.[] haris fauzi - 14 Mei 2007


salam,
haris fauzi


Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news, photos & more.