Friday, December 30, 2011

kenisah : resolusi atau revolusi

Dalam ingatan saya, tahun ini kepala saya nyaris meledak dijejali dengan banyak hal yang ujung - ujungnya membuat muak. Apalagi bila bukan kasus negara yang bangkrut dikarenakan pesta - pora bancakan koruptor.  Mengapa membuat kepala nyaris pecah ?... Tak lain adalah karena saya merasa sering membayar pajak. Dimana - mana saya dikenai pajak. Dan duit pajak itu kini nyaris habis ditilep. Hingga negara perlu berhutang, dan ini juga ditilep.

Lantas mengapa membuat muak ? Aksi kampanye 'sok suci' penggalangan pajak yang digadang - gadang sepanjang jalan dan sepanjang media membuat perut ini mules. Seakan warga negara yang tidak membayar pajak adalah residivis-kurap, sementara penilep uang negara ternyata masih bebas berkeliaran dan menjadi selebriti di televisi - televisi.

Serahkan permasalahan kepada ahlinya. Demikian kata nabi. Di negara ini, yang disebut dan dinilai ahli dalam hal penanganan korupsi sejauh ini ada beberapa. Memang, korupsi disini menjadi urusan KPK - elemen yudikatif - dan tentunya polisi, mereka-lah yang sudah selayaknya menangani. Namun akhir cerita - cerita inilah yang juga membuat muak. Entah apa yang sudah mereka lakukan, yang jelas pelaku korupsi masih menjadi selebriti yang dibiarkan berbelanja ke luar negeri.

Korupsi itu seperti super oktopusi. Kaki - kaki gurita yang menyelinap sudah kemana - mana. Anda bisa menyaksikan dalam sampul buku kontroversi yang cukup populer beberapa tahun silam karena menyangkut tahta. Menyangkut sektor manapun, tidak melulu di satu sangkutan, perilaku korup ini ada dimana - mana dan tanpa ada kamuflase sama sekali.
Sejarah bangsa kita tahun ini membuktikan, yangmana kita semua bisa menjadi saksi juga, bahwa betapa beratnya menghentikan perilaku korupsi ini. Sangat berat tak terhingga. Dan apapun, memang terasa susah membuktikan seakan tiada ujung. Pihak yudikatif telah tertatih - tatih mencoba mengurai untuk menjatuhkan hukuman alakadarnya. Tetapi, berkali gagal belaka. Apapun alasannya, mereka telah gagal. Dan duit rakyat masih digarong habis - habisan.
Bahkan lebih gila lagi, konon perilaku korup juga terindikasi dilakukan oleh para pejabat dari kalangan yudikatif sendiri. Kita pasti masih mengingat kepopuleran kasus mafia peradilan, sebuah kasus yang demikian populer karena tidak kunjung tuntas. Saya yakin Tuhan melaknat perilaku ini.

Menengok langkah 'jompo' kaum yudikatif di atas,  ada inisiatif bagus, yakni menjadikan peran lembaga ketiga untuk menjadi penengah atau sekedar penyegar suasana. Dalam sebuah kasus korupsi, maka --singkat cerita-- dilakukanlah audit oleh pihak ketiga. Namun apa yang terjadi ? Bahkan pelaksanaan audit oleh lembaga yang kuat-pun seakan menjadi bukti, bahwa kegagalan mereka malah menjadi syak wasangka bahwa audit tersebut hanya berupa lipstik dan tidak membedah kasus korupsi dengan tajam. Ya Tuhan, betapa kuatnya sindikat korupsi negeri ini. Lembaga kuat itu-pun hanya mampu berperan seperti itu. Membaca berita tentang ini, hanya membuat geregetan saja.

Ketika lembaga super power yang melakukan audit ternyata menghasilkan laporan yang tidak mumpuni, kemungkinannya hanya dua. Kemungkinan pertama adalah pelaksananya yang tidak kredibel. Sementara kemungkinan kedua adalah lembaga itu sendiri tersangkut dengan perkara yang ada, menjadikan audit yang tidak independen. Demikian simpulan sarkartis dari berita - berita media mengangkat hal tersebut. Maka urusan penyelesaian korupsi ini hanya menjadi pantun berandai - andai.

Seorang teman pernah berujar, bahwa bila hal sudah membudaya dalam suatu masyarakat, maka aksi polisionil dan yudikatif menjadi kurang efektif. Bila judi sabung ayam sudah mengakar dalam sebuah kampung, maka biar-pun setiap hari dilakukan penggerebekan, prilaku judi sabung ayam ini masih saja berlangsung. "Seperti melarang orang jawa makan nasi dan menggantikannya dengan sereal", keluh sahabat.

Setelah urusan yudikatif dan audit, mungkin kita juga kesulitan berharap pada korps polisi. Sejarah kepolisian juga tercoreng ketika terindikasi melakukan keberpihakan terhadap pemodal. Dalam buku gerakan bawah tanah, keadaan ini sering diistilahkan sebagai 'kinglet'.Beberapa kasus polisi kontra rakyat menciptakan kesan kinglet dan menguatkan dugaan, bahwa dalam hal per-korupsi-an, bisa jadi mereka juga berpihak kepada pemodal.
Konon hal ini karena, lagi - lagi tuduhan, bila pihak polisionil melakukan kegiatan penggalangan dana untuk kebutuhan operasional, maka keberpihakan terhadap pemodal tidak bisa dihindarkan. Karena bagaimana-pun, pemodal adalah pemilik dana yang dalam kasus ini selalu melakukan pemesanan perlindungan. Perlindungan terhadap siapa ? Terhadap siapapun, baik terhadap maling, rampok, garong... ataupun rakyat yang mengganggu bisnis sang pemodal. Entahlah, itu cuma tuduhan, begitu kata televisi.

Suatu ketika saya bersua dengan persimpangan yang demikian carut - marut. Disebabkan oleh perilaku kendaraan transportasi masal yang berjubel mengais penumpang tanpa ampun berhenti sembarangan. Nampak petugas polisi namun tidak melakukan sesuatu yang berarti. Maka timbullah pertanyaan sebagaimana media menanyakan hasil audit korupsi seperti di atas. Kemungkinan pertama adalah petugas tersebut tidak kredibel. Kemungkinan kedua petugas tersebut tidak independen dengan para sopir angkutan umum tersebut. Entahlah, lagi - lagi entahlah.

Namun bila tahun ini memang keadaannya demikian, mungkin kita bisa berharap pemberantasan kasus korupsi ini akan sedikit mengalami kemajuan di tahun berikutnya. Yang perlu kita ingat adalah beberapa tahun lagi merupakan masa emas kampanye untuk pemilihan presiden. Dan, bila --siapapun-- berhasil menjadi tokoh pemberantas korupsi, maka dia mendapat keuntungan untuk promosi suara di mata rakyat. Dan sekali lagi kata teman saya : mata rakyat sudah menangis dengan air mata darah.[] haris fauzi - 29 desember 2011

kenisah : resolusi atau revolusi

RESOLUSI ATAU REVOLUSI

Dalam ingatan, tahun ini kepala saya nyaris meledak dijejali dengan banyak hal yang ujung - ujungnya membuat muak. Apalagi bila bukan kasus negara yang bangkrut dikarenakan pesta - pora bancakan koruptor.  Mengapa membuat kepala nyaris pecah ?... Tak lain adalah karena saya merasa sering membayar pajak. Dimana - mana saya dikenai pajak. Dan duit pajak itu kini nyaris habis ditilep. Hingga negara perlu berhutang, dan ini juga ditilep.

Lantas mengapa membuat muak ? Aksi kampanye 'sok suci' penggalangan pajak yang digadang - gadang sepanjang jalan dan sepanjang media membuat perut ini mules. Seakan warga negara yang tidak membayar pajak adalah residivis-kurap, sementara penilep uang negara ternyata masih bebas berkeliaran dan menjadi selebriti di televisi - televisi.

Serahkan permasalahan kepada ahlinya. Demikian kata nabi. Di negara ini, yang disebut dan dinilai ahli dalam hal penanganan korupsi sejauh ini ada beberapa. Memang, korupsi disini menjadi urusan KPK - elemen yudikatif - dan tentunya polisi, mereka-lah yang sudah selayaknya menangani. Namun akhir cerita - cerita inilah yang juga membuat muak. Entah apa yang sudah mereka lakukan, yang jelas pelaku korupsi masih menjadi selebriti yang dibiarkan berbelanja ke luar negeri.

Korupsi itu seperti super oktopusi. Kaki - kaki gurita yang menyelinap sudah kemana - mana. Anda bisa menyaksikan dalam sampul buku kontroversi yang cukup populer beberapa tahun silam karena menyangkut tahta. Menyangkut sektor manapun, tidak melulu di satu sangkutan, perilaku korup ini ada dimana - mana dan tanpa ada kamuflase sama sekali.
Sejarah bangsa kita tahun ini membuktikan, yangmana kita semua bisa menjadi saksi juga, bahwa betapa beratnya menghentikan perilaku korupsi ini. Sangat berat tak terhingga. Dan apapun, memang terasa susah membuktikan seakan tiada ujung. Pihak yudikatif telah tertatih - tatih mencoba mengurai untuk menjatuhkan hukuman alakadarnya. Tetapi, berkali gagal belaka. Apapun alasannya, mereka telah gagal. Dan duit rakyat masih digarong habis - habisan.
Bahkan lebih gila lagi, konon perilaku korup juga terindikasi dilakukan oleh para pejabat dari kalangan yudikatif sendiri. Kita pasti masih mengingat kepopuleran kasus mafia peradilan, sebuah kasus yang demikian populer karena tidak kunjung tuntas. Saya yakin Tuhan melaknat perilaku ini.

Menengok langkah 'jompo' kaum yudikatif di atas,  ada inisiatif bagus, yakni menjadikan peran lembaga ketiga untuk menjadi penengah atau sekedar penyegar suasana. Dalam sebuah kasus korupsi, maka --singkat cerita-- dilakukanlah audit oleh pihak ketiga. Namun apa yang terjadi ? Bahkan pelaksanaan audit oleh lembaga yang kuat-pun seakan menjadi bukti, bahwa kegagalan mereka malah menjadi syak wasangka bahwa audit tersebut hanya berupa lipstik dan tidak membedah kasus korupsi dengan tajam. Ya Tuhan, betapa kuatnya sindikat korupsi negeri ini. Lembaga kuat itu-pun hanya mampu berperan seperti itu. Membaca berita tentang ini, hanya membuat geregetan saja.

Ketika lembaga super power yang melakukan audit ternyata menghasilkan laporan yang tidak mumpuni, kemungkinannya hanya dua. Kemungkinan pertama adalah pelaksananya yang tidak kredibel. Sementara kemungkinan kedua adalah lembaga itu sendiri tersangkut dengan perkara yang ada, menjadikan audit yang tidak independen. Demikian simpulan sarkartis dari berita - berita media mengangkat hal tersebut. Maka urusan penyelesaian korupsi ini hanya menjadi pantun berandai - andai.

Seorang teman pernah berujar, bahwa bila hal sudah membudaya dalam suatu masyarakat, maka aksi polisionil dan yudikatif menjadi kurang efektif. Bila judi sabung ayam sudah mengakar dalam sebuah kampung, maka biar-pun setiap hari dilakukan penggerebekan, prilaku judi sabung ayam ini masih saja berlangsung. "Seperti melarang orang jawa makan nasi dan menggantikannya dengan sereal", keluh sahabat.

Setelah urusan yudikatif dan audit, mungkin kita juga kesulitan berharap pada korps polisi. Sejarah kepolisian juga tercoreng ketika terindikasi melakukan keberpihakan terhadap pemodal. Dalam buku gerakan bawah tanah, keadaan ini sering diistilahkan sebagai 'kinglet'.Beberapa kasus polisi kontra rakyat menciptakan kesan kinglet dan menguatkan dugaan, bahwa dalam hal per-korupsi-an, bisa jadi mereka juga berpihak kepada pemodal.
Konon hal ini karena, lagi - lagi tuduhan, bila pihak polisionil melakukan kegiatan penggalangan dana untuk kebutuhan operasional, maka keberpihakan terhadap pemodal tidak bisa dihindarkan. Karena bagaimana-pun, pemodal adalah pemilik dana yang dalam kasus ini selalu melakukan pemesanan perlindungan. Perlindungan terhadap siapa ? Terhadap siapapun, baik terhadap maling, rampok, garong... ataupun rakyat yang mengganggu bisnis sang pemodal. Entahlah, itu cuma tuduhan, begitu kata televisi.

Suatu ketika saya bersua dengan persimpangan yang demikian carut - marut. Disebabkan oleh perilaku kendaraan transportasi masal yang berjubel mengais penumpang tanpa ampun berhenti sembarangan. Nampak petugas polisi namun tidak melakukan sesuatu yang berarti. Maka timbullah pertanyaan sebagaimana media menanyakan hasil audit korupsi seperti di atas. Kemungkinan pertama adalah petugas tersebut tidak kredibel. Kemungkinan kedua petugas tersebut tidak independen dengan para sopir angkutan umum tersebut. Entahlah, lagi - lagi entahlah.

Namun bila tahun ini memang keadaannya demikian, mungkin kita bisa berharap pemberantasan kasus korupsi ini akan sedikit mengalami kemajuan di tahun berikutnya. Yang perlu kita ingat adalah beberapa tahun lagi merupakan masa emas kampanye untuk pemilihan presiden. Dan, bila --siapapun-- berhasil menjadi tokoh pemberantas korupsi, maka dia mendapat keuntungan untuk promosi suara di mata rakyat. Dan sekali lagi kata teman saya : mata rakyat sudah menangis dengan air mata darah.[] haris fauzi - 29 desember 2011

 
salam,
haris fauzi
kolomkenisah

Wednesday, December 14, 2011

kenisah : sedikit korup


SEDIKIT KORUP

Alkisah memang diberitakan bertubi - tubi tentang maraknya korupsi di negeri ini. Tetapi fakta membuktikan bahwa di negeri ini terjadi sedikit korupsi. Walhasil sedikit pula jumlah koruptor-nya. Kita tau, bila ada suatu kejadian atau kasus yang disebut korupsi, maka pelaku korupsi tersebut bergelar koruptor. Ketika disinyalir kuat ada transaksi sejumlah dana yang mencurigakan, tidak prosedural, dimana dalam transaksi itu ada pihak penerima dan pemberi berikut deretan penghubungnya yang ber-kong-kali-kong, maka itu masih belum bisa disebut dengan korupsi. Masih jauh dari sebutan itu. Beberapa media massa gencar meniupkan opini korupsi, sementara obrolan rakyat kecil yang tidak mengecap kuliah merasakan dan mengutuk hal itu, namun, sekali lagi, itu hanya opini koran dan perasaan rakyat jelata saja. Tidak lebih. Bahkan ketika nampak di depan mata harta bertaburan yang tidak normal, lantas pemiliknya pergi kabur, dan dengan susah - payah berhasil ditangkap oleh aparat untuk ditahan-pun, pelakunya-pun masih jauh dari predikat 'koruptor'. Kasus itu masih tertimbun jauuuuuh sekali.

Rakyat jelata boleh berharap menunggu penyematan gelar 'koruptor', kalo bisa malah secara instan. Namun apa daya, masih panjang perjalanan yang harus ditempuh untuk menyematkan gelar koruptor tersebut. Tidaklah boleh gegabah. Terburu - buru itu tidaklah baik. Badan pengadil yang seharusnya dikenal sebagai pemberi hukuman-pun, terlihat sangat berhati - hati untuk mengetukkan palu pertanda kasus yang disidang adalah merupakan perkara korupsi. Prinsipnya, kesabaran itu adalah hal utama. Untuk itu saja demikian berhati - hati, apalagi untuk men-vonis pelakunya menjadi predikat koruptor. Mungkin bisa jadi sudah banyak buron atau terdakwa korupsi, namun tidak banyak yang 'pecah telur' menjadi gelar resmi 'koruptor'.

Tak jarang seseorang yang sudah hampir nyata lehernya harus dipenggal gara - gara nilep uang rakyat, maka pisau penggalnya urung digunakan. skenario berbicara lain, maka endingnya-pun bisa berbeda. Kilah yang biasa digunakan kali ini adalah alasan kesehatan dan alasan kehilangan ingatan. Beberapa kasus korupsi yang berjejeran panjang bertalian hingga merasuk ke dewan kehormatan juga seakan terlalu jauh untuk didakwa sebagai kasus korupsi. Belum ada itu namanya banjir kasus korupsi. Itu tidak korupsi. Uang negara memang hilang trilyunan, tetapi, itu bukan karena korupsi. Ya karena hilang. Itu sahaja. Yang penting adalah uang segunung itu kelupaan entah kemana. Dan alasan ini bisa diterima. Beres kan ?

Andai toh ada urusan kurung - mengurung, maka paling sering kejadiannya adalah penyelesaian kurungan untuk si pion. Ketika uang negara hilang, maka pastilah melibatkan banyak peserta 'calon koruptor'. Nah, biasanya kasus itu di-selesai-kan pada pion - pion tertentu. Pion itu orang rendahan. Orang rendahan masuk bui, maka cukup sudah selesailah itu kasus. Padahal, dimana logikanya bila seorang bergaji tiga juta rupiah sebulan ternyata mampu dalam sekejap melenyapkan dana negara milyaran ? Tapi ini bukan urusan logika. Ini adalah urusan main catur. dan ketika pion masuk kotak, maka tidak ada larangan untuk menghentikan permainan. Ini main catur ala pos gardu, bukan ala grand master. Di pos gardu, permainan catur tidak harus sampai selesai dengan skak mat.

Nah, selain itu kebanyakan
ketika kasus raibnya uang negara bernilai trilyunan diusut, masalahnya bisa juga diselesaikan dengan 'ngabar'. Ngabar itu bahasa jawa untuk 'menguap'. Bukan menguap 'angop' karena ngantuk, tetapi menguap menjadi uap. Endingnya kebanyakan adalah 'never ending', dalam arti kasusnya itu berlarut - larut sampai membosankan. Berputar - putar seperti nyala obat nyamuk, lama - lama padam dan tertidur. Ada alternatif ending yang lain yakni paling banter kurungan untuk pion.  Menguap kemana ? kasus itu menguap kemana - mana. Lumer dan hilang. Dan bila ada yang berinisiatif mengangkatnya kembali, maka beliau ini harus bersiap - siap untuk masuk kurungan. Lho ? Kebalikan memang. hal ini wajar, karena penjara disini bukan untuk para koruptor, tetapi untuk para orang usil yang nyentil - nyentil kasus korupsi. Penjara juga untuk maling ayam, copet, dan pemotek spion.

Hanya Tuhan yang mengerti apa sejatinya yang terjadi pada negeri ini. Yang jelas rakyat jelata mengutuk kasus korupsi dan menuntut pembalasan setimpal karena jelas - jelas membangkrutkan negeri. Sementara ketegasan pihak pengadil berpedoman kepada prinsip sabar, yangmana jelas - jelas pihak pengadil memang sangat berhati - hati. Bahkan ketika badan pengadil itu-pun pada akhirnya sempat terlanda jerat berita kasus korupsi, maka mereka-pun bertindak sedemikian sabar dan berhati - hati sehingga apa yang terjadi masih jauh dari harapan. Kalo kata orang kampungan mereka masih banyak 'ngeles'-nya ketimbang hati nurani berbicara. Alih - alih bertafakur dan merenungi hati nurani, mereka masih terlalu sibuk. Dan bila sudah memiliki waktu senggang, mereka memilih menggebuk maling ayam, copet, dan pemotek spion. Nah, bisa dibayangkan, betapa bersihnya negeri ini dari koruptor ! ... Semoga pikiran saya yang salah. [] haris fauzi - 13 desember 2011

---
ilustrasi : the new post-literate


Wednesday, November 30, 2011

kenisah : ceritera tiga berkawan

CERITERA TIGA BERKAWAN

Si Udi, Amat, dan Ari adalah bersebut nama untuk tiga sekawan. Tinggal satu desa bersama - sama menempuh waktu yang dingin. Desa dingin nan seragam. Orang tua mereka-pun bisa dikata seragam profesi, sebagai penggarap lahan. Kadang - kadang paling melenceng menjadi tukang ngarit, pencari rumput galah bakal santapan sapi. Udi, Amat, dan Ari makin seragam aktivitasnya, mencuci kebo bareng satu sungai, nyolong mangga bareng satu kebun, mengaji satu surau. Perbedaannya adalah dalam ragam permainan Si Udi paling cekatan, di surau Si Amat paling pandai mengaji, di hutan Ari paling gagah berani.

Menginjak umur limabelas Si Udi merantau ke kota untuk memulai hidup dengan tujuan bercabang entah sekolah entah bekerja. Tinggal bersama pamannya yang serdadu. Lantas atas kecekatannya dia mampu sekolah dan bahkan berhasil menjadi pegawai negeri. Ringkas ceritera, dengan ketekunannya, Udi dipercaya dan menjadi aparat dengan pangkat tinggi. Pada ujungnya ragam proyek pemerintah dia kendalikan. Setelah itu kita semua tau, uang tak henti mengalir ke koceknya.

Umur tujuh belas Si Ari pergi ke pesisir untuk menguji kenekadannya dengan menjadi kuli pelabuhan. Pelabuhan adalah arenanya berkelahi. Berkat keberaniannya, dia tulen menjadi petarung. Kepangkatan premannya makin menanjak. Genap sepuluh tahun memegang tambang pelabuhan, tak hanya mengutip setoran, kini menjadi penyelundup barang adalah lumrah. Ari menjadi kaya - raya.

Si Amat tak kemana - mana. Tetap di desanya, menggarap sawah tuan bapaknya. Mencangkul menggantikan orang tuanya, membersihkan surau menggantikan guru ngajinya yang merenta. Kehidupannya tidak ada perubahan berarti, datar semata, kecuali ketika berumur tiga puluh tahun menjadi yatim piatu.Walhasil guru ngaji-nya menjadi orang tua kedua, dan surau menjadi rumah keduanya. Seminggu sekali Amat ziarah ke kuburan orang tuanya.

Lebaran, lima tahun setelah kematian orang tuanya, Amat kedatangan tamu istimewa. Si Udi pulang kampung. "Sambang desa", kata Udi. Si Ari seakan tak mau ketinggalan, dia juga pulang kampung dengan suara kerasnya. Maklum, lama berteriak - teriak di pelabuhan. Walhasil Udi, Amat, dan Ari-pun terlibat nostalgia. Udi banyak berceritera tentang gemerlapnya kota, betapa proyek - proyek menghasilkan gepokan duit, dan tak lupa sedikit pamer tantang mobil mewahnya.

Ari mudik membawa ceritera heroik perkelahiannya yang beragam tanpa ronde di pelabuhan. Botol dan narkoba hanya cengengesan belaka. Suatu ceritera yang menarik dan makin menarik ketika bumbu pedas asamnya bergantian dinikmati. Tak lupa Ari membanggakan mobil mewahnya yang tanpa pajak karena ber-kongkalikong dengan aparat.
Si Amat pendengar setia, karena tak ada rupa desanya yang hendak diceriterakan. Karena desa ini dingin dan datar semata. Bahkan surau yang kini adalah rupa surau dua puluh tahun lampau.

Usai bertukar ceritera, usai pula liburan lebaran. Ari kembali ke kerajaan hitamnya di pelabuhan, Udi kembali ke kantor proyek yang menjadi pundi - pundi duitnya. Dalam senja Amat kembali bersua dengan pak Tua guru ngajinya. "Udi dan Ari kaya. Saya tak punya apa - apa", ujar Amat. Pak Tua bergumam," Itu meringankanmu..." [] haris fauzi - 29 Oktober 2011


Monday, September 19, 2011

kenisah : dimensi ikhlas

DIMENSI IKHLAS

Ada sinema dua dimensi. Layar tancep termasuk dua dimensi, dimensinya panjang kali lebar, dua sahaja. Juga bioskop kebanyakan. Di kota Malang ada gedung bioskop untuk rakyat jelata dengan tarip murah, film-nya disorotkan ke tembok. Ini juga sinema dua dimensi.
Jaman sekarang sudah banyak sinema tiga, bahkan empat dimensi. Banyaknya dimensi ini ya menyatakan kompleksitas sudut pandangnya. Semacam ruang pandang begitu. Sinema tiga dimensi bisa membuat penikmatnya seakan memasuki ruang cerita karena ada dimensi ketiga. Sementara sinema empat dimensi tentunya lebih 'nyata' ketimbang lainnya. Semakin banyak dimensinya, semakin nyata pulalah film dalam sinema tersebut.

Beberapa bulan lalu heboh berita pemancungan Tenaga Kerja Wanita di jazirah Arab sono. Lantas berita ini mendulang simpati. Dari simpati ini muncul ide penggalangan dana untuk TKW yang konon nestapa di Arab. Akhirnya terkumpullah milyaran rupiah dana sumbangan untuk seorang TKW.
Iya. Hasil sumbangan itu cukup besar sehingga menjadikan TKW yang menerima sumbangan tersebut menjadi kaya raya bahkan melampaui kekayaan para penyumbangnya sendiri.
Lantas apa yang terjadi ? Mengetahui fakta tersebut, tidak sedikit penyumbang yang bisa jadi 'menarik' keikhlasannya. Bahkan malah iri.

Kejadiannya mirip dengan berita tentang pengemis metropolitan. Minggu lalu sempat heboh berita tentang kampung pengemis di Sukabumi. Kampung tersebut memiliki dominasi rumah mewah dengan 'bath tube' segala, bahkan kabarnya ada rumah yang dilengkapi kolam renang. Profesi warga kampung tersebut adalah pengemis. Mereka mengemis di Jakarta, hidup mewah di Sukabumi. Mengejutkan sekaligus membuat kecele.

Berita tersebut me-"matahkan hati" dermawan jalanan ibukota. Ada perasaan kecewa campur 'kecele'. 'Kecele' itu semacam perasaan tertipu. Bagaimana tidak kecele ? Dermawan yang memiliki rumah tipe 21, mendermakan duitnya kepada pemilik rumah mewah.

Hal ini urusan ke-'ikhlas'-an. Disinilah kentara betapa luas dimensi ikhlas tersebut. Betapa banyak sudut padang dalam makna 'ikhlas'. Apakah itu 'ikhlas' ? Dalam al-Qur'an terdapat surat bernama Al-Ikhlas. Isi surat tersebut menggambarkan ke-'tauhid'-an. Walau cuma berisi empat ayat, surat tersebut bila dibaca tiga kali nilainya setara dengan membaca al-Qur'an keseluruhan. Maklumlah, tauhid merupakan ajaran utama al-Qur'an. Keikhlasan itu dekat dengan ajaran tauhid, penghambaan kepada Tuhan. Jadi tidak bisa dipungkiri lagi bahwa keikhlasan memiliki dimensi yang kompleks karena keterkaitannya dengan ajaran tauhid.

Berkaitan dengan urusan tadi, tentunya dimensi ikhlas ini termasuk berurusan kepada orang - orang yang kecele, orang - orang yang semula ikhlas penuh, akhirnya terhanguskan pahala ikhlas tersebut gara - gara ganjalan hati yang muncul kemudian karena kecewa dan kecele. Karena kecele dan kecewa, maka hilanglah poin keikhlasannya. Hal ini menurunkan derajat ketauhidan seseorang.

Sejatinya manusia yang baik adalah manusia yang bisa bertahan dengan jiwa ikhlasnya. Walau tentunya ini tidak gampang. Dan dalam analoginya, pahala ikhlas ini akan menyempurnakan ketauhidan seseorang apabila orang tersebut mampu mempertahankan jiwa ikhlasnya. [] haris fauzi - cijagra, 17 september 2011

-------------
gambar : mbaheman.blogspot.com

Saturday, September 10, 2011

kenisah : belajar dari Ali dan BJH

BELAJAR DARI ALI DAN BJH

Ali bin Abi Thalib memang relatif singkat memegang jabatan khalifah, hanya sekitar lima tahun. Mungkin tidak lebih lima tahun. Di masa yang singkat tersebut, banyak sekali hikmah yang bisa dijadikan pelajaran, termasuk dalam pertempuran dan perang yang harus dijalaninya. Setidaknya ada dua perang yang kerap disebut - sebut dalam masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib, yakni perang Jamal dan perang Shiffin yang keduanya mulai terjadi sekitar tahun 658, di awal masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib.

Dalam kisah pertempuran Shiffin, pasukan Ali bin Abi Thalib mendesak pasukan Muawiyyah hingga ke tepi sungai. Merasa kekalahan menjelang, mendadak salah satu punggawa Muawiyyah mengusulkan gencatan senjata dan perundingan. Punggawa tersebut bernama Amru bin Ash. Kejadian ini sangat populer, karena cara Amru bin Ash untuk mengusulkan gencatan senjata sangatlah unik, yakni dengan memerintahkan seluruh pasukannya untuk mengangkat tombak dengan Al-Quran terbuka di ujung - ujungnya.

Semula, Ali bin Abi Thalib tidak menerima usulan gencatan senjata ini. Sebagai ahli militer yang cendekia, Ali menginginkan untuk meneruskan pertempuran dan terus mendesak lawannya. Ada dua pertimbangan utama mengapa Ali berkeinginan meneruskan pertempuran, yakni kemenangan sudah di depan mata karena lawannya telah terdesak, dan yang kedua adalah adanya kekhawatiran munculnya tipu-daya dalam perundingan. Sifat teguh Ali ini mengundang perdebatan di kalangan orang-orang dekatnya. Entah berawal dari mana, beberapa pengikut Ali terus - menerus menghembuskan opini agar menerima usulan gencatan senjata tersebut. Aneh memang, ketika kemenangan sudah didepan mata, beberapa orang malah menghendaki menyurut. Kelompok ini terus memaksakan kehendaknya agar Ali bersedia menerima usulan untuk berunding. Walhasil Ali melunak dan bersedia menerima usulan gencatan senjata sekaligus mengirimkan utusan untuk melakukan perundingan.

Seperti apa yang telah diperkirakan Khalifah Ali, ternyata terdapat keganjilan dalam pelaksanaan perundingan, dan hasil perundingan tersebut akhirnya malah merugikan pihak Ali. Dalam perundingan tersebut Ali sebagai khalifah --singkat cerita-- malah harus menyerahkan ke-khalifahan-nya kepada Muawiyyah. Atas hasil perundingan yang buruk ini terjadilah pergolakan di pihak Ali. Hampir semua pengikut Ali menyalahkan rekannya yang me-'maksa'-kan kehendaknya untuk menerima usulan gencatan senjata. Sementara pengikut Ali yang semula getol meng-opini-kan gencatan senjata, akhirnya menyadari kesalahannya dan malah berlepas tangan keluar dari barisan.

Ali adalah sosok pribadi yang ksatria. Konon sifat kesatriaannya ini belum tertandingi oleh siapapun di muka bumi ini. Menyimak kerugian yang dideritanya dalam perundingan, Ali tetap menghormati hasil perundingan tersebut. Hampir seluruh pengikutnya tidak bisa menerima kekalahan ini, bahkan beberapa mereka yang semula ngotot meminta Ali memilih jalur perundingan-pun tidak bisa menerima hasil buruk ini.

Ringkas cerita, Ali hanya mengingatkan bahwa semula seharusnya pihaknya tidak perlu menerima usulan perundingan dari pihak Amru bin Ash. Namun Ali juga mengingatkan pengikutnya, bahwa ketika sudah memilih jalur perundingan, apapun hasilnya haruslah dihormati dengan bersedia menanggung segala resikonya.
Namun apa yang disampaikan Ali ternyata tidak mudah diterima oleh pengikutnya. Carut - marut terus terjadi hingga akhirnya Ali terbunuh ketika menjadi Imam sholat subuh. Pembunuhan inilah yang benar - benar mengakhiri kepemimpinan Ali.

----

Setidaknya ada kemiripan dengan masa pemerintahan Presiden BJ Habibie. BJ Habibie menjadi Presiden Indonesia dalam tempo yang relatif singkat, tidak lebih dua tahun rasanya. Dalam masa pemerintahannya yang pendek tersebut banyak agenda yang harus diselesaikannya, salah satunya adalah kasus Propinsi Timor - Timur. Konon BJ Habibie mendapat desakan sangat keras dari banyak pihak yang mengusulkan adanya Jajak Pendapat Propinsi Timor-Timur. Alasan utama para pengusul jajak pendapat itu adalah isu 'demokratisasi'. Bisa kita lihat bagaimana Jajak Pendapat itu dilaksanakan, yang mana hasilnya merugikan keutuhan Nusantara Republik Indonesia. Dengan terlepasnya Propinsi Timor-Timur tersebut, pihak - pihak yang semula mendesakkan keinginannya untuk pelaksanaan Jajak Pendapat akhirnya belakangan malah berlepas tangan. Dan 'kerugian besar' ini di-'timpa'-kan semata - mata menjadi kesalahan fatal Presiden BJ Habibie seorang diri.

Dalam kasus Shiffin dan Jajak Pendapat, ketika Ali ikhlas menyerahkan ke-khalifahan-nya, ketika BJ Habibie legowo tidak menjadi presiden lagi, ...kemana perginya pihak yang memaksakan usulannya itu ? Seperti pepatah bilang, 'para pengecut akan berlepas tangan dan melarikan diri dari gelanggang...'[] haris fauzi - 10 September 2011 - kepada tulisan "Wisdom Quotes of BJ Habibie" karya Lek Aji Surya
 
salam,
haris fauzi
kolomkenisah

Friday, August 12, 2011

kenisah : trotoar sekalipun


TROTOAR SEKALIPUN

Pernahkah mendengar kisah siksa kubur ? Salah satu kisah siksa kubur yang populer adalah soal hukuman bagi orang yang melakukan 'penyerobotan' tanah. Konon hukuman bagi pelaku 'penyerobot' tanah adalah menyempitnya liang kubur mereka, sehingga konon membuat jenazah tertekuk – tekuk. Banyaklah
cerita ihwal tersebut.

Bagaimanakah peristiwa penyerobotan tanah ? Sederhana saja. Mulai memindah patok tanah, menggeser pematang sawah, menempati tanah milik orang lain dan tidak mau beranjak ketika pemiliknya menagih, menggandakan dokumen kepemilikan tanah, hingga mengambil hak milik umum. Ya seperti itu. Banyak pokoknya. Dan kejadia – kejadian seperti itu rasanya jamak banget terjadi di sekeliling kita.

Jaman dulu, jaman
masih orang belum banyak, mungkin keberadaan tanah masih berlimpah. Maksudnya, ketika itu jumlah penduduk belumlah banyak, sehingga luasan tanah masih cukup lega. Hal ini membawa dampak, salah satunya adalah tidak terlalu ketat dalam pembatasan kepemilikan tanah. Sebagai contoh saya pernah menjumpai dalam suatu desa banyak penduduknya yang memiliki lahan pekarangan rumah yang demikian luas. Konon kondisi ini sudah semenjak dahulu dan tepelihara hingga kini. Memang beberapa tanah sudah ada yangdipotong – potong, namun yang masih utuh luas begitu masih banyak juga.

Di desa tersebut, setiap rumah –hingga saat ini masih banyak yang belum berubah—memiliki pekarangan yang luas. Dengan perkembangan jaman, memang sudah ada yang dijadikan hotel. Bayangkan, dahulu hanya rumah, tapi kini kapling tersebut menjadi hotel. Ada juga yang menjadi toko, kolam renang, atau persewaan lapangan tenis. Beberapa lagi ada yang tidak terlalu berbeda, masih seperti dulu.

Salah satu yang unik dari komposisi beberapa rumah di desa tersebut adalah adanya beberapa jalan tembus. Jalan tembus ini adalah jalan kecil yang menghubungkan dua jalan utama, yang mana menembus kapling tanah pribadi. Beberapa rumah mempunyai jalan tembus seperti ini. Jalan tembus ini boleh dilalui oleh pejalan kaki umum, namun untuk mobil biasanya tidak diperkenankan, walau sejatinya ukuran jalan tembus ini muat satu mobil. "Terlalu mengganggu bila mobil boleh melalui jalan tembus ini", begitu kilah pemilik pekarangan yang ditembus oleh jalan tembus itu.

Di desa tersebut tidak semua rumah merelakan pekarangannya di-'tembus' oleh orang umum. Walau aturan 'jalan tembus' ini sejatinya adalah peninggalan jaman kuno dulu ketika rumah belum berpagar. Kini beberapa pemilik rumah memilih membangun pagar melingkar untuk menutup jalan tembus yang semula ada dipekarangannya. Walhasil makin kini hari makin langka keberadaan jalan tembus ini.

Kini dunia serasa semakin sempit. Bukan bumi-nya yang menciut, tetapi penduduknya-lah yang menjadi demikian banyak. Di kota – kota metropolitan seperti Jakarta pasti amatlah terasa. Terasa sesaknya, terasa juga brengseknya. Saking sesaknya maka jamak lumrah bila di suatu jalan bisa jadi kita hanya menemukan jarak yang hanya beberapa jengkal antara pagar rumah dengan jalan raya. Entah ini siapa yang salah. Apakah jalannya yang terlalu lebar, ataukan pagar rumah-nya yang sedemikian 'maju' hingga mepet ke jalanan.

Tak jarang pula ada juga warung yang mem-blokir trotoar. Rasanya hal seperti ini sudah tidak membuat heran. Alasannya banyak, mulai dari pedagang yang memang semula tergusur dengan paksa, ada juga yang memang sengaja tanpa latar belakang apapun meletakkan warungnya secara permanen di trotoar umum. Tentunya trotoar yang seperti ini menyulitkan orang berjalan kaki. Dan tentunya membahayakan, karena otomatis pejalan kaki akan berjalan melintas tepian aspal yang notabene dilewati metromini. Dan, sejauh ini banyak kejadian seperti ini. Mulai dari terotoar terminal, dekat pertokoan, sekolahan, hingga di pemukiman padat sering kita jumpai hal ini. Rupanya tidak hanya sawah ataupun tanah kapling yang diserobot. Jaman kini, trotoar-pun bisa diserobot. [] haris fauzi - 11 Agustus 2011

Thursday, July 21, 2011

kenisah : problema pagi tadi

PROBLEMA PAGI TADI

Inilah cerita tentang problema pagi tadi. Sejatinya di mulai hari kemarin, ketika pada pukul setengah enam pagi, Si Bungsu Aya meminta untuk dimandikan. Saat itu lagi ribet, namanya juga pagi hari, dan karena keribetan pagi hari inilah mangkanya Aya agak terlambat dipenuhi permintaannya. Aya baru dimandikan pukul enam pagi lebih seperempat, sekelar Embak dan Kakak-nya dijemput mobil berangkat sekolah.

Itu kemarin. Sekali lagi itu kemarin. Dan rangkaiannya adalah pagi tadi. Pagi tadi Aya yang masih berumur dua tahun itu seperti biasa bangun pukul lima, ketika Embak dan Kakak-nya bangun pagi bersiap – siap hendak ke sekolah. Embak Salma dan Kakak Norma memulai ritual pagi seperti biasa, sarapan dan lantas mandi, mengenakan seragam, sholat, lantas bersepatu, menyandang ransel dan menunggu mobil jemputan di teras depan rumah.

Apa gerangan kelakuan Aya ? Seusai minum sebotol susu coklat, dia kali ini tak hendak minta mandi. Dia rupanya melakukan 'gerakan potong', yakni sesegera mungkin menyandang tas kecilnya, dan ikutan menunggu mobil jemputan. Aya sempat kecewa ketika Salma meninggalkannya dengan berhambur keluar menuju mobil jemputannya sendirian.


Dalam kurun kemarin dan tadi pagi itu, tahulah saya apa yang berada didalam benak Aya. Mengapa dia ingin dimandikan pagi hari ? Tak lain karena kedua kakaknya mandi pagi dan lantas berangkat sekolah. Rupanya ujung pangkalnya adalah setelah mandi, Aya ingin ikutan berangkat ke sekolah. Namun apa daya, di kemarin pagi dia mandi kesiangan. Itulah, Aya mungil pengen sekolah.

Skenario oleh Aya diubah pada hari kedua. Setelah menghabiskan susu coklat, Aya sengaja melalaikan mandi pagi untuk segera ikutan mencegat mobil jemputan di teras rumah bersama Salma dan Nourma. Rupanya dia tau, ditengah kesibukan Mama-nya sepanjang pagi, tentunya musykil untuk minta dimandikan sesegera mungkin. Dan, Aya sudah membayangkan, bahwa bila minta dimandikan jadinya bakal kesiangan seperti hari sebelumnya.

Dengan melakukan 'gerakan potong' seperti itu Aya bisa segera ikutan bercokol menunggu jemputan sekolah. Walau itupun masih bablas ketika pada pukul enam lebih lima menit Embak Salma dengan sigap berangkat meloncat ke mobil jemputan sekolah. Aya ketinggalan.

Namun Aya tidak putus asa. Dia tau masih ada satu jemputan sekolah lagi, yakni yang menjemput Kakak Nourma. Dan pada pukul enam lewat dua puluhan, --ketika jemputan Nourma datang,-- Aya tak mau ketinggalan. Aya segera berlari sambil menyeret tas mungilnya menyongsong mobil jemputan tersebut. Tentunya Pak Sopir mobil jemputan sekolah itu sempat kaget menyaksikan ada anak belum mandi –masih berpakaian tidur—hendak ikutan masuk mobil jemputan. Pak Sopir menghalau Aya agar tidak naik mobil. Aya sedikit kaget dengan gerakan Pak Sopir ini, dan karena Aya merupakan bocah yang sangat berhati – hati terhadap orang asing, maka Aya mundur perlahan.

Beberapa jelang kemudian mobil sekolah itu pergi membawa Nourma. Sementara Aya tertegun dalam gendongan saya. Apa yang terjadi setelah itu ? Aya meraung – raung marah ingin ikut mobil jemputan sekolah itu. "Adek mau tulah…. Adek mau tulah…". Maksudnya adalah "adek mau sekolah". Saya berjuang cukup keras untuk meredakan marahnya dengan menunjuk ke langit mencari rembulan kesiangan. Benda langit yang paling disukai Aya adalah bulan. Dia sering punya keinginan keluar malam hanya untuk menatap purnama. Setelah itu paling – paling Aya menyapa,"..bulan… kamu bobok ya…!". Begitu.

Beruntung pagi itu masih ada purnama kesiangan. Aya segera teralihkan perhatiannya. Mata dan mulutnya membulat menyaksikan rembulan. Dia asik dalam gendongan sambil teriak – teriak,"…bulan…bobok…bulan … bobok..!".

Keredaan itu Cuma sebentar. Tak lama setelah itu Aya ingat lagi bahwa dia ingin bersekolah. Walhasil, acara menatap rembulan itu diulang beberapa kali.

Saya ingat ceritera mendiang ayah saya. Ketika kakak berusia 5 tahun, saat itu saya berumur 3 tahun. Kala itu Kakak berangkat sekolah untuk pertama kalinya di kelas nol kecil TK Aisyiah. Karena sekolahan agak jauh, maka setiap pagi Kakak berangkat sekolah menggunakan angkutan becak langganan. Apa yang saya lakukan ? Saya meraung – raung ingin ikut becak tersebut. Demikian hebatnya saya meraung, hingga akhirnya Ayah memutuskan untuk mendaftarkan sekolah saya juga. Padahal usia saya baru tiga tahun. Dengan usia tiga tahun, saya duduk di bangku sekolah Taman Kanak – Kanak kelas nol-nol kecil. Kelas dibawah nol kecil, kelas percobaan. Tentunya kelasnya fiktif semata, karena kriteria untuk kelas seperti itu belum ada, seperti kita tau pada saat itu belum ada kelas PlayGroup atau Toddler.

Bagaimana saya sekolah untuk pertama kalinya ? Saya sendirian berada dalam kelas percobaan. Duduk di bangku tersendiri, agak terpisah dengan kelas nol kecil dimana Kakak saya duduk. Dan menurut saya tidak ada yang salah dalam hal ini. [] haris fauzi – 21 Juli 2011



salam,
haris fauzi
kolomkenisah

Thursday, June 30, 2011

kenisah : rumah sakit

RUMAH SAKIT

Rumah Sakit itu tempat merawat orang sakit. Baik rawat inap, ataupun rawat jalan. Rawat jalannya ditangani di poliklinik. Biasanya gitu. Sementara rawat inap, ya dia menginap seperti halnya menginap di losmen, rumah teman, atau menginap di rumah mertua. Menurut nasehat sesepuh keluarga, rumah sakit itu merupakan salah satu layanan sosial. Tempatnya menunaikan kegiatan sosial selain pesantren atau sekolahan, rumah yatim piatu, serta majid atau musholla. Dalam beberapa kali Halal bi-Halal keluarga besar, sesepuh selalu menyuarakan hal itu dalam nasehatnya. Maksudnya banyak, salah satunya agar generasi penerus keluarga selalu meluangkan waktu untuk menunaikan aktivitas sosial di masjid, rumah sakit, mengurus yatim piatu, dan atau aktif dalam penyelenggaraan pesantren. Nasehat itu bisa bermakna luas. Bila tidak bisa membuat rumah sakit sendiri, ya bagaimana caranya memberi kesempatan orang lain untuk bisa berobat dengan wajar. Tentunya maksudnya adalah memberi bantuan. Itu dari sisi personal.

Dari sisi ideologi, nasehat sesepuh itu bermakna bahwa rumah sakit merupakan sarana kegiatan sosial, bukan komersil. Dalam nasehat itu dinyatakan bahwa rumah sakit bukanlah merupakan perangkat kapitalisme. Rumah sakit adalah sarana sosial seperti halnya masjid atau musholla. Nah, disinilah baru muncul problema umat. Sudah tidak heran lagi apabila sekolahan dan rumah sakit kini berubah wujud menjadi ajang bisnis yang menggiurkan. Gara – gara merebaknya teori ekonomi kapitalis, maka rumah sakit --dan juga sekolahan-- berubah wujud menjadi mesin pendulang uang. Bisnis rumah sakit kabarnya menghasilkan kekayaan yang sangat signifikan bagi pemilik dan pengelolanya, namun dari sisi lain tentunya secara kejam mencekik kantong – kantong pasiennya. Rasanya sudah banyak keluhan bahwa sekolahan dan rumah sakit merupakan ikon 'produk mahal'.

Memang mahal tidaknya suatu produk, berbanding lurus dengan kualitasnya. Semakin tinggi kualitasnya, tentunya semakin mahal harganya. Namun, untuk sarana kegiatan sosial, hal ini tidak harus seperti itu. Setidaknya, semahal – mahalnya rumah sakit, tentunya tetap mengacu pada belas asih. Ada unsur humanisme disitu. Dan itu harus dominan. Rumah sakit itu memang memasang tarip, tetapi tidak harus menolak pasien yang tidak punya uang. Hal ini semata karena pertimbangan kemanusiaan. Kan namanya juga kegiatan sosial.

Beberapa pekan ini santer publikasi gerakan "Karena Sehat Milik Semua – Jangan Biarkan Pasien Miskin Ditolak Rumah Sakit". Ini jargon yang bagus. Tentunya banyak yang sangat setuju bahwa rumah sakit tidaklah boleh menolak pasien. Karena sekere – kerenya pasien, mereka juga ber-hak untuk hidup sehat. Ada nyawa yang wajib diselamatkan di badan orang kere yang sakit itu. Gerakan ini bergerak menggalang dana untuk membiayai pasien miskin. Gerakan ini mengumpulkan donasi untuk dibayarkan kepada rumah sakit.

Masalahnya, gerakan ini bisa disalah-artikan sebagai legitimasi tarip mahal yang dipasang oleh pebisnis rumah sakit. Memang penyebab dominan dari ditolaknya beberapa pasien kere oleh rumah sakit adalah karena ketidak-mampuan membayar. Hal ini diakibatkan karena 'katanya' rumah sakit memang memberlakukan tarip tanpa pandang bulu. Dalam dunia kapitalis, hal ini memang wajar. Ada transaksi jual beli disitu, ada keuntungan disitu. Dan seperti kita ketahui bersama bahwa tarip rumah sakit memang cukup mahal.

Namun bukan lantas dengan tersedianya donasi dan kemudian pasien kere bisa mendapatkan layanan rumah sakit, lantas permasalahan sudah selesai. Belum. Disitulah problematikanya. Dengan mengumpulkan donasi, maka gerakan ini menjadi seperti perguliran kotak tromol di musholla. Berjalan menampung duit. Sementara tarip yang dipasang rumah sakit masih tarip premium alias mahal. Problem yang terbesar adalah mengembalikan rumah sakit dari zona bisnis kapitalis menuju zona gerakan sosial. Kembali ke khittah. Dan ini tidak mudah.

Masyarakat membutuhkan gerakan masif yang memperjuangkan hak – hak kesehatan. Pengumpulan donasi merupakan hal penting. Dan hal ini tentu akan lebih bermakna bila gerakan itu berpusat kepada tujuan untuk mengembalikan hak – hak setiap orang untuk hidup dan menikmati kesehatan. Dompet Dhuafa, yang menyokong gerakan tersebut, juga mengungkapkan adanya keinginan untuk memperjuangkan fasilitas kesehatan yang berkualitas untuk rakyat miskin. Dan dalam konteks kekinian, agenda yang mendesak saat ini adalah perlunya perangkat untuk mengendalikan tarip rumah sakit yang gila - gilaan, serta me-razia rumah sakit yang berbuat tidak senonoh dengan menolak pasien miskin. Dan alangkah masif-nya bila gerakan ini mampu dengan cepat menekan pemerintah untuk mengeluarkan regulasi larangan penolakan pasien miskin. Bagaimanapun pemerintah –bila mengaku pro-rakyat—seharusnya bisa mengambil peran lebih dalam hal ini.

Bila demikian, tentunya ada kemungkinan pemilik pundi – pundi alias pemilik rumah sakit akan melancarkan protes. Itu bisa jadi. Karena memang ada dua pandangan disini. Pandangan pertama adalah rumah sakit sebagai manifestasi gerakan aktivitas sosial. Sementara paradigma kedua adalah garis ekstrim bahwa rumah sakit adalah sebagai perangkat kapitalisme untuk mengeruk duit sebanyak – banyaknya dari pasien. Dan, disinilah peran penetrasi dari pemerintah.

Tentunya tidak semua rumah sakit menganut aliran garis keras kapitalisme. Namun juga, tidak semua rumah sakit menganut aliran aktivitas sosial. Stigma yang kini ada adalah bahwa rumah sakit mahal berarti memiliki fasilitas bagus, sementara rumah sakit sosial ya fasilitasnya abrakadabra alakadarnya. Apakah harus seperti itu ? 'No comment' untuk hal ini. Ada cerita tentang rumah sakit di jaman kejayaan Khilafah Kordoba. Jaman itu rumah sakit merupakan salah satu perangkat pemerintah dalam penyelenggaraan kesejahteraan rakyat. Rumah sakit tidak berbayar, alias gratis. Namun jangan salah, rumah sakit jaman Kordoba begitu mewah. Semewah apa ? Begitu mewahnya sehingga banyak warga hingga turis – turis kaya raya dari luar negeri berpura – pura sakit agar bisa menginap gratis di rumah sakit tersebut.

Menyikapi hal tersebut, pengelola rumah sakit tidak tinggal diam. Semua pasien, baik yang sakit beneran maupun yang berpura – pura sakit, selalu diperhatikan dan diperiksa. Bagi yang memang kedapatan ber-penyakit, maka pasien tersebut tentunya dirawat hingga sembuh. Sementara bagi yang telah melalui pemeriksaan kesehatan selama tiga hari dan ternyata sehat, tentunya ketahuan kalo ternyata cuma pengen menginap gratisan. Untuk hal ini maka pasien gadungan ini dipersilakan pulang atau beranjak mencari penginapan umum.

Benar sekali. Saking mewahnya sehingga banyak yang menyalahgunakan fasilitas ini. Maksudnya, pura – pura sakit supaya bisa menginap di kamar mewah. Dan konon kebanyakan yang melakukan hal ini adalah turis asing. Rupanya sudah kondang seantero dunia ihwal trik untuk menginap gratis bermewah – mewah di rumah sakit. Dan ini juga sudah di-antisipasi oleh pengelola rumah sakit. Seorang pengelola rumah sakit menjelaskan bahwa tiga hari menginap di rumah sakit tidak dihitung sebagai perawatan kesehatan, namun hanya sebagai perjamuan kepada tamu. Dan memang diberikan cuma - cuma. Konon, menjamu tamu di Kordoba biasanya memang diberi gratis menginap selama tiga hari. Begitulah. [] haris fauzi – 29 juni 2011

salam,
haris fauzi
kolomkenisah

Thursday, June 09, 2011

kenisah : sir

SIR

Adalah seorang lelaki, beberapa lebih cocok memanggilnya dengan 'Opa', bisa jadi karena mengingat umurnya. Setidaknya beberapa kali terakhir ini Si 'Opa' membuat saya terkagum - kagum. Dia adalah Sir Alex Ferguson. Seorang pelatih sepak bola kesebelasan, kini populer sebagai Team Manager, Manchester United.

Saya menggemari kesebelasan Manchester United semenjak sekitar tahun 1986. Entah siapa ketika itu manajer-nya. Dan berikutnya lantas saya begitu takjub dengan prestasinya ketika beberapa bocah akademi sepakbolanya menjajal dunia profesional, dan tak lama setelah itu lantas menjadi borongan kampiun. Bagaimana-pun mereka kesebelasan berprestasi unggul. Tentang idola ? saya memilih Ole-Gunnar Solskjaer, Peter Schmeichel, dan Bryan Robson.

Mungkin sejenak kini kita tidak membicarakan prestasi. Apa yang saya takjub kali ini bukan karena prestasinya. Titel kampiun liga Inggris ke-19 kali bagi Manchester United memang hebat. Tidak sangsi lagi. Apalagi tahun ini mereka sempat merasakan babak final Champions, walau akhirnya digebug FC Barcelona.
Nah, kalau tidak memperbincangkan prestasi, lantas apa ? ... Baiklah, sepakbola adalah salah satu cabang olahraga, games, permainan. Olahraga dalam google di-'translate' sebagai 'sport'. Sementara kata sifat dari sport adalah sportive atau sportif. Dalam kamus bahasa Indonesia, sportif berarti 'bersifat kesatria dan jujur'. Inilah yang menarik dari diri Sir Alex Ferguson dalam beberapa penampilannya bersama anak asuhnya.

Dalam laga-laga terakhir liga premier Inggris musim ini, kesebelasan Manchester United sempat bertanding melawan kesebelasan Blackburn Rovers. Blackburn Rovers adalah kesebelasan yang beberapa kali di-'asuh' oleh mantan punggawa dari Manchester United sendiri. Cobalah tengok kronologi kesebelasan tersebut, tercatat Paul Ince dan Mark Hughes setidaknya pernah bercokol disana. Tentunya, mereka sudah saling bisa mengukur kekuatan dan strategi lawannya. Hal inilah yang membuat pertandingan mereka menjadi menarik sekaligus krusial.

Dalam laga krusial tersebut, perlu kita catat juga fenomena yang bakal menyertainya. Yakni, apabila Manchester United setidaknya seri, maka cukup sudah poin-nya untuk menjadi juara. Sementara Rovers pastilah putuh poin untuk meningkatkan rankingnya. Sungguh pertandingan yang cukup berarti bukan ?

Namun apa yang terjadi ? Benar apa yang diperkirakan Sir Alex Ferguson, pertandingan melawan Rovers selalu menjadi pertandingan yang alot. Setelah serangan silih berganti, pada kisaran menit ke dua-puluh terjadilah gol bagi keunggulan Blackburn Rovers. Terciptanya gol cukup unik, bila tidak hendak dibilang kontroversial. Bola yang setidaknya sudah keluar lapangan, diangkat ke muka gawang. Dan sedikit sontekan cukup sudah menciptakan gol. Masalah keluar-nya bola ini sudah sempat dipertanyakan oleh penjaga gawang Manchester United, Tomasz Kuszczak. Namun cuma sekilas, hanya dengan mengangkat tangan sebagai pertanda. Setelah itu Kuszczak lebih memilih berkonsentrasi untuk menahan laju gempuran ke gawang yang dijaganya. Walau akhirnya dia kebobolan juga.

Mengacu kepada tayangan ulang, bagi saya ini sebuah gol yang kontroversial. Namun begitu sang wasit mengesahkan terjadinya gol tersebut, Ferguson dan seluruh pemain Manchester United bisa menerima 'kebobolan' ini dengan ikhlas. Tidak ada protes apapun. Sungguh berbeda kejadiannya ketika pada menit tujuh-puluhan babak kedua Chicharito yang melaju kencang menembus pertahanan Rovers harus terganjal di kotak pinalti gawang Blackburn Rovers. Entah pura - pura jatuh, atau apapun, akhirnya para wasit memutuskan hukuman pinalti. Dalam proses ini terjadi beberapa protes dari pemain kesebelasan Blackburn Rovers.

Akhir dari laga kompetisi liga premier Inggris adalah ketika pasukan Sir Alex Ferguson berhadapan dengan kesebelasan Blackpool. Apapun hasil pertandingan, Manchester telah menjadi jawara. Poin kumpulannya tidak terkejar oleh siapapun. Saat itu, seharusnya Sir Alex Ferguson dan 'para punakawan-nya' bisa memilih untuk berkonsentrasi menghadapi pertandingan penting final Liga Champions melawan FC Barcelona.

Ian Holloway, manajer Blackpool sempat mengkhawatirkan bila Manchester United akan main setengah hati. Maksudnya, tidak bersungguh - sungguh. Namun kekhawatiran ini salah. Menghadapi Blackpool, ternyata Manchester United bermain habis - habisan dan menyudahi dengan kemenangan 4-2. Holloway rupanya tidak perlu khawatir akan permainan setengah hati, dia kini harus lebih serius melatih kesebelasannya karena akibat kekalahan ini Blackpool harus terkena ancaman degradasi.

Melihat urgensitasnya, pertandingan tersebut tidaklah terlalu perlu. Sir Alex bisa saja menurunkan pemain lapis delapan belas, dan dia bisa memilih berkonsentrasi untuk menghadapi pertandingan melawan FC Barcelona. Namun itu tidak dia lakukan demi menjunjung sportivitas dan mutu permainan sepak bola.

Dua kejadian ini, ternyata belum cukup. Setelah itu, dalam laga prestise di pentas final Liga Champions melawan FC Barcelona, bisa kita saksikan betapa 'wise'-nya Sir Alex ini. Dan ketika Manchester United kalah, dengan gentleman Sir Alex mengakuinya. Beberapa kejadian penting ini cukup berbekas dalah hati saya. Sir Alex menerapkan moralitas dalam ber-sepak bola. Menjunjung sportivitas; satria dan jujur.[] haris fauzi - 8 juni 2011

---
(AP Photo/Alastair Grant)

Monday, May 09, 2011

kenisah : between two verses

BETWEEN TWO VERSES

In our ordinary lives, moslem knowing about al Fatihah as Ummul Qur'an, 'mother' of Holy Qur'an. Not only Fatihah as a first surah of Qur'an. Al Fatihah consist of seven verses that very special, one of the reason is because Al Fatihah opened by Basmalah as first verse. As we know Basmalah always used as opening by majority surah from Qur'an, but Basmalah as verse only at Al Fatihah. Basmalah mean 'By the name of God'. And every step of moslem daily activity must be started by read Basmalah.  

When we back at the statement that Al Fatihah is 'mother' of Qur'an, it means that Al Fatihah containing the insight from all of Qur'an verses. Seven verses wrapping all of verses from Qur'an. Amazing.

In this sheet, I will write my paradigm about two verses of Al Fatihah, verse number one and five. Verse number one is Basmalah. The meaning from this first verse is "In the name of Allah, Most Gracious, Most Merciful". Verse number five said that "Only to You we worship, and only to You we ask for help".

People need hope. It's that's a very normal, because every person in addition to having the hope also of course has limited ability. Actually, people usually try to reach the hopes more than ability from himself. And when stuck in cul-de-sac, we need someone who can bring miracle result. Every people live between effort and result, also need a miracle for best result. After doing all of efforts, we need to pray for  the best result. And in this stage, we talk about God. We pray to God to bless us with best result.

One time, I talk with my friend about 'hope'. Some people are always praying to God, pray for something, pray for their hope. They talk with their God only when they talk about hope. Not bad, but if we only pray for our hope, it means we remembering God only when we need the best result. Give us, please, My God. In this case, it means that only at the ending of activities we just remember Him.

I explain to my friend that God is in everything, not just at result. When we only talk to God about hope and result, it means just give the position of our God to the end of activity, only. Because result is ending of something. And we know, the end of everything is depend on God. From this basic statement, we know that the result depend on God. That's meaning of verses number five. At the end, we hope that God gives us the best from our achievement. A simple connectivity between our hope and God.

But not as simple as that. Once again, every people live between effort and result. We just talk about fifth verse, about hope and result. How about effort ? Maybe this line will connecting the first verse to fifth verse. The first verse from Al Fatihah talk about the name of God. Bismillah. Every activity must started with this. In our lives, maybe we forget to start something with God's name. We only remembering God in the end of activity, result only, not at all of our activity, not in our effort, not in first.

In the first verse of Al Fatihah, God warn to put God in everything that we do. In this first verse –as I know—we must take the God as reason for every step. When we go to office, caused by God, when we eat our breakfast, by God, when we fall asleep, by God. Everything doing by the name of God.

Talk about connectivity of two verses, it's clear that we must start something with God, till the end of what we started. These verses teach us to understand that we all just only creation from God, and everything depend on God.  When we start the day with God, it means we will end the day with hope from God.

When we understand about first verse, we must know that only God as the fundamental reason from all of our activity. God is the reason to act. And when we understand about fifth verse, we know that everything depend on Allah. How about this ? Agree ? [] haris fauzi – 08 May 2011.

thanks to izmi & niken. this article written caused by your conversation. sorry, i'm a broken english.