Saturday, September 20, 2008

kenisah : mbah david

MBAH DAVID

Kalau ditanya, siapa vokalis terbaik yang pernah ada dimuka bumi ini, maka pilihan saya jatuh kepada mbah David. Mbah David Coverdale, tentunya, mantan vokalis grup besar Deep Purple, yang kemudian nyempal mengibarkan bendera kelompok baru : Whitesnake.

Awal tahun, saya dapat kabar dari seorang rekan milis, kebetulan namanya David juga, mengabarkan bahwa Whitesnake merilis album baru, berjudul"Good To Be Bad". Waduh. Seberapa perkasa nih vokalis yang sudah tua ini ? Sudah tua memang, soalnya dia sudah menjadi vokalis kaliber dunia semenjak tahun 1970. Saat saya belum lahir. Kelompok Whitesnake sendiri lahir di pertengahan era 70-an.

Buset. Saya cukup terpana ketika menyimak album "Good To Be Bad". Ternyata bener - bener masih perkasa. Keras dan mantab. Bunyi - bunyian yang ditawarkan tidak mengarah ke modern rock, tetapi tetap berpedoman kepada mainstream musik rock tahun 80-an yang begitu menggoda nostalgia. Obat kangen hard rock.

Lebih edan lagi ketika menyaksikan rekaman konser "Live: in The Still Of The Night". Konsernya di adakan di Inggris tahun 2006, sebelum merilis album tersebut. Kakek bernama David Coverdale kelahiran tahun 1951 tersebut masih benar - benar perkasa berteriak - teriak dan berlarian sepanjang konser. Suaranya itu benar - benar menggelegar, seakan tidak peduli keriput dan menyeruak di wajahnya. Ya. Umur mbah David lebih dari 50 tahun, mengenakan kemeja putih keren, dengan celana jeans.Gak pake asesoris macem - macem. Sing penting nyanyinya keren.

Memang saya baru benar - benar mencicipi kehebatan caranya bernyanyi pada sekitar tahun 1987-an, saat seorang teman sekelas memamerkan album amazing self tittle Whitesnake. Sebelumnya, saya sudah mendengarkan di album - album Deep Purple, dan saya begitu terpesona dengan cara bernyanyi pada lagu "BURN". Namun, bagaimanapun entah kenapa menyimak kiprah David Coverdale di Deep Purple seakan terbayang - bayang keperkasaan Vokalis sebelumnya, Ian Gillan.

Dua tahun kemudian, 1989-- kakak saya memamerkan kaset terbarunya,Whitesnake :"Slip Of The Tongue". Saya terpesona berat, apalagi ada gitaris dahsyat Steve Vai bermain disitu dengan leluasa. Kakak saya begitu sering nyetel album  ini, dan saya tentunya ikut menikmatinya. Mungkin, bagi saya, album inilah yang terbaik dari sekitar sepuluh album Whitesnake. 
Selain album ini, ternyata adik saya juga punya album yang rilis tahun 1982,"Saints & Sinners". Ini juga album dahsyat, bukan hanya musisinya yang berkontribusi mengisi album ini, layaknya Neil Murray, Jon Lord, dan Ian Paice;-- karena terbukti dari sini ada beberapa lagu yang dirilis ulang untuk mengisi di album berikutnya, diantaranya adalah lagu"Crying In The Rain" dan "Here I Go Again" yang dicetak ulang di album selftittle - 1987. Me-"re-make" lagu kayaknya menjadi kebiasaan kelompok ini.

Terpesona dengan album "Slip Of The Tongue", ketika tahun 1997 (hampir sepuluh tahun kemudian), Whitesnake merilis album baru, judulnya "Restless Heart". Yang saya ingat dari album ini adalah ketika saya hendak membelinya, maka bayangan saya terkecoh oleh judulnya, saya mengira isinya banyak lagu balada. Ternyata lebih condong ke blues, malah mungkin seperti album kolaborasi dia dengan Jimmy Page - gitaris Led Zeppelin-- yang dirilis tahun  1993 berjudul "Coverdale-Page". Oh ya, adik saya juga punya kaset Coverdale-Page ini. Tentang kolaborasi dua pentolan grup besar ini, Coverdale - Page, entah kenapa lagu yang terkenal berjudul "Pride & Joy", sementara saya lebih menyukai lagu "Take Me For A Little While".

Balik ke urusan album "Restless Heart". Pas itu saya ingat benar, bagaimana saya mendengarkan album ini via walkman, dan naik bis kota, melintas Semanggi ke arah Kebon Jeruk, untuk belajar perangkat lunak rekayasa. Pulangnya kejebak macet, pasti.Penilaian saya, album "Slip Of The Tongue" masih jauh lebih baik ketimbang"Restless Heart".

Dalam menyimak sebuah album, tentunya semua komponen musik itu sendiri menjadi bahan perbincangan. Namun, sebagai catatan, khususon untuk Whitesnake ini, sesemrawut apapun musiknya, olah vokal David Coverdale sungguh tetap brilian. Kekuatan inilah yang membuat saya kepincut dengan mbah David. Jadi ceritanya begini, di sebuah milis, ada pooling tentang berandai - andai. Andai ada supergrup di muka bumi ini, kira - kira siapa saja personilnya. Bagi saya, supergrup ini harus diisi Cozy Powell sebagai drummer, Jimi Hendrix sebagai gitaris, Rick Wakeman sebagai keyboardis, Jason Newsted sebagai bassist, dan terakhir, yang paling krusial, saya memilih David Coverdale sebagai vokalisnya. Itulah.

Entah, mungkin sekitar empat tahun lalu, kira - kira,-- teman - teman ramai membicarakan bahwa David Coverdale akan ngamen di Jakarta. Menggelar konser, atau minimal menggelar panggung akustik seperti "Starkers in Tokyo". Namun kabar itu larut seiring angin begitu saja. Nggakada kejelasannya bahkan makin kabur, akhirnya nggak ada apa - apa.
Dan, awal bulan ini, seorang teman mengabarkan, bahwa mbah David bakal ngamen, membawa supergrupnya,Whitesnake, mbarang di Jakarta. Katanya sih bulan depan. Walah. Bisa jadi, saya bakal bisa menyaksikan David Coverdale beraksi, vokalis terbaik yang pernah lahir di muka bumi ini. Mudah - mudahan dari floor saya sempat bersenandung bareng mbah David :....

I don't know where i'm going
But, i sure know where i've been
Hanging on the promises
In songs of yesterday
An' i've made up my mind,
I ain't wasting no more time
But, here i go again
Here i go again

Tho' i keep searching for an answer,
I never seem to find what i'm looking for
Oh lord, i pray
You give me strength to carry on,
'cos i know what it means
To walk along the lonely street of dreams

An' here i go again on my own
Goin' down the only road i've ever known,
Like a drifter i was born to walk alone
An' i've made up my mind
I ain't wasting no more time

I'm just another heart in need of rescue,
Waiting on love's sweet charity
An' i'm gonna hold on
For the rest of my days,
'cos i know what it means
To walk along the lonely street of dreams
......
[] haris fauzi - 20 september 2008

Tuesday, September 16, 2008

kenisah : di hari sebelum waktuku semakin tercekat

DI HARI SEBELUM WAKTUKU SEMAKIN TERCEKAT
 
"dalemipun pundi ?" (rumahnya dimana ?) tanya ibu - ibu yang duduk di sebelah.
"bogor...", jawab saya.
"kuliah nggih ?", (kuliah ya...?) tanyanya lagi.
--beberapa kali saya di sangka profesinya mahasiswa. Gak masalah. Saya biasanya nggak jawab. --
Waktu menunjukkan pukul dua dini hari, hari senin. Bis ini masih melaju dengan kecepatan tanggung, melintas Temanggung. Tak lama kemudian Ibu sepuh itu pamitan dan turun di simpang Canguk.
 
Hari itu, di hari sebelum waktuku semakin tercekat, saya memutuskan untuk berangkat ke Yogyakarta, kota leluhur. Beranjak dari kota persimpangan Cikampek, pada suatu senja yang indah. Senja hari Minggu.
Hampir sepekan lalu saya terima kabar bahwa Kakek sakit dan harus opname. Di usia delapan puluhan, ginjal dan jantung menurun unjuk kerjanya. Dan di hari Jum'at pesan pendek yang mengalir membanjir ke ponsel semakin membulatkan tekad bahwa saya harus segera berangkat.
 
*****
 
Kakek adalah seorang petani yang tinggal di kaki gunung Merapi. Di desa Gentan bawah Kaliurang. Profesi yang 'bergengsi' yang pernah di embannya adalah pegawai KUA setempat. Kantor Urusan Agama, --yang disibukkan dengan urusan pernikahan warganya. Profesi pegawai KUA ini berkesan bagi saya ketika saya melaksanakan akad - nikah, dimana Kakek menjadi saksi. Setelah saya menyampaikan ijab, kontan sebagai saksi Kakek segera berujar." SAH ! ". Dan saya bertukar senyum dengan beliau.
 
Sebagai petani, pekerjaannya ya kelilingan menggarap sawah. Berkendara sepeda pancal dengan cangkul di sandangnya. Namun semenjak tahun 80-an saya kira, Kakek membeli skuter. Dan sejak itu saya sering ikutan ke sawah karena bisa berboncengan dengan skuter. Bisa bermain di sawah, atau mengambangkan kapal - kapalan daun bambu di sungai kecil yang bening airnya. Kalau kebablasan, yang nyempung dan adu siram engan saudara. namun acara ini tidak berlangsung lama, karena setelah itu persawahan di daerah Kaliurang berkurang, berganti dengan perumahan dan resort. Sungai dan kali mengecil dan mengeruh. Saya pun tumbuh menjadi remaja yang lebih senang dolan ke Malioboro.
 
Namun bagi saya profesi beliau yang paling keren adalah sebagai imam mesjid. Yang mana mesjidnya itu sendiri malah berada di seberang desa tempat kakek berdiam. Gara - gara profesi inilah Kakek sempat hampir di-'lenyap'-kan oleh aksi komunis di tahun 60-an. Imam - imam mesjid di beberapa desa sekeliling sudah lenyap tak tentu rimbanya. Untungnya saat  adanya aksi penculikan itu ketahuan, dan pelakunya bisa di bekuk, yang ternyata teman sekolah Ibu saya sendiri. Nyaris Kakek jadi korban.
 
Ada beberapa cerita dari Kakek yang suka humor ini. Kakek dulu adalah pelatih amatiran beladiri. Punya pedang panjang, hampir mirip samurai. Entah tahun berapa-- ketika awal memiliki rumah di desa Gentan, rumah itu sering dijahilin sama orang. Entah siapa pula. Jaman susah, jaman penjajahan.
Bukannya gentar, Kakek malah setiap malam bergadang meronda rumahnya sendiri lengkap dengan pedang terhunus dan rokok klobot. Entah berapa bulan kakek mencoba nantangin tukang jahil ini. Rupanya cara ini berhasil, terbukti sejak itu rumahnya aman sejahtera. "Kita harus berani, supaya tidak diisengin orang...", begitu katanya.
 
Juga ketika menjadi imam mesjid, pernah pula khilaf terlambat subuhan hingga ditinggal para jamaahnya yang sudah pada pulang. Rupanya Kakek kesiangan dan harus menunaikan solat subuh sendirian. Sendirian ? Ternyata tidak.
"Ketika salam, tengok kanan - dan kiri, ternyata di belakang saya ada yang ikutan solat. Orang yang besar sekali hingga atap mesjid dengan rambut merah kuning. Warnanya hijau mengerikan. Dan ketika beberapa saat kemudian saya tengok, dia sudah tidak ada", ujar Kakek.
 
****
 
Senin pagi dini hari itu, menjelang subuh saya menginjak lantai Rumah Sakit PantiRapih. Masih sunyi dan langkah saya menimbulkan bunyi yang kentara. Saya memasuki kamar opname Kakek. Beliau masih tidur dengan infus tergantung.
Sekitar pukul tujuh, ketika mentari merekah, saya sempat bercakap sebentar dengan Kakek, menemaninya sarapan yang hanya ditelannya tiga sendok saja. Dan di hari yang sama, menjelang ashar, saya harus berpamitan. Dan kembali saya sempat bercakap dengan Kakek sekaligus menyampaikan sungkem dari Kakak yang belum sempat bezuk.
Saya melangkah meninggalkan gerbang Rumah Sakit. Menengok sebentar ke jendela kamar Kakek. Waktu terasa semakin cepat. Saya mengambil keputusan semakin cepat pula. Sebelum waktuku semakin tercekat. [] haris fauzi - 16 september 2008

salam,

haris fauzi

Tuesday, September 09, 2008

kenisah : perbedaan

PERBEDAAN

 

"Kami tidak memiliki banyak untuk dibagi, tapi sudah cukup untuk menunjukkan pada yang lain jika kami lebih mengutamakan perdamaian daripada kekacauan akibat kekuasaan di Irak," ujar Salman Abdul-Muta'al, 40 tahun, penduduk di ibu kota Baghdad seperti yang dilansir oleh IOL

"Sebelum kami berkumpul, saya tekankan anak saya, jika mereka tidak boleh menyoal tentang perbedaan antara Suni dan Syiah, sebaliknya selalu mengingat jika Islam hanya satu, dan semua adalah sama terlepas dari apa yang mereka pikir," papar Salman. (republika online, 2008-09-08 18:18:00)

 

Sungguh senang dan terharu saya membaca laporan Republika dari Irak tersebut. Hingga saya membacanya berulang – ulang. Hingga saya mengabaikan beberapa situs lainnya yang sudah terbuka oleh browser baru saya, GoogleChrome. Ya. Sunni –  Syiah, masalah yang seakan terus berdarah dan meluka, yang terus – terusan diprovokasi oleh pihak ketiga untuk selalu berseteru. Perseteruan yang seakan tak kunjung padam. "Luka yang selalu berdarah", keluh M.Syafii Maarif. Bahkan kalangan Islam sendiri, mungkin karena sudah terlalu lama bermusuhan, malah memelihara api permusuhan itu sendiri.

 

Belum genap sebulan lalu, dalam sebuah majalah yang disorongkan oleh Bapak Mertua saya, saya melihat bahwa perseteruan itu adalah bilah bambu yang selalu mengiris dalam hati ummat Islam sendiri. Ceritanya begini, saya sedang berada di rumah saudara saya dimana Bapak Mertua menginap. Untuk membunuh waktu, Bapak menyorongkan beberapa majalah. Bapak tau saya biasa membaca, se-gerah apapun suasana.

 

Nafas saya tersengal. Majalah yang berisi banyak huruf arab itu menyudutkan Islam Syiah dengan berjibun dalil. Saya setuju bahwa Islam Syiah di Indonesia adalah minoritas, kurang populer, bahkan sempat terpinggirkan. Walaupun mengagumi Bang Jalaluddin Rakhmat yang punya mesjid berhaluan Syiah, saya sendiri-pun menganut Sunni. Dari leluhur keluarga yang biasa mengikuti kelompok Muhammadiyah.

Kepindahan tugas Bapak ke Jawa Timur, markas Nahdatul Ulama, membuat Bapak yang hobi pengajian ini-- lebih bijak menyikapi perbedaan Nahdatul Ulama – Muhammadiyah. Terbukti jamaah pengajian Bapak melingkupi dua golongan tersebut. Hal ini juga berpengaruh ke wawasan beliau ihwal perseteruan Sunni – Syiah. Sejak saya SD, buku – buku tokoh Syiah Iran yang populer kala itu, Imam Ayatullah Khomeini dan Pemikir-Filsuf Ali Syariati sudah sering nampak oleh saya dibaca oleh Bapak. Dan giliran SMP saya ditutur – tutur ihwal kiprah Revolusi Islam Iran yang demikian dahsyat. Maka, berikutnya, buku – buku itu akhirnya bermigrasi ke Bogor, rumah saya, membawa prinsip yang sama.

 

Entah Syiah itu seperti apa. Mungkin banyak wajah Syiah di dunia ini. Mungkin wajah Syiah yang dipotret oleh majalah itu berbeda dengan potret saya. Yang jelas, bagi saya mereka adalah saudara se-agama, se-Islam. Karena referensi yang mengatakan seperti itu juga sudah cukup lengkap.

 

Entah mengapa juga ada yang mengabarkan bahwa Syiah tidak mengakui Khulafaur Rasyidin (keempat khalifah pengganti Muhammad : Abubakar AsSiddiq, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib) kecuali Ali bin Abi Thalib. Boleh saya luruskan sebagai pembelaan saya terhadap Syiah, bahwa dalam salah satu bukunya, Imam Khomeini menyatakan salam hormat takzim-nya kepada empat khalifah tersebut.

Memang, dalam dunia Syiah ada pengutamaan terhadap Ali, karena beliau ini menantu Muhammad. Trus ? Apa salahnya pengutamaan terhadap menantu Nabi ? Apa salahnya pengidolaan ? Tolong teropong saja layaknya saya mengidolakan Jimi Hendrix.

So, kesimpulannya menurut saya adalah, Syiah mengidolakan Ali, tanpa mencampakkan khalifah yang lain. Tidak perlu lagi dipolitisir.

 

Juga saya pernah mendapatkan kabar bahwa Al-Qur'an versi Syiah berbeda dengan Al-Qur'an versi Sunni. Berbeda apanya ? Sampulnya ? kalau urusan sampul, di toko buku seberang terminal kemaren saya jumpai banyak Al Qur'an yang berbeda – beda ketebalan dan jenis sampulnya.

Sungguh, jujur saya belum pernah membaca Al-Qur'an versi Syiah, sehingga saya-pun tidak bisa meng-klaim apa perbedaan dan persamaannya. Namun, saya percayakan kepada Tuhan, bahwa Tuhan sudah menggaransi kepada alam semesta bahwa Beliau sendiri yang hendak menjaga kandungan isi Al-Qur'an itu dari penyimpangan. Tuhan sudah memberi garansi itu, dan saya mempercayainya. Entah anda.

 

Suatu hari beberapa tahun lalu saya mendapat email yang menceritakan rencana busuk Khomeini yang hendak memindahkan Ka'bah dari kota Makkah ke Karbala lewat strategi perang yang berkobar - kobar. Fitnah apalagi ini ?

Dalam kitab khutbah Khomeini melepas jamaah haji Iran, jelas – jelas Khomeini menghormati keutamaan Ka'bah dan kota Makkah, juga kota Madinah. Juga dalam beberapa khutbahnya, Sang Imam menyatakan hendak mengawal dengan semangat jihad segala atribut dan keutamaan Islam Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa. Ini artinya Khomeini selaku Imam Syiah malah menjaga Makkah dan Madinah. Bukannya hendak membakarnya.

 

Kalo masih kurang percaya, cobalah baca buku berjudul 'HAJI' karya Ali Syariati. Buku ini demikian dipuji – puji oleh kalangan Islam di Indonesia, salah satunya dirujukkan oleh Prof .M.Amien Rais. Dalam buku itu kita bisa mengerti bagaimana wawasan Syiah Ali Syariati terhadap prosesi ibadah haji, dan bagaimana beliau menjunjung tinggi situs – situs haji tersebut. Tentunya including pemuliaan terhadap kota – kotanya.

Tak kalah menarik pula, bagaimana Ali Syariati sang cendekiawan Syiah itu berkisah bahwa dalam ibadah haji di Arabia ummat Islam sedunia akan berkumpul menjadi satu kesatuan berbasis di padang arafah, berdiskusi memecahkan problem ummat sebelum perpisahan. Alangkah indahnya. Dan bagaimana Ali menyikapi perbedaan Sunni – Syiah dengan menyebut :"…Sunni saudaraku …". Saya bersyukur bahwa di dunia ini lahir cendekia setajam Ali Syariati. Cendekia yang pemberani dengan kebijakan dan kerendahan hati.[] haris fauzi – 9 september 2008

salam,

haris fauzi

Sunday, September 07, 2008

kenisah : terbiasa ruwet

TERBIASA RUWET

Entah saya yang mulai kurang bisa berpikir alias pikun, atau memang dunia ini yang semakin semrawut. Paska kepresidenan Habibie, semenjak Gus Dur menjadi Presiden negara ini, saya memang boleh dikatakan tidak pernah lagi membaca berita, alias koran, alias tayangan terkini. Sesekali bolehlah. Atau di mobil mendengarkan BBC versi Indonesia. Bukan main malasnya saya mengikuti berita.

Minggu lalu dalam sebuah pelatihan di kantor, saya diingatkan oleh salah satu direktur saya, agar selalu mengikuti perkembangan berita. Tapi, membiasakan kembali mengikuti ragam berita yang bermacam - macam itu cukup membuat saya kelabakan. Coba saja, jaman saya kuliah, saya dalam sehari melahap sekitar lima koran. Bukannya kenapa, masa itu saya menjadi redaktur majalah kampus, jadi nggak ada lucu - lucunya bila saya ketinggalan berita. Sekarang ? Saya lebih senang mendengarkan lagu, membaca buku, dan menulis kolom ketimbang mendengarkan radio, membaca koran,dan menulis berita. Mungkin karena saya semakin males, karena 'wis tuwek'. Hahahahaha.....

Sekalinya berusaha mengikuti berita, dari sekian berita yang saya baca, saya ketumpuan satu cerita ruwet. Ya. masalah bibit padi yang tidak menghasilkan itu. Tentu saya ketinggalan dalam berita ini. Tapi biarlah. Di balik pemberitaan ihwal bibit padi SuperToy itu, ternyata menyimpan kesimpang-siuran yang cukup memusingkan juga.

Okelah. Saya sebut simpang-siur, mungkin karena saya tergagap - gagap membacanya, maklum, kali inilah saya mengikuti berita. Dalam berbagai berita yang dilansir, bibit padi itu di-'klaim' akan berbuah hebat dalam tiga kali panen. Dengan volume sekitar 3-4 kali bibit reguler IR yang telah populer duluan. Masa panen pertama-pun tidak mengecewakan. Bahkan Pak Presiden merasa tenteram memandang panen raya pertama --di bulan april lalu-- produk SuperToy ini. Sang Mainan Super. Ya. Sang SuperToy sudah melewati masa panen pertama dari tiga yang dijanjikan, dan berjalan cukup baik. Maksudnya, kala itu hasilnya cukup baik, tonasenya hampir 4 kali jatah IR. Kala itu.

Prosesnya bila digambarkan sederhana adalah seperti ini. Ada petani dari Jogjakarta yang katanya mencoba - coba persilangan sehingga menghasilkan bibit ini. Trus ada perusahaan besar yang berniat membiakkan secara profesional. Kabarnya penelitian labolatorium sudah berjalan cukup, tinggal uji coba tanam lahan. Maka dilakukan kongsi antara para petani di daerah Jawa ini dengan perusahaan tadi. Jadilah, katanya penanaman di banyak tempat. Di awal tahun, petani dibiayai oleh perusahaan tadi untuk penanaman tahap pertama padi SuperToy ini. Gak cuma dibiayai, tetapi juga diawasi benihnya, masa perawatannya, pupuknya, segalanya deh pokoknya. Selang sekitar empat bulan, maka panen raya yang sukses dan menentramkan Pak Presiden tadi-lah hasilnya. Lumayan.

Masuklah pada fase kedua. Jangan buru - buru masuk ke fase kedua. Ada di suatu daerah, di Purworejo, yang menjadi salah satu simpul keruwetan. Menurut berita, hasil panen pertama yang cukup sukses itu seharusnya di-'bisnis'-kan kepada perusahaan yang berkongsi. Maksudnya, kongsi itu mulai penanaman, pemeliharaan --karena katanya padi ini punya trik khusus dalam pemeliharaan biar bisa panen sesuai kehendak--, hingga kongsi proses penjualan hasil panennya. Nah, menurut sebuah berita, ternyata hasil panen itu tidak di-lewat-kan perusahaan konsultan tadi. Langsung dijual petani entah kemana. Bisa jadi petani mengharap nilai jual pasar yang lebih baik. Karena demikian, maka untuk fase ke dua, perusahaan tadi tidak cawe - cawe lagi. Tidak ada supervisi dari perusahaan tadi dalam proses penanaman fase kedua, begitu aku-nya. Mungkin patah hati.
Namun sungguh luar biasa, entah memang karena petani belum mengerti trik menanam ala SuperToy atau bagaimana, ternyata pada fase kedua padi ini puso alias hampa, alias nggak ada hasilnya. Gila memang. Apa iya penanganan padi itu sedemikian khusus sehingga bila salah prosedur sedikit saja bisa berakibat fatal seperti ini ? Coba tolong pelajari lagi.

Kalau sudah demikian, maka amarah yang menambah keruwetan. Petani membakar padi mereka yang hampa tadi. Kabar terdengar hingga ke telinga Presiden dan Wakil Presiden. Walah. Perusahaan tadi dituntut oleh petani agar memberikan ganti rugi akibat kegagalan panen, karena status penanaman ini adalah uji coba tanam. Lha perusahaan tadi merasa tidak cawe - cawe di fase kedua, karena fase pertama sudah patah hati di akhir panen.

Sebagai pandangan sahaja,biasanya --entah kapan tepatnya, seingat saya semenjak pencanangan proyek swasembada beras di era orde baru-- memang masa awal tanam, varietas yang hendak ditanam telah tersertifikasi keberhasilannya. Di sertifikasi artinya telah di audit keberhasilannya oleh pihak ketiga, hal ini untuk meningkatkan public trust. Lha SuperToy ini ternyata kabarnya belum tersertifikasi, dan langsung menempuh visa khusus untuk tanam lahan. Bila memang demikian maka yang salah siapa jadi makin gak terarah. Mungkin semuanya memiliki kontribusi kesalahan yang signifikan. Perusahaan tidak melakukan sertifikasi, petani melanggar perjanjian penjualan paska panen.

Walaupun nggak persis, namun ini seperti sebuah mobil yang dinaiki oleh dua orang. Orang pertama adalah penumpang sekaligus pemilik mobil namun tidak membawa STNK, dan orang kedua adalah sopir yang tidak memiliki SIM. Ketika akhirnya tertangkap polisi karena melanggar rambu lalu lintas, mereka berdua saling berantem. Pemilik kendaraan menyalahkan sopir yang melanggar, sang sopir menyalahkan pemilik mobil karena tidak membawa STNK. Ruwet, sudah pasti.

Kita terbiasa ruwet, dan sangat kesulitan mengurai keruwetan tersebut. Kita terbiasa mengabaikan proses yang seharusnya, sehingga berharap lebih cepat namun berpotensi menimbulkan keruwetan yang luar biasa. Pengabaian proses sertifikasi, pelanggaran kesepakatan paska panen, patah hati yang memutuskan kerjasama, semua bisa bermuara menuju pembakaran panen hampa tadi. Ujung keruwetan yang belum tentu ketahuan pangkalnya ada dimana. Benar - tidaknya seperti apa, coba dicari lagi. Tapi, yang jelas, ruwet. Ya. Ruwet. "Seperti mau kiamat", begitu ungkap Hatta Rajasa, Menteri Sekretaris Negara.[] haris fauzi - 7 september 2008

salam,

haris fauzi

Thursday, September 04, 2008

kenisah : beberapa

BEBERAPA
 
Kebetulan di rumah Bapak saya cukup tersedia buku - buku religi. Mungkin karena memang Bapak lulusan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, --yang sekarang jadi superheboh bin ngeselin itu gara - gara kabarnya ganti logo pake ada bintang david segala--, atau memang karena Bapak pas itu penggaweannya di Kerohanian Pembinaan Mental Angkatan Darat. Bukan hanya buku religi atau kerohanian Islam. Ada beberapa kitab agama lain, seperti Injil Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, Tripitaka, dan salah satu yang saya ingat adalah Mazmur dan Nyanyian Rohani. Saya nggak hafal semuanya. Beberapa muatannya sesekali diajarkan kepada saya, walaupun gak bener - bener saya perhatikan. Maklum, saat itu saya masih seneng maen gak karu - karuan.
 
Yang menarik adalah Bapak punya beberapa Al-Qur'an, kitab suci kami. Mungkin karena masing - masing Al-Qur'an ada style penulisannya sendiri - sendiri. Perkara isinya, Tuhan menjaga kemurniannya. Dan Bapak mengajarkan kepada kami agar memiliki minimal dua buah Al-Qur'an, dan satu lagi beserta arti / maknanya. Kenapa harus ada artinya ? Ya, apalah 'arti'-nya membaca kalo tidak mengerti artinya, gak bakalan bisa diamalkan. Setelah membaca ayat-nya, sebaiknya kita mengerti isinya. Dan karena saya tidak pernah belajar bahasa arab, mangkanya untuk mengerti isinya saya baca terjemahannya.
 
Lantas kenapa harus memiliki dua buku Al-Qur'an ? Kadang, kita agak kesulitan membaca huruf - huruf dalam Al-Qur'an. Bapak saya bukannya seorang Qori, mangkanya dia juga beberapakali kedapatan keraguan dalam membaca. Kalo saya yang membaca, walah, kesulitan itu muncul berulang kali...hahahahaha....Mungkin karena tanda baca yang kurang pas letaknya, atau kemiripan huruf yang bisa membuat rancu, atau cetakannya yang kurang sempurna. Apalagi untuk Al-Qur'an yang berdimensi kecil.
Jadi ketika kita membacanya, lantas ragu - ragu apakah bunyi bacaan tersebut, maka kita jangan bablas aja cuek. Jangan berpikiran "ah, salah dikit gapapa-lah...". Ketika ragu - ragu seperti itu, Bapak menganjurkan agar saya membuka Al-Qur'an kedua, dan membandingkan tulisannya, seperti mencari referensi atau kalibrasi gitu. Biasanya sih kita membuka Al-Qur'an yang lebih besar hurufnya, jadi makin jelas.
 
Jaman saya kecil, ketika mengaji, saya diwajibkan bersuara keras, jadi Bapak bisa mendengarkan dan mengoreksinya. Bapak hafal beberapa dan cukup kapabel buat mengoreksi. Kesalahan itu berulang kali muncul diakibatkan oleh keraguan tadi, dan saya bablas saja membacanya. Namun, kendala muncul ketika saya harus membaca sendirian. Siapa yang mengoreksi ? Untuk meminimalisir kejadian seperti inilah, maka ketika ragu - ragu akan pembacaannya, kita perlu siapkan Al-Qur'an kalibratornya. Semacam itulah.
 
Cara lain yang lebih mudah adalah dengan membaca Al-Qur'an yang ada cara pembacaan versi huruf alfabet. Mungkin sebutannya sebagai lafadz latin. Bukannya menganjurkan agar membaca yang alfabet saja, tetapi, deretan kalimat dengan alfabet mempermudah kita untuk mengkalibrasi bacaan arabnya bila kita menemui kendala atau ragu - ragu. Al-Qur'an yang menggunakan lafadz latin seperti ini biasanya sudah pula tersedia terjemahannya. Multi version pokoknya. hahahahaha....
 
Terus terang, saya paling gampang menggunakan Al-Qur'an "multi version" seperti itu. Idola saya mushaf Al-Qur'an yang keluaran Departemen Agama seri klasik itu, sampulnya ada yang hijau tua dan ada yang merah maroon. Cetakan sampulnya warna emas. Yang dimensi besar bersampul keras (hard cover), sementara yang berukuran kecil sampulnya lunak. Dulu pernah dicetak yang rilis mini sampulnya berwarna biru langit, hard cover. Keren banget, pita pembatasnya warna merah. Punya saya entah kemana dipinjam siapa.
 
Tentang Al-Qur'an seperti itu, saya menyukainya. Walaupun ada beberapa rekan yang bilang bahwa Al-Qur'an 'multi version' seperti itu sudah bukan Al-Qur'an murni lagi karena ada bahasa Indonesianya. Bener juga sih. Tapi, saya tetep aja menganggap itu sebagai Al-Qur'an. Yang saya baca ya yang model itu, 'multi version'. Karena dalam satu paket, sudah ada lafadz latin buat kalibrasi, dan sudah ada terjemahan buat mengerti maknanya. Jadi kalo kemana - mana cukup bawa satu buku Al Qur'an saja.
 
Kendalanya muncul lagi. Yakni, sekecil - kecilnya Al Qur'an multi version seperti ini, masihlah juga berdimensi cukup tebal. Ya seperti tiga buah Al-Qur'an dibundel jadi satu. Tapi masih oke-lah kalo buat dibawa - bawa travelling. [] haris fauzi - 4 september 2008

salam,

haris fauzi