Wednesday, September 22, 2021

Sesuai Metode Nabi

 

Saya perlu membuka laptop lagi untuk menulis. Sejatinya saya sudah tutup laptop untuk hari ini. Sepenting apakah tulisan yang hendak saya bikin ? Sama sekali kurang penting, tetapi bukan berarti tidak penting, tapi bagi saya cukup berarti. Setidaknya jadi arsip ihwal sepercik kekhawatiran.

Jadi begini. Sekarang alhamdulillah marak pengajian tahsin. Bagus sekali. Setiap pengajian tahsin ada guru dan buku pedomannya. Tentu ada muridnya. Intinya adalah bagaimana mengaji sesuai dengan cara Rasulullah SAW. Setiap masjid, nyaris selalu ada kajian seperti ini. Diadakan secara rutin. Umumnya lebih banyak jamaah ibu - ibu. Jamaah akhwat. Seribu masjid, seribu kajian, seribu guru. Alhamdulillah.

Trus, masalahnya dimana ? Ya nyaris tidak ada masalah. Semua baik - baik saja. Bagus malah. Masalahnya cuma satu. Yakni, kebanyakan kajian tahsin ini mengaku merujuk kepada metode mengaji -- membaca-- al Qur'an cara Rasulullah SAW. Ya, semua mengaku demikian. Pasti bagus sekali. Namun ini potensi riskan akan saling klaim, bahwa merekalah yang paling benar, paling sesuai dengan Rasulullah SAW. Gawatnya, trus mem-vonis orang lain yang mengajinya berbeda dengan dia, sebagai kesalahan, menganggap kajian lain tidak sesuai dengan Rasulullah SAW. Menyalahkan. Salah karena tidak sama dengan cara mengaji kelompok mereka. Kebayang ruwetnya bila setiap kelompok seperti itu, dan saling menyalahkan kelompok atau orang lain yang bebeda. Potensinya seperti itu. Semoga tidak terjadi.

Saya ingat dua tahun lalu juga pernah ada pengajian seperti itu di masjid kami, untuk bapak - bapak. Ada seorang bapak, yang mengaku sudah pernah ikut kajian tahsin dengan guru yang berbeda, dan ada item yang berbeda, akhirnya merasa saling benar antara guru dan murid. Ujungnya menyalahkan orang lain. Jadinya muncul ketidak-cocokan antara guru dan murid tersebut. Ya harusnya muridnya ngalah. Memang akhirnya muridnya mengalah. Mengalah untuk undur diri dari kajian tersebut karena merasa yakin dengan kajian sebelumnya, dengan guru sebelumnya. Namun dampaknya, murid - murid lain ikutan mundur. Berabe deh.

Ya mungkin tidak semua pengajian rutin tahsin berbuntut seperti itu. Namun ada satu hal yang patut dijadikan pegangan. Jangan sampai merasa paling benar dalam mengaji. Jangan merasa paling sesuai dengan Rasulullah SAW, kemudian lantas menyalahkan cara mengaji orang lain. Ini bisa jadi problem besar. Sekitar tahun 2010-an, sempat marak pelatihan "Metode Sholat Sesuai Rasulullah SAW". Dan tidak cuma satu. Ada banyak pelatihan yang meng-klaim sesuai dengan Rasulullah SAW. Setiap pelatihan, ternyata ada bedanya, bisa beda tipis, bisa beda tebal. Trus siapa yang salah ? Ya gak perlu salah - salahan. Gak perlu merasa benar sendiri. Saya kembali ingat saat diadakan kajian sholat ala Rasulullah di masjid kami. Pernah juga. Kemudian ada peserta --pria berumur kisaran 60 tahun-- yang berdiri dan mengemukakan pendapat. Seingat saya, beliau berkata demikian," Kita ini pengajian. Topiknya adalah sholat sesuai Rasulullah SAW. Tapi saya tadi ikut jamaah sholat isya, pak Ustadz jadi imamnya. Namun, rasanya sholatnya tadi tidak sesuai dengan sholat Rasulullah". Peserta langsung recok. Rupanya beliau sudah pernah kajian ihwal sholat ala Rasulullah dengan guru yang lain. Dan guru dia kebetulan berbeda dengan guru kali ini. Rame.

Gak hanya mengaji, gak hanya tahsin, gak hanya sholat. Saya pribadi sependapat bahwa semua hal harus merujuk ke metode Rasulullah Muhammad SAW. Namun, bila ada perbedaan, tidaklah harus diperuncing dengan saling menganggap mereka yang berbeda adalah salah. Cukup menganggap sebagai hal yang "berbeda". Titik. Gak perlu merasa benar sendiri. Efek dari merasa benar sendiri, jumawa, ujungnya menyalahkan orang lain dan sangat mudah di adu domba. Akibatnya adalah perpecahan umat. Ingat selalu pesan Rasulullah SAW sebelum wafat, "Ummat..Ummat...Ummat...".[] haris fauzi, 22 september 2021.