Tuesday, January 12, 2016

maulid

Maulid Nabi Muhammad SAW dinisbatkan sebagai salah satu peringatan hari besar Islam. Mungkin, malah jaman tahun 70-90-an menjadi kerutinan di tiap - tiap komunitas pengajian atau masjid untuk menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Nyaris di semua masjid memiliki seksi PHBI, berkepanjangannya Peringatan Hari Besar Islam. Ini untuk menggarap acara - acara peringatan tersebut, diantaranya adalah Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Nuzulul Qur'an, Isra' Mi'raj. Itu umumnya.

Kemapanan PHBI mulai terusik semenjak maraknya jamaah Salafi - Wahabi yang mengkritisi penyelengaraan PHBI, khususnya peringatan Maulid Nabi. Alasannya adalah telah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW bahwa Islam memiliki dua Hari Raya, yakni Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Menurut dalil Salafi - Wahabi, diluar dua hari raya tersebut, maka hari raya yang lain adalah bid'ah dan sesat. Dan lagi, selama masa Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, hingga para sahabat empat generasi, tidak pernah ada penyelenggaraan acara Maulid Nabi Muhammad SAW.


Beberapa rekan Salafi - Wahabi juga berpandangan bahwa peringatan maulid hanyalah kebiasaan peninggalan nenek moyang yang harus ditinggalkan, yang dimuat dalam Al Qur'an Al-Baqarah 2:170 sebagaimana artinya :


"...Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?".

Dua statemen utama dari Salafi - Wahabi tersebut sangat benar sekali, namun dalam pandangan saya, justifikasi perorangan-nya bisa salah. Contoh sederhana adalah statemen pertama tentang Hari Raya. Sebagaimana saya bertanya kepada rekan - rekan yang menyelenggarakan Maulid Nabi, mereka juga beranggapan sama, yakni hanya ada dua hari raya, sementara Maulid Nabi bukanlah hari raya, namun berupa "Peringatan" akan lahirnya Rasulullah SAW. Ihwal "peringatan" ini, senyampang tidak pernah dijalankan di masa para sahabat, dalam pandangan Salafi - Wahabi, berarti mengada - ada, dan itu bid'ah, dan semua bentuk bid'ah adalah dholalah (sesat). Sementara dari pihak penyelenggara, yang kebanyakan berbasis NU dan Muhammadiyah, beranggapan bahwa tidak semua yang mengada - ada adalah bid'ah, contohnya sholat tarawih berjamaah, pencetakan Mushaf al Qur'an, sekolahan, dan lainnya. Dalil kedua kubu cukup kuat.


Statemen kedua, ihwal "peninggalan nenek moyang", itu juga benar. Karena acara maulid sudah dilakukan turun - temurun semenjak jaman dahulu kala. Namun, sekali lagi, tidak semua peninggalan nenek moyang adalah salah. Sholat, Zakat, Haji, Puasa, itu semua peninggalan nenek moyang. Dan itu tidaklah salah. Ini adalah masalah pemahaman tekstual kontekstual secara perorangan.


NU dan Muhammadiyah memiliki ustadz-ustadz yang berkaliber tinggi. Salafi - Wahabi juga memiliki rujukan kuat dari para ulama dari Saudi. Yang satu pihak menyelenggarakan peringatan maulid, yang isinya kebanyakan adalah tausyiah, pengajian, pembacaan sejarah Rasulullah SAW, pembacaan al Qur'an, hafidz, santunan, dan seabreg kegiatan positif lainnya. Pihak lainnya tidak melakukan itu semua dengan dalil yang telah ditetapkan oleh ulama mereka. Manakah yang salah ? Bagi saya, kedua pihak merujuk kepada dalil yang kuat, dan tidak ada yang salah. Semua benar. Ini seperti pertanyaan : manakah yang salah, tarawih 8 rakaat atau 20 rakaat ? Mana yang salah ? Tentunya semua benar. Jalan menuju kebenaran itu tidak harus selalu sama. Sesuatu yang berbeda, tidak melulu salah, dan tidak boleh mutlak disalahkan. Mereka yang menyelenggarakan maulid bukan ahli-bid'ah. Mereka yang tidak menyelenggarakan juga bukan kaum takfiri.


Saya pernah punya pengalaman lucu ihwal seperti ini, yakni ketika saya kala itu sedang memelihara rambut panjang. Dalam sirah Rasulullah, Muhammad SAW memotong rambutnya mengunakan pedang pendek. Ini artinya rambutnya cukup panjang, konon sebahu. Hal ini diperkuat dengan dalil sebagai berikut :


Dari Bara’ bin Azib, dia berkata, “Aku tidak pernah melihat rambut melampaui ujung telinga seorang pun yang lebih bagus dari (rambut) Rasulullah.”
Dalam suatu riwayat lain, “Rambut Rasulullah sampai mengenai kedua bahunya.” (Hr. Muslim: 2337)

Ihwal rambut, ketika rambut saya disindir oleh salah seorang dari mereka, sempat saya tanyakan kepada rekan - rekan dari Salafi - Wahabi, mengapa mereka kebanyakan memanjangkan jenggot, tetapi memotong rambut cepak. Alasannya adalah," Rapi itu ajaran Rasulullah". Tetapi, bukannya Rasulullah SAW berambut panjang dan rapi pula ? Ini jelas sekali pemahaman individual. Pemahaman yang akhirnya menggiring justifikasi individual, bukan komunal.


Ini adalah bentuk pola pikir. Menurut beberapa orang Salafi - Wahabi, berambut gondrong adalah tidak rapi. Cuma beberapa orang, bukan atas nama kelompok. Padahal berambut gondrong adalah dicontohkan oleh Rasulullah. Berambut gondrong tidak mutlak kemproh. Ketika saya berambut gondrong, beberapa rekan Salafi-Wahabi melakukan justifikasi bahwa saya tidak rapi, tidak mengikuti sunnah rasul yang harus rapi. Apakah gondrong saya tidak rapi ? Saya rasa, rambut saya rapi. Rambut saya tidak seperti Bob Marley. Sekali lagi, ini pola pikir, menganggap yang mengikuti sunnah rasul adalah yang mereka lakukan, sementara lainnya adalah menyimpang dari sunnah Rasulullah. Padahal tidak demikian. Pola pikir ini sifatnya individual, penilaian oleh perseorangan. Secara umum, gondrong berarti sunah Rasul, rapi berarti sunnah Rasul. Kedua-nya benar dan baik. Lebih mudah begitu.


Menyelenggarakan Maulid dalilnya kuat, demikian juga bagi yang tidak menyelenggarakan juga memiliki dalil yang kuat. Tinggal pola pikir individualnya seperti apa positif - negatifnya. Hemat saya, Muhammadiyah dan NU tetaplah tidak perlu dianggap ahli-bid'ah bila menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi. Demikian pula bila Salafi-Wahabi tidak menyelenggarakan Maulid tersebut, bukan berarti mereka kaum takfiri (kaum yang sering menuduh kafir kelompok lain). Bila ada yang menuduhkan bid'ah, bila ada yang men-cap takfiri, itu mungkin hal negatif individual semata, bukan mewakili komunitas. Itu pendapat saya. [] haris fauzi, 12 januari 2016.

Thursday, December 31, 2015

Tentang Umat Islam

Setahun ini, bahkan mungkin sejatinya enam tahun belakangan ini, pikiran saya diteror oleh betapa simpang siurnya ihwal sekte - sekte dalam Islam. Dan itu merajalela dimana - mana, mulai dari koran, internet, grup chat, media sosial, di masjid kampung, ... pokoknya dimana - mana. Dan hebatnya sempat memuncak seiring makin carut - marutnya krisis Suriah. Ini agak aneh. Krisis Suriah --yang mana terjadi bentrok dukungan antara Arab Saudi versus Iran-- menjadikan umat Islam di Indonesia ikut - ikutan terdikotomi antara Sunni versus Syiah, terutama dari rekan - rekan Salafi Wahabi yang menjadi gencar menyerang Syiah disetiap media yang diikuti, baik internet, ataupun grup chat dan media sosial sejenis. Belum lagi termasuk radio - radio berafiliasi Wahabi, yang makin gencar mengutuk Syiah. Demikian juga sebaliknya, Syiah nyinyir kepada kaum Wahabi. Untungnya tidak terjadi bentrok fisik.

Seperti di ketahui, krisis Suriah membawa Iran berhadap - hadapan berlawanan dengan politik luar negeri Arab Saudi. Wahabi notabene lahir dari Saudi, sementara Iran sudah jelas - jelas Syiah. Kondisi ini sudah memungkinkan adanya perbedaan pendapat. Ini makin meruncing karena Amerika berada dalam koalisi Saudi, dan menjadi makin kritis ketika Iran --yang sejak revolusi Islam 1979 sudah bermusuhan dengan Amerika,-- bersekutu dengan Rusia, lawan abadi Amerika. Bayangkan, perseteruan abadi Amerika versus Rusia menyeruak kembali di arena Suriah. Namun, yang menjadi ayam petarung adalah sunni dukungan Amerika versus syiah dukungan Rusia.

Ini mengingatkan kembali betapa edannya perang Iran - Iraq yang terjadi antara tahun 1980 hingga 1988, dimana Sovyet mendukung Iran sementara Amerika mendukung Iraq. Mungkin maksud Amerika ingin menumpas Iran sebagai bentuk balas dendam kesumat Amerika ketika ditaklukkan Iran di revolusi Islam 1979. Amerika bersekutu dengan Iraq dalam perang tersebut, memusuhi Iran. Sat itu petanya begitu, tentu berbeda dengan perkembangan yang terjadi pada tahun 2003, dimana malah terjadi hal kebalikannya. Setelah Amerika mesra dengan Iraq hingga tahun 90-an, pada tahun 2003 giliran Amerika menikam Iraq dengan invasinya. Invasi ini membuat Iraq babak belur dan pimpinannya --Saddam Hussen-- terguling. Ini membawa Iraq pada petaka krisis berkepanjangan. Recovery Iraq karena krisis tersebut belum beres hingga kini, belasan tahun setelah Amerika melakukan invasinya ke Iraq.

Berbeda dengan perang Iran-Iraq, krisis Suriah kali ini, walau terjadi di dalam satu negara, cekcok antara incumben pemerintahan pimpinan Jenderal Assad versus kelompok anti pemerintah, menjadi lebih rumit karena ada gerombolan ISIS --boneka made in Amerika-- yang ikut - ikutan mengacaukan situasi. Dan goblognya, eskalasi di Suriah antara Saudi versus Iran terbawa hingga ke Indonesia dan mewujud menjadi perang kutukan antara kelompok Wahabi dengan Syiah. Yang mana secara kebetulan,--walau menurut saya tidak sepenuhnya kebetulan, Rafidhah --sekte menyimpang syiah-- di Indonesia memang sedang provokatif juga, entah karena mendapat angin semenjak kampanye Pilpres 2014 oleh calon Presiden. Kondisi ini makin membuat membara perseteruan Sunni - Syiah di Indonesia. Dan cenderung membabi-buta. Menyedihkan sekali.

Di akhir tahun, seperti biasa umat Islam Indonesia disibukkan dengan menjalarnya opini ihwal 'perayaan natal bersama'. Ini juga --menurut saya-- terkesan ada yang memprovokasi. Entah berbayar entah tidak. Memang pada tahun 1981 ihwal ini sempat heboh seheboh - hebohnya ketika ketua MUI, Buya Hamka, mengeluarkan fatwa haram tentang perayaan natal bersama. Dan pemerintah menegur MUI, dan berkat keteguhan Buya Hamka, Hamka memilih mengundurkan diri karena fatwa tentang hal  perayaan natal bersama --berikut ucapannya-- harus direvisi. Ketua MUI penganti Hamka menindaklanjuti teguran pemerintah dengan melakukan revisi. Diskursus ini selalu menjadi perbincangan hangat hingga kini, setiap akhir tahun.


Dan karena topik tersebut sepertinya belum juga tuntas beres juga hingga kini, dan senantiasa ada yang menghembus - hembuskan, makanya nyaris setiap akhir tahun muncul trending topic ihwal "perayaan natal dan ucapan selamat natal" dari ummat Islam kepada pemeluk Nasrani. Padahal jelas tahun 1981 Buya Hamka mengharamkan, melarang. Sementara ulama lain ada yang memperbolehkan. Intinya begitu. Berjalannya waktu, harusnya ummat Islam makin sadar, bahwa ada kelompok ulama yang meng-haram-kan, dan ada ulama yang mem-boleh-kan. Tetapi hingga kini saya tidak menjumpai kelompok ulama yang 'menganjurkan' memberikan ucapan natal. Sederhananya begini, bila anda ingin pergi jalan - jalan, sementara Ayahmu melarang, dan Ibu-mu membolehkan, apa yang anda lakukan ? Ini kan pola pikir yang gampang, namun kenapa di Indonesia jadi bertalu - talu ? kalo toh ummat Islam tidak mengucapkan serta tidak menghadiri perayaan natal, saya kira pemeluk nasrani juga tidak berkeberatan. Dan saya rasa pemeluk nasrani juga bisa menghormati kaidah - kaidah yang ada.

Hebohnya topik ini membuat ummat Islam di-Indonesia kembali saling mencaci maki. Saya sendiri penganut yang "mengharamkan" perayaan natal bersama, termasuk mengharamkan pemberian ucapannya. Dalih saya adalah ritual agama lain tidak akan memperbaiki akidah saya. Itu urusan saya pribadi. Dalam kericuhan ini, saya melihat, adanya anggapan bahwa seakan - akan yang mengharamkan itu kolot dan tidak menghormati pemeluk agama lain. Sementara yang mengharamkan, menganggap mereka yang mengikuti perayaan natal memiliki akidah yang luntur. Ini perang rutin yang terjadi setiap menjelang tahun baru.






Dan untuk tahun ini, sepertinya lebih parah. Saya mendapati kiriman potongan video dimana Emha Ainun Nadjib bersholawat dengan nada lagu gereja. Entah kapan dan dimana kejadiannya, bisa jadi bukan tahun ini. Video itu seakan mengejek mereka yang mengharamkan pemberian ucapan natal. Tidak lama kemudian, saya juga membaca berita bahwa di Kupang, pada acara perayaan natal nasional ada kumandang adzan sholat. Dua hal ini, sholawat Emha dan kumandang Adzan, hemat saya tidaklah perlu dilakukan, karena hal tersebut terlalu berlebihan dan bisa mengundang reaksi yang tidak menguntungkan. Bagi ummat Islam yang berkehendak "mengucapkan natal" atau ingin "merayakan natal" tak usahlah memprovokasi agar terjadi reaksi dari kubu yang mengharamkan. Cukup ucapkan dan datang saja, kemudian resiko anda tanggung sendiri kelak di akherat. Saya sih tidak melakukan itu semua.

Kalo toh kemudian terjadi provokasi seperti apa yang dilakukan Emha dan perayaan di Kupang, ini sepertinya memang sengaja memancing supaya ada reaksi dari kubu ummat Islam yang mengharamkan perayaan bersama. Semacam teori "test the water". Kalo ini terjadi, maka skenario berikutnya adalah terjadinya perselisihan dalam ummat Islam yang makin meruncing. Bisa jadi memang ini yang dikehendaki oleh sutradara.

Hembusan ini menguat bermula ketika ada ide Islam Nusantara yang mencuat ketika mengadakan acara "mengaji langgam jawa" di Istana Presiden medio lebaran tahun 2015. Konsep ini banyak didukung oleh Kyai - Kyai dari Nahdatul Ulama, walau tidak semua. Konsep Islam Nusantara menuntut pluralisme dan kelonggaran lebih, terutama ummat islam dituntut untuk bertoleransi lebih, baik terhadap budaya lokal (sebetulnya item ini yang disetujui oleh NU, karena NU berbasis kearifan lokal), nilai agama lain, atau nilai - nilai budaya Barat. Dan kalo bisa bermetamorfosis menjadi Islam liberal (item ini sejalan dengan promosi demokratisasi dan HAM dari Amerika). Intinya adalah "dadi wong Islam ojo sakleg-sakleg". Begitulah konsepnya.

Konon, konsep ini merupakan sub-bagian dari gerakan Islamphobia. Dimunculkan oleh Amerika yang men-cap ummat Islam sebagai teroris. Satu skenario dengan penciptaan monster ISIS yang di-format demikian mengerikan. Nantinya hasil skenario ini akan muncul dikotomis dua sisi Islam: sisi teroris ISIS, dan sisi liberal. Ini konsep internasional, dan sepanjang hemat saya, tidaklah terlalu penting dan juga kurang tepat bila dibungkus dengan judul 'Islam Nusantara' dan lantas diterapkan di Indonesia, karena Indonesia tidak memerlukan hal itu. Malah bisa bikin resiko perselisihan.

Sebagai orang yang dijuluki dengan sebutan tokoh pluralisme, sebetulnya apa yang dilakukan Emha itu kurang tepat. Emha seharusnya bisa mencari sisi - sisi yang tidak sensitif. Bukannya malah mencomot hal yang sensitif kemudian ditunjukkan dengan provokasi di muka umum. Melakukan blending antara sholawat dengan lagu gereja bukanlah langkah yang benar, dan malah bisa mengundang potensi resiko kericuhan.Tapi, bagi saya, terserah Emha mau melakukan apa, entah atas nama pluralisme atau atas nama apapun, mending didiamkan. Karena semakin dibahas, makin ter-publish dan makin populer.

Emha, saya rasa, memiliki kemampuan menimbang - nimbang. Mungkin dalam menjelang tidur beliau juga merintih merasa bersalah melakukan hal tersebut. Bagi yang melakukan kumandang adzan di perayaan natal, pun begitu juga. Seusai acara tersebut, bisa jadi hatinya memohon ampun atas kekhilafan tersebut. Karena pada dasarnya setiap manusia yang memiliki hati akan melakukan introspeksi secara otomatis. Minimal dalam kesendirian, dan dalam dialog antara manusia dan Sang Pencipta kehidupan. Bila dialog tersebut terjadi, maka rasa bersalah akan muncul, dan berikutnya adalah permohonan ampunan. Istilah sufi-nya, tobat.

Seakan dibikin secara kebetulan, akhir tahun ini ada pula kasus unik. Muncul terompet tahun baru yang terbuat dari lembaran Al-Qur'an. Konon bertaburan muncul dan dijual bebas di Jawa Tengah. Apakah ini kebetulan ? Bila dikaitkan dengan adanya adzan di Kupang serta kelakuan Emha, maka ini bisa jadi satu skenario. Bisa jadi. Andai ini cuma kebetulan semata, mungkin tidaklah perlu kita berpikir tentang skenario tersebut. Coba kita pikirkan masak - masak. [] haris fauzi, 31 desember 2015