Monday, May 14, 2007

kenisah : pelajaran dari Turki

PELAJARAN DARI TURKI
 
'...Turki berupaya keras menjual dirinya pada turis sebagai sebuah negara modern. Pantai - pantai nudis, toko-toko dengan barang-barang global yang membosankan, kartu-kartu pos, tempat-tempat disko-- semua ini merupakan barang - barang bekas dan secara budaya merusak. Padahal warisan mereka sendiri, arsitektur dan seni memasak, masa lalu mereka, merupakan peninggalan dengan mutu kelas pertama...' ( 'Living Islam' - Akbar S.Ahmed).
 
 
Saya belum pernah ke Turki. Tetapi katanya keturunan ras Turki adalah para pelopor dan penjelajah, yang berkelana dan melakukan pelaklukan hingga tanah Rusia. Hingga ada wilayah taklukan yang kini disebut Turkistan.
Ras Turki juga disebut - sebut sebagai ras yang gemar 'mengancam' tanah Eropa, dan pernah dijuluki dengan 'si pengancam dari timur'. Hal ini setidaknya terbukti ketika masa dinasti Usmaniyyah yang asli Turki berhasil melebarkan sayapnya hingga Eropa, bahkan Sultan Muhammad II 'Sang Penakluk'  --yang lebih populer dengan nama Turki-nya : Mehmet II--- berhasil menundukkan kota Konstantinopel pada tahun 1453 dan merubah namanya menjadi Istanbul. Juga tahun 1526 pasukan Sultan Sulaiman juga sudah berdiri di pintu gerbang kota Wina, namun gagal menundukkannya. Dan tidak ketinggalan, pada ajang pesta sepak bola piala dunia, kesebelasan Turki juga mampu menundukkan banyak kesebelasan Eropa.
 
Suatu ketika nabi Muhammad SAW pernah bersabda;"....Kelak di masa mendatang, ummat Islam akan memiliki pasukan yang demikian hebat, hingga pasukan itu dapat menaklukkan Konstantinopel...".
Telah banyak pasukan yang hendak mewujudkan sabda tersebut, namun Sabda Rasul itu baru diwujudkan oleh pasukan Mehmet II dari dinasti Usmaniyyah. Pasukan Turki.
 
Dinasti Usmaniyyah memerintah dari pusat Turki hingga timur menjelang Persia, dan ke barat mendekati Austria, sejak tahun 1300-an selama  lebih 600 tahun. Mereka mengalami masa kejayaan di segala bidang; arsitektur, astronomi, kepemerintahan, kecendekiaan, sastra, dan militer. Mesjid Sulaiman merupakan bukti kejayaan arsitektur, karena lebih megah daripada St.Sophia. Sang Sultan memiliki jadwal khusus untuk di sidang oleh rakyat dan para ulama secara rutin dan demokratis, hingga seorang sultan agung seperti Mehmet II pernah harus menjalani sidang yang panjang karena surat petisi rakyatnya. Ada sekolah 'karir' bagi rakyat agar mampu duduk di jenjang profesi yang tinggi, jadi tidak mutlak harus bergelar ningrat untuk jadi pamong praja atau panglima. Para penyair gak terhitung jumlahnya. Ratusan buku diterbitkan dan perpustakaan ada dimana - mana. Apa lagi ?
 
Kekalahan Usmaniyyah Turki pada perang dunia I berakibat fatal. Dinasti Usmaniyyah runtuh pada periode perang dunia pertama. Namun bukan hanya karena kalah perang, ternyata masa - masa akhir dinasti banyak mencoreng arang. Sultan mulai banyak memelihara selir, bahkan dikabarkan Sultan Ibrahim pernah membunuh lebih dari dua ratus selirnya seketika, mungkin karena bosan. Istana sultan yang  penuh hiasan kaligrafi keemasan, kali itu lebih banyak ditinggalkan Sultan karena Sultan lebih suka memandang ratusan selir yang telanjang berseliweran ketimbang menatap kaligrafi tersebut. Sultan terlalu asyik di keputren ditemani bergalon-galon anggur. Urusan kenegaraan diserahkan kepada birokrat yang berjalan tanpa pengawasan sehingga korupsi merajalela. Masjid di istana yang demikian megah hanya dikunjungi oleh tukang kebun dan pelayan. Belum lagi para politikus yang sering silang - sengketa dan terpecah - belah karena kepentingan individu. Gak karu - karu-an pokok-e.
 
Pantaslah seorang sekuler bernama Mustafa Kemal merasa muak dengan dinasti tersebut. Dengan revolusi sekulernya, Kemal menyulap Turki menjadi negara western, kiblat yang berbalik 180 derajat dengan cepat. Ibukota digeser dari Istanbul ke Ankara. Mesjid St. Sophia disulap menjadi museum. Ya. Pesulap itu bernama Kemal Attaturk, menyingkirkan dinasti Usmaniyyah dengan jargon 'dinasti harem, dinasti anggur, dinasti korup'. Proses sulapan yang dimulai tahun 1920-an itu cukup berlangsung sepuluh tahun. Dalam rentang itu Turki sudah ter-reformasi menjadi negara sekuler, dan di tahun 1938 Kemal 'Bapak Turki' --sang pesulap-- sudah boleh mati dan dikubur. Suatu masa yang cepat, bandingkan dengan masa reformasi bangsa kita yang berjalan tertatih - tatih dan luntang - lantung seakan tanpa tujuan.
 
Tidak berhenti disitu perjalanan bangsa Turki. Paska milenium 2000, haluan sekuler mulai terancam. Partai kanan mulai naik daun. Mungkin sudah banyak rakyat Turki yang mulai rindu dengan kemuliaan dan kejayaan dinasti Usmaniyyah. Ideologi sekuler Kemal yang semula berdiri tegak dengan jargon meruntuhkan Usmaniyyah, kini berbalik : Kemal di-cap dengan pelopor gaya kebarat - baratan yang  alkoholik dan homoseksual. Entah apa lagi nantinya. Berita - berita dunia internasional tidak dapat berbohong masalah ini. Bangsa Turki sedang memulai untuk menghela keretanya untuk berpindah kiblat lagi.
 
Rupanya, perubahan yang dilakukan Kemal lebih condong kepada gaya dan tren sahaja. Ideologi sekuler Kemal mungkin berdiri tegak --setegak patung - patung Kemal di banyak perempatan jalan protokol. Namun ideologi western tersebut tidak memiliki pondasi yang kuat. Jadi berkesan semacam peniruan budaya. Tidak mengakar kuat. Bagaimana-pun bangsa Turki berakar budaya timur, bukan barat. Identitas pribadi inilah yang tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa bisa jadi masa seratus tahun  --sejak 1920-an-- mungkin sudah cukup bagi ideologi sekuler untuk lahir - tumbuh - hingga mati dan di kubur di Turki. Walhasil muncullah pertanyaan; 'Akankah bangsa Turki mampu membaca identitas pribadinya ?'.
Belum tentu dan tidak segampang itu. Identitas Usmaniyyah itu sudah tercampak, tercoreng, dan lecek tergilas proses westernisasi. Susah sekali melacaknya.
 
Walau bagsa Indonesia tidaklah identik dengan bangsa Turki, mulai ada kisah Mataram Hindu yang tentunya berbeda dengan dinasti Usmaniyyah. Juga perjalanan panjang penjajahan di pertiwi yang berbeda dengan kekalahan Turki di perang dunia pertama, perjuangan kemerdekaan Indonesia yang juga berbeda hingga proses reformasinya, ...Namun menurut hemat saya, bangsa kita harus banyak belajar dari perjalanan bangsaTurki ini. Belajar bahwa perubahan tanpa pondasi identitas yang kuat mungkin kelak akan membingungkan kita sendiri.[] haris fauzi - 14 Mei 2007


salam,
haris fauzi


Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news, photos & more.

No comments: