Tuesday, July 16, 2013

kiasan abunawas

"hamba seakan tidak patut masuk surga,
namun hamba tidak tahan akan siksa neraka,
ampunilah hamba ini ya Tuhan..."



Kurang lebih seperti itulah apa yang pernah diajarkan oleh seorang seniman cendekia Abunawas. Bait itu pula yang pernah dilantunkan oleh para kiyai - kiyai yang mencoba menanamkan religi kepada masyarakat dengan keindahan ber-prosa.

Seorang penceramah pernah menyampaikan bahwa bait tersebut ambigu. "Andai ingin masuk surga maka mohonlah masuk surga, andai ingin masuk neraka maka bilang saja pingin masuk neraka. Tidak usah plin-plan seperti itu", begitu argumennya.

Bagi orang yang mencerna secara hitam putih, mungkin akan terlihat seperti itu. Dalam tataran awam kesan ambigu itu bisa muncul. Artinya, untuk mencerna sesuatu kadangkala memang butuh ilmu lebih, tidak asal apa adanya saja. Bahasa setidaknya mempunyai empat sisi yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaannya. Yang pertama adalah tingkatan. Dalam bahasa jawa mengenal tingkat 'ngoko' untuk bahasa kasar rekanan sejawat, dan tingkat 'kromo inggil' untuk tingkat kesopanan tertinggi. Suatu bahasa dikatakan makin bagus bila bahasa tersebut juga memiliki beberapa kata ganti, misalkan dalam bahasa Inggris ada "he" dan "him". Yang ketiga adalah bahasa ada yang memiliki kemampuan makna sayap seperti dalam pantun. Faktor terakhir bahasa adalah kemampuannya menyampaikan makna dalam kurun waktu yang lama dan selalu bisa diterima dengan baik. Keempat faktor tersebut ada ketika suatu masyarakat mengembangkan budaya berbahasa. Ada masyarakat yang memiliki bahasa yang kompleks sehingga keempat aspek itu semua terpenuhi. Namun ada juga yang tidak.

Al-Qur'an menggunakan basis bahasa arab karena memang memiliki semua hal diatas. Bahasa dalam Al-Qur'an juga bermakna bersayap. Contoh yang paling ekstrem adalah penggunaan kata "Kami" untuk Tuhan. Bila teks dalam Al-Qur'an ini kita cerna secara hitam - putih seperti halnya penceramah diatas, maka makna dari "Kami" artinya Tuhan itu jamak, banyak. Padahal dalam Pancasila sudah jelas bahwa sila pertama adalah "Ketuhanan Yang Maha Esa", bahwa Tuhan itu satu.

Sekali lagi, dalam mencerna dan mempergunakan suatu bahasa, ada baiknya kita menggunakan kaidah - kaidah kebijaksanaan. Karena latar belakang, kultur, kondisi masyarakat, dan aspek lainnya juga membentuk bahasa yang dipergunakan. Ini yang harus dipertimbangkan. [] haris fauzi - 16 juli 2013

ilustrasi : siradel.blogspot.com

5 comments:

Ridho Arroniri said...

bahasa tingkat tinggi sangat sulit dicerna oleh kaum awam
haruslah ditafsirkan oleh sang ahli

Anonymous said...

Ris, kok ujug-ujug muncul Pancasila sila pertama? Kok gak mbahas konsep tauhid sing relevan dengan bahasanmu?Ndik tulisanmu iku, "satu" iku konsep kuantitatif utw konsep totalitas eksistensi?

haris fauzi said...

kuantitatif, komparasi dengan jamak kata "kami". dan di pancasila juga konsepnya lebih cocok kuantitatif.

haris fauzi said...

mas ridho : bahasa memang memungkinkan bersayap2

Anonymous said...

Nek "Kami" iku kuantitatif, sifat jamak, koyo jaremu. Ciptaan podo duwe sifat jamak? Onok bedone?