HUJAN JANUARI Tergopoh – gopoh dan murung diantara hujan yang bertubi – tubi. Itu Januari dalam benak saya. Cerita pada bulan lalu bagaimana bohlam lampu pijar yang meledak di tengah malam –membuat saya terkejut sekali—hingga kini masih teringat, tentunya juga masih menyisakan jelaga di tembok, terlebih di atap kamar mandi. Bohlam itu tidak sekedar meledak, melainkan juga terbakar. Juga saya masih teringat kisah tahun lalu ihwal bagaimana seorang rekan menyampaikan bahwa dalam penerbitan sebaiknya memilih satu diantara dua, yakni penulis yang bermodal atau menjadi pemodal yang menulis. "Bila tidak berada dalam opsi itu, sebaiknya lupakan...". Rekan itu menyuruh saya melupakan sesuatu yang tidak bisa saya lupakan. Semua masih teringat seiring rinai hujan sepanjang jalan, sepanjang waktu, seakan tidak hendak putus dan kerap menjadi dingin seperti kisah – kisah kolong jembatan yang membeku menusuk tulang. Seperti biasa tahun – tahun sebelumnya, keseharian di bulan Januari di isi dengan bercanda, mencari nafkah, menyimak berita, membaca buku, dan tentunya sarapan, tidur, mandi dan kegiatan lazim lainnya. Dan juga mendengarkan lagu. Seperti itu. Januari ini setidaknya saya menyelesaikan membaca buku tulisan Jalaluddin Rakhmat yang memberi pengertian ihwal pemikiran –tentunya pemikiran spiritual—yang lapang dan alternatif sudut pandang yang demikian banyak. Seperti membuka jendela pikiran kita, seakan sufisme itu tidak hanya dipandang dari satu jendela sempit. Layaknya sebuah rumah yang ditambahi dengan puluhan jendela sehingga semakin terang dan kita bisa memandang dari berbagai arah ke segala penjuru. Saya bersyukur setelah membaca buku kecil itu. Dan tak lama kemudian saya menjadi sok pendakwah dengan pengutip pemikiran – pemikiran Kang Jalal. Terutama alasan – alasan mengapa malaikat cemburu kepada manusia gara – gara lakon manusia bisa berbuat salah dan manusia bisa terjerembab hidupnya, sementara malaikat tidak. Singkat cerita, menikmati cerita – cerita pendek bikinan Anton Chekov membuat berdecak kagum. Cerpenis Rusia itu –dengan rambut tersisir rapi ke belakang dan kacamata bulatnya—mampu menulis dengan deskripsi yang detil dan sarat makna hanya dalam tiga – empat lembar tulisan sahaja. Rasa kemanusiaannya membuat Chekov mampu dengan caranya yang luar biasa gamblang menyibak dan menjelaskan ihwal penderitaan kehidupan, kegetiran, dan keprihatinan yang menyeruak di banyak tulisannya. Sebuah kompleksitas yang terlalu kontan, terlalu pendek. Namun setahu saya Maxim Gorky menyukainya. Atau setidaknya Armand Maulana pernah berkata," Bila karya seni yang pendek saja sudah cukup menyampaikan pesan, mengapa harus dibuat panjang...". Saya sendiri adalah seorang ayah tiga anak, yang mungkin menjadi peserta gerombolan atau kelompok manusia yang dalam sebulan ini cukup tergopoh – gopoh berkejaran dengan kebutuhan finansial. Hal ini mungkin membuat rambut saya lekas rontok. Bila kini Chekov menjadi tetangga karib saya, --atau menjadi rekan sebelah bangku di kantor,-- mungkin dia akan terbahak – bahak dengan perkara saya ini. Atau dia akan menyiutkan matanya. Cobalah, bagaimana Chekov menuliskan tragedi roman kehidupan yang menggelikan dengan demikian ringkas dalam cerpennya. Bahkan ketika berhadapan dengan peti mati beberapa kali. Tentunya rontoknya rambut tidaklah sepadan dengan kejadian sekoyong – konyong berhadapan dengan peti mati di kegelapan. Demikian juga kejar – kejaran kebutuhan finansial tidaklah separah tergopoh – gopohnya Petrovich yang berlarian kesurupan melintas kuburan di tengah hujan malam hari dan kemudian berjumpa lagi dengan peti mati, dan peti mati lagi. Ini bisa membuat Petrovich edan. Mangkanya, mungkin Chekov akan menertawakan saya, atau bahkan memandang iba. Januari ini juga bagi saya mencatatkan beberapa berita kusam. Bertubi berita dan kabar menohok dan berbelok di media, membuat Januari makin murung. Mungkin kabar memendam angkara. Jelas terlalu banyak kepentingan tak kasat mata yang sering timbul - tenggelam. Urusan orang kecil kebanyakan dipertaruhkan di gelanggang gladiator yang penuh kebohongan. Apabila ada petarung yang menang, maka orang kecil tetap sengsara. Dan apabila ada yang kalah, orang kecil jualah yang makin sengsara. Orang kecil adalah orang kebanyakan yang tidak lagi bisa prihatin, mereka hanya bisa murung di antara hujan Januari ini. Lantas kakinya basah terendam banjir. Lantas kepalanya juga. Dan pentas gladiator itu terus berlangsung dengan angkuh. Saling hina, saling dusta, saling tuding. Hujan Januari tahun ini tidaklah dengan segera usai, demikian juga dengan kemurungannya. Kemurungan itu tidak akan mudah selesai. Tidak sebagaimana saya dengan mudahnya menyudahi tulisan ini. Januari masihlah hujan, dan masih memendam kemurungannya. [] haris fauzi – 20 Januari 2010. salam, haris fauzi |
Wednesday, January 20, 2010
kenisah : hujan januari
Saturday, December 19, 2009
kenisah : beckham
Tuesday, December 15, 2009
kenisah : ihwal memukul anak
IHWAL MEMUKUL ANAK Konon, pada suatu hari penantian di alam kubur, terjadilah percakapan antara malaikat dengan seorang jasad manusia, Malaikat; " Apakah engkau menjalankan sholat ?". Manusia; " Kadang...". Malaikat; " Mengapa engkau lalai ?". Manusia; " Karena aku tidak terbiasa....". Malaikat; " Apakah orang-tuamu tidak mengajarkan sholat semestinya seperti apa ?". Manusia; " Orang-tuaku mengajarkan sholat semenjak aku kecil hingga akil-baliq". Malaikat; " Apakah kau dipukul oleh orang-tuamu ketika orangtuamu mengetahui bahwa kau tidak mendirikan sholat padahal telah sampai usia akil-baliq ?" Manusia; " Tidak. Sesekali tidak pernah orang-tuaku memukulku karena lalaiku. Karena mereka adalah orang-tua yang menyayangiku..." Malaikat; " Ketahuilah. Sesungguhnya orang-tuamu tidak menyayangimu. Mereka lalai karena dia tidak memukulmu atas kelalaianmu tidak mendirikan sholat, maka kini tugas-ku lah menyiksamu karena kelalaian orang-tuamu. Dan orang-tuamu juga akan menyesali kelalaiannya ini..." --------- Itu hanya sebutir kisah. Saya mendengar kisah tersebut dari guru ngaji, ketika saya masih kecil. Kira - kira sekitar tiga puluh tahun yang lampau. Dengan tingkat akurasi ingatan yang tidak baik, kisah itu saya tuliskan kembali disini. Walhasil maka tentunya tak bisa dihindari beberapa detil-nya kelupaan. Ringkas cerita, inti kisah tersebut adalah penekanan ihwal pentingnya kewajiban mendirikan sholat. Dimana kewajiban tersebut merupakan suatu hal yang tidak bisa ditawar lagi ketika seseorang mencapai usia akil baliq. Sekitar usia belasan tahun. Usia remaja. Dimana ketika seorang anak berusia remaja tidak kunjung mengerjakan kewajiban tersebut, maka sang orang tua dianjurkan --diperbolehkan-- untuk memukulnya. Cerita itu bisa jadi hanya merupakan kisah tentang edukasi anak ihwal sholat yang demikian subyektif dari seorang guru ngaji, mengingat guru ngaji saya dulu itu cukup keras juga wataknya. Dan juga kisah itu bukan merupakan 'teori edukasi' karena tidak ada landasan teori yang disertakan atau dikutip, apalagi bukti empiris juga tidak disertakan. Maka, boleh jadi biarlah kisah itu menjadi kisah sahaja, bukan teori. Bagi saya pribadi, makna dan hikmah bisa diambil dari mana saja, termasuk dari dalam sebutir kisah. Yang menjadi perkara pro-kontra mungkin adalah bahwa kisah tersebut menjadi legitimasi untuk pemukulan terhadap anak. Istilah kerennya adalah 'kekerasan terhadap anak'. Dalam era kekinian, tentunya legitimasi semacam ini akan menimbulkan kontroversi dan ketidak-setujuan dari beberapa pihak. Mungkin masih lumrah kalo jaman dahulu seorang Ayah memukul anaknya, seorang ibu menghardik anaknya, atau segala bentuk 'kekerasan' seperti itu. Bisa jadi seorang anak yang nyelonong tanpa pamit keluar rumah, sore harinya akan di-setrap oleh Ibunya. Seorang anak yang mencuri buah mangga tetangga tak bisa lolos dari hukuman Bapaknya. Apalagi seorang anak yang nekad mencopet, tentunya hal ini bisa saja membuat orang tua-nya membara. Itu semua cerita jaman dulu. Dan seiring berjalannya waktu, setelah tiga puluh tahun kemudian hal ini bisa jadi kini sudah berbeda. Kenapa berbeda ? Sekarang jaman telah modern, ilmu juga sudah berkembang sedemikian pesat --terutama kiriman dari Eropa--, karena kini telah banyak sekali metode pengajaran anak, pendidikan usia dini, hingga teori psikologi bocah, bahkan demikian majunya sains urusan anak ini hingga sudah ada undang - undang perlindungan hak anak segala. Tentunya segala kemajuan tersebut bisa memper-'cantik' urusan pendidikan anak oleh orang-tuanya. Apalagi sekolah sudah demikian maju fasilitas dan dengan harga yang relatif mahal, tentunya sangat mumpuni untuk mengajarkan dan mendidik anak. Wacana pendidikan anak sudah sangat berkembang kini. Bila urusan pendidikan anak mengerucut seperti tema kisah di atas, maka akan muncul pertanyaan, bagaimana dengan pendidikan sholat anak dalam jaman modern ini ? Dari beragamnya teori yang berkembang, entah kenapa saya masih mempercayai hikmah di balik cerita guru ngaji saya itu. Bahwa bila seorang anak yang telah akil-baliq tidak kunjung menjalankan sholat, maka orang-tua boleh memukulnya. Dianjurkan malah. Lepas dari segala teori tentang pendidikan anak yang kini berkembang, bagi saya teori 'memukul supaya segera mendirikan sholat' itu masih relevan. Itu bagi saya. [] haris fauzi - 14 Desember 2009 salam, haris fauzi |
Subscribe to:
Posts (Atom)