Tuesday, March 25, 2008

kenisah : tentang raja (1)

Tentang Raja (1)
 
Dinilai belum cukup umur, begitulah nasib saya ketika hendak didaftarkan oleh Ibu masuk SD. Disarankan untuk mendaftar Taman Kanak - Kanak (lagi) yang berada di belakang gedung SD. Saya menggeleng. Saya pengen masuk SD seperti kakak saya, saya sudah tamat TK selama 3 tahun. Titik. TK-pun dulu saya sempat kurang umur, jadi dimasukkan ke kelas nol kecil 'percobaan', jaman sekarang disebut playgroup.
Bersikukuh masuk SD, akhirnya saya dikategorikan sebagai murid percobaan, dalam pengawasan khusus.
Saya bersyukur bahwa kakak saya ternyata juara kelas, sehingga paling tidak, para dewan guru masih juga bisa diyakinkan bahwa adiknya gak bakal ketinggalan pelajaran, walau badannya terlalu kecil. Dengan badan paling kecil, saya duduk paling depan di kelas, kaki menggantung ketika duduk di bangku, keberatan membawa tas sendiri yang isinya ada roti dan minum segala. Kebiasaan bekal ini saya bawa sampai sekarang, sampai saya bekerja, bahkan ketika kuliah saya sempat menggembol nasi.
 
Selain kurus ceking kecil, saya juga termasuk anak yang cengeng. Sering menangis karena sedikit gangguan, bahkan ketika ada bentrok kecil saja sudah membuat saya menangis. Kabar bahwa sepulang sekolah nanti akan turun hujan dan sulit pulang, hal seperti itu sudah membuat saya menangis. Walhasil saya dipinggirkan dari komunitas kelas. Ngapain maen sama anak cengeng? Saya sendirian.
 
SD itu namanya SD Putra Rata-Tama, berada di komplek militer, dilingkupi asrama dan barak kompi angkutan bermotor angkatan darat. Yang daftar ya kebanyakan anak kolong, anak asrama situ. Saya masuk sekolah di kelas satu B, kakak saya naik ke kelas dua B. Situasi dekat dengan asrama, membuat sekolahan itu punya kekhasan tersendiri. Anak asrama cenderung berkelompok. Sementara anak luar, menjadi semacam komunitas informal. Dan seperti biasa, di setiap kelas terdapat raja, yang titahnya di-gugu murid yang lainnya, yang punya banyak pengikut.
 
Walau anak kolong, saya dianggap anak luar karena rumah saya tidak di asrama. Ya. Anak asrama menguasai kehidupan sekolahan tersebut. Namun anehnya, pas saya kelas satu (saya masuk kelas satu B), raja kelasnya bernama Hari Tranggono, anak luar. Sebabnya adalah Hari Tranggono memiliki kakak di sekolah tersebut, kalo nggak salah kelas enam, namanya Ulang. Sementara kelas satu A, rajanya bernama Nung, aslinya Nurhadi, anak luar juga. Nung bersahabat dengan Hari. Raja di kelas kakak saya bernama Gotri, nama lengkapnya Triono.
 
Di kelas - kelas A, dikuasai anak luar, sementara kebanyakan anak asrama yang identik dengan kebadungan anak kolong dimasukkan ke kelas B. Sungguh pasif saya di acara kelas yang diidentikkan dengan kebadungan itu. Jam istirahat saya tidak keluar kelas, hanya sibuk menghabiskan bekal, berharap segera lonceng berbunyi dan pelajaran mulai lagi. Beberapa teman meminta bagian bekal, tidaklah bermasalah. Mungkin karena raja-nya anak luar, maka saya tidak terlalu di-usik oleh anak asrama. Atau bisa jadi karena saya cengeng dan dalam pengawasan khusus guru, membuat anak lain tidak hendak mencari perkara. Sementara anak luar pengikut raja Hari Tranggono tidaklah terlalu badung. Bahkan tangan kanan Hari, Dodik, senasib dengan saya, demen bawa bekal. Apalagi kakak saya dekat dan sering pulang bareng dengan Gotri, raja kelas dua B.
 
Setahun, saya naik ke kelas dua B. Seingat saya masih belum terjadi suksesi. Rutin, senin selasa seragam putih - putih, rabu-kamis seragam putih coklat, jumat- sabtu seragam pramuka. Namun ada sedikit perubahan. Ada teman kakak yang tidak naik kelas dan bergabung dengan rombongan kami. Seingat kami ada beberapa, namanya Agus Pramono, Ponco Priyo, Haryanto, dan satu orang lagi yang saya lupa namanya.
Agus Pramono ini agak terlambat mengikuti pelajaran. Suka ngibul pula. Sementara Bu Min, guru kami dari kelas satu dan kelas dua  berkomentar,".....Haryanto terlalu diam, sementara Ponco nakalnya minta ampun....". Ponco memang spektakuler. Dia dipanggil 'Pele' karena jago main bola. Anak kelas satu, tapi kemampuannya bermain bola seperti anak kelas empat. Larinya kencang, tendangannya keras, sering bikin gol, bila di kelas tak mau duduk. Giliran jam istirahat melesat duluan. Ponco lima bersaudara lelaki semua, nakal semua, tinggal di asrama.
Dalam masa ini, sebenernya nama Hari Tranggono mulai surut dari tahta karena kakak sekaligus 'backing'-nya Ulang, sudah lulus. Dodik, tangan kanan Hari, karena anak orang kaya, sudah mulai menerima teror kompas oleh geng-geng kecil. Sementara Ponco ogah - ogahan menjadi raja. Seingatku begitu. Di otaknya hanyaada sepak bola.
 
Kelas tiga kami masuk siang, demikian juga kakak saya di kelas empat. Ada suksesi. Ponco hendak naik, tapi banyak yang nggak suka dengan kebadungannya, walau Ponco sangat cekatan berolah raga. Akhirnya muncullah raja baru, Chairil Fajar Roffi namanya. Karena kelas siang kami sering datang lebih awal jauh sebelum bel berdentang. Bel yang terbuat dari bekas bom itu dipukul pada pukul setengah satu, tetapi anak kelas kami sudah banyak yang berseragam pada pukul sebelasan. Menunggu waktu masuk, kami ngobrol di rumah Chairil, di salah satu ujung asrama. Dan disitu, teman - teman terpesona oleh kakak Chairil yang juga sering nimbrung, padahal dia sudah SMA, namanya Mas Pulung. Oalah. Oleh karena inilah, maka teman - teman menisbatkan Chairil menjadi raja kelas. Mas Pulung memang sering bercerita kehidupan sekolah dia, dan hal ini membuat anak - anak kagum. Apalagi dia berangkat sekolah pake celana panjang, hem dengan kancing atas terbuka sehingga terlihat kalung rantai. Wuih. Saya nggak kagum, karena saya punya tetangga yang sudah SMP namanya Wisnu. Saya lebih kagum kepada Wisnu karena tulisan tangan Wisnu jauh lebih bagus ketimbang Mas Pulung.
 
Masa ini, Ponco berhasrat menjadi raja, tetapi gagal. Akhirnya dia menjadi oposisi murni. Ini yang saya suka dari Ponco. Dia tidak menjilat kepada raja baru. Pada saat awal Chairil berkuasa, teman - teman berlomba menjadi pengikut setianya. Ada yang rela disuruh - suruh kemana-pun. Hari Sucipto sering melakukan hal ini, termasuk hal terkutuk juga, yakni menjadi tukang begal untuk anak yang melawan kebijakan raja. Saya sering dipukulnya.
Ya. memang pada awal Chairil berkuasa, dia melakukan banyak ke-otoriter-an. Minta jatah kue, minta dikerjain PR, minta pinsil, mematahkan penggaris, sampai mengancam anak yang mengerjakan PR, gara - gara dia sendiri gak ngerjakan PR. Untuk urusan ini saya sering melawan, walau sering kalah. Kendalanya secara nggak langsung adalah Ponco, walau oposisi, dia juga malas mengerjakan PR, jadi saya kesulitan berkoalisi dengan dia.
Saya tau bahwa setiap guru, baik Bu Min (guru kelas 1B - 2B) maupun Bu Sutji (guru kelas 3B) selalu berpihak kepada saya, tetapi saya bukan penakut yang terlalu sering mengadu.
 
Disamping ada backing Mas Pulung, Chairil juga punya tangan kanan yang handal. Beberapa diantaranya Bagus Setyo Hadi, Bambang Dipoyono, dan Eko Setyo Budi. Ketiganya anak asrama. Mereka cekatan. Dalam setiap tanding kelompok, seperti adu bentengan atau gobak sodor, Chairil selalu bersebrangan dengan Ponco. Dan minimal tiga orang cekatan itu harus menjadi bolo-nya Chairil. Ponco legowo harus memilih rekanan yang lain, namun dia tetap fight. Salut. Dia memang nakal, tapi dia punya jiwa melawan. Dalam adu permainan seperti ini, saya tidak ikutan, karena badan saya kecil dan sering kalah.
 
Semakin hari raja di raja Chairil semakin menjadi. Bahkan dia mulai menerapkan pencegatan pulang sekolah untuk anak yang melawan titahnya. Ketika saya tau hendak dicegat, maka saya pulang bareng kakak saya yang kelas 4B--kelas siang juga. Namun, dengan bolo yang banyak, kami berdua harus terbirit - birit menghindari kejaran mereka. Bahkan Chairil-pun berani mengusik kakak saya yang satu kelas di atas. Sekali lagi, dalam keadaan seperti ini saya tidak bisa mengandalkan kehebatan Ponco, karena dia anak asrama, sama dengan Chairil. Malah gawatnya, beberapa anak luar, menjadi bolo raja baru itu. Salah satunya bernama Ivor Taruna. Badannya kekar pula. Huh.[] haris fauzi-24 maret 2008


salam,
haris fauzi
 


Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

1 comment:

Eva Bardijah said...

wah saya juga alumnus SD Putra Rata Tama, lulus tahun 1974. Angkatan tua. Saya juga anak kolong yang tinggal di luar asrama. Tapi jamanku dulu kayaknya gak ada raja-rajaan deh. salam