Saturday, December 13, 2008

kenisah : baru sekilas

BARU SEKILAS

 

....

Bila karena Tuhan, apakah penjara-penjara itu membuatmu sengsara ?

Bila karena Tuhan, apakah siksaan itu membuatmu takut ?

....

 

Padahal sudah lama paket itu datang. Mungkin tiba di awal tahun. Sudah lama saya buka, dan dua keping cakram itu saya selipkan diantara keping cakram yang lain dalam sebuah map tebal. Saya seringkali mempunyai kebiasaan eperti itu, tak bersegera menengok isinya.

Seperti halnya ketika saya membeli keping album Dream Theater 'Six Degrees Of Inner Turbulence' dan 'Mothership'-nya Led Zeppelin, saya tak segera memutarnya. Bukannya kenapa. 'Six Degrees of Inner Turbulence' saya sudah sejak dulu memiliki format padat lain, dan baru kesampaian membeli cakram padatnya barusan. Demikian juga dengan 'Mothership' yang merupakan kompilasi saya sudah pernah memiliki dalam format kaset. Jadinya format CD mereka kali ini adalah berupa legitimasi koleksi, karena saya sudah pernah menikmati dalam format lain.

 

Namun, kiriman adik saya ini berbeda. Dia mengirimkan dua keping cakram berjudul "RUHULLAH". Berisi film dokumentasi biografi Ruhullah Khomeini, tokoh tertinggi revolusi Islam yang paling masif abad dua puluh ini. Dalam era modern, mungkin sampai detik ini, belum ada gerakan agama Islam yang lebih dahsyat dibandingkan revolusi Iran ini.

 

Saya baru sekilas menontonnya minggu lalu, dan film sepanjang dua jam lebih itu membuat saya tercenung. Ruhullah kecil lahir dari seorang Bapak yang pemberani, tahun awal abad. Seorang pedagang --ya, hanya pedagang-- yang melawan kawanan perompak dan meninggal dalam perlawanan sengit itu, tak lama sebelum Ruhullah lahir. Ya. Ruhullah tak sempat bertatap muka dengan Bapaknya. Ruhullah yang memiliki darah keturunan Rasul Muhammad SAW itu tumbuh dibimbing saudaranya dan kemudian belajar di sekolah agama, semacam pesantren.

 

Jiwa kritis Ruhullah muda terpanggil menyikapi keadaan kala itu. Dimana pemerintahan semakin berkiblat ke Turki dalam arus modernisasi dan westernisasi. Dimana urusan pemerintahan terpisah dari urusan agama, agama disini adalah Islam tentunya sebagai mayoritas di Iran.

Ruhullah menangkap kegelisahan dan menjadi bagian ketidak-sesuaian itu. Apalagi kurikulum pesantren dibatasi oleh pemerintah, hanya membicarakan masalah syariat agama. Dan terutama, ilmu politik tidak diperkenankan untuk dibicarakan di forum pesantren.

 

"Ini negeri mullah, mengapa pesantren di anak tiri-kan ?". Usia remaja Ruhullah memberontak dengan pola pikir seperti itu sehingga Ruhullah sendiri sempat dipinggirkan oleh rekan - rekan santri dan ustadz - ustadznya. "...Ada yang salah dengan Ruhullah. Dia selalu membicarakan masalah politik...padahal ini kan pesantren...".

 

Ruhullah tidak mudah ber-putus-asa.Umat Islam harus memiliki pemimpin, dan politik adalah lahan kepemimpinan. Ruhullah tak henti - hentinya menyuarakan hal ini sehingga menggerahkan kalangan pemerintah, militer, hingga kalangan pesantren sendiri. Beberapa kepincangan pemerintah karena pengabaian unsur relijius, dia kritisi dengan lantang. Sehingga para pemikir muda semakin banyak yang berpihak kepada Ruhullah. Ruhullah semakin dalam memasuki dunia politik.

 

Meresahkan kalangan status quo. Itulah Ruhullah. Ruhullah menyuarakan kemerdekaan. Maklum, kala itu memang Syah Iran terlalu didikte oleh Gedung Putih, Amerika Serikat. Mulai dari hubungan luar negeri, politik dalam negeri, keuangan dan ekonomi,kebijakan militer, penanaman investasi, kebudayaan dan pendidikan, hingga urusan agama. Semuanya adalah paket kiriman dari Gedung Putih. Dan ini tidak dikehendaki oleh Ruhullah. Ketika Ruhullah semakin banyak pendukungnya, semakin banyak kelalaian pemerintah yang menjadi sorotan, pada akhirnya membuat penguasa saat itu : Syah Iran, berminat menyingkirkan Ruhullah. Akhirnya Ruhullah diasingkan secara paksa, lewat peran polisi rahasia.

 

Pengasingan Ruhullah tidak menyurutkan pergerakan menentang status quo.Bahkan malah jadi perkara. Mulai bermunculan demonstrasi agar Ruhullah dipulangkan ke Iran. Seiring krisis pemerintahan yang semakin tajam, penentangan itu semakin marak. Di kampus, mahasiswa mendiskusikan masalah pemerintahan masa depan, di kantor karyawan tidak bekerja, di pasar toko - toko tutup, orang - orang bergerombol dan berpidato menuntut pembaharuan. Tekanan ini, seperti biasa dalam teori tirani, maka dilawan oleh gerakan militer. Maka berjatuhanlah korban peluru panas. Namun anehnya, mahasiswa, ulama, dan masyarakat yang bergerak di bawah komando Ruhullah tidak melawan tindakan represif militer. Mereka malah mengajak tentara untuk desersi demi kebenaran, dengan cara memeluk dan memberikan sekuntum bunga.

"Tentara tidak perlu dilawan. Mereka adalah teman perjuangan. Ajaklah untuk berjuang bersama", demikian fatwa Ruhullah Khomeini dari pengasingan. Dan dampaknya dahsyat. Banyak sekali tentara yang berbalik arah.

 

Ada kisah lucu dari sejarah desersi tentara di Iran ini. Untuk mencegah tentara desersi, maka semua tentara digundulin. Jadi, kalo desersi akan ketahuan dan mudah diciduk. Namun mahasiswa tidak kurang akal. Mahasiswa ikutan gundul, hampir semua mahasiswa pria menggunduli kepalanya. Jadi ketika ada tentara desersi, tidak berbeda dengan mahasiswa. Para panglima dan perwira semakin bingung.

 

Eskalasi revolusi semakin tinggi. Para demonstran turun ke jalan, mengenakan kain kafan. Siap mati. Demonstrasi digerakkan dari luar negeri Iran, dimana Ruhullah diasingkan. Seakan kehabisan akal, pemerintah mulai melenyapkan satu-persatu tokoh revolusi Iran, termasuk anak lelaki Ruhullah. Dan yang paling membuat sedih Ruhullah adalah dibantainya ustadz ahli filsafat, Sayyid Murtadha Muthahhari.

 

Tuntutan agar Syah Iran meletakkan jabatan semakin kuat. Singkat cerita Syah Iran-pun harus meninggalkan Iran. Sebelum hengkang Syah Iran menunjuk dan membentuk pemerintah bayangan. Saat inilah Ruhullah baru bisa pulang, dimana setelah turun dari pesawat dan dielu-elukan disepanjang jalan, Ruhullah segera menggelar pidato. Pidatonya satu topik: Revolusi belum selesai. Dan  pemerintah bayangan ini dituntut segera untuk bubar.

 

Setelah pemerintah bayangan dengan mudah dibubarkan massa pro-revolusi, maka Ruhullah menggelar referendum. Dan tercapailah bentuk negara baru : Republik Islam Iran. Tentunya dengan adanya dewan reliji yang independen yang memonitor para pelaksana pemerintahan.

 

Ruhullah adalah manusia biasa. Di usia senja, Ruhullah sakit. Dalam keadaan terbaring lemah, Ruhullah masih sempat memberi instruksi - instruksi demi jalannya pemerintahan Republik Islam Iran. Ruhullah juga masih memaksakan untuk sholat dengan berdiri. Dengan dijaga agar tidak limbung, Ruhullah membaca Takbiratul Ihram, Iftitah, al-Fatihah, dan rangkaian doa shalat hingga Tahiyyat sebagaimana biasa. Pada adegan inilah membuat saya semakin tercekat. Sungguh besar jiwa Ruhullah, demikian bersahaja, dan hanya berpikir semua dikerjakan demi ibadahnya kepada Tuhan. Beberapa kali saya menahan nafas menyaksikan Ruhullah membaca doa sujud dengan tertatih - tatih, lemah. Seorang besar yang merasa sangat kecil di hadapan Tuhan.

 

Fisik Ruhullah semakin lemah. Setelah beberapa waktu menderita sakit, akhirnya Ruhullah menghadap sang Khaliq. Membawa duka kepada relung hati jutaan orang yang memadati jalanan dari rumah duka hingga jalanan macet dan kereta jenazah tidak bisa lewat. "Dalam keadaan jalanan seperti ini, dalam beberapa hari-pun, jenazah Ayatullah tidak akan bisa tiba ke pemakaman. Saya sudah melindas beberapa telapak kaki pelayat yang nekat memeluk mobil, tapi saya tidak mau ada korban...", demikian pengakuan sang Sopir. Sang sopir yang membawa jenazah Ruhullah akhirnya membanting setir memasuki high-way dan secara tiba - tiba jenazah ditarik naik oleh helikopter.

 

Masalah berikutnya timbul. Helikopter tidak bisa mendarat untuk menguburkan jenazah. Area pekuburan sudah penuh sesak oleh pelayat yang saling berdesakan. Gema takbir berkumandang keras dan tanpa henti diantara isak tangis. Air mata membasahi bumi Iran. Akhirnya jenazah diturunkan dengan menggunakan tambang. Tapi ini tidak menyelesaikan masalah. Jenazah diterima oleh pelayat yang segera memperebutkan kain kafan almarhum, sehingga dengan terpaksa jenazah ditarik kembali ke atas, balik ke helikopter. Setelah para keluarga, puluhan ustadz, dan tokoh - tokoh masyarakat menenangkan massa, barulah jenazah bisa dimasukkan ke liang lahat. Sungguh, entah sebulan-pun, mungkin massa akan setia mengikuti proses pemakaman ini. Massa yang berduka menyemut seperti lautan, dari ujung - ke ujung kota. Memenuhi jalanan hingga area pemakaman. Mereka berduka. Namun, Ruhullah tetaplah manusia biasa, dan pasti akan menutup usia.

 

Baru sekilas saja saya menyaksikan film ini. Saya masih berhasrat untuk menyaksikan ulang. Sungguh, film ini mengajarkan kepada kita, bagaimana berlaku sebagai manusia yang menghamba kepada sang Pencipta, yang beribadah dengan ikhlas, dan berjuang untuk Tuhan. Bila karena Tuhan, adalah yang kau ragukan ? [] haris fauzi - 13 desember 2008



salam,

haris fauzi

No comments: