Friday, June 05, 2009

kenisah : dengarkan

DENGARKAN

"Dengarkan khutbah jum'at....", begitu kata orang - orang alim. Khutbah jum'at memang merupakan bagian dari rangkaian ritual sholat jum'at yang tidak bisa ditinggalkan. Istilah yang sering digunakan adalah "mendengarkan", ya berarti mendengar dan menyimak. Memang, yang membatalkan ibadah sholat jumat salah satunya adalah berbicara ketika sang khatib (juru khutbah) sedang berbicara. Bila ini dilakukan, maka nihil sudah pahalanya. Karena memang ada pedoman khusus, yakni larangan berbicara ketika sang khatib sudah naik mimbar. Jelas sudah, siapapun yang berbicara ketika itu, entah untuk urusan apapun, maka dia melanggar aturan. Juga pernah dirilis aturan "dilarang membaca ketika khatib naik mimbar". Juga ada larangan chatting dan berkirim-kiriman pesan pendek lewat ponsel. Suatu hari bakal ada larangan "dilarang akses facebook ketika khatib di atas mimbar". Bila hal itu dilakukan, maka sudah jelas melanggar aturan mesjid. Dan korbannya adalah buyarlah pahala kita. Setuju.

Namun, ternyata urusannya bukan cuma kita --para makmum-- dilarang bersuara, dilarang membaca, dilarang sms-an, dan dilarang chatting..... Bukan hanya itu. Adapula larangan "dilarang tidur di dalam mesjid" dan "dilarang tidur ketika khatib sedang di atas mimbar". Saya nggak hendak membahas semua masalah sms-an de-el-el tadi. Saya kali ini tertarik dengan urusan "tidur ketika ada khutbah". Kenapa ? Soalnya saya punya kebiasaan buruk. Yakni tidur ketika ada khutbah jum'at. Lebih tepatnya tertidur. Memang tidur saya tidak membatalkan wudlu karena saya cuma terkantuk - kantuk, dan pula saya tidak bersandar atau 'meletakkan kepala'. Konon, menurut beberapa orang alim, bila kita tertidur hingga kepala tersandar, punggung menyender, atau dagu di topang, maka bubar sudah wudlu-nya karena tidur seperti itu berarti 'raib ingatan'. Dan untuk itu, sebelum memulai sholat diwajibkan untuk mengambil air wudlu terlebih dahulu. Malesnya minta ampun deh kalo udah gini.

Konon, dalam saat khutbah jum'at berlangsung, itulah saat yang paling enak untuk tidur. Ga ada yang lebih enak ketimbang saat itu. Kabarnya ada seloroh," ...bila ada orang yang punya penyakit ga bisa tidur, cobalah ajak jum'atan...pasti tertidur sampe ngiler...". Dan konon pula, pas khutbah jum'at itulah setan meniup - niup syaraf mata kita sehingga kita bener - bener ngantuk. Tiupannya bener - bener manjur-jur-jur-syuuur, pokoknya. Lho ? kok ada setan di mesjid sih ? Ah, bisa ajalah. Bener gak-nya coba kita hubungi ghostbuster.

Memang saya merasakan sendiri. Bukan merasakan kehadiran setan itu, tapi merasakan ngantuknya yang manjur-jur-jur-syur nan amboi tenan itu. Ngantuknya ya cuma pas khutbah. Giliran dikuat-kuatin melek pas khutbah trus usai jum'atan ditidurin ternyata nol besar. Direbahin di kasur super gedhe super empuk super mahal --tambah AC pula, masih ga bisa tidur jua. Kantuknya udah kabur entah kemana. Di gondol setan tadi.

Kembali ke urusan terkantuk - kantuk saat ada khutbah jum'at. Dalam keadaan terkantuk - kantuk --tertidur ayam-- seperti itulah pertanyaan ini muncul. Adakah saya "mendengarkan" sang khatib berkhutbah ? Ternyata tidak. Astaghfirullah. Ternyata dalam keadaan terkantuk - kantuk seperti itu, sensor pendengaran saya lebih banyak error-nya ketimbang siaga.

Coba saya ulang kembali apa kata orang alim tadi. "Dengarkanlah khutbah jum'at". Jelas dan tidak ada keraguan di dalamnya sama sekali. Dan, ternyata selama ini saya tidak mendengarkan. Saya terkantuk - kantuk.

Tetapi,....Nah, beginilah orang Indonesia. Sering dalam pernyataannya ada buntutnya. dan buntut itu sering menggunakan kata "tetapi". Begini, misalkan saja dalam sebuah forum seminar. Apabila ada beberapa orang audiens seminar tersebut ternyata 'terkantuk - kantuk', siapakah yang salah ? Yang terkantuk - kantuk ? Atau yang membuatnya 'terkantuk - kantuk' ? Bila dalam persidangan dewan rakyat misalnya, ada yang terlelap. Siapakah yang membuat dia terlelap ? Dia-nya yang memang ngantuk ? atau pimpinan sidang yang membuat jemu ?

Bisa jadi, para pengkhutbah (khatib) mimbar sholat jum'at itu yang membuat suasana jadi mengantuk. Gimana nggak ngantuk bila cara berkhutbahnya seperti cara membaca dongeng sebelum tidur ? Dibaca dengan metode text-book dengan intonasi pidato yang --bagi saya-- cukup menjemukan.

Kalo boleh usul, nih. Seandainya materi khutbah, cara penyajian, dan termin khutbahnya pas, mungkin para audiens ini tidak akan mengantuk. Bukannya saya sedang membela para sesama tukang ngantuk lho ya. Ini adalah usulan yang konstruktif untuk kedua belah pihak agar bisa masuk surga bersama - sama. Selain para audiens harusnya menyiapkan fisik agar tidak mengantuk saat jum'atan, menurut saya seyogyanya para khatib melakukan improvement terhadap penampilannya di atas mimbar. Kalo perlu mengikuti pelatihan presentasi. Ya biar audiens-nya nggak ngantuk. Biar materi dakwahnya didengar dan tersampaikan. Biar ilmunya para peserta khotbah jumat ini bertambah. Supaya imannya meningkat, dan ujung - ujungnya masyarakat ini makin tertib dan sejahtera. Bukannya begitu, sobat ? [] haris fauzi - jum'at, 5 juni 2009


salam,

haris fauzi

2 comments:

Anonymous said...

Kunjungi blogku Ris,

manisah.blogspot.com

haris fauzi said...

sip
tengkiu