Thursday, November 05, 2015

perempatan

Kondisinya begini, ada perempatan yang dilengkapi dengan traffic light, lampu pengatur lalu lintas. Entah mengapa, salah satu sisi jalan, sebut saja jalan sisi timur, itu memiliki setting waktu merah / stop yang relatif lebih lama daripada yang lainnya. Tentunya ini membuat banyak pengemudi tidak sabar. Terus terang saja, pengemudi di Indonesia kesabarannya masih sebatas isapan jempol. Nunggu traffic light aja sudah emosi.

Sisi timur, yang relatif lama "merah"-nya ini, membuat pengemudi maju menginjak cross -batas stop. Terutama kendaraan roda dua. Ketika menumplek - blek, kegilaan meraja lela, jalan sisi kanan - pun diisi oleh motor yang menyerobot jalur kanan, barang dua - tiga baris. Apa dampaknya ? Dampaknya adalah mobil yang hendak masuk ke ruas sisi timur itu akan terhambat. baik kendaraan dari sisi barat, utara, maupun selatan. Bener, kan ? Mereka yang hendak masuk, malah mentok terhenti gara - gara motor yang menyesaki ruas hak mereka. Begitu ada mobil yang tertahan, praktis persimpangan menjadi 'crowded'. Mereka yang punya hak "hijau" akan terhenti dan menggumpal di simpul tengah.

Suatu pagi, dalam kondisi seperti di atas,-- ada sebuah mobil yang jengkel dengan kondisi itu. Mobil berwarna putih itu merupakan mobil yang hendak "masuk" ke ruas timur. Muncul dari sisi selatan, belok ke kanan hendak memasuki sisi timur, dan berhadapan dengan motor yang menyumpal jalannya. Melihat jalan hak-nya terhalang banyak motor, dia -- pengemudinya ibu - ibu-- malah menginjak gas sehinga mobilnya melaju sambil menekan keras klakson. Semula motor - motor penghalang itu mengabaikannya. Namun, mereka jadi panik ketika ada motor yang nyaris terserempet, dan mobil putih  itu masa bodo dengan kondisi motor yang nyaris diserempetnya. Ibu itu nekad mengegas - ngegas mobilnya sembari menekan klakson dengan galak. Gak mau peduli apakah mobilnya bakal baret ataukan ada motor yang terlanggar. Rupanya ibu ini sudah nekad. Kalo toh serempetan, paling mobilnya baret, dan dia tidak akan peduli dengan kaki, tangan, kepala, atau jiwa pengemudi motor yang dilanggar mobilnya.

Tengoklah. Bahkan dengan ulah seorang ibu dengan sedan putihnya, mampu membuat pengemudi motor meminggirkan kendaraannya. Barulah para "biker" itu terdasar akan kesalahannya. Ini bukan faktor "ibu" atau "mobil sedan putih". Melainkan para penyerobot itu baru ngeri bila dilawan pula dengan kenekadan. Ini bukan kondisi psikologis yang baik. Kenekadan, senjata, kekerasan, bisa merajalela di tengah kondisi masyarakat yang menerapkan peraturan seperti ini. Kita sekarang hidup tidak di jaman batu. Tidak perlu juga seorang "rambo" untuk mengusut kejahatan. Ini jaman supremasi hukum. Tidak seharusnya kenekadan dilawan dengan kenekadan. [] haris fauzi, 5 nop 2015

No comments: