Saturday, November 12, 2016

Kemungkinan Itu Islamphobia


Jangan kesampingkan kemungkinan ini. Lihatlah Aksi Bela Islam II yang digelar 4 Nopember lalu di seputaran Monas Jakarta. Itu adalah aksi damai. Salah satu aksi massa terbaik di dunia, setelah penyelenggaraan Ibadah Haji di Arab Saudi. Itu fakta tak terbantahkan. Murni gerakan tulus rakyat. Namun belakangan, hingga tulisan ini dibuat, yakni seminggu setelah aksi tersebut, bertaburan informasi simpang siur ihwal peristiwa tersebut.

Banyak analisa bertaburan berkenaan dengan hal tersebut. Mangkanya jangan kesampingkan kemungkinan adanya fenomena islamphobia. Selama ini, selama belasan --mungkin puluhan tahun, informasi dari dunia barat banyak mengintrodusir secara tidak berimbang ihwal betapa Islam dikonotasikan dengan terorisme dan hal - hal berbau brutalisme. Ini adalah gerakan opini yang digalang dengan intens oleh media sekuler. Masif sekali, dan tentunya ini menyudutkan Islam. Dan ini bukannya tidak berdampak. Apakah dampaknya ? Munculnya fenomena islamphobia.

Dari banyak dampak yang terjadi, setidaknya ada dua hal dampak yang nyata terlihat. Yang pertama adalah munculnya legitimasi islamphobia itu sendiri. Yakni ketakutan akan Islam. Skenario boneka ISIS membuktikan itu. Sandiwara boneka ISIS, yang sejatinya bentukan kaum kapitalis, berhasil menakut - nakuti nyaris sebagian besar penduduk dunia sehingga dunia takut terhadap gema "khilafah". Ini bentuk keberhasilan kaum sekuler menyudutkan Islam.

Dampak kedua adalah terbentuknya mindset bahwa Islam itu menakutkan, --dan tidak hanya itu-- sedemikian kuat mindset ini terbentuk sehingga mereka tidak akan percaya bahwa Islam itu penuh kedamaian. Mustahil, menurut mereka. Ini ketakutan yang sungguh berlebihan.

Dua fenomena islamphobia inilah yang dijungkir-balikkan oleh adanya Aksi Bela Islam 411 tersebut. Dengan penjungkir-balikkan opini tersebut, maka muncullah sinisme. Nada iri. Kaum islamphobia merasa seperti bermimpi, tidak percaya hal ini, dan berusaha mengaburkan fakta. Maka diciptakanlah provokasi yang bermaksud merusak citra aksi damai tersebut. Maka diciptakanlah opini ihwal kerusuhan. Media berperanan besar dalam hal skenario pemutar-balikan realitas ini.

Mengapa ini terjadi ? Harus dimaklumi bahwa islamphobia muncul dari bangsa Eropa, yang mana adalah bangsa sekuler yang berhasil melepaskan diri dari dogma agama dengan munculnya gerakan renaisans. Dogma agama pra renaisans sangat represif, membelenggu dan menakutkan mereka. Dan dengan adanya renaisans, hidup mereka terbebas dari kungkungan dogma tersebut. Itu alasannya mengapa bangsa Eropa, sebagai representatif kaum sekuler terindikasi mengidap anti agama. Rancunya, mereka menyama-ratakan Islam dengan dogma pra renaisans, sehingga muncullah fenomena islamphobia.

Sejatinya ini logika yang salah. Karena begitu mindset mereka adalah negatif, maka mereka akan memungkiri fakta positif. Apapun itu. Dan ketika bertindak, terjadi kecondongan untuk berusaha agar fakta positif itu lenyap, dikamuflase menjadi negatif sebagaimana mindset yang telah ada dalam otak mereka. Maka diciptakanlah opini dan pencitraan yang terbalikan dengan kenyataannya. Atas dasar pola inilah maka dalam aksi damai 411 tersebut terjadi provokasi - provokasi. Provokasi yang sumbernya adalah ketidakrelaan terhadap fakta --realitas yang terjadi-- bahwa Aksi Bela Islam 411 berlangsung dengan sangat bermartabat. Kaum islamphobia tidak rela Islam yang selama ini mereka opinikan sebagai teroris itu ternyata mampu membawa dua juta massa turun ke jalan dan berlangsung sangat santun. Ini mengobrak-abrik pemikiran mereka, merusak tatanan pola pikir mereka. Maka dalam menganalisa Aksi Bela Islam 411, sepertinya patut dipertimbangkan kemungkinan bahwa pihak yang selama ini mendeskreditkan Islam-lah yang tidak rela bila ummat Islam mampu membuktikan kedamaian yang sesungguhmya. [] haris fauzi, 12 nopember 2016 - foto republika

1 comment:

Anonymous said...

Ahokphobia