Saturday, August 25, 2007

kenisah : merdeka dari materi

MERDEKA DARI MATERI
"Kejarlah akhiratmu, maka duniamu akan mengikuti". (pedoman hidup)
Setelah sedikit skipping dan memerah keringat ala kadarnya, saya sarapan sambil ngobrol dengan istri saya. Istri saya sarapan roti dan saya mengaduk - aduk larutan oat. Kami sempat ngobrol tentang seseorang sahabat. Dia bernama Fauk, atau Fao.Kami memanggilnya begitu. Nama aslinya sih Fauzan.
Kebetulan beberapa hari lalu dia mengadakan resepsi pernikahan, dan alhamdulillah walau terlambat saya masih bisa mengunjunginya.
Berlangsung di rumah mertuanya di kompleks elit di selatan Bogor. Acaranya cukup sederhana. Hanya ada tenda dan meja makan. Artinya, bangku pelaminannya tidak ada. Bahkan setau saya undangan-pun tidak diedarkan. Saya hanya tau dari pesan pendek yang masuk beberapa hari sebelumnya. Fao mengenakan baju taqwa --baju koko-- berpeci hitam celana panjang hijau coklat. Istrinya berbusana muslim serba putih. Mereka berdua hilir mudik menemui tamu yang berdatangan.
"Ris, alhamdulillah..Garek awakmu thok sing di-enteni karo Ibuk-ku...Endi iki Haris kok gak teko - teko...ngono jare Ibuk-ku", gitu sapa akrab Fauzan kepada kami ketika masuk.
Artinya kurang lebihnya gini:"Ris, alhamdulillah...Tinggal kamu seorang yang ditunggu sama Ibu-ku...'Mana ini Haris kok belum jua datang ?' Gitu kata Ibuku".
Maklum, saya tidak sempat hadir pagi di akad nikah. Saya langsung masuk menjumpai Ibu Fao, berjabat tangan dan menyampaikan salam dari keluarga Malang kepada Ibu Fao..Titipan Ibu saya.
Fao terlihat menemui tamu yang lain. Santai sekali. Fao seringkali malah mengobrol dengan para tamunya, seperti biasa, duduk menyilangkan kaki dengan jari memetik sebatang rokok. Pengantin putrinya sibuk bercanda dan berfoto kian kemari dengan para kerabatnya.
Para besan duduk menjamu tamu dekat di sudut dalam rumah.
Kelop-nya, saya juga mengenakan baju koko serba putih, istri dan anak saya-pun demikian. Serba putih, bukan busana pesta. Sepatu bolong jempol kesayangan tak lupa saya pake tanpa kaus kaki. Habisnya enak sih.
Bagi saya, Fao --dan keluarganya-- merupakan pencerminan akan sebuah sikap dasar rohani manusia. Dia perlambang sikap merdeka. Merdeka dari kungkungan materi. Perlu saya tambahkan, merdeka bukan berarti anti-materi. Fao tetap berkarya dan berprofesi sebagai rekayasawan yang menghasilkan duit untuk nafkah keluarganya. Tetapi dia merdeka. Merdeka artinya tidak menjadi budak materi.
Saya mengenal Fao karena dia teman kecil saya di kampung. Almarhum Bapak Fao bernama Pak Nachrowi --setahu saya adalah mantan tentara jaman jepang dan profesinya petugas keamanan, hansip atau satpam. Ibunya membuka warung barang pasar. Saudaranya sekitar sepuluh orang.
Kere ? Tidak. Hitungan kere atau melarat adalah relatif. Keluarga Pak Nachrowi menurut saya kecukupan. Kaya malah. Bukan karena gajinya atau duitnya cukup membuat seluruh anggota keluarga yang menyerupai tim sepak bola itu senang. Bukan jumlah materinya. Tetapi sikap anggota keluarganya yang membuat mereka kaya. Mereka sangat berkecukupan dengan keadaan yang mereka rasakan dan jalani. Mereka nggak butuh neko - neko. Mungkin bagi orang lain, keluarga Pak Nachrowi dianggap miskin karena tidak mempunyai mobil. Tetapi bagi saya mereka memang tidak membutuhkan mobil, mereka juga tidak ngoyo untuk mempunyai mobil. Berarti, mereka kecukupan. Mereka santun. Mereka kaya. Mereka cukup memiliki dada yang lapang untuk menghadapi dunia, dan mereka memiliki kemauan yang keras untuk menekuni dunia rohani.
Saya sekarang mengaitkan hal tersebut dengan sebuah perjalanan yang sedang coba saya tekuni dengan susah payah. Yakni perjalanan spiritual. Ya. Kenapa saya bersahabat dengan Fao, mungkin bisa jadi karena kami memang sesama musafir, peserta perjalanan spiritual tersebut. Kami saling bertukar pendapat tentang rute - rute yang harus ditempuh. Tentang kendala dan tentang harapan yang ada di depan. Tentang teman lain yang bisa dijumpai di sudut - sudut jalanan. Tentang titik akhir perjalanan ini. Tentang fase kematian menuju perjalanan spiritual abadi.
Pada tataran praktis, perjalanan spiritual adalah suatu perjalanan hidup untuk memaknai kehidupan itu sendiri. Makna ini menelurkan permata hikmah yang disebarkan laksana cahaya yang akan memperterang perjalanan rohani kita sendiri. Sukur - sukur bermanfaat bagi orang lain. Bila ternyata hikmah ini begitu benderang bagi orang kebanyakan, maka semakin lancar perjalanan spiritual itu. Ya. Perjalanan spiritual itu bukan untuk diri pribadi. Tetapi untuk alam semesta ini. Mengemban amanat Tuhan. Atas nama Tuhan.
Salah satu tokoh penganjur perjalanan spiritual adalah Muhammad. Bahkan dia menjamin bila kita melakukan perjalanan spiritual dengan benar, maka kebutuhan dunia akan terpenuhi secara otomatis. Artinya kurang lebih adalah apabila seseorang mengejar atau menunaikan tugas - tugas akhirati yang bersifat rohani, maka unsur dunia akan terpenuhi. Ini menjadi salah satu dalil. Muhammad jelas - jelas merupakan seorang traveller, musafir, yang melakukan perjalanan spiritual dengan sukses.
Korelasinya begini. Seseorang pastilah mati. Mati berarti jiwa ini --rohani ini-- akan meninggalkan jasad atau materinya. Berjalan menuju akhirat yang juga bersifat non-materi. Percaya atau tidak, apa yang saya percaya adalah itu. Kita mati, jasad terbengkalai, dan kita memulai kehidupan yang bersifat spiritual murni.
Berkenaan dengan inilah, maka saya memilih bahwa sebaiknya perjalanan spiritual dan ihwal rohani ini menjadi prioritas.
Lantas kenapa ihwal duniawi tidak di kejar? Duniawi bersifat kebutuhan dan keinginan, mungkin kita tetap meretas kebutuhan duniawi tetapi tidaklah perlu ngoyo untuk merealisasikan segala bentuk keinginan dan ketamakan. Karena kita harus menyediakan cukup banyak perhatian untuk perjalanan spiritual ini. Dan apabila energi ini masih bersisa, maka sisakan sedikit untuk mengejar dunia secukupnya.
Bagi saya perjalanan spiritual ini ternyata menyita perhatian dan energi.
Dan dari dalil tersebut dijelaskan bahwa bila perjalanan spiritual berjalan baik, maka unsur dunia akan terpenuhi dengan sendirinya. Sebetulnya sih bukan segampang itu. Tafsirnya nggak se-kolok-an itu. Tuhan bukan Robin Hood yang suka membagikan uang kepada orang lain. Bukan dari sisi materinya yang mendadak sontak laksana sihir Copperfield tiba - tiba ada mobil Ferrari di depan hidung kita. Bukan itu. Tetapi sifat ruhani yang santun akan memandang dunia ini juga dengan santun. Tidak tamak dan tidak serakah, tidak kemaruk. Jiwa seperti inilah yang bisa memerdekan kita dari segala bentuk ketergantungan materi. Bisa jadi kita semakin tidak membutuhkan tetek-bengek duniawi yang bertebaran dan berkilauan ini. Itu kesimpulan saya sekarang. Semoga benar.
Bila kembali ke keluarga Pak Nachrowi tadi, maka Fao sudah jelas - jelas meletakkan porsi hidupnya untuk menempuh perjalanan spiritual tersebut. Dia sudah melintas dan melangkah jauh. Lebih jauh daripada saya yang baru saja memulai sekitar sepuluh tahun yang lalu. Sekitar tahun 1997, setelah dua tahun bekerja, saya baru mencoba-coba dengan jiwa penakut ... mulai untuk melangkah dengan intens di ranah ini. Ranah perjalanan spiritual. Itu-pun langkah saya tidaklah tegap, saya masihlah tertatih - tatih dan terlalu sering merengek - rengek kecapekan. Atau kadangkala bergelut dengan sengit karena di dalam hati saya masihkan berserakan sifat serakah hendak meraih apa yang saya mau. Bukan sekedar apa yang saya butuhkan.
Hal yang penting dimaknai dalam perjalanan spiritual adalah kesiapan untuk mati. Semakin jauh perjalanan spiritual yang telah ditempuh, semakin siap seseorang itu untuk melewati proses kematiannya. Demikian juga kebalikannya. Semakin dia meraih perjalanan duniawi, maka bisa jadi semakin ogah dia untuk mati. Padahal kematian adalah keniscayaan. Perkara jiwa anda siap atau tidak, resiko tetap harus dihadapi. Jiwa ini harus siap menghadapi hal tersebut karena kematian itu datangnya mendadak. Mumpung masih hidup, makanya saya mencoba melakukan perjalanan spiritual sebaik mungkin, dan berusaha merdeka dari ikatan materi yang toh nantinya juga akan kita campakkan begitu saja. Mobil, rumah, buku, kaset, bahkan jempol kaki ini nanti tidak akan menyertai saya dalam perjalanan berikutnya. Saya harus siap. Saya harus berlatih agar siap meninggalkan itu semua. Saya harus siap merdeka dari segala ketergantungan terhadap materi, terhadap rumah, terhadap mobil, terhadap profesi, terhadap gaji, terhadap wujud duniawi lainnya. Ya. Saya masih terlalu kolokan dan goblog. Tapi nggak ada salahnya untuk terus berusaha dan melaju.
Sekali lagi bukan lantas nggak butuh. Bukan lantas musti harus menjadi kere.Tetapi ini bersifat 'merdeka'. Tidak terkungkung oleh materi. Tidak kemaruk bendawi. Alasannya sekali lagi jelas : suatu hari kelak kita akan mati dan roh ini akan meninggalkan jasad dan dunia fana ini. Jiwa ini akan berjalan terus, meniti kehidupan spiritual. Dan, perjalanan spiritual melatih kita untuk menyikapi prosesi kematian dengan senyum yang menawan. Mati itu bukan persoalan pelik yang musti dirisaukan. Seperti apa yang pernah disenandungkan oleh James laBrie --vokalis kelompok progresif-metal Dream Theater dalam album 'Scenes From A Memory':
If I Die Tomorrow
I'd Be Alright
Because I Believe
After We're Gone
The Spirit Carries On...
[] haris fauzi - 23 Agustus 2007


salam,
haris fauzi


majalah solid
situs keluarga
kolom kenisah



Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search that gives answers, not web links.

Tuesday, August 14, 2007

kenisah : mbambong

MBAMBONG
 
Begitu kata Istri saya. Awal ceritanya begini, karena jarak kantor dengan rumah yang cukup jauh, yakni sekitar 100 kilometer --jadi pulang balik 200 kilometer-- maka saya dan keluarga membuat sebuah kesepakatan. Latar belakang kesepakatan adalah karena jarak yang jauh pasti memakan banyak biaya, energi, dan waktu. Awalnya itu, apalagi sekarang jaman paceklik kayak gini. Kesepakatannya singkatnya demikian, saya akan pulang dari kantor dua hari sekali, atau kepepetnya seminggu dua kali.
Ya. Saya memang musti bolak - balik menempuh cara itu. Lantaran memang rumah disepakati untuk tidak perlu mendekati kantor. Klausul utamanya adalah posisi kantor yang jauh, bukan lokasi rumahnya yang jauh. Jadi ya rumahnya-lah yang menjadi koefisien tetap. Mempertahankan posisi rumah ternyata banyak juga alasannya. Dasi sisi  anak  - anak sudah pada sekolah dengan mapan --tidak mudah untuk memindahkan sekolah mereka begitu saja. Komunitas yang  dibentuk oleh keluarga kami terhadap masyarakat sekitar sudah terjalin baik. Begitu baiknya malah termasuk dengan para tetangga, pembantu, tukang rumput, tukang genteng, tukang sayur, pengurus mesjid, guru ngaji, tukang roti dan lainnya.
Di samping itu kondisi aman lingkungan membuat betah. Jangankan disantroni orang yang berniat jahat, lha wong mobil saya dengan posisi jendela terbuka dibiarkan semaleman saja tidak masalah kok. Padahal itu mobil parkir di pinggir jalan, saya memang sudah beberapa tahun ini malas memasukkan mobil ke carport karena carport sudah jadi arena permainan kedua anak saya, sepeda pancal parkir seenaknya saja di situ, bola dan mainan bertebaran. Jadi kalo mau markir mobil musti mberesin itu semua. Walah.
 
Dan, belum tentu juga bila kami pindah rumah mendekati kantor, maka akan lebih sejahtera dan merasa 'kepenak' walau bisa dipastikan duit transport bakal bisa ditabung lebih banyak. Memindahkan rumah sebagai domisili butuh pemikiran lebih panjang ketimbang membeli atau menyewa rumah itu sendiri. "Masih banyak kemungkinan yang mungkin terjadi", gitu kata saya. Tidak ada yang bisa memprediksi apakah bakal seumur hidup saya berkantor sejauh itu. Tidak ada jawaban dan kepastian untuk itu. Bahkan berbalikan. Anak saya jelas dipastikan minimal lima tahun lagi harus bisa lulus dari sekolah dasarnya sekarang. Posisi anak lebih jelas bila dilihat dari matriks sisi domisili versus faktor waktu ketimbang saya. Daripada anak yang pontang - panting, mendingan saya sajalah.
 
Jadi ya rencananya mencari kos di daerah dekat kantor.  Rencana sih tinggal rencana. Hal yang terbukti tidak gampang, karena setelah hampir sebulan saya pulang dua kali seminggu ternyata malah belum dapat kos - kosan jua. Bukan hanya kos - kosannya yang gak dapet. Semangat untuk mencarinya juga meredup. Kakak saya bahkan melarang untuk nge-kos. Dia menyuruh menginap sesekali di rumahnya aja. Ini pilihan bagus, saya meletakkan pilihan ini pada prioritas pertama. Pulang kantor nginep ke rumah kakak. Jaraknya 40 kilometer dari kantor, cukup pas untuk berkantor sehari seperti orang kebanyakan bukan ?
 
Tapi bukan itu mengapa saya disebut istri saya pengembara atau dalam bahasa jawanya 'mbambong'. Jadi ceritanya begini. Memang rencananya pada sore itu saya pulang ke rumah kakak saya. Tetapi ba'da maghrib saya musti ada acara di dekat kantor, trus baru selesai sekitar jam sembilan malam. Ya jadinya lupa makan. Dalam perjalanan ke  rumah kakak, saya istrirahat makan malam dulu. Saya memilih makan di peristirahatan jalan tol. Istilah sekarang adalah TI; Tempat Istirahat. Jelas di situ ada resto.
 
Di tempat istirahat itu saya makan malam, trus sholat Isya di mesjidnya yang baru dan bagus itu. Lha karena seragam kerja sudah saya lepaskan sebelum saya mengikuti acara habis maghrib tadi, maka saya sudah merasa enteng, ga pake seragam lagi. Selesai makan saya nggak langsung cabut, melainkan memutuskan untuk sejenak menikmati malam lewat windshield mobil, memandang bintang dan langit seperti hobi saya pas kecil dulu. Tak lupa pula saya setel audio yang menurut saya merupakan teman terbaik saya di dalam mobil. Suara gitar terdengar rapat dan kencang, saya nyetel Stratovarius. Lengkap dengan seat yang saya rebahkan hingga rata seperti 'amben'. Sebetulnya ada sepucuk novel yang tergenggam di tangan saya, tapi kali ini mata saya lebih menyukai bintang malam ketimbang deretan huruf. Dan gelap lagi.
 
Entah karena keasyikan atau karena ngantuk yang tidak tertahankan, maka saya jatuh tertidur dibuai angin malam yang semilir melewati celah dua senti jendela mobil. Juga mungkin karena alunan musik yang membuat makin ngantuk. Pokoknya saya tertidur kira - kira pukul sepuluh malam di pinggir jalan tol itu. Mungkin kurang. Soalnya saya pas merem tentu nggak sempat menengok arloji.
 
Terdengan bunyi mobil diesel cukup kencang membangunkan saya. Mobil itu baru saja parkir dan membuang gas dengan cukup keras di samping mobil saya. Kaget, saya raih ponsel di laci mobil. Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Sinting ! Saya tertidur di pinggir tol selama lima jam. Karena tidak mungkin untuk melaju ke rumah kakak saya, maka tanpa pikir panjang saya melanjutkan tidur yang sempat terpotong tadi.
Sampai subuh menjelang, lantas saya sholat subuh, mandi, dan sarapan di disitu juga ... Ternyata segala fasilitasnya ada, komplet, dan nggak buruk, ---mungkin karena masih baru. Lantas setelah mencuci mobil sampai mengkilat,  tanpa terburu - buru saya kembali berangkat menuju kantor. Kerja lagi, PakDe ! Dan ternyata tidak masalah. Badan tetap bugar, mungkin karena tidur lelap dan bangun hampir kesiangan malah. Kalau toh di rumah, saya memang beberapa kali tidur dimana aja, mulai dari karpet, tikar, sofa, kursi. Jadi jok mobil sudah merupakan barang nyaman bagi badan saya, kursi makan-pun OK, apalagi matras dacron. Haa... haa.. haa....
 
Kejadian ini saya ceritakan kepada Istri saya keesokan harinya. Dia tertawa dan akhirnya menyebut saya dengan gelar pengembara. Dalam bahasa Jawa disebut 'mbambong'. Sebetulnya ini bukan pertama kali saya bertindak seperti ini. Dulu saya pernah mengalami beberapa kali 'mbambong amatir'. Pengembara amatiran. Tidur dan mandi di tempat umu, yang bagi sebagian kalangan merupakan tempat yang nggak lazim. Bagi sayahal ini malah menjadi semacam 'pembelajaran' untuk menikmati ke-tidak-lazim-an tersebut. Kala mahasiswa beberapa kali saya musti tidur di terminal, stasiun kereta api, warung... lantas mandi di mesjid atau tempat mandi umum. Itu dulu jaman kuliah. Kalau ada perjalanan ke kota lain, --atas nama mahasiswa--, maka harus siap naik bis ekonomi hingga mandi di terminal. Teman - teman menyebutnya dengan 'tour de proletar'. Dan gampang saja menjalaninya, yang penting siap. Harus dirasakan sebagai salah satu bentuk petualangan yang tidak lazim, akhirnya gak jarang malah jadi mengasikkan. Yang paling komplit dan cukup higienis fasilitasnya biasanya mesjid.
 
Bentuk lain dari hal itu adalah menginap di kampus. Urusannya bisa macam - macam, mulai dari urusan kemahasiswaan sampai urusan 'rapat rahasia'. Belum lagi bila musti bikin laporan, mengerjakan praktikum, mengejar jatuh tempo penerbitan majalah atau apalah dimana saya harus menginap di kampus. Toiletnya jangan ditanya lagi. Namanya mahasiswa, ya berantakan. bahkan teman saya malah berbagi handuk. Walah, jan kemproh pol arek - arek iku.
 
Pernah suatu ketika saya harus mengunjungi pacar saya. Domisilinya berada di luar kota. Enam ratus kilometer dari domisili saya. Saya biasa menempuh perjalanan dengan kereta api bisnis. Ini-pun masih terbilang 'tour de proletar'.  Setelah turun dari kereta api, maka saya segera mandi di toilet yang ada di stasiun kereta api.
Repotnya saya membawa tas ransel. Apa asiknya membawa tas ransel buesaaar kaya gitu ke pacar ? Akhirnya siang itu saya masuk ke supermarket dan saya menitipkan ransel tersebut ke bagian penitipan barang. Sang penjaga saya yakin tidak akan menghafal saya. Malamnya saya ambil lagi sepulang dari kos pacar saya. Namun tindakan ini bukan tanpa  masalah, ternyata saya pernah hampir kemaleman sehingga supermarket itu hampir  tutup. Cilaka kalo tutup, saya harus menunggu pagi hari untuk mengambilnya. Lain waktu saya menemukan penitipan yang lebih cocok : kotak deposit di stasiun kereta api. Disini musti bayar, gak masalah. Jadi setelah mandi beres, baru menitipkan barang, trus nyengklak bis kota. Beres. Ransel aman, saya enteng.
 
Memang masalahnya adalah ketika harus membawa keluarga. Saya tidak akan membiarkan mereka tidur dan mandi sembarangan seperti apa yang saya lakukan. Tetapi bila sendirian dalam perjalanan luar kota misalnya, saya lebih mudah untuk menepikan mobil lantas tidur disitu. Yang penting lingkungannya teramati berkesan aman, beres. Toh bukan saya saja yang bertindak seperti itu. Banyak yang juga melakukan hal serupa.
Memang hal tersebut bukanlah hal yang lazim. Bahkan kadangkala 'emoh' dilakoni. Terbukti saya sendiri emoh melakoni hal tersebut buat anak - istri saya. Namun entah kenapa saya malah menikmatinya. Saya jadi bisa mengerti mengapa ada beberapa hal yang mungkin bagi kita belum terlalu faham maka membuat kita tidak maklum. Kita belum merasakan tidur dan mandi di mesjid, sudah merasa tidak nyaman untuk mencobanya. Ya bukannya harus mencoba. Tetapi ada semacam belenggu di diri ini untuk hal - hal yang tidak lazim. Belenggu ini yang sebaiknya dibuka. Sehingga diri ini lebih terbuka terhadap segala kemungkinan. Tapi ya itu tadi, tidak gampang. Saya seringkali menikmati suasana yang kadangkala 'nyeleneh' itu, namun saya tidak bisa membiarkan anak saya yang masih kecil untuk mengalami hal itu terlalu dini. Tetapi sekali lagi, saya pribadi malah berusaha menikmati hal itu, termasuk tidur di mobil dan mandi di mesjid. Jadi asik gitu. Entahlah anda gimana. Ha... ha... ha....[] haris fauzi - 13 Agustus 2007


salam,
haris fauzi
 


Park yourself in front of a world of choices in alternative vehicles.
Visit the Yahoo! Auto Green Center.

Tuesday, August 07, 2007

kenisah : orang - orang proyek

ORANG - ORANG PROYEK
MENURUT AHMAD TOHARI
 
Judul di atas adalah judul novel --insya Allah-- novel terbaru dari penulis pinggiran Ahmad Tohari. Ahmad Tohari mocer lewat novel - novel kampungnya seperti 'Ronggeng Dukuh Paruk' dan 'Belantik'. Membaca novel ini rasanya seperti hidup di tahun 1980-an. Di masa jaya single majority. Lingkup politik adalah single majority. Novel ini memang ngomongin soal politik. Selain itu settingnya juga di desa yang agak terbelakang. Sebuah desa yang perlu dijadikan wahana KKN mahasiswa, Kuliah Kerja Nyata. Gambarannya seperti itu.
 
Tulisan Tohari yang menggambarkan masyarakat desa ......atau tepatnya masyarakat kampung --sungguh komplet. Mungkin memang Tohari hidup dan mencerna detik per-detik masa yang dikunyahnya dengan tinggal di daerah seperti ini. Asli komplet. Bahkan bagi saya terlalu komplet ikon-nya sehingga terlalu banyak ide yang seharusnya bisa dikembangkan dengan jalinan yang lebih halus. Dan kalo ini dijalani Tohari maka bakal membuat lebih tebal buku. Atau bisa jadi Tohari memang ingin ringkas --gak perlu tebal-tebal--, sehingga novelnya bisa dibaca dengan cepat dan pembaca mengerti pesan apa yang hendak disampaikan oleh Tohari. Kalau ihwal ini jelas, Tohari memang ceplas - ceplos. Mungkin Tohari memang memegang kunci utama di buku ini : Pesan. Terbukti dengan cetakan kertas HVS dan cover eksklusif --nggak kampungan blas--, dan keluaran penerbit Gramedia, harga tiga puluh satu ribu jelas terbilang murah untuk buku setebal 220 halaman ini.
 
Menganai gaya tulis Tohari disini, jelas - jelas dia berusaha 'ngampungi'--, lugas, cepat, dan gak macem - macem. Setengahnya membela kehidupan kampung. Lihat saja bagaimana Tohari menyisipkan parade hiburan orang proyek dengan tokoh yang yang bernama Tante Ana  Si Bencong dari tepi terminal yang pernah menggagalkan perdagangan bocah. Detil dan simpel, namun tidak dibuat - buat. Dan Tohari saya nilai berhasil dengan sukses walau ada salah cetak sana - sini di buku ini yang cukup mengganggu. Dalam hal menulis orang kampung, Tohari bisa bersaing dengan Danarto. Namun Danarto cenderung nyentrik dimata saya, sementara Tohari lebih 'sakkarepe dhewe'. Lho ? Nyentrik dengan sakkarepe dhewe' bedanya apa ya ? Persamaannya adalah mereka berdua cenderung religius-kultural, namun tidak totaliter. Malah banyak bicara soal politik. Bagi mereka, mungkin politik lebih berpengaruh kepada masyarakat ketimbang agama,..ha.. haa.. haa.... Ini sih asumsi pribadi saya. Tetapi, Tohari dan Danarto keduanya selalu menemukan kesetimbangan yang baik antara segitiga religi, kultur, dan politik. Namun kali ini, fokus utamanya adalah politik.
 
Lihatlah ihwal kepartaian yang ada tiga. Dengan partai dominan Golongan Lestari Menang, sementara oposisinya berwarna merah dan hijau. Dimana oposisi-nya juga orang partai Golongan Lestari Menang. Lho ?  Belum lagi Kepala Desa sebagai kader Golongan Lestari Menang, yang lantas disibukkan dengan urusan kepartaian. Pesan Tohari jelas sekali disini : Mereka lebih sibuk ngurusin partai ketimbang ngurusin rakyat. Oh ya, di novel ini terus terang Tohari menulis setting waktunya ya dengan sebutan jaman orde baru.
 
Sampai sebal si Kabul dengan segala tetek bengek politisasi itu. Setting ceritanya sebenernya pusatnya ada di masalah pembangunan jembatan di suatu desa. Kabul adalah pimpinan pelaksana proyek pembangunan jembatan. Dana pembangunan berasal dari pinjaman luar negeri yang akan diangsur lewat pajak yang dikutip dari rakyat. Dana pinjaman luar negeri itu disunat sana - sini. Untuk kepentingan partai dan kepentingan perut. Walhasil insinyur sipil bernama Kabul itu harus konfrontasi dengan pimpinan kerjanya yang juga kader partai GLM. Maklum, Kabul adalah mantan aktivis gerakan mahasiswa.  Gak cuma itu, Kabul akhirnya harus konfrontasi dengan semua orang. Maklum, kader partai itu sudah terlalu banyak. Bahkan Kabul sempat juga bentrok dengan pimpinan pembangunan mesjid segala.
 
Walaupun setting-nya urusan jembatan, tapi pesan utamanya sebenernya ada di urusan per-politik-an yang digambarkan menipu dan menyengsarakan rakyat. Tohari kirim tiga pesan kepada tiga golongan dalam buku ini. Setidaknya itu yang saya tangkap. Pesan pertama kepada politikus, supaya jangan berbuat seperti yang ada dalam buku ini. Supaya politikus fokus memperhatikan rakyat, bukannya menghabur - hamburkan duit rakyat untuk partai dan perut. Pesan kedua kepada para manusia idealis, Tohari berpesan supaya jangan berdiam diri melihat penyimpangan pemerintahan. Terakhir Tohari berpesan kepada masyarakat supaya jangan mau dikibuli partai politik terus - menerus.
 
Bagi mata saya, buku ini lebih banyak sindirannya daripada skenario aslinya. Rame pol. Memang di sana - sini ada 'acara' tambahan, seperti Kabul mencari istri, atau urusan mancing dan memasak pepes pelus. Belum lagi ada tokoh penentu yang ternyata manuvernya cukup banyak, yakni wanita tua menjual makanan --penjaga warung di lingkungan proyek itu. Banyak kiprah dia ternyata. Jan cukup jeli Tohari memaparkannya. Kalau opera sabun, maka busanya cukup melimpah. Tapi ini bukan opera sabun. Novel ini gambaran kondisi masyarakat, cermin realitas. Banyak tokoh, cerita, skrip yang malang - melintang. Tapi walau banyak sekali ide berseliweran, banyak tokoh hilir - mudik, tetap saja, sentralnya ada di urusan per-politik-an yang gak karuan juntrungannya. Bancakan duit proyek untuk keperluan partai disorot habis dan non-stop --meddley-- tanpa jeda. Nggak mungkin nggak risih kalo orang proyek membaca hal ini, bila memang dia ter-sentil oleh kalimat - kalimat dalam novel yang cenderung straight, nggak ada kamuflase-nya sama sekali ini. Langsung tonjok.
 
Bagi saya, novel ini cukup menggigit, dan tentunya layak baca karena bikin kita tersimpul senyum , atau malah kecut. Kalo mau diterusin, resensi saya malah akan terbawa narasi Tohari. Namun, bagi kalangan yang lebih halus dalam berbahasa, novel Tohari ini terlalu jorok kalimatnya, atau bahkan terlalu menyakiti hati. Nah, rasanya nggak ada salahnya buat dicoba. Selamat tonjok-tonjok-an ala novel Ahmad Tohari. [] haris fauzi - 7 Agustus 2007


salam,
haris fauzi
 


Ready for the edge of your seat? Check out tonight's top picks on Yahoo! TV.