Saturday, February 16, 2008

kenisah : rumah Jatimulya

RUMAH JATIMULYA
Saya, dan terutama Kakak saya menyebutnya begitu. Itu rumah punya Kakak saya. Letaknya di perumahan Jatimulya, Bekasi Timur. Dia membelinya sekitar tahun 1996-an, saya lupa tepatnya. Pokok-nya sepulang dari Jepang, dia memiliki tabungan, dan akhirnya memutuskan untuk membeli rumah tersebut. Rumah bekas, dibeli pake duit bekas, di bayar cash. Yang punya awalnya siapa, saya pernah membacanya dari tagihan kartu kredit dia yang masih beberapa kali datang. Kini saya lupa siapa dia.
Tahun 1995 saya mulai nge-kos di kawasan Sumur Batu-Jakarta. Dekat dengan kantor yang berada di Sunter. Dan, begitu Kakak saya membeli rumah di Jatimulya, tak selang lama saya pun tinggal numpang di rumah Kakak saya itu. Sesuai instruksi Ayah. Biar belajar punya rumah, dan belajar perjalanan jauh ke kantor. Soalnya, kecil kemungkinan bakal kelak membeli rumah yang dekat kantor di Jakarta. Mahal. Toh juga gak ada asik-asiknya Kakak yang masih lajang tinggal di rumah sendirian.
Aslinya kakak saya tidak sendirian di rumah itu. Aslinya, sebelumnya Kakak saya nge-kos juga, di Kavling Haji Darmansyah, Bekasi Timur. Dan aslinya dia punya teman satu kamar kos, namanya Mas Yan. Sudah seperti saudara. Mas Yan kerja disebuah kantor di bilangan Kuningan. Aslinya Mas Yan ini tidak tau sama sekali prosesi awal Kakak saya membeli rumah. Dia baru tau Kakak saya membeli rumah ketika Kakak saya mengajaknya kabur dari kos-kosan. "Mas Yan, saya sudah beli rumah di Jatimulya, deket tol. Kapan kita bisa segera pindah ... ", gitu singkatnya. Gayung bersambut, bulan berikutnya mereka berdua menyewa angkutan kota dan bedol kos-kosan. Jadi penghuni pertama dan kedua rumah Jatimulya.
Kurang lebih dua atau tiga bulan, saya baru nyusul, setelah sempat tertunda. Soalnya saya ikutan training, jadi sering pulang malem dan gak boleh terlambat, jadi untuk dua bulan saya memutuskan masih harus kos dekat kantor. Eh, rasanya gak gitu ding ceritanya. Saya sempat pindah ke Jatimulya, dan karena ada training di bulan kemudian, maka saya balik kucing nge-kos lagi barang dua bulan khususon wabil khusus untuk urusan training yang nggak boleh telat segala itu. Kelar training baru saya balik ke Jatimulya lagi.
Okelah. Taruhlah saya sudah tinggal di rumah Jatimulya kala itu. Pas-nya saya nggak hafal deh. Akhirnya kita bertiga tinggal di rumah nyentrik tersebut. Tangga ke lantai dua terbuat dari kayu, railing-nya juga dari batang kayu bulat tanpa di serut diikat tali ijuk, berbunyi kriet - kriet - kriet. Di bawah tangga ada pompa yang senantiasa berdenging karena air sumurnya terlalu kecil debitnya. Di depan rumah kami pasang lonceng untuk dering tamu yang harus menarik tuas supaya berbunyi. Tuas ini sering dipermainkan oleh anak - anak buat mengecoh kami. Untuk menyusun buku dan televisi kami membuat sendiri meja dan rak-nya. Karpet yang terhampar biasa digunakan untuk makan bareng, walhasil kami sering dirambati semut ketika rebahan nonton televisi. Meja - kursi ? No Way ! No money...
Kami mencuci baju seminggu sekali rame - rame pake mesin cuci sambil nonton televisi. Bercanda melulu, apalagi Mas yan orangnya lucu dan medok istilah Melayu-Sumatera, saya dan Kakak medok Jawa Timur, namun saya lebih urakan. Sebulan sekali kami bergantian giliran membayar tagihan telepon. Berangkatnya gantian, duitnya sesuai catatan. Jadi kalo kami telpon, wajib mencatat di buku telpon, nanti kita kalkulasi bareng - bareng sesuai tagihan yang masuk. Nyatatnya gampang karenasebagian besar adalah percakapan interlokal, maklum, orang rantau.
Merasa kerepotan dengan acara berangkat mbayar telpon, saya membuka rekening bank BCA, sehingga bila kena giliran mbayar, saya bisa membayar via ATM. Apalagi di dekat rumah ada ATM BCA. Dengan kemudahan ini, walhasil, saya setiap bulan malah bertugas membayar telepon. Tagihannya rembuisment kontan.
Selain itu kami punya kesepakatan. Perabotan kita membeli dengan duit masing - masing namun digunakan bersama. Tetapi bila kelak pindah, barang tersebut bisa di bawa. Televisi punya Mas Yan, mesin cuci punya Kakak saya, kulkas saya yang beli. Itu contohnya. Ketika kami kabur, barang itu sah-sah saja bila ikutan kabur.
Unik perkampungannya. Kadangkala kami kerepotan dengan ulah pedagang kaki lima yang setiap pagi berjejer sepanjang jalan. Mereka tumplek - blek di tepian rumah. Lha gimana. Lagian ada yang jual kaset dan suka nyetel keras - keras. Semula kami nggak tau karena kami semua berangkat kantor lebih pagi ketimbang pedagang kaset itu. Tapi di saat pengen tidur di hari libur, barulah tau bahwa pedagang kaset itu berisiknya minta ampun. Mungkin dia terlahir dengan kuping buntu. Nyetel lagunya itu kenceng bener.....
Atau pernah kami bertengkar dengan tetangga gara - gara dia menebang pohon di depan rumah kami. Bahkan suatu hari ada orang setengah waras yang melompat dari lantai dua rumah tentangga, dan jatuh di kap mobil kijang yang terparkir di depan rumah itu. Tengah malam lagi.
Selain kami bertiga. Ada penghuni susulan. Namanya Mas Sungkono. Namanya Sungkono Handoyo. Dia adalah kawan satu kampus Paklik Aji. Paklik Aji ini adik kandung dari Ibu. Di kampus, Mas Sungkono sering dipanggil dengan Sunki. Konon dulu dia mengendarai motor Suzuki, dan dia pretelin mereknya diubah menjadi SUNKI.
Ceritanya gini, Mas Sunki kerja dan nge-kos di daerah Bendungan Hilir, Jakarta, dan punya pacar ternyata di .... Jatimulya. Pas mereka jalan berdua menyusur jalanan becek kampung lha kok malah kepergok Kakak saya. Hayooo !!!!! Setelah ndomblang - ndomblong sejenak, barulah yakin kalo saling kenal, dan akhirnya diajaklah panglima besar mayor jenderal laksamana Sunki ini menjadi penghuni keempat rumah Jatimulya. Rumah tipe dua-satu itu akhirnya diisi empat lelaki urakan lajang semua. Pagi kosong, malem gak pernah sepi.
Mas Sunki orang Jogja bener. Untuk tinggal di Jatimulya, dia merasa perlu meminta izin dari Paklik Aji. Padahal Paklik Aji tinggal di Bonn, Jerman. Walah. Mas Sunki nekad meminta izin via telpon. Telpon kantor lagi. Walhasil boss-nya curiga mengapa ada tagihan telpon membengkak. Ada apa gerangan. Yang disuruh nelusuri malah Mas Sunki. Malingnya disuruh jadi detektif. Ya sudah, akhirnya print-out tagihannya kita hapus khususon catatan telpon ke Bonn, Jerman. Gemblung.
Mas Yan didaulat sebagai kepala suku nggak resmi, Kakak saya yang punya otoritas rumah, saya yang paling muda pegang rekening, dan Mas Sunki yang paling sering dijadikan obyek guyonan. Pas. Kebagian peran satu - satu.
Kami punya hobi masing - masing. Mas Yan suka nonton televisi, saya suka nyetel lagu, mas Sunki satu - satunya yang setiap sore merokok dan ngopi. Kakak saya suka mengambar. Walhasil memang meriah dalam menikmati hidup ini. Tetapi kalo hari libur "agama"-nya sama, tidur or kabur. Bila Mas Yan atau Mas Sungki punya kesempatan nilap mobil kantor sejenak di kala hari libur, maka saat itu kami berempat kabur bareng entah kemana.
Hingga tiba saatnya kami mengantar melamar dan menghadiri resepsi pernikahan Mas Yan di Kaligondang- Purwokerto. Saat itulah, Mas Yan resmi pindah KTP. Giliran berikutnya --sesuai umur-- Mas Sungkono gak tahan lagi untuk menikah dengan pacarnya yang orang Jatimulya itu. Hampir bareng, Mas Sunki juga pindah kerja dan ditugaskan ke Kalimantan. Dia nggak menjelaskan detil apa kerjaannya. Mungkin menghitung beruk. Hingga akhirnya kami tau bahwa dia menjadi koordinator administrasi lapangan untuk urusan proyek. Entah proyek apaan.
Awal tahun 1999, saya berancang - ancang mempunyai rumah sendiri. Kepincut dengan kota hujan Bogor, dan akhirnya membeli rumah bekas di kawasan barak militer Ciparigi, perbatasan Bogor. Mirip kondisi rumah orang tua saya di Malang. Hujan dan barak. Bebarengan dengan itu, saya merencanakan menikah. Dan akhir Agustus 1999 saya cabut pindah ke Bogor berikut barang - barang satu truk. Yang paling banyak muatan buku, sempat terhempas air hujan selama perjalanan pindah. Bulan September 1999 saya nikah. Saya memenuhi janji kepada Bapak saya, bahwa saya akan menikah setelah memiliki rumah sendiri.
Begitu saya kabur, Kakak saya punya acara sendiri. Dalam tiga bulan dia merenovasi rumah Jatimulya. Tangga yang berbunyi kriet - kriet itu dia ganti, transmisi tenaga listrik dia perbaiki, dia tambat sumur baru, kamar mandi ala kontrakan dia poles sampai feminin, gorden diganti berlapis, dan tembok yang saling somplak itu diperhalusnya. Tentunya aktualnya sang tukang yang melaksanakannya. Dalam tiga bulan sulapan, rumah Jatimulya jadi keren bener, dan setelah itu dia langsung nyusul menikah.
Begitulah. Sampai akhirnya tahun 2007, Kakak saya yang sudah berputera dua, bersama Istrinya memutuskan untuk pindah ke rumah baru di kawasan Legenda. Rumah Jatimulya dia tinggalkan namun tidak dia jual. Pada akhirnya keempat lajang urakan itu --MasYan, Mas Sungki, saya, dan Kakak,-- satu per-satu bergiliran mengucapkan selamat tinggal kepada rumah Jatimulya. Rumah yang cukup momentual, karena kami berempat bisa seperti saudara rekat, padahal yang bersaudara aslinya ya cuma saya dan Kakak. Sementara Mas Yan adalah teman kos, dan mas Sunki adalah teman kampus Paklik. Kami tidak pernah melaksanakan reuni, karena kami tidak merasa pernah berpisah. [] haris fauzi - 15 Februari 2008


salam,
haris fauzi


majalah solid
situs keluarga
kolom kenisah



Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

1 comment:

Gatot said...

Wah .. saya suka dengan filosofi Ayah ANda mas ... merasakan tinggal jauh dari kantor karena kecil kemungkinan punya rumah deket kantor .. ha ha ha .. muantab dan menjejak bumi tenan Ayah ANda mas.

Sebagai wong Jowo, mestinya sampeyan pernah denger bahwa sebaiknya membeli rumah itu setelah menikah? Mengapa? Biar merasakan "perjuangan" yang sama dalam membangun rumah tangga secara maknawi dan fisik .. he he he he ... Tapi ndak pa pa .. lha wong sampeyan udah keburu kaya dulu .. ha ha ha ha ..

Kok pindahan yang paling banyak buku? Bukan kaset to mas? ha ha ha ...