Sunday, March 15, 2009

kenisah : perasaan itu

PERASAAN ITU

Entah apa istilah untuk 'rasa' itu. Semacam perasaan yang berkaitan dengan berbagai kompetisi. Entah kompetisi yang saya lakoni sendiri atau yang melibatkan keberpihakan saya kepada sesuatu. Kalo yang saya lakoni sendiri, jelaslah itu namanya perasaan semacam spirit untuk berkompetisi, semangat untuk menang. Seperti ranking kelas, keinginan juara dalam sebuah perlombaan, hingga rasa cemas penantian akan pemuatan sebuah artikel misalnya.

Perasaan semacam ini juga muncul dalam keberpihakan. Misalnya dalam rangka jago-jagoan nonton pertandingan sepakbola, misalnya. Mungkin tidak ada pertaruhan duit, tetapi semacam pertaruhan gengsi. Misalnya ketika jagoan kita menang, maka kita akan senang, namun bila jagoan kita kalah, maka kita akan merasa kecut. Saya mengalami cukup ragam hal tentang perasaan semacam ini. Ketika saya masih duduk di bangku SMP dan masih biasa mendengarkan lagu - lagu dalam siaran radio gelombang MW saya ingat betul bagaimana dalam setiap akhir pekan saya berdebar - debar menunggu hasil tangga - tangga lagu mingguan yang disiarkan oleh radio tersebut. Radio itu setiap hari sabtu selalu memperbaharui lagu unggulan sesuai permintaan atau pooling pendengar terhadap pemutaran lagu yang sedang naik daun. Yang paling kecut saya rasakan adalah ketika lagu idola saya, 'We Are The World' turun peringkatnya dari minggu ke minggu sehingga hilang dari daftar lagu unggulan. Sejatinya, setiap lagu yang sudah turun peringkat, maka muskil akan bisa naik lagi walau cuma satu tangga, biasanya makin turun dan turun. Namun saya berharap selalu akan sebuah keajaiban ketika lagu tersebut setidaknya mampu bertahan selama mungkin. Dan harapan itu akhirnya musnah seiring perjalanan waktu.

Juga ketika menonton pertandingan di televisi, bulutangkis misalnya. Bagaimana hati ini berdebar - debar seperti menanti pacar ketika menyaksikan tim piala Thomas Indonesia terutama ketika berhadapan dengan Tim China atau Korea Selatan. Juga bagaimana ketika Elias Pical bertukar bogem melawan Khaosai Galaxy dari Thailand atau melawan Caesar Polanco dari Amerika Latin. Masih ingat begaimana kemunculan promotornya Boy Bolang dengan gaya rambutnya yang khas. Juga ketika tim sepak bola Pra Piala Dunia PSSI era Heri Kiswanto hendak bertanding dan disiarkan langsung di televisi. Komentator Sambas dengan suaranya yang patriotik menambah deg-degan hati ini, kebat - kebit seperti dikejar setan.

Dalam kancah sepak bola yang lain, saya selalu menjagokan Argentina untuk juara dalam Piala Dunia, dan bagaimana saya berdebar - debar sangat keras ketika Claudio Caniggia tidak boleh turun dalam babak final sehingga Maradona harus berjuang sendirian dan akhirnya takluk oleh pasukan Jerman Barat yang kala itu kalo ga salah Juergen Klinsmann jadi lakonnya. Pun betapa deg - degan dan girang tak karuan ketika Manchester United menjungkir - balikkan FC Muenchen di final piala Champion dalam dua menit terakhir pertandingan. Maklum, saya menggemari kesebelasan Manchester United semenjak tahun 80-an.

Tak hanya sepak bola, seorang teman pernah berkomentar tentang agenda kerja saya yang ternyata tidak diisi oleh catatan kerjaan, melainkan dipenuhi oleh jadwal balapan formula-1, GP, dan jadwal sepak bola piala Champion. Semua itu seakan disatukan oleh perasaan 'aneh' yang satu itu. Perasaan euphoria dalam penantian sebuah jadwal pertandingan, perasaan yang memaksa saya deg - degan ketika bergadang untuk menyaksikan dan memelototi televisi detik per-detik, perasaan yang membuat saya girang atau kecut ketika pertandingan itu berakhir menang atau kalah. Dan kemudian membawanya menjadi bahan obrolan dan  olok - olokan yang tidak perlu dengan teman - teman yang lain, tentunya sambil memberitakan sesegera mungkin ketika tim yang saya jagokan menang.

Adalah anak saya, Salma, yang mengendurkan diri saya terhadap hal itu. Ketika Salma lahir, dia menjelma menjadi bayi yang sering bangun kala malam hari. Mungkin bisa satu jam sekali. Praktis dengan kebiasaannya ini akan memaksa diri saya memanfaatkan waktu istirahat sebaik - baiknya. Dan praktis pula, saya meninggalkan hal - hal yang menurut saya kurang bermanfaat, misalnya bergadang menonton sepak bola atau balapan motor. Seiring dengan semakin jarangnya menyaksikan pertandingan, seiring itu pula semangat jor - joran dan deg - degan ihwal hasil pertandingannya juga semakin meluruh. Perhatian dan perasaan tentang itu mulai terpinggirkan. Mungkin karena cuek.

Dalam catatan saya, perasaan deg - degan seperti itu terakhir kali saya alami ketika penghitungan suara dalam pemilihan umum. Ya, saya kala itu menjagokan Pak Amien Rais untuk menjadi presiden, dan saya terus mengikuti penghitungan suaranya, hingga saya sadar bahwa Pak Amien Rais kalah dalam pemilihan umum itu.

Setelah itu ? Sekarang saya tidak terlalu tertarik dengan tangga - tangga lagu karena saya jarang memonitor siaran radio. Pun, saya biasa saja terhadap berita pertandingan bulu tangkis-nya Taufik Hidayat. Entah menang entah kalah. Juga saya tidak terlalu tersaput gelombang atmosfir berita laga PSSI dengan Ponaryo Astaman-nya yang cukup fenomenal. Walau Manchester United menjadi kesebelasan terakhir yang pernah berlabuh di hati, saya tidaklah segegap - gempita dahulu. Mungkin hampir lima tahun ini saya tidak menyaksikan pertandingan Manchester United di televisi. Saya kini biasanya hanya tau beritanya dari koran bekas teman atau teks bergerak di televisi - televisi. Tentang balapan, kalo dulu saya hafal bentuk sirkuitnya, kali ini saya hampir semuanya sudah tidak mengikutinya lagi. Saya baru - baru ini saja tau bahwa Hamilton ternyata orang negro. Terakhir saya mengikuti berita balapan adalah tentang seri nasional yang diikuti tim pabrikan di mana saya bekerja. Selebihnya tidak. Tentang tinju, terakhir saya menonton di televisi ketika Chris John bertanding. Saya menyaksikan sekitar dua ronde. Dan saya sekarang-pun tidak tau siapa juara dunia kelas berat, padahal saya dulu begitu memuja Muhamad Ali hingga merengek - rengek kepada Bapak untuk dibelikan bukunya. Bila toh ada siaran sepak bola, tinju, formula 1, atau grandprix di televisi, mungkin paling lama saya menyaksikan sekitar seperempat jam. Tentang pemilihan umum ? Waduh. Saya akan mengusahakan sesempatnya. Hingga sekarang, atmosfir jor - joran calon peserta pemilu tidaklah terlalu mengusik perhatian saya. Walau jelas - jelas banyaknya baliho dan spanduk itu mengusik mata saya karena saking joroknya.

Mungkin ini berarti tidak peduli. Bisa jadi. Namun, dalam pengamatan saya, perasaan itu menyusut seiring pertambahan usia saya yang meng-uzur ini. Indikasinya adalah saya sekarang juga sudah tidak terlalu suka mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Disamping mobilnya yang saya kendarai sudah terbatuk - batuk, saya juga merasa tidak ada perlunya menginjak pedal gas dalam - dalam. Saya sekarang kebiasaan mengendari mobil dalam kecepatan sedang, di jalur tengah sambil mendengarkan lagu. Ihwal sepakbola dan kebiasaan menyetir ini mungkin hanya merupakan keterkaitan yang dihubung - hubungkan saja oleh saya. Tapi hal itu ternyata terjadi seiring. Ketika saya semakin 'santai' dengan segala kompetisi yang ada, ketika itu pula saya semakin santai dalam mengemudikan kendaraan. Adakah saya sudah tua ? Bisa jadi. [] haris fauzi - 15 Maret 2009

salam,

haris fauzi

No comments: