Friday, June 29, 2007

kenisah : dalil

DALIL



Dalil itu bisa diartikan menjadi semacam pedoman, kalo Mas Jalil itu tetangga saya di Malang sono, dulu. Dia seangkatan maen dengan Mas Budi Bachtiar. Mas Budi ini orang hebat di kampung saya, soalnya dia ini yang menciptakan lagu 'Sesaat Kau Hadir' dan melambungkan penyanyinya jadi penyanyi top : Utha Likumahuwa. Nah, kalo nggak salah Mas Jalil jadi tentara, tetapi kumisnya tetep aja dipelihara mirip Freddie Mercury, vokalis Queen.



Entah disebut dalil, ... entah disebut azas, ... entah disebut slogan atau semboyan....entah apa saya juga kurang ngerti istilahnya yang tepat. Mungkin bagi sebagian orang malah bisa jadi disebut'mantera', macam alakazam sahaja. Padahal istilah mantera jelas - jelas nggak cocok untuk bahasan ini. Soalnya saya hendak menulis sedikit yang saya tau tentang 'AmarMa'ruf - NahyMunkar', dan 'Ikhlas Bermanfaat'. Baiklah, dengan segala keterbatasan saya, maka saya nisbatkan untuk memakai istilah 'dalil'. Bukannya alasan kenapa, tetapi kata ini lebih menarik, apalagi untuk menjadi judul tulisan pendek.



Saya pernah dengar kutbah tentang hal 'AmarMa'ruf - NahyMunkar'. Beberapa kali malah. Salah satunya dibawakan oleh H.Amien Rais. Uniknya, tidak seperti pakem penceramah biasanya, orang yang cukup revolusioner ini sedikit melakukan improvisasi dengan menjadikan sebaris kalimat sebagai berikut :' Amar Ma'ruf dan NahyMunkar', atau seringkali menyampaikan sebagai 'AmarMa'ruf melalui NahyMunkar', begitu kalo saya nggak salah dengar .

Arti sebenarnya dari 'AmarMa'ruf' setau saya adalah 'mengajak ihwal kebajikan', sementara 'NahyMunkar' artinya adalah'mencegah atau menjauhi keburukan'.



Oleh karena mengapa Pak Amien menambah kata 'dan' seperti itu ? .... Atau kadangkali beliau menambahkan dengan kata 'lewat atau melalui', dimana kalimat itu akhirnya menjadi 'mengajak kebajikan' melalui 'mencegah keburukan'. Jawabannya mungkin setiap orang bisa menebak masing - masing. Tetapi menurut saya, mungkin karena beliau gemas. Ini baru dugaan saya saja. Gemasnya gini, kebanyakan kaum muslim lebih suka menggunakan dalil 'AmarMa'ruf' saja, namun tidak punya nyali ketika harus ber-'NahyMunkar'. Karena nggak berani, maka nggak dijalankan. "Pengajian banyak digelar, tetapi korupsi dan prostitusi dibiarkan saja lalu lalang didepan mata", begitu kata Pak Amien.

Memilih yang gampang, itu sih sudah manusiawi. Saya juga kalo pas ujian pasti berusaha mengerjakan soal yang lebih mudah dahulu. Tetapi dalam hal ini mungkin konteks-nya berbeda.



Mungkin memang lebih gampang untuk mengajak pengajian atau berbuat baik - amal kebajikan. Dan memang sudah kebayang betapa sulitnya untuk melawan kebobrokan. Saya memaklumi laku manusiawi memilih yang gampang. Di lain sisi saya juga membenarkan apa yang dikemukakan Pak Amien. Bahkan saya sangat setuju. Pada dasarnya Pak Amien menyatakan sebuah kesempurnaan dalam berprinsip. Dan seperti yang saya baca dan dengar dari bermacam - macam dongeng, biasanya memang kebaikan sendiri tidak akan berwibawa selagi wajah keburukan tetap merajalela. Sisi terang tidak akan mencapai kesempurnaan ketika masih ada sisi gelap, gitu istilah filsafatnya. Atas dasar inilah pak Amien berpendapat kalimat AmarMa'ruf harus dan mutlak disertai dengan NahyMunkar. Dalilnya gitu menurut beliau. Untuk lebih jelasnya, sebaiknya Anda menghubungi penasehat spiritual masing - masing.



Ikhlas ? Nama adik saya Akhlis, artinya ya itu tadi; ikhlas. Lantas apa artinya ? Hampir orang mengerti apa arti ikhlas ;-- tanpa pamrih, tanpa ngedumel, tanpa minta imbalan. Pemberian dengan ikhlas artinya pemberian tanpa mengharap imbalan. Seperti angin lalu. Sampai - sampai ada istilah yang berbunyi ;'....Nyumbang sedikit yang penting ikhlas...'. Dimana akhirnya berkembang menjadi sinisme ; '...Ngapain nyumbang kalo ternyata tidak ikhlas ?'. 'Mendingan gue dong, ikhlas tidak menyumbang...'. Waduh.

Istilah - istilah ini sebenernya malahan melemahkan semangat dalam menyumbang. Secara langsung mencerminkan sikap 'pelit'. Seakan - akan lebih baik tidak menyumbang ketimbang nyumbang tapi ngedumel. Mungkin ada benarnya juga. Tapi lebih banyak salahnya. Soalnya para pengemis dan yatim piatu itu butuh donasinya -- butuh materinya, semantara faktor ikhlasnya ya buat sang penyumbang. Ikhlas itu bakal mendapat pahala. Pahalanya buat sang penyumbang. Bingung kan ? Saya juga rada bingung, mangkanya menuliskan hal ini. Dugaan kuat saya adalah, nyumbang itu tidak ada artinya bagi sang penyumbang apabila dia tidak ikhlas -- dia tidak menuai pahala menyumbang. Lha sementara donasinya --biar ikhlas atau nggak ikhlas-- ya tetep aja bisa mengenyangkan perut orang lain. Tapi pahala itu bisa diganti dengan doa. Maksud saya gini, bila yang saya beri donasi itu satisfied lantas mendoakan kebaikan buat saya, tentunya itu keuntungan buat saya. Walau sebenernya saya nyumbangnya gak ikhlas dan lantas gak dapat pahala atas keikhlasan tadi. Ruwet memang sih.



Saya teringat apa yang pernah disampaikan oleh Kakek saya. Sungguh tertarik saya dengan hal itu, yakni bahwa kata ikhlas itu harus diikuti dengan azas manfaat. Mungkin tidak ada artinya sama sekali bila kita dengan ikhlas menyumbangkan seluruh sampah kita kepada seseorang. Asli ikhlas, tetapi yang diberikan tidaklah mengandung unsur manfaat sama sekali.

Atau ada contoh hal lain, yakni menyumbang segalon khamar (minuman memabukkan), misalnya. Biarpun ikhlas sampai dasar hati, tapi rupa wujud yangdiberikan mengandung kemaksiatan. Mungkin yang menerima bisa menjualnya dan mendapat duit lantas bisa dibelikan telor asin untuk anak bungsunya, ..... atau galon maksiat itu dia nikmati sekalian bercengkrama dan memupuk persaudaraan dengan para tetangga seper-mabuk-an. Walaupun telor asin itu menyehatkan, walaupun bersaudara itu anjuran Islam, namun tetap saja pada prinsipnya minuman khamar dalam Islam adalah haram. Selain haram (dilarang) diminum, juga haram untuk diperjual-belikan. Tidak bermanfaat babar-pisan.



Dua contoh dalil diatas, yakni dalil AmarMa'ruf NahyMunkar' dan dalil 'Ikhlas Bermanfaat' ini ternyata menemui rintangan dalam penerapannya. Dan, akhirnya sedikit dipelintir atau dikerjalan yang gampang dulu. Mungkin ini cerminan kualitas manusia Indonesia, tetapi hal itu tidak lantas dibiarkan begitu saja, musti diperbaiki. Yang susah memang metode memperbaikinya gimana dan pake apa ? Mungkin hal ini adalah episode kebingungan berikutnya yang membingungkan. Soalnya saya juga bingung, mangkanya menghentikan tulisan ini. Atau...sepatutnya Anda melanjutkan tulisan ini ? [] haris fauzi - 29 Juni 2007



salam,
haris fauzi




majalah solid

situs keluarga

kolom kenisah




Finding fabulous fares is fun.

No comments: