Monday, April 28, 2008

kenisah : tiga beda

TIGA BEDA
 
Sebetulnya sih lazim - lazim saja. Ada beberapa resep, racikan yang berubah, memberikan rasa yang berbeda, namun masih tetap nyaman untuk dinikmati dan didengarkan. Kadang memang terlalu subyektif, tapi ya mau bagaimana lagi. Menyangkut selera sih. Lho, trus kenapa kok cuma ketiga musisi ini saja ? Walah..... Sebenarnya sih banyak, seperti Sammy Hagar menggantikan David Lee Roth di Van Halen di semenjak album '5150',  tetapi apa iya sih harus ditulis semuanya ?
 
EUROPE : Out Of This World - 1988
Siapa yang tidak mendengar kesuksesan grup rock asal Swedia, 'Europe' melalui album 'The Final Countdown'. Rilis sekitar tahun  1986, 'The Final Countdown' populer dimana - mana, lagu - lagunya banyak dijajal di tangga lagu, jadi raja. Anak balita juga hafal intro keyboard lagu 'The Final Countdown'. Ya. Album ini memang sangat hebat, hampir semua lagunya keren punya. Salah satunya adalah karena kehebatan gitarisnya : John Norum, maka album Final Countdown menjadi demikian dahsyat.
 
Apa yang terjadi kemudian ? Saya tidak menyangka bila John Norum undur diri secepat itu. Dan lebih tidak menyangka lagi, bahwa Europe dengan cepat dan percaya diri merilis album baru dua tahun kemudian tanpa Norum.  Tahun 1988 Europe merilis album baru bertajuk 'Out Of This World' dengan gitaris baru : Kee Marchelo. Kecewa ? jangan terburu syak wasangka. Racikan musiknya memang berbeda. Kehalusan petikan Norum digantikan bunyi ciptaan Kee yang demikian bersemangat. Saya pribadi, pada akhirnya malah lebih suka mendengarkan 'Out Of This World' ketimbang album 'The Final Countdown'. Ditengah nuansa rock yang demikian memacu adrenalin, olah vokal Joe Tempest makin garang. Suara kecilnya yang mirip suara malaikat itu, kadang menggeram di album 'Out Of This World'. Silahkan mendengar album itu ketika menyetir mobil pagi - pagi. Pasti anda akan menginjak pedal gas lebih dalam. Hahahaha.
 
Dari sisi penjualan, 'Out Of This World' memang tidak terlalu segempar 'Final Countdown' rasanya. Saya mungkin tidak membahas itu, tetapi dari sisi 'rasa', 'taste', album ini lebih menampakkan spiritnya sebagai rock eropa ketimbang sebelumnya.
At the end,  saya takjub dengan perubahan mendasar di kelompok ini. Mereka datang dengan lebih menyengat,"...more than meets the eye".
 
GODBLESS : Raksasa - 1989
Dunia musik Indonesia geger ketika di tahun 1988 GodBless merilis album 'Semut Hitam'. GodBless come back!. Setidaknya hampir semua teman di kelas membeli album ini, lantas hafal lirik lagu sekaligus urutan lagu dalam album ini. Rangkaian lagu yang indah --bernuansa sweet rock-- menjelajah seluruh unsur musikal. Peran Yockie Suryoprayogo dan Ian Antono begitu kentara. Keyboard dan gitar. Pokoknya keren abis.
 
Lagi - lagi bermasalah apa saya juga nggak jelas. Ian Antono, salah satu kontributor keberhasilan album 'Semut Hitam', undur pamit. Namun, GodBless segera melakukan audisi kepada gitaris jebolan murid Eddie Van Halen yang sedang sibuk dengan Fariz RM, Cynomadeus, dan cikal kelompok Edane. Gitaris muda anak gubernur itu bernama Eet Syachrany.
 
Bareng Eet Syachrany, seingat saya setahun kemudian (ya, hanya setahun kemudian) GodBless melepas album terdahsyat sepanjang karirnya, judulnya 'Raksasa', ada yang menyebutnya dengan album 'Maret 1989'. Jelas ada perubahan mendasar. Ian Antono yang cenderung art rock, halus petikannya, namun senang bermain melodi di jalur 'manis'. Sementara Eet ganas mengaruk gitar, mengobral bunyi ritem, bereksplorasi bunyi seperti gurunya, Eddie Van Halen. Di panggung-pun mereka berbeda, Eet yang masih muda, polah pencilakan berlarian ke sana kemari. Ian cenderung berjaga diam.
 
Album 'Raksasa' memang dahsyat. Bila 'Semut Hitam' menandai come-back-nya GodBless, maka 'Raksasa' menandai puncak kreativitas mereka. Lengkap menu lagunya, dan tentunya penuh semangat. Gak ngerti kenapa, bila disuruh memilih, maka saya lebih menyukai album 'Raksasa' yang di sayat Eet Syachrany. Entah anda.
 
ELP : Emerson, Lake, Powell-1985
Album 'Love beach' dirilis tahun  1978 oleh kelompok art-rock ELP. Mereka kelompok musik dari Inggris beranggotakan Emerson, Lake, Palmer. Sebagai salah satu jagoan musik art-rock, pangkat pendekar ini terlanjur melekat, maka rilis album 'Love Beach' ini dianggap kurang menggigit oleh para kritikus musik progresif. Berkesan jenuh.
 
Beda kasus disini,  setelah merilis album 'In Concert' 1979, Carl Palmer akhirnya keluar.
Sempat vakum cukup lama, posisi drummer digantikan oleh Cozy Powell. Kelompok ini akhirnya sedikit merubah nama menjadi 'Emerson, Lake, Powell'. Siapa Powell ? Dia salah satu drummer  ter-'sibuk' yang pernah ada. Namun, Powell dari kutub yang agak berbeda, Hard Rock. Powell muncul dari gangsternya Rainbow, Whitesnake, Gary Moore, dan sebangsanya. Agak lain dengan jejak telusur teman - temannya yang berkubu di art- rock : King Crimson, Nice, Asia. Tak ayal. Resep bermusik ELP agak sedikit bergeser menjadi lebih cadas. Gebukan Powell yang khas dengan keliaran dan kecepatannya, membawa album yang rilis tujuh tahun setelah 'Love Beach' ini jadi nggak tau arahnya kemana.
 
Kejutan, dunia persilatan musik rock merespon single 'Touch and Go' sebagai salah satu kesuksesan ELP. Sekali lagi, racikannya sangat berbeda dengan mainstream semula, beda dengan pakem aslinya, tapi album ELP tahun 1985 ini (judulnya sih nggak jelas, yang jelas tertera adalah : 'Emerson, lake, Powell') menurut saya pribadi adalah album yang sangat bagus. Kedewasaan mereka untuk meramu sisi progresif agar bersenyawa dengan gebugan Powell yang cenderung heavy metal sungguh patut diacungi jempol.
 
Europe, GodBless, ELP. Mereka pernah berbeda rasa. Sisanya silakan icip sendiri. [] haris fauzi - 28 April 2008


salam,
haris fauzi
 


Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

No comments: