Sunday, December 13, 2015

Dungu Kuadrat

Jumat malam, bahkan mulai menjelang sore, arus lalu lintas Jakarta - Bogor biasanya teramat menjemukan. Mobil berderet - deret antri. Jagorawi, tol terbaik itu-- dipenuhi kendaraan hingga larut malam, utamanya menuju arah Bogor. Mungkin, menjelang akhir minggu, banyak pelancong lokal yang berhasrat menghabiskan pakansi-nya di Bogor. Maka berduyun - duyunlah mereka memenuhi jalanan arah Bogor.

Jumat malam itu, sekitar pukul sepuluh malam, satu diantaranya adalah saya, penikmat kepadatan lalu lintas tol Jagorawi. Kendaraan melaju cukup,kisaran 40 - 60 km/jam. Angka ini terlihat konyol untuk kecepatan berkendara di jalan tol yang seharusnya minimal 60 km/jam. Semua lajur padat, hingga ke bahu jalan. Saya berada di lajur paling kanan. Walau lajur paling kanan, sama sahaja, merayap dengan kisaran kelajuan sebegitu pula. Jumlah kendaraan padat sekali.

Sekonyong - konyong, nampaklah ke-idiot-an jalanan. Entah faham atau tidak ihwal kemacetan, mobil sedan yang berada dibelakang saya kerap menyalakan lampu dim, meminta saya melaju lebih cepat, atau meminta saya minggir untuk memberikan jalan lewat kepadanya. Berkali - kali mobil sedan hitam itu melakukan hal tersebut. Tentunya ini mengganggu saya, karena saya orang yang cukup sensitif dengan kode lampu. Dalam hati saya berkata," apakah orang ini tidak mengetahui bahwa jalanan memang padat ?".

Setelah untuk kesekian kalinya sedan hitam itu menunjukkan kedunguannya dengan menyalakan lampu dim-nya, saat itulah waktunya bagi saya untuk bertindak. Saya bergeser dari lajur paling kanan ke lajur sebelah kirinya, memberi ruang kepada sedan hitam dungu itu menyalip saya, dan setelah sedan hitam dungu itu menyalip saya, segera saya bergeser ke jalur kanan lagi. Kini saya tepat berada di belakang mobil sedan hitam dungu itu. Saya tidak faham benar, apakah pengemudi sedan hitam dungu itu faham posisi saya atau tidak. Yang jelas, sekarang giliran saya untuk memberi tekanan kepada pengemudi sedan hitam tadi.

Pertama, saya mengerdipkan lampu dim saya dua - tiga kali, dan lantas diikuti dengan menekan klakson. Hal itu saya lakukan 2-3 menit sekali. Rupanya, baru 4 kali saya lakukan, sedan dungu itu merasa gerah. Pengemudinya membuka jendela, mengeluarkan tangan sambil menunjuk-nunjuk ke depan seolah berkata," jalanan padat, jangan memburu-buru...". Tapi, dalam keadaan jalan merayap begitu, saya tidak peduli. Saya tetap menyalakan dim 2-3 kali diikuti semprotan klakson.

Saya rasa, pengemudi sedan hitam makin gerah. Mengeluarkan tangannya lagi, dan menunjuk-nunjuk dengan gaya makin kasar. Saya tidak tau apakah beliau mengumpat atau tidak, yang jelas klakson saya tetap menyemprot.

Jelas sekali bahwa pengemudi sedan merah itu sama sekali tidak terima dengan tekanan yang saya berikan. Padahal, dia melakukan hal sama, beberapa saat sebelum saya melakukannya. Ini jelas kedunguan kedua dari pengemudi sedan hitam tadi. Akhirnya, ditengah kedunguannya yang kwadrat, dia menyerah, memberi jalan saya. Mirip dengan apa yang saya lakukan, dia bergeser ke kiri, memberi saya ruang, dan ketika saya menyalipnya, beliau membukan jendela sambil mengumpat, saya membalasnya dengan mengacungkan kepalan tangan. Sejurus setelah saya menyalipnya, beliau lantas kembali geser ke kanan untuk mengambil posisi tepat di belakang saya.

Apa yang dia lakukan ? Ternyata dia memberi lampu dim ke arah saya ! Sungguh dungu. Dia pertama melakukan hal tersebut, kemudian saya balas, dan dia ngamuk - ngamuk. Dan ternyata, dia kembali melakukan hal tersebut ! Sungguh dungu kuadrat. Setelah saya diamkan, pengemudi sedan hitam dungu kuadrat tadi menghentikan aksinya. Pertama, jalanan mulai agak lega. Kedua, mungkin dia juga ingat akan kelakuan pertama dia kepada saya. Ketika pada awal menembakkan lampu dim, tentunya dia membaca plat nomer mobil di depannya, yakni mobil yang saya kendarai. Dan setelah akhir kejadian, dia ingat akan hal itu.

Saya ingat, sekitar sepuluh tahun lalu, ada kejadian serupa ketika saya berkendara di tol Cikampek. Sekitaran daerah Cibitung, tol jakarta arah Cikampek. Sungguh kedunguan berganda yang dipertontonkan dengan vulgar. [] Haris Fauzi, 13 des 2015



http://kenisah.blogspot.com

No comments: