Tuesday, December 01, 2015

peci dan bid'ah

Dulu, jaman SMA hingga masa kuliah, ada dua hal yang lumayan kontroversial dalam cara saya berpakaian ketika sholat. Kontroversi pertama adalah saya ogah mengenakan sarung. Alasan utama adalah, ketika sujud, sering dengkul bisa terlihat. Alasan kedua adalah sekedar alasan tren. Menurut klausul tren adalah lebih gagah mengenakan celana panjang daripada sarungan ketika berangkat jumat. Bukankah begitu ?

Kontroversi kedua adalah ihwal peci. Jaman itu saya termasuk orang yang paling muales mengenakan peci. Banyak alasannya. Pertama, karena rambut saya gondrong, jadi alangkah jeleknya kalo harus tertutup peci. Kedua adalah, rambut saya lurus dan licin, kondisi itu peci sering jatuh ketika dikenakan. Ketiga, saya malas ketika peci dianggap sebagai sebuah 'syarat' keabsahan sholat jum'at. Tidak ada yang mewajibkan seseorang harus berpeci ketika berangkat sholat jumat.

Dua hal tersebut akhirnya saya tinggalkan. Sarung hanya menemani sebagai selimut ketika tidur, sementara peci masuk ke kolong lemari terdalam. Hal tersebut berjalan sangat lama, walaupun tidak selama Ashabul Kahfi yang terkurung dalam gua.
Palingan sarung berperan ketika sholat di rumah. Dalam kasus ini, unsur "dengkul terlihat" jadi subhat bukan ? Kejadian "dengkul terlihat" pasti terjadi. Akhirnya saat itu alasan nggak ber-sarung adalah karena ihwal keren ga keren saja. Jadi, sarung tetap saja saya tinggalkan ketika berangkat keluar untuk jumatan.

Peci lebih lama lagi saya tinggalkan. Mungkin, saya mengenakan peci ketika akad nikah, empat tahun setelah saya lulus sarjana. Bisa jadi itu sahaja. Selebihnya bisa dikata sangat jarang. Sepanjang masa itu baik sholat biasa, sholat jum'at, sholat tarawih, nyaris semua tidak pakai kopyah. Bahkan beberapa kali sholat ied saya lebih sering tidak berpeci. Sangat wajar bila peci tersebut hingga kini masih bagus. Lha wong jarang dipake.

Setahun belakangan, saya berkebalikan. Sudah tidak tabu lagi bersarung dan berpeci. Maklum, sudah umur. Cuma ribet juga nyetir mobil --apalagi mancal sepeda kayuh-- bila musti ke masjid bersarung ria. Namun bukan itulah masalahnya. Sarung saya sudah ketemu kuncinya. Kunci pertama, ya tadi, saya sudah tua, jadi gak perlu gengsi gak perlu trendi. Kunci kedua, agar "dengkul" tertutup ketika sujud, sarungnya saya turunkan dibawah mata kaki. Mungkin ini bertentangan dengan larangan isbal, namun biarlah dituduh isbal, yang penting syarat menutup aurat terpenuhi.

Peci ? saya mencoba merutinkan diri untuk berpeci. Maklumlah, sebagai mantan ketua RW, trus jadi pengurus masjid, masa iya sih tidak berpeci ? Orang yang seprofesi saya kebanyakan sudah lebih advance dengan mengenakan gamis !
Namun kerutinan saya ini terkendala dan menurut saya terindikasi masalah. Masalah yang muncul adalah sebagaimana saya kuatirkan ketika masa kuliah. Jadi ceritanya begini, hari itu hari Sabtu. Ada acara pengajian, dan saya berencana hendak berangkat bareng istri. Saya sudah naik dan menyalakan mesin mobil, sehingga saya teringat belum mengenakan peci ! Saya turun lagi, lari masuk rumah, menuju ruang sholat, dan menggambil peci yang tergantung di paku.
Itu kejadian hari Sabtu. Minggunya, saya bangun nyaris kesiangan. Adzan subuh nyaris selesai ketika mata saya baru terbuka. Saya terburu - buru bangun, berwudlu, berganti pakaian. Suasana rumah masih sepi dan gelap. Saya beberapa menit gedabrugan mencari peci. Dan tidak ketemu ! Dikarenakan iqamah dikumandangkan, maka berangkatlah saya tanpa berpeci. Sepulang dari subuhan, barulah saya berpikir, adalah benar untuk tidak merutinkan diri berpeci. Sehingga bila kita tidak mengenakannya, maka hati masih "sreg" dan ikhlas untuk mengerjakan sholat tanpa peci. Tidak "kepikiran" dalam sholat. Ini bukan masalah sederhana. Saya pernah menyaksikan orang yang kelupaan mengenakan peci. Mungkin, ketika berwudlu dia mengantongi pecinya. Dan, ketika takbiratul ihram, dia belumlah teringat akan pecinya. Hingga di tengah - tengah sholat dia beru teringat akan pecinya, dan lantas mengeluarkan sang peci dari kantong, dan kemudian mengenakan songkok tersebut. Alamak. Gerakan sholatnya terpenggal urusan mengenakan peci ! Sudahlah. Peci itu tidak wajib. Jadi nggak usah disakralkan, ntar jadi bid'ah malahan. [] haris fauzi - 1 des 2015.

No comments: