Thursday, August 07, 2008

kenisah : dengan satu kipas (II)

DENGAN SATU KIPAS (II)
 
Lewat pukul tujuh malam saya berhasil menepikan kendaraan. Hazard bisa saya padamkan. Sayup terdengan azan. Kemacetan masih menggila. Saya menunggu kedatangan Kakak sambil menulis.
Setengah delapan saya menelepon Pak Hengki, dia montir langganan. Pak Hengki menganjurkan untuk memanfaatkan kipas AC agar menyala non-stop. Caranya dengan memutus kabel kompresor AC, sehingga kipas bisa berputar tanpa ada beban kompresor terhadap kerja mesin. Saya setuju, namun kesulitan mendapatkan kabelnya.

Tak lama kemudian Kakak datang menepi, bersama montir. Saya segera kemukakan usul pak Hengki, dan dia setuju. Namun, tetap saja dia kesulitan menemukan kabelnya. Akhirnya dibuat kabel tambahan secara manual, langsung dihubungkan ke batere (aki). Di silang cahaya senter, Montir itu menarik dan memasang kabel segera. Jadi cara menghidup-matikan kipas AC ini dengan cara memasang-mencabut koneksi kabel. Kipas AC berputar kencang. Kipas ini akan bekerja keras sendirian. Satu kipas.

Sebentar kami menguji fungsi kipas tunggal itu, menambah air radiator, dan menunggu kemacetan mereda. Pukul 20.18 kemacetan usai dan kami saling berjabat tangan. Saya memutuskan untuk berangkat. Kami berpisah bersilang arah. Saya berusaha memacu kendaraan sekencang-kencangnya untuk mendapatkan tiupan angin agar mesin tidak segera panas. Ya, satu kipas itu saya paksakan untuk mendinginkan mesin mobil tua ini, tentunya harus dibantu oleh tiupan angin lalu. Untuk mengurangi beban mesin, saya tidak menyalakan AC.

Mata saya tak pernah lepas dari jarum indikator temperatur mesin. Jarum itu naik perlahan, seiring degup jantung.Untunglah jalan tol lingkar luar ini cukup lega, tak ada hambatan. Hanya bunyi roda yang mengganggu karena jalanan ini terbuat dari beton, tidak dilapis aspal. Sekitar tiga puluh kilometer berjalan lancar. Yang ribet ketika memasuki tol Jagorawi. Berjejal-jejal. Dan lagi, Zulficar sudah dipacu selama duapuluh menit, 30 km.Temperatur menunjukkan pada skala 4/10. Batas riskan adalah pada skala 8/10. 10/10 berarti kerusakan total.

Saya berusaha mencari celah agar Zulficar bisa dipacu. Namun sebelum Cibubur, segalanya memang macet seperti itu. Jarum bergeser ke 5/10. Sedikit gusar, namun saya kala itu tepat menembus gerbang tol Cibubur. Dan lantas bisa memacu Zulficar di jalur kanan. Temperatur turun lagi ke 4/10.

Menyusun rencana, itulah yang saya lakukan sekarang sambil mata tak lepas dari jarum indikator. Dari Cibubur jarak tempuh masih 30 km lagi. Karena saya harus menembus kota Bogor untuk menarik uang tunai dari salah satu anjungan. Itu artinya saya melesat 10 km dari rumah. Atas alasan inilah saya memutuskan untuk berhenti sejenak. Untuk dua hal. Yang pertama adalah istirahat sejenak agar temperatur bisa turun ke 0/10. Yang kedua adalah menanti agar kemacetan kota Bogor ditelan kesunyian malam. Karena bila Zulficar harus macet di jalanan kota Bogor, tentu temperatur akan naik dengan pesat.

Tepat pukul sembilan, saya menepi di rest area Sentul. Saya berencana istirahat sekitar 30 menit. Sambil melanjutkan draft tulisan ini. Tiga puluh menit kemudian, saya menyalakan mesin dan mendapati jarum bertengger pada skala 2/10. Tidak terlalu bermasalah, saya bisa memasuki kota Bogor sambil mendengarkan lagu fusion 'Celebrate'. Lantas tak lama kemudian saya menyelesaikan misi mengeruk anjungan tunai. Lalu lintas kota sudah bersahabat, hanya satu dari tiga lampu lalu-lintas yang menghambat saya cukup lama, namun itupun cuma 20 detik. Dua sisanya cuma menahan laju mobil saya selama 7 detik. Pukul sepuluh lebih lima menit, saya tiba di rumah, membuka kap mesin dan mencabut kabel kipas manual tadi. Lantas masuk rumah untuk menyantap nasi rawon yang disediakan Istri.[] haris fauzi - 6 Agustus 2008 - 00.07am


 
salam,

haris fauzi

2 comments:

Unknown said...

Assalamualaikum,

Bro Haris, pengalamannya dengan Zulficar menegangkan juga he he ....

Nasi rawonnya pake sambel terasi, krupuk udang dan telur asin, dan juga kecambah ndak? Klametan iki aku ....

Wass,
Gatot

Haris Fauzi said...

ga pake telur asin..bikin hipertensi soalnya...hahahhaa...
makasih komennya pakde gatot...