Monday, August 11, 2008

kenisah : kaos biru itu

KAOS BIRU ITU
 
 
 

Rasanya gak akan ada yang protes bila saya menyukai karya - karya gitaris Kanada, Bryan Adams. Sederhana. Itu alasan saya. Salah satu yang paling saya sukai adalah lagu "Summer of '69" dan "Heaven". Kakak saya menyukai lagu "Straight From The Heart", yang video klip-nya Adams lagi naik bis di perjalanan rangkaian konsernya.
 
Suatu hari --tahun 1999, di Solo, saya sedang jalan - jalan di pertokoan dengan Dani, Istri saya. Saat itu saya sedang santai, daripada bengong dan ngobrol di hotel mlulu. Saya melintas deretan baju dan kaos. Dan melihat ada kaos warna biru kusam. Saya hampiri. Lhadalah. Ini kan mirip dengan kaos yang dipakai Bryan Adams di salah satu konsernya, di tahun 1993-an kalau gak salah. Saya ingat, karena saya memiliki rekaman konsernya. Adams berduet dengan gitarisnya, Keith Scott. Adams mengenakan kaos biru seperti ini, Scott mengenakan rompi gelap.
 
Saya tunjukkan kaos itu ke Dani, dan saya ceritakan bahwa Bryan Adams mengenakan kaos seperti ini dengan setelan celana jeans biru. Saya beli kaos tersebut setelah Dani senyum - senyum saja mendengar uraian saya. Saya-pun berhitung terka, soalnya saya juga punya celana jeans biru. "Mungkin klop nanti. Lihatlah !", desis saya dalam hati.
 
Bukannya sok jadi selebritis. Saya suka akan 'keterkaitan' seperti ini. Bapak saya pernah menganjurkan saya agar sesekali mengenakan baju muslim dan dirangkap jas --" Pakaian Ali Syariati ", gitu kelakar Bapak. Demikian juga dengan baju ala Bryan Adams, --yang ternyata karena kesederhanaannya malah diangkat menjadi kerabat kerajaan Inggris oleh mendiang Lady Diana.
 
Dalam konsernya, Bryan Adams juga pernah mengenakan baju kemeja lengan panjang flanel motif kotak - kotak. Lengan digulung, dengan kancing terbuka semuanya. " Merdeka banget ", pikir saya. Dan karena saya juga memiliki baju flanel seperti itu, maka saya mematutkan kepada Adams. Namun ternyata motif baju flanel saya tidak mirip. Mungkin punya kakak saya yang lebih mirip. Walau tidak mirip, cara mengenakannya saya sering mencontoh Adams, dengan kancing terbuka dan lengan tergulung. Sayangnya kakak saya tidak menggemari cara berpakaian Adams ini. Kakak mengenakannya dengan rapi, kancing penuh terpasang, dan kadang dimasukkan.
 
Lucunya, kemeja flanel itu saya beli bebarengan dengan kakak dan Mas yan. Kami bertiga membeli kemeja flanel motif kotak - kotak, di suatu hari di tahun 1997-an, saya kira. Bahkan kami bertiga bernah mengenakannya bersama - sama, pada saat jalan - jalan ke Jakarta, naik bis kota.
 
Celana jeans biru itu ? Saya membelinya antara tahun 1997 - 1998-an-- seminggu sebelum saya berangkat ke Solo, hendak saya gunakan untuk menemui Dani, yang kala itu belum menjadi istri saya. Dan kini jarang saya gunakan kecuali untuk jor - joran kalau hendak nonton konser. Sesering apa sih nonton konser ? Paling setahun juga tiga kali. Sekarangpun saya hanya memiliki dua celana jeans. Ya itu, sudah gak muda lagi soalnya.
 
Ketiga potong baju itu: kaos biru, kemeja flanel, dan jeans biru -- merupakan salah satu ikon Bryan Adams, dan kebetulan saya memilikinya, --dalam arti cuma mirip doang, --mereknya pasti gak sama. Saya sebut ikon karena dalam salah satu sampul albumnya, ada beberapa foto Bryan Adams mengenakan kedua baju itu.
 
Minggu kemarin, iseng - iseng saya membuka situs Bryan Adams. Dan biasa, ritual setelah membongkar diskografi, maka saya akan surfing ke album foto konser. Dan, ternyata, masa kejayaan Bryan Adams cukup di dominasi oleh tipe baju tersebut. Terbukti sudah dengan cukup kuat, bahwa ikon itu memang identiknya Bryan Adams kala itu. Entah kenapa setelah menemukan foto - foto itu saya kegirangan, sampai - sampai  saya bercerita kepada seorang teman tentang kemeja flanel dan kaos biru itu. "Saya punya kaos model seperti itu", ungkap saya. Dan dia cuma menjawab senyum."...apa artinya...", mungkin begitu dalam hatinya berkata.
 
Terus terang saya sudah jarang mengenakan kemeja flanel dan kaos itu. Celana jeans juga lebih banyak parkir di lemari sekarang. Umur sudah mepet empat puluh tahun, jadi saya lebih sering mengenakan baju putih - putih, selain seragam kantor tentunya.
Walau jarang dipakai, bagaimanapun pakaian itu memiliki arti buat saya, setidaknya saya ingat bagaimana serta alasan apa dibalik peristiwa proses pembelian pakaian - pakaian itu. Artinya saya ingin menghargai momen - momen sederhana seperti itu.
 
Konon, pancar hikmah sering muncul bila kita bisa menghargai sebuah momen. Namun kita kadang --atau sering-- merasa kesulitan untuk mengenang sebuah momentum, dikarenakan ekspektasi kita terhadap suatu momentum adalah suatu peristiwa besar nan bersejarah yang menggoyang dunia. Namun sebenarnya tidaklah seperti itu. Tidak perlu peristiwa besar untuk mendapatkan sebuah hikmah yang berharga. Peristiwa jalan - jalan dengan Dani saat membeli kaos biru, peristiwa kami bertiga ke Jakarta mengenakan kemeja flanel, dan ribuan peristiwa sederhana seperti itu, --yang kita lalui setiap detik dengan biasa lalu begitu saja-- bisa saja menyimpan momen yang indah dan berharga bila kita berusaha untuk menghargainya. Walau toh itu cuma urusan baju atau pakaian. Ya. Di balik kondisi 'fisik' baju itu, ada peristiwa yang patut saya kenang dan saya berusaha untuk menghargai sebaik - baiknya. Itu alasan utama. Apalagi mirip dengan pakaian yang sering dikenakan Bryan Adams. Hahahahahaha....[] haris fauzi - 12 agustus 2008


salam,

haris fauzi

No comments: